Cerpen #312; “JACK SANG PENJAGA LANGIT”

Jack terbangun dari pembaringannya setelah terbatuk – batuk untuk waktu yang lama. Sudah kesekian kalinya dalam satu hari ini, ia batuk dan bersin. Kondisinya saat ini sangat kacau. Hidung merah, mata berair, ditambah dengan kepala yang sangat pusing. Padahal ini sudah malam dan waktunya untuk beristirahat, tetapi Jack sama sekali tidak bisa tidur. Tidak pagi tidak malam, sama saja. Polusi dan udara kotor dimana – mana. Jack sudah muak dengan ini semua.

Ting!

Tiba – tiba, Ratu peri muncul di sebelah Jack bertepatan dengan suara berdenting yang cukup memekakkan telinga. Berbeda dengan Jack, Ratu peri itu terlihat sangat anggun walau sudah malam sekalipun. Gaunnya yang indah, wajahnya yang cantik, serta kedua sayapnya yang mengkilap setiap di kepakkan menambah kesan “menawan” pada Ratu peri. Tidak heran, Ratu peri sangat diidolakan oleh para rakyatnya, mengingat bahwa ia sangatlah cantik.

“Kamu baik – baik saja, Jack?”Tanya Ratu peri dengan lembut. Matanya yang berwarna biru muda terang itu menatap Jack iba.

Jack yang mendengar pertanyaan Ratu peri itu langsung menatap sang Ratu dengan tatapan kesal. Bagaimana bisa Ratu peri itu bertanya lagi tentang kondisinya, padahal ia bisa melihat dengan jelas bahwa Jack benar – benar tidak baik – baik saja saat ini. Flu sedang menerjang nya.

Ratu peri yang menyadari kekesalan Jack langsung berdehem pelan untuk mencairkan suasana. Badan kecilnya kemudian terbang untuk lebih mendekat kepada Jack dan kemudian berhenti tepat di sebelah wajah Jack untuk memberitahu maksud dirinya dating ke kamar Jack.

“Aku ingin mengatakan jika kita tidak akan bisa bertahan jika terus terusan seperti ini. Ini sudah terlalu lama. Mau sampai kapan kamu akan menunggu? Kita tidak bisa terus terusan seperti ini Jack. Jika kamu tidak segera mengambil tindakan,bumi akan benar benar hancur. Rakyatku juga tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mereka tidak bisa hidup dengan udara yang buruk ini, kumohon. Lakukanlah sesuatu Jack. ” Ratu peri mulai bergelimang air mata. Wajahnya yang semula memancar kan kewibawaan kini berganti menjadi wajah memelas sekaligus sedih. Ia benar benar sedih melihat kondisi bumi saat ini. Pohon pohon semakin sedikit dan udara juga menjadi kotor akibat asap kendaraan. Cuaca juga semakin panas dan kering, debu dimana mana, oksigen semakin menipis. Bumi sudah diambang kehancurannya. Namun mirisnya, tak satu orang pun yang peduli akan hal ini. Selama ini, manusia terus saja membangun dan membuat gedung gedung baru, bahkan mereka berlomba lomba untuk membuat gedung pencakar langit. Keegoisan serta nafsu mereka sudah membuat mereka lupa apa yang lebih penting dari itu semua.

Sementara itu, didepan Ratu peri, Jack terlihat tengah memijat pelipisnya pelan. Ia sebenarnya juga sangat pusing dengan masalah ini. Sebagai penjaga langit, ia memang harus mengambil keputusan untuk masalah ini. Tetapi tak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanyalah seseorang yang mengatur hujan dan panas. Sedangkan masalah ini bersangkutan dengan pemikiran serta kesadaran seorang manusia. Itu diluar kendalinya.

“Ini sudah kesekian kalinya kamu mengatakan hal ini. Apa kamu tidak bosan? Aku kan sudah bilang kalau aku akan mengurus masalah ini. Kamu tidak perlu khawatir,percayakan saja kepadaku.Kamu hanya perlu focus untuk membantu penyerbukan tanaman yang masih ada disini.Itu tugasmu dan para rakyatmu,kan?”Ucap Jack dengan nada serak, menandakan bahwa ia benar benar kurang istirahat.

“Tapi ini sudah terlalu lama Jack! Apa yang—“ Perkataan Ratu peri langsung terhenti begitu ia melihat Jack yang mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada sang Ratu untuk berhenti berbicara. Mata Jack juga menatap ke arah Ratu. Tatapan yang tajam serta mengintimidasi itu membuat sang ratu berfikir keras. Tidak lama kemudian, iapun kemudian memahami maksud tatapan Jack. Dengan berat hati, ratu peri membalikkan badannya dan terbang pergi meninggalkan Jack yang ingin sendiri. Ia memang seorang ratu peri, tapi ia hanyalah ratu untuk rakyatnya, bukan untuk Jack. Ia tidak memiliki kuasa dan hak untuk melawan Jack yang selama bertahun tahun ini sudah bekerja keras melindungi langit dan bumi.

Sementara itu, di dalam kamar di rumah sederhana milik Jack, terlihat sang penjaga langit itu tengah berbaring di atas kasurnya dengan tatapan menerawang ke langit – langit.Pikirannya kacau dan ia sangat pusing.

Keesokan harinya, ketika matahari sudah berada tepat di tengah tengah, Jack baru keluar dari rumah sederhana nya. Rumah yang tidak begitu megah, yang dibuat oleh para peri di atas awan. Memang tidak mewah, tetapi itu cukup untuk tempat istirahat Jack, dan ia sangat berterima kasih kepada para peri yang rela membuatnya.

Ketika ia keluar dari rumahnya, Jack langsung saja mendongak ke atas. Seketika, sengatan cahaya matahari langsung menusuk wajahnya hingga membuat wajahnya panas dan memerah. Jack menghela nafas kasar. Semakin lama, sengatan cahaya yang ia rasakan semakin panas. Dan itu adalah pertanda bahwa lapisan ozon tidak lagi tebal dan kuat untuk menahan panas matahari. Dia jadi rindu dengan bumi beberapa ribu tahun yang lalu.Sebelum manusia mulai menghancuran bumi dengan sikap egois mereka.Mereka membuat banyak sekali polusi udara.Manusia memang pembawa masalah.Selain menjadikan udara kotor,mereka juga merusak bumi dengan membuat lapisan ozon menipis.Walau ujung – ujungya mereka juga akan terdampak akibatnya,tetapi tetap saja mereka tidak peduli.Manusia benar – benar makhluk yang keras kepala.

Jack kemudian berjalan ke pinggir awan yang saat ini ia pijaki, namun saat kakinya hendak melangkah keluar dari awan, suara menggelegar awan langsung menghentikan langkah Jack.

“Anda mau kemana, tuan Jack? ” Tanya awan dengan sopan.

“Aku hanya ingin pergi ke bawah untuk melihat keadaan. Kamu fokus saja dengan pekerjaanmu,nanti malam kamu harus menyuruh bawahanmu untuk menurunkan hujan.” Titah Jack tegas. Memang begitulah Jack. Ia tegas dan sangat disiplin. Sesekali ia akan berkeliling bumi untuk melihat situasi dan kondisi. Ia juga mempertimbangkan segala kebutuhan manusia untuk memutuskan kapan waktunya hujan dan kapan waktunya panas. Jack adalah orang yang sangat penting, maka dari itu, baik Ratu peri maupun awan tidak berani melawannya.

“T-tapi tuan, kita sepertinya kekurangan air hujan yang bersih. Akibat polusi udara ini, awan yang terkumpul juga kotor dan akan menurunkan hujan asam. Itu tidak baik untuk manusia. Apalagi untuk tanaman.”Awan kembali berucap. Kali ini ia berbicara pelan sekali.

Jack memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya kasar. Banyak sekali keluhan dan masalah. Pohon pohon yang semakin berkurang, hujan asam yang selalu turun, cuaca yang menyengat, dan lain sebagainya. Dan semua masalah itu berasal dari manusia—lagi.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Jack langsung saja menghilang dengan kekuatannya, meninggalkan awan yang masih dalam keadaan bingung.

Diiringi dengan suara dentingan kecil, Jack muncul di depan sebuah gedung besar dalam wujud “tak terlihatnya” nya. Di depannya kini ada banyak sekali manusia – manusia yang berlalu lalang. Rata – rata dari mereka menggunakan masker dan berjalan sambil menunduk untuk menghindari debu yang berterbangan dimana mana. Tidak jauh di depannya, terlihat jalan raya yang sangat padat sekali. Mobil dan bus serta sepeda motor memenuhi jalan. Mereka tidak bisa bergerak bebas, hanya klakson yang bisa mereka bunyikan untuk meluapkan kekesalan mereka karena sejak tadi kendaraan mereka tak kunjung maju maju. Macet. Itulah kata yang untuk menggambarkan kondisi jalan raya saat itu. Tidak lupa, debu dan asap knalpot kendaraan juga ada dimana mana. Jack yang melihat itu semua pun hanya bisa menggeleng pelan dan menghela nafas kasar.

Jack kemudian berjalan meninggalkan gedung tinggi yang menjadi tempat mendaratnya ia tadi. Dengan wujudnya yang “tak terlihat”, Jack bisa berjalan dengan santai di tengah tengah kerumunan manusia yang juga berjalan. Ia tidak perlu khawatir manusia – manusia itu akan melihat dirinya—yang sangat berbeda itu. Karena saat ini Jack menggunakan pakaian langitnya. Pakaian yang tidak akan pernah ada duanya, dan pakaian yang pasti nantinya akan dianggap aneh oleh para manusia.

Di tengah perjalanannya berkeliling kota, ia tiba – tiba menemukan seekor peri yang tergeletak lemah di tanah. Ia tergeletak tepat di sebelah pot bunga yang isinya sudah kosong. Jackpun segera mengambil peri itu dengan  pelan dan meletakkan nya di kedua telapak tangannya yang ia tangkupkan. Peri itu adalah salah satu dari rakyat Ratu peri. Namun, kondisinya saat ini sangat mengenaskan. Sayapnya robek, bajunya berantakan, dan tubuhnya penuh dengan debu. Tidak hanya itu, nafasnya pun sudah tidak normal lagi. Ia terlihat sangat kesulitan bernafas, ia benar benar sudah sekarat.

Jack yang melihat itu hanya bisa menatap peri itu sendu. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk peri itu. Ia bukanlah orang yang bisa menyembuhkan  seorang peri,begitu juga dengan ratu peri.Di dunia ini tidak ada yang bisa menyembuhkan seorang peri.Sekali peri itu sakit ataupun tidak kuat untuk hidup lagi,ia akan mati.Begitulah kehidupan seorang peri.Ia hidup untuk membantu penyerbukan tanaman agar tanaman – tanaman di bumi ini cepat tumbuh besar,yang dimana manfaat dari pekerjaan mereka itu juga akan dinikmati oleh manusia,namun manusia malah membunuh mereka dengan udara kotor.Jika para manusia menganggap bahwa menjadi peri itu menyenangkan karena bisa terbang kesana kemari dan memiliki sayap yang indah,itu salah.Peri adalah makhluk yang tidak bisa disembuhkan.Populasinya memang banyak,namun jumlah kematiannya pun juga tidak sedikit.Merekalah malaikat bersayap yang sangat baik hati.

Tidak lama setelah itu, peri yang awalnya ada di tangan Jack itu perlahan perlahan mulai menghilang. Tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran butiran kecil yang kemudian terbang ke udara. Jack hanya melihat kepergian peri itu dengan tatapan kosong. Ia jadi seperti seseorang yang tidak berguna. Melihat temannya sendiri, yang sudah berjuang bersama selama ini, mati begitu saja. Jack benar benar hancur. Ditambah, ia juga jadi teringat dengan ucapan Ratu peri kemarin malam. Dan ucapan Ratu peri itu benar adanya. Jack melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa rakyat peri tidak bisa bertahan dengan situasi seperti ini. Peri dikenal dengan makhluk bersih, jika mereka dipaksa hidup berdampingan dengan udara kotor, mereka akan kesusahan dan itu membuat mereka cepat mati

Saat Jack masih bersedih akibat kepergian peri tadi,  atensinya seketika teralihkan ke sebuah rumah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Rumah sederhana tanpa tingkat, dari sana keluarlah seorang bocah laki – laki dengan senyuman manis dan sebuah kantung plastik besar di tangannya. Ia terlihat sangat gembira sekali. Sambil berlari, bocah itu menuju bagian belakang rumahnya, karena penasaran, Jack pun mengikuti bocah itu. Entah apa yang membuatnya tertarik untuk mengikuti bocah yang bahkan tidak ia kenal itu. Otaknya tiba tiba saja berfikir untuk mengikuti bocah itu.

Namun, apa yang Jack lihat malah membuatnya membulatkan mata dan menutup mulutnya yang terbuka dengan sebelah tangannya. Ia tak menyangka, di masa seperti ini, ia masih bisa melihat  pemandangan ini. Bocah itu menanam banyak sekali tanaman! Mulai dari bunga, buah – buahan yang kecil, dan sayur sayuran. Itu semua berjejer dengan rapi di halaman belakang rumahnya.’Ratu peri pasti sangat senang melihat ini semua’,batin Jack.

Sementara itu, sang bocah pemilik tanaman – tanaman itu kini sedang berkutat dengan pekerjaannya. Ia saat ini sedang berusaha untuk menuangkan tanah dari kantung plastik—yang tadi ia bawa—ke dalam pot. Dan di sebelah nya terlihat ada beberapa biji tanaman. Bocah itu pastilah ingin menanam. Dengan segala kebahagiaan, Jack pun segera mengubah wujudnya menjadi seorang lelaki muda dan menghampiri bocah itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”Jack berjongkok di depan bocah itu sambil membantu bocah itu memindahkan tanah ke dalam pot.Awalnya bocah itu menatap Jack dengan kaget karena kehadirannya yang terkesan tiba – tiba,namun kemudian ia kembali focus dengan tanah dan potnya.

“Menanam buah murbei.”Ucap bocah itu sebagai jawaban atas pertanyaan Jack tadi.Jack sedikit menoleh ke bocah itu,sekedar untuk menarik perhatiannya.Namun ternyata bocah itu tidak memperhatikan Jack,ia tetap sibuk dengan apa yang sedang ia lakukan.Sedikit kesal karena berasa tidak dianggap,Jack memutuskan untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman belakang rumah bocah itu dan kembali melihat tanaman – tanaman yang tertata rapi disana.

“Untuk apa kamu menanam ini semua?Kamu mengoleksi nya?”Tanya Jack setelah beberapa saat suasana hening diantara mereka.

‌”Aku tidak mengoleksi mereka.”Jawab bocah itu singkat tanpa menoleh ke Jack.

‌”Lalu?”

“Aku ingin membuat bumi menjadi bersih kembali.”

‌Jack mengerutkan dahinya bingung,”Membuat bumi bersih?”

‌“Iya,kata ayahku,jika ingin bumi kembali bersih,maka banyaklah menanam pohon ataupun bunga.Di bumi ini tanaman – tanaman hanya tinggal sedikit sehingga udara bersih sulit didapat.Pohon – pohon besar yang biasanya ada untuk berteduh di siang terik juga tidak ada lagi.Satu – satunya tempat berteduh adalah rumah.Belum lagi dengan asap pabrik dan knalpot kendaraan.Bumi sudah sangat kotor akibat minimnya pohon.Lapisan ozon juga akan semakin menipis sehingga cuaca akan menjadi jadi sangat panas. Maka dari itu,aku memutuskan untuk mulai menanam bunga dan beberapa tanaman lainnya.”

‌Mata Jack membelalak.Ia sangat kaget dan kagum dengan jawaban bocah kecil itu.Padahal ia masih kecil,tapi ia sudah sangat peduli dengan lingkungannya.Ia bahkan rela menghabiskan banyak waktunya untuk bercocok tanam.Tapi,di tengah kekaguman itu,ada satu yang sedikit menganggu Jack saat ini.Wajah bocah itu seketika berubah menjadi sedih setelah menjelaskan dengan semangat tujuannya menanam tanaman.Jackpun segera mendekati bocah itu dan menepuk pundaknya pelan.

‌“Hei,apa kamu baik – baik saja?Mengapa kamu bersedih?”

Bocah itu sedikit mengangkat kepalanya dan menatap mata Jack sendu,”Tapi,aku tidak yakin kalau yang kulakukan ini benar – benar bisa membersihkan bumi.Aku hanya seorang anak kecil yang hanya bisa menanam beberapa bunga dan buah – buahan berukuran kecil.Bagaimana bisa bumi akan bersih hanya dengan tanamanku yang sedikit ini?”

‌Jack yang mendengar itu tersenyum tipis.Ia mengelus surai bocah itu pelan dan membalas tatapan sendu bocah itu dengan tatapan berbinar untuk menyalurkan semangat,”Tidak,yang kamu lakukan ini sudah sangat bagus.Tidak peduli seberapa besar atau kecil tanamanmu,tapi yang terpenting kamu sudah berusaha,kan?Untuk hasil,kamu tidak perlu pusing memikirkannya.Berjuanglah dulu.Lagipula,sesuatu yang hebat itu dimulai dari langkah kecil,bukan?Kamu saat ini hanya perlu berjuang dan bersabar,serta belajar dengan giat.Aku yakin,proses tidak akan mengkhianati hasil.”

‌Perkataan Jack membuat bocah itu tersadar.Tatapan yang tadi sendu berubah menjadi berbinar.Perkataan Jack yang tidak terlalu singkat namun bermakna itu sangat mengena di hati sang bocah.Tidak lama kemudian,senyuman manis dan lebarpun ia keluarkan.

‌“Baik,aku akan berusaha! Aku akan membuat bumi menjadi bersih lagi,”Seru bocah itu senang.

‌“Bagus,jangan lupa,kamu juga harus bersabar.Hasil dari prosesmu saat ini pasti akan datang pada waktunya,bersabarlah.”Jack mengepalkan tangannya untuk memberi bocah itu semangat.Tidak lupa,senyuman manis Jack juga tidak pernah luntur dari bibirnya.

‌Bocah itu mengangguk girang.Ia kemudian berdiri—begitu juga dengan Jack—dan langsung memeluk Jack erat.Ia ingin mengucapkan terimakasih yang mendalam kepada Jack karena sudah memberinya semangat.Namun,saat ia hendak berpamitan untuk pergi,Jack menahannya.

‌“Ambil ini.” Jack mengeluarkan sebuah kantung plastik besar dari balik bajunya—yang awalnya tak ada disana—dan memberikannya kepada bocah itu. Ketika bocah itu menerimanya dan membuka kantung plastiknya, betapa senangnya ia tatkala Jack memberikan tanah dan beberapa bibit bunga juga buah. Mata bocah itu kembali berbinar menatap Jack. Setelah mengucapkan terimakasih yang sangat tulus, bocah itupun segera berlari kembali masuk ke dalam rumah nya.

‌Tinggallah Jack sendirian di halaman belakang. Ia kemudian memutuskan untuk pergi dari sana. Di pikirannya kini hanya berisi tentang bocah tadi. Bocah yang masih belia namun sangat peduli dengan lingkungannya. Bocah yang sudah membuka pikiran Jack lebih luas lagi.

Ya, ia pikir awalnya semua manusia itu sama saja. Tidak ada yang beda. Semuanya sama – sama tidak peduli dan egois. Suka berlomba – lomba melakukan sesuatu yang bahkan tidak ada gunanya. Tapi, bocah itu telah membuat Jack tersadar, bahwa tidak semua manusia itu sama. Walau tidak banyak, tapi mereka yang peduli lingkungan itu ada, dan bocah tadi salah satunya.

‌Tidak lama setelah Jack berjalan dari rumah bocah tadi, ia kemudian berhenti dan menengadah ke atas. Saat ini, ia memikirkan Ratu peri dan awan. Ia ingin cepat cepat kembali ke langit dan menceritakan pengalamannya. Ia juga ingin memberitahu bahwa masalah yang selama ini mereka pikirkan sampai pusing tujung keliling sekarang sudah ada jawabannya. Memang , jawaban itu belum terlalu pasti, setidaknya sudah ada calon – calon manusia yang akan mengubah masa depan. Jack ingin manusia seperti bocah tadi semakin banyak bermunculan di muka bumi ini. Ia juga ingin bocah tadi menjadi anak yang sukses dan bisa mengajak yang lainnya untuk mulai memperhatikan lingkungan mereka. Dari gerakan peduli lingkungan itu, bumi akan menjadi bersih kembali. Pohon pohon kembali tumbuh dimana – mana, udara bersih terdiam dimana mana, para rakyat peri tidak lagi sakit – sakitan, dan hujan asam tidak akan pernah turun lagi. Dan jika saatnya itu tiba, Jack ingin melihat bocah itu kembali. Ia ingin melihat bocah itu sebagai seseorang yang sudah membawa perubahan besar kepada bumi. Dan sampai saatnya itu tiba,Jack akan bersabar menunggunya.

‌Apapun yang terjadi, ia percaya dengan bocah itu. Ia percaya bahwa bocah itu akan membawa bumi menjadi lebih baik lagi.

TAMAT

3 thoughts on “Cerpen #312; “JACK SANG PENJAGA LANGIT”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *