Cerpen #300; “Dampak Cuaca yang Kurang Bersahabat”

Mawar, Riri, dan Bondan merupakan tiga sekawan yang pergi merantau sudah 3 tahun lamanya ke kota. Mereka berencana untuk pulang ke kampung halaman mereka dengan berjalan kaki karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan. Virus Covid 19 yang penyebarannya semakin banyak, sudah mematikan perekonomian warga. Kini, Mawar, Riri, dan Bondan sudah di lepas tugaskan oleh majikannya karena kondisi penjualan yang kurang lancar dan sudah tidak ada lagi dana untuk membayar karyawan disana. Mereka sudah berencana untuk pulang ke kampung sejak 2 minggu lalu, akan tetapi  kondisi cuaca yang tidak hujan tak kian reda dan angin rebut tidak mengizinkan mereka untuk pulang. Sebenarnya, untuk pergi ke kampung halaman mereka bisa dengan menyewa mobil atau dengan angkutan umum, akan tetapi keadaan keuangan yang kurang sehingga Mawar, Riri, dan Bondan memilih untuk berjalan kaki.

Pagi ini cuaca tampaknya cukup cerah. Mawar, Riri, dan Bondan memutuskan untuk pulang ke kampung hari ini. Perjalanan ke kampung halaman mereka membutuhkan watu 4 jam dengan kendaraan dan sekitar 11 jam lebih dengan berjalan kaki. Mawar, Riri, dan Bondan berharap agar di perjalanan nanti tidak hujan lebat disertai angin rebut seperti 2 minggu yang lalu..akan tetapi, harapan mereka salah.

Sudah 7 jam perjalanan, akan tetapi cuaca tak kunjung baik. Awan tak henti henti menangis. Mereka memutuskan untuk berhenti sebentar  di rumah warga pada saat hujan lebat, dan melanjutkan lagi perjalanannya saat hujan mulai reda.

Hujan turun lagi. Mawar, Riri, dan Bondan dengan bergegas segera berlari-lari ke arah sebuah gubuk di sebuah desa yang sangat jauh dari keramaian.

“Tok, tok, tok… Assalamualaikum, Bu.” Ucap mereka bertiga berbarengan.

“Wa’alaikumussalam, iya. Apa kabar Nak?” balas si Ibu

“Begini Bu Siti, kami sedang dalam perjalanan, tetapi sepertinya hujan lebat sudah turun lagi dan anginnya sangat kencang Bu. Bolehkah kami numpang istirahat sebentar untuk berteduh Bu?” tanya Riri.

Bu Siti membuka pintu dan mempersilahkan Mawar, Riri, dan Bondan untuk masuk. Mawar, Riri dan Bondan segera masuk ke dalam rumah Bu Siti dan duduk di atas tikar yang sudah terbantang di dalam rumahnya.

“Grrrrr swingggg”  suara petir menyambar pepohonan di depan rumah Bu Siti. Hujan turun sangat lebatnya disertai angin yang sangat kencang. “Grrrrrr grrrrr grrrrr” suar petir menyambar lagi bersahut-sahutan. Mawar dan Riri pun merasa ketakutan dan segera mendekat ke sebelah Bondan. Mereka merasa tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan ini karena. Selain cuaca yang tak bagus, bekal yang mereka bawa juga sudah habis.

Satu jam kemudian, setelah hujan mulai reda, Mawar, Riri, dan Bondan segera pamit dan berterimakasih kepada Bu Siti karena telah mengizinkan mereka untuk berteduh di rumahnya. Awalnya, mereka ingin balik lagi ke kota, akan tetapi memikirkan biaya hidup yang mahal dan kondisi pekerjaan saat ini, mereka membulatkan tekad untuk tetap pulang kampung. Mereka segara melanjutkan perjalanannya.

“Bondan dan Riri, ayo kita segera berangkat. Hujan sudah mulai reda, sebaiknya kita segera pergi agar cepat sampai. Bu Siti, kami izin pamit dulu ya Bu, terima kasih banyak atas tumpangannya Bu” ucap Mawar

Bu Siti heran dan bertanya kepada mereka, “Memangnya anak-anak mau kemana?” tanya Bu Siti kepada Mawar, Riri, dan Bondan.

“Sebenarnya kami semua tadi dari kota dan rencananya akan pulang ke kampung  Bu, karena di kota kami tidak bisa lagi bertahan memenuhi kebutuhan hidup dengan keadaan yang seperti in Bu. Tetapi, daritadi perjalanan kami banyak terhenti karena hujan yang tak menentu turunnya Bu” Jawab Bondan kepada Bu Siti

“Dimana kampungnya, nak?” Tanya Bu Siti lagi

“Di seberang sana Bu.” Jawab Mawar

“Di seberang sana nak? Dengan apa kalian akan pergi ke sana saat cuaca yang sedang tidak menentu ini, nak?” Tanya Bu Siti.

“Berjalan kaki saja Bu, karena kami sudah tidak punya uang untuk menyewa mobil ataupun membayar angkutan umum.” Jawab Bondan

Tiba-tiba Riri dan Mawar menangis. Bu Siti dan Bondan serentak bertanya kepada mereka “Ada apa nak? Tanya bu Siti. Riri dan Mawar serentak menjawab “Sebenarnya bekal kami sudah habis Bu dan kami kelaparan” jawab Riri

“Krrrkk krrrk krrrrk” suara perut Mawar dan Riri

Bu Siti pun menawarkan mereka untuk makan di rumahnya sebelum melanjutkan perjalanan mereka, tanpa basa basi Riri, Mawar dan Bondan menganggukkan kepala mereka pertanda menerima tawaran Bu Siti.

Mawar, Riri dan Bondan segera menyantap makanan yang diberikan Bu Siti dan hendak melanjutkan perjalananya menuju kampung halaman. Bu Siti juga memberikan sebuah bungkusan kecil kepada mereka, “Jaga jaga nanti kelaparan di tengah perjalanan” ucap Bu Siti. Mereka sangat berterima kasih kepada Bu Siti dan pamit pergi.

Mereka segera melanjutkan perjalanannya menuju kampung halaman. Tak lama kemudian, hujan dan angin kencang dating lagi.

“Aduh… turun lagi!” keluh Riri.

“Iya nih, anginnya juga kencang” sahut Mawar.

“Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan ini” ucap Riri

“Mari kita lanjutkan saja dulu, sudah lebih setengah perjalanan. Daripada harus balik lagi ke kota, tak lama lagi kita akan sampai”

Karena Riri adalah yang paling kecil disana, Mawar dan Bondan memutuskan untuk bergantian menggendong Riri. Di perjalanan, Riri merasa tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan meski sudah digentong teman-temannya. Mawar juga merasa kondisinya sudah tidak baik.

Bondan memegang tangan Riri untuk menurunkannya dari pundaknya. Akan tetapi, tangannya terasa panas. Tiba tiba Mawar juga mengeluh pusing dan tak enak badan. Mawar dan Riri juga terserang flu yang tiada hentinya. Akan tetapi, mereka tetap melanjutkan perjalananya karena sudah dekat kampung.

Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kampung halaman. Setibanya di rumah, Mawar langsung mengetuk pintu dan mengajan teman-temannya untuk istirahat dulu di rumahnya, karena mereka sudah basah kuyup.

“Tok, tok, tok. Assalamualaikum” ucap Mawar

“Waalaikumussalam” ucap Ibunya Mawar

Ibu Mawar pun terkejut karena anaknya pulang sudah dalam keadaan basah kuyup dan demam tinggi. Ia mempersilakan Mawar dan teman temannya untuk masuk. Ibu langsung mengambilkan handuk dan baju ganti untuk Mawar, Riri, dan Bondan. Setelah mengganti baju, mereka istirahat sebentar dan tertidur. Tiba- tiba Mawar dan Riri mengeluhkan badannya demam tinggi disertai flu yang tak kunjung henti. Mereka pun dibawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk berobat.

Sesampainya di Puskesmas, mereka diperiksa oleh Bidan disana dan diberikan tes untuk memeriksa apakah mereka tertular Covid 19. Setelah hasilnya keluar, Mawar Riri, dan Bondan dinyatakan positif Covid 19. Mereka pun heran, padahal mereka tidak merasa pernah berinteraksi dengan penderita Covid 19. Mereka pun berpikir mungkin ini karena terdampak hujan dan angin selama perjalanan tadi, sehingga daya tahan tubuh menjadi tidak baik. Pihak Puskesmas langsung meminta mereka untuk melakukan isolasi .

Ibu Mawar bergegas pulang untuk memberitahukan Ibu Riri dan Bondan. Akan tetapi, penduduk kampung yang medengar berita itu, langsung menyebarkannya kepada penduduk lain. Akhirnya, penduduk desa mengasingkan keluarga Mawar, Riri, dan Bondan karena merasa mereka semua Sudah tertular Covid 19, walaupun hasil tes pada keluarga Mawar, Riri, dan Bondan adalah negatif. Mawar, Riri, dan Bondan merasa bersalah kepada keluarganya, karena mereka keluarganya harus diasingkan penduduk setempat. Keluarga Mawar, Riri, dan Bondan menenangkan mereka dan mengatakan bahwa mereka baik-baik saja. Akhirnya, mereka melakukan isolasi dan pengobatan serta meminum vitamin yang diberikan pihak Puskesmas selama 2 minggu. Setelah 2 minggu isolasi, akhirnya mereka dinyatakan terbebas Covid 19 dan segera mengabarkan pemerintahan nigari untuk diberitahukan kepada penduudk setempat. Pada akhirnya, mereka kembali berinteraksi dan beraktivitas seperti biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *