Cerpen #297; “PENGEMBARA DAN KUTUKANNYA”

Dingin mulai menggenggam ujung permukaan karang. Lama kelamaan, genggamannya berubah menjadi cengkraman yang menyusup hingga ke lubang –lubang kecil di permukaannya.  Karang pun hendak protes pada arus air yang membawa panas.  Sejak dahulu, panas memang terkenal picik.  Meskipun awalnya mengahngatkan suasana, namun ia membawa senjata mematikan yang diam-diam mengikis kekuatan seluruh makhluk di dasar laut.  Namun, batinnya kelu. Kali ini senjata yang dibawa oleh panas sepertinya telah melumpuhkan saraf sang karang.  Ia tak mampu melakukan apapun, tubuhnya hanya terdiam meskipun segenap badannya terasa sedang meleleh.

Karang pun resmi dinyatakan lumpuh sesaat. Di puncak rasa sekaratnya, secercah sinar datang membungkus karang dan melepaskan karang dari cengkraman panas yang dibawa arus.  Sang panas pun merasa takut, ia segera bersembunyi di balik tubuh arus yang gemulai. Cahaya itu pun berkata, “Pergilah kau, dan jangan pernah kembali !” seraya melayangkan pukulan ganasnya kepada arus. Mereka pun melenguh kesakitan. Air mukanya segera berubah menjadi masam. Matanya menyorotkan kebencian. Akhirnya, arus dan panas pun lari pontang-panting.

Di suatu tempat yang tenang, mereka berhenti.  Arus melepaskan panas keluar dari tubuhnya. Ia pun bertanya kepada panas, “Apakah kau mulai menikmati dirimu sendiri ?” Seraya menyunggingkan sedikit bibirnya ke salah satu sisi wajahnya, panas berkata, “Seharusnya aku yang bertanya padamu, wahai arus.  Bukanlah kau ada muara huru-haranya ?” Arus pun tertawa terbahak-bahak.  Namun sedetik kemudian, tangannya bergerak cepat menggenggam rahang sang panas dan mengangkatnya sambil menegaskan suaranya, “Aku dan kamu adalah kutukan. Jadi, nikmati saja kutukan ini bersamaku.” Saat itu, panas mulai hendak melepaskan senjatanya.  Arus pun kemudian melepas genggamannya dan tertawa mengejek sambil berkata, “Asam dalam dirimu tak akan pernah berhasil menyerangku.  Terima sajalah takdirmu bersamaku.” Ia pun memandangi lawan bicara dengan tatapan penuh kekecewaan.

Sesungguhnya panas hanyalah produk dari keserakahan manusia yang berambisi mempermudah kehidupannya.  Namun para manusia tidak menyadari bahwa pada akhirnya, mereka menciptakan sebuah kutukan.  Kini, panas harus hidup sebagai kutukan yang dibenci oleh seisi laut.  Ia pun hidup dengan membenci dirinya sendiri

Sementara karang masih terengah-engah setelah tubuhnya sekan dilumpuhkan.  Nafasnya tersengal.  Susah payah ia menggerakkan bibirnya dan menggerakkan otot di sekililing pita suaranya.  Dengan suara lirih, ia mengucapkan “Terimakasih.”

Secercah cahaya itu menjawab, “Tidak perlu berterimakasih” sambil tersenyum.  Tatapannya sungguh amat lembut bagaikan embun di pegunungan.  Ia pun membelai lembut terumbu karang dan mendekatkan diri ke telinganya “Aku hanya diperintah oleh langit untuk melindungi seluruh kehidupan di wilayah ini.  Aku dengar, ini adalah berkat doa para manusia yang masih berhati nurani.  Jadi, berterimakasihlah pada mereka, bukan padaku.”

Ia sungguh terkejut mendengarnya.  Ia pun bertanya-tanya bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Cahaya itu pun merangkul karang dan berkata, “Semua hal di dunia ini selalu mengarah pada keseimbangan.  Kehancuran kelak akan kembali pada kemunculan sesuatu yang lebih baik.  Siklus itu tercipta karena ada segenggam doa baik yang merambat ke langit setiap harinya.  Itulah buah dari kebaikan segelintir makhluk yang tulus mengharapkan kebaikan untuk dunia.”

Kata-kata itu sulit dicerna oleh karang.  Namun, daya magisnya mampu menerobos relung hatinya sehingga menentramkan segenap jiwanya.  Ia pun mengangguk manis dan berkata, “Sekali lagi, sungguh aku berterimakasih.” Cahaya itu pun menjawab, “Aku punya satu pesan. Jangan terlalu membenci panas.  Sejak lahir, ia hidup dengan membenci dirinya sendiri.  Tolong jangan membencinya.”

Meskipun ia semakin tidak mengerti maksud cahaya, namun ia membiarkan saja pesannya menggelayut di dalam otaknya.  Toh suatu hari, waktu yang akan memberikan jawaban.  Ia pun mengayunkan tangannya melepas kepergian cahaya.

Tak lama, ikan-ikan kecil dan berwarna-warni kembali mendekati karang.  Mereka bertanya mengenai apa yang terjadi.  Karang pun kehabisan kata untuk menjelsakan detail kejadian yang telah menimpanya barusan.  Ia hanya tersenyum dan berkata “Aku baik-baik saja.” Mendengar jawaban tersebut, para ikan segan untuk mendesak karang menceritakan yang sebenarnya.  Akhirnya, mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.  Dalam hati, terumbu karang berbisik, “Semoga aku dan panas mulai hari akan baik-baik saja.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *