Cerpen #307; “TANA MARA”

Tanah memiliki umur. 

Lewat batas itu, apapun tidak bisa tumbuh. Bagai kapur.

Makam berusia 3200 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir. Arkeolog yang menemukan memastikan bahwa ini adalah makam pejabat penting salah satu Firaun paling berkuasa di Mesir, Ramses II. Ada serangkaian lukisan pada dinding. Disebutkan sosok bernama Ptah M Wia, seorang kepala bendahara, jauh berabad-abad sebelum penemuan koin, nampak melakukan transaksi. Bukan barang, ternak atau logam mulia, tapi seikat tanah. Mereka berdagang, bertransaksi dengan alat tukar sebongkah tanah subur.

Analisis hieroglif masih dilakukan. Sebagian telah terkuak, selain bertugas sebagai bendahara, Ptah M Wia ternyata juga bertugas melakukan “persembahan ilahi”. Seikat tanah yang ditaruh dalam kantung kulit sapi dipersembahkan kepada Geb. Terlambat. Mesir yang subur berubah menjadi padang pasir yang panas nan tandus.

Namun yang mencengangkan adalah hieroglif yang ditemukan di Kuil Karnak, kuil paling suci yang dibangun moyang Ramses II. Meski berbeda bentuk pahatan, namun memiliki makna yang sama dengan yang ditemukan di kuil Pannyua, di bukit Bontoa, Jeneponto. Ukiran bercorak Cuneus pada dinding Selatan sedalam tujuh meter itu mengisahkan tentang tanah. Angry Land. Tana Mara.

Penduduk setempat menyebutnya Butta Larro. Hieroglif berusia 6.000 tahun itu menjelaskan bahwa tanah hidup dan memiliki umur. Dijelaskan pula, dan ini mengejutkan, terdapat siklus 3.000 tahunan, dimana tanah sama sekali tak bisa menumbuhkan apa-apa. Tanah yang marah. Berhenti subur. Mati sebagaimana kapur.

Dan siklus 3000 tahunan berikutnya adalah tahun 2030. Tapi…

***

“Akhirnya pemandangan ini yang paling kusesali meski paling kunanti,” ungkap lelaki tua kepada tujuh anaknya. Aula berukuran sedang dengan meja kecil. Kursi kayu yang kuat. Belasan jendela yang semua terbuka. Angin semilir dengan debu tipis menjadi keseharian rumah besar bertingkat itu. “Pemandangan dimana kalian semua duduk di depanku dengan kisah yang sebentar lagi kusempurnakan pada pengetahuan kalian yang terbelah.” Rahangnya yang kokoh terpahat seolah mengaum dengan suara lebih rendah.

“Duabelas kilometer dari sini, berputar, keliling, ketika kalian masih kecil, masih banyak pepohonan, reranting tanaman tumbuh bergesekan, masih sering didapati bayangan dedaunan, kalian bahkan masih sering berlari dan terjatuh di sawah basah. Harum kebun saat Juli pagi masih tercium. Meski suara burung tak lagi terdengar, diganti oleh suara penduduk dari desa lain yang mengejar air, saat itu masih nampak, sering dan layak mulut mereka tersenyum, bahkan tertawa.

Tapi sejak nama bulan yang berakhiran ber tak lagi disirami hujan, keadaan semakin berbeda. Oktober, November bahkan Desember menjadi penipu. Lupakan September. Bulan itu paling panas. Memanggang apa saja yang bisa dilihat mata. Tidak usah bicara rasa.

Duabelas kilometer itu kini semakin menyempit. Menjepit.” Lelaki tua itu melempar pandangannya ke pintu utama. “Di sana dulu ada pohon besar. Di bawahnya tertutup rumput tipis, hampir sampai ke tangga rumah ini. Kau belum lahir, Borra,” matanya menunjuk pada anaknya yang tertua. “Tapi sekarang pohon itu telah menjadi angin. Rumput telah menjadi batu berlapis. Tanah… “ Ia menarik nafas, lalu membuangnya sambil menengadah. “Sebulan dari sekarang umur tanah akan habis.”

Ketujuh anaknya yang sedari tadi tertunduk, mata mereka serempak tertuju pada Tetta-nya.

 “Kapan persisnya?” tanya anak kedua.

 “Bukankah setahun lagi? Tanya anak keempat.

 “Mungkin seminggu, tapi mungkin juga sebulan. Pertengahan Desember. Sekarang masih November,” potong anak keenam.

 “Masih percaya mitos itu?” tanya anak ketujuh.

 “Huss, jaga bicaramu!” sergah anak pertama.

 “Memangnya kenapa?” tanya anak ketujuh

Anak ketiga menatap anak ketujuh agar diam.

 “Apa yang dimaksud dengan umur tanah akan habis, Tetta?” tanya anak kelima.

 Lelaki tua itu menyelesaikan minumnya lalu menaruh gelas ke atas meja.

“Setiap ciptaan Tuhan memiliki umur. Jangan pernah mengira hanya air yang hidup, tanah pun hidup. Dan karena hidup mereka dibatasi umur. Semua tersentuh umur, sebagaimana waktu memperlakukan apapun sebagai obyek yang berawal dan berakhir.

Para ahli menyebutnya perubahan iklim, para penggiat lingkungan hidup menyebutnya krisis iklim. Sebagian menyebutnya energi kotor. Para aktivis muda  menyebutnya pemanasan global dengan seruan net zero emissions. Para penyair menyebutnya kegelisahan nan perih. Apapun penyebutannya semua benar. Manusia bertanggungjawab dengan segala ketamakannya dan harusnya sudah gelisah sejak lama. Namun semua juga salah karena bumi baik-baik saja dengan segala kondisinya. Bumi hanya melakukan upaya penyeimbangan diri. Membela diri dengan caranya sendiri. Segalanya terbatasi usia, manusia berperan mempercepatnya. Ini tentang siklus ribuan tahun, anakku. Tapi harusnya tidak secepat ini.”

Borra berdiri menuju ke jendela. Menutup beberapa lalu menyalakan lampu secukupnya. Angin mulai tak ringan lagi. Lapisan pasir tipis telah menutup sebagian meja.

“Ada fase dimana tanah menunjukkan amarah, lalu tiba pada fase tutup usia,” Lelaki tua melanjutkan. “Menjadi Sahara dan gurun-gurun lainnya. Di belahan bumi Utara sudah menjadi lautan pasir. Danau raksasa di Turki sudah menjadi debu yang beterbangan. Begitu juga di Rusia. Dan di kampung kita ini, tinggal menghitung hari. Keseluruhan bumi diliputi melulu pasir dan bebatuan. Dan jika itu terjadi, kata kengerian menjadi makna paling lembut yang bisa dirasakan manusia. Kalian akan memandang segelas air sebagai cairan berlian.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Tetta?” tanya Borra.

“Sudah terlambat,” sahut Naba, anak keempat.

“Kalian sakit,” ejek Rannu, anak paling bontot, perempuan satu-satunya.

“Iyya.. dan kamu biang penyakitnya,” timpal Kulle si anak kedua.

Rannu berdiri lalu meninggalkan meja. Dia ke sudut ruangan. Nyalakan teve, kaki diselonjorkan lalu menutup wajahnya dengan kain tipis.

“Biarkan dia,” tahan Tetta pada Naba yang hendak berdiri.

“Kalian kuajak berkumpul di ruangan ini bukan tanpa maksud. Apa yang harus kita lakukan(?) Itu inti yang ingin kusampaikan. Keadaan sudah semakin buruk, tapi kita jangan menyerah. Aku ingin mencoba lagi, tapi kali ini dengan bantuan kalian semua. Mulai besok setiap dari kalian harus menanam sepuluh batang pohon Tammate. Di desa Runang masih ada sekumpulan tammate yang ditinggalkan penduduknya. Kita harus bisa menahan rayapan pasir dengan menanam pohon itu di sekeliling halaman rumah kita ini.”

“Air?” Kulle memotong.

“Sumur di belakang sudah nyaris kering,” tambah Naba.

“Kita akan membuat parit dari desa Runang ke rumah kita ini. Sumur di sana masih memiliki banyak air,” jawab Tetta.

“Kenapa kita tidak sekalian pindah saja ke desa itu?” Tanya Gimpe si anak ketiga.

“Lalu rumah kita ini? Halaman luas ini kita tinggalkan begitu saja? Begitu?” Borra menimpali.

“Meski setitik, desa Runang masih ada hijaunya. Kita bikin di halaman rumah ini juga menjadi hijau. Kita bikin desa kita kembali hijau. Kita tetap di sini,” jawab Tetta menengahi.

“Tapi, Tetta, bukankah umur tanah sebulan lagi?” Tanya Naba.

“Tinggal seminggu,” sambar Gassing si anak keenam.

“Iyyee, Tetta. Le’ba’ larromi buttayya. Sebentar lagi mati,” tambah Gimpe.

(Hening. Tak ada sahutan). Hanya suara angin dengan terik sore saling beradu. Sesekali ditingkahi suara teve yang lamat-lamat terdengar.

“… meskipun tinggal seminggu, bahkan tinggal besok, kita harus tetap menanam,” tegas Tetta memecah keheningan. Rahangnya bergetar.

“Kalian memang sakiit.. Mitos kalian percaya,” suara Rannu terdengar setengah berteriak. “Jangan banyak pikir, tanam sajaaaa! Tanah kok mati. Sakit kalian!”

***

Lamat-lamat dari teve terdengar suara berita:

“… gabungan ahli Rusia dan China memastikan bahwa gundukan bebatuan yang mencuat di pinggiran fosil danau Jezero di Planet Mars adalah kuil yang terkubur milyaran tahun. Sungai kering yang mengaliri Jezero diyakini dulunya memiliki arus yang deras. Beberapa gambar berpola hieroglif yang rumit bahkan ditemukan pada  dinding batu tersebut. 

“Besarkan volumenya, Rannu,” teriak Borra. Semua bergegas menuju ke depan teve.

… dugaan para ahli semakin kuat, dulu Mars dapat dihuni sebagaimana bumi. Para ahli bahkan mengaitkan dengan temuan makam kuno di Saqqara, Mesir dan Pannyua di Bontoa. Bahwa apa yang dimaksud Angry Land juga melanda Mars tanpa ampun…”

“Mereka ada di bawah Jezero. Hidup sampai sekarang.” Tetta seperti berbisik. []

Catatan:

  • Butta Larro : Tanah yang marah.
  • Cuneus : Aksara tertua di dunia berbentuk “baji” atau “paku”.
  • Delta Jezero : Nama dataran datar dekat ekuator Mars yang diyakini sebagai danau yang dialiri sungai pada zaman purba.
  • Geb : Dewa Bumi yang menjaga kesuburan bumi.
  • Le’ba’ larromi buttayya : Bahasa Makassar yang berarti Telanjur Marah Tanah.
  • Net zero emissions : Emisi nol bersih dengan mencapai keseimbangan antara emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dengan yang dikeluarkan ke atmosfer.
  • Tana Mara : Tanah Marah.
  • Tetta : Bahasa Makassar untuk sebutan ayah atau bapak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *