Cerpen #289; “Kalut di Ruang Ilusi”

Di bawah terik baskara, tangan lelaki itu berkeringat menyetir kemudi dump truk penambangan. Terpampang jahitan kecil sederhana di pojok kaosnya membentuk nama Rudi Suprapto sebagai tanda pengenal. Rudi mengerti, kegiatan menambangnya merupakan salah satu bentuk sumbangsih merusak ekosistem. Namun, ini lah satu-satunya jalan penyambung nyawa untuk menafkahi anak semata wayangnnya di rumah: Panji Suprapto.

Penampakan alam di sekitar rumah Rudi kini telah menjadi pemandangan yang tidak pernah didambakannya sejak kecil. Ladang sawah yang dulu subur dengan padi dan sayur, sekarang tiada harapan rerumputan liar kan tumbuh meghijau. Sejak beberapa tahun kemarin, pemerintah telah mengsahkan penambangan batu bara di desa Sukoharjo, tempat tinggal Rudi, dengan dalih pembangkit listrik tenaga uap dan sebagainya. Aksi unjuk rasa telah jamak dilakukan. Namun apa daya, semuanya menjadi nihil karena karsa aparat yang tak bisa dilawan.

Dengan manis, masyarakat kota dapat menikmati manfaat dari hasil tambang tersebut. Namun sebaliknya, pemukiman-pemukiman desa tempat tinggal Rudi semakin tenggelam dalam kepahitan yang menjamur bak cendawa di musim hujan. Hutan dibabad. Satwa-satwa liar tersikat. Kemarau datang, tanah menjadi kering kerontang. Tak ketinggalan, banjir bandang pun tiba ketika musim penghujan.

Rudi yang sedari kecil tak berpendidikan layak karena latar belakang ekonomi, membuatnya hanya mampu mengenyam pendidikan bertani dari ayahnya sendiri, seorang petani kampung. Hari demi hari berlalu, setelah melihat perpindahan kondisi alam di desa halaman Rudi tak terhindarkan, menjadikannya terpaksa meninggalkan pekerjaan petani sebagai profesi pokok.

Tanpa adanya keahlian lain dan minimnya lowongan kerja, Rudi pun terpaksa menghamba pada salah satu pekerjaan yang begitu dibencinya demi memenuhi suapan nasi keluarga kecil di rumah. Bagaimanapun juga, ia harus ikhlas menjalani pekerjaannya. Yakni sebuah pekerjaan yang sebenarnya berperan sebagai kanker dalam sejarah hidupnya sendiri: seorang pekerja tambang.

Setelah cukup lama mengemudikan dump truk di siang bolong, tiba-tiba, “Gradak…, gradak…, gradak,” terdengar suara bebatuan menuruni lereng tambang di dekatnya. Sontak Rudi terkejut. Ia lalu penasaran dan menengoknya melalui pantulan spion truk. Saat menengoknya, seketika matanya terbelalak. Dirinya seakan mematung melihat reruntuhan batu tambang dari atas lereng.

Tiada pilihan lain bagi Rudi. Jika ia keluar, reruntuhan berjarak puluhan meter tersebut akan langsung melumat Rudi sampai halus. Kalaupun harus berlindung dalam truk, kemungkinan terkecilnya, dirinya akan ikut terguling kemudian terjebak di dalam truk berbobot ratusan ton itu bersama dengan timbunan longsoran tambang. Dan jika ditanyakan seperti apa kemungkinan terpuruk yang akan terjadi, maka jawabannya adalah ajal yang segera menghampiri kala bebatuan itu menghantam.

“Dar…, gradak…, gradak…,” tak lama reruntuhan erosi tanah itu mulai menabarak truk Rudi. Dump truk tersebut terperosok menuju dasar lereng penambangan akibat hantaman longsor. Ketika truk itu semakin terperosok, keseimbangannya pun semakin tak simetri sampai tak henti terguling-guling menuju ke dasar tambang.

  Di dalam truk yang terus terguling, kepala Rudi tak henti terbentur dasbor kemudi dengan kencang berulang-ulang kali. Tubuhnya terpelanting ke sana kemari. Matanya mulai nanar dan Kabur. Semua badannya tak sempat melakukan gerak motorik sama sekali ketika berada dalam ruang kemudi yang berputar-putar menuruni lereng.

Di titik ini, Rudi terpaksa harus tunduk tak kepada hukum alam. Gaya inersia yang semakin menjamur ketika truk terguling dan terhantam, secara sukarela melayani tubuh Rudi dengan pembantaian besar-besaran sampai truk itu terhenti. Kali ini, pertaruhan nyawa Rudi sangat bergantung ke mana jalan takdir akan berpihak.

Selepas beberapa waktu, gerak longsoran tanah mulai mereda dan terhenti. Kondisi tubuh Rudi seakan telah kehilangan daya untuk sekedar menggerakkan badannya sendiri. Kepalanya terasa gayang tak karuan. Sayup-sayup matanya mulai memburam. Pandangannya semakin meredup, lalu lesap dan menghilang dalam ketidaksadaran.

oOo

Setelah beberapa saat, kesadarannya mulai pulih. Remang-remang cahaya terlihat ketika Rudi membuka mata. Jari-jarinya perlahan digerakkan, ia pun berusaha bangun dan menegakkan badan. Saat berusaha berdiri, tubuhnya sedikit terhuyung-huyung. Sesaat kemudian, ketika mengetahui dirinya benar-benar sadar, dirinya seakan tak percaya masih dapat menghempaskan nafas dan melihat kembali dunia.

Namun, setelah sadar dan mengamati sekitar, Rudi merasakan sebuah kejanggalan-kejanggalan di tempatnya berada. Bukannya bangun di dalam kemudi truk yang gelap karena tertimpa runtuhan longsor, Rudi malah melihat dengan jelas sebuah persimpangan jalan yang saling menghubungkan empat arah yang berbeda. Tak hanya itu, di sekelilingnya menjulang pula gedung-gedung tinggi berarsitektur futuristik seluas mata memandang.

Selain merasa aneh, mata Rudi juga tertegun melihat pemandangan sekitarnya. Perlahan, terdengar  riuh-riuh keramaian silih berganti memenuhi isi telinganya. Sempat, telinga Rudi merasa bising akan keramaian disekitarnya itu. Mau bagaimana lagi, keramaian-keramaian ini sangat berbanding terbalik dengan ketenangan yang ada di desanya. Ia pun terpaksa untuk memaksa telinganya agar beradaptasi keramaian ini. Meski mudah, namun tetap saja Rudi merasa tak biasa.

Kedua tangannya mengusap mata perlahan. Penglihatannya semakin jelas. Ia menengokkan kepala ke kanan dan kiri. Ia masih ragu akan tempatnya berada. Apa mungkin ini halusinasi? Setelah sekian saat merasakan sensasi yang benar-benar nyata, akhirnya Rudi menyadari akan suatu hal yang pasti, kini ia berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. lebih detailnya, ia telah berada di pinggir perempatan kota besar yang tak ia kenal.

Belum sampai setengah menit Rudi terbangun dan berdiri di samping perempatan kota tersebut, tubuh Rudi kembali terbasahi oleh keringat-keringatnya. Kaosnya basah kuyup akibat derasnya peluh yang bercucuran di sekujur badan. Tenggorokannya serasa merindukan setetes air segar. Ia mendongakkan kepala ke atas. Dalam persaksian kedua netranya, tampak lah sang surya yang terlalu dermawan untuk menyedekahkan terik panasnya kepada masyarakat kota.

Sebab tak kuasa menahan panas matahari, Rudi berjalan memindahkan posisinya ke bawah bayangan salah satu gedung kota sebagai tempat berteduh. Dirinya mengaku sangat kaget dengan kondisi suhu kota itu. Bahkan, di benaknya Rudi sempat berpikir, bahwa lahan tambangnya sepuluh kali lebih sejuk dibanding kota aneh ini.

Semakin lama Rudi meneduh di bawah bangunan gedung, membuatnya terhindar dari sengatan terik matahari dan kembali merenungi diri. Ketika dalam kondisi merenung, sesempatnya ia memikirkan kondisi Panji, anaknya di rumah. Apakah hari ini dan esok-esok hari masih ada suapan nasi yang datang dan menemuinya? Atau ia akan mati dengan kondisi kering kelaparan karena ayahnya yang tak kunjung datang saat mencarikannya nafkah? Persepsi-persepsi itu sungguh membuat pikiran Rudi menjadi kalut.

Duduk menyendiri, pikiran Rudi terus berputar-putar. “Apakah ini hanya mimpi?” Tangan Rudi mencubit pipinya kemudian. “Ahh…, masih sakit, ternyata ini sungguhan. Bagaimana caranya aku bisa berada di sini,” celetuk Rudi dalam hatinya. Pikirannya terus berbelit-belit memikirkan anomali ini. Namun, sesaat kemudian, karena tak kunjung menemukan jawaban yang tepat, Rudi pun memutuskan untuk tak memikirkannya kembali.

“Hoarggh…, hoargghh…,” tiba-tiba terdegar suara dengusan dari nafas-nafas yang kelelahan. Karena terdengar aneh, Rudi pun serasa ingin menelusuri dari mana suara itu berasal. Menoleh ke kanan dan kiri dan memfokuskan pendengarannya ke arah datangnya suara itu. Setelah sejenak melakukan pengamatan, ternyata suara-suara tersebut berasal dari arah persimpangan jalan raya di depan Rudi.

Betapa terkejutnya Rudi, melihat ratusan manusia yang berlalu-lalang melewati sepanjang jalan raya. Tak ada satu pun kendaraan bermotor di situ. Suara-suara yang didengarkan Rudi barusan, adalah suara dari setiap manusia yang terengah-engah ketika menjadi kendaraan bagi manusia lain yang menumpanginya dengan berbagai keperluan. Meski tak semua orang yang melewati jalan itu selalu berkendara manusia lain (ada yang berjalan kaki atau berlari), namun pemandangan itu tetap lah menjadi sesuatu yang sangat menggelikan di mata Rudi.

Tak hanya itu, setelah lebih mengamati sekitar, Rudi juga menemukan tiga orang yang menduduki kursi gantung di atas tiang lalu lintas kota. Setiap dari mereka membawa papan-papan yang berbeda warna untuk mengatur jalannya lalu lintas manusia. Seperti halnya lampu lalu lintas pada umumnya, mereka akan megatur perjalanan di jalan raya dengan menunjukkan papan-papan berwarna hijau, merah dan oranye sesuai dengan kondisi dan waktu penempatannya.

Begitu banyak hal yang keluar dari garis kenormalan. Tak sedikit pula terlihat diskriminasi sosial yang mengacu pada pengabaian hak asasi manusia. Sampai-sampai, mata Rudi mengaku sangat jarang melihat sesuatu yang wajar di tempat itu. Uniknya lagi, ternyata terdapat satu kesamaan pada mereka-mereka yang melakukan pekerjaan-pekerjaan penghancur harga diri tersebut. Semua dari mereka memakai jenis pakaian dengan ciri khas yang sama. Pakaian tersebut terlihat sangat mencolok dan berbeda dengan pakaian yang dikenakan masyarakat pada umumnya.

Pakaian-pakaian itu berwarna perak metal dengan beberapa lampu neon berwarna hijau di beberapa titik. Sesekali, pakaian terlihat berubah bentuk dan model begitu saja. Bermula dari pakaian utuh yang dikenakan, tiba-tiba bagian-bagian dari pakaian tersebut berhamburan, berubah layaknya debu-debu yang beterbangan lalu menyatu kembali membentuk bagian-bagian yang baru. Dari kancing menjadi selendang, dari kerah pakaian menjadi tudung kepala. Semuanya bisa berubah dengan mudahnya.

Namun, ada satu keseragaman yang tak dapat diubah layaknya bentuk-bentuk pakaian tadi. Semua orang yang dipekerjakan layaknya pengganti mesin-mesin tak berakal itu, selalu menggunakan masker di wajahnya. Masker tersebut berbahan mika, dengan sedikit lapisan karet di pinggir-pinggirnya. Tak hanya itu, masker yang digunakan tersebut juga memiliki selang kecil yang menyambung ke pakaian mereka.

Setelah mengamati sekitar, Rudi merehatkan badannya di tempat duduk umum di dekatnya untuk melepas penat. Membujurkan kaki, lalu menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya kembali.

“Uhuk…, uhuk…, uhuk…,” setelah menghembuskan nafas, sekonyong-konyong Rudi terbatuk-batuk tak karuan. Serasa ada sesuatu yang menyumbati hidungnya sampai nafasnya sesak. Ia sempat menyangka ini adalah gejala dari Bronkitis ‘sebuah penyakit peradangan yang disebabkan infeksi virus yang menyerang bronkus (saluran pernapasan) pada paru-paru’. Tapi, mana mungkin ini terjadi dalam sekali hembusan nafas? Apakah tidak terlalu singkat?

“Uhuk…, uhuk…,” tak henti-hentinya Rudi terbatuk. Nafasnya semakin sesak, kepalanya juga mulai terasa pening. Orang-orang di sekitar hanya melihat dengan pandangan sedikit sinis. Rudi pun berusaha untuk berdiri kembali dan berniat mencari air. Akan tetapi, usahanya ia rasa adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Ketika ingin berdiri, seketika tubuhnya sempoyongan ke sana kemari dan membuatnya jatuh.

Ia pun terjatuh lemas di depan kursi yang barusan didudukinya. Ia berharap akan ada yang menghiraukan dan membantu dirinya. Akan tetapi, satu pun uluran tangan tak kunjung menghampirinya. Kondisinya semakin tak karuan, kesadarannya pun sedikit demi sedikit memudar. Namun, setelah sekian detik kemudian, samar-samar Rudi melihat ada yang mendekatinya di tengah keadaanya yang mulai berpindah ke alam bawah sadar.

 Mengenakan kaos putih berlapis jaket jeans dengan kancing terbuka, bercelana panjang biru tua serta membawa tas ransel kecil berwarna krem di pundaknya, gadis itu seakan memberikan pertolongan dengan menyodorkan sesuatu kepada Rudi. “Pegang, dan hirup benda ini melaui lubang di ujungnya sampai kau terasa lebih nyaman,” Ucap gadis cantik berambut hitam panjang menggelombang itu kepada Rudi.

 Tanpa menunggu lama, Rudi langsung mengambil benda itu dan menghirupnya. Bentuknya sekilas mirip rokok elektrik, hanya saja lebih kecil dan mungil. “Huuuft…, huuuuft.” Setelah menghirupnya beberapa kali, kondisi Rudi menjadi semakin membaik. Penglihatannya kembali jelas, dan rasa pusing di kepalnya berkurang.

“Ayo pak, sini, biar Sukma bantu bapak berdiri dan duduk kembali,” ucap gadis berperawakan dua puluh satu tahun itu.

“Eh, iya terimakasih banyak.”

“Mau kopi pak, kurasa sedikit kafein bisa membantu untuk menenangkan pembuluh darah bapak sehingga dapat meredakan sakit kepala. Dan tentunya, membuat perasaan menjadi lebih santai dan rileks,” ujar Gadis itu sembari menyuguhkan segelas kopi yang dibawanya.

“Iya sudah, makasih. Ini juga sudah membaik. Ngomong-ngomong, adik ini siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Belum pak, baru saja bertemu bapak. Namaku Sukma Suprapto pak atu bapak bisa memanggilnya dengan sapaan akrabnya saja, Sukma. Aku adalah anak tunggal dari Panji Suprapto yang entah di mana ia sekarang? Kalau bapak pernah bertemu dengannya, tolong beritahu Sukma di mana lokasinya. Aku sangat merindukannya.”

“Deg…,” hati Rudi langsung tersentak kala mendengar nama “Rudi Suprapto”.

“Kalau boleh tahu, Panji Suprapto itu siapa ya,” tanya Rudi memastikan. Meski ia tahu di dunia ini banyak orang yang memiliki nama serupa, tapi entah kenapa ia begitu ingin menanyakannya.

“Hisk…, hisk…,” setelah mendengar pertanyaan Rudi, tiba-tiba Sukma menitikan air mata pelan. Dari isak tangisnya, seakan tergambar sebuah memori yang kelam. “Eh… maaf, kenapa adik menangis ketika aku menanyakan nama Panji, ada apa dengannya?”

“Dia adalah ayah yang baik bagiku. Sosok yang mempedulikan kasih sayang. Ia hidup sebatang kara sejak usia balita sebab ditinggal kakekku sejak kecil karena sebuah kecelakaan di sebuah penambangan tempatnya bekerja. Sedari kecil, perjalanan hidupnya menuai banyak tantangan. Dari tantangan-tantangan itulah, dia menemukan sebuah kemandirian yang tiada tara. Menimba ilmu dengan berbagai cara. Tak punya uang, bukan menjadi alasan bagi dirinya untuk berhenti belajar di luar persekolahan,” lanjut Sukma.

Mendengar jawaban tersebut, Rudi semakin merasa ganjil akan sosok bernama Panji Suprapto yang Sukma ceritakan. Ia yakin, bahwa Panji yang dimaksud Sukma, adalah anak semata wayangnya yang baru ia tinggal sejak pagi tadi.

Menyibak rambutnya pelan dan sesekali menyeka air mata, gadis itu melanjutkan pembicaraannya, “Dia adalah sosok yang paling cerdas yang pernah kutemui. Bermacam-macam disiplin ilmu ia tekuni. Tapi, Karena di awal masa remajanya beragam kejadian yang berkaitan dengan krisis telah banyak bermunculan, rupanya ia lebih gemar dan lebih mencondongkan ilmunya ke arah sains dan tegnologi. Alhasil, ia pun merancang terobosan-terobosan tegnologi yang dapat lebih mejaga keseimbangan ekosistem alam. Begitu hebat, Akan tetapi, dari sini lah awal malapetaka bagi dirinya dimulai.”

“Bukan hanya satu atau dua produk, dulu Ayah telah mengeluarkan mesin-mesin dengan bahan bakar terbarukan yang sangat efisien. Karena memiliki dampak positif yang dinilai apik dan mutakhir, seiring bejalannya waktu, para peminat penemuan-penemuan milik Ayah juga semakin bertambah. Sampai-sampai, kurva jumlah pengguna bahan bakar fosil mengalami penurunan drastis. Dari titik ini lah, perusahan-perusahaan pengeboran minyak, tambang batu bara, gas alam dan sejenisnya perlahan menemui kebangkrutan,” imbuh Sukma.

“Kalau begitu, bagus kan. Semua bergerak ke arah yang lebih baik,” celetuk Rudi

“Seharusnya begitu. Tapi semuanya berubah sejak malam itu. Entah ke mana ia hilang. Saat itu aku tertidur pulas di kamar. Tahu-tahu, ketika paginya, Aku terbangun dan Ayah telah tiada di rumahku,” timpal Sukma.

Saat aku menelusuri rumah, terdapat sedikit bercak darah milik Ayah di tempatnya belajar dan lembur mengerjakan sesuatu. Tatanan bukunya sedikit acak-acakan. Cetak biru tempat Ayah merancang beragam temuannya juga hilang. Entah apa yang ia alami sejak kejadian itu. Yang jelas, sampai kini misteri itu belum saja terungkap. meski tak sepenuhnya salahku, tapi aku sangat merasa bersalah karena tak menolongnya sedikit pun dan malah terlalu pulas dalam tidur yang nyenyak,” lanjut Sukma.

 “Tidak apa-apa, itu bukan salahmu. Mungkin Tuhan memberikan pilihan terbaik melalui jalan takdir-Nya yang lebih Ia ketahui. Semoga Ayahmu tenang di sisi-Nya,” balas Rudi menenangkan dengan menepuk pundaknya.

Sukma menyeka air matanya, “Iya, semoga,” jawabnya lirih. “Ini jugalah yang menjadi salah satu faktor munculnya alat-alat aneh yang Sukma beri kepada bapak barusan.”

“Oh…, alat untuk menolongku tadi,” tanya Rudi sambil melihat kembali alat itu. “Memangnya ada masalah dengan alat ini, kok ekspresimu terlihat sinis. Toh tadi juga terlihat sangat bermanfaat,” ucap Rudi.

“Jujur, Sukma benar tak tahu motif bapak kali ini, entah bapak berpura-pura lugu dan tidak tahu tentang kejadian di dunia ini, atau karena habis mengalami hilang ingatan yang parah beberapa waktu lalu. Meskipun itu hanya secara global, di zaman ini, hampir semua orang tahu alur kejadian berubahnya iklim planet ini dan seluruh akibatnya,” balas Sukma curiga.

“Bapak benar-benar tidak tahu apa pun Sukma,” jawab Rudi dengan sedikit gagap. Ia tak tahu bagaimana cara menjelaskan kejadian tak biasa yang dialaminya pagi tadi kepada Sukma. Selain itu, Rudi juga tak tahu bagaimana cara meyakinkan simpulan yang telah bulat di kepalanya: bahwa Sukma adalah cucu pertamanya.

 Melihat wajah lugu serta penampilannya yang sederhana. Sukma pun bersikap, rasanya tak ada salahnya untuk menjelaskan hal yang telah lumrah diketahui orang mulai dari awal. Meski membosankan, tapi dirinya tahu cara untuk lebih menghargai orang lain.

“Sejak seratus tahun kemarin, tepatnya tahun 2021, kurva kelahiran di dunia telah menunjukkan angka cukup tinggi. Berdasarkan hasil dari penelitian di waktu itu, lima anak akan lahir dalam setiap detiknya. Parahnya, angka tersebut akan terus tumbuh mengikuti perjalanan waktu. Inilah awal mula semua terjadi. Mungkin bukan menjadi faktor utama, tapi cukup untuk menjadi bahan dasar dari sebuah alasan dari seluruh kejadian setelahnya,” jelas Sukma.

“Maksudnya?” Rudi tak mengerti.

“Semakin banyak kelahiran, artinya populasi di dunia akan terus bertambah. Semakin banyak populasi, maka akan lebih banyak lagi kebutuhan dan keinginan yang diperlukan manusia. Otomatis, skala eksploitasi alam dengan akan makin besar seiring bergulingnya waktu. Asyiknya lagi, relita tersebut tak akan bisa dibantah oleh siapa pun,” ucap Sukma.

“Sumber daya alam semakin dikeruk, tapi kesadaran masyarakat kian memburuk. Bermula dari komparasi kedua hal inilah, beragam kutukan mulai terlahir di dunia. Polusi udara semakin tak terhindarkan. Emisi gas dari mesin-mesin bermotor, asap-asap hasil kegiatan idustri dan semacamnya menyebabkan berbagai unsur-unsur dan senyawa kimia seperti karbon, klorin, fluorin, hidrogen dan berbagai zat berbahaya lainnya dapat terbang bebas di udara,” imbuhnya.

“Lalu, apa masalahnya jika zat-zat tersebut terbang dengan bebas sesuka hati mereka?”

Mendengar hal itu, seketika Sukma langsung memberikan tanggapan. “Zat-zat semacam itulah yang menjadi penyebab utama terjadinya efek rumah kaca yang dapat menahan sinar matahari di atmosfer. Suhu udara semakin meningkat, lapisan ozon pun absolut terkena dampaknya. Tak heran jika iklim di bumi lambat laun terus menghangat. Orang-orang biasa peristiwa ini dengan global warming (pemanasan global),”

Di sela pembicaraan, Sukma tak lupa untuk menyeruput minumannya, “Sruuuft…, ah bapak yakin nggak mau minum kopinya. Enak loh. Ini tinggal sedikit, buat bapak aja,” sambil menyuguhkan segelas kopi di tangannya.

“Eh, ya dik. Sudah, adik minum aja. Aku cuma ingin dengerin lanjutan ceritanya.”

“Oh, oke, ‘Sruuuufft…, ah…,’ benar-benar kopi yang enak.” Ujarnya.

“Baik lah, kita lanjut ke pembahasan selanjutnya. Dari suhu udara yang terus meningkat. Bisa dibayangkan, seperti apa dampak yang akan timbul setelahnya. Gletser-gletser di daerah kutub semakin mencair, naiknya permukaan air laut serat daratan yang semakin tenggelam akibat meningginya permukaan laut itu sendiri. Mengerikan. Parahnya lagi, peristiwa buruk ini juga didukung oleh ulah-ulah manusia itu sendiri,” Lanjut Sukma.

“Minimnya reboisasi, penebangan hutan secara terus menerus, kurangnya resapan air di daerah perkotaan. Hal-hal semacam inilah yang akhirnya menyebabkan Atlantis-Atlantis generasi baru lahir di negeri kita puluhan tahun terakhir.”

Tangan Rudi sedikit menggaruk kepalanya. Meski agak kurang paham, tapi rasanya ia dapat sedikit mereka-reka penjelasan dari Sukma.

“Bayangkan saja, kegiatan-kegiatan industri tak henti-henti menguras air tanah dengan rakus. Sedangkan air-air ledeng dikuras habis untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat dan tercemar. Alhasil, kontur tanah akan semakin turun akibat berkurangnya komposisi penompangnya, sedang permukaan laut kian waktu kian meninggi tanpa henti. Kota-kota besar di pulau yang dulunya menjadi inti negara tenggelam.” seru Sukma.

“Sedikit ironi memang, tapi ini lah kenyatannya. Sekarang rata-rata penduduk diungsikan ke pulau-pulau besar agar tak terjadi hal yang serupa di kemudian hari. Maka dari itu, jangan terkejut jika kepadatan penduduk di kota ini sangat tinggi. Pulau-pulau yang tadinya akan tenggelam baik sebagian atau sepenuhnya, telah diupayakan untuk penghijauan kembali. Meskipun dirasa sedikit mustahil karena bnayaknya limbah yang terlanjur menyelimutinya.”

“Jadi, sekarang kita hanya tinggal menunggu waktu untuk pemulihan ekosistem yang diupayakan pemerintah itu saja kan. Masalah penurunan permukaan tanah terhadap kehidupan manusia kan sudah beres. Hampir semua populasi dan pusat pemerintahan kan telah dipindah ke sini, Kalimantan ‘pulau yang berukuran besar,” celetuk Rudi.

Sukma pun menjawabnya dengan santai, “Sayangnya tidak. Penyelesaian masalah ini tidak dapat kelar dengan mudah begitu saja. Kepadatan penduduk yang semakin tersentralisasi dan menggunung pada suatu tempat, membuat kebutuhan yang harus dipenuhi juga mengalami peningkatan yang signifikan. Akibatnya, kegiatan-kegiatan industri kian menjamur di kota-kota baru. Menyebabkan berbagai pencemaran terjadi akibat pembuangan limbah pabrik maupun limbah rumah tangga. Hal ini, dapat mengakibatkan masalah yang cukup serius.”.

 “Penerapan betonisasi yang mejamur di perkotaan, pencemaran tanah akibat maraknya limbah pabrik, B3, plastik, maupun zat-zat kimia yang dapat menghilangkan kesuburan tanah, adalah alasan yang sangat tepat kenapa kebutuhan pangan di zaman ini kerap mengalami krisis,” Jelas Sukma

“Apakah memang separah itu?” tanya Rudi.

“Yah…, pasalnya titik terparahnya belum Sukma ceritakan sama sekali. Penjelasan tentang permasalahan ini masih sedikit panjang. Jika bapak masih berkenan mendengarkan, dengan senang hati Sukma melanjutkan alur ceritanya.” timpal Sukma sembari sedikit memperbaiki model rambutnya yang terkena semilir angin.

Melihat matahari yang mulai tergelincir ke arah barat, suhu udara sedikit mengalami penurunan. Karena suasana yang lebih mendukung, Rudi merasa tak rugi untuk melampiaskan rasa penasarannya sekaligus. “Lanjutkan saja, bapak ingin lebih tahu detailnya,” ucapnya sambil sedikit merubah posisi duduknya agar lebih nyaman.

“Ah, oke baiklah aku akan menjelaskan detailnya lagi,” timpal Sukma. “Bukan hanya kondisi tanah dan udara yang makin buruk karena pencemaran, akan tetapi kondisi air juga terkena imbasnya. Kesegaran tiga unsur alam ini tidak lagi menjadi kebutuhan yang harus dicari, akan tetapi berevolusi menjadi kebutuhan yang harus dibeli.”

“Contoh saja, alat penghasil udara segar penuh oksigen yang Sukma kasihkan kepada bapak tadi. Alat itu harus dibeli. Kalau tidak, kita akan binasa karena pencemaran udara yang diciptakan manusia sendiri.”

“Seingatku sejak zaman bapak kecil, tanah, air, dan udara semisal tabung oksigen juga diperjual belikan. Dan tak ada yang mempermasalahkannya  waktu itu, kenapa sekarang terkesan berbeda,” tanya Rudi.

Mendengar celetukan pak Rudi, seketika Sukma membalas dengan tegas, “Pak, kuulangi kembali, kini kepadatan penduduk semakin tersentralisasi. Sedangkan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan pokok susah dicari. Kita semua tahu, minimnya penawaran dan meningkatnya permintaan pasar, membuat harga jual suatu barang melonjak dengan sangat cepat. Akan tetapi, kau pasti akan kebingungan sampai berpikir tujuh keliling, ketika otakmu harus menerima kenyataan bahwa kebutuhan primer lebih mahal ketimbang kebutuhan sekunder.”

“Ironinya, kepadatan penduduk yang memuncak, juga berdampak pada kesenjangan sosial dalam masyarakat. Jika kita berada di kelas bawah dan tidak memiliki keahlian atau pekerjaan, mau tidak mau kita akan tertindas dan mati karena krisis iklim dan kejamnya biaya hidup yang harus dpenuhi,” perlahan linangan air mata bercucuran dari mata Sukma.

Rudi bingung, kenapa mata Sukma tiba-tiba berkaca-kaca “Eh, apakah aku menyakiti perasaanmu,” tanya Rudi khawatir.

“Tidak, aku hanya sedih. Pada segmen cerita ini lah, nilai dari harga diri manusia wajib menjadi sampah.” Sesekali Sukma mengusap air matanya dengan kedua tangan.

“Apa karena biaya hidup yang mahal dapat menjadi alasan bagi manusia untuk menjadikan jati dirinya sampah?”

“Lebih dari sekedar itu. Jika di zaman dulu para wanita yang tak berkecukupan terpaksa menjual diri serta harga dirinya untuk sekedar mencari suapan nasi. Maka di zaman ini, baik wanita maupun pria yang miris dalam ekonomi, mereka semua dipaksa menjual kedua asas penting dalam kehidupan itu sebab kondisi yang memaksanya dan tak bisa dibantah. Mereka akan melakukan apa saja demi mengganjal perutnya di esok hari,” jawab Sukma.

Rudi mulai mereka apa yang disampaikan lawan bicaranya. “Jadi, yang Sukma maksud adalah….”

“Benar sekali. Itulah yang kumaksud,” belum sampai Rudi selesai menjawab, seketika Sukma membalasnya dengan spontan.

“Penampakan manusia-manusia yang bapak lihat di jalanan kota, itu adalah sebagian gambaran kecilnya. Mereka yang bertugas menjadi kendaraan, lampu jalan dan sebagainya adalah orang-orang yang berada di kelas bawah untuk berjuang mengais nafkahnya sendiri. Dan bisa dipastikan, orang yang menumpangi mereka di atasnya adalah mereka-mereka yang mempunyai strata sosial dan ekonomi yang lebih mapan. Ironi bukan.” seru Sukma.

“Lalu…, jika berasal dari kesenjangan ekonomi, bagaimana mungkin jalan yang mereka pilih begitu tertata rapi. Semuanya serentak bekerja layaknya mesin tak berakal. Aku ragu kalau ini berjalan sebagaimana mestinya tanpa adanya sebuah sistem di belakangnya.”

Dengan cakap Sukma menjawab. “Tepat sekali. Menyikapi biaya hidup dan krisis alam yang ekstrim. Kurang lebih setahun lalu, ada salah satu perusahaan tegnologi yang menjalankan langkah-langkahnya. Dengan dalih menyeimbangkan ekonomi rakyat, membuka lapangan kerja  mengurangi polusi udara dengan meniadakan kendaraan bermotor dalam proyeksi kerjanya, dan seabrek alasan lainnya, mereka menyediakan profesi bagi siapa saja yang mau melakukannya. Dan ajaibnya, semua kalangan dari kelas bawah pun mau melakukannya dengan sepenuh hati.”

Nafas Rudi berhembus berat. Dirinya sedikit tercengang. “Memangnya, seberappa besar daya tarik yang dihasilkan dari langkah dari perusahaan itu sampai bisa menutupi hati nurani manusia sampai terpaksa membuang harga dirinya.”

“Sangat besar. Perusahaan tersebut paham, ini adalah pekerjaan yang dapat mengurangi martabat seseorang. Karena itu, mereka menggaji siapa pun yang bekerja dengannya dengan gaji di atas rata-rata. Bagi kaum kelas atas yang ingin menyewa pekerjanya untuk melayaninya, semisal menjadi kendaraan seperti yang bapak lihat, juga dikenakan membayar biaya pelayanan yang tak terhitung murah.”

“Di sisi lain, pemerintah juga melirik apa yang mereka lakukan. Alhasil, usaha mereka juga dibantu dan dibiayai penuh oleh pemerintah. Selang beberapa hari, semua mesin bermotor dan fasilitas umum seperti lampu jalan pun ditiadakan dengan alasan untuk menghemat energi dan memulihkan alam. Akhirnya, dengan pembiayaan yang dibantu pemerintah, lahirlah juga pakaian-pakaian bertegnologi nano yang orang-orang kenakan. Jadi fasilitas pekerjaan pun terjamin. Aku ulangi lagi, saat ini kebutuhan primer lebih mahal dari kebutuhan sekunder. Siapa yang tak tergiur karena itu,” balas Sukma.

“Memangnya untuk apa pakaian itu?”

Sukma pun menjawab. “Pakaian itu dapat menyesuaikan bentuk sesuai keinginan dan menstabilkan kesejukan dan kehangatan badan penggunanya. Tak hanya itu, pakaian tersebut juga  memfilter udara di sekitarnya menjadi udara yang segar penuh oksigen. Setelah itu, udara tersebut disalurkan melalui selang yang menuju masker yang mereka gunakan. Kenyamanan dan kesehatan terjamin. Mungkin hanya badan mereka yang terasa sangat kelelahan ketika bertugas,” Sukma menyengir tipis.

“Jika tujuan dari sistem ini bertujuan untuk kebaikan, yakni mengurangi pengangguran dan memperbaiki polusi alam. Semua masyarakat juga menerimanya. Lantas, apa yang harus kita nilai sebagai masalah?” tanya Rudi denan santainya.

“Semua ini terjadi bukan karena sukarela, namun bermula dari paksaan dari sebuah kondisi. Pantas mereka berpura-pura menerimanya. Bayangkan, ketika sesama saudara dan keluarga saling menyewakan dirinya sebab dikotomi kepentingan yang berbeda, betapa besar luka yang harus mereka tahan hanya karena strata sosial dan ekonomi. Ketika manusia harus ditunggangi layaknya seekor kuda, aku serasa tak sengaja melihat simbol-simbol perbudakan dan kapitalisme bermunculan di dalamnya. Jika hal seperti ini terus berkelangsungan. Aku yakin, kecemburuan sosial akan kian menjamur dan menggunung,” jawab Sukma tegas.

Sukma mengangkat kedua bahunya, “Setelah kecemburuan sosial di saat ini telah sampai pada puncaknya. Jujur, aku sangat penasaran akan apa yang terjadi setelahnya. Biar lah waktu yang menjawabnya denan jujur.” Ia tersenyum tipis. Rudi termenung mendengarnya. Keduanya pun tenggelam dalam hening setelahnya

“Ah…, tak terasa matahari sudah terselimuti senja. Tanda hari mulai petang. Aku rasa ini waktunya pamit, ada pekerjaan yang harus Sukma lakukan setelah ini. Oh… iya, alat mungil yang tadi Sukma berikan, bapak bawa saja. Mungkin bisa menolong bapak lagi setelah menghirup udara dengan pencemaran akut ini. hehehe…,” tawa Sukma terkekeh memecah keheningan. Melihat tawa manis dari cucunya, seketika Rudi membalasnya dengan senyuman bulan sabitnya.

“Ah, bercanda aja kok pak. Anggap saja itu oleh-oleh dari Sukma. Karena bapak, Sukma dapat mengisi jam kosong di hari ini dan teringat kembali akan apa yang harus Sukma lakukan untuk dunia.”

“Bapak juga merasa sangat berterimakasih atas apa yanng Sukma berikan. Baik itu berupa pertolongan, maupun seutas cerita tadi.”

“Sama-sama pak, Oh iya, Sukma ingat. Tadi Sukma juga membawa kamera polaroid di dalam tas. Sebentar ya pak…, Nah ini dia.” Sukma mengeluarkan kamera tersebut dari tas kecilnya. “Mungkin kita bisa mengambil sedikit gambar untuk sebuah kenangan. Bisa saja pertemuan pertama ini juga menjadi pertemuan terakhir kita bukan?” ucap Sukma dengan nada menyenangkan.

“Baiklah. Aku rasa, aku juga butuh sedikit memori untuk dikenang,” Rudi menyetujui.

Sukma mendekat ke arah Rudi, lalu mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua. “cheese…!” Senyuman terlihat di kedua ekspresi wajah mereka.

“Ckrekk….,”

“Kriiieet…,” keluar lah hasil cetak foto dari jepretan kameranya.

Sukma segera mengambil cetak foto tersebut dengan tangannya. “Wah, jadi pak. Lihat, bagus kan. Ini buat Bapak,” seru Sukma dan langsung menaruh foto itu di saku kaos Rudi. “Sekali lagi ya pak, yang satu ini buat Sukma.”

Rudi hanya senyum dan mengangguk mengiyakan. Ia merasa terharu melihat detik-detik terakhir bersama cucu cantiknya yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya.

“Senyum…,” ujar Sukma.

“Cekrekk….” tak lama hasil cetak foto kedua pun jadi. “Nah, yang ini buat Sukma. Oh iya pak, sebelum Sukma pergi, kalau boleh tahu, nama bapak siapa ya?”

Rudi sedikit kaget mendengar pertanyaannya. “Ru… di, Rudi Suprapto,” jawabnya gagap.

Selepas menerima jawaban dari Rudi, wajah Sukma mematung. Ia terkejut akan apa yang disampaikan Rudi. “Jadi bapak adalah Ka…,” belum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh Sukma tiba-tiba terurai berhamburan menjadi debu-debu yang beterbangan.

Tak hanya Sukma, Jalan raya, gedung-gedung, orang-orang yang berlalu-lalang, bahkan langit dan daratan juga menjadi butiran debu yang terbang bebas dengan begitu cepat. Semakin tercerai dan terurai bebas. Satu per satu setaip unsur lesap dari pandangan. Sampai pada akhirnya, semua tiada dan hilang. Hanya tersisa Rudi yang melayang di ruang hitam bersama dengan kehampaan. Sendiri. Tak ada yang menemani.

Dalam perasaanya,  ia begitu kebingungan akan apa yang ia alami. “Kenapa semua hilang dengan begitu cepat. Berawal dari sawahku yang hilang kesuburannya yang dilanjut dengan usahaku mencari nafkah di pertambangan, sampai hilangnya pertemuan berhargaku dengan dewi periang penyejuk hati yang tak lain adalah keturunanku di masa mendatang. Semuanya hilang. Ada apa ini?” Rudi memejamkan matanya pelan. Ia tak lagi ingin melihat apa-apa. Menyendiri dalam gelap. Lalu menghayatinya dalam sebuah renungan.

***

“Ayah…, ayah…, bangun. Di tunggu pak RT dan bapak-bapak lainnya di depan rumah loh.” Tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang tak asing baginya. Rudi mulai membuka mata. Ternyata suara itu berasal dari anaknya sendiri: Panji Suprapto.

“Cepat ayah…, sudah banyak yang nunggu. Kan kasihan.” Dalam sekian detik, Rudi menyadari bahwa yang ia alami sejak awal adalah mimpi belaka, sebuah mimpi yang dapat bak kenyataan dan diingat baik sejak awal. “Memangnya ada apa?” tanya Rudi pelan.

“Kata Pak RT, bapak diajak untuk bareng-bareng demo menolak pengesahan tambang batu bara di desa ini yang katanya sebentar lagi disetujui pemerintah.” Pikiran Rudi semakin bingung. Apa yang barusan ia mimpikan? Perasaan, penambangan di desanya sudah lama ada. Kalau yang ia alami dari tadi adalah mimpi, lalu bagaimana bisa runtutan kejadiannya sama persis dengan kenyataan yang Rudi alami. “Baiklah sebentar lagi bapak ke sana. Kamu sarapan dulu.” Ucap Rudi

“Baik yah.” Panji segera pergi

Rudi menegakkan badannya dengan sedikit rasa kantuk di mata. Ia lihat, dirinya memakai pakaian yang sama dengan apa yang ia kenakan di dalam mimpi. “Krekk….” ketika bangun, tangannya tak sengaja menggeser sesuatu di sampingnya. Sontak Rudi mengoknya. Pupil matanya kemudian mengecil. Betapa terkejutnya dirinya, ketika yang ia lihat adalah barang dengan bentuk mirip rokok elektrik dengan ukuran yang lebih kecil dan mungil bekas pemberian Sukma.

Tangan Rudi pun merogoh sakunya setelahnya. Terasa seperti ada selembar kertas di dalamnya. Setelah ditarik, benar saja, itu adalah foto dirinya bersama Sukma beberapa menit yang lalu. Rudi ragu akan apa yang ia yakini kali ini. Dalam hatinya ia berucap, “Apakah selama ini aku terjebak dalam sebuah paradoks?”

10 thoughts on “Cerpen #289; “Kalut di Ruang Ilusi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *