Cerpen #315; “PERAN GENERASI MUDA MENJAWAB TANTANGAN PERUBAHAN IKLIM”

Sore itu aku duduk di depan monitor komputer warung internet (warnet), jantungku berdegub kencang saat tertulis dilaman web pengumuman kelulusan bahwa aku diterima kuliah di salah satu kampus terbaik di Jambi. Hatiku gembira bercampur haru, akhirnya aku diterima menjadi mahasiswa. Kampus pinang masak yang indah dan asri, kesan pertama saat pertama kali aku masuk kepekarangannya dipertengahan tahun 2014.

Aku tinggal disatu kontrakan yang berpenghuni 4 orang, dengan fakultas berbeda. Teman-teman baruku  sangat antusias dan bersemangat ketika hari pertama ospek, atau biasa disebut pengenalan kehidupan kampus. Terutama ketika harus memakai seragam dengan warna sesuai faktultas, dan mencara perlengkapan ospek yang tergolong unik. Aku sendiri lulus di program studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Binsis.

Pukul 07.15 wib aku keluar dari kontrakanku  hendak menuju ke kampus, namun ada yang berbeda dengan cuaca pagi itu. Udara terasa lebih hangat, dan tampak asap tebal di sekitar tempat tinggalku. Mungkin ini pertanda akan masuk musim hujan fikirku. Aku berharap kondisi itu tidak berlangsung lama, seperti biasa hanya beberapa hari saja, dan semoga lekas turun hujan. Akupun bergegas menuju kampus untuk mengikuti perkuliahan.

Setibanya aku diparkiran kampus, hampir semua orang mengenakan masker kain, ternyata asap dan debu tebal tidak hanya menyelimuti sekitaran kampus dan penginapanku tetapi  menyelimuti seluruh kota dan area kampusku. Asap darimana ini, apakah ada  kebakaran besar yang menyebabkan udara yang pekat seperti ini.

Selama dua pekan berlalu, tak ada perubahan ketebalan asap bahkan semakin pekat, sehingga kampus diliburkan selama satu pekan. Kabut yang awalnya putih kini berubah menjadi kuning kecoklatan. Asap bercampur debu tersebut menyebabkan mata menjadi perih dan berair. Sehingga banyak pedagang asongan yang biasanya berjualan di pinggir trotoar lama kemalaan berkurang satu persatu, untuk menghindari timbulkan gejala batik dan asma.

Beberapa berita mengabarkan bahwa terjadi kebakaran lahan yang hebat di satu daerah yang terletak provinsi ku,  penyebabnya adalah kaerana kemarau panjang, serta kemungkunan lahan tersebut sengaja di bakar untuk membuka lahan perkebunan. Biasanya pembukaan lahan dengan cara membakar tersebut diakui lebih cepat dan efektif dan tidak mengeluarkan biaya yang besar jika dibandingkan dengan membayar jasa tebang pohon.

Setelah beberapa hari tersebar  video dimendia sosial mengenai lokasi kebakaran, tampak kobaran api yang menyala di kawasan  lahan  yang terbakar, memperlihatkan betapa luas area yang terbakar, sehingga menimbulkan asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara. Hal inilah menyebabkan udara disekitar menjadi panas dan  kabut tebal, menyebabkan terbatasnya jarak panjang, bahkan di area jalan lintas di sekitar lahan hanya berjarak pandang 1 meter.

Kabut tebal dan pekat yang menyebar ke seluruh kota dan kabupaten di Jambi terjadi hampir 2 bulan. Dimana tidak turun hujan dalam masa tersebut. Sehingga masyarakat Jambi bersepakat untuk melaksanakan shalat istisqa di masjid dan lapangan untuk meminta di tutunkannya hujan. Tak terkecuali rekan-rekan mahasiswa yang tingga di Kota Jambi.

Kabut  asap yang menyelimuti kota membuat masyarakat sekitar menjadi resah, dan hampir putus asa. Setelah dilaksanakan shalat bersama memohon diturunkan hujan, beberapa hari kemudian hujanpun turun, dan kabut mulai menipis, sehingga jarak pandang dapat meluas. Pemerintah kota dalam menanggulangi pencemaran udara juga melakukan upaya membuat hujan buatan dengan menggerakkan aparat BPBD, dengan menggunakan helikopter dan menyebarkan garam untuk menstimulasi hujan.

Pada tahun 2017, ketika aku telah duduk di semster tujuh. Aku mengikuti pelatihan dan pembekalan  menjelang  pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat itu, aku dan empat orang temanku  lulus untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata Tematik, dan diberikan satu tempat pengabdian di daerah pesisir, yang penduduknya banyak sebagai nelayan. Kami memiliki program pengolahan  ikan untuk dijadikan makanan yang memiliki harga ekonomis. Namun, kami juga diminta untuk membantu mengemas produk lokal agar lebih higienis.

Pada bulan Agustus, kami berlima dan digabung dengan 10 teman lainnya, berangkat menuju desa tempat kami melakukan KKN. Desa yang cukup terpencil dari jangkauan, dimana jalannya harus melewai jembatan, jalan aspal kecil, kemudian menyeberang menggunakan perahu selama 15 menit. Total perjalanan menuju desa tersebut selama 3 jam dari Kota Jambi. Kami melewati kawasan yang dahulu pernah terbakar hebat, hingga menimbulkan kabut dan asap yang tebal.

Sesampainya di desa tersebut, kami disuguhkan dengan pemandangan yang memprihatinkan. Perumahan sederhana berjajar disepanjang sungai, dan lingkungan sekitar yang sangat kotor, sampah-sampah berserakan, dan ujung sungai bermuara ke laut yang dapat disaksikan dengan jarak pandang 50 meter. Tanah dibawah rumah mereka tergenang air dan lumpur hitam, yang menjadikannya habitat bagi serangga dan hewan kecil, seperti nyamuk dan agas. Kami tak tahu apakah dapat tinggal dengan nyaman selama KKN disana. Namun, kami terhibur dengan sambutan masyarakat desa yang begitu antusias saat kami tiba.

Keesokan harinya kami segera mengunjungi para pemangku adat, orang yang dituakan, kepala desa, dan sekretaris desa. Untuk memperkenalkan diri dan menanyakan apa saja peraturan desa yang harus kami ikuti dan begitu pula dengan larangan disana. Setelah itu, kami pulang dan mempersiapkan rencana kerja sealam KKN berlangsung. Sehingga kami bisa menargetkan pencapaian kerja hingga KKN usai. Kami bersama-sama melaksanakan tugas dengan kamampuan terbaik. Disana lah kami memahami  potensi diri masing-masing, baik kekurangan dan kelebihan rekan-rekan dalam posko.

Suatu hari, aku dan  tiga teman lainnya bertugas untuk melihat pengolahan terasi udang, disalah satu rumah nelayan yang ada di ujung, pinggir laut. Kami berempat pergi pukul 8.00 wib. Untuk mencapai rumah nelayan tersebut kami harus menyeberangi sungai, menggunakan perahu kayu. Setelah tiba diseberang kamipun melalui jalan setapak yang terbuat dari kayu berjajar. Kami menelusuri jalan itu beberapa menit, dan akhirnya tibalah kami disatu rumah yang kami tuju. Kamipun meminta izin untuk melihat mereka mengolah udang rebon yang akan dijadikan terasi. Merekapun mengizinkan kami.

Temanku yang bernama Eko memperkenalkan diri, dan memperkenalkan kami satu persatu, nama kami, asal instansi, dan beberapa hal lainnya. Nelayan tersebur bernama Bapak Ahmad dan Ibu Jumiati, mereka telah bekerja sebagai nelayan hampir 15 tahun, lalu mereka menceritakan bagaimana kehidupan nelayan didaerah tersebut. Sangat sederhana namun mereka sangat bersyukur karena masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Pak Ahmad adalah seorang perantau dari Sulawesi Selatan, yang berlayar menuju Riau menggunakan perahu. Kala itu usianya 23 tahun, berlayar mengikuti ayahnya yang bertujuan untuk mencari nafkah dengan mencari kebun kopra. Saat singgah di tepian laut itu, dia dan ayahnya melihat beberapa potensi yang bagus, seperti ikan yang cukup banyak, dan pohon-pohon kelapa yang menjulang. Akhirnya dia dan ayahnya memutuskan untuk tinggal didesa tersebut, dan menetap beberapa tahun. Setelah itu barulah ia berkenalkan dengan calon istrinya dan memilih bekerja sebagai nelayan penangkap ikan dan udang. Selain itu, didaerah pesisir pantai juga banyak ditemukan jenis udang yang bernilai tinggi. Seperti udang ketak atau udang nenek (bungkuk) yang mahal harganya.

Pak Ahmad  menawarkan untuk mengajak kami melaut disekitar pantai untuk melihat pemandangan laut. Tanpa pikir panjang, kamipun menerima tawaran tersebut. Kamipun menaiki perahu mesin, dengan hati-hati, dan duduk berjajar di bagian depan. Sungguh keberuntungan bagiku biasa jalan-jalan dipinggir pantai untuk menikmati panorama. Kamipun menyaksikan puing-puing rumah yang tersapu ombak, dan pepohonan mangrove yang berdaun lebat. Kamipun menayakan apakah pohon mangrove itu tumbuh dengan sendirinya, ataukah ada yang menanamnya.

Aku         : “Pak, disini banyak ya pohon mangrove, apakah ada yang menanamnya?”

Pak Ahmad : “Ia dik, itu masyarakat desa yang menanam. Karena satu tahun yang lalu air

                                    laut pasang, dan rumah-rumah kami terkena hempasan ombak”

Aku              : “Jadi ini program dari desa pak?”

Pak Ahmad : “Ia dik, kepala desa yang mencanangkan ini, agar kami rutin menanam

                                   mangrov, supaya jika ombak besar naik, bisa ditahan dengan akar pohon

                                   itu”

Aku         : “ Kalau kami mau membantu menanam, dimana kami bisa dapat bibitnya

              pak?”

Pak Ahmad: “ Mungkin bisa didiskusikan ke kepala dik, bagaimana caranya”

Aku         : “Oo, iya pak”

Kami terus menyusuri kawasan perairan dangkal, kami menemukan beberapa penyu yang berenang. Kami sangat takjub menyaksikan itu semua. Setelah beberapa saat, Pak Ahmad mengarahkan perahu ke arah daeratan. Ternyata disana juga banyak tumbuhan nipah, sejenis sawit, namun buahnya menyerupai salak.

Setelah menyelesaikan kegiatan pada hari itu, aku merasa lelah dan teringat masa kecilku dahulu. Ketika aku masih duduk dibangku kelas VI sekolah dasar. Aku pulang sekolah berjalan kaki melewati jalan aspal yang masih  baru tebal bersama beberapa teman sekelasku. Jarak rumahku ke sekolah  tak begitu jauh, sekitar 4 km.

 Aku terbiasa pulang berjalan kaki sejak kelas 4 SD, meskipun ibuku sering mengingatkan untuk pulang menggunakan ojek, agar tidak capek. Namun, aku lebih suka menelusuri jalan dengan berjalan, meskipun cuaca sedang terik. Namun, masih banyak tempat yang teduh karena  adanya pepohonan yang rindang dikanan dan kiri jalan.

Siang itu teman-temanku  mengajak bermain ke sungai yang berlokasi tak jauh dari rumahku. Mereka bermaksud untuk mandi dan mencari hewan sungai, berupa kerang dan ikan yang sering di jumpai dibawah bebatuan dasar sungai, aku dengan senang mengiakan ajakan mereka. Mandi kesungai adalah suatu kesenangan bagiku. Aku dapat dan menikmati keindahan bebatuan yang  beraneka warna yang ada di dasar sungai, serta ikan-ikan yang hilir mudik mencari makan. Terlebih ketika beberapa kali aku di ajak naik perahu dan menyantap bekal makanan diatas perahu tersebut bersama teman-teman dan tetangga yang sebaya denganku.

Setelah selesai makan dan shalat, aku pergi ke tempat yang telah di janjikan untuk bertemu dengan teman-temanku. Mereka menungguku diatas pohon jambu air yang tak jauh dari rumahku. Sembari menikmati kesegaran buah jambu yang ranum, mereka saling bersenda gurau, dan menawariku beberapa buah, kemudian melemparkan buah itu ke genggamanku. Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 15.00 wib. Setelah meminta izin pada ibu ku untuk mandi, kamipun bergegas menuju tempat pemandian dengan berlari kecil.

Sungai tempat kami mandi berarus deras, dan berair jernih dengan lebar  hampir 100 meter. Sesampainya di pinggir sungai, teman-teman segera menceburkan diri ke air yang tak begitu dalam, hanya sebatas pinggang. Aku tak mau ketinggalan, langsung aku ikut berlari menyusul mereka. Temanku ada berlima, mereka bernama Vina, Joni, Afif, Deni, dan Linda. Kami berteman sejak awal masuk sekolah. Kami melihat ada beberapa ibu-ibu yang sedang mencari emas dengan mengeruk pasir dipinggir sungai, sehingga membentuk suatu lubang dengan kedalaman 1 m hingga 2 m. Hal itu membuat kami kagum sekaligus heran, mengapa ada emas di dasar sungai.

Dua tahun berlalu, aku  melihat perubahan air sungai yang sering pasang, dimana airnya sangat keruh dan kotor. Sehingga aku dan teman-teman jarang bisa mandi dan berperahu di sungai lagi. Dahulu, kami sering bermain di jembatan gantung yang ada di atas tempat pemandian, dimana  ketika itu air sungai sangat jernih, sehingga bebatuan dibawahnya tampak jelas. Namun, kini entah mengapa air sungai keruh hampir setiap hari. Tidak hanya ketika musim hujan, yang menyebabkan air pasang.

Sungai ini memiliki banyak sumber kekayaan  berupa ragam hewan dan tumbuhan air. Tatkala ayahku dahulu mencari ikan, setiap hari selalu memperoleh hasil tangkapan yang cukup banyak. Bahkan dahulu ditemukan udang sungai yang berukuran besar, serta ikan yang berharga mahal dipasaran juga bisa ditemua dalam setiap pekan. Ayah dan pamanku sering mencari ikan menggunakan perahu dari sore hingga subuh, dan ketika pulang selalu membawa ikan besar, seperti ikan baung, dalum dan semah. Namun, setelah beberapa tahun berlalu, seiring dengan perubahan warna air sungai, hasil tangkapan ikan menjadi jarang ditemui.

Perubahan  musim yang ekstrim juga mengakibatkan musim buah-buahan ikut berubah. Terutama musim buah durian dan duku . Durian berbuah pada bulan tertentu, biasanya ketika masuk bulan Ramadhan. Yang menyebabkan banyak orang pergi ke kebun setelah shalat terawih. Namun, perubahan musim yang terjadi menyebabkan buah durian jarang berbuah, dan jumlah nya ikut menurun, begitu juga dengan buah duku. Hal ini menyebabkan naiknya harga buah durian di pasar tradisional di kampungku. Tak jarang orang-orang dari luar daerah membawa hasil kebun mereka untuk dijual dengan harga cukup tinggi, mencapai Rp25.000- Rp65.000 perbuah, hal ini disesuaikan dengan ongkos kirim durian.

Suatu hari, ketika aku telah duduk di bangku sekolah menengah atas, aku berniat untuk berkunjung ke rumah salah satu temanku. Daerah tempat dia tinggal nya merupakan desa yang asri, dan dijuluki menjadi salah satu lumbung beras, gudang buah-buahan daerah, serta memiliki panorama pedesaan yang indah. Salah satu ikon daerah tersebut adalah air terjun bertingkat dengan volume air cukup besar. Desa yang sejuk yang bernama Desa Perentak.

Sesampainya disana, aku sangat takjub, dengan manorama perbukitan yang ketika matahari mulai terbit, tampak kabut menyelimuti bukit-bukit tersebut. Selain itu, masyarakatnya juga sangat ramah dan bersahaja. Saat aku dan temanku sedang bersantai dan memandangi keindahan sawah yang menghijau, lalu dia bercerita bahwa dahulu ditempat dia tinggal, udara sangat dingin, sehingga minyak goreng didalam galon dapat membeku. Tetapi kini udara sudah lebih hangat, dan baik untukku. Karena aku selalu flu ketika cuaca dingin.

Suatu siang aku dipanggil oleh ibu temanku, untuk melihat tambang kecil yang ada di belakang rumahnya. Aku segera menuruti, dan mengikutinya dari belakang. Tambang itu hanya berjarak 50 meter dari pekarangan dapur rumah. Sesampainya ditempat yang dimaksud, disana tampak beberapa orang yang memisahkan batu dengan pasir, begitu pula ada satu alat eskapator yang dikerahkan untuk mengeruk tanah. Hal itu membuatku takjub sekaligus ngeri, karena dengan adanya upaya tambang tentu akan meningkatkan taraf ekonomi mereka, namun dengan terjadinya pengerukan tanah secara terus menerus akan berdampak pada rusaknya habitat satwa yang hidup disana.

Tiga hari berlalu, aku pamit kepada temanku dan ibunya untuk pulang. Sebelum aku pulang, temanku menawarkan untuk mengajak ku berfoto ria, menangkap lanskep yang indah di desa tetangga. Desa yang kiri dan kanan jalannya memiliki hamparan pepohonan hijau, dan udara terasa lembab. Dan dibawah tebingnya mengalir sungai. Akupun setuju hunting foto sebelum pulang ke rumahku. Kami pergi pukul 10.00 Wib, dimana mentari sudah mulai terik, namun cuaca sejuk menerpa kulit wajahku. Temanku membawa kamera canon, dan aku yang mengendari motor, dia ku bonceng dipedal belakang. Setelah 10 menit berjalan, ku lihat pemandangans semakin memesona, dan aku baru pertama kali melihat pemandangan yang asri, dan sejuk. Ternyata desa itu adalah desa paling ujung dari kabupaten yang kami tinggali. Kami melihat satu view foto yang cantik dan mulai berswafoto beberapa kali jepretan.

Setalah sepekan berlalu, kami mulai memikirkan bagaimana upaya meminimalkan pencemaran lingkungan akibat dari sampah plastik yang dibuang ke area sungai. Apakah kami harus menyiapkan tong sampah besar, atau menyediakan jasa angkut sampah ke pembuangan terakhir. Kami berdiskusi selepas isya hingga pukul 22.00 Wib. Ternyata banyak teman-teman yang setuju untuk pengadaan tong sampah dengan membuat dari bahan-bahan bekas. Seperti ember plastik yang tak dipakai, botol-botol minuman yang bisa dirakit menjadi tong sampah yang unik. Kamipun  bersemangat untuk  merealisasikan pengadaan tong sampah dalam satu minggu kedepan.

Selama satu minggu kami mengajak masyarakat untuk sadar membuang sampah pada tempatnya. Hal ini kami sampaikan pada pertemuan-pertemuan, seperti saat rapat bulanan dikantor kepala desa, saat acara yasinan, dan saat aktivitas jam pelajaran disekolah, yang disampaikan oleh rekan-rekan KKN disaat mengajar mata pelajaran tambahan disekolah. Setelah pelaksanaan sosialisasi disampaikan, kami mulai mengajak anak-anak SD dan SMP untuk membantu mengumpulkan barang-barang bekas yang akan di jadikan tong sampah. Sungguh suatu proses yang menyenangkan, bisa bekerja sama dan berbagi dengan orang-orang disekitar. Setelah tiga hari, akhirnya terkumpul barang-barang bekas yang kami butuhkan, dan kamipun memulai program pembuatan tong sampah tersebut.

Pelaksanaan tugas KKN kami bagi menjadi 4 tim, tim pertama yang mengurus proses pembuatan terasi yang higienis dan sekaligus izin usaha ke dinas terkait, tim kedua mengurus pembuatan tong sampah, tim ketiga mengelola pengadaan air bersih dengan menggunakan alat dan bahan alami, dan yang keempat tim yang mengurus dan berpartisipasi untuk pengadaan gizi balita berupa pengadaan makanan bervitamin dan berserat. Semua dilaksanakan selama 2 bulan, dari Agustus hingga Oktober. Seiring berjalannya waktu, akhirnya tugas yang kami rencanakan telah terlaksana satu persatu. Hal itu dapat dilakukan  karena adanya kemauan dan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan lebih aktif memperbaiki lingkungan sekitar.

Pada pekan terakhir, kami meminta kepada kepala desa untuk membantu membelikan bibit mangrov atau  rizhophora agar dapat ditanam di lahan ditepi laut. Mendengar hal itu Kepala desa sangat gembira dan memberi kami izin untuk menanam bibit tersebut. Kami dibelikan 50 bibit mangrov, dan kami mulai menanamkan bibit tersebut secara bertahap. Penanaman tersebut dibantu oleh pak Ahmad dan anaknya, serta tetangga sekitar. Harapan kami, pohon tersebut dapat tumbuh dengan baik, dan memberikan manfaat dimasa depan. Sehingga tidak terjadi pengikisan tanah oleh gelombang laut secara terus menerus.

Kami sangat berterima kasih kepada warga desa yang sangat baik, dan mau membantu semua program kerja KKN kami. Terutama Ibu kontrakan yang setiap dua hari sekali memberikan  hasil tangkapan laut secara cuma-cuma. Tentu kami sangat antusias dan bahagia menerima pemberian tersebut.

Ibu Kontrakan : “Dik, ini ada sedikit tangkapan bapak dari laut”. Kata Ibu kontrakan

      sembari menyodorkan sebaskom ikan berukuran sedang.

Aku : “Wah, banyak sekali bu, terima kasih banyak”. Aku menerima pemberian itu.

Ibu Kontrakan: “Iya, tadi bapak pergi subuh tangkapannye banyak”. Jawab ibu kontakan

    sembari mulai melangkah pulang.

Akupun membawa baskom berisi ikan segar itu menuju dapur dan mulai membersihkan isi perutnya.Pengalaman yang kami lalui selama di desa tersebut sangat berharga dan berkesan. Tibalah saatnya KKN  usai dan kami harus pulang untuk menyongsong perkuliahan di smster berikutnya. Kami mengemas semua barang-barang dan perlengkapan yang kami bawa sejak awal KKN, dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.

Semester delapan telah dimulai, aku dan teman-teman satu posko masih menjalin hubungan komunikasi dengan baik. Salah satu dari kami mengusulkan untuk membentuk  satu forum diskusi yang membahas mengenai isu-isu lingkungan, terutama kepedulian  tentang pengolahan sampah dan kelestarian lingkungan pinggir laut. Hal ini menjadi tindak lanjut kami dari program KKN yang peduli akan kebersihan lingkungan. Kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih pedulu terhadap lingkungan, dan pembuangan limbah rumah tangga. Kami pun membuat komunitas peduli sampah di lingkungan kampus yang ditujukan juga untuk umum.

 Komunitas peduli lingkungan yang kami bentuk akan mengadakan bakti sosial untuk sosialisasi kedesa yang jauh dari jangkauan. Kami berencana untuk pergi ke kampung yang ada di pinggir laut, dan melakukan diskusi mengenai kebersihan sanitasi, seperti kebersihan jamban dan air yang memenuhi standar kesehatan. Kamipun mengupayakan pendanaan dengan mengajak donatur untuk bekerjasama melakukan penyuluhan tersebut. Setelah dua bulan dana yang kami butuhkan terlah terkumpul dari beberapa orang donatur yang tertarik dengan isu lingkungan.

Setelah pelaksanaan kegiatan usai, aku mulai mencari info pekerjaan di situs internet, dan bertanya kepada teman-teman yang telah lulus. Sembari mencari pekerjaan, aku ingin mulai membuat tulisan yang berkaitan dengan isu-isu lingkungan. Tentu menyenangkan dapat menulis, dan tulisan kita akan dibaca oleh banyak orang, terlebih jika dengan tulisan itu dapat menggerakkan masyarakat untuk melakukan hal-hal yang positif. Mungkin aku perlu mengasah kemampuan analisis dan menulisku mengenai isu terkini dengan lebih serius.

Bulan Oktober 2020, aku mengikuti seminar-seminar yang berkaitan dengan lingkungan dan mengikuti beberapa pertemuan untuk membahas capaian kinerja pemerintah tentang kelestarian lingkungan hidup, yang berfokus pada kelestarian hutan yang telah banyak di alih fungsikan menjadi ladang dan pemukiman. Salah satu yang menarik bagiku adalah pemaparan yang disampaikan oleh salah satu penggerak kepemudaan bahwa isu lingkungan merupakan hal yang sangat urgen untuk kita tindak lanjuti, karena hal ini akan memberikan dampak yang sangat besar untuk bumi kita kedepannya. Dimana kita ingin mengurangi kenaikan suhu bumi yang semakin panas dengan berbagai upaya pencegahan meningkatnya gas rumah kaca.

Aku berfikir sejenak, apakah efek gas rumah kaca benar-benar dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupan manusia dan alam, bagaimana jika peningkatan suhu bumi menikat beberapa derajat pertahun, tentu hal ini sangat berdampak bagi masyarakat terutama yang tinggal di kota-kota besar. Dimana disana banyak di dirikan bangunan dan fasilitas pabrik yang sangat besar, yang tentunya menimbulkan emisi. Akupun bertanya dengan was-was pada diriku sendiri, bagaimana jika aku dan semua orang tidak ada yang mau mengambil langkah pencegahan, apa yang akan terjadi ditahun-tahun mendatang.

Sebelum mengikuti seminar dan diskusi mengenai kepedulian lingkungan, aku sangat awam dalam hal-hal tersebut. Aku hanya berfikir bahwa dengan membuang sampah maka lingkungan kita akan sehat dan terhindar dari berbagai gangguan kuman dan penyakit. Hanya sebatas sehat saja, tidak pada dampak selanjutnya bagi bumi dan masa depan. Tetapi kenyataannya upaya kecil yang kita lakukan akan memberikan dampak bagi lingkungan jika kita konsisten melakukannya.

Aku pulag ke kampung halaman ku untuk melihat keadaan kedua orang tua, dan meminta saran dari mereka mengenai pekerjaan apa yang dapat ku berikan untuk desaku. Mereka menyarankan untuk berkontribusi di lembaga pemerintahan yang sesuai dengan bidangku. Akupun mulai mencari ide untuk melaksanakan kegiatan sosial berbasis ekonomi kreatif. Dimana aku melihat potensi desa yang berkaitan dengan ternak dan budidaya sapi. Banyak sapi yang berkeliaran dan sengaja dilepas oleh pemiliknya untuk mencari makan dilingkungan sekitar, sehingga banyak berceceran onggokan feses sapi di jalan, lapangan, dan pekarangan rumah. Aku mulai memikirkan untuk mengelola feses sapi untuk dijadikan pupuk kompos yang bernilai ekonomis.

Aku mengajak beberapa orang teman untuk berdiskusi mengenai ide mengelola feses sapi. Mereka awalnya tidak setuju dengan ide tersebut, dimana menurut mereka mengolah feses sapi bukan hal mudah, terlebih bau nya yang menyengat, mereka tidak kuat. Terlebih untuk melaksanakan kegiatan ini membutuhkan tempat khusus agar konpos dapat di urai oleh bakteri. Namun aku tidak menyerah dan terus menyampaikan manfaat yang dapat diperoleh setelah kompos jadi. Akhirnya teman-temanku setuju untuk melakukan upaya pengolahan pupuk tersebut.

Ternak sapi disesaku dilakukan oleh individu, hanya ada satu yang melakukan jual beli sapi kepihak luar dengan mudal besar. Namun, feses yang dihasilkan oleh sapi-sapi mereka belum dikelola dengan baik. Hal ini menjadi salah satu peluang untuk kerjasama melakukan pengolahan pupuk organik tersebut. Kami menyampaikan maksud kami kepada pemilik sapi untuk dapat mengolah kotoran sapi mereka menjadi pupuk, dan sebagai imbalan kami akan memberikan sebagian pupuk kepada mereka. Ketelah dilakukan diskusi beberapa saat, mereka dengan senyuman mengatakan tidak usah memberi pupuk, olah saja kotoran tersebut dan hasilnya ambil untuk kalian.

Pupuk kompos yang kami kelola akan kami distribusikan untuk penduduk desa dan jika ada lebih akan kami jual. Sebelum membuat pupuk, aku dan beberapa orang teman bertanya kepada seorang guru yang pernah mengajarkan kami membuat pupuk kompos, kami menanyakan bahan dan alat secara detail. Sehingga kami memiliki gambaran yang jelas untuk melakukan pengolahan. Setelah itu kami mulai melakukan uji coba pembuatan pupuk, dan hasilnya tidak mengecewakan.

Dua bulan berlalu, pupuk kompos yang kami oleh telah jadi dan dapat digunakan. Kami menyiapkan pupuk tersebut dan dimasukkan ke plastik dua lapis untuk dibagikan. Pertama kami memberikan kepada tetangga terdekat, kemudia kepada ketua RT. Setelah itu baru kami bagikan ke seluruh penduduk desa yang berjumlah 200 kepala keluarga. Ini hanya satu langkah kecil yang dapat kami lakukan, dan berharap dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Khususnya bagi kesuburan tanah dan hasil tanaman yang lebih subur.

Setelah mengolah pupuk kompos, aku tertarik untuk membudi dayakan tanaman hias dan sayuran secara hidroponik menggunakan media air. Aku melitah tanaman tersebut ketika berkunjung ke Kantor Ketahanan Pangan. Disana ada sayuran selada air, dan kangkung. Aku ingin masyarakat desa juga membudidayakan tanaman hidroponik tersebut. Akupun mengajak temanku Eko dan Ira untuk berkunjung ke Kantor Ketahanan Pangan untuk menanyakan cara budidaya tanaman hidroponik tersebut.

Kami bertiga disambut dan diberikan pengarahan dengan dibawa melihat langsung proses penanaman dan takaran pupuk yang diberikan. Pengarahan dari staf kantor mengenai tanaman hidroponik membuat kami bertiga semakin bersemangat untuk merealisasikan rencana budidaya tersebut. Tanaman yang dihasilkan dapat tumbuh subur tanpa menggunakan media tanah serta pengolahan yang mudah serta ramah lingkungan.

Keesokan harinya, kami bertiga berencana untuk mencari alat-alat dan bahan untuk tempat pembuatan tanaman, yaitu berupa pipa, lem, da bibit tanaman. Setelah itu kami akan membuat tempat tanaman di pekarangan belakang rumah dengan bantuan tutorial video youtube yang tersedia di internet. Kami menyelesaikan pembuatan tempat tanaman dengan media air itu selama tiga hari, dan bibit tanaman siap di semai di lubang-lubang pipa yang telah di isi air dan pupuk cair.

Kami menanam selada, seledri, dan kangkung  pada penanaman pertama. Kemudian jika berhasil kami akan menanamkan bibit bunga yang bisa tumbuh di air dan memiliki nilai jual tinggi, seperti anggrek dan lili. Setelah itu barulah kami akan memperkenalkan media tanam ini kepada lingkungan sekitar. Tentunya kami akan menawarkan jasa merakit media tanam dan pupuk cair yang murah. Dengan demikian masyarakat desa akan memiliki penghasilan tambahan dari panen sayuran dan memperoleh manfaat lingkungan pekarangan rumah yang asri dan hijau, sehingga udara menjadi lebih sejuk.

Setelah usaha budidaya tanaman hidroponik berjalan, kami memutuskan untuk memanen sayuran dan menjualnya, kemudian hasil penjualan tersebut akan dialokasikan untuk membeli bibit tanaman baru yang lebih beragam. Selain sayuran hijau, kami akan menanam bunga-bunga aneka warna, agar masyarakat penyuka bunga tertarik untuk menanam ataupun membeli bibit unggul untuk dibudidayakan.

Suatu ketika datang seorang ibu yang bekerja disalah satu kantor pemerintahan, saat itu kami lagi menyirami tanaman dan bunga-bunga kecil yang baru mekar. Ibu itu adalah salah satu langganan setia ibuku, yang hampir setiap pekan datang untuk membeli produk olahan ibuku. Ia melihat kegiatan kami seraya mengatakan kekagumannya pada produk organik yang kami tanam. Ia bermaksud untuk diajarkan cara menanam dan memproduksi tanaman hias yang indah.

Kami berencana untuk membuka suatu usaha jual beli tanaman hias yang berkualitas, hasil tanaman hidroponik. Upaya ini kami lakukan untuk meningkatkan perekonomian dan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan berbasis ekonomi kreatif. Dengan adanya potensi yang dimiliki oleh desa ini dapat dikembangkan agar memberi dampak baik secara luas. Usaha tersebut kami beri nama “Permata Hijau Desa” , dengan bermodalkan  semangat dan tekad yang kuat dan gotong royong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *