Cerpen #317; “Peduli Kunci Bumi Yang Sehat”

Namaku Marsha. Aku berumur 17 tahun dan duduk di bangku SMA. Sore ini aku sangat lelah karena sepanjang hari guru memberi tugas yang sangat banyak. Kini aku sedang menuju halte bus bersama teman baikku untuk pulang.

Kami berdua duduk di halte tersebut untuk menunggu bus yang mengarah menuju rumahku. Sembari menunggu, aku memakan jajananku untuk menghilangkan rasa lapar di perutku sejak tadi.

“Yaampun bus yang biasanya datang tepat waktu kenapa belum datang?” Kesalku karena sedari tadi bus yang akan kami berdua naiki telat datang. Padahal sore ini aku berniat untuk menghabiskan waktu senggangku.

“Sabar dong Marsha, pasti busnya akan datang sebentar lagi.” Ucap temanku berniat untuk menenangkanku.

“Tidak! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ada banyak waktu yang harus aku habiskan di rumah nanti.” Aku tetap keras kepala.

Temankupun hanya menghela nafas karena dia mengerti bagaimana sifatku itu.

“Jujur saja, aku akan meminta ayahku untuk membelikanku motor. Jika aku punya motor pasti aku bisa pergi kemanapun dan kapanpun. Ongkosku juga akan hemat nantinya.” Ocehanku sambil memakan jajanan tadi.

“Marsha…. kamu tahu gak sih kalau naik bus umum lebih ramah lingkungan daripada naik kendaraan pribadi yang malah nantinya merusak lingkungan karena polusi.”

Perkataannya tidak membuatku mengurungkan niatku untuk dibelikan motor oleh ayahku. Ia terdiam dan menggelengkan kepalanya melihat diriku yang sibuk menyantap jajananku.

Beberapa saat kemudian, bus yang akan kami naiki akhirnya datang. Sontak aku berdiri dan bersemangat untuk pulang.

“Akhirnya busnya datang!” Senangku.

Aku berlari sambil menarik tangan temanku dengan semangat dan membuang asal keresek jajananku ke aspal. Temanku terkejut hingga ia berhenti.

“Marsha! Kenapa kamu malah buang sampah sembarangan?” Tegurnya membuatku ikut berhenti.

“Memangnya kenapa? Toh nantipun akan ada tukang sampah yang memungutnya.” Jawabku tanpa bersalah.

“Itukan cuman pemikiranmu. Gimana kalau orang lain juga sama sifatnya kayak kamu gini?”

“Ah…aku gak peduli. Lagian cuman sebesar itu sampahnya.”

“Walaupun begitu tapi sekecil apapun lama-lama akan membesar. Semua orang mungkin akan terbiasa karena hal itu. Bayangin aja nanti gimana keadaan bumi 100 tahun mendatang. Saat ini juga iklim gak nentu dan cuaca ekstrem terjadi apalagi nanti.”

Perkataan temanku itu ada benarnya juga. Aku termenung memikirkan kata-kata yang ia lontarkan.

“Neng jadi gak naiknya?!”

Tiba-tiba sang sopir bus menyadarkan lamunanku. Kami berduapun menaiki bus tersebut dan pulang.

Setelah sekitar 30 menit kemudian, akhirnya aku sampai dirumah sederhanaku dengan rasa senang sekaligus lelah.

Saat aku membuka pagar rumah, aku melihat jika ibuku sedang menyapu halaman yang dipenuhi oleh dedaunan kering yang berjatuhan dari pohon depan rumah.

“Marsha kamu udah pulang, cepet masuk dan bersihkan dirimu ya!” Aku mengangguk setelah salim pada ibuku.

Kini akhirnya aku berada di tempat yang bisa membuatku betah berjam-jam untuk tidak keluar, yaitu kamarku. Akupun merebahkan diriku di atas kasur dan mengela nafas dengan berat.

Mataku memandang langit-langit kamar seraya berpikir tentang perkataan temanku tadi.

“Walaupun begitu tapi sekecil apapun lama-lama akan membesar. Semua orang mungkin akan terbiasa karena hal itu. Bayangin aja nanti gimana keadaan bumi 100 tahun mendatang. Saat ini juga iklim gak nentu dan cuaca ekstrem terjadi apalagi nanti.”

Kata-kata tersebut seolah-olah menggema dalam benakku dan menggangguku.

“Ah gak mungkin kalau bumi bakalan rusak karena orang seperti aku. Pasti di masa depan nanti teknologi akan semakin canggih. Semua permasalahan akan dibuat menjadi mudah nantinya. Jadi, gak usah khawatir tentang masa depan nanti. Lagian masih lama kok 100 tahun kemudian itu.”

“Sudahlah, lebih baik aku tidur saja.”

Akupun memejamkan kedua mataku secara perlahan. Pandanganku gelap dan pikiranku juga menjadi tenang.

Gedebug!

Tiba-tiba ada suara gaduh di dalam kamarku yang membuat diriku terbangun dari kasur. Tatapanku mengelilingi ruangan mencari darimana asal suara itu.

“Aneh…”

Hening yang ada, suara gaduh itu tak terdengar lagi. Akupun menghiraukannya dan kembali untuk berbaring dikasurku. Namun saat aku akan memejamkan mataku lagi, suara itu kembali muncul.

Gedebug!

Dengan cepat tubuhku bangun dan melihat ke arah lemari pakaianku. Lemari itu bergoyang dengan sendirinya. Ternyata suara gaduh tadi berasal dari lemari itu.

Perasaanku takut sekaligus ragu untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya. Setelah dirasa suara itu menghilang, akupun memberanikan diri untuk membuka lemari tersebut.

Aku membukanya dengan perlahan hingga berhasil terbuka. Reaksi pertamaku terkejut melihat isi lemari tersebut. Ternyata ada sebuah lubang hitam yang menyerupai portal aneh ke dunia lain.

Lubang itu tiba-tiba menyedot tubuhku untuk masuk ke dalamnya. Dengan susah payah aku berusaha agar tubuhku tak tersedot. Tanganku mencengkram pinggiran lemari dengan sangat kuat. Tapi sepertinya kekuatan lubang tersebut lebih besar dari tenagaku. Sontak tubuhku berhasil tersedot olehnya hingga membuatku berteriak.

“Ahhh!”

Bruk…

Tubuhku terjatuh di atas  tanah. Akupun berusaha bangkit dan membersihkan pakaianku yang kotor terkena tanah.

“Hah? Dimanakah ini??” Tanyaku kebingungan karena tempat yang aku lihat nampak asing.

Aku merasa jika lubang hitam tadi menyedotku ke dunia lain. Tapi yang aku lihat sepertinya ini masih di bumi, namun suasananya sangat berbeda. Yang aku lihat adalah lingkungan tercemar, asap dan debu kotor dimana-mana, serta suhu di sini sangatlah panas. Matahari tak terlihat karena langit tertutup kepulan asap yang tebal dari pabrik-pabrik limbah. Aku rasa jika di sini cuaca sedang ekstrem.

Akupun mencoba untuk melangkahkan kaki dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah beberapa langkah aku berjalan, aku sangat terkejut karena keadaan lebih buruk dari tempat tadi. Tidak ada satupun pohon yang aku lihat, melainkan gedung-gedung tinggi yang ada. Jalanan dipadati oleh kendaraan hingga untuk menyebrangipun sulit dilakukan.

Semua orang juga terlihat memakai masker dan mereka batuk-batuk. Apa yang aku lihat saat ini sangatlah menyeramkan. Rasanya aku ingin pulang dan melarikan diri dari sini. Namun percuma aku tidak tahu jalan pulang bahkan diriku tidak tahu ada dimana sekarang.

“Maaf bu, apakah kau tahu tempat ini dimana?” Tanyaku pada seorang pejalan kaki.

Tapi sepertinya wanita itu tak mendengarkanku, ia terus berjalan menjauh dariku. Aku terus berusaha bertanya pada orang-orang disana namun tetap saja tidak ada jawaban dari mereka. Suhu mulai semakin panas dan keringatku bercucuran. Rasanya aku seperti mandi keringat saat ini.

“Mengapa cuacanya sangat panas.”

Akupun berlari ke arah kerumunan berharap ada yang bisa menolongku disana. Tiba-tiba tubuhku menubruk seseorang, sontak akupun terkejut dan meminta maaf padanya.

Bruk…

“Maafkan aku.”

Kulihat wajah gadis itu dan betapa terkejutnya sekaligus bingung melihat dirinya. Ternyata ia adalah teman baikku, Luna. Dipikiranku mungkin saja Luna juga mengalami hal serupa sepertiku.

“Luna? Kau juga ada di sini??” Tanyaku.

Gadis itu menatap diriku sendu tanpa ada emosi lain yang tersirat di wajahnya. Akupun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Luna, kau kenapa?” Tanyaku lagi.

“Apakah kau tahu? Apa yang kau lihat sekarang ini adalah 100 tahun kemudian setelah pertemuan kita semenjak itu.” Jawabnya membuatku terkejut sekaligus tak menyangka dengan perkataan teman baikku.

“Ini salahmu Sha. Jika saja kau peduli terhadap lingkugan sekaligus bumi ini, maka semua ini tidak akan pernah terjadi.” Ia mulai menyalakan diriku.

“Mengapa kau tidak pernah sadar tentang orang lain? Apakah kau tahu? Karena ulahmu bumi ini menjadi sakit dan memakan korban jiwa. Mengapa kau sangat egois?” Lanjutnya dengan nada penuh kekecewaan.

Langit mulai mendung tanpa aku sadari. Aku masih tak percaya dengan perkataanya dan memilih untuk berlari menjauh darinya. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras diikuti angin yang sangat kencang. Aneh, padahal tadi cuacanya sangat panas dan matahari sangatlah terik.

Tubuhku rasanya tidak kuat untuk menahan kekuatan dari cuaca ekstrem ini. Aku menutup kedua telingaku dan menutup mata serapat-rapatnya. Angin besar berusaha untuk menghempasku tapi aku lebih berusaha keras menahannya.

“Siapaun tolong aku!” Jeritku ketakutan.

Seragamku sudah basah sementara aku tidak tahu ada dimana sekarang. Sepertinya air mulai menggenang, aku merasakan jika air itu semakin naik hingga sebatas lututku. Aku tidak bisa membuka kedua mataku karena buliran air hujan yang terus menampar wajahku.

Jgeeer…

“Ahhhh!” Aku lagi-lagi menjerit karena suara petir yang sangat keras.

“Aku ingin pulang…”

Tangisanku pecah, yang aku harapkan saat ini adalah semua kembali seperti semula. Bumi yang damai dengan manusia tanpa adanya amukan dari alam. Aku mencoba membuka mataku perlahan walaupun terasa perih karena air hujan yang masuk ke dalam mata.

Entah apa yang ada di hatiku, tapi firasatku merasa tidak enak tentang apa yang akan terjadi. Akupun menangah ke atas dan melihat jika ranting besar terjatuh ke arahku. Tidak, ranting itu tidak boleh menimpaku. Akupun berusaha untuk lari namun nahas ranting itu tak kalah cepat menimpaku. Aku terjatuh, rasanya badanku remuk dan tidak bisa digerakkan. Semua pandanganku menjadi gelap dan suara badaipun tak terdengar.

Akupun membuka kedua mataku perlahan dan melihat langit-langit kamarku. Ya, ternyata aku hanyalah bermimpi. Aku mengubah posisi tidurku menjadi duduk.

“Untung saja semua itu hanyalah mimpi.” Ucapku yang masih syok atas mimpi burukku.

Aku bertanya-tanya mengapa aku bisa bermimpi buruk. Setahuku jika mimpi buruk mungkin saja akan terjadi kemudian. Rasa takutpun menyerang kembali, aku takut jika itu semua terjadi.

Terdengar suara dedaunan yang dibakar dari luar jendela kamarku. Aku jadi teringat ibuku yang sedang menyapu halaman rumah tadi. Akupun berniat untuk menemuinya.

“Ibu.” Panggilku.

Ibuku menoleh dan berhenti menyapu dedaunan kering. Terlihat jika setumpuk dedaunan kering yang sedang terbakar di dekatnya.

“Ada apa sayang?” Tanya ibuku.

“Sebaiknya ibu tidak membakar sampah tersebut.” Ujarku pelan.

“Lho emangnya kenapa?”

“Aku belajar di sekolah jika membakar sampah dapat menyebabkan udara tercemar karena asapnya, juga akan terjadi pemanasan global jika dilakukan terus-menerus.”

“Ibu tahu kok kalau itu akan terjadi.” Ucapan ibuku membuatku bingung.

“Lho kenapa?”

“Kan ibu ngelakuinnya gak sering jadi gak akan terjadi apa-apa.” Jawab ibuku.

“Ya ampun bu, di bumi ini kan yang tinggal bukan kita saja tapi masih banyak bahkan jutaan jiwa yang tinggal.”

“Bayangkan jika hal itu dilakukan terus-menerus oleh banyak orang maka bumi ini lama-lama akan sakit dan tidak kuat untuk menjaga kita dari cuaca ekstrem. Buktinya sekarang harusnya musim kemarau tapi hujan terus-terusan turun. Sekarang saja sudah begini apalagi nanti 100 tahun yang mendatang.” Lanjutku mengatkan semuanya.

Terlihat jika ibuku terdiam karena berpikir sambil menatap diriku. Matanya menyipit dan tangannya bertolak pinggang.

“Wah, sepertinya anak ibu yang satu itu sangatlah pintar. Baiklah, lain kali ibu tidak akan membakar sampah lagi melainkan memisahkan antara yang organik menjadi pupuk dan anorganik untuk di daur ulang.”

Ucapan ibu membuatku sangat senang dan lega. Mulai saat ini dan seterusnya aku akan peduli terhadap bumi ini dan mengikuti komunitas pecinta alam serta mengajak orang-orang untuk peduli terhadap lingkungan sehingga krisis iklimpun tidak akan terjadi.

6 thoughts on “Cerpen #317; “Peduli Kunci Bumi Yang Sehat”

  1. Pemaparan yang singkat, padat dan jelas. Mulai dari permasalahan Marsha yang enggan untuk peduli terhadap lingkungan sampai pada klimaksnya dia sadar jika satu kali mencemarkan lingkungan, akan berdampak untuk masa depan. Ceritanya apik dan luar biasa, semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *