Cerpen #298; “Bagaimana Nasib Anak-Anak Gue Nanti?”

“Ngiiiiing,”

Suara teko pemanas air membangunkanku. Kepalaku refleks menoleh ke jam dinding, pukul 08.06. Aku mulai menegakkan tubuhku dari kursi, tadi tertidur sebentar menunggu air di teko mendidih.

Aku berjalan mematikan kompor, menyeduh kopi pagiku. Hari ini sabtu, jadi aku bisa bersantai sedikit pagi ini, berencana menikmati kopi panas dengan roti sambil menonton Youtube, berharap ada tontonan bagus yang lewat di beranda.

Ada satu video yang terlihat menarik, thumbnail-nya menampilkan tulisan besar, “KRISIS IKLIM AKAN BERUJUNG KEPUNAHAN”, serta terdapat gambar dinosaurus dan asap dari pabrik. Menarik sekali. Durasi video-nya singkat saja, hanya 2 menit 4 detik. Aku pun menekan video tersebut.

Isinya cukup cliché, tentang bagaimana suhu bumi yang terus meningkat, terjadinya kebakaran hutan, serta akibat-akibat lainnya dari naiknya suhu bumi. Bagaimana hal tersebut dapat berpotensi punahnya tumbuhan, serangga, ikan, burung dan mamalia hingga 10-20%. Kamu yang membaca ini dan sering update berita terbaru pasti lumayan sering mendengar sudah beberapa satwa di dunia yang mulai punah.

Di video juga ditampilkan penggunaan bahan bakar fosil yang kita gunakan sehari-hari yang melepaskan gas rumah kaca. Ah, tunggu, aku lupa kopiku. Oke, aku sudah menyeruputnya kita lanjutkan menonton video. Di akhir video mereka menampilkan kata-kata dari Achim Steiner selaku Administrator Program Pembangunan PBB, “Dunia terus menghabiskan miliaran dolar untuk subsidi bahan bakar fosil, sementara ratusan juta orang dalam kemiskinan. Ada cara yang jauh lebih efisien dan tidak perlu mendistorsi seperti cara kita saat ini membuat dan menggunakan fosil, ada alternatif bahan bakar artifisial yang lebih murah dan ramah (lingkungan) untuk digunakan.” Begitu katanya. Video pun berakhir, aku mencomot roti yang sedari tadi ku biarkan saja.

Jika berbicara masalah krisis iklim ini pasti tidak pernah ada habisnya. Masalah ada, solusi juga sudah mulai disediakan. Tapi tetap saja, selalu, penyebab masalah yang menang. Dari orang yang malas untuk berjalan kaki menuju kedai sebelah rumahnya dan lebih memilih mengendarai motor saja penyebab masalah. Bandel sekali jika diberi tahu. Padahal hal itu bukan saja berdampak pada meningkatnya gas rumah kaca, tetapi juga kesehatan mereka. Sudahlah krisis iklim, krisis kesehatan pula. Aku kembali menyeruput kopiku.

Mungkin orang-orang yang aware akan masalah ini sudah tahu penyebab dari terus menerusnya manusia melakukan kegiatan penyebab krisis iklim meski sudah banyak tersebar dimana-mana berita ataupun ajakan-ajakan untuk menjaga bumi, menjaga masa depan bumi dan generasi masa depan lebih tepatnya. Orang-orang ini belum terlalu merasakan dampaknya untuk sekarang, mereka tahu apa yang mereka perbuat itu salah, tetapi memilih untuk menunda. Lagi pula yang lain masih melakukan kegiatan itu ‘kan? Begitu pikir mereka.

Selagi aku sibuk dengan pikiranku sendiri, dari kejauhan terdengar suara motor ke arah kos-an ku, kemudian berhenti. Aku pun berdiri, ingin tahu siapa yang mampir.

“Hoi, Agam, bantuin gue nyelesain tugas dong, deadline sore ini, nih,” itu Theo, mahasiswa sekampus denganku yang sudah jadi sobatku semenjak SMA.

Aku tergelak, “Kebiasaan lo, deadline sore baru dikerjain pagi ini,”

“Kan deadliner bro. Pokoknya lo bantuin aja, nggak usah banyak bacot.”

Aku mengedikkan bahu. Membuka pintu lebih lebar agar Theo bisa masuk. Terlihat Theo rusuh sekali dengan tas lumayan besar yang ia bawa.

“Ngapain, nih, bawa tas segede gaban,”

Theo mengeluarkan benda-benda dari tasnya, “Lo liat aja,” ada kamera serta tripod. Terlihat jelas kalau ia akan membuat tugas video.

“Gue disuruh bikin tugas wawancara, lo nanti jadi narasumber gue. Kerjaan lo ga susah kok, tinggal ngapalin teks yang udah gue bikin. File teks jawabannya gue kirim lewat Whatsapp aja.”

“Oke, siap.”

Theo mulai mengatur letak kameranya, memilih posisi yang bagus. Beruntung kosku rapi jadi tak terlalu terlihat memalukan jika masuk ke dalam video meskipun perabotannya tak bagus-bagus amat. Sedang Theo mengatur kamera, aku mulai membuka teks yang dikirim Theo. Menghafal jawaban yang harus ditampilkan nanti.

Setelah dirasa mantap dan lancar, kami mulai take video. Berlangsung selama kurang lebih setengah jam tanpa gangguan.

“Weh, kenapa, nih, tumben amat bikin tugas video tapi super lancar jaya,” Theo menge-cek kembali video, kemudian mengangguk-angguk, memuji dirinya yang tampil bagus.

“Kan dibantu gue, makanya. Coba aja lo minta tolong Dedi, bisa 100x take, tuh, karena lupa mulu dia,” aku tertawa dan Theo tertawa.

Theo mulai merapikan barang-barangnya, memasukkan kembali kamera dan tripod k etas, kemudian meleltakkan kursi ke tempat semula. Aku menyomot roti yang sedari tadi ku abaikan, ku sodori sisanya ke Theo karena tadi lupa menawari, dia pun memakannya.

“Habis ini lo ngapain bro?” tanyanya dengan mulut yang masih penuh dengan roti.

Aku menyeruput kopiku yang belum tandas, “Ga tau lah, rebahan aja kayanya, belum ada tugas mepet deadline gue,” aku memakan sisa roti di tangan. Theo ber-oh, kemudian berjalan menuju teko, berniat memanaskan air dan menyeduh kopi juga.

Lagi-lagi dari kejauhan terdengar suara motor yang juga berhenti di depan kos-ku. Ini ada apa pagi-pagi sudah ada dua tamu yang berkunjung. Ku longokkan kepala ku ke arah pintu, muncul kepala Dedi dan Romi dari helm. Ralat, bukan dua orang tamu, tapi tiga sekaligus. Aku yang berencana ingin rebahan saja menikmati sabtu pagi malah diganggu orang-orang ini.

“HOI, sobat-sobat!” Dedi melambai-lambaikan tangan, mulai masuk ke dalam kos disertai Romi. Mereka berdua tampaknya habis olahraga, entah jogging atau bermain basket dengan teman-temannya yang lain, yang jelas sekarang mereka memakai baju olahraga dan berkeringat.

“Kopi bro?” Theo yang masih menunggu air mendidih menawarkan. Romi dan Dedi mengangguk, mengacungkan jempol serta dua jari tanda meminta dua kopi.

“Wei, kalian pada liat trending twitter ga?” Dedi tiba-tiba menyeletuk.

Theo yang selesai menyeduh kopi bergabung, “Trending apa?” tak lupa ia mengambil sisa roti yang belum kumakan tadi.

Dedi menyodorkan smartphone-nya, memperlihatkan trending twitter tentang gunung es terbesar di Antartika runtuh.

“Gila, sih, ini katanya segede kota London. Gunung es udah pada mulai mencair gara-gara pemanasan global, nih,” Dedi menyerocos sambil tangannya meraih gelas kopi.

“Lo baca dulu bener-bener, itu karena proses alamiah, cuy, bukan karena iklim,” Romi terkekeh. Aku dan Theo mengangguk-angguk setuju, disitu tertulis runtuhnya gunung es itu disebabkan proses “calving”.

Dedi tersedak karena malu, “Tapi tetap aja,” lanjutnya tak mau kalah, “Lo bayangin gunung es segede itu mencair, segede London, woi, bayangin. Ditambah kalau misalnya nanti ada gunung-gunung es lain yang bakal runtuh lalu mencair gara-gara suhu bumi tambah panas, apa, ga, bakal kelelep kita?”

Aku, Romi, dan Theo mengangguk-angguk. Betul juga, sih.

“Di tambah katanya 2050 diprediksi Jakarta Barat sampe Utara bakal tenggelam kalau air laut tambah tinggi,” Romi menambahkan.

“Kan! Haduuhh, gimana anak-anak gue nanti bakal hidup dengan baik, ya. Bumi makin panas, polusi makin banyak,” Dedi berhenti berbicara karena menyeruput kopinya. “Sampah makin banyak, ketersediaan air bersih jadi makin kurang, laut kotor yang bikin ekosistem laut tercemar, kekeringan ditambah suhu panas menyebabkan kebakaran hutan kemudian spesies pun jadi menurun. Area pertanian jadi berkurang, dan jangan lupa! Dari itu semua juga bakal berdampak ke kesehatan,” Dedi menggeleng-gelengkan kepalanya, “Pusing gue,”

Semua dampak dari krisis iklim yang dituturkan Dedi benar adanya. Sudah diprediksi jika hal tersebut akan terjadi kalau krisis iklim tetap tidak ditanggulangi.Tentu hal ini miris sekali membayangkan generasi-generasi kedepannya akan merasakan dampak tersebut. Kita yang saat ini masih bisa menikmati udara segar jika berkunjung ke pegunungan, masih bisa menikmati air bersih, masih ada laut bersih untuk berenang, masih bisa menikmati hari dengan suhu matahari yang, ya..terkadang sangat panas tapi tidak sepanas yang akan terjadi di masa depan. Serta kita yang masih bisa menikmati cuaca yang kalau extreme, terjadi kadang-kadang saja. Tapi, bagaimana generasi 20 hingga 30 tahun berikutnya? Apa masih bisa merasakan yang sama? Bagaimana jika nanti mereka harus menghadapi cuaca extreme setiap hari sehingga penyakit dimana-mana? Bagaimana nanti jika kekeringan terjadi dimana-mana? Bagaimana juga dengan hewan-hewan serta tumbuhan? Apa semua akan punah?

“Gue jadi keinget film ‘The Day After Tomorrow’, bukan hanya panas yang nanti bakal dirasain, tapi daerah-daerah utara juga jadi membeku akibat perubahan iklim yang ekstrem. Bakal banjir dimana-mana, lalu daerah-daerah bisa hancur karena angin topan.” Theo menambahkan.

Kami berempat kemudian terdiam sambal menyeruput kopi dan memakan roti. Aku menoleh ke luar, melihat dua motor terparkir di depan kos.

“Btw, kita ngebahas krisis iklim tapi lihat,” Romi menunjuk motor Dedi dan Theo, “Kita masih bawa motor pribadi which is bikin nambah polusi udara yang bakal ningkatin efek gas rumah kaca,”

Aku tergelak sedangkan Dedi dan Theo cengengesan.

“Terus, tuh,” Romi menunjuk kamar mandiku, “Hemat listrik Gam, lo mau bikin pemakaian batu bara makin banyak?”

Aku tersedak, giliranku yang kena. Cepat-cepat kumatikan lampu kamar mandi, Theo dan Dedi terbahak-bahak melihatku.

Romi menghabiskan kopinya, “Yaudah, daripada kita ngeluh ga jelas dan udah sadar juga sama apa yang bakal terjadi nanti akibat kelakuan-kelakuan yang bisa menyebabkan krisis iklim, kita mulai dulu dari diri kita buat ningkatin kesadaran kemudian mempraktekkan kegiatan-kegiatan yang bisa ngurangin pemanasan global,”

“Apa aja tuh Bapak Romiiii,” Dedi tergelak.

“Mulai hemat listrik, ngurangin polusi dengan memakai kendaraan umum, buang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, kurangi penggunaan AC, beli barang hemat energi seperti lampu LED dan lain-lain. Lo cari lanjutnya lah di smartphone, teknologi udah ada, kok. Jangan lupa buat diterapin dengan teratur supaya jadi contoh buat yang lain. Mahasiswa harus ngasih pengaruh baik, ya, ga, sih, bro?”

“Betul sekali Bapak Romi, seratuusss,” Dedi bertepuk tangan. Aku dan Theo ikut bertepuk tangan sambal tergelak.

“Hahahaha, mantap. Tadi gue liat di Instagram, besok pagi bakal ada acara Climate Change Festival online, lo pada kudu ikut, jangan cuma banyak omong doang tadi.” Romi memperlihatkan poster acara dari smartphone-nya kepada kami.

Dedi terlihat keberatan, tampang-tampang tidak ingin ikut.

“Eh, gue ga bisa, besok gue ada acara,” Dedi menyeruput kopinya hingga tandas.

“Apa? Gue tau besok lo ga sibuk, ikut aja. Dia yang paling nyerocos dari tadi tapi nggak mau gerak, kerja nyata, dong, bos,”

Kalau soal singgung-menyinggung serahkan saja pada Romi, dia rajanya.

Dedi menghembuskan napas. “Oke, demi generasi masa depan, demi anak cucu gue nanti, gue bakal ikut dan ngorbanin waktu rebahan minggu gue.” Dedi mengakhiri kalimatnya dengan (sok) mantap.

Kami bertiga terbahak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *