Cerpen #296; “Goresan Alam”

“Ting!”

Notifikasi itu tak lagi ku hiraukan. Ku seret jari-jemariku menikmati zona nyaman dalam keheningan. Hingga bosan dan kerumitan datang menghadang. Berkali-kali notifikasi itu membisingkan telinga yang sedari tadi kosong tanpa penghalang.

“Lihat eh!”

“Ih gilaa!

“Seriusan?”

“Kacau ini mah!”

“Apa an sih?”

Grup whatsApp yang dalam sekejap sudah menjadi pasar modern tak ku hiraukan. Ku matikan Gawaiku dari pada harus masuk dalam gosip-gosip receh mereka.

“Rindu…” ujarku.

*

“Lambat banget sih! Nanti kalo ketahuan kamu juga yang kena resikonya!”

Hanya hembusan nafas yang dapat ku berikan jawabanku padanya. Percuma! Jika aku terus melawan kata-katanya malah akan mengulur-ulur waktu. Toh, dia tidak pernah mau mengalah jika di lawan. Sekalipun ia salah. Memang benar, jika aku berlambat-lambat, orang tua ku keburu pulang dari sawah dan aku tidak jadi pergi. Setelah semuanya siap, kami bergegas untuk tancap gas menghampiri kawan-kawan lain yang telah menunggu di persimpangan jalan.

“Loh, mana?” ucapku kesal, karena disuruh bergegas tetapi nihil tidak ada orang.

Kebiasaan yang menjengkelkan. Di suruh cepat-cepat tapi akhirnya dia yag malah memperlambat.

“Evi sendirian?” tanya Doni sedikit heran.

“Bonceng angin, Don!” ucapku.

Mau tidak mau, karena yang lain sudah pas berdua-berdua, aku pun nekat untuk membawa kendaraanku sendiri. Katanya, jalannya enak dan mudah dilewati apalagi cuma sebentar.

Tanpa menunggu lama, Dika dan Raisa mengawali perjalanan kami siang itu. Hari yang cerah dan sedikit membosankan. Katanya sebentar ternyata lama. Katanya dekat ternyata jauh. Katanya mudah ternyata susah. Semua ekspetasiku untuk perjalanan hari ini ya hanya sebuah ekspetasi. Tidak mungkin jika aku pulang sendirian di tengah jalan. Jika tau kejadiannya kayak gini, lebih baik aku diam di rumah dan mengerjakan tugas sekolah yang belum ku selesaikan. Tapi, bukan aku jika berhenti di tengah jalan.

“Kalo ada lobakan jangan ngebut-ngebut, Vi!” teriak Doni ketika menyalipku.

Bagaimana tidak, lobakan dengan genangan air itu membuat sepatu dan celana ku menjadi coklat akibat genangan kotor yang tak sengaja ku tabrak dengan kecepatan yang laju tanpa bisa lagi ku eratkan rem. Perjalanan yang ternyata cukup jauh, melewati jalan yang berbelok, beberapa jalan yang terendam banjir, belum lagi jalan yang curam karena jika terjatuh mungkin kita akan jatuh ke tepian jurang-jurang dan sebelahnya gunung-gunung yang menjulang. Kurang lebih 3 jam perjalanan yang cukup ekstrim bagi seorang perempuan sepertiku. Jalanan berlumpur dan curam  membuat kami harus menitipkan kendaraan di salah satu lahan warga.

“Riska! Kakiku gak bisa di angkat!” Teriakku karena aku berjalan di bagian terakhir.

Sontak semua orang di depan menoleh ke arahku.

“Sudah tau itu lumpur yang dalam, kenapa kamu lewat situ?

Uluran tangan Doni membantuku selamat dari genangan lumpur yang menelan sebagian kakiku. Hingga…

BRAK!

Genangan lumpur yang lembek itu kini telah menyelimuti kami berdua. Melihatnya membuatku tak tega untuk tertawa walau aku sendiri tak mengaca keadaan yang sebenarnya.

“Bukannya di bantuin malah di tinggal pergi.”

“Siapa yang ninggalin? Orang di tolongin juga,” ucap doni.

“Makanya, jangan  nyela omongan orang Don. Tuh, pacarmu! Ngambek ha ha,”

Tanpa menghiraukannya kami bergegas untuk tiba di tepian sungai dengan gemericik air yang terjun bebas dari tepian. Udaranya dingin menusuk jemari. Semua letih yang kami rasakan di sepanjang perjalan terobati. Air terjun mandin damar surga tersembunyi di hutan Kalimantan Selatan. Gemericik air melompat dan terjun mengenai permukaan, tak jarang mencium bebatuan. Kejernihannya begitu menyegarkan, air yang mengaliri anak-anak sungai.

“Aaaa!”

Hewan berlendir warna hitam yang dengan asiknya mengisap darah di salah satu betis ku, sontak mengagetkan ketika kami sedang berenang bersama.

*

BRAK!

Burung yang terjatuh menabrak kaca di depanku yang ku pikir mati, ternyata masih hidup. Namun hanya beberapa bulunya yang terlepas dari badannya.

“Lecet kan kakimu!”

Ku elus dan obati burung itu agar dapat terbang mengudara kembali. Datangnya burung itu menyelesaikan kenanganku pada alam yang ku rindukan. Karena kini, sulit lagi aku menjumpainya dengan keadaan seperti dulu.

Beredar info, gemericik air itu kini tak lagi jernih. Air limbah dari atas gunung akibat penambangan liar dan penebangan pohon oleh orang-orang yang tidak mau bertanggung jawab itu membuat ku merasakan kehilangan. Air yang dulu jernih sekarang berubah menjadi keruh bercampur mercuri di atas bau mutu. Tempat hidup hewan-hewan air, kini? Sangat mengerikan, bumi mungkin sudah menangis jika di bolehkan. Tapi, siapa yang mau mendengar? Manusia memilih tuli demi nafsu dunia saja. Membolehkan segala macam cara. Legal atau tidak legal bukan menjadi penghalang, jika ada orang dalam. Beginikah bumi 2021? Bumi semakin tua, lapisan-lapisan pelindung perlahan terkelupas tak bersisa.

Apa yang dilakukan jika mantel itu itu hilang! Jika perisai itu pecah! 100 tahun lagi, 2121 pada tahun yang cantik. Orang-orang berbondong-bodng mencari perubahan dan perbadaan dari yang telah dan akan di lalui. 100 tahun lagi, tangis atau tawa yang dipilih bumi? Ketika malaikat-malaikat kecil pun tersenyum dengan manisnya, mereka hanya dapat meraba mesin waktu yang akan membawanya pada alam yang ia inginkan dan membentuk kehidupan baru di dalamnya. Tanpa kerusakan-kerusakan dengan alasan klise, tanpa tuduhan para perusak alam, tanpa tangan-tangan kotor si pecundang, tanpa tangisan yang meminta harap. Di mesin itu alam menjadi hijau, lautan membiru tanpa limbah hitam, udara bersih tanpa polusi yang tercemar, burung mengudara kemana ia suka, dan kita menginginkannya. Semua terlihat indah dan menyejukkan. Hingga mesin itu kembali rusak, keindahan itu kembali fana, terlihat dalam goresan-goresan yang tersimpan di dalam kanvas warna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *