Cerpen #310; “BERITA DI SIANG HARI”

Suhu udara hari ini terasa berbeda. Terasa lebih panas. Lala yang duduk sambil membaca buku di kamar merasa sangat tidak nyaman karena terasa pengap dan berkeringat. Padahal semua jendela sudah dibuka lebar. Hari ini langit sangat bersih tanpa ada coretan putih yang terlihat. Warna orange pekat terlihat menyala ditanah.

“Ya Allah, panas gati.” (Ya Allah, panas sekali). Keluhnya sambil mengipas-ngipas tubuh yang sudah berkeringat dengan buku di tangannya.

Lala penasaran berapa suhu hari ini. Ia pun meraih handphone yang ada didekatnya menyentuh layar sebanyak dua kali dan terpampanglah wallpaper yang berlatar belakang pantai. Di pojok kiri layar handphonenya terlihat ada angka 35°C.

“Pantesan panas gati jelo ni.” (Pantas saja hari ini panas sekali)

Lala terus menggerutu tidak jelas karena ia kesal hari ini sangat panas yang membuatnya terus berkeringat dan sangat terasa tidak nyaman.

“Laaa, mangan, wah jari kandoq ne ni.” (Lala, makan, lauknya sudah jadi)

Suara seorang laki-laki memanggil lala, menyuruhnya ke ruang makan karena makanan untuk makan siang sudah jadi.

“Nggihhh.” (Iya) Jawab Lala kepada laki-laki tersebut yang tak lain adalah ayahnya.

Lala pun dengan segera beranjak ke ruang makan dan tak lupa ia meletakkan buku yang dibaca tadi ke tempat semula dengan rapi.

“Wihhh, kandoq jelo ni maik gati.” (Wihhh, lauk hari enak sekali)

“Alhamdulillah.” Ucap syukur Ibu Lala dan diikuti yang lain.

Semua anggota keluarga Lala yang lain mulai muncul dan duduk bersila di tempat masing-masing untuk memulai makan siang hari ini. Tak lupa sang kepala keluarga memimpin doa tanda bersyukur atas rezeki Sang Pencipta berikan hari ini.

Di tengah acara makan siang yang sangat hikmat, sang Ayah meminta tolong ke Lala untuk mengambil remot TV yang berada di atas meja yang tak jauh dari mereka. Di atas meja yang lumayan panjang tersebut terdapat TV yang berukuran kecil dengan warna putih dipinggir layar.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Setelah menekan tombol on. Tampilan layar TV tersebut langsung menampilkan berita yang membahas cuaca dan suhu bumi yang ekstrim karena krisis iklim yang terjadi. Bahkan diberitakan lapisan es abadi di antartika mencair lebih cepat karena pemanasan global yang menyebabkan  kenaikan air laut yang akan berdampak buruk bagi manusia. Masih banyak lagi hal-hal negatif yang disampaikan dalam berita tersebut yang berkaitan dengan krisis iklim.

“Manusie nane kurang bersyukur, uwah tebeng bale sak bagus isik ne sedaq.” (Manusia sekarang kurang bersyukur, sudah diberikan rumah yang bagus, tetapi dirusak)

Gerutu Ayah Lala sambil mengambil udang goreng di sampingnya.

“Nane ni, hutan uah luek te deforestasi, sampah endah uwah numpuk, pade teteh lek mbe-mbe, sampek luek tedait lek laut.” (Sekarang ini, hutan sudah banyak di deforestasi, sampah juga sudah menumpuk, dibuang dimana-mana, sampai banyak ditemukan di laut)

Ucap Lala mengutarakan bagaimana kondisi sekarang ini.

Lala sangat menyayangkan hal ini. Ia merasa pemerintah tidak menangani masalah ini dengan serius. Pemerintah hanya ingin terus membangun dengan alasan untuk menggapai cita-cita Indonesia yaitu menyejahterakan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, dan untuk membangun ekonomi Indonesia menjadi lebih baik. Sebenarnya semua cita-cita itu bagus, tetapi tidak seharusnya kita merusak lingkungan hanya untuk mencapai apa yang kita inginkan. Apabila lingkungan rusak sangat berbahaya bagi semua orang, akan banyak muncul bencana yang akan menghantui manusia.

“Angkak nu, dengan-dengan nane apelagi pemerintah lamun piak pembangunan endek ne ditak dampak. Sie-sie lamun ne terus piak pembangunan, lingkungan isik ne sedak, pade doang jak luek rugi, untung cuman semendak.”  (Makanya, orang-orang sekarang apalagi pemerintah kalau melakukan pembangunan tidak melihat dampak. Sia-sia kalau terus dilakukan pembangunan, tetapi lingkungan di rusak, sama saja lebih banyak rugi, untung hanya sementara)

Ayah Lala merasa kalau lingkungan dirusak banyak hal negatif yang akan terjadi. Malah hal tersebut mengancam manusia. Bencana akan sering terjadi, masalah kesehatan akibat krisis iklim juga akan banyak dialami contohnya masalah kesehatan saluran pernafasan, pencernaan, kulit yang akan terdampak sinar UV, dan masih banyak lagi. Kalau diperhatikan kerugian akan lebih pro daripada keuntungan yang diimpikan.

“Lamun terus marak meni, bumi jari sede. Kanak-kanak nane berembe nasib ne lemak.” (Kalau terus seperti ini, bumi jadi rusak. Anak-anak sekarang bagaimana nasib mereka kelak)

Keluh Ibu Lala dengan wajah khawatir sambil melihat berita yang masih ditayangkan.

Lala mulai merenungkan semua obrolan Ayah dan Ibunya. Lala merasa kalau kita merusak lingkungan atau bumi ini pasti akan banyak bencana yang akan terjadi. Bagaimana nasib ia, adik-adiknya, dan semua generasi muda saat ini di masa depan. Ditambah pemerintah yang tidak serius menangani masalah ini. Pemerintah sekarang juga menurut Lala yang lebih pro dengan pengerusakan lingkungan. Bagaimana keadaan bumi beberapa tahun ke depan? Apakah akan menjadi semakin parah?

Acara makan tersebut terus berlanjut sambil sesekali mengutarakan pendapat mereka tentang berita yang akhir-akhir ini sering ditayangkan. Berita yang akan membawa kekhawatiran untuk keluarga Lala dan juga keluarga yang lain. Apakah krisis iklim ini bisa dicegah atau disembuhkan? Bagaimana nasib generasi muda nanti dengan bumi yang mulai rusak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *