Cerpen #299; “HARAPAN BARU”

Gadis kecil itu menangis. Sambil bergandeng tangan dengan seorang wanita paruh baya, keduanya berjalan sempoyongan menuju aliran sungai yang hampir mengering. Warna air sungai terlihat sangat keruh dengan bau yang cukup menyengat. Ada segumpal minyak yang timbul di atas air dan sekelompok ikan yang sudah mengambang mati. Dengan kondisi demikian, dapat dipastikan jika air tersebut tidak layak untuk diminum. Tapi apalah daya, gadis kecil dan wanita itu terpaksa meminumnya untuk dapat bertahan hidup.

“Kemana lagi kita harus berjalan, Bu?” tanya Gita, gadis kecil yang sudah merasa lelah.

“Kita akan coba pergi ke daerah di bawah bukit sana. Ibu pernah dengar kalau di sana ada sebuah desa yang cukup makmur.”

“Apa Ibu yakin? Selama ini kita sudah berjalan ke banyak tempat, tapi setiap kota atau desa yang kita singgahi, semuanya dilanda kemiskinan. Pengungsi seperti kita tak memiliki tempat untuk pulang.”

Ibu Gita tersenyum pahit. “Apa boleh buat, Nak. Bumi sudah mulai sekarat. Cuaca ekstrim yang terus terjadi membuat bumi tak seimbang lagi. Sebagian daerah dilanda banjir terus-menerus, sementara sebagian lagi mengalami kekeringan selama bertahun-tahun. Tapi bukan berarti tak ada tempat untuk berteduh. Ibu yakin bumi masih menyimpan tempat yang indah di sisi lainnya.”

Gita memaksakan diri untuk tersenyum. Meskipun tidak berharap banyak akan kehidupan yang lebih baik, tapi asalkan bisa menikmati makanan enak dan segarnya air, itu semua sudah lebih dari cukup. Tidak ada waktu untuk meratapi hidup, mengingat semua manusia di bumi telah mengalami goncangan alam yang begitu hebat. Tidak hanya mereka yang memiliki kemampuan lebih, tetapi mereka yang hidup dalam garis kemiskinan juga merasakan dampak yang sama rata.

Setelah beberapa kilometer menempuh perjalanan, Gita dan sang ibu memilih untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon. Teriknya sinar matahari telah membakar raga hingga membuat mereka kembali merasa haus. Sayang seribu kali sayang, tidak ada sumber air terdekat yang bisa diambil untuk diminum. Setengah menyerah, Gita hanya menghela napas sambil menatap penuh harap pada gumpalan awan hitam dikejauhan supaya meneteskan air hujan agar dapat mereka minum.

***

Awan mendung yang menghiasi langit siang ini, serupa dengan raut wajah Pak Herdi yang sedang mengendarai mobil bak terbuka miliknya. Ada banyak peti-peti kayu yang diangkut kali ini. Itu pula yang membuat perasaan Pak Herdi teramat sedih. Beberapa kali ia menghela napas dengan mata hampir menangis. Perasaan gundah dan resah menjadi teman sepanjang perjalanannya menuju tempat pembuangan sampah terbesar yang terletak di atas bukit.

Ketika sampai di tempat tersebut, bau menyengat pun mulai tercium. Aroma tak sedap itu berasal dari berbagai macam limbah yang dikumpulkan dari seluruh pelosok daerah. Banyaknya sampah yang tidak terolah sudah menyerupai gunung dengan lalat-lalat sebagai penghuninya. Di satu sisi, sekumpulan orang masih mencari penghidupan dengan mengais-ngais tumpukan sampah yang ada.

“Apa itu?” tanya seorang bocah lelaki berpenampilan kumal, ketika Pak Herdi mulai menurunkan peti-peti kayu dari mobilnya.

“Bangkai ayam,” jawab Pak Herdi.

“Bangkai ayam? Sebanyak itu?”

“Mereka mati karena cuaca ekstrim.”

“Cuaca ekstrim?”

“Iya. Saat ini kita mengalami yang namanya krisis iklim, dimana salah satunya adalah cuaca ekstrim seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir. Tiba-tiba angin topan dan banjir melanda terus-menerus. Akibatnya membawa dampak buruk bagi peternak ayam seperti Bapak. Perubahan cuaca yang begitu mendadak membuat banyak ayam Bapak mati karena sakit,” kata Pak Herdi menjelaskan.

Bocah lekaki itu hanya mengangguk dan memerhatikan Pak Herdi yang kembali menurunkan peti-peti kayu berisi bangkai ayam miliknya. Setelah selesai menurunkan semua peti, Pak Herdi menyiramkan bensin ke peti-peti tersebut dan membakarnya. Seketika, aroma daging panggang tercium memenuhi area pembuangan sampah.

“Sayang sekali ayamnya dibuang,” kata bocah lelaki tersebut.

Pak Herdi tersenyum tipis, “Kau tak boleh memakannya, ya. Ayam yang mati mendadak biasanya sakit akibat bakteri. Karenannya tak layak untuk dimakan.”

“Kenapa tak dikubur saja?” Bocah itu kembali bertanya.

“Seandainya bisa,” jawab Pak Herdi. “Masalahnya, tempat tinggal Bapak selalu dilanda banjir. Tanahnya juga sering amblas kalau sudah masuk musim hujan. Jadi, tak bisa untuk mengubur bangkai sebanyak ini.”

“Bumi telah hancur dan kita manusia adalah penyebab utamanya,” ujar bocah tersebut.

“Kau benar. Sekarang yang mampu kita lakukan hanyalah bertahan hidup dan berharap ada akan kehidupan baru yang lebih baik.”

Setelah mamastikan semua bangkai ayam habis terbakar, Pak Herdi pun kembali pulang ke rumahnya yang terletak di bawah bukit. Setengah perjalanan, rintik-rintik hujan mulai turun disertai angin yang bertiup kencang. Hanya dalam hitungan menit, hujan lebat mulai mengguyur hingga membuat jarak pandang Pak Herdi menjadi terbatas.

Setelah menuruni bukit, Pak Herdi melihat seorang gadis kecil dan seorang wanita sedang berjalan kaki di tengah guyuran hutan. Gadis kecil dan wanita tersebut adalah Gita dan ibunya. Tanpa pikir panjang, Pak Herdi menghentikan mobilnya untuk menawarkan tumpangan kepada keduanya.

“Kalian mau kemana?” tanya Pak Herdi setelah Gita dan sang ibu sudah duduk di dalam mobil.

“Kami ingin mencari tempat tinggal yang lebih aman dari tempat tinggal kami sebelumnya,” jawab Gita berterus terang.

“Memangnya apa yang terjadi dengan tempat tinggalmu sebelumnya?”

“Sudah terbakar dan rata dengan tanah,” jawab Gita lirih. “Malam itu tiba-tiba api dari hutan datang dan membakar semuanya, termasuk rumah-rumah kami. Karena tanah gambut, maka api dengan cepat menjalar.”

“Oh, jadi sekarang kalian ingin mengungsi ke tempat lain?”

Gita mengangguk. “Iya. Aku dan Ibu ingin mencari tempat tinggal yang aman.”

“Tak ada lagi tempat tinggal yang aman di bumi. Dimana pun kita tinggal, bencana alam pasti ada,” kata Pak Herdi menanggapi.

“Tapi di sini ada hujan, sementara di tempat tinggalku tak pernah lagi turun hujan. Terakhir kali hujan turun sekitar tiga tahun yang lalu. Mata air juga jauh di desa lain. Karena itu desaku dilanda kekeringan yang sangat parah. Ditambah lagi dengan tanah yang mudah terbakar.”

Sang ibu yang mendengarkan hanya menunduk sedih, sementara Pak Herdi merasa iba.

“Kalau begitu apa yang kita pikirkan terbalik, ya. Bapak ingin sesekali hujan tidak turun, karena bila hujan turun, tempat tinggal Bapak pasti langsung banjir. Para petani tak bisa menanam sayur-sayuran. Para peternak harus kehilangan hewan ternak karena tersapu banjir atau mati tenggelam. Sama seperti yang Bapak alami saat ini.”

“Memangnya apa yang terjadi pada Anda?” tanya ibu Gita menimpali pembicaraan.

“Ayam saya banyak yang mati karena banjir kemarin. Setiap kali hujan turun, air pasang langsung datang dan menerjang apa pun yang dilaluinya. Saya tak bisa menyelamatkan ayam-ayam ternak saya hingga banyak yang mati tenggelam. Kalaupun ada yang selamat, kebanyakan tetap mati karena sakit.”

Wajah Pak Herdi kembali sedih. Gita sendiri hanya bisa merenung dan turut merasakan apa terjadi pada beliau. Untuk mengalihkan rasa sedihnya, Gita memilih untuk memerhatikan jalanan yang tampak putih akibat tertutup hujan deras.

***

Kuatnya angin serta derasnya hujan membuat kebun milik Dokter Limbu porak poranda. Beberapa jenis tanaman obat yang tadinya tumbuh subur, kini tampak sangat berantakan. Dokter Limbu hanya bisa menghela napas saat melihat kebun tanaman obatnya mulai hancur diterpa angin. Mila, sang keponakan yang tinggal bersama beliau, ikut menyaksikan semuanya.

“Apa yang harus kita lakukan, Paman?” tanya Mila.

“Tak ada. Sekuat apa pun kita, kita tak akan mampu mengalahkan kodrat alam,” gumam Dokter Limbu.

“Padahal kita sudah berusaha merawat tanaman itu. Sekarang alam dengan mudahnya merusaknya!” gerutu Mila kesal.

Dokter Limbu tersenyum lebut, “Ini bukan salah alam. Kita yang harus menerima kenyataan kalau bumi perlahan mulai hancur. Tak sedikit pula bencana terjadi akibat ulah manusia, tetapi ada juga yang memang terjadi karena faktor cuaca. Karena itu, sebagai manusia kita mesti menjaga lingkungan supaya generasi masa depan bisa tetap bertahan dan merasakan hidup yang lebih baik.”

Mila mengangguk sambil tersenyum. Bagi Mila, apa yang selalu dinasihati pamannya adalah sebuah semangat untuk tetap bertahan hidup di tengah kondisi alam yang semakin ganas. Tidak lama setelah hujan mulai reda, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah Dokter Limbu. Seorang pria bersama seorang gadis cilik dan wanita tua, turun dari mobil dan berjalan memasuki pekarangan rumah sang dokter.

“Herdi!” Dokter Limbu menyambut tamunya.

“Oh, Limbu,” sapa Pak Herdi.

“Aku tak memesan ayam untuk hari ini,” kata Dokter Limbu setengah bercanda.

“Aku tahu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Pak Herdi sambil menoleh pada Gita dan ibunya yang masih berdiri beberapa meter di belakang.

“Kalau begitu masuklah dulu,” kata Dokter Limbu mempersilakan ketiganya masuk.

Setelah duduk dan saling berkenalan, Pak Herdi langsung menyampaikan tujuannya, yakni meminta Dokter Limbu untuk menampung Gita dan sang ibu. Gita dan ibunya pun terkejut, karena mereka tidak menyangka jika Pak Herdi meminta temannya untuk menampung mereka.

“Boleh saja,” jawab Dokter Limbu cepat. “Saya tak keberatan karena rumah ini sebelumnya juga panti asuhan. Tapi karena sepuluh tahun lalu surat izinnya dicabut, maka anak-anak dipindahkan ke panti asuhan lain. Kalau mau, Ibu dan Gita boleh tinggal di sini,” kata Dokter Limbu menambahkan.

Perasaan Gita teramat bahagia, begitupun dengan ibunya. Mereka tidak menyangka jika akhirnya ada yang bersedia untuk menampung mereka. Berkali-kali Gita dan ibunya mengucapkan terima kasih pada Dokter Limbu yang bersedia menampung mereka dan Pak Herdi yang membawa mereka ke tempat tersebut.

***

Pagi-pagi sekali Dokter Limbu dan Mila turun ke halaman untuk membereskan kebun kecil mereka yang dilanda angin dan hujan deras kemarin siang. Mila sangat sedih melihat tanaman obat yang selama ini ia rawat, hancur berantakan. Ia pun dengan sabar membereskan dan memisahkan tanaman lain yang masih bisa diselamatkan.

“Boleh kubantu?” tanya Gita yang datang menghampiri keduanya.

“Oh, Gita. Ayo, sini!” kata Dokter Limbu. “Tolong susunkan lagi tanaman-tanaman ini di rak sana, ya!” pinta beliau.

Gita mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya. Baru beberapa menit bekerja, tiba-tiba Dokter Limbu kedatangan pasien.

“Bapak tinggal dulu, ya. Jangan paksakan diri kalau capek,” pesan Dokter Limbu pada keduanya.

Gita tersenyum. Ia pun melanjutkan tugasnya bersama dengan Mila. Suasana tiba-tiba hening, hingga akhirnya Gita mengambil inisiatif untuk mengajak Mila bicara duluan.

“Terima kasih karena memperbolehkan aku dan Ibuku tinggal di sini,” kata Gita.

Mila tersenyum manis, “Sama-sama. Aku juga senang karena bisa punya teman. Sudah lama sekali sejak teman sepermainanku pergi dan tinggal di kota lain,” kata Mila.

“Apa selama ini kau hanya tinggal dengan Dokter Limbu?”

Mila mengangguk, “Iya. Orang tuaku meninggal karena gempa saat aku berumur tiga tahun. Sejak saat itu aku diasuh Paman Limbu. Beliau adalah adik dari Ibuku.”

“Begitu… Ngomong-ngomong, sepertinya Dokter Limbu suka menanam tumbuh-tumbuhan, ya?” tanya Gita mengalihkan pembicaraan.

“Iya. Paman biasanya mengandalkan tanaman untuk mengobati pasiennya kalau obat-obatan sulit diperoleh. Jarak tempuh dari sini ke kota lumayan jauh, ditambah dengan keadaan cuaca yang sering berubah-ubah. Belum lagi harga obat-obatan yang sangat mahal, sehingga Paman tak mampu membelinya. Karena itu Paman memutuskan untuk menanam sendiri tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai obat.”

“Pamanmu hebat!” salut Gita.

Mila tersenyum bangga, “Pastinya, dong! Sewaktu muda Paman sudah belajar ilmu kedokteran dari berbagai negara. Tapi Paman telah memutuskan untuk mengabdikan diri di sini. Paman ingin menolong orang-orang yang kurang mampu supaya bisa mendapatkan pengobatan yang layak.”

Gita semakin kagum dengan sosok Dokter Limbu. Tidak hanya baik, tetapi ia juga merasa jika beliau adalah orang yang berwibawa dan rendah hati. Melakukan pekerjaan mulia untuk menyelamatkan banyak nyawa.

“Kelak, aku ingin meneruskan jejak Paman untuk menolong banyak orang. Karena itu aku mulai belajar berbagai macam tanaman obat-obatan,” kata Mila sambil merapikan tanaman yang masih berantakan.

“Aku pasti akan mendukungmu!” kata Gita memberi semangat.

“Hehehe… Terima kasih.” Mila tersipu malu. “Paman pernah bilang padaku, meskipun zaman semakin maju, tetapi kalau tak didukung dengan pelestarian alam, maka semuanya akan sia-sia. Alam akan berbalik marah kalau tak dijaga. Sebagai generasi penerus masa depan, aku ingin menjaga alam kita dengan mulai melakukan hal-hal sederhana.”

“Hal-hal sederhana?”

“Iya. Salah satunya tidak membuang sampah sembarangan dan menanam pohon. Kita memang tak bisa melawan alam, tetapi setidaknya kita bisa melestarikan alam.”

Gita mengangguk setuju. Ia sependapat dengan Mila, karena rumahnya terbakar bukan karena alam, tetapi karena manusia yang melakukan pembakaran untuk membuka lahan baru. Akibatnya banyak orang yang dirugikan, termasuk dirinya dan sang ibu.

***

Bocah lelaki yang menjadi pasien Dokter Limbu kini menangis meronta-ronta. Penyakit kulit yang menyerang kedua kakinya, menyerupai bisul dan mengeluarkan nanah. Karena tak sanggup menahan sakit, bocah itu terus menangis. Sang ibu yang menemaninya hanya bisa mencoba untuk menenangkan.

Dokter Limbu berusaha melakukan pengobatan dengan meramu beberapa jenis tanaman obat, lalu mengoleskannya pada bisul tersebut. Hampir setengah jam sang bocah menangis, hingga akhirnya ia merasa sedikit membaik dan diizinkan pulang. Apa yang dilakukan Dokter Limbu sangat menarik bagi Gita, yang sebelumnya tidak pernah berobat ke dokter.

“Anak tadi sakit apa, Pak?” tanya Gita pada Dokter Limbu yang sedang beristirahat.

“Oh itu… Dia terkena alergi kulit akibat air kotor. Kalau sudah banjir, penyakit seperti diare atau sakit kulit mudah sekali menyerang. Tak hanya anak-anak saja, tapi orang dewasa juga rentan terkena. Untuk itu kita harus waspada kalau banjir datang.”

“Di tempat tinggalku sudah tiga tahun tak turun hujan, jadi kami hanya mengalami kekeringan saja.”

Dokter Limbu termenung. “Begitu ya… Sekarang manusia harus bersiap-siap menghadapi krisis iklim. Kalau tidak, generasi muda seperti kalian akan terus menghadapi kondisi seperti ini. Yah, Bapak hanya bisa berharap semoga pelestarian alam akan tetap terjaga. Karena semaju apa pun zaman, kalau alam sudah rusak, maka tak ada lagi tempat untuk berlindung.

Gita mengangguk. “Iya, aku juga berharap begitu.”

Dokter Limbu tersenyum sambil mengelus kepala Gita. “Sekarang itu akan menjadi tugasmu di masa yang akan datang! Ciptakanlah lingkungan yang bersih dan sehat. Dengan begitu harapan baru untuk bumi yang lebih baik pasti bisa terwujud!”

Gita mengangguk cepat. Apa yang disampaikan Dokter Limbu akan menjadi kekuatan baginya untuk terus menjaga lingkungan. Krisis iklim mungkin memang sulit untuk dicegah, tetapi sebagai generasi masa depan, ia ingin mengubah kehidupan disekitarnya menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *