Cerpen #302; “SADARILAH BUMIMU”

Namanya Bahir, penjaga toko buku, tidak itu bukan toko buku yang mengizinkan orang tertentu masuk, hanya orang memililki kartu tanda anggota yang dapat berada didalamnya, dengan AC dingin, lampu terang benderang, lantai keramik kinclong. Juga dengan buku-buku tersusun rapi dan ruangan yang wangi.

Toko yang dijaga bahir tidak berkeramik, hanya dengan lantai semen, kasar setiap diinjak dan diduduki. Toko buku itu bernama Indah, terletak didepan kampus UI, berjejer bersama  kedai makanan dan buah-buahan. Bangunannya sederhana, dengan luas dua puluh meter persegi, dinding batu batako bercat kuning sudah usang disertai dengan coretan-coretan, dibiarkan begitu, kipas yang berderit berisik setiap dinyalakan, dengan atap asbes. Bukan semata kampusnya yang membuat ramai, melainkan kedai berada disamping kanan kiri toko ini. Ramainya mahasiswa yang membeli makanan, tidak lupa berlalu lalang  melewati toko buku Indah, tidak sedikit dari mereka untuk datang membeli buku ditoko Indah, kalian bayangkan betapa strategisnya toko yang dijaga Bahir. Jadi meskipun buku-buku yang berjubel hampir tidak menyisakan celah dimeja kasir, lantai kasar saat diinjak walau tidak terlalu kasar jika menggunakan alas kaki, atau meski penjaganya hanyalah Bahir, pemuda usia dua puluh lima tahun dengan wajah kusam berpakaian seadanya, rambut gondrong ikal tidak terlihat jika sudah disisir berkali- kali, alih-alih membeli makanan, toko buku yang dia jaga tetap ramai.

“ Bang ada buku Putri Setiani?”  seorang mahasiswa berseru. Dia baru masuk ke toko

“ Tentang perubahan iklim?” Bahir gesit balas bertanya, beberapa pekan ini banyak mahasiswa mencari buku tentang iklim.

Mahasiswa itu mengangguk.

Bahir ikut mengangguk, kepalanya menengok kesamping hingga berjongkok.

“ Nah.. ini dia buku yang dicari!” Gumamnya bergegas menaiki tangga menarik buku itu dari deretan buku lain.

“ Berapa bang?”

“ Tujuh puluh lima ribu.”

“ Wah, mahal bang. Ditoko pinggir jalan sana cuma tiga puluh lima ribu doank.”

Bahir mendengus dalam hati. Dia hafal model mahasiswa model satu ini, jelas berbohong bilang mahal, harga segitu padahal sudah standar.

“ Tidak bisa, itu sudah harga standar dimanapun.”

“ Toko pinggir jalan lebih murah bang, daripada di sini.” Sahut mahasiswa sembari menatap bahir, berharap agar menurunkan harga.

“ Jelas lebih murah, toko pinggir jalan menjual buku bajakan, jika ingin lebih murah jangan beli buku yang asli!” Sahutku menarik buku yang dipegangnya.

“ Iya deh bang… saya ambil, tetapi tidak bisa kurang, tujuh puluh ribu bang, saya tidak punya uang lebih, wajarlah mahasiswa jauh dari orang tua.” Jawabnya dengan wajah memelas.

“ Kalau tidak mau, tidak usah beli, beli pinggir jalan sana saja.” Sergahku kesal.

“Oke deh, saya beli bang, maaf.” Merogoh kantong membayar.

“ Heran, anak zaman sekarang minta murah, ingin berkualitas.” Gerutuku kesal.

“ Hei Sofi, kamu kemari ingin membeli buku yang sama?” Tanya mahasiswa tadi kepada salah satu temannya yang memasuki toko. Pukul tiga sore, jam pulang mahasiswa. Jalan raya toko ini ramai dengan mahasiswa.

Bahir ikut menoleh, menatap. Bujuk buneng, cantik juga mahasiswa itu. Gumam bahir dalam hati.

“ Kamu beli apa Damar?” Sofi mahasiswi berambut sebahu itu bertanya.

“ Sains Perubahan Iklim.”

“Mengapa tidak diperpus saja?”

“ Malas, lebih enak juga punya sendiri. Bisa baca di mana aja, dan kapan pun.” Sahut Damar santai.

“ Aku duluan, masih ada urusan.” Lanjut Damar meninggalkan toko buku.

“ Cari buku apa.” Timpal Bahir sesaat temannya Damar pergi.

“ Ada buku David J. Schrwarts?” Jawab Sofi.

“ Buku The Magic of Thinking Big?” Tebak Bahir.

“ Ya benar bang, saya ingin beli buku itu.”

Bahir bergegas meneliti rak disamping kanannya, tangan cekatan, mata menelusuri setiap buku untuk menemukan yang dicari.

“ Sulit utuk berpikir?” Tanya Bahir sembari mencari.

“ Tidak bang, hanya saja berpikir besar, seperti Stave Jobs, Sherly Annavita, saya butuh referensi untuk dapat menumbuhkan thinking big.” Sahut Jessy.

“Mengapa tidak thinking big menurut versimu?” Sahut Bahir.

“ Saya mengikuti mereka, karena sudah terbukti mereka sukses.”

“ Betul, mereka sukses dengan cara berpkir mereka sendiri, tidak mengikuti fikiran orang lain.” Terang Bahir.

“ Ini buku yang dicari.” Bahir menyodorkannya.

“ Terima kasih bang,berapa?”

“ Sembilan puluh ribu rupiah.” Singkat Bahir.

“ Lihat apa kamu senyum- senyum sendiri.” Barsa  pemilik kedai sebelah memergoki Suloyo, sembunyi dibalik meja toko. Asisten Bahir ditoko buku.

“ Sepertinya Bahir sedang kasmaran.” Jawab Suloyo tanpa melihat Barsa, matanya tetap fokus memandang Bahir dengan mahasiswi yang sedang berbicara.

“ Bang aku pamit, terima kasih bukunya.” Sofi berlalu meninggalkan toko.

“ Bangunlah dari tidurmu Bahir, dia mahasiswi cerdas, tidak sepertimu sudah hampir enam tahun belum lulus juga.” Canda Suloyo. Sesaat mahaiswi itu pergi, Suloyo langsung menghampiri bahir sedang tersenyum sendiri.

“Begini juga, saya dapat kuliah dikampus besar, tidak masalah menyukai seorang mahasiswi cerdas!” Seru Bahir tidak terima.

Suloyo hanya tertawa  dengan tanggapan yang dilontarkan Bahir.

Jalan raya makin ramai dengan mahasiswa berlalu lalang, apalagi kedai berjejeran diseberang kampus itu berdiri. Bau menyeruak menelusuk hidung, aroma sedap, manis, padas kental terasa di sini, suara riuh bercampur dengan tawa orang-orang disekitar.

“Lihat saja, Sofi akan datang kemari lagi.” Gerutu Bahir.

Pagi pukul delapan, di Universitas, tepatnya diseberang toko Indah berdiri, Jurusan Klimatologi.

Panggilan dari Pak dekan yang menyababkan Bahir barada di sini, tepatnya ruangan Pak dekan.

“ Bagaimana Bahir, sudah enam tahun kamu belum lulus juga, apakah menunggu tujuh tahun agar  benar- benar menjadi mahasiswa abadi?” Ucap Pak dekan sembari memijit keningnya.

“ Saya akan segera mengerjakanya Pak, sebelumnya saya belum punya angan- angan ingin konten skripsi seperti apa.” Ucap Bahir menjelaskan.

“Darimana saja kamu selama enam tahu ini, apa yang kamu kerjakan selama itu, sehingga belum bisa menjawab belum punya angan- angan.” Sergah Pak dekan.

“ Beri saya waktu enam bulan, saya janji akan selesai pak.” Mohon Bahir.

“ Jika kamu tidak pintar dalam menulis dan cerdas, sudah dari lama bapak tidak mau mengurus skiripsimu.” Sahut Pak dekan tanda mengiyakan.

“ Terima kasih Pak, saya akan kerjakan sebagus mungkin.” Sambar Bahir sambil menciumi punggung tangan pak dekan.

“ Temui saya dua minggu sekali di sini, untuk melihat perkembangan skripsimu.” Sahut Pak dekan.

Tidak seperti biasa, hari ini matahari lebih terik. Toko buku ini tetap terasa ramai walau belum terlihat pelanggan datang, kipas bertengger didinding, berputar menyuara irama berderit memecah hening diantaranya.

“ Pak buku John W. Situmorang  di mana, saya lupa menaruh.” Ucap Bahir, sesaat setelah sampai ditoko buku.

“ saya tidak tahu, nama yang kamu ucapkan saja saya belum pernah dengar apalagi melihatnya.”Sahut Suloyo.

“ Harusnya bapak membaca donk, penjaga toko buku tidak tahu buku yang dijualnya, jika hilang manatahu.” Kesal Bahir.

“ Dulu saya ingat semua buku di sini, menginjak umur semakin tua, saya tidak ingat keseluruhan buku ditoko ini.” Jelas Suloyo.

“ Saya pulang dahulu pak, mengerjakan skripsi.” Ucap Bahir meninggalkan suloyo.

Kos Bahir tidak terlalu jauh dengan toko buku yang diajaganya, sekitar lima belas menit bahir sudah ada didalam kosnya. Ukuran lima belas kali dua puluh meter, terdapat tiga ruang kecil, hanya ruang tamu, kamar tidur tanpa pintu, dapur yang menyatu denga kamar mandi, hanya dipisahkan papan tripleks yang menjadi sekat diantaranya.

“ Ternyata buku ini tertinggal di kamarku.” Ucap Bahir sesaat menemukan buku yang sejak tadi dia cari.

“  Krisis iklim dan bagaimana bangsa menyadari apa yang sedang terjadi dengan bumi ini akan aku jadikan laporan hasil skripsiku saja.” Lanjut Bahir.

Koran, buku majalah, buku lainnya berserakan dimeja, dan lantai kamar. Dibukanya komputer mencari informasi perubahan iklim ditahun- tahun sebelumnya.

“ Berita ini cukup menarik, aku harus kesana mendengar secara kronologis apa yang dirasakan saat kemarau tidak kunjung berhenti.” Ucap Bahir. Menatap layar komputer melihat salah satu berita ditahun dua ribu sembilan belas daerah Sampang, Jawa Timur.

 Jalan raya depan toko Indah ramai dengan mahasiswa memasuki kampus, sekitar pukul delapan pagi, kampus itu sudah beroperasi, mahasiswa yang mendapati sift pagi. Suara deru motor berlalu lalang dijalanan, toko- toko yang mulai dibuka oleh pemiliknya, celotehan dan tawa hangat orang- orang disekitar.

“ Bang Bahir! Sudah dua hari aku tidak kemari.” Sofi tiba- tiba sudah didepan toko mendapati Bahir sedang menata buku.

“ Bagaimana kabarmu, mengapa dua hari lalu tidak kemari?” Jawab Bahir melanjutkan kegiatannnya.

“ Aku mengerjakan makalah bang, harus dikumpulkan sekarang. Saat aku ingin memasuki kampus, tiba- tiba teringat bang Bahir, jadi kupikir kemari sebentar untuk berbincang- bincang tidak masalah.” Sahut Sofi menanggapi pertanyaan bahir.

Sofi ingin berbincang denganku, apakah dia menyukaiku. Ucap Bahir bergumam dengan hatinya.

“Semenjak bang Bahir mengatakan motivasi itu padaku, percaya diriku lebih meningkat, percaya fikiran besarku, bahkan dapat mengalahkan Stave Jobs.” Jelas Sofi pada Bahir.

“ Bagus jika kamu telah mengubah paradigma dan fikiranmu.” Ucap Bahir setelah selesai menata buku.

“ Fi…ayo! sebentar lagi dosen masuk kelas!” Teriak seorang mahasiswi dari seberang toko, tepatnya didepan kampus itu berdiri.

“ Ya, aku segera datang!” Seru Sofi berseberangan dengan mahasiswi yang memanggilnya.

“ Bang, aku pamit dahulu, kelas pagi segera dimulai.” Lanjut Sofi.

“ Baiklah, sering saja kesini, aku senag jika ada tamu kemari.” Sahut Bahir memberikan alibi.

Hari ini waktunya Bahir melakukan wawancara kepada salah seorang warga terkena krisis iklim, sebagai bahan skripsi yang harus selesai dalam waktu enam bulan.

“Pak Suloyo saya pergi dahulu untuk megerjakan skripsi, mungkin saya tidak kesini, langsung menuju kos saat pulang, jika paman tanya jawab saja seperti itu.” Ucap Bahir pada Suloyo. Toko buku Indah adalah milik Paman Bahir, dia menyerahkan pada Bahir untuk menambah uangsaku kuliahnya.

“ Siap hir, akhirnya kamu mengerjakan skripsi, keajaiban apa tiba- tiba datang padamu, mungkin mahasiswi tadi, jadi kamu malu menjelaskan jika Bahir adalah mahasiswa abadi.”  Ejek Suloyo pada Bahir disambut dengan dengusan kesal Bahir.

“ Sudah aku tidak ingin melanjutkan.” Kesal Bahir berlalu meniggalkan Suloyo dan dalam sekejap sudah tidak terlihat batang hidungnya.

Siang pukul dua, rumah kecil bergeribik, beratapkan asbes, dengan lantai teras berlubang- lubang. Tanaman hijau menjadi penghias alami disekitar rumah ini. Tidak butuh waktu lama mengetuk, pintu sudah terbuka. Bapak sekitar lima puluh tiga tahun keluar menyambutku. Rambut depan sedikit botak, sarung kotak- kotak, dan kaus partai golkar yang dimasukkan kedalamnya. Tubuh tidak terlalu tinggi, dengan badan sedikit kurus.

“ Apakah ini Bahir?” Tanya bapak itu.

“ Ya, bapak masih ingat saya, benar ini bapak Prapto?” Jawab Bahir heran.

“ Sebelum saya mengizinkan orang berkunjung kesini, saya selalu memeriksa profil mereka, tidak dipungkiri jika saya tahu kamu.” Sahut pak Prapto.

“ Silakan masuk, maaf jika rumah ini tidak sebagus rumah pada umumnya.” Lanjut bapak Prapto.

“ Tidak masalah, saya senang dapat bertemu bapak langsung.” Sahut Bahir sembari duduk dikursi yang telah tersedia.

Teh dan roti kering tersedia setelah pak Prapto menyuruhku masuk dan dia bergegas ke-dapur menyediakan suguhan ini.

“ Ayo diminum tehnya, pasti kamu lelah jauh- jauh kemari.” Tawar pak Prapto.

Bahir sudah nenyediakan buku dan pena, tanda dia akan mengambil informasi- informasi penting dalam cerita pak Prapto nanti.

“ Apa yang kamu butuhkan untuk skripsimu, langsung ke-intinya saja.” Jelas pak Prapto sesaat setelah menyesap tehnya.

“ Baiklah pak.”

“ Apa yang bapak alami selama kemarau panjang itu terjadi?” Lanjut Bahir.

“ Saya akan ceritakan itu.” Jawab pak Prapto.

Bahir mulai membuka lembaran buku, sudah bersiap menorehkan sedikit demi sedikit informasi dari cerita ini.

Tahun dua ribu sembilan belas tepat tiga  puluh November awal, hingga duaratus duapuluh sembilan hari berikutnya, kekeringan melanda kabupaten Sampang,  termasuk daerah ini. Kesulitan air membuat masyarakat bingung harus mencari di mana, kami melaporkan hal ini kepada Ketua Balai, agar memberikan solusi atas kemarau yang tidak kunjung ada ujungnya. Bantuan dari pemerintah berdatangan, khususnya pasokan air. Kami rela berjubel, tidak heran terjadi aksi saling dorong, tidak sabar utnuk mengambil air, Takut tidak dapat bagian air yang disediakan. Saat itu usia saya lima puluh satu tahun, karena kemarau panjang  yang terjadi, salah satu anak saya mengalami dehidrasi berat, saat dilarikan dirumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Hening sesaat….. raut wajahnya menampakkan penyesalan.

“ Jika bapak tidak ingin meceritakn hal itu tidak apa- apa.” Ucap Bahir memecah keheningan di antara mereka.

“ Tidak apa- apa, saya akan lanjutkan.”

Kekecewaan dan penyesalan bukan karena meninggalnya anak saya, tetapi persiapan sebelum kemarau itu datang. Saya berpikir itu hanya isu belaka untuk menakut- nakuti, agar masyarakat hemat dalam menggunakan air. Tidak hanya saya, warga lainnya pun tidak percaya. Saat kemarau tiu benar- benar tiba, penyesalan baru kami rasakan, dan itu telah terlambat. Dengan bantuan yang selalu datang, kami sangat bersyukur, dan kami berjajanji tidak akan mengulangi kesalahan seperti itu lagi. Hingga pertama kalinya hujan turun kembali setelah delapan bulan enam bels hari lamanya.

“ Bagaiman kamu terpikirkan untuk membuat skripsi dengan  tema krisis iklim.” Tanya pak Prapto setelah melanjutkan ceritanya.

“ Perubahan iklim di Indonesia adalah permasalahan penting, karena banyaknya populasi yang hidup ditepi pantai dapat terkena dampak kenaikan permukaan laut, dan karena kehidupan penduduknya bergantung pada pertanian marikultur dan perikanan, semuanya dapat terkena dampak dari perubahan suhu, curah hujan dan perubahan klimatik lainnya, dangan hal itu solusi kami sebagai generasi kedepannya penting untuk mengatasi yang terjadi.” Jelas Bahir panjang lebar.

“ Generasi seperti ini yang dibutuhkan negara, teruskan idemu, semoga skripsimu berhasil, bahkan mendapat nilai tinggi.” Jawab pak Prapto.

“ Terima kasih, bertemu dan berbincang dengan bapak dapat membuka cakrawala fikiran saya.”  Sahut Bahir sembari berjalan meninggalkan rumah.

“ Hati- hati, saya sangat beruntung dapat bertemu pemuda sepertimu.” Sanjung pak Prapto.

Cahaya layar komputer menyilaukan wajah. Malam pukul sembilan. Bahir tetap berkecimpung didepan layar, dengan jari- jemari menari mengetik kata perkata pada papan keybord berusaha menyelesaikan skripsi. Hasil  dia ketikan sedikit demi sedikit memenuhi laporan mingguan skripsi yang dalam waktu dua minggu sekali diperiksa Pak dekan.

Dua minggu kemudian, Bahir sudah lebih dahulu diruang dekan. Membuka tas memeriksa file- file yang telah dikerjakan sebelumnya untuk diserahkan dan diperiksa.

“ Sudah sampai lebih dahulu kamu, sepertinya sungguh tahun ini ingin menyelesaikan skripsi.” Ucap Pak dekan sesaat setelah masuk ruangan.

“ Jika sudah punya angan-angan mengerjakan skripsi dengan bahan apa, saya akan menyelesaikannya dengan semaksimal mungkin.” Sahut Bahir.

“ Oke, saya percaya kamu, sekarang di mana lembar kerja skripsimu, saya akan periksa.”

“ Tenang pak, saya sudah siapkan silakan diperiksa.”

Dekan Bahir adalah dekan tersabar dari yang lain, dia mengerti potensi Bahir miliki hingga tetap mempertahankan mahasiswa abadi ini.

“ Skripsimu sudah bagus terus lanjutkan, waktumu tidak banyak bahir.” Ucapnya setelah memeriksa file skripsi Bahir.

“ Baik pak, saya izin pergi.”

“ Ingat Bahir, jangan menunda dan skripsimu hanya kurang dalam solusi, tambahkan itu.” Lanjut Pak dekan saat Bahir akan membuka pintu ruangan untuk pergi.

Baguslah, aku sudah tidak butuh waktu lama menyelesaikannya. Gumam Bahir dalam hati.

“ Woi mas Bahir! Hari ini pulang cepat?”  Tanya salah satu anak kos.

Kos yang ditempati Bahir khusus para lelaki, bahkan pemilik kos berstatus duda, walau kaya tetapi umur memengaruhi sulitnya pemilik kos untuk menikah dan sekarang umurnya menginjak enam puluh tahun.

“ Pulang cepat, tetapi melanjutkan dikamar.” Sahut Bahir.

“ Akhirnya tetangga kos ku akan lulus juga. Aku pastikan datang diacara wisudamu bersama teman kos lain.” Celetuk Rimas.

Tetangga kos Bahir yang gemar megejek dan membully- nya karena skiripsi yang tak kunjung selesai adalah Rimas. Rambut rapi lurus anti gondrong, Kulit putih, tubuh mendukung, dan termasuk kategori good looking. Bahir seorang lelakipun tidak bosan melihat Rimas, jika dia wanita langsung jatuh cinta.

“ Lihatlah aku akan gagah dan keren saat waktu itu tiba.”

“ Bahir kemari kau!” Teriak babeh Tongki dari teras rumahnya.

Pemilik kos ini tegas dan disipilin, tidak jarang sebelum subuh sudah dibangunkan dan tidak tanggung- tanggung, dengan sirene kebakaran membuat kita berlarian keluar kos, dan pemilik kos hanya tertawa setiap itu terjadi. Babeh Marito Gilang Rizki namanya, anak kos selalu memanggil beliau babeh tongki, awalnya hanya gurau, tetapi menjadi panggilan akrab kami khusus anak kos.

“Kenapa beh?” Tanya Bahir menghampiri.

“ Aku ada sesuatu untuk kau dan anak kos lainnya.” Jawab babeh.

“ Apa tu beh, bagaiman jika aku kumpulkan anak kos lainnya?” Sergah Bahir.

“ Cepat, babeh tunggu didepan rumah, panggil sekarang.” Timpal babeh.

“ Woyy!! Ayo keluar, babeh punya hadiah buat kita, uang kos akan turun!” Teriak Bahir kepada anak kos lain.

“ Sembarangan kau bilang, harga uang kos mutlak tidak dapat diganggu gugat.” Sambar babeh Tongki.

“ Seriusan! babeh selain disiplin, baik hati pula.” Celetuk anak kos lain yang sudah berkumpul.

“ Siapa bilang aku menurunkan uang kos kau, mustahil. Harga lima ratus ribu perbulan termasuk murah untuk kos sebagus  dan pemilik seramah ini.” Sergah babeh Tongki.

“ Aku ingin memasang kipas angin disetiap kamar kau semua, suhu sekarang lebih panas.” Lanjut babeh Tongki.

“ Gila babeh memang ter- the best, betah lama dikos aye.” Timpal salah satu anak kos lain.

“ Sudah bubar, nanti kalian yang memasang, sayang uang jika menyuruh orang memasangkan, padahal kalian nganggur tak ada kerjaan.”

“ Siap beh, kami ahlinya, walau tidak ada jurusan elektro.” Sambung Rimas.

Udara terasa lebih dingin saat kipas berputar sempurna tanpa bunyi berderit seperti ditoko buku. Bahir tidak henti- hentinya mengetik huruf perhuruf hingga terbuat kata dan akhirnya menjadi kalimat sebagai skripsi dalam syarat kelulusan.

Sejenak dia membuka handpone mencari berita yang dapat menambah lembaran skripsinya. tangannya berhenti melihat salah satu berita menarik, ibu jarinya menekan link yang tertera dilayar handpone.

BMKG (Badan  Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) memperkirakan akan terjadi tingkat suhu udara di Indoesia sebesar 0,5 derajat celcius pada tahun 2030. Kasus kekeringan meningkat dipulau Sumatra bagian selatan, sebagian pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun yang sama. Sabaliknya musim hujan, jumlah hujan lebat hingga ekstrem cenderung meningkat hingga 40% dibanding saat ini.

“ Ini dapat menjadi penambah skripsiku.” Gumam Bahir.

Matahari menyinari kamar kecil kos bahir dari balik kaca jendela, kertas menjadi pengganti selimut dan bantal, bahkan lantai sudah berubah menjadi lautan kertas hasil bahan skripsi sebelumnya yang gagal.

Pukul tujuh pagi, bahir sudah bersiap menuju toko buku tanpa membereskan kamar tidurnya. Jalanan tak terlalu ramai, menikmati udara sejuk disekeliling kebiasaan Bahir jika dia bangun lebih awal dari biasanya.

“Mengapa pohon di sini mulai gundul.” Gumam seseorang dibelakang Bahir berjalan.

Jalanan kos untuk menuju toko buku melewati pepohonan asri dan sedikit rimbun, tidak ada rumah disekitar, hanya pepohonan menjuang tinggi.

“ Permisi, apa yang kalian ingin lakukan dengan membawa banyak bibit pohon jati dan beberapa alat pembantu lain?” Tanya Bahir kepada salah  satu segerombolan pemuda yang berada dibelakangnya, mungkin usia mereka seumur dengan Bahir.

“ Kami akan kerja bakti menanam bibit ini ditempat-tempat yang membutuhkan, hutan gundul dan dataran tinggi.” Jawab salah satu pemuda itu.

“ Apakah saya boleh bergabung?” Tawar Bahir.

“ Silakan, kami sangat senang jika ada pemuda sepertimu mengikuti kegiatan kami.”

Suara jangkrik berdengung ditelinga, sunyi kental terasa, ketenangan dan tentram menyelimuti tempat ini.

Tidak jauh dari tempat Bahir bertemu mereka dijalan. Dengan mengikuti sekelompok pemuda itu, Bahir tiba ditempat dia belum pernah tahu, mungkin tempatnya menjorok kedalam lumayan jauh dari jalanan.

“ Kamu bisa lihat, tidak adanya perlindungan disini, pohon- pohon ditebang hanya untuk kepentingan semata,tanpa adanya pemikiran kedepan dampak apa yang harus dirasakan.” Ungkap salah satu pemuda.

“ Kayu jati memiliki kualitas bagus, jika dijual keuntungan yang didapat sangat tinggi, mungkin itu alasan mereka menebangnya.” Sahut Bahir.

“ Tetapi apakah mereka tidak berpikir, bagaimana nasib bumi ini, dengan menguntungkn diri, menimbun kekayaan, padahal potensi kemarau dan hujan lebat Indonesia diperkirakan akan terjadi.”  Jelasnya.

“ Jika ini terus terjadi, pemanasan global makin meningkat, cuaca sulit diprediksi, mengakibatkan hujan lebat datang tidak menentu, bahkan banjir besar tidak dipungkiri akan menyertai.” Lanjut temam lainya.

“ Kita adalah generasi masa depan bangsa, apa yang dapat kita berikan, membuat negara tenggelam atau hilang, kami melakukan ini untuk dapat mengurangi krisis iklim yang terjadi.” Jelas salah satu dari mereka.

“ Benar, reboisasi sangat penting untuk bumi ini, dengan banyak penanaman hutan kembali secara skala besar, mengakibatkan dampak menguntungkan bagi bumi dan manusianya.” Lanjut Bahir.

Malam pukul delapan,Bahir melancarkan aksinya, seperti biasa melanjutkan skripsi yang hanya kurang sedikit, setelah pengalaman pagi tadi, otak Bahir bekerja lebih cepat, mengetikkan kata- kata dengan tepat. Tidak berapa lama skripsi Bahir selesai.

Ruang dekan, tempat pertama Bahir datangi setelah kosnya. Toko buku menjadi prioritas ketiga dan skripsi mejadi prioritas utamanya. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, Pak dekan sudah berada disinggasananya.

“ Skripsi saya sudah selesai sebelum waktunya, anda dapat memeriksanya.” Sahut Bahir antusias.

“ Baiklah tunggu, saya periksa.”

Bagaimana jika revisi semua, atau banyak yang harus direvisi, apakah skripsi yang kutulis sudah sesuai. Khawatir Bahir dalam hati.

Tiga puluh menit telah berlalu. Kapan selesainya, kenapa teliti sekali. Gumam Bahir lagi dalam hati.

“ Ini adalah skripsi paling bagus di antara skripsi yang pernah saya periksa, saya pastikan tahun ini kamu akan lulus.” Ungkap Pak dekan.

“ Terima kasih Pak. Akhirnya saya lulus juga!” Girang Bahir dan meninggalkan ruang dekan.

Dua puluh delapan November hari yang ditunggu- tunggu mahasiswa lain, di antara lautan mahasiswa, Bahir salah satu mahasiswa yang melaksanakan wisuda ini. Ditemani kedua orang tua dari kampung halaman demi anak semata wayang. Tidak terkecuali teman kos dan babeh Tongki datang saat wisuda akan berlangsung, meyebabkan keramaian makin bertambah.

Jejeran kursi tertata rapi, mahasiswa lain sudah siap menerima kelulusan mereka. Sambutan pembawa acara, hiburan sebagai perpaduan dalam kelulusan.

Pengumuman kelulusan tiba, semua nama telah terpanggil, hanya menyisakan Bahir duduk dikursi paling depan.

“ Ini adalah mahasiswa yang secara resmi dapat memenuhi kriteria dan syarat kelulusan, tetapi ada yang tertinggal. Dia memiliki predikat mahasiswa abadi, tetapi skripsi yang dia buat sungguh luar biasa, IPK tinggi terbayar dengan gelar siswa abadinya.” Jelas MC kepada tamu undangan lain.

“ siswa lulusan terbaik, dari jurusan klimatologi, ialah Bahir!!! Kepadanya dipersilakan kedepan.” Lanjut MC.

“ Berdirinya saya di sini, ingin menyampaikan sedikit pesan.” Hening sesaat…..

“ Ada kata mereka diawali adanya kata saya, ada kata kita diawali dari kata saya, tanpa adanya kata saya tidak dapat menjadi kata kita dan mereka. Maka dari itu sadarilah diri anda, sadari bumi anda, tanpa adanya kesadaran dari anda, tidak akan menjadi bumi yang sejahtera, adili diri anda, lihat sekeliling anda, dan buka cakrawala mata dan fikiran anda. Indonesia membutuhkan kader bangsa seperti kita semua. Krisis iklim makin parah dinegara kita, lakukanlah hal kecil dangan cintai lingkungan anda, lalu buatlah komunitas skala besar, bentuklah negara ini menjadi negara stabil, sembuhkan bumi ini dari krisis iklim, dengan penanaman hutan secara besar. Kita adalah generasi masa depan, buktikan jika kalian pantas disebut sebagai genesari bangsa!” Lanjut Bahir menggebu.

Krisis iklim berdampak lebih parah jika tidak adanya kepedulian, generasi  masa depan dapat mengubah jika adanya perubahan disertai perbaikan dalam melakukan. Bangsa memerlukan pejuang tangguh, yang konsisten, tekun, dan bersungguh- sungguh mengembangkan potensi dalam dan lingkungannya.

2 thoughts on “Cerpen #302; “SADARILAH BUMIMU”

  1. mencintai lingkungan itu sangat penting, didalam cerita ini seorang mahasiswa yang mengerjakan skripsi dengan membuka cakrawalanya, mengangkat krisis iklim sebagai bahan dalam laporannya. tulisan ini sangat bermanfaat bagi gue.

  2. Banyak anak muda acuh tak acuh pada lingkungan tempat tinggalnya. Dengan membawa seorang anak muda yang membuat laporan skripsi dengan mengangkat Krisis iklim membuat kita sebagai generasi muda tahu bagaimana pentingnya iklim Yang ada dilingkungan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *