Cerpen #292; “KEMBANG API SUPERSONIK”

Dikisahkan, di planet nan jauh yang terletak di luar galaksi bima sakti, dihuni oleh mahluk asing dan astral.

Mereka memiliki ilmu pengetahuan yang sangat maju. Mempunyai hujan yang menurunkan besi padat sebagai pengisi samudranya. Serta roh yang hidup mengelilingi galaksi dan mampu menembus segala penjuru alam semesta.

Saat peristiwa awal terbentuknya bumi, mereka mampu menyaksikannya. Bumi dihujani meteor, asteroid, dan energi yang menubruk satu sama lain. Sehingga bentuk dari planet yang kita panggil “bumi” ini tak beraturan. Sebuah planet yang menurut mahluk-mahluk itu hanyalah planet yang tak menarik.

Namun disaat bumi mampu bertahan terhadap panas yang meninggi dan menyusut, sejumlah unsur, senyawa, molekul, dan partikel yang terperangkap dalam gravitasi bumi, mulai memberikan nyawa. Gravitasinya hampir menyerupai beberapa planet yang lain, namun bumi lambat laun mulai berevolusi membentuk planet yang indah.

Alam semesta adalah sebuah kumpulan unsur kimia yang menciptakan kombinasi satu dengan lainnya, hingga membentuk senyawa, molekul, partiket, dan zat.

Bumi menjadi perbincangan di dunia mahluk yang entah kita bisa deskripikan bagaimana. Mereka memiliki unsur dan senyawa yang tak pernah kita jumpai di bumi, begitupun sebaliknya.

Bermilyaran tahun kemudian bumi menjadi planet yang dihuni flora dan fauna yang beragam. Memiliki keseimbangan yang stabil terhadap alam, iklim, dan mahluk yang hidup seperti dinasourus.

Mereka heran, bumi bersisi samudra dan langit yang dihiasi zat lunak transparan. Daratan (yang disebut pangea) memiliki bentuk yang sebaliknya. Alhasil beberapa ilmuan mereka mensiasati untuk menguji kelayakan bumi untuk bisa ditempati.

Proyek pun dipusatkan untuk me-homogen-kan bumi dengan planet mereka. Di planet itu, mereka bergantung penuh terhadap besi yang menjadi sumber kehidupan mereka. Sementara bumi, air adalah sumber kehidupan dan asal muasal seluruh mahluk hidup yang bertransformasi menjadi beberapa flora dan fauna.

Akhirnya proyek itu menghasilkan sebuah strategi, untuk mengirimkan besi dalam jumlah yang banyak. Mereka berencana untuk tetap menyuplai besi dari planet mereka ke bumi agar tetap dapat beradaptasi di bumi.

Unsur besi (Fe2+) ditanamkan dalam sebuah tabung antariksa (yang kita sebut roket) untuk diluncurkan menuju bumi. Setelah roket itu diluncurkan dan menghujam menuju galaksi bima sakti, roket mereka menabrak beberapa asterodi di cincin saturnus. Partikel besi yang mereka luncurkan tertanam ke dalam asteroid.

Peristiwa itu menjadikan meteor yang menembus lapisan demi lapisan bumi, dan akhirnya terjadilah hujan meteor yang memusnahkan seluruh mahluk bumi di dalamnya.

Proyek mereka gagal!

Sejatinya mereka tahu bahwa bumi tidak dapat dihuni dalam waktu dekat. Namun mereka tidak menyerah.

. . . . . .

Mereka mengamati bumi kini mempergunakan besi, zat yang berasal dari planet mereka dipergunakan oleh manusia. Beribu-ribu tahun kemudian setelah proyek gagal, mereka mengamati bumi tumbuh menjadi planet yang indah. Memiliki keberegaman yang begitu luas.

Sementara itu di bumi, pada tahun 2021 ini tumbuh bersama kumpulan mahluk hidup yang disebut “manusia”. Mereka menjajah, mengeksploitasi keberagaman tanpa merawat, saling memusnahkan satu sama lain. Bahkan dari jenis spesies mereka sendiri.

Sementara itu,

Professor Alby tengah menenteng berkas penelitiannya menuju kantor dewan pengelola izin tambang. Ia sangat berambisi untuk menentang proyek pemerintah untuk mengubah hutan lindung menjadi lahan tambang.

‘ini adalah perampokan! Mereka tak bisa dibiarkan lebih dari ini!’

Professor Alby mendobrak pintu coklat yang terukir dengan indah. Pintu yang agaknya terbuat dari kayu yang sangat langka, namun kayu itu ditebang dan di gunakan sebagai pembatas intelektual.

Anggota dewan yang sedang melakukan rapat pun terkaget-kaget, dan ruangan bergeming. Hanya prof. Alby yang memiliki semua perhatian di ruangan penuh suasana elegan itu.

Mereka duduk di kelilingi patung-patung yang terbuat dari kayu. Memanjakan mata dan menciptakan suasana berkelas hasil penambangan yang menggunduli hutan lindung itu.

‘Alby! Apa yang membuatmu lancang untuk menggangu rapat penting ini‼’,

Sontak kepala dewan itu terlihat geram dan bangun dari kursinya.

Ruangan menjadi riuh, geram dengan tindakan Prof. Alby.

‘kalian semua yang lancang! Kau tak bisa menghempaskan alat biadab itu untuk menggundulkan hutan tanpa mencanangkan reboisasi!’, tukas Prof. Alby menentang para dewan sembari membenahi kacamatanya.

‘Professor, mari duduk. Kita rundingkan semua pengetahuanmu dengan kepala dingin, jikalau kau orang yang berilmu’, kata salah seorang dewan.

Prof. Alby sangat geram melihat ia berdiri dengan blezer kebesarannya. Ialah Mr. Robert, pendiri perusahaan yang mengakomodir jalannya proyek bermitrakan pemerintah. Ia seorang yang licik dan mengatasnamakan pembangunan untuk menjalankan misinya.

Prof. Alby lekas berjalan menuju podium dan melempar semua barang yang terletak di atas meja.

Brrrakkkk‼‼

Tumpukan berkas yang ia bawa melucuti meja tersebut.

‘kita tak akan duduk manis seolah tidak terjadi apa-apa diluar sana! Kalian tahu apa yang ku maksud, bukan?!’

Prof. Alby melanjutkan, ‘hutan lindung itu adalah harapan terakhir ekosistem alam disekitarnya dapat hidup terjamin! Dahulu hutan itu kalian lestarikan atas nama warisan alam, namun semenjak bau bijih besi dan tembaga itu terhendus kalian membunuh semua yang berdiri di atasnya! Kelakuan kalian….’

Belum habis kalimat yang dilontarkan Prof. Alby menyadarkan mereka, Mr. Robert memotong pembicaraannya dan mengelak,

‘lalu, apa kalian tidak menikmati hasilnya? Lapangan pekerjaan, perbaikan sekolah, suplai energi, dan hasil bumi itu? Selain kau tumbuh menjadi wanita yang cantik, kau berlagak seperti seorang munafik, Alby’.

Tampak muka puas Mr. Robert dan para dewan yang lain menghujam tajam menuju Prof. Alby.

Beberapa petinggi proyek itu hadir dan nampak sedang menertawai tindakan Prof. Alby yang mirip seorang anak kecil merengek.

‘aku tahu! Jangan mencoba menceramahiku! Semua itu dibayar mahal dengan pembangunan, tapi yang terpenting adalah krisis iklim akan menjamahi wilayah yang terdampak! Apa kalian tidak menganggap penting habitat flora dan fauna disana? Kondisi iklim yang berubah-ubah dapat mengganggu kehidupan manusia disekitarnya! Dan…’

‘sudah cukup! Kami yang tak butuh nasehatmu’

Tak didengar ataupun di pertimbangkan, Prof. Alby di tarik keluar oleh petugas keamanan.

. . . . . .

Sebulan berlalu,

Prof. Alby diberhentikan mengajar di salah satu perguruan tinggi dan diasingkan dari lembaga penelitian. Tentu saja karena protes keras yang dilayangkan kepada para dewan. Sedangkan beberapa ilmuan lain enggan membantunya untuk terhindar dari masalah.

Nampak permainan politik didalamnya dapat menendang Prof. Alby keluar dari pekerjaan dan wewenangnya. Proyek tersebut tetap dijalankan. Menggunduli hutan, menjual semua pohon-pohon yang dapat digunakan, dan membunuh semua hewan yang tinggal di dalamnya.

Lahan tersebut beralih fungsi menjadi tempat pengembangan hasil bumi dan pusat tambang.

Prof. Alby mematung dalam keheningan. Terbelalak melihat sesuatu yang anggun, kalanya, berubah menjadi tempat yang mengepulkan asap-asap hitam ke langit-langit.

Ia beranjak pulang. Air matanya mengalir deras.

Di luar pagar pembatas ia melihat warga sekitar menggelar orasi, menuntut pencemaran limbah yang tak terkendali ke sungai-sungai yang mulanya digunakan warga untuk bertani dan kegiatan sehari-hari.

Prof. Alby segera menyingkir dari jalan, dan berlari menuju kerumunan warga.

Warga mendadak mengerumini Prof. Alby, mengira ia salah satu orang yang bekerja di pabrik tersebut.

‘hey! Segera hentikan kegiatanmu mengotori lingkungan kami!’

Kata seorang bapak-bapak yang berkumis lebat dan hanya menggunakan singlet polos dan sarung.

‘benar! Pergi dari kampung kami!’, warga yang lain mulai menjamahi Prof. Alby dengan teriakan muak.

Prof. Alby terkepung oleh warga yang murka, ‘saya berharap bapak-bapak dan ibu-ibu tenang dulu, saya bukan pengelola ataupun orang berkaitan dengan pabrik itu. Saya Prof. Alby, ilmuan yang turut prihatin terhadap kerusakan lingkungan kampung ini’.

Beberapa saat kemudian warga itu menjadi diam, termenung layu. Mereka memasang wajah memelas tanda menyerah terhadap keadaan.

‘pak, buk, apa yang telah terjadi di sekitar lingkungan kampung warga?’

Bapak berkumis lebat itu melihat Prof. Alby, ‘kami terkuras habis, mbak’.

‘sungai kami telah menjadi air asam yang berbahaya’, saut seorang diantara mereka,

‘lahan kami direbut secara paksa’,

‘asap tebal yang menerbangkan abu ke dalam rumah kami’

‘awan panas yang menurunkan hujan asam’

‘tumbuhan dan hewan ternak yang mati tereksploitasi iklim berubah-ubah akibat tercemarnya lingkungan kami’

Mereka mengeluh secara bergantian kepada Prof. Alby.

Berputus asa bukanlah tindakan yang harus diambil oleh siapapun, tapi adakah pembenaran dari kondisi ini selain dipaksa untuk hancur karena tak ada jalan tuk merajut asa?

Prof. Alby sangat mengerti posisi mereka. Sejatinya tak ada tempat untuk mengadu atau menuntut keadilan, karena proyek ini berjalan dengan peraturan yang telah di sahkan.

Setelah Prof. Alby menghibur mereka sedikit dengan kata-kata penyabar, warga memutuskan untuk menyudahi orasi mereka hari itu.

Di dalam mobilnya, Prof. Alby kembali mengusap muka. Ia merasa sangat bersalah sebagai seorang peneliti yang tak mampu menciptakan kestabilan alam dengan lebih baik.

Kemudian,

Ia melihat sebuah cahaya hijau berpendar aneh. Mengkilap beberapa saat dan menghilang, di balik pohon yang menjadi pembatas jalan.

Prof. Alby segera menghampiri cahaya itu. Masuk kedalam sisa-sisa hutan, dan terus mengikuti asal cahaya tersebut.

Semakin ia mendekat, ada suara yang semakin jelas. Berdenging di dampingi kedipan cahaya hijau itu, sangat serasi.

Prof. Alby tiba-tiba terjatuh kedalam sebuah jurang. Tubuhnya menghempas ke dalam sisa pusaran tambang yang sangat dalam.

Ngingggggg~ ngingggggg~ ngiinnggggg~

Cahaya menyeruak ke seluruh penjuru mata, Prof. Alby tersadar dan berusaha bangkit.

Cahaya hijau itu berkedip disertai dengan suara denging yang sangat nyaring. Ia terbelalak melihat fenomena dimana sumur itu dikelilingi cahaya dan samar-samar membentuk sebuah pola yang sangat asing.

Suara itu masih bergeming, ia berusaha mencari sumber cahaya yang terkubur di dalam tanah.

Prof. Alby menggali yang ia rasa sumber cahaya tersbut berasal dari tanah yang ia pijaki.

‘ini . . . .’

Sebuah kristal yang berpendar!

Ia mengangkatnya dan sungguh sangat menawan. Cahayanya mampu menembus semua kegelapan disumur itu namun sama sekali tak menimbulakan energi panas.

Yang berarti, kristal ini mengeluarkan cahaya tanpa menyerap atau melepaskan kalor.

‘ini, bagaimana ini bisa terjadi?! Sebuah sumber cahaya yang tak memerlukan panas atau listrik?!’, ia berusaha mengamatinya lebih jauh.

Kristal itu berdenging dan berkedip, seperti suatu alat yang berfungsi sebagai sesuatu.

Lambat laun, Prof. Alby tersadar bahwa ia terperosok kedalam jurang sisa penambangan yang sangat dalam.

Kondisi oksigen sangat sedikit dan ini membuatnya susah untuk bernafas. Ia berteriak. Berharap ada seseorang yang menyadari dirinya terjatuh ke dalam jurang tersebut.

‘apppp… buuutttt… kiiii…’

Prof. Alby mendengar suara yang kurang jelas, namun ia menyadari bahwa asal suara itu sangat dekat dengannya.

‘apa kau baik-baik saja, mahluk bumi?’

Kristal itu mengeluarkan suara!

Ia berkedip berdampingan suara yang ia hasilkan. Sementara suara berdenging itu hilang.

‘halo? Aku terjatuh ke dalam jurang sekitar 50 meter ke arah timur dari mobilku! Aku ….’

‘apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti. Kau membutuhkan sesuatu?’

Prof. Alby terdiam, bergeming.

‘kau, siapa?’

‘aku berasal dari planet Nemokulus. Sebuah planet yang hidup seperti kalian, manusia. Kami telah lama mengamati bumi kalian. Sebuah planet cantik yang sangat mengagumkan’.

‘kau, alien?’, Prof. Alby berusaha menerka keanehan yang terjadi. Terdengar seperti seorang pria yang berbicara dengan oktaf yang tinggi.

‘aku mengerti. Kalian menyebut mahluk antar planet adalah alien. Ya benar, aku alien’, sontak Prof. Alby melempar jauh benda berpendar itu dari genggamannya.

‘bagaimana kau mengerti bahasaku? Apa kau bersungguh-sungguh?’

-(ngingg~nginggg~nginggg)

Benda itu kembali mengeluarkan suara denging yang didampingi cahaya hijau. Prof. Alby berusaha merayapi sekelilingnya dengan kedua bola mata yang semakin mengecil.

Ia kembali mengambil benda tersebut, dan sontak suara pria beroktaf tinggi itu kembali berbicara,

‘tenang, mahluk bumi. Benda yang kau genggam tidak dapat membahayakanmu, itu dapat menginterpretasikan suara yang tak sejenis dengan sumber panas dari mahluk hidup’.

‘apa tujuanmu mengamati planetku!’

Sinar putih kemudian menerjang tubuh Prof. Alby dari atas.

‘aku menemukannya!’, teriak seseorang di atas sana. Nampaknya warga menyadari Prof. Alby memasuki hutan dan melihat cahaya aneh dari sana.

Akhirnya Prof. Alby berhasil diselamatkan. Ia ditarik keluar dari dasar jurang tersebut dan anehnya kristal itu meredup dan tak mengeluarkan suara ataupun bunyi berdenging.

. . . . . .

Prof. Alby mengamati televisi dengan kanal berita tentang penyalahgunaan hutan lindung tersebut.

Kali ini Mr. Robert mendekap topi koboynya, ‘kami berusaha sebisa mungkin untuk menanggulangi dampat tambang ini dan mengembalikan hutan indah kita. Saya yakin pakar ilmuan kami sedang bergegas melakukan reboisasi mutakhir, demikian’.

Prof. Alby mengerutkan dahinya, ia tahu bahwa kata-kata itu hanya bualan belaka.

Proyek tersebut kini kian pesat. Semua lahan yang dulunya hijau kini rata dengan tanah.

Beberapa bulan kemudian, dampak perubahan iklim yang terjadi di sekitar lokasi penambangan mulai terasa hingga ke kota.

Musim panas terasa lebih panjang dari biasanya. Tumbuhan mati tak berdaya terhadap kondisi yang mengganas. Sungai-sungai itu menjadi kering dan mengeluarkan bau tak sedap.

Sementara itu, para mahluk asing di planet mereka sangat sedih terhadap penampakan bumi.

Proyek yang meluluh lantahkan hutan itu hanya satu dari sekian ribu perbuatan kotor manusia terhadap planetnya.

Mereka berinisiasi akan menginvasi planet bumi. Mereka mulai menggagas ide untuk membuat sebuah alat pemancar supersonik yang bisa menghijaukan bumi kembali.

Kristal itu kemudian berdenging lagi, setelah sekian lama Prof. Alby mencoba berkomunikasi tanpa hasil.

Prof. Alby menggapai kristal itu, ‘aku akan menolong planetmu’, terdengar suara yang berderit dari kristal itu.

‘kami membutuhkan bantuanmu untuk membuat pemancar supersonik dan mengumpulkan sejumlah serpihan tumbuh-tumbuhan di bumi, Prof. Alby terperanjat kaget.

Prof. Alby kemudian bergegas melakukan rancangan yang mereka arahkan. Ia mengumpulkan beberapa jenis batang pohon, dan menjadikannya dalam bentuk serbuk.

Serbuk itu kemudian dimasukkan ke dalam misil yang akan di ledakkan di langit.

Ia berusaha dengan mati-matian mengikuti arahan mereka. Karena pengetahuan meraka jauh lebih maju dari semua penemuan-penemuan ilmuan selama ini.

Prof. Alby juga membangun sebuah kubah pelindung sintetik untuk kristal tersebut, yang dihubungkan dengan perangkat komputer untuk memvisualisasikan komunikasi mahluk asing tersebut tanpa perlu menyentuh kristalnya. Setelah itu kristal tersebut akan menjadi titik energi yang akan memancarkan partikel subatomik kepada serbuk-serbuk pohon.

Musim kemarau memanjang, sehingga lambat laun seisi kota memiliki iklim yang parah. Saturasi oksigen dan nitrogen berkurang, sedangkan suhu permukaan meningkat 0,800C.

Beberapa warga sekitar memilih tinggal di luar kota, menjauh dari dampak pencemaran iklim di kota itu. Sehingga kota itu menjadi kota mati, dan hanya proyek tambang itu yang kini menghuni.

Setelah berminggu-minggu lamanya, Prof. Alby berhasil menuntaskan semua persiapan misil dan alat pemancar itu.

‘baiklah, ini akan menjadi malam eksekusi bertajuk “kembang api supersonik” kita, professor’, tukas mahluk asing itu dari sebuah layar berdimensi panjang diruangan Prof. Alby.

‘aku berharap, ini akan menjadi sebuah pelajaran bagi orang-orang yang menjual keselamatan planet ini’, Prof. Alby kemudian bersiap menjalankan strateginya.

Pukul 3 pagi Prof. Alby meluncur menuju lahan proyek tambang tersebut. Ia mensinyalir orang-orang itu akan bangun dalam hutan lebat yang memporak-porandakan bangunan-bangunan mereka.

Di mobilnya Prof. Alby mengeluarkan sebuah remot control yang dapat mengaktifkan alat pemancar dari laboratoriumnya.

Ia menekan tombol merah tersebut. Seketika alat pemancar itu menjujung keluar dari laboratorium Prof. Alby. Memercikkan pendaran hijau yang dapat dilihat radius berpuluh-puluh kilometer.

Ia mengambil rancangan alat tembak yang berisi misil tersebut, ‘ini akan menjadi reboisasi massal’.

Prof. Alby menembakkannya ke langit-langit tepat di lahan pertambangan itu.

Alat pemancar itu lekas berdengeing dan menembakkan cahaya hijau menuju titik yang ditargetkan Prof. Alby. Kemudian serbuk hijau yang bercahaya menghiasi langit-langit.

Sangat indah, Prof. Alby takjub dengan apa yang disaksikannya.

Serbuk cahaya itu memencar dan meluruh dengan indah di langit-langit. Prof. Alby segera kembali ke dalam mobil dan menjauh dari lahan tersebut.

Mirip seperti kembang api, serbuk-serbuk itu bercahaya hijau terang nan cantik.

Setelah serbuk-serbuk itu mencapai permukaan tanah, gempa bumi mengguncang daerah yang terdampak serbuk tersebut.

Beberapa pekerja yang terlelap tidur seketika bangun dan mencari tempat berlindung. Mereka berlarian menuju sebuah lapangan tempat berkumpul. Namun mereka pun terkaget-kaget melihat tanah yang mereka pijaki berpendar serbuk hijau.

Bangunan mereka luluh lantah. Lahan tersebut nampak seperti awal penggusuran hutan hujan itu.

Kemudian beberapa saat, tumbuh pepohonan dan berbagai jenis tumbuhan yang awalnya telah dimusnahkan di hutan tersebut.

Menyeruak permukaan tanah, dan seketika menjulat tinggi ke langit-langit, pohon-pohon tersebut mencapai tinggi puluhan meter. Sehingga seisi lahan tambang itu tergantikan dengan pepohonan yang menjadi hutan lebat.

Air-air mengalir dari mata air, membentuk sungai yang deras dengan air jernih.

Orang-orang yang mendiami lapangan tersebut dengan rasa takut dan takjub secara bersamaan melihat peristiwa tersebut. Tak berselang lama akar-akar pohon itu menyeruak tumbuh, mengelilingi kumpulan para pekerja itu membentuk kubah.

Mereka merasa sejuk di dalamnya, dan merasa akan terlindungi beberapa saat dari fenomena aneh yang mereka saksikan.

Setelah manusia berusaha merusak alam dan menyebabkan kondisi krisis iklim dan fenomena pemanasan global, alam tetap sejatinya melindungi manusia.

Manusia selalu menguras, merampas semua kekayaan alam tanpa mengerti alam adalah mahluk yang bernyawa juga. Tapi lain sisi, alam selalu menyajikan apa yang manusia butuhkan, tanpa segan dirinya digunakan semena-mena.

Seperti para pekerja itu yang dilindungi oleh akar yang tumbuh mengelilingi mereka. Alam menyadarkan hati sanubari mereka yang telah merusak ekosistem hutan lindung. Hutan itu memiliki jiwa yang luas, masih ingin melindungi manusia yang telah membunuh alam.

Dan,

Tentu saja ini menjadi peristiwa yang mengagetkan seisi bumi. Beritanya di liput oleh seluruh dunia. Tak ditemukannya lagi kandungan mineral dan logam di dalam hutan tersebut.

Semua orang berhasil diselamatkan, tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sekumpulan orang di dalam kubah tersebut berhasil ditemukan dan tentu menjadi headline berita dimana-mana.

Alhasil, hutan lebat yang tumbuh dalam semalam itu kembali menyeimbangkan krisis iklim disekitarnya dan menjadi hutan lindung sebagai mana mestinya.

Warga pun kembali ke rumah mereka masing-masing, dan proyek itu dikatakan sebagai pembunuhan induk hutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *