Cerpen #314; “RAMALAN PERI”

Zylvia melayang di atas bunga-bunga yang masih menguncup. Tangannya menebarkan serbuk ajaib yang seketika membuat bunga-bunga tersebut bermekaran dengan indah. Dia tersenyum lebar saat melihat padang bunga yang indah tersebut. Namun, pandangannya berubah sendu saat melihat sepetak tanah yang kosong dan kering di dekat padang bunga tersebut.

Dulunya, tempat itu ditumbuhi pepohonan yang besar dan rimbun. Sayangnya, beberapa bulan lalu, ada beberapa orang yang membakar pepohonan tersebut hingga semuanya habis, tak meninggalkan sisa walau sedikit.

Zylvia merasa sedih dan menyesal karena tak sanggup menyelamatkan satu pohon pun. Kalau saja dia tak terlambat menyadari, dia pasti bisa melakukan sesuatu.

Pandangan Zylvia beralih kepada padang bunga yang baru saja dimekarkan olehnya. Perasaannya sedikit membaik saat melihat bunga-bunga yang bergoyang pelan dan serangga yang sedang mengisap nektar. Kehidupan itu harus dia lindungi dengan baik.

Aku akan melindungi kalian dengan baik. Takkan kubiarkan kesalahanku kembali terulang.

“Zylvia, apa yang kau lakukan di sini? Sudah waktunya pulang.” Phila—salah seorang temannya—datang menghampiri Zylvia.

Zylvia melihat ke arah langit yang mulai berwarna oranye. Sepertinya, dia terlalu asik melamun hingga tak sadar waktu.

“Ah, benar juga. Maaf, aku terlalu lama melamun. Ayo pulang.” Mereka pun mengepakkan sepasang sayap kecil yang ada di punggung mereka, lalu meninggalkan tempat itu dengan kecepatan cukup tinggi.

“Terima kasih sudah mengingatkanku. Kalau tidak, aku pasti terjebak dalam masalah besar.” Zylvia menyungging senyuman tulus, sedangkan Phila hanya mengembuskan napas pelan sembari menggeleng.

“Ah, lihat itu, Phila!” Tangan Zylvia menunjuk ke salah satu tempat yang nampak diselimuti asap tebal. Phila hanya mengerutkan kening saat melihat hal tersebut.

“Sepertinya, ada yang membakar hutan lagi. Menyebalkan sekali mereka.” Phila berkata pelan, tapi cukup untuk membuat Zylvia terkesiap.

“Sungguh? Kalau begitu, kita harus cepat ke sana.” Zylvia hendak mengganti arah terbangnya, tapi tangannya dicekal oleh Phila yang masih mengerutkan keningnya.

“Untuk apa kita ke sana? Tak ada gunanya. Kita hanya bisa melaporkan masalah ini pada tetua. Biar dia yang mengambil tindakan tentang hal ini.” Zylvia hanya bisa terdiam mendengarnya.

Benar, mereka memang tak bisa melakukan apa-apa. Namun, tetua juga tak bisa mengambil tindakan apapun untuk menghentikan pembakaran itu. Alasannya sudah jelas, karena mereka tidak memiliki kuasa apapun. Manusia-lah yang berkuasa mengenai hal itu, bukan peri.

Memang peri yang melakukan semua tanggung jawab untuk membantu tanaman bertumbuh, tapi mereka tak bisa melakukan apa-apa jika manusia sudah berkehendak. Sesungguhnya, banyak sekali peri yang membenci manusia karena alasan tersebut. Peri sudah membesarkan tanaman dengan penuh kasih dan cinta, bahkan memerlakukan mereka seperti keluarga sendiri. Namun, manusia justru menghancurkan mereka tanpa belas kasih, bahkan tanpa berpikir dua kali. Kejadian seperti itu terus berulang, membuat peri merasakan kesedihan dan penderitaan yang tak berujung.

“Ayo pergi, Zylvia. Aku tak ingin melihat wajah para manusia kejam itu.” Phila memasang wajah dingin, tapi terlihat luka dalam tatapannya. Melihat itu, Zylvia hanya bisa menurut, meski hati kecilnya berontak.

Maaf, karena aku tak bisa menepati janjiku.

Sesampainya Zylvia dan Phila hutan tempat tinggal mereka, mereka pun bergegas menuju pohon yang terlihat paling besar dan kokoh. Di dalam pohon itulah tetua peri tinggal.

Baru saja mereka mendarat di depan pintu rumah tetua, mereka sudah mendengar suara sang tetua yang menyuruh mereka untuk masuk ke dalam. Di salah satu ruangan, mereka menemukan sang tetua yang duduk sambil menatap ke arah bola kristal kecil.

“Duduk dan lihatlah pemandangan yang akan ditunjukkan oleh bola ini.”

Mereka berdua saling melempar pandangan sesaat, sebelum menuruti perintah sang tetua.

Pemandangan tanah yang kering dan tandus membuat mereka mengerutkan kening. Mereka bisa melihat banyak manusia yang kurus kering, tapi memiliki perut yang membuncit. Ada beberapa yang memiliki kulit dipenuhi benjolan. Banyak mayat yang berada di pinggiran jalan dan digerogoti oleh hewan-hewan, tanpa ada yang berusaha untuk memakamkan mayat itu dengan layak.

“Pemandangan apa ini, tetua? Kami tidak mengerti.” Zylvia bertanya dengan nada bingung, tapi tetap tak mengalihkan pandangan dari bola itu. Dia masih berusaha mencerna situasi yang sedang terjadi.

“Anakku, yang kalian lihat sekarang adalah situasi yang mungkin terjadi di Bumi 100 tahun mendatang.” Sang tetua menjelaskan dengan suara tenang, tanpa ada keterkejutan mengenai sesuatu yang sedang dilihatnya sekarang.

Zylvia terperangah mendengarnya. Dia tak percaya jika akan terjadi perbedaan sedrastis itu hanya dalam 100 tahun. Namun, ramalan sang tetua selama ini selalu tepat sasaran. Tak pernah salah, walau hanya sekali.

“Namun, bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi?” Zylvia kembali bertanya, tapi sang tetua hanya tersenyum tipis.

“Perhatikanlah, anakku. Bola kristal ini akan menjelaskan segalanya kepadamu.”

Kali ini, bola kristal itu menunjukkan pemandangan bawah laut. Di sana, terdapat rumah-rumah yang telah tenggelam sepenuhnya. Tak ada lagi ikan berenang, hanya ada plastik-plastik yang terbawa arus. Tak ada terumbu karang yang indah, sepanjang mata memandang hanya sampah yang terlihat.

Pemandangan itu kembali berganti. Kali ini, terlihat banyak roket yang siap lepas landas. Para manusia berebutan untuk naik ke dalam roket itu, mereka saling mendorong hingga banyak yang terinjak sampai mati. Situasi itu terlihat lebih parah saat hanya tersisa satu roket yang belum lepas landas. Kini, mereka bahkan tak ragu-ragu untuk mengeluarkan senjata dan saling membunuh. Tak ada wajah menyesal atau sedih saat mereka membunuh orang lain, justru wajah mereka dipenuhi rasa puas.

Pemandangan itu berubah lagi. Kali ini, memerlihatkan situasi yang lebih mengenaskan. Banyak manusia yang meninggal dalam kondisi terapung di laut. Tak ada lagi manusia yang masih bergerak atau bernapas. Kehidupan manusia Bumi sudah berhenti sepenuhnya.

“Apa … situasi macam apa ini?” Lagi, Zylvia bertanya dengan nada tak percaya. Namun, sang tetua tetap menanggapinya dengan senyuman kecil.

“Seperti yang sudah kujelaskan tadi, anakku. Inilah situasi Bumi 100 tahun ke depan. Kelak, tak ada lagi makhluk hidup yang bisa tinggal di sini. Manusia memilih meninggalkan tempat kelahirannya dan berpindah ke Mars untuk bisa melanjutkan kehidupannya. Mereka bahkan tak ragu untuk saling membunuh demi bisa mencapai tujuan tersebut. Bagi manusia yang tertinggal, mereka hanya menunggu kematian menjemput, sebab Bumi tak lagi bisa menyediakan segala yang mereka butuhkan.” Sang tetua menjelaskan dengan penuh kesabaran, sepenuhnya menyadari bahwa kedua anak di hadapannya tak mungkin bisa mencerna kenyataan pahit secara tiba-tiba.

“Namun, bukankah semua ini hanya ramalan? Segalanya masih bisa dicegah, bukan?” Zylvia kembali bertanya dengan raut khawatir. Sang tetua pun kembali menjawab dengan tenang.

“Anakku, bukankah kamu membenci manusia yang sudah memerlakukan tumbuhan dengan buruk dan semena-mena? Lantas, kenapa kamu terlihat begitu sedih dan khawatir? Bukankah kamu juga menyetujui, jika hal ini adalah bagian dari karma yang harus mereka tanggung sendiri karena menyakiti makhluk hidup lain?”

Zylvia tak bisa membalas ucapan itu. Benar, dia pun membenci manusia yang begitu kejam dan serakah. Dia membenci manusia yang bersikap superior, ketika seharusnya mereka memiliki kedudukan yang sama. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa masih ada manusia baik di luar sana. Zylvia tak mau jika mereka ikut merasakan penderitaan, ketika mereka tak turut serta dalam melakukan kejahatan.

“Tentu saja semua ini masih bisa dicegah. Namun, itu semua tergantung kepada diri mereka sendiri. Jika mereka mulai memerbaiki yang sudah rusak, pasti Bumi bisa menjadi lebih baik daripada sekarang. Kita pun bisa hidup berdampingan dengan mereka tanpa perlu lagi merasakan takut dan kebencian.”

One thought on “Cerpen #314; “RAMALAN PERI”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *