Cerpen #318; “Air”

Gadis kecil bernama Ewi bangun dari lelap di sebuah lahan yang sangat luas. Begitu sadar terjaga di tempat yang tidak wajar, dia heran, terlebih setelah memperhatikan keadaan sekeliling. Tanah tampak tandus, retak di sana-sini. Sejauh mata memandang, hanya ada beberapa pohon yang masih berdiri, itu pun hampir semua telah meranggas. Sementara matahari di langit seperti sedang menumpahkan seluruh panasnya. Spontan tangannya meraba leher, dia merasakan kerongkongannya kering.

“Air,” gumamnya.

Ewi bangkit, lalu berjalan bermaksud mencari air, setidaknya untuk membasahi kerongkongannya, tapi setelah sekian jauh berjalan tidak mendapatinya, bahkan sekadar tanda-tanda pun tidak juga dia temukan, lantas Ewi menghentikan langkahnya. Ewi melihat keadaan di sekitarnya dengan lebih saksama, tampak seperti sedang dilanda kekeringan. Kemudian Ewi mencoba meneruskan perjalanannya hingga sampai di sebuah permukiman. Ewi memberanikan diri memeriksa rumah-rumah itu ternyata sudah tidak berpenghuni, bahkan seperti sudah lama tidak terurus. Dari sekian keanehan itu, yang paling membuat Ewi tidak bisa mengerti ketika melihat barang-barang mewah, seperti televisi, kulkas, dan mobil yang ada di rumah-rumah itu dalam keadaan utuh, hampir semuanya itu  masih terlihat bagus. Namun, ketika Ewi membuka kran yang ada di rumah-rumah itu, tidak ada air yang muncul.

Karena lelah, Ewi istirahat di salah satu rumah. Dia mencoba memikirkan keadaan itu. Ewi menduga dia sedang berada di daerah yang jauh dari rumahnya, karena keadaan sekeliling dari sejak dia terjaga hingga sampai di tempat itu tidak dia kenali. Sesungguhnya banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya, termasuk tentang belum ada satu pun orang yang dia temui, bahkan dengan binatang pun demikian. Pada saat Ewi berpikir perihal binatang, sekilas ada sesuatu yang melayang persis di hadapannya. Ewi terkejut, lalu beranjak dari duduk.

Ewi memperhatikan sekitarnya, dan mungkin karena tidak segera mendapati sesuatu hingga ada tanya dalam batin Ewi. Apa tadi hanya halusinasi? Ewi duduk di tempat semula, dan kembali memikirkan keadaan yang baginya penuh tanda tanya. Kali itu lamunan Ewi tertuju kepada orangtuanya. Perasaan Ewi mengatakan, telah lama dia tidak bertemu dengan mereka. Sembari pikiran Ewi mengembara, pandangannya terus menyapu sekeliling ruangan dan berhenti pada kalender yang tergantung di dinding ruang itu. Tahun 2025. Melihat angka tahun itu, Ewi merasa ada sesuatu yang aneh, tetapi dia tidak tahu apa yang dia rasa aneh itu.

Karena penasaran, Ewi bangkit lalu mendekat, dan mengamati kalender itu lebih teliti. Ewi berharap akan menemukan jawaban tentang apa yang dirasa mengganjal, tapi tidak juga menemukannya. Ewi lantas melihat ke dinding yang lain. Pada dinding seberang dia berdiri ada cermin. Jadilah, dia bisa terlihat di cermin itu. Ketika melihat pantulan dirinya di cermin, Ewi merasa ada yang mengganggu pikirannya. Ewi lantas mendekat dan mengamati dirinya dalam cermin lebih saksama.

“Kamu belum menyadarinya?”

Ewi terkejut mendengar suara itu. Refleks Ewi menoleh ke belakang tapi tak menemukan apa pun.

“Aku di sini, di meja tengah.”

Penglihatan Ewi langsung ke arah meja. Dia terkejut ada kodok berwarna hijau.

“Kamu bisa bicara?” tanya Ewi.

“Semua makhluk sesungguhnya bisa bicara, tapi mungkin memang tidak semua bisa bicara dengan bahasa manusia,” jawab kodok

“Tapi kamu bisa,” ucap Ewi pelan.

“Mungkin pada saat genting, apa pun bisa terjadi,” sahut kodok.

“Lalu apa yang terjadi?”

Kodok itu mulai bercerita. Kira-kira pada akhir tahun 2021, ketika wabah corona belum selesai, kekeringan mulai menyerang bumi. Musim kemarau tidak pernah berhenti hingga di sana-sini langka air. Satu demi satu segala makhluk di bumi mati. Dan puncak tragedi itu tahun 2024, sebagian besar manusia, tumbuhan dan hewan, mati. Kata kodok, inti dari munculnya tragedi itu karena manusia tidak bisa menjaga keseimbangan alam.

“Orangtuaku?” tanya Ewi.

“Maaf, mereka tak bisa bertahan,” jawab kodok.

“Lalu mengapa aku dan kamu masih bisa hidup?”

“Panjang ceritanya.”

“Tolong katakan singkatnya agar aku mengerti.”

Kodok menceritakan riwayat hidup Ewi. Tahun 2013 Ewi lahir, ginjalnya tidak berfungsi, tetapi entah mujizat apa Ewi bisa terus hidup meski hanya terbaring di tempat tidur, dan tidak pernah keluar dari kamar. Ketika kedua orangtuanya meninggal, dan Ewi tak pernah melihat mereka datang lagi ke kamarnya, Ewi merasa heran dan mencoba keluar dari kamar untuk mencari mereka. Di tengah lapang yang luas, Ewi terjatuh, lalu pingsan sampai tiba waktunya dia terjaga tadi. Kejadian kekeringan itu rupanya tidak membuat tubuh Ewi lemah, justru menjadi kuat. Bahkan Ewi bisa bertahan tidak makan dan minum dalam waktu yang lebih lama dari orang-orang kebanyakan.

“Oh, karena itu aku tidak mengenali daerah ini,” sahut Ewi.

“Termasuk keherananmu ketika melihat kalender, dan tubuhmu di cermin. Ingatan kamu belum mampu mendeteksi keadaanmu. Dalam ingatan yang tersadar pada dirimu adalah kamu yang belum sebesar sekarang,” terang kodok.

“Lalu mengapa kamu masih bisa hidup?” tanya Ewi.

Kodok menjelaskan, dia diciptakan Tuhan dengan kemampuan bertahan hidup lebih lama dibanding makhluk lain. Kodok mampu menyimpan air dalam tubuhnya untuk bisa bertahan tidak minum selama lima tahun. “Jadi tahun ini, waktu terakhirku bisa bertahan,” tambah kodok.

“Kodok-kodok yang lain?”

“Hukum alam tetap berjalan.”

“Maksudmu?”

Kodok menerangkan, selain dirinya, ular juga mampu bertahan lama. Namun karena ular suka makan kodok, maka jika kodok tak bisa menjaga diri, akan menjadi mangsanya.

“Ular?” Ewi tampak kaget.

“Benar. Dalam keadaan normal, ular bisa hanya sekali minum dalam sebulan. Bahkan mampu lebih lama jika masih bisa menyantap makanan, dan kamilah sasarannya,” terang kodok.

“Jadi hanya tinggal kamu?” tanya Ewi.

“Mungkin.”

“Lalu, ular?”

“Kau memanggilku?” tanya seekor ular yang telah berada di antara mereka. Kodok langsung beringsut untuk bersembunyi. Sementara, meski Ewi takut, tapi dia tetap memberanikan diri menghadapinya. Bahkan Ewi menanyai ular, apakah dia hendak memangsanya.

“Sepertinya enak,” sahut ular.

“Tunggu Ular, tunggu!” teriak Ewi.

“Ada apa, Bocah?” tanya ular.

“Setelah kamu memakan kami, kamu akan sendiri. Itu artinya tidak lama lagi, tak ada lagi yang kamu makan, hingga pada akhirnya kamu juga akan mati.”

“Aku tidak peduli, karena aku tidak suka berpikir seperti manusia,” sahut ular.

“Maksudku, kita harus bersatu agar kita tetap bisa hidup,” terang Ewi.

Hening seketika seperti menyergap suasana.

“Apa kamu bisa dipercaya, Bocah?” tanya ular kemudian.

“Tentu! Tentu saja,” jawab Ewi cepat. “Mengapa kamu bertanya begitu?” tanya Ewi.

“Setahuku manusia makhluk paling licik,” sahut ular.

Mendengar itu, Ewi diam, dan lambat laun matanya basah. Ewi menangis.

“Kenapa, Bocah?” tanya ular.

“Mungkin kamu benar,” sahut Ewi.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih,” kata ular.

“Tidak, tidak. Kamu benar. Manusia memang sumber masalah,” sahut Ewi.

“Baiklah, Bocah,” ucap ular.

Ewi menatap ular dengan mata yang masih basah, bahkan sebagian air matanya menetes dan jatuh ke tanah. Kodok pelan-pelan keluar dari persembunyiannya, lalu ikut menatap ular.

“Aku setuju kalian, kita akan bersama-sama hadapi masalah,” ucap ular yang terdengar seperti doa, karena usai pernyataan itu, terdengar suara guntur menggelegar.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *