Cerpen #316; “Pancaran Alam Bumi”

Pagi yang indah aku melihat langit ungu menjelang siang ,cuaca yang indah udara nan sejuk menyegarkan menuju siang yang hangat,langit bagai teman disetiap hariku,juga aku senang belajar tetang muka bumi karena disinilah aku hidup,“Haah.. indah sekali alam ini,aku bersyukur bisa melihat asri dan suburnya alam,ini salah satu pengalaman terbaik”,aku berkata dalam hati sambil berjalan ke sekolah menikmati pagi.”Ee… dek Alam,sekarang sudah besar”,seorang pekerja konstruksi berbadan besar menyapaku,”Pak Sonar?”,aku sedikit kaget karena lupa,ia tersenyum memperlihatkan giginya ‘Iya dek,udah lama nggak jumpa ya,sekarang sudah besar aja”.Pak Sonar adalah kontruktor yang membangun gedung gedung disekitar daerah ini dulu.”Sekarang saya kerja bangun jalan ini dek”,terlihat diampingnya sebuah mesin beroda lebar mengeluarkan asap untuk meratakan pembangunan jalan. Suasana di daerah ini sudah berubah,banyak bangunan pencakar langit,semakin ramai kendaraan,dan dibangun industri pabrik, lingkungan disini sudah sangat berbeda dibanding saat dulu.Sore hari aku menyaksikan berita di televisi,salah satu informasi yang membuatku tertarik mengenai kondisi alam di bumi saat ini yang semakin menurun sedang menjadi topik perbincangan di seluruh belahan dunia,juga perkiraan cuaca yang menunjukan selalu hujan menegaskan kondisi tersebut.Diluar sedang hujan deras kuintip dari balik jendela langit yang mendung gelap dipenuhi awan tebal,”Padahal sekarang musim panas”.ujar ayahku sambil membaca koran,mendengar ayahku aku teringat saat pelajaran geografi guruku yang membahas tentang pemanasan global atau Global Warming.

Keesokan pagi hujan turun sangat deras bagai badai,pohon pohon merunduk tertiup angin yang   kencang.”Duk duk duk” terdengar ramai derap kaki,dari luar kamarku,“Duar!” pintu kamarku terbanting membuka,terlihat ekspresi ayah yang panik,”Ada apa yah?”,aku terkaget,”Alam kemas barangmu,air diluar sudah mulai masuk!”,teriaknya buru buru,tanpa berpikir panjang aku mengemas barangku,melihat ekspresi ayah kupercepat lalu aku berlari keluar.Genangan air telah masuk ke ruang tamu ,”Ayo cepat Lam,kita ke tempat pengungsian sekarang”,kata Ibuku berjalan terburu buru keluar mengikuti ayah.Dalam perjalanan kutatap hujan semakin deras,terlalu deras sampai aku tak bisa melihat langit,genangan air seperti danau yang dalam terlihat dibawah perahu evakuasi,tampak juga warga yang saling tolong menolong menyelamatkan diri dibantu petugas.

Karena kejadian kemarin,banyak kerugian yang dialami penduduk di kota.Hari ini dilaksanakan gotong royong di seluruh kota untuk merapikan lingkungan akibat banjir kemarin.terlihat ramai warga yang saling mengobrol tentang kejadian memilukan itu,banyak juga berita di televisi mengabarkan bahwa banjir juga terjadi di seluruh penjuru dunia,sambil belajar terlintas ide dipikiranku,aku berencana mengusulkan kegiatan menanam dan melestarikan tanaman serta mendaur ulang sampah untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih,keesokan harinya aku menyampaikan ideku,hasilnya ide tersebut diterima dengan penuh dukungan oleh semua teman serta guruku,bahkan guruku menyalurkan ide itu saat rapat dan sekolah mengumumkan kegiatan untuk pelestarian lingkungan,ide tersebut tercetus didukung dengan keadaan alam yang tak seimbang dan pemanasan global yang terjadi di seluruh dunia serta banyak sekolah yang sudah mencanangkan kegiatan yang sama.Aku berpikir bahwa alam akan menjaga kita jika kita menjaganya,”Kalau tidak dijaga bagaimana nasib bumi yang kita huni kedepannya?”,aku berkata dalam hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *