Cerpen #308; “Bumi Tuaku”

Dering suara terus mengganggu mimpi indahku pagi ini. Ku coba untuk tidak peduli, namun apa daya bayangan ibu yang akan marah membuat ku langsung bangun dan bersiap-siap. Awan hitam menghiasi langit pagi ini. Matahari redup ditelan gelapnya langit. Senin, hari yang sangat panjang dan paling tidak ku sukai. Kesialan sering ku dapatkan disatu hari nan menyebalkan ini. Aku Karin, siswa tingkat akhir Sekolah Menengah Atas di sebuah daerah di pinggir ibu kota. Yah, kata orang SMA merupakan masa yang paling indah. Namun bagiku sama saja, belajar-pulang-belajar, rutinitas yang telah ku jalani sejak sekolah dasar.

 “Kapan ya hidupku tidak datar-datar saja, membosankan!,” kalimat yang sering berputar di otak ku ini.

 “Hmm sudahlah jalani saja,” bagian lain otak ku berpikir demikian, akupun segera beranjak dari kamar untuk menjalani hari yang semoga saja tidak ada kesialan.

Pagi ini terlihat seperti pagi hari biasanya. Cuaca yang mendung tidak menghambat semua orang untuk melakukan aktivitas. Aku terus berjalan menuju sekolah ku. Memang jarak rumah ku tidak terlalu jauh dari rumah sehingga aku bisa sedikit menghemat biaya. Terus berjalan sambil melihat pemandangan yang sudah menjadi makanan ku setiap hari. Bunyi klakson yang memekakkan telinga, suara pedagang menawarkan dagangan di persimpangan jalan yang bahkan sudah ku hafal hingga nadanya, hingga kendaraan yang saling berlomba mengeluarkan asapnya. Pagi yang mendung dan asap yang mengepul membuat pemandangan semakin gelap tanpa adanya sinar matahari nan terik.

Syukurnya senin ini aku tidak mendapatkan kesialan. Aku datang tepat waktu sebelum pagar yang menjulang ditutup oleh satpam yang bahkan sudah sangat mengenalku. Tak apalah mereka mengenal ku sebagai Si tukang telat, aku tidak peduli dengan hal itu. Baru selangkahku masuki pekarangan sekolah, hujan langsung mengguyur sangat lebat. Sepertinya senin ini memang berpihak kepada ku, buktinya aku bisa sampai ke sekolah tanpa kehujanan. Aku pun segera menuju kelasku. Ketika sampai di kelas, aku melihat kelas yang belum dibersihkan, sepertinya yang bertugas piket belum membersihkannya. Aku tidak peduli, toh bukan giliran ku yang membersihkan kelas.

Hari ini dimulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Aku memang orang asli Indonesia, tapi bukan berarti aku menyukai mata pelajaran ini. Aku mendengarkan guruku dengan mata yang mulai terasa berat. Aku lebih menyukai hal berbau teknologi dan karya ilmiah, untuk itu aku sering berdiskusi dengan Pak Yudi, seorang guru di sekolahku yang gila akan teknologi. Pak Yudi merupakan Pembina organisasi karya ilmiah, meskipun aku tidak mengikuti organisasi tersebut, aku sering menemui Pak Yudi untuk berdiskusi. Tanpa disadari, lamunanku terpecahkan dengan suara nyaring pertanda jam istirahat. Mata yang mengantuk dan perut yang kosong membuatku langsung bergegas menuju kantin. Kantin Nampak ramai seperti biasanya, sampah bertebaran dengan plastic sisa-sisa makanan sudah menjadi hal yang lumrah di sekolahku. Aku membeli berbagai makanan dan segera mengisi perut yang kelaparan ini.

Siang ini matahari bersinar amat terik. Memang cuaca di daerah ini sedang berubah-ubah. Terik matahari bahkan sangat terasa menyengat, padahal pagi tadi hujan turun cukup lebat. Perjalanan menuju rumah, ku lalui seperti hari-hari biasanya, asap kendaraan yang semakin mengepul, sampah yang semakin banyak berceceran, langit pun diperparah dengan asap pabrik sekitar sini. Memang susah merubah prilaku hidup, akupun mengakui itu. Sejujurnya aku juga tidak merasa terganggu dengan hal itu, biarlah aktivitas berjalan seperti biasanya saja. Di tengah perjalanan, aku melihat Pak Yudi memasuki sebuah rumah yang aku ketahui tidak ada penghuninya. Berniat menyapa seperti biasa, aku pun menyusul Pak Yudi. Pak Yudi hanya sebentar di sana, mungkin sekedar mengambil sesuatu, aku pun tak semoat bertemu dengannya. Namun aku melihat gerak-gerik sedikit mencurigakan dari Pak Yudi dan rumah itu.

Aku berniat untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang. Tapi keinginan untuk mengetahui ini tidak dapat kucegah. Aku tidak berniat mengetahui rahasia seseorang, namun apalah dayaku jika pikiranku pun menginginkan itu. Aku memasuki perkarangan rumah itu, malangnya pintu tersebut sudah dikunci. Aku tidak menyerah dan mencari celah untuk masuk ke rumah itu. Memang senin ini sepertinya memang sedang baik kepadaku, aku melihat jendela yang sedikit terbuka di bagian belakang rumah. Dengan hati-hati aku memasuki rumah tersebut.

“Hallo! Ada orang di sini?,” saut ku

“Hallo!

Sepertinya di rumah ini memang tidak ada siapapun. Berkeliling memanglah hobbyku, aku menyusuri rumah tersebut dan tidak menemukan apapun. Di dinding ruangan terdapat lukisan kucing yang sangat lucu dan menarik perhatianku. Aku memperhatikan lukisan tersebut dan berniat ingin mengabadikannya. Di saat melihat lukisan tersebut, aku merasa ada yang aneh dengan mata kucing ini. Terdapat gelombang tiga dimensi yang transparan namun jika dilihat dengan baik akan terlihat jelas. Iseng, akupun memegang mata kucing tersebut.

“Tek!,” bunyi sebuah suara mengagetkanku

Tiba-tiba muncul suara dari lantai di dekatku yang membuatku langsung berlari ke pinggir ruangan. Dengan perlahan muncul sebuah alat dari bawah lantai tersebut, sebuah alat yang sangat asing dimataku. Akupun segera berjalan ke arah ke sana dan memperhatikan alat tersebut dengan seksama. Di saat aku mengagumi alat Pak Yudi ini, aku tidak sengaja menekan sebuah tombol yang mebuat lampu dari alat tersebut menyala ke arahku.

“Blub!,” suara yang tiba-tiba muncul dan seketika aku tidak mengetahui apa yang terjadi.

Aku terbangun dengan rasa pusing yang menyerang kepalaku. Di sekelilingku terdapat orang-orang yang melihatku dan menawarkan minuman. Aku segera meminumnya dan mengucapkan terimakasih. Karena aku tidak mengenal mereka, akupun segera pergi setelah pusing ku reda dan merekapun tidak menanyakan apapun kepadaku. Aneh. Ada yang aneh di sini. Panas yang ku rasakan di sini amat menyengat. Rasanya saat pulang sekolah tadi tidak seperti ini. Bahkan aku baru pertama kali merasakan panas seperti ini. Keringat mulai mengalir di tubuhku, namun aku tidak menyerah untuk mengetahui dimana aku berada sekarang ini.

Di sini teknologi sudah maju. Namun anehnya, tanah di sini tampak mengering, bahkan bisa dikatakan sangat mengeirng hingga terdapat retakan di tanahnya. Bingung. Satu kata yang menggambarkan diriku saat ini. Negara mana kira-kira yang seperti ini? Sungguh, akupun tak tau jawabannya. Aku terus berjalan mengelilingi daerah yang tidak ku ketahui ini. Langit sangat tidak jelas di sini. Jarak pandangpun sangat pendek. Aku tidak tau pasti penyebab hal ini, mungkin karena asap pabrik atau memang cuaca yang berembun. Sungguh kondisi yang membingungkan ku. Berjalan dan berjalan hingga akhirnya aku sampai di sebuah pantai. Ku perhatikan di sekelilingku. Awalnya semua nya terasa biasa saja, seperti pantai-pantai pada umumnya. Semua berubah aku baru menyadari daerah ini bisa saja tenggelam oleh air. Bagaimana tidak, daerah ini diselamatkan karena adanya sebuah tembok sekitar air yang menahan agar jika air laut naik, maka air tidak akan menenggelamkan daerah ini. Jika ku perhatikan, daerah ini lebih rendah daripada air laut. Beberapa saat kemudian aku tersadar, ada yang aneh di daerah ini. Daerah ini sangat kecil, dan kondisinya yang seperti ini bisa saja membahayakan. Aku ingat, guruku pernah berkata jika air laut meningkat, itu pertanda sudah cairnya es di kutub karena panas. Tapi bagaimana bisa? Di saat pulang dari sekolah, aku merasa dunia ku baik-baik saja. Alarm diriku mengatakan bahwa aku harus segera mencari jalan pulang.

Mengamati berjalan, dua aktivitas yang sedang ku jalani. Aku melihat kebanyakan orang memiliki bintik-bintik aneh yang terdapat di kulitnya. Menyerah, akupun bertanya kepada seorang ibu yang sedang duduk di tepi jalan. Aku menanyakan kenapa semua orang memiliki bintik di kulitnya.

“Wajarlah nak, bagaimana tidak matahari saja sudah seperti ini, tidak bisa lagi diatasi” ujar ibu itu.

“Kenapa tidak buk? Kan bisa saja besok dan besoknya tidak seperti ini,” Tanya ku.

“Tidak nak! Tidak bisa, bumi kita sudah rusak, lapisan ozon sudah tipis sekali, bahkan mungkin sudah hamper tidak ada,” ujar ibu itu.

“Kenapa ya bu di sini panas nya seperti ini? Di tempat saya tidak seperti ini loh bu,” ujar ku menaggapi.

“Di tempat mu diamana? Setau ibu, semua daerah di dunia memang sudah sperti ini, bahkan beberapa daerah sudah tenggelam karena air laut yang terus meningkat,” ujar ibu itu menjelaskan.

Seketika aku diam, jantung ku mencolos mendengar pernyataan ibu tersebut. Dua kata yang terngiang di kepala ku sekarang dan ku harap itu tidak benar adanya.

“Hmmm, sekarang tahun berapa ya bu,” ujar ku dengan keraguan dan kegelisahan.

“ Loh nak kamu lucu sekali, masak tahun saja tidak tau,” ujar ibu itu bercanda.

“2121,” angka yang disebutkan oleh ibu itu, angka simple yang membuat jantung ku memompa lenih cepat dan pembenaran dari dua kata yang ada di kepalaku.

“Masa Depan!”

Bingung iya, cemas iya, semua bercampur aduk dalam hati dan pikiranku. Masakan ibu, bagaimana untuk pulang, hingga harus menetap di sana berkeliling memenuhi otakku. Aku cemas tidak dapat kembali ke masa sebenarnya dunia ku. Penyesalan itupun timbul menyalahkan diriku sendiri. Akibat kecerobohan ku, aku sampai di masa sekarang ini dan tidak tau kapan, bahkan bisa atau tidak saja aku tidak tau.

Baiklah, cukuplah penyesalan ini ku rasakan. Aku harus berusaha mencari cara pulang dan terus mengamati daerah ini. Mumpung aku dimasa depan, manatau berguna bagi khlayak banyak nantinya. Sebuah kalimat yang memotivasiku untuk semangat mencari jalan pulang. Tujuan pertamaku yaitu perpustakaan. Di sana aku membaca beberapa hal mengenai bumi sebelumnya. Bagaimana keserakahan pada masaku membuat masa selanjunya tidak dapat menikmati bumi ini.

Aku terus memperhatikan hal yang ku lihat di sini. Saat aku berjalan menyusuri daerah ini, tiba-tiba muncul hujan lebat, padahal matahari sedang terik-teriknya. Aku diam, aku tau penyebab ini terjadi. Iklim pada masa ini sudah tidak stabil. Pada masa ku saja sudah begitu, bagaimana keadaan di masa depannya. Di tengah guyuran hujan, sesorang meneriaki ku untuk menjauh dari air hujan. Katanya air ini tidak sehat, namun ini bukan hujan asam tetapi hujan biasa namun mengandung air yang juga beracun.

Bingung, takut, cemas, campur aduk rasa yang terdapat pada diriku. Ingin pulang, merasa bersalah, semua hal terpikirkan oleh ku. Tidak terbayang bagiku jika daerah ini benar-benar tenggelam. Banyak anak-anak di sini yang masih jauh perjalanannya. Aku tidak tega melihat mereka nantinya akan ikut tenggelam bersama daerah ini.

Hari kedua di sini terasa sangat panas. Saat aku akan beranjak pergi, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang membuat ku panik. Hanya aku yang panik, semua orang hanya diam sebentar dan melanjutkan aktivitas mereka. Aku sadar, mungkin hal ini sudah terbiasa terjadi di sini. Alangkah menyedihkannya masa depan ini. Bahkan bencana pun sering terjadi di sini. Kabut asap yang ku kira embun ternyata salah. Itu memang asap polusi yang dari zaman ku juga sudah terjadi. Pastinya lapisan atmosfer bumi sudah sangat rusak. Kata guruku, lapisan atmosfer rusak akan membuat matahari terik karena cahaya matahari tidak dipantulkan kembali. Miris melihat keadaan yang seperti ini.

 Saat otakku mencerna dan memikirkan semua ini, tiba-tiba jam di tangan ku berbunyi. Aku baru sadar jika ada jam di tanganku. Saat aku mematikannya, tiba-tiba muncul penunjuk arah. Aku ikuti saja arahan tersebut, toh aku juga bingung akan kemana nantinya. Ternyata jam ini mengarahkan ke tempat aku tersadar dari pingsan ku kemaren. Namun jam ini mengarahkan ke sebelah rumah tersebut dan aku mengikuti petunjuk itu. Saat melangkah semakin dekat, tiba-tiba muncul lampu di lantai. Aku tersadar Pak Yudi tengah membantu ku untuk kembali ke dunia ku. Segera aku berlari ke sana.

“Blob!,” bunyi suara yang mengantarkan ku kembali ke rumah.

Pak Yudi memarahiku karena kecerobohanku dan keingintahuanku tanpa memberi tau terlebih dahulu. Aku meminta maaf dan menceritakan hal yang ku dapatkan selama di sana. Pak Yudi tidak menyangka alat yang dikembangkannya dapat berfungsi, namun ia memutuskan untuk menghancurkan alat tersebut. Ia tidak ingin kejadian sama terulang kembali dan alat tersebut digunakan oleh pihak yang salah. Akupun segera meminta maaf dan meceritakan hal yang ku temui kepadanya.

“Ya, Bapak pun sudah memprediksinya, lihat saja kondisi dunia kita hari ini, jangankan 100 tahun mendatang beberapa tahun ke depanpun akan sangat terasa bagi kita dampaknya,” ujar Pak Yudi kepadaku.

Sekarang aku sadar akan pentingnya menjaga bumi ini. Bumi yang yang asri kini telah hilang ditelan waktu. Keegoisan manusia. Alasan terbesar bumi menjadi seperti sekarang ini. Aku bertekad, mulai detik ini aku akan berusaha menjaga lingkungan ini. Setidaknya satu dari sekian ribu manusia di dunia ini, sudah sadar akan pentingnya menjaga bumi ini. Hari ini cerah dengan matahari yang bersinar. Panas terik memang kurasakan, tapi tidak seperti yang kurasakan dua hari yang lalu. Aku bersyukur, sangat bersyukur masih bisa merasakan keadaan seperti ini. Aku akan berusaha mengajak orang sekitarku untuk selalu menjaga lingkungan. untuk bumi ini. Untuk bumi 100 tahun mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *