Cerpen #291; “RE-Life: The Lost Paradise”

Ia tenggelam dalam alam pikiran yang saling berseteru, di hadapan hamparan kertas kecokelatan itu. Bersama 8 orang lain dalam ruangan khusus untuk berdiskusi, mereka berkutat pada tiap lembaran kertas tua dari sebuah peradaban yang hilang. Orang-orang ini terkumpul dalam sebuah tim bernama Scientific Archeologist Organization (SAO), yang bertugas meneliti penemuan arkeologi yang kemudian dikaji secara saintifik. Seorang ilmuwan tua yang sedari tadi fokus memeriksa, menyimpulkan bahwa literatur kuno ini menceritakan sebuah daratan yang dulu bernama ‘The Island of Paradise.

“Kita akan menyebutnya ‘The Lost Paradise. Dan banyak informasi yang kurang lengkap tentang penyebab spesifik tenggelamnya tempat ini.” Ilmuwan tua menuliskan temuannya di papan tulis.

Gadis itu memaparkan kejanggalan yang ia temukan. Bahwa ‘Surga’ itu dilanda bencana. Lalu, hampir seluruh literatur terdapat sebuah penyebutan berulang kali, Bedawang Nala. Sambil merapikan lembaran kertas itu, ia melanjutkan.

“Kurasa nama aneh ini ada kaitannya dengan bencana yang terjadi…”

Forum diskusi diadakan untuk menyimpulkan kejanggalan tersebut. Merekapun sepakat untuk merencanakan misi demi mengungkap misteri di balik temuan kuno ini. Dengan semangat, gadis itu mengajukan diri sebagai volunteer. Kini mereka merencanakan pengajuan misi kepada majelis utama SAO.

‘Operation Lost Paradise’ bertujuan untuk mengungkap misteri dari nama Bedawang Nala dan mengumpulkan petunjuk spesifik daratan tersebut tenggelam ke lantai samudra. Dengan mengirimkan satu orang ilmuwan muda, yang bersedia menjadi volunteer, tim tersebut berkumpul untuk mengantar keberangkatannya.

Untuk pertama kalinya, gadis itu melihat proyek misteri yang selama 120 tahun telah dikembangkan oleh para ilmuwan. Mesin waktu. Ilmuwan tua itu memperingatkan Miranda, volunteer muda untuk operasi ini. “Ingat! Jangan bocorkan mesin waktu pada manusia masa itu, jangan menulis ulang sejarah dan—”

“Aku tau itu. Jangan khawatir. Urus saja dirimu yang tua itu… oh! Juga jangan mati sebelum aku kembali.”

Koordinat mesin waktu telah ditetapkan, Miranda akan segera melompat ke masa lalu yang telah disepakati, di lokasi daratan itu pernah ada.

Tahun 2031.

350C, langit biru siang itu bersih dari kumpulan kapas putih yang biasa tampak. Mesin waktu terdampar di sebuah semak dengan pepohonan, di belakang sebuah bangunan kosong. Gadis itu telah mengganti pakaian menyesuaikan kondisi.

“Panas sekali!” Sambil berjalan, ia melihat tumpukan sampah yang menggunung, menebar bau busuk. Ada sungai kecil yang bermuara tepat beberapa meter dari tumpukan sampah. Mira bersembunyi di balik semak dan pohon, tampak seseorang yang sedang membuang sampah ke sungai.

“Orang bodoh, apa ia tak tau akibatnya?!”

Mira kemudian mengamati lingkungan sekitar. Hanya beberapa ratus meter, terdengar deru suara kendaraan ramai menggema saling bersahutan. Langkahnya mengantarkan ia menyusuri jalan raya. Bangunan besar dimana-mana. Gedung elit dengan nuansa futuristik terpampang di seberang jalan tempatnya berdiri. Mobil-mobil silih berganti keluar-masuk pelataran gedung. Hampir semua orang yang ia lihat di sepanjang jalan memiliki kesamaan. Acuh tak acuh dan fokus pada layar kaca mungil di tangan mereka.

“Aku tidak bisa menemukan apapun disini. Orang-orang di masa ini terlalu apatis. Juga cuaca ini! Aku rasa kembali ke tahun sebelumnya bisa lebih baik.” Gadis itu kembali ke tempat semula, dan dari kejauhan matanya menangkap kepulan asap hitam. Ia tahu pasti apa itu, namun ia memilih untuk meneruskan rencana melompat lagi ke masa sebelumnya.

Tahun 2020.

Kini ia tiba di pinggir pantai. Sampah plastik dimana-mana, banyak bangkai ikan, penyu, ia temukan, entah itu utuh atau hanya tulang belulang. Melihat keadaan itu, Mira mengambil alat uji laboratoriumnya, mengumpulkan sampel air laut.

“Sangat tinggi. Tidak heran banyak hewan laut mati, kandungan merkuri di tubuh mereka juga cukup banyak.”

Ia mengikuti jalan sepanjang pantai, mengarah ke sebuah hutan. Disana, ia menemukan bangkai penyu, kura-kura, dan beberapa ikan lagi. Melihat dari kontur tanah, air laut pasang hingga menggenangi area ini. Ia menemukan sebuah poster dalam keadaan kotor. Tanpa sempat membaca, ia membawanya sambil mengikuti sebuah jalan tanah, mengarah ke sebuah proyek konstruksi. Tak jauh dari sana, ia menemukan sebuah struktur bangunan dan seorang lelaki tua duduk di dekatnya. Mira tahu betul akan resiko berinteraksi dengan objek di masa ini, namun ia harus mengumpulkan petunjuk. Lelaki itu ternyata tak mencurigai Mira. Ia menimpalinya dengan ramah. Proyek konstruksi itu ternyata adalah deforestasi untuk lahan pembangunan PLTU.

“Saya tidak akan membiarkannya. Ini bangunan suci, tidak ada yang boleh semena-mena merusaknya.” Wajah itu menyiratkan ketakutan yang mau tak mau harus ia hadapi. Struktur bangunan itu adalah Padmasana. Salah satu yang menarik bagi Mira yaitu keberadaan semacam penyu di dasar bangunan, dililit dua ekor naga.

“Itu adalah Bedawang Nala. Simbolisme Bhuana Agung, dunia tempat kita tinggal. Ia juga melambangkan ‘Punggung Dunia’. Sedikit gerakan darinya bisa menimbulkan bencana besar.” Lelaki itu menerangkan padanya.

Miranda mendengar dengan mata berbinar. Namun tepat ketika ia hendak bertanya lebih lanjut, sekelompok pekerja konstruksi dan seorang berpakaian formal mendekati mereka. Ia tahu, keberadaanya bisa dicurigai namun ada sedikit keengganan yang membuat Mira tak kunjung meninggalkan lelaki itu. Mereka berseteru dengan beberapa umpatan kasar terhadapnya. Misi adalah yang terpenting bagi Mira sekarang, jika ia berhasil mungkin lelaki itu tidak akan mengalami ini. Ia harus tetap berpacu pada tujuannya.

Tahun 2019.

Sewaktu keluar dari tabung mesin waktu, ia terdampar di sebuah muara sungai dekat hutan bakau. Pemandangan tak asing masih tampak, sampah tergenang dan mengumpul. Mira mau tak mau harus mencari daratan, membawa perlengkapannya. Memastikan tak ada yang melihat keberadaannya.

“Pembangunan pabrik dan deforestasi lahan. Sampah. Dan… oh! Poster itu!” ia merogoh tas, mengambil poster yang dipungutnya. “Pelestarian biota laut… punahnya penyu dan kura-kura… betapa menyedihkan manusia ini. Alam sudah lelah dengan ego kalian!” geram, ia meremas dan melempar poster itu.

Ia bertemu dengan seseorang yang baru saja menyembah Padmasana. Mira menghampiri perempuan itu. Cukup tua dilihat dari penampilannya. Ia ramah padanya, tanpa menaruh rasa curiga. Mira bertanya mengenai Bedawang Nala dan keberadaannya.

“Itu hanya perumpamaan dari nenek moyang. Di masa kini, Bali sudah mulai rusak oleh pabrik, sampah dan berbagai perilaku manusianya. Saya hanya bisa begini saja, nak. Berdoa untuk keselamatan ke depan.”

“Jadi, itu tidak pernah ada?” Mira masih tak percaya. Ia ingin kepastian. “Tidak. Namun, apa yang menjadi simbolismenya, masih ada. Kini, mereka mulai kehilangan tempat tinggalnya. Perusakan demi keuntungan semata. Alam mereka mulai hancur.”

Mira pamit, melanjutkan penyusurannya menuju jalan raya. Kemacetan melanda, kendaraan membunyikan klakson silih berganti. Kebisingan yang selalu membuat Mira benci akan kendaraan bermotor. Di sepanjang jalan terpampang berbagai poster peduli lingkungan, satu yang membuatnya berhenti melangkah. Poster dengan gambar penyu dan kura-kura. Tulisannya dicetak tebal.

STOP PENCEMARAN LINGKUNGAN! MEREKA MULAI PUNAH!

Tak jauh dari tempatnya, ia melihat kepulan asap hitam mengudara. Di sebuah titik yang pastinya tak jauh dari tempat Mira berdiri sekarang. Ia berlari menuju titik itu. Tak hanya dirinya, terdengar derap langkah kaki yang juga berlari di belakangnya. Seorang lelaki, membawa setumpukan lembar poster.

“Minggir, woi!” lelaki itu berteriak, menyenggol Mira yang hampir terjerembap ke aspal. Tanpa menoleh ke korbannya, lelaki itu terus berlari.

“Lelaki sialan…” urat wajahnya timbul. Mira mengejar lelaki yang tadi menyenggolnya itu, menjatuhkan beberapa lembar poster. “Green-Savior…” ia membaca sebuah kata di poster itu, bertema sama seperti yang dilihat sebelumnya.

Mereka akhirnya bertemu, ketika lelaki itu menempelkan poster di deretan dinding pinggir jalan. Mira sudah siap melumat lelaki tak tahu diri itu.

“Jadi ini, bentuk wajah orang yang menyenggolku tadi…”

“Saya buru-buru. Jadi, maaf…” lelaki itu memalingkan wajahnya, kembali menempelkan poster.

“Lelaki yang menyedihkan. Poster ini tak akan berguna untuk menyelamatkan kalian dari…” Kekesalannya yang tumpah begitu saja, membuat Mira tersadar seketika. Ia hampir melanggar pantangannya. Lelaki itu menoleh, alisnya mengkerut.

“Aku maafkan kelakuan abnormalmu itu, jika kau mau mengantarku ke tempat kepulan asap hitam itu.”

“Kenapa saya harus mau?”

“Beginikah generasi masa ini? Aku heran bagaimana kau bisa bertahan hidup, dengan sikapmu yang menyedihkan ini.” Mira menyeringai sinis.

Tersinggung, lelaki itu terpaksa menjelaskan apa yang ia lakukan. Dari penjelasannya, Mira mempelajari beberapa hal. Ia tergabung dalam organisasi peduli lingkungan yang terus melakukan propaganda melalui poster, media sosial dan media massa.

Green-Savior?” Mira tiba-tiba teringat akan kata tersebut. Lelaki itu mengangguk. Mereka telah melakukan perlawanan pada pihak perusahaan yang terus merencanakan pembangunan PLTU di wilayah Bali.

“Oh! Maaf, mengapa saya harus menceritakan pada perempuan asing. Saya permisi…” lelaki itu hendak pergi, lalu Mira dengan sigap menarik kencang hoodie yang dikenakannya.

Lelaki itu berontak. “Apaan sih?! Apa maumu perempuan gila?!”

“Namamu. Juga penjelasan lebih lanjut tentang ‘perlawanan’ yang kau sebut.”

Lelaki itu dengan wajah beringsut, akhirnya mau menjelaskan. Perlawanan Green-Savior sudah dimulai sejak tahun 2015. Mereka telah melakukan sebuah demonstrasi besar pada tahun 2017. Pemerintah daerah tetap melanjutkan izin pembangunan PLTU di dekat wilayah pantai. Di ujung penjelasan lelaki itu memperkenalkan namanya. Rey, berusia 20 tahun.

Rey mengajak Mira untuk melihat dampak nyata dari semua itu. Tanpa Rey sadari, Mira telah mendapat petunjuk darimana bencana di masa depan itu berawal. Sebuah perkampungan kumuh. Sungai yang keruh, bangkai ikan dan tumpukan sampah menggenangi tiap pinggirnya. Dari pemaparan Rey, banyak warga disana mengidap bronchitis, karena lokasi kampung dekat dengan PLTU. Kepulan asap itu mengedarkan Karbon monoksida secara masif, hasil pembakaran berupa Nitrogen dioksida juga bercampur dengan udara sehari-hari. Anak kecil tumbuh dengan tidak sehat, begitu kurus. Perkampungan miskin itu, mengiris hati Mira perlahan. Begitu sesak, melihat derita para warga kecil di hadapan raksasa korporat.

Rey terus melangkah di depannya, menyusuri jalan menuju bangunan terkutuk pengepul racun itu. Membayangkan masa depan anak kecil dan warga yang kini kesakitan, membuatnya tak kuasa menahan air mata. Ada yang mengetuk pintu hatinya. Menginginkan dirinya untuk bertindak. Logika Mira melawan hasrat itu, misi tetaplah misi. Pantangan harus tetap dihindari. Atau ia akan…

“Aku akan membantu. Namun—”

Ucapan Mira terputus, ketika mereka telah berhenti di ujung jalan tanah itu. Beberapa meter di depan mereka berdiri kekuasaan besar, dengan kekuatan besar pula. Mampu memproduksi limbah 80 kg merkuri dan 12.000 kg3 NO2 setiap tahunnya. Cerobong yang tampak hendak menggapai langit biru bercampur kapas putih itu, memuntahkan asap hitamnya. Rey yang sedari tadi berdiam, menoleh ke arah Mira.

“Kamu bilang akan membantu? Dengan apa?”

Ia sangat memahami apa yang bisa menimpanya. Ia harus memilih. “Ikut aku. Aku akan membantu. Selamatkan semua ini.”

Rey terkejut melihat benda berbentuk tabung yang cukup besar dengan beberapa antena itu. Mira tak menjelaskan lebih lanjut, ia menarik lengan Rey masuk ke dalam tabung. Ia harus kembali ke saat perlawanan itu dimulai. Ia akan melakukan apapun sebisanya. Mira tak boleh ragu akan pilihannya ini. Operation Lost Paradise, berubah menjadi misi penyelamatan. Tanpa persetujuan pihak organisasi.

Tahun 2017.

“Jadi, kamu ini siapa? Juga, saya belum tau namamu.” Rey yang sedari tadi menahan diri tak menanyakan apapun mulai menuntut. “Miranda. Mira. Aku dari masa depan. Kau tak boleh tahu lebih dari itu. Sekarang darimana awal mula perlawanan kalian?”

“Ini adalah seminggu sebelum demonstrasi itu. Green-Savior dan gabungan dari organisasi peduli lingkungan dari tiap daerah bersiap untuk hari besar itu.” Tutur Rey. Dari kejauhan, mereka memantau banyak orang yang sedang ramai menempelkan poster, membentangkan spanduk peduli lingkungan juga menyebarkan selebaran di jalan raya.

“Apa alat perlawanan kalian?” Mira bertanya, menatap tajam Rey yang masih menjelaskan panjang lebar. “Umm… peraturan perundang-undangan yang bertolak belakang dengan perizinan, kemudian laporan analisis mengenai dampak lingkungan dari perusahaan yang sama sekali tak relevan. Kejanggalan terkait banyaknya pemodal dari Tiongkok pada rencana ini… dan- “Rey sedikit mengingat-ingat. “Juga, nanti saat demonstrasi beberapa perwakilan kami akan dipanggil ke sebuah pertemuan dengan Gubernur… iya! Disanalah! Itu adalah puncak dari demo saat itu!” seketika kemarahan menguasainya, seolah ada hal yang memancing keluarnya bara api itu.

“Tenanglah. Kemarahanmu itu tak berarti apapun. Curahkan emosimu untuk perencanaan yang matang, bodoh.” Mira masih menimbang-nimbang, cara melakukan pertolongan. Ia hanya punya satu kesempatan atau segalanya akan gagal total. “Kita akan menyusun rencana untuk saat ini.”

Seminggu berlalu tanpa ada perubahan. Semua terjadi persis seperti yang Rey alami saat itu. Hanya saja kini, ia tak boleh bertemu dengan dirinya di masa itu atau akan terjadi masalah. Mereka berbaur dengan keramaian demonstran di jalan raya. Mira dan Rey telah menyiapkan rencana untuk melawan. Mereka punya satu kesempatan saja, atau semuanya akan sia-sia.

“Demo ini juga bertujuan untuk dukungan pembangunan penangkaran penyu dan kura-kura. Populasi mereka di masa ini sudah mencapai titik kritis. Dalam 2 tahun, keberadaan mereka akan terhapus di muka bumi, lalu-”

“Berhentilah mengoceh. Aku tahu itu. Ini juga untuk penyelamatan semuanya! Fokuslah pada rencana!” Mira berseru, seseorang menoleh keheranan mendengar nada tingginya.

Sejenak, ia sadar. Ia melupakan tujuannya, mencari sosok Bedawang Nala. Itu hanya mitos, tak pernah ada. Ia masih mengingat pernyataan itu. Membuatnya hilang arah. Tak ada petunjuk lagi yang mengarahkannya kesana dan ia kini sudah berada dalam masa dimana demo itu berlangsung. Tak ada jalan untuk kembali selain tetap maju. Banyak keresahan dalam dirinya, ia selimuti dengan keyakinan untuk menyelamatkan semuanya.

Seruan-seruan keadilan mengudara, berbagai bentuk pembelaan terhadap pelestarian penyu dan kura-kura digaungkan. Poster, selebaran, jargon-jargon, maupun lautan massa semuanya memenuhi jalan raya. Membuat Mira terpana dengan betapa besar semangat perjuangan mereka menjaga lingkungan hidup tempat manusia memperoleh kebutuhannya. Namun, mengetahui masa depan yang begitu menyedihkan menanti mereka, Mira seketika kehilangan percaya diri. Ia merasa bahwa dirinya sendiri tak akan bisa mengubah hasil dari ini.

“Kamu ragu? Mana percaya dirimu barusan? Saya tahu ini akan gagal. Tapi rencana kita bisa saja mendatangkan hasil berbeda!” Rey bersemangat.

Rencana. Dunia ini terdiri dari berbagai potensi dan probabilitas. Apapun bisa terjadi. Semua saling mempengaruhi satu sama lain dan merupakan kesatuan. Satu momen bisa mengubah segalanya. Sekarang, demonstrasi itu berbeda dari sebelumnya, ada Mira dan Rey dari masa depan yang telah mengetahui kenyataan yang menanti. Mereka memiliki kartu as yang akan membalikkan keadaan.

Tepat ketika, gerbang besar kantor Gubernur dibuka, sederetan aparat bersenjata menahan gerombolan demonstran yang menerobos masuk. Salah seorang lagi mengumumkan pemanggilan perwakilan demonstran untuk ikut dalam ‘agenda rapat darurat dengan Gubernur’ saat ini juga. Mira dan Rey mengetahui ini adalah momennya, dari 15 orang yang ikut masuk ke dalam, mereka ikut berbaur di dalamnya, menyembunyikan keberadaan mereka dari mata-mata para demonstran yang tadi sempat curiga.

Aula itu cukup besar menampung semua perwakilan demonstran. 2 meja memanjang saling berhadapan di kiri dan kanan. Satu lagi meja memanjang menghadap ke arah tengah. Di meja kanan telah duduk para pria berdasi berpakaian rapi. Di meja tengah ada Gubernur dan Wakilnya. Meja kiri diperuntukkan untuk demonstran. Rey tidak pernah lupa gambaran situasi saat itu. Ia sangat muak akan kejadian hari itu.

Stick to the plan. Don’t be stupid.” Mira berbisik, duduk di barisan belakang perwakilan.

Selang 10 menit. Para demonstran mulai membuka suara. Mereka melayangkan beberapa pelanggaran dari rencana pembangunan terhadap UU Pengelolaan Pulau dan Pesisir, UU Pelestarian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Mereka menyampaikan tidak adanya bukti sosialisasi terhadap warga sekitar terkait pembangunan, juga laporan analisis lingkungan dari pihak perusahaan yang tidak relevan.

Para demonstran mendukung pengajuan rencana pembangunan penangkaran penyu dan kura-kura, yang sesuai dengan UU Pelestarian dan Penangkaran Hewan Dilindungi. Gubernur dan Wakilnya menyimak seksama penuturan demonstran. Pihak perusahaan yang ditemani beberapa bodyguard juga orang-orang Tiongkok saling berbisik dan tersenyum. Senyum yang sangat menyebalkan bagi Rey.

Gubernur membuka suara tentang rencana pembangunan. ia menjelaskan bahwa pembangunan PLTU di dekat pantai, telah melalui analisis secara saintifik mengenai dampak lingkungannya. Penyediaan lahan dengan penebangan hutan dekat daerah tersebut telah mendapat persetujuan pemerintah daerah. Himbauan sosialisasi ke warga juga didelegasikan ke pemerintah daerah. Terkait pelanggaran UU yang disebutkan, Gubernur melakukan penyesuaian agar tidak ‘tumpang tindih’ dengan sederet pasal pada UU tersebut.

“Omong kosong. Tipikal yang akan mengajakmu berputar hingga kepalamu pusing, pada pokok pembicaraan yang sama. Ingin sekali kuhajar kepala botaknya itu.” Mira dengan tenang tetap melayangkan sarkasnya.

“Kerjasama antar mereka telah mendapat keuntungan sangat jelas. Itulah mengapa ia tampak mati-matian membela proyek.” Rey ikut menggerutu.

Para demonstran kembali menjelaskan lebih mendetail dampak lingkungan jangka panjang terhadap pembangunan PLTU. Mereka juga menjelaskan penggunaan bahan bakar alternatif seharusnya bisa masuk pertimbangan untuk pembangunan pembangkit listrik. Pihak perusahaan mulai angkat suara.

“Terkait pembangunan, kami telah merencanakan sejak 2004. Selama itu hingga tahun 2017, kami berekpserimen untuk bisa mengurangi dampak lingkungan dan kami telah sampai di titik ini. Kerjasama kami dengan pemerintah daerah juga telah menemui kesepakatan untuk segera melaksanakan pembangunan. Ini demi menghidupi kebutuhan energi listrik bagi warga. Karena di masa depan nanti, tiap daerah harus memiliki sumber pembangkit listrik yang bisa menghidupi daerahnya. Jadi, tolong pahami dengan lebih seksama tujuan pembangunan. Jangan asal menuntut karena melanggar beberapa pasal dalam UU. Semua butuh pengorbanan untuk sebuah kemajuan.”

Rey tahu betul, Gubernur akan sangat memihak perusahaan. Ia menoleh kepada Mira. Sama sekali, gadis itu tak menyadari bahwa Rey menatapnya begitu lama mengharapkan solusi. Mira teringat, bahwa satu intervensi kecil darinya memang bisa saja mengubah masa depan. Ia melupakan rencananya, ia seketika ragu. Pikirannya mengambang pada konsekuensi dari rencananya. Suaranya tak keluar, rasa keadilan dalam dirinya meredup. Hembus angin ketakutan mendinginkan bara api perjuangannya. Apa yang ingin dicapai dari misi ini? Sejak awal, misi ini hanyalah omong kosong. Bedawang Nala yang menjadi tujuan utama, tak lebih hanya mitos.

Perwakilan demonstran bangkit melawan, menuding para pihak perusahaan. Salah seorang tersulut emosi dan baku hantam terjadi. Para bodyguard menundukkan para demonstran dan aparat bersenjata menangkap semua perwakilan demonstran dengan tuduhan anarkisme dan provokasi massa. Mira dan Rey berhasil mengendap keluar ketika suasana memanas. Bergabung ke keramaian demonstran, menyaksikan rekan-rekan seperjuangan diboyong ke pihak berwajib.

Keraguan Mira telah membuat demo berakhir sama. Rey dengan amarahnya hanya bisa memendam. Kejadian sama yang terulang hanya akan menyulutkan api dendam yang sama. Ia tahu, seharusnya tak ikut dalam rencana ini. Ia bahkan tak tahu bagaimana gadis itu akan menyelamatkan masa depan mereka. Ia seharusnya tak mempercayai Mira.

“Saya kecewa. Kamu tak melakukan apa-apa. Sekarang apa? Kamu akan diam saja, mematung seperti di sana?”

Mira menoleh, matanya memerah, berkaca-kaca. “Dengar, lelaki bodoh. Kau tak akan tahu apa konsekuensi yang menantiku jika menulis ulang sejarah. Aku tak tahu betul apa yang akan menimpaku, juga dirimu. Apakah ini hanya tentang perjuangan? Ini tentang bertahan hidup juga! Apa kau tahu itu?! Pernahkah berada pada titik, dimana satu kesalahan kecil saja bisa menghapus eksistensimu di dunia ini?!”

Saat itu juga, Rey merasa sangat bersalah. Mira menahan beban sangat besar di pundaknya. Ada pantangan yang harus ia ikuti. Rencana mereka gagal total, namun ada hal yang menghantui di luar itu. Sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia. Sesuatu yang tersembunyi di balik tindakan melanggar kodrat ruang waktu. Gadis itu kini menitikkan air mata, mengalir pelan di pipinya. Rey tahu, bahwa bicara lagi akan membuat semuanya runyam. Di balik perjuangan selalu ada keputusasaan.

Gadis itu diam meringkuk dekat mesin waktunya. Apa yang ia mau perjuangkan? Apa yang akan ia dapatkan? Ia sedang berusaha melawan kodrat. Dosa terbesar manusia dalam menjalani kehidupan. Akankah neraka tak lagi pantas untuknya? Atau ada realitas lain yang akan menampung penentang kodrat seperti dirinya? Di tengah renungan penuh, Rey datang duduk di sebelahnya.

“Saya minta maaf. Tidak mengerti bebanmu. Saya hanya begitu kecewa melihat kegagalan yang sama kedua kalinya. Mungkin memang sejarah tak seharusnya ditulis ulang, dengan intervensi kita yang berasal dari masa depan. Apapun yang menanti di masa depan sekarang ini, saya akan menerima. Selama saya bisa terus berjuang bersama Green-Savior. Bahkan jika semua berujung sia-sia.”

Hening cukup lama. Mira hanya mendengar Rey. Bibirnya tak jua mengeluarkan sepatah kata. Melihat kesungguhan Rey, mengingatkan Mira akan dirinya yang menjadi anggota SAO. Untuk apa ia menjadi ilmuwan? Apa yang ingin ia capai? Untuk apa semua itu? Benaknya mempertanyakan apakah ia memiliki kesungguhan seperti Rey. Jika ia mampu mengubah sejarah dengan pengetahuan ilmiah yang telah dikajinya bersama SAO selama bertahun-tahun, bukankah untuk mencapai sesuatu?

“Kalau saja saya—”

Mira tiba-tiba bangkit. Tangannya mengepal.

“Kalau saja…” Mira menyatukan percikan idenya. 2 kata yang memicu pikiran logisnya untuk menyatukan fakta sejauh ini. “Butterfly Effect!” Mira menepuk tangan. Matanya berbinar. Ia menatap Rey yang masih heran.

“Kapan kalian mulai mengorganisasi perlawanan?” Mira yang sedih kini tiada. Gadis itu bangkit seketika.

“Ehm… sejak lama sih. Tapi persiapan paling matang dicapai sejak sebulan sebelum demo. Apa maksud yang tadi kamu katakan itu? Butter– apa?”

“Kita kesana. Maafkan keraguanku sebelumnya, aku akan menjelaskan setibanya disana.”

Kalau saja Mira tetap ragu dan takut. Tak akan ada yang ia capai. Apa yang ia akan capai dengan menjadi ilmuwan, jika ia takut dengan konsekuensinya? Benar apa yang dikatakan pemilik perusahaan korporat itu. Tanpa pengorbanan maka kita tak akan mendapat kemajuan. Jika memang ada yang harus ia korbankan demi masa depan, maka ia harus siap. Walau itu mungkin akan berujung sia-sia, ia harus berjuang.

2017, sebulan sebelum demonstrasi.

Lompatan waktu kini mengantarkan mereka ke rapat konsolidasi aliansi Green-Savior, komunitas peduli lingkungan, ormas, tokoh masyarakat dan kepala daerah sekitar. Saat itu Rey memang tak ada disana. Ia belum tergabung. Rey bergabung 2 minggu sebelum demo ketika ia menyuarakan perlawanan melalui desain-desain poster ofensifnya di media sosial.

Di rapat itu, anggota Green-Savior telah mengumpulkan data yang seperti mereka suarakan saat rapat Gubernur. Mengetahui kurangnya data tersebut, melalui pengarahan Mira, Rey angkat bicara mengenai rencana yang sebelumnya telah ia perkuat bersama Mira. Kali ini, mereka tak boleh gagal lagi. Kendati Mira telah menggunakan kesempatan terakhirnya. Mesin waktu telah kehabisan bahan bakar untuk lompat kembali ke masanya. dengan kembali lagi ke saat ini. Apapun yang terjadi, ia harus tetap maju.

Perencanaan telah disusun matang. Butuh waktu lama menyiapkan. Semua kejadian masa itu berubah total karena intervensi Rey yang dari masa depan itu. Beberapa gejala mulai dirasakan Mira, kepalanya mulai pusing dan sesekali pandangannya berkunang-kunang. Tepat pada hari demonstrasi, semua berjalan sama persis, hanya saja kini Mira dan Rey berada di posisi depan bersama para pejuang.

“Kalian bekerja sangat baik. Pemikiran gadis ini sangat mempengaruhi semangat juang kami untuk meneruskan perlawanan. Ia adalah salah satu contoh seorang yang terpelajar.” Ketua dari Green-Savior berbicara pada mereka, membuat Mira sedikit tersipu.

Semua berjalan tepat seperti sebelumnya. Mereka dipanggil untuk rapat dengan Gubernur juga dengan perwakilan perusahaan. Mira menatap Rey.

“Sisanya, percayakan padaku. Satu momen akan mengubah segalanya.” Keyakinan disorot matanya membuat Rey bergidik. Dalam hati ia berseru, panjang umur perjuangan!

Perlawanan demonstran di awal rapat sama seperti sebelumnya. Tepat ketika tanggapan dari pihak perusahaan selesai terucap. Mira angkat bicara. Rencana ini adalah tentang Mira yang menjadi ‘pemicu’ perubahan sejarah di masa ini, yang akan membawa mereka ke kemungkinan masa depan yang baru. Apa yang ada di waktu ke depan? Ia harus menyaksikannya sendiri.

“Kemajuan memang membutuhkan pengorbanan, Tuan perusahaan korporat.” Dengan tenang ia menatap mata para perwakilan perusahaan. “Dengan mengorbankan kepentingan lain, kalian akan mampu mencapai apa yang kalian sebut kemajuan. Namun, sebelum itu biarkan saya memaparkan beberapa hal.”

Mira mulai mengeluarkan berbagai kertas. Jurnal penelitian, hasil uji coba lab, yang diantaranya adalah hasil penelitian dari Tiongkok. Mira mulai berbicara, keringat deras membasahinya, “Kalian, para budak korporat yang seringkali mengabaikan kepentingan rakyat, dengarkan!” Selangkah menuju chaos, Mira tak akan bisa kembali.

“Penelitian dari negeri pemodal terbanyak kalian, Tiongkok. Memaparkan tentang bahaya penggunaan bahan bakar batu bara terhadap lingkungan. Termasuk ekosistem laut, tanah, dan masyarakat sekitar. Hampir sekitar 70% masyarakat yang tinggal selama 5 tahun dekat dengan PLTU di Tiongkok mengidap penyakit paru seperti bronchitis, bahkan kanker paru-paru. Karena letupan CO juga NO2 yang begitu banyak dalam tahun-tahun tersebut. Itu juga menjadi pengaruh utama dari tingkat polusi yang mengerikan di negeri tirai bambu itu. Seharusnya pemodal kalian itu tahu tentang ini, namun mengapa tetap membangun hal berbahaya itu di sini? Apakah mereka tak menyadari bahayanya? Mungkin saja tidak. Apalagi jika mengetahui keuntungan besar yang bisa diperoleh dibaliknya, bukan?”

“Kepunahan penyu dan kura-kura adalah dampak nyata kerusakan ekosistem laut dari pengoperasian PLTU. Bukan saja karena perburuan, hasil pendataan kami yang bekerja sama dengan dinas pemeliharaan flora dan fauna lokal juga mencatat bahwa tingginya kasus kematian penyu dan kura-kura adalah karena konsentrasi merkuri pada laut sangat tinggi bahkan mencapai level darurat, di salah satu daerah. Kadarnya sudah melampaui batas normal yaitu 0,001 ppm. Kandungan merkuri banyak didapat pada tubuh hewan tersebut. Itu berdampak pada sistem reproduksi mereka, merusak kemampuan untuk meneruskan keturunan. Untuk itulah kami mengajukan pembangunan penangkaran penyu dan kura-kura untuk menyelamatkan mereka. Bukankah para iblis korporat ini tahu betul limbah apa yang dihasilkan pembakaran batu bara dan kemana pembuangannya?” Otot wajah Mira menegang, keheningan dan tajamnya tatapan yang menusuk dari segala arah membuat hormon adrenalinnya meningkat drastis. This is Chaos!

“Laporan analisis mengenai dampak lingkungan juga telah dikaji oleh sekelompok rekan kami di Institut Teknologi dan Riset Sains, telah membuktikan bahwa itu tidak relevan. Jika menantikan dampak muncul secara fisik, menimbulkan kerusakan dan kerugian lingkungan atau bahkan lebih, maka apa guna adanya analisis ini? Jika pengajuan gugatan atau kasasi terhadap Pengadilan Tinggi ditolak berdasarkan dugaan dampak yang belum tampak, lalu apa gunanya para ilmuwan dalam membangun kemajuan, menggunakan uji coba dan analisis probabilitas dampak dari apa yang mereka kerjakan?”

“Jika bapak Gubernur dan Wakil, mau mempertimbangkan ini dan membatalkan rencana pembangunan, maka silahkan baca dan pahami penemuan kami ini. Sebagai salah seorang generasi terpelajar, mendidik penguasa dengan perlawanan adalah cara kami untuk memberikan kontribusi pada bangsa. Temuan yang kami sebut bersama teman-teman seperjuangan tadi adalah bukti riil dan autentik, bebas dari manipulasi dan merupakan penelitian ilmiah.” Ketua Green-Savior unjuk bicara.

Hening. Perwakilan perusahaan dan beberapa orang Tiongkok yang ada di sampingnya menekuk wajah mereka, yang lainnya menggerutu dalam bisikan. Gubernur sendiri belum angkat suara. Para demonstran lain saling bersahutan mendukung semua pernyataan dari yang mereka suarakan. Pihak oposisi saling berbisik, bodyguard mulai mengelilingi seisi aula. Rey tahu betul mereka akan ditangkap karena ini, rencana ini adalah satu-satunya yang bisa mereka lakukan. Namun dari apa yang terjadi setelah Mira dan yang lainnya suarakan, semuanya berbeda dari kejadian sebelumnya. Kini, sesuatu yang baru telah menanti mereka.

“Terima kasih pada pihak demonstran telah melakukan riset ilmiah dan mengkaji secara mendalam mengenai rencana pembangunan. Izinkan kami mempertimbangkan ini dengan dewan perwakilan juga dengan pihak perusahaan mengenai dampak lingkungan ini. Untuk rapat kali ini saya bubarkan, terima kasih atas partisipasi kalian.” Gubernur keluar ruangan diikuti wakil, para demonstran bersorak-sorai. Berbeda dengan Mira. Ia terduduk lemas. Terasa kepalanya hendak mengembang begitu besar lalu pecah berkeping-keping. Ia melanggar pantangannya, namun melihat sejarah yang berubah, ia tersenyum puas.

1 bulan setelah perlawanan itu. Gubernur mengeluarkan surat keputusan terkait penundaan rencana pembangunan PLTU. Terkait pembangunan penangkaran penyu dan kura-kura, telah masuk dalam agenda rapat dewan untuk mendapat persetujuan. Rey dan teman-teman Green-Savior tahu perjuangan mereka baru dimulai. Ini hanya awal. Semua anggota merayakan keberhasilan perlawanan mereka. Terkecuali…

Mira duduk sendirian, menatap mesin waktunya yang kini hanya rongsokan. Ia tak bisa kembali, ingatannya bercampur aduk, kepalanya hendak pecah. Beberapa kali dalam perjalanan kemari ia pingsan. Konsekuensi memang harus dibayar dan itu telah menanti Mira membayar tagihannya. Konsekuensi dari menulis ulang sejarah. Mira menutup matanya perlahan, membiarkan apapun yang akan terjadi pada dirinya. Hilang? Musnah? Mati?

Tahun 2019.

Penangkaran penyu dan kura-kura telah dibangun, mendatangkan banyak wisatawan asing. Green-Savior menjadi pengurus dari tempat tersebut. Dalam perjalanan menuju kesana, Rey merasakan ada yang hilang. Terdengar suara begitu halus hampir tak terdengar. Itu seperti suara dari dimensi lain. Belum lagi mimpi tentang pertemuan dengan seorang gadis yang sangat nyata, terus ia alami sejak hari demonstrasi itu berakhir. Ia tak tahu harus apa dengan mimpi dan suara itu, namun satu hal yang pasti. Ia dan Green-Savior harus berjuang lagi, apa yang menanti ia di masa depan nanti? Ia harus siap menghadapinya.

Suatu waktu di Masa Depan

Ia terbangun. Dengan rambut berantakan, mata beler, bekas liur di ujung bibirnya. Denyut pada kepalanya masih terasa menusuk. Untuk sesaat ia tak mengetahui dirinya siapa, apa yang terjadi dan…

“Sudah sadar?”

Ia menoleh pada sumber suara. Perlahan, mengusap matanya. Memperjelas penglihatan.

“Ada apa, ya?” suaranya terdengar sedikit parau.

Hamparan foto dan sebuah buku yang terlihat sangat tua dan kuno diberikan oleh orang tersebut. Ia menatapnya bergantian. Ruangan itu sepi, hanya ada mereka berdua.

“Mira. Kita punya proyek lagi.” Ilmuwan tua itu menyambutnya dengan senyum.

“Bagaimana dengan… umm… The Lost Paradise?” Ia sedikit berusaha mengingat, menambah denyut menusuk di kepala. Ilmuwan tua itu bingung. “Apa maksudmu? Dimana mendapat istilah itu?”

Pecahan ingatan yang berhamburan, mulai berkumpul di memorinya. Mungkinkah semua itu tak pernah terjadi? Apa itu hanya mimpi? Disaat yang sama, Mira merasakan kehilangan, terasa ada hilang, yang dulu berada di sampingnya. Walau sesaat.

Mira mengutarakan semuanya. Walau sesekali ia terlihat berusaha keras mengingat, menyatukan tiap keping ingatan yang entah berasal darimana. Untuk waktu lama, ilmuwan tua itu terdiam usai mendengarnya. Mira menantikan penjelasan, ia tak ingat darimana mendapat ingatan itu. Perjalanan waktu, keramaian orang berkumpul, suasana rapat, dan… dia… siapa dia? Siapa yang ia rasakan sebagai kehilangan?

“Kamu luar biasa. Sekarang istirahatlah, mimpi panjangmu pasti melelahkan…” Ilmuwan tua langs/ung meninggalkannya di ruangan itu. Tak memberi penjelasan apapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *