Cerpen #301; “KISAH SAUDARA KEMBAR”

Apa itu dunia? Isinya air.

Apa itu dunia air? Isinya akibat masa lalu.

Sebuah pengantar dari jasad yang sudah terkubur di palung laut, kala itu nama daratan itu Denmark. Jasad itu bernama Søren Kierkegaard. Ya, dengan sedikit modifikasi (malah hampir semua). Pesan yang hanya bisa didengar ketika waktu dongeng malam internasional sebagai pembuka dongeng tentang bumi yang pernah punya daratan. Atau bumi yang ingin diubah seperti sediakala.

Dongeng malam ini disuarakan oleh Mats & Ruby (konon ada kartun kelinci daratan Max & Ruby). Pasangan narasi idola karena suara mereka hangat dan mampu merengkuh malam yang dingin. Kami tidak tahu rupa mereka seperti apa karena hanya pengeras suara seperti TOA dan lonceng besar yang bisa terselamatkan.

Energi matahari untuk pengeringan ikan dan rumput laut sedangkan angin untuk meniup layar kapal-kapal konvensional atau sekoci layar. Presiden mencanangkan pembuatan pulau dari sampah-sampah leluhur dan hasilnya tidak seluas benua seperti yang ada dalam dongeng. pulaunya cuma untuk pengeringan ikan dan rumput laut.

Nuklir? Kami tambang tenaganya dari relik-relik pembangkit nuklir untuk bahan bakar kapal-kapal hunian dan industri rumput laut dan ikan. Kami harus hemat tenaga sampai dengan 3 miliar tahun lagi.

Satwa? Dalam 100 tahun, mereka mampu beradaptasi secepat kedipan mata. Ada kucing laut, sapi laut, ayam laut, kelinci laut, hamster laut, burung kasuari laut, kanguru laut, bahkan trenggiling laut, dan lain-lain. Mereka adalah hewan-hewan permukaan. Bagaimana dengan anjing, singa, kuda, gajah? Kami hanya pisahkan dengan kata permukaan untuk yang berenang di permukaan air dan laut untuk yang mampu menyelam.

Kembali pada dongeng yang dibacakan Mats & Ruby (tambahan Pina sebagai tokoh tambahan jua moderator. Kini mereka bercerita tentang SAUDARA KEMBAR.

Si kakak selalu memandang ke langit malam,

Si adik selalu memandang ke bumi yang makin menggenang dan kelam.

“Seandainya leluhur kita tidak tamak… Kita tidak perlu terombang-ambing di kapal ini selama berabad-abad.” ujar si kakak, memandangi langit berelief konstelasi bintang. (Mats yang menjadi si kakak).

“Seandainya bumi ini kering seperti semestinya, sepertinya lebih menyenangkan!” Andai si Adik. Si adik menatap lekat samudera (Ruby yang menjadi si adik).

Si kembar seiras itu saling bertemu muka. Mata saling menyinarkan binar asa.

“Aku ingin cari eksoplanet layak huni! Rupanya harus mirip dengan bumi 100 tahun yang lalu! Kita jelajah dengan roket-roket yang masih tersisa di eksosfer!” tutur si kakak.

Si adik punya jalan pikirnya sendiri. Ia menuturkan, “Aku malah ingin mencari dewa Neptunus untuk menelan samudera ini sampai bumi kembali pada wujud 100 tahun yang lalu!”

“Ide bagus! Besok pagi kita coba utarakan pada presiden!”

Mereka kembali ke kapal untuk tidur. Tidak sabar bertemu pagi hanya untuk menubruk sains dan fiksi di atas meja presiden.

Pagi menjelang dan mereka kendarai sekoci layar untuk mencari kapal presiden, sebuah bekas kapal minyak yang dimodifikasi menjadi kapal mewah dan berisi lahan tani (cuma presiden dan orang-orang kaya yang bisa makan dari tumbuhan tanah). Lain dengan kapal si kembar seiras ini. Kapal pesiar tua yang makin kumuh dan sebentar lagi akan tenggelam karena melebihi kapasitas. Kini jarak kapal presiden dengan kapal si kembar hanya berjarak 5 mil.

“Ide kalian bagus-bagus semua! Saya hargai itu. Tapi mohon maaf, ide kalian tidak bisa direalisasi. Biayanya mahal. Lagipula banyak yang skeptis dengan ide yang “gila” ini.” ungkap si presiden. Pina pula yang mengisi suara presiden.

Pada kenyataannya, presiden dunia ini didapuk paling kaya se muka bumi ini karena ladang di dalam kapal. Kenyataannya begitulah presiden kami, tidak mendukung ide yang kelak bermanfaat. Bila mendukung, itupun formalitas belaka.

Kembali mendengar dongeng. Lantas si kembar memilih eksekusi secara swadaya.

Si kakak menggunakan roket air dengan daya nuklir untuk mencapai eksosfer dan roket punggung untuk mencapai roket terdekat. Tenaga nuklir cadangan untuk bahan bakar stasiun luar angkasa untuk sampai ke eksoplanet terdekat dan sampai dengan selamat. Tak ada penghuni di planet Proxima Centauri- b. Si kakak lantas mengirimkan sinyal ke bumi dan manusia-manusia lainnya menyusul.

Bumi baru yang diidamkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Daratan dan lautan seimbang. Bisa menampung sekitar 10 miliar. Tiada kapal yang akan menjadi tempat huni yang membuat perut mual sepanjang hari. Badai dan taufan yang masih bisa dimaklumi dan tentu saja sumber daya alam yang begitu kaya.

Rumah-rumah lantas dibangun dari kayu-kayu yang tumbuh sangat lebat di hutan hujan tropis bumi baru. Para garis darah tukang kayu dan penebang mampu memprosesnya dengan cepat. Namun si penebang kayu-kayu merasa kurang. Ia terus babat hutan itu sampai ia merasa cukup.

Ternyata tidak pernah merasa cukup.

Datang pula para penambang dan industrialis. Mereka menambang dan mengolah secara berlebihan dalam waktu yang singkat secepat cahaya. Akibatnya, bumi baru menjadi gersang dan rusak. Limbah dimana-mana. Mata air rusak oleh pewarna tekstil dan paru-paru menjadi sesak akibat limbah di sungai-sungai serta pembakaran lahan gambut. Tak bisa menjadi tempat layak huni seperti yang diharapkan semula dalam jangka abadi. Rusaknya hanya butuh beberapa jam saja.

Para manusia yang hadir di bumi baru dan memenggal kepalanya menyalahkan si kakak karena tidak observasi mengenai sumber daya yang abadi. Mendengar cibiran-cibiran dan usahanya tidak dihargai atas penemuan bumi baru, si kakak meledakkan bahan bakar nuklir dan memusnahkan bumi baru itu bersama orang-orang tamak itu dan dirinya sendiri.

Ia telan kecewanya dan musnahkan para tamak dalam selimut cahaya, termasuk dirinya.

*

Si adik tidak tahu bila si kakak sudah melanglang buana ke dimensi yang tak tertembus ruang dan waktu di semesta. Ia hanya tahu bahwa sinyal bumi baru putus begitu saja.

Si adik menyelam lebih dalam dan kelam untuk bertemu dewa Neptunus. Ia curi-curi waktu ketika bekerja sebagai buruh pengumpul rumput laut. Dan berhasil! Berada di sebuah gua yang kala itu bernama gua Jomblang. Dahulu ada di daerah Gunungkidul, Indonesia.

“Wahai dewa Neptunus, apakah engkau bisa mengabulkan permohonan hamba ini?”

“Apa yang ingin kaupinta dariku?”

“Aku ingin bumi ini menjadi 100 tahun yang lalu. Masih ada daratan. Ada biji-bijian yang bisa dimanakn seperti presiden. Orang-orang banyak yang mari keracunan air laut dan kurang gizi. Spirulina saja tidak cukup. Hamba rassa itu cukup untuk mengurangi kelaparan dan keracunan.” pinta si adik.

Dewa Neptunus menyetujuinya. Tapi, “Dunia akan berbeda dan gua tempatku kini tidak akan bisa menjadi tempat kering. Aku bisa mati menggelepar seperti ikan yang kaupancing. Jadi, kau ingin relokasi diriku kemana?”

Si adik berpikir sejenak. “Aha! Nanti hamba hubungi Nyi Roro Kidul untuk menyediakan tempat untukmu. Hamba dengar bahwa Nyi Roro Kidul sedang melakukan ekspansi laut di bumi selatan, sampai kutubnya. Bukankah kolaborasi bin merger akan lebih membuat diri engkau lebih memiliki wilayah yang jauh lebih luas dan tempat yang bebas engkau pilih?”

“Hmmm… ide yang brilian! Waktumu cuma 3 hari! Lewat dari itu, akan kubuat tsunami sampai seluruh kapal di bumi ini tenggelam!”

Si adik mengiyakan dan esoknya menemui Nyi Roro Kidul dan menegosiasi perelokasian Dewa Neptunus dengan alot. Akhirnya disepakati laut milik Dewa Neptunus di bumi mediterania karena tidak panas juga tidak dingin – sesuai dengan pinta Dewa Neptunus. Ada sebuah kota laut yang pernah ia tinggali, namanya Atlantis. Sekarang sudah menjadi palung dalam selain Mariana yang kini memiliki kedalaman 30.000 meter.

Esoknya lagi, Dewa Neptunus menepati janjinya di Atlantis yang makin ia cinta. Ia telan air laut berlebih menjadi sebuah gelembung raksasa sebesar planet kerdil. Bumi menjadi kering seperti 100 tahun sebelumnya. Bumi yang kering seperti akuarium yang tidak pernah dikuras. Begitu berlumpur, berkarang, sampah-sampah plastik sisa para leluhur yang terlihat cuma sedikit berlumut walaupun sudah ratusan tahun berlalu dan udaranya begitu pengap seperti kapal yang diserang panas ketika badai panas datang. Air yang dihisap Dewa Neptunus menjadi planet pengganti planet Neptunus di tata surya yang sudah hancur akibat sering ditabrak planet-planet kerdil.

Seandainya bisa ditanami tumbuhan, butuh beribu bahkan berjuta tahun untuk bumi memulai kembali. Kelebihannya? Bumi tidak ditambang dan diindustrialisasi seperti di bumi baru. Tak ada alat yang membuat bumi kembali menjadi bisa ditanami apapun. Hanya menunnggu regenerasi secara alamiah seperti miliaran tahun lalu.

Akhirnys si adik dengan telaten meremajakan tanah sampai akhir hayatnya dimana kebanyakan rakyat dunia lebih memilih menggunjing daripada melakukan sebuah percepatan barang sedetik sedangkan Dewa Neptunus menyeruput es rumput lautnya dengan bahagia di palung Atlantis – tidak peduli apa yang diperkarakan manusia di permukaan baru.

Pina, Mats dan Ruby menutupnya dongengnya dengan apik dengan tambahan quote sebelum mereka ditangkap oleh pemerintah akibat dongeng barusan dan yang lalu-lalu:

Apapun yang kita lakukan untuk bumi,

Entah untuk 10 tahun

Atau 100 tahun

Bahkan satu milenium,

Regenerasi tak akan bekerja di tangan pencibir dan perambah tamak, bahkan pemerintah sekalipun.

Dongeng ditutup dengan denting piano milik Frédéric Chopin Nocturne No.1 in B Flat Minor, Op.9 No.1 yang menambah diri kami merenung mengapung di atas kapal yang tak punya haluan daratan karena leluhur kami yang tamak. Jika kami mewujudkan itu, apakah kami bisa membuat diri kami bertindak secukupnya untuk menghindarkan diri dari kepunahan akibat perubahan iklim? Rasanya tidak.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *