Cerpen #294; “Punca”

“Bu, berangkat dulu ya…”

“Iya, hati-hati. Nanti kalau sudah selesai langsung pulang, lho. Bantu bapak sama ibu.”

“Iya… Siap, Bu!”

Dikayuhnya sepeda ontel tua milik sang ayah, berjalan menyusuri jalan setapak yang dihimpit sawah. Rintik embun menggelitik kulitnya lembut. Angin semilir pun sesekali datang mengelus tubuhnya, menyusupkan hawa dingin yang merasuk hingga ke tulang. 

Kring kring kring… Suara bel sepeda ontel tua itu menyapa para tetangga yang tengah asyik bergelut dengan lumpur bersama lembu-lembu mereka. Masa tanam padi akan segera dimulai. Para petani mulai berjibaku menggarap sawahnya.

“Wah, sudah masuk, Yu!” tegur seorang petani seraya menyeka peluh yang melumuri tubuhnya.

“Iya, Pak. Berangkat sekolah dulu, Pak. Mari…” sahutnya diiringi senyum yang mengembang.

Bayu, seorang anak petani yang tinggal bersama ayah dan ibunya di sebuah desa di Pulau Sumatera. Ia menggemari ilmu Biologi dan berkeinginan untuk merantau ke pulau seberang demi meraih toga di IPB. Lahir dan tumbuh di keluarga yang kurang mapan, orangtua Bayu sempat menegahnya untuk mengecap bangku perguruan tinggi. Namun, ia ingin agar profesinya kelak lebih dari sekedar mengayunkan pacul. Larangan orangtua tidak lantas membuatnya bertekuk lutut pada keadaan. Ia gigih memburu beasiswa hingga berhasil menapakkan kaki di kampus impiannya.

Saat itu, di tahun 2025. Bayu berangkat pagi-pagi sekali. Semangatnya menggebu karena hari ini adalah kali pertamanya berguru sebagai seorang mahasiswa. Kos Bayu dan kampusnya tidak begitu jauh sehingga ia lebih memilih untuk berjalan kaki. Biar hemat ongkos angkot sekalian olahraga, pikirnya. Sebelum ke kampus, ia mampir di warung Ibu Kos untuk mengisi perut. 

“Bu, Bayu pesan bubur kacang ijonya satu dong,” pintanya tergesa-gesa.

“Waduh, hari ini ibu lagi nggak bikin buburnya, Nak. Soalnya di pasar nggak ada yang jual kacang ijo,” sahut Ibu Kos.

“Lah, kok bisa begitu, Bu?” tanya Bayu penasaran.

“Ibu juga nggak tahu, kata pedagangnya emang lagi kosong sejak kemarin,” terang si Ibu.

Pupus sudah harapan Bayu untuk menyantap sarapan favoritnya pagi ini. Akhirnya pisang goreng yang sejak tadi nangkring di meja ia lahap juga sebagai pengganjal perut yang sudah keroncongan.

 

Berita hari ini, pemirsa.

Kekeringan hebat melanda sejumlah daerah sentra penghasil pangan di Indonesia. Hal ini mengakibatkan para petani terancam mengalami gagal panen secara massal.

Sebuah kabar mencengangkan sampai ke telinga Bayu saat ia tengah asyik mengunyah pisang goreng buatan Ibu Kos. Ia langsung mengalihkan pandangan ke layar televisi yang berada di sampingnya. Matanya nyaris tidak berkedip.

“Ah, apa gara-gara ini stok kacang ijo kosong? Bapak, ibu, apa mereka gagal panen juga, ya?” gumamnya dalam hati.

Waktu menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Bayu beranjak dari warung dan bergegas menuju kampus. Sepanjang perjalanan, kulitnya terasa seperti dilumuri balsem. Ia berhenti sejenak untuk meraih jaket di ranselnya. Jaket itu ia kenakan, namun hawa panas justru kian terasa. Membuatnya bermandi peluh. Ya, cuaca hari ini begitu menyengat. Saking panasnya, peluhmu mungkin bisa mendidih bila menetes ke atas aspal.

“Woaaaah, masih pagi begini. Tapi kok panasnya bukan main sih?” tutur Bayu terheran-heran seraya menyipitkan matanya.

Hari pertama kuliah dilalui Bayu dengan penuh sukacita. Ia bersua dengan rekan-rekan seperjuangan baru dari berbagai daerah di Tanah Air pun dari negara tetangga. Ia mengagumi dosen-dosennya, dan nyaman dengan lingkungan kampusnya. Setelah kelas berakhir, Bayu kembali menuju kos. Setibanya di sana, ia melihat Ibu Kos dengan wajah muram bertolak pinggang di taman kecil miliknya yang terletak tepat di sebelah kamar Bayu. Hal itu mengundang rasa penasarannya sehingga ia datang menghampiri.

“Kenapa, Bu? Kok murung begitu?”

“Eh, Bayu… Ini, tanaman cabe ibu di pot mendadak mati semua. Padahal baru mau berbuah.”

“Waduh, kok bisa begini, Bu? Tanaman cabenya layu semua.”

 “Iya, ibu juga nggak tau pasti apa sebabnya. Padahal sudah rajin dirawat. Beberapa hari yang lalu juga masih sehat kok. Tapi ya itu, daunnya lama-lama jadi kering.”

“Apa jangan-jangan, cabe ibu ini mati karena kepanasan, Bu?”

“Bisa jadi sih, Nak. Soalnya akhir-akhir ini panasnya memang duaaaahsyat sekali!”

Bayangan Bayu tiba-tiba menghilang. Ia mendongak keatas. Tampak sekumpulan awan kelam yang bergulung-gulung layaknya permen kapas. Angin datang meniup tubuhnya kuat, menerbangkan debu-debu hingga menyusup ke matanya. Gemuruh pun mulai bersautan. 

“Cepat masuk, Nak! Sebentar lagi hujan lebat,” seru Ibu Kos. 

 

Bayu terkacir menuju kamarnya. Seketika, byuuuuuuurrrrrrr….. Awan menumpahkan airnya. Ia seolah mendengar percakapan Bayu dan Ibu Kos, lalu ingin memulihkan cabai-cabai yang telah sekarat akibat terbakar oleh sinar matahari. Kilat petir mengintip dari balik jendela, suaranya menggelegar hingga menggetarkan dinding kamar kos Bayu. 

“Aneh, ini benar-benar aneh. Tadi panasnya luar biasa dahsyat, sekarang tiba-tiba turun hujan selebat ini. Ngeri!” tutur Bayu. 

Guntur mulai melemah. Kini hanya hawa dingin yang tersisa, menyeruak memenuhi seisi ruangan. Teko yang duduk diatas kompor akhirnya bersiul. Bayu mengambil sekantung teh lalu menyeduhnya. Sepiring singkong rebus menjadi pendampingnya. Ia lalu duduk bersender di dinding kamar sembari menikmati kudapan itu hingga piringnya bersih. Disebelahnya, tampak ponselnya yang berkedip-kedip. Ia lantas meraih ponsel itu. Beberapa notifikasi mengambang di layarnya.

Negara Ini Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Para Petaninya Dikhawatirkan Mengalami Gagal Panen

Badai La Nina Menghantam Vietnam, Sejumlah Petani Dikabarkan Merugi Akibat Gagal Panen

Lagi dan lagi. Dua kabar mengejutkan yang menjadi pengantar tidur Bayu malam ini. Kabar itu sukses membuat bulu kuduknya merinding. Dalam sehari saja, ia sudah menerima kabar dan menyaksikan peristiwa tak mengenakkan sebanyak ini. Baginya, kabar itu tak ubahnya bagai cerita horor. Menyeramkan.

“Tadi pagi berita soal gagal panen, sekarang gagal panen lagi. Wajar saja kalau cabe ibu kos tadi sampai mati gara-gara kepanasan. Gelombang panas dimana-mana,” ujarnya sambil menahan kantuk.

Bayu membaca habis kedua artikel itu hingga kedua matanya terasa berat. Ia menjatuhkan diri ke kasur busanya, memeluk erat bantal kapuknya, lalu tertidur dengan pulasnya. Berharap mimpi indah menghampirinya malam ini, agar segala kengerian yang ia rasa dan saksikan enyah walau hanya sekejap.

Semburat cahaya jingga menyusup lewat celah-celah ventilasi. Rupanya sang surya bangun lebih awal dari Bayu. Untungnya, ini hari libur. Tidak mengapa bila Bayu bangun agak telat. Bayu berjalan tergopoh menuju pintu depan. Pintu itu dibukanya. Matanya terbelalak saat mendapati bayam yang ia tanam di baki dan diletakkan di halaman sudah dalam keadaan mengenaskan. Semua tanaman itu rebah dan mati.

“Bayamkuuuuuuu! Sialan, padahal baru juga tumbuh. Hujan kemarin sore, apa ini karena hujan asam? Hm!” gerutu Bayu sembari mengerutkan dahinya.

Benar, itu adalah ulah si hujan asam yang kemarin sore mengguyur kota Bogor. Sejak berkuliah, Bayu memang kian kerap menyaksikan fenomena alam yang mencengangkan. Ia menyadari bahwa bumi kini telah dipenuhi dengan kekalutan. Beragam rupa bencana alam datang silih berganti. Melanda berbagai tempat. Membabi buta.

“Gelombang panas, kekeringan, badai, sekarang hujan asam. Bayangkan kalau terus begini, bagaimana tanaman bisa tumbuh dengan baik?” keluh Bayu.

Bayu bersedekap. Ia dihampiri rasa was-was. Kekhawatirannya pada kondisi pangan di masa depan mulai menggeliat. Sebagai seorang terpelajar, ia tidak ingin sekedar menjadi penonton kekacauan itu. Ia pun ingin turut ambil bagian dalam mengatasi ancaman krisis pangan yang sudah jelas menanti di depan mata. Jika tidak mulai bergerak sedari kini, kocar-kacirlah para manusia nanti. Seperti kumpulan kucing yang kelaparan, pikirnya. Ditengah kegalauannya, Bayu teringat pada satu materi yang pernah ia pelajari.

“Punca! Iya, sel punca. Andai aku bisa mengembangkan satu sel menjadi dua, tiga, bahkan banyak sel, aku mungkin bisa saja membantu mengatasi persoalan pangan di masa depan. Cukup satu, tapi bisa tumbuh seribu,”  angannya, mengalir jauh.

Cita-cita mulia Bayu rupanya mendapat dukungan dari Sang Pencipta. Memasuki masa semester akhir, Bayu diizinkan untuk mengikuti magang di sebuah lembaga penelitian. Ia pun berkesempatan untuk melakukan riset mengenai sel punca bersama beberapa peneliti di sana demi keperluan tugas akhirnya. Penelitian Bayu tersebut membuahkan hasil yang selaras dengan ekspektasi. Ia menemukan bahwa satu sel punca yang diambil dari tanaman mampu memperbanyak diri membentuk sel baru sehingga dapat menjadi jalan alternatif untuk menghasilkan bahan pangan di masa depan. Oleh dosen pembimbingnya, Bayu direkomendasikan untuk melanjutkan pendidikan dengan beasiswa hingga tingkat Doktor di Negeri Sakura guna melakukan kajian lebih lanjut mengenai sel tersebut.

Bayu meraih gelar sarjana pada tahun 2029, tepat 4 tahun, dan memulai pendidikan masternya di awal tahun 2030. Di tahun ini, kondisi bumi kian mencekam. Bayu seolah telah meramal masa depan. Sejumlah negara dilaporkan mulai kekurangan bahan pangan hingga banyak negara eksportir yang perlahan menahan ekspornya demi mengamankan pasokan bahan pangan dalam negeri. Di sisi lain, lahan pertanian berkurang drastis. Hanya segelintir petani yang masih dapat bercocok tanam di lahannya. Cuaca yang kian ekstrem membuat para petani kalang kabut karena tanaman yang dibudidayakan tidak lagi dapat tumbuh dengan baik dan kerap kali mengalami gagal panen. Bahkan, negara-negara maju pun mulai kewalahan menghadapi iklim yang semakin brutal.

“Sekarang bercocok tanam susah sekali, Nak. Kemaren kami juga kena gagal panen. Musim hujan, kemarau, datangnya tidak jelas lagi. Tidak seperti dulu, sekarang cuaca semakin sulit diprediksi. Tiba-tiba hujan lebat, tiba-tiba datang kemarau. Sudah aneh betul, Nak,” keluh Ibu Bayu saat melangsungkan panggilan telepon dengannya.

Menyadari hal itu, semangat Bayu untuk berinovasi kian menggelegak. Ia mencoba menumbuhkan benih padi dan gandum di dalam ruangan. Tanaman yang tumbuh diambil sel puncanya. Sel itu kemudian diperbanyak di laboratorium hingga bisa berwujud bulir-bulir padi dan gandum. Hasilnya mencengangkan, tidak disangka eksperimen Bayu tersebut sudah cukup berhasil pada percobaan pertama. Ia menuai apresiasi dari berbagai pihak karena dinilai mampu memberikan titik terang untuk mengatasi persoalan yang saat itu sudah menjadi kekhawatiran banyak orang. 

“Sel punca ini sangat potensial untuk kita gunakan sebagai pengganda bahan pangan di masa depan. Melihat kasus gagal panen yang kian marak terjadi di berbagai negara, kedepannya akan sulit untuk memperoleh bahan pangan. Maka dari itu, tim peneliti kami mencoba untuk menciptakan bahan pangan alternatif dari sel punca ini. Dengan satu sel, kita bisa memperoleh banyak sel baru untuk dikembangkan hingga berwujud bahan pangan,” ungkap Bayu saat memberikan pidatonya di depan para petinggi dan staf organisasi pangan dunia.

Berkat kesuksesan penelitian itu pula, Bayu menjadi seorang profesor di usianya yang masih sangat muda. Ia diminta untuk menjadi dosen di universitas nomor 1 di Jepang yakni Universitas Tokyo. Namun, ia lebih memilih untuk berkarir di Indonesia dengan menjadi seorang ilmuwan.

Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa Bayu sudah berada di tahun 2040. Kini Bayu sudah berkeluarga. Ia dikaruniai seorang anak bernama Reno yang usianya menginjak 4 tahun. Drrrrt… Drrrt…… Suara getaran ponsel terdengar dari balik saku celana Bayu. Matanya masih terlalu berat untuk dibuka karena semalaman suntuk ia berjibaku menulis jurnal hingga tertidur di meja kerjanya. Drrrrt….. Drrrrrtttt…… Suara itu terdengar lagi, memaksa Bayu untuk menegakkan tubuhnya. Ia meraih ponselnya dan mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal.

“Selamat pagi, apa benar ini saudara Bayu?” tanya si penelepon.

Seketika mata Bayu terbelalak. Ia menoleh ke arah jam dinding seraya mengucek matanya, rupanya sudah pukul 6 pagi. 

“Sudah pagi? Cepat sekali, aku bahkan tidak merasa kalau aku sudah tidur,” gerutunya dalam hati.

“Iya, benar. Saya Bayu. Dengan siapa saya bicara, ya?” tanya Bayu penasaran.

“Saya dokter yang merawat anak anda. Sulit mengatakan ini, anak anda baru saja meninggal setelah kami rawat selama 3 hari di rumah sakit. Saya menelepon anda karena ingin meminta izin untuk melakukan pemakamannya secara tertutup,” ucap dokter tersebut.

“Apa-apaan ini? Anda mau menipu saya, bukan? Tolong jangan jadikan hal seperti ini sebagai candaan!” bentak Bayu.

“Tidak, saya bukan penipu. Saya sungguh seorang dokter. Istri anda sekarang juga dalam keadaan kritis dan sedang kami rawat di ruang isolasi. Ia belum bisa ditemui siapapun kecuali oleh tim medis.”

“Apa yang terjadi dengan anak dan istri saya dok?!”

“Mereka terinfeksi virus baru. Berdasarkan hasil uji lab, virus itu diduga berasal dari ikan tuna yang mereka makan.”

“Halo… Halo? Saudara Bayu? Baik, kalau begitu silahkan anda nanti datang ke rumah sakit Marzoeki Mahdi. Saya tutup.” 

Bayu sontak terdiam seribu bahasa, ia mematung, tubuhnya melemah. Air matanya tidak terbendung lagi. Ia menjatuhkan ponselnya lalu terduduk dalam posisi bersimpuh. Bayu menampar wajahnya. Berharap bahwa ini hanya mimpi buruk. Reno dan dan ibunya telah terinfeksi virus mematikan yang ditularkan melalui ikan tuna yang mereka konsumsi. Reno sangat menyukai ikan itu, namun keberadaannya kini nyaris langka. Bayu memesan paket daging tuna dari luar negeri lalu mengirimnya kepada Reno sebagai hadiah ulang tahun. Sudah hampir 2 pekan Bayu tidak menemui keluarganya karena terlalu sibuk bekerja di laboratorium. Ya, Bayu adalah seorang workaholic. Ketika anaknya sakit, sang istri pun enggan mengabari Bayu karena tidak ingin membuatnya khawatir.

Benar, di tahun ini masalah lainnya terus bermunculan. Kini bukan hanya persoalan pangan di darat, namun juga di perairan. Populasi ikan di laut menurun drastis. Ikan-ikan konsumsi yang dulunya melimpah kini begitu sulit diperoleh. Mencairnya lapisan es di sejumlah tempat telah membawa virus baru ke perairan sehingga laut menjadi tercemar. Virus ini berasal dari virus di jaman kuno yang telah lama membeku lalu tersebar ke laut karena lapisan es tersebut terus mencair akibat pemanasan global. Hal ini menyebabkan kematian pada ikan dalam jumlah yang fantastis. Mirisnya, ikan-ikan yang telah mati terinfeksi itu masih dikonsumsi oleh masyarakat setempat karena mereka kekurangan bahan pangan. Ikan terinfeksi yang masih hidup bahkan diperdagangkan karena harga jualnya yang menggiurkan. Sementara para nelayan tidak tahu bila ikan tersebut telah mengandung virus mematikan yang dapat menular ke manusia.

Bayu berlari meninggalkan ruang kerjanya, bergegas ia menuju rumah sakit. Dadanya terasa sangat sesak. Sulit baginya berpikir jernih. Bayu memacu kendaraan sekencang-kencangnya, menyalip satu demi satu kendaraan lain yang menghalangi jalannya. 

“Ini salahku! Kalau saja aku lebih berhati-hati, mereka tidak akan berakhir seperti itu! Renoooo, maafkan ayah, Nak!” jerit Bayu diiringi isak tangisnya. 

Bayu tiba di rumah sakit. Ia lantas berlari menuju ruang jenazah. Seperti banteng yang mengamuk. Di depan pintu ruangan itu, ia melihat sang ibu dengan wajah pucat pasi dan tatapan lesu sedang menunggunya. Bayu berlari ke arah ibunya, ia mendekat dan sang ibu langsung memeluk tubuhnya erat. 

“Ibu, kenapa ibu tidak pernah mengabari aku soal ini?!”

“Istrimu berpesan agar tidak memberi tahumu dulu, Nak. Karena kami kira mereka hanya terkena gejala penyakit biasa. Kami juga tidak menyangka mereka akan berakhir seperti ini!”

Bayu dan ibunya kini dibanjiri air mata. Bukan hanya Reno, ibunya pun tidak mampu bertahan. Keduanya kini telah berpulang, meninggalkan Bayu. Jasad mereka langsung dikebumikan secara tertutup, tanpa dihadiri oleh para pelayat, kecuali Bayu, orang tuanya, dan tim medis.

Kepergian orang yang dikasihi menyisakan luka mendalam di hati Bayu. Namun, ia tidak ingin takluk dan tenggelam dalam kedukaan. Usai peristiwa ini, Bayu kian yakin bahwa nasib generasi masa depan sudah berada diujung tanduk. Hak setiap anak untuk menikmati pangan akan terenggut. Kedepannya, kelaparan akan menjadi bencana global apabila kewarasan iklim tidak segera dipulihkan. Namun, nyatanya kondisi iklim kian hari kian menggila. Oleh karena itulah Bayu terus berharap pada sel punca yang ditelitinya. Ia ingin menciptakan bahan pangan alternatif yang aman dan mampu memenuhi kebutuhan semua orang di masa depan. Agar kejadian yang menimpa keluarganya tidak terjadi pada orang lain.

“Nah, jadi kalian sudah tahu, inilah akibat dari keserakahan manusia di masa lampau. Apa yang kalian makan hari ini adalah hasil dari buah pemikiran seorang ilmuwan cerdas bernama Bayu, yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti sel punca demi menyelamatkan perut kalian, generasi masa depan,” terang seorang guru kepada murid-murid sekolah dasarnya saat sedang mengajar di kelas virtual pada tahun 2070. 

“Tapi, Pak. Apa rasa makanan kami sekarang sama dengan yang dulu?” celetuk salah seorang muridnya.

 

“Rasanya hampir serupa, tapi memang tidak seenak yang dulu. Bapak dulu masih sempat mencicipi lezatnya rasa nasi dan ikan segar. Dulu pangan kita juga sangat beragam, tidak seperti sekarang. Pangan saat ini jenisnya terbatas, pun dibudidayakan di tempat dan oleh orang tertentu hanya untuk diambil sel puncanya lalu diperbanyak di laboratorium,” tutur Pak Guru.

“Pak! Kalau begitu, seperti apa wujud asal dari makanan yang kami makan saat ini? Ikan, daging, nasi. Apa foto-foto yang bertebaran di internet itu benar, Pak?” tambah seorang murid.

“Ya! Itu benar. Bentuknya memang seperti itu. Nanti bapak akan ajak kalian berkunjung ke tempat budidayanya agar kalian bisa melihat secara langsung. Kita akan melihat sapi, kambing, ayam, ikan, padi, dan gandum,” ujar Pak Guru seraya tersenyum simpul.

“Yeeeeeeeeeeeey!” sorak murid-murid sumringah.

“Dulu, hewan dan tanaman itu biasa saja, amat mudah dijumpai. Namun, sekarang jumlahnya sangat terbatas. Bahkan harus ada izin untuk sekedar melihatnya. Sungguh memilukan kondisi generasi saat ini,” gumam Pak Guru dalam hati. Matanya berkaca-kaca.

Begitulah akhirnya Bayu menghabiskan sisa umurnya. Bersarang di laboratorium untuk meneliti sel punca. Kini ia dikenang sebagai seorang ilmuwan yang amat berjasa. Wajahnya kini menghiasi buku-buku elektronik sejarah dengan julukan sebagai “Pahlawan Pangan”, orang yang memelopori pengembangan sel punca demi mengamankan pangan di masa depan. Bagi Bayu, itulah yang dapat ia upayakan sebagai seorang ahli di bidang Biologi untuk menyelamatkan umat manusia dari kesemrawutan di muka bumi kala itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *