Cerpen #304; “Menjaga Bumi”

Tari Arinda, perempuan yang kini duduk di kelas dua SMA. Tari hidup sebagai seorang pelajar yang biasa-biasa saja. Dia bukan termasuk murid yang masuk sepuluh besar di kelas, bukan juga murid yang aktif ikut ekstrakulikuler maupun organisasi. Tari menyukai hal-hal yang simpel dalam hidupnya. Ia tidak mau merepotkan dirinya karena hal yang ribet.

“Tar! Bareng aku yuk!” ucap Rania, salah satu teman Tari ketika berpapasan dengan Tari di dekat gerbang sekolah.

“Aku pulang jalan kaki aja, Ran. Terima kasih sebelumnya udah nawarin.”

“Yakin? Rumah kita kan sebelahan.”

“Iya, Ran. Duluan aja nggak apa-apa.”

Rania mengangguk. Melajukan motornya menuju rumah. Meninggalkan Tari yang lebih memilih berjalan kaki sambil menikmati jalan yang teduh karena ada pohon-pohon di dekat area sekolahnya.

Setengah jalan Tari menuju rumahnya, ia mulai lemas berjalan. Bukan karena ia tidak suka berjalan kaki, namun karena rasanya semakin dekat ke rumahnya semakin panas hawanya. Pohon-pohon sudah tidak lagi memenuhi tepi jalan karena sudah banyak bangunan yang didirikan di sana.

Hal yang paling Tari sayangkan dari lingkungan sekitar rumahnya adalah kurangnya kesadaran warga di sana tentang pentingnya menjaga bumi. Padahal, jika warganya sadar akan pentingnya menjaga bumi, lingkungan di sana pasti akan terasa asri. Salah satu warga yang berada di lingkungan rumah Tari adalah Rania. Dia adalah tetangga samping rumah Tari. Rania adalah anak yang rajin dan termasuk ke dalam sepuluh besar ranking kelas. Namun, sangat disayangkan Rania masih belum sepenuhnya sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.

“Tar! Tadi sih nggak mau bareng, aku udah ganti baju lo baru sampai rumah.” Rania menghampiri Tari yang lewat di depan rumahnya.

“Lebih suka jalan aku, Ran. Kayak refreshing otak setelah penat di sekolahan.”

Rania mengangguk paham. Entah sudah berapa kali ia mengajak Tari untuk ikut berangkat dan pulang bersamanya naik motor, namun Tari selalu menolaknya dengan alasan lebih suka berjalan. Rania mencoba mengerti Tari yang sangat menyayangi lingkungan. Bahkan sehabis subuh, Tari menyempatkan dirinya untuk menyirami tanaman yang ada di halaman rumahnya.

Walau Tari adalah anak yang biasa-biasa saja di sekolah, ia mempunyai suatu hal yang special di dalam dirinya. Tari adalah seseorang yang amat menyayangi lingkungan. Tari ingin menjaga bumi ini dengan kekuatan yang dia punya. Ia tidak mau kalau serratus tahun mendatang, bumi menjadi tandus dan tidak terawat.

“Sekarang gantian aku yang nawarin deh, Ran. Besok berangkat sekolah bareng aku mau enggak?”

Rania menggeleng cepat. “Nggak, Tar. Capek sekali jalan ke sekolah, terus ntar kalau capek jadi nggak fokus belajar di sekolah.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Padahal jarak rumah kita ke sekolah enggak jauh-jauh banget. Paling satu kilometer. Jalannya juga lurus doang. Kalau sambil ngobrol pasti nggak akan kerasa lama dan capek.” Tari masih mencoba untuk membujuk Rania.

“Tetep enggak, Tar. Sebelumnya, makasih atas penawarannya.”

“Oke, Ran. Aku pulang dulu, ya.”

“Iya. Langsung ganti tuh seragam, besok kan masih dipakai.”

“Siap, Ran.”

Tari melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Ia tersenyum senang ketika melihat tanamannya tumbuh dengan subur. Setelah ganti seragam sekolah, biasanya Tari menyempatkan diri untuk merawat tanamannya. Ia memotong daun yang sudah kering dan mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanamannya.

Tari bukanlah anak yang pandai bergaul, jadi dia tidak mempunyai banyak teman di sekolah. Itulah mengapa Tari lebih suka sendiri dibanding harus berada di keramaian. Tari masuk ke rumahnya sebentar, mengambil sebuah buku yang belum selesai ia baca. Kemudian, ia kembali ke halaman rumahnya. Tari membaca bukunya di sana.

Keesokan harinya, seperti biasa Tari menyirami tanamannya di halaman rumah. Ia merawat tanamannya dengan perasaan senang. Setelah selesai menyiram tanaman, Tari beranjak untuk mandi dan mempersiapkan dirinya sebelum pergi ke sekolah.

“Tari!” panggil seseorang yang berada di depan rumahnya.

“Ehh, Rania. Tari masih di dalam. Kenapa, Ran?” Ibu Tari keluar dari dalam rumah dan menemukan Rania sedang berdiri di depan rumahnya.

“Mau ngajak Tari berangkat bareng, Bu.”

“Ohh, sebentar ya. Ibu panggilkan Tari dulu.”

Rania mengangguk. Ia duduk di bangku yang berada di halaman rumah Tari. Ternyata, tanaman yang Tari rawat selama ini tumbuh dengan subur. Rania baru tahu karena ini kali pertamanya berkunjung ke rumah Tari. Selama ini, Rania tidak pernah mengunjungi Tari walau rumah mereka dekat.

“Tar, ada Rania di depan. Buruan, dia nungguin kamu. Mau ngajak berangkat bareng.”

“Rania, Bu?”

“Iya.”

“Tari udah bilang sama dia nggak mau berangkat naik motor.”

“Jangan gitu, Tar. Niat Rania kan baik. Hargai niat dan perasaannya.”

Tari meraih tas sekolahnya. Kemudian ia berpamitan dengan Ibunya. Tari berjalan menuju halaman rumahnya untuk menghampiri Rania.

“Ran, kan aku udah bilang.”

“Sekali aja, Tar. Biar kamu tahu gimana enaknya sekolah naik motor. Nggak capek.”

Tari pasrah. Menuruti keinginan Rania. Akhirnya, mereka berangkat ke sekolah bersama dengan mengendarai motor milik Rania. Tari hanya diam saat di perjalanan. Ia bukannya tidak menghargai niat baik Rania, namun naik motor ke sekolah memang bukan hal yang Tari suka.

Mereka tiba di sekolah dengan waktu yang singkat. Tari berjalan bersama Rania menuju kelas mereka. Rania sebenarnya merasa tidak enak dengan Tarik arena sudah memaksa. Namun, Rania hanya ingin mempunyai teman untuk berangkat ke sekolah.

“Tar,” panggil Rania pelan.

“Kenapa, Ran?”

“Maaf ya,” Rania mengucapkannya dengan tulus.

“Nggak apa-apa, Ran. Lagian aku juga tahu kalau niat kamu baik.”

“Kalau boleh tahu, kenapa kamu nggak suka naik motor?”

Tari menghembuskan napas perlahan. Bersiap untuk bercerita kepada Rania.

“Sebenernya, aku bukannya nggak suka naik motor. Aku suka karena itu juga bisa mempermudah pekerjaan manusia. Tapi, yang aku sayangkan selama ini adalah penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan dan merusak lingkungan.”

Rania sekarang mengerti kenapa Tari tidak mau naik motor ketika berangkat ke sekolah. Ia akhirnya memahami pemikiran Tari tentang pentingnya menjaga lingkungan. Selama ini, sebenarnya juga ia merasa jika lingkungan di sekitar tempat tinggalnya mulai hilang keasriannya. Terutama di bagian jalan besar yang dipenuhi bangunan di pinggir jalan. Banyak kendaraan bermotor yang lewat dan mengakibatkan polusi udara di sana meningkat. Ditambah cuaca yang panas, membuat siapapun yang berada di luar sana menjadi tidak betah.

Keesokan paginya, Rania kembali mengajak Tari untuk berangkat bersama. Namun, kali ini Tari sangat senang menerima ajakan Rania. Karena, sekarang Rania ingin berangat ke sekolah bersama Tari dengan berjalan kaki. Sejak Rania dan Tari mengobrol di sekolah, akhirnya Rania mengerti jika tujuan Tari menjaga lingkungan adalah karena Tari ingin menyelamtkan masa depan bumi. Ia tidak ingin seratus tahun mendatang, bumi menjadi planet yang tidak layak huni.

“Ternyata kamu benar, Tar.”

“Benar apa?”

“Kalau jalan kaki ke sekolah itu seru.”

“Iya, kan?”

Rania mengangguk. Ia bisa menikmati udara pagi dengan berjalan kaki. Kalau naik motor, hanya sebentar ia bisa menikmati suasana pagi.

“Makasih ya, Tar. Udah buat aku sadar kalau menjaga lingkungan itu penting.”

“Sama-sama, Ran.”

Sejak saat itu, mereka sering berangkat ke sekolah bersama dengan berjalan kaki. Mereka menjadi teman yang sangat akrab dan saling melengkapi. Tari lebih menguasai pelajaran karena bantuan Rania, dan Rania yang merasakan kebahagiaan serta mempunyai teman baik karena adanya Tari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *