Cerpen #309; “Ulah Manusia”

Seseorang gadis yang sedang duduk di trotoar. Ia sambil mengipas-ipas tubuhnya dengan kedua tangannya. Walaupun itu sama sekali tak mengurangi panasnya terik matahari yang menyengat tubuhnya. Keringat meluncur deras, menandakan berapa panasnya hari ini. Saat sekarang iklim tak menentu. Seperti sekarang hari terasa  sangat panas namun beberapa hari yang lalu hujan deras. Setelah beberapa menit aku duduk di trotoar itu, aku melanjutkan perjalanan menuju rumahku. Setelah sekian lama berjalan akhirnya aku sampai di rumahku.

“Assalamu’alaikum Ma,”ucapku

“Waalaikumsalam, udah pulang kamu nak”sahut mamaku yang sedang berada di dapur

Aku pun mencium bau wangi yang seakan bawa ragaku mengikuti aroma ini. Hingga sampailah aku di dapur. Kulihat mamaku yang sedang sibuk dengan masakannya.

“Ma, sekarang udaranya panas banget ya ma” ucapku

“Iya kak, sekarang iklim tu gak bisa ditebak kadang hujan kadang panas banget”ujar mamaku

“Yaudah ma, aku ma ke lantai atas dulu ya Ma, mau nukar baju ma. Udah gerah banget ma” ujarku

“Yaudah deh sana ganti baju, habis itu turun ya nak untuk makan”sahut mamaku, yang terdengar sampai lantai atas

“Iya ma”sahutku

Setelah tiba di meja makan aku langsung saja duduk.

“Kak, besok kita mau ke kampung menjenguk nenek. Kamu besok bisa kan? “

“kan besok aku libur kuliah tiga hari ma”

“Oke Deh kalau gitu”

Keesokan paginya aku telah bersiap-siap pergi ke tempat nenekku. Ku pandangi diriku di cermin besar di kamarku.

“Oke good”kataku sambil melihat penampilanku

Aku pun menuju ke ruang tamu. Dan semua Anggota keluarga telah berada di sana. Lama perjalanan yang akan kami tempuh yaitu selama 8 jam. Cukup lama kami diperjalanan. Langit telah tampak melihatkan kemerah-merahan yang menandakan hari sudah senja. Akhirnya kami tiba di kampung. Kulihat nenekku menunggu kami di halaman depan rumah. Sedang duduk di anjungan yang terbuat dari bambu. Kami pun melepas rasa kangen dan berbincang hingga larut malam. Keesokan paginya aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitaran rumah nenekku. Yang pertama kulihat bapak-bapak yang sedang membakar sampah.

“Assalamu’alaikum pak,” ujarku ku hampiri bapak itu

“waalaikumsalam nak”ujar bapak itu

“Mohon maaf sebelumnya pak, kalau menurut saya pak sebaiknya bapak tidak membakar sampah ini pak”ujarku

“wah… Kenapa emang ya nak?”tanya bapak itu

“Mohon maaf ni ya pak sebelumnya, karena Sampah yang dibakar juga melepaskan karbondioksida (CO2) yang justru akan memperparah pemanasan global. Selain itu gas chlor yang dihasilkan dari pembakaran sampah juga dapat merusak atmosfer bumi selain itu pak, pembuangan sampah terbuka (open dumping) di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), mengakibatkan sampah organik yang tertimbun mengalami dekomposisi secara anaerobik. Proses itu menghasilkan gas CH4 (methane). Gas CH4 memiliki potensi merusak 20 kali lebih besar dari gas CO2,”gitu pak

“Kalau begitu gimana lagi cara kita menanggulangi sampah ini nak, sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim secara drastis ini nak?”tanya bapaknya

“ada beberapa cara dalam menanggulangi hal tersebut pak, yang pertama itu kita dapat memilah antara sampah organik dan sampah anorganik. Lalu untuk sampah organik dapat kita buat menjadi pupuk kompos pak. Nah untuk sampah anorganik seperti plastik dapat kita daur ulang pak selain mengurangi sampah kita juga dapat menjual hasil daur ulang kita itu pak. Dan cara yang ketiga, kita dapat mengurangi penggunaan sampah plastik dalam kegiatan sehari-hari pak,”ujarku

“Oalah terima kasih ya nak atas infonya,”ujar bapak itu

“Wah saya senang kali berbincang dengan bapak, yaudah pak kalau gitu saya mau lanjut jalan pak ke tempat kerajinan yang dibuat oleh ibuk-ibuk kampung sini ya pak,” ucapku

“yaudah lanjut nak,”ujar bapak itu

Setelah beberapa menit menelusuri jalan setapak, aku sampai di sebuah tempat kerajinan.

“assalamu’alaikum ibuk-ibuk”sapaku

“Waalaikumsalam neng”jawab ibunya

“ibu aku boleh liat-liat kerajinan nya buk?”tanyaku

“Wah boleh banget neng, ayo masuk neng”

Aku pun ikut masuk ke ruang tempat pembuatan kerajinan tersebut

“ibu ini kerajinan semuanya dibuat dari plastik ya bu”

“iya neng “

“wah ibu hebat bangetnya. Saya lihat ini model kerajinan nya unik-unik ya buk”ujarku

“Iya neng, ini buatan kita semua loh. Neng mau ikut proses pembuatannya gak?”tanya ibu tersebut

“wah boleh deh buk”

Setelah lama aku membuat sebuah kerajinan akhirnya selesai juga kerajinan hasil buatanku. Aku membuat sebuah tempat pensil dari botol bekas. Dan setelah itu aku pulang ke rumah. Namun ditengah perjalanan, Tiba-tiba saja hujan turun dengan lebat. Aku pun segera menepi di sebuah pondok kecil dekat situ.

“perasaan tadi cuacanya terik banget nah kenapa sekarang hujan deras banget ya”ujarku dalam hati

“Ini pasti dari perubahan iklim secara drastis karena pemanasan global dan sebagainya”ujarku dalam hati

Setelah beberapa lama menunggu akhirnya hujan sedikit mereda, aku langsung saja berlari menuju rumah nenek. Karena takutnya nanti hujan lagi. Akhirnya aku sampai di rumah nenek. Setibanya di rumah aku langsung saja mandi karena baju terkena rintik hujan tadi. Keesokan harinya kami pun kembali pulang. Karena papaku ada keperluan mendadak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *