Cerpen #295; “Inikah Buah Egoku?”

Lepas magrib dengan suara mengaji dari masjid yang masih terdengar, aku berdiri di balkon sambil menghela napas, memperhatikan sesuatu yang tidak jelas, berkedip pelan hingga mematung dalam waktu yang lama. Aku sedang sibuk dengan pikiranku, memutar-mutar kembali kejadian di masa lalu yang andai saja tidak ku lakukan.

Ketika itu, aku baru saja kembali dari Jakarta karena aku telah menamatkan kuliahku di sana. Ibu dan papa menyambutku dengan penuh haru, terlebih ibu. Jelas sekali tampak olehku mata beliau yang berkaca-kaca, senyum tulus dan rangkulan hangat dari ibu, masih terngiang di benakku. Ku hela lagi napasku panjang-panjang, agar pedih di hatiku bisa terangkat dan ku hembuskan.

“Mat, ayo masuk! Ngapain kamu bengong-bengong di balkon?” Ujar abangku, Farel.

“Haha, engga kok bang, Raimat cuma menikmati suasana senja aja,” timpalku sambil berjalan meninggalkan balkon.

“Perasaan kamu bukan anak indie deh, ah sudahlah,” sambung bang Farel yang merasa aneh dengan sikapku.

Kembali aku sendiri dalam kamar sederhana, lalu bersandar di atas dipanku. Sementara itu, bang Farel kedengarannya sudah turun dari lantai dua ini, barangkali ia hendak makan malam, karena memang di keluargaku kami jarang makan bersama, semuanya telah memiliki kesibukan masing-masing. Perutku sama sekali tidak merongrong kelaparan, sebab itu aku tidak turun bersama bang Farel. Sedangkan papa, lirih terdengar di telingaku suara kecil yang pelan sambil melantunkan ayat suci Al-Qur’an kesukaan Ibu yakni surat Ar-Rahman.

Beranjak tubuhku dari tempat tidur menuju sebuah speaker murattal kesayanganku. Speaker yang diberi Ibu sebagai kado terakhir ini, begitu berharga bagiku, penuh makna walau hanya sekejap saja. Perlahan jemariku menggenggam speaker lantas menghidupkannya. Pikiranku kembali melayang lagi di masa terakhir Ibu bersamaku.

“Ibu mungkin sudah akan meninggalkan semuanya. Kamu tidak perlu menangis Raimat, ini sudah menjadi garis hidup ibu. Ibu berpesan agar kamu mau berubah menjadi lebih baik, terlebih kebiasaan merokokmu itu. Ibu sayang kamu nak, berhentilah melakukan apapun yang membahayakanmu dan juga orang-orang di sekelilingmu nak, Ibu sayang kamu,” pesan terakhir Ibu di kala tangisku membasahi pembaringannya.

“Bu maafkan Raimat, ini mungkin nggak bakal terjadi kalau Raimat nggak sering merokok dekat Ibu dan nyalain AC sembarangan, tolong bertahanlah Ibu. Raimat janji akan berubah,” penyesalan tak henti terucap di bibirku.

“Berhentilah menyalahkan dirimu nak, Ibu ikhlas menerima cobaan ini. Masa depanmu jangan sampai hancur sebab kebiasaanmu sendiri. Terimalah hadiah kecil dari Ibu di hari ulang tahunmu ini anakku. Semoga menjadi anak yang saleh dan jangan lupa doakan Ibumu kelak”, tutup Ibu dengan suara lirih yang perlahan menghilang.

Semenjak Ibu meninggalkan kami karena mengalami ISPA, aku seolah tertampar oleh semua tindakanku, tidak hanya merokok, kebiasaanku mengendarai mengepulkan asap motor menjadi bagian dari penyesalanku kini, karena yang aku rugikan bukan saja orang-orang terdekatku, tetapi semua orang yang menghirup udara kotor tersebut. Sebelumnya aku berfikir kalau mengepulkan asap itu hal yang keren, ditambah lagi suara motorku yang seperti pembalap. Ternyata hal ini tidak hanya berbahaya tetapi juga mengancam kesehatan, bahkan nyawa orang lain. Memang terlalu egois aku di masa lalu, sekarang semuanya perlahan ku rubah, mulai dari hal mendasar seperti pola pikirku hingga melakukan kegiatan peduli lingkungan yang menjadi sebuah program di kelurahanku, Bukit Rindang.

Kamis lalu, aku mendengar kabar bahwa kebun milik Pak Ginting sudah hangus terbakar, tetapi sampai saat ini pelakunya belum ditemukan. Pak Ginting dan keluarganya tinggal di depan rumahku. Sewaktu aku kecil, aku sering pergi bermain di sana bersama anaknya, Kare. Kami dulu begitu akrab, ke mana-mana pasti saja barengan walaupun aku lebih tua empat tahun darinya. Sekarang dia masih menempuh perkuliahan di Jawa. Kalau aku tidak salah, dia ambil jurusan kedokteran di Universitas Diponegoro. Nggak cuma itu, ibunya juga pernah bercerita kepadaku sewaktu aku baru kembali kesini, katanya Kare membantu adik-adik di sekitar rumah kami untuk membaca Al-Qur’an di masa libur panjangnya. Ya ampun, idaman sekali kamu Kare, astaghfirullah aku ini.

Belakangan ini sangat jarang ku melihat Pak Ginting berjemur di perkarangannya. Kebetulan Bu Mar istrinya sedang menyiram bunga-bunga kesayangan di teras, tanpa berpikir panjang ku hampiri beliau untuk menjawab rasa penasaranku.

“Assalamu’alaikum Ibu!” Sapaku penuh basa basi.

“Iya nak Raimat, wa’alaikumussalam,” sambutnya ramah padaku.

“Ibu sendiri aja bu? Pak Gintingnya di mana Bu?” Sambungku langsung menanyakan perihal yang mengganjal di pikiranku.

“Hoo… Bapak sedang mengurus masalah kebakaran kebun sawit kami di kampung. Ibu pun tidak tau penyebabnya, semoga perkara ini bisa cepat selesai. Tidak enak hati Ibu dengan orang-orang di kampung yang terkena asap dari kebun kami,” balasnya yang masih saja memikirkan orang lain di tengah musibah yang dihadapinya.

“Baiklah Bu, semoga diberikan jalan terbaik untuk masalah ini Bu, aamiin”, tuturku.

“Aamiin, terima kasih ya nak Raimat.”

” Raimat pamit dulu Bu, assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumussalam.”

Tak berselang lama, pembantu dari Bu Mar mulai histeris memanggilnya.

“Bu Mar! Bu Mar!” Teriak Bibi sambil menangis.

“Ada apa Bi?” Pandang Bu Mar penuh kecemasan.

“Bapak Bu, tadi Bibi mengangkat telepon dari Mas Arik di kampung, katanya Bapak ditikam pelaku pembakaran kebun sawit keluarga Ibu,” ungkapnya dengan raut ketakutan.

Aku yang masih berada di pekarangan melihat Bu Mar dengan kerut cemas keningnya yang penuh keringat dingin akan terjerembab di atas rerumputan tanah. Sontak bergegasku menggotong Bu Mar ke dalam rumah. Sementara itu, Bibi menelepon abangnya Kare, Satya. Satya sendiri seumuran denganku, tapi meski kami seumuran, Satya jarang sekali berbincang denganku disebabkan orangnya yang sangat kalem, sedangkan aku bisa dikatakan nggak bisa diam anaknya.

Dalam lubuk hatiku, pertanyaan demi pertanyaan mulai berkecamuk. Masih mengganjal rasa ketidakpercayaan atas kepergian beliau. Setelah beberapa lama, Bu Mar perlahan mulai sadar. Dengan rasa khawatir kami yang belum hilang, Satya akhirnya pulang dan langsung berkabar bahwa dia juga mendapat informasi dari Mas Arik setelah Satya ditelepon Bibi tadi. Dia memberi tahu kami bahwa pelaku yang menikam ayahnya itu ternyata juga orang yang sama dengan pelaku yang membakar kebun sawitnya. Amarah yang tidak tertahankan meluap-luap di wajahnya. Ini pertama kalinya aku melihat sosok Satya yang berbeda. Bisa ku mengerti kalau dia sangat merasa kehilangan, seperti yang kurasakan dahulu.

“Orang macam apa dia itu, dasar tak punya hati,” ucap Satya dengan tarik ulur napas yang sangat cepat.

“Sabarkan hatimu nak, semoga amalan Bapak diterima di sisi-Nya,” tutur Bibi untuk menenangkan Satya.

“Aku bisa mengerti perasaanmu Satya, semua perbuatan itu pasti ada ganjarannya. Bagaimana kalau sekarang juga kita pergi ke kampungmu? Aku akan turut membantu menyelesaikan perkara ini,” sambungku yang juga ingin menguatkan Satya.

Persetujuan spontan terucap dari mulut Satya. Tanpa menunda lagi, kami langsung mempersiapkan diri. Satya berkata kepadaku bahwa ia akan menyusul karena ingin membeli semua peralatan yang dibutuhkan nantinya dan meminta bantuanku untuk mengantarkan Ibunya terlebih dahulu.

Kampung dari keluarga Satya ini bisa dikatakan cukup jauh. Kurang lebih lima jam perjalanan yang harus kami tempuh untuk tiba di sana, ditambah jalur perjalanan yang licin sehabis hujan. Baru saja kami menginjakkan kaki di tanah desa, kabar pahit seketika menghancurkan hati kami. Bagaimana tidak, sosok yang sangat mencintai ayahnya itu, kini juga telah menyusul kepergiannya. Satya menabrak mobil di depannya yang tiba-tiba berhenti akibat longsor  di jalan tersebut. Motornya begitu rusak dan Satya kehilangan banyak darah sehingga tidak terselamatkan lagi. Sungguh menjadi tamparan keras bagiku, kepergian orang-orang di sekelilingku, tak terlepas dari ulah manusia egois, seperti yang ku lakukan dahulu. Betapa indahnya bumiku jika penghuninya bersatu untuk merawatnya. Andai saja itu tak sekedar mimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *