Cerpen #286; “Perihal Pemindahan Ibukota dan Peristiwa Setelahnya”

Pada saat pagi yang panas (pada tahun 2100 suhu pagi hari sama dengan saat pukul 12.00 tahun 2020). Hanna ada jadwal bertemu dengan seorang kliennya, ia bernama Glen. Ketika pertemuan mereka dikantor LSM, Glen membujuk LSM yang dipimpin oleh Hanna untuk ikut dalam aksi menolak pembebasan lahan. sedang dikawasan itu terdapat banyak hewan dan tamanan Endemic yang hidup. Hanna pun menyetujui nya. Dengan rasa penasaran Hanna berangkat bersama Glen ke lokasi. Mobil mereka berhenti disamping sebuah spanduk besar bertuliskan “pembebasan lahan untuk Ecogreen City, mohon bantuan do’a nya”. Hanna terkejut bukan main. Glen naik pitam, ia maju ingin merusak spanduk itu. Perkelahian sengit antara pekerja konstruksi dengan Glen tak bisa terhindarkan, semua binatang entah berantah beserta sumpah serapah keluar dari mulutnya. Hanna menarik Glen mundur masuk ke mobil. “ku do’a kan proyek kalian gagal, dasar Bangsat!”.  Selama perjalanan pulang Glen Berceramah dalan Mobil mengenai proyek itu:” Menang Bangsat mereka itu, emang dengan kata “green” bisa seenak nya membabat hutan”. Dan Hanna hanya diam seribu Bahasa mendengar nya.

     Sesampainya dirumah, Hanna menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan, dan dimulailah ritual Renungan Hanna (kegiatan duduk santai setiap pukul 16.00 diteras rumahnya ditemani kipas angin dan segelas limun). Yang ada dipikiranya saat itu hanya pertanyaan mengapa”manusia begitu eksploitatif terhadap alam?”. sejak pemerintah berhasil memindahkan ibukota negara ke Kalimantan dalam waktu 30 tahun setelahnya mereka juga berhasil membuat pemanasan global bertambah parah. Ditamabah gagalnya pemerintah menjadikan Jakarta sebagai kota bisnis – karena wacana awal Kalimantan hanya untuk pemerintahan, emang apa bedanya- Gagal. Ternyata penebangan pohon untuk ibukota baru dan penanaman beton ternyata cukup untuk membuat pemanasan global yang membuat es di dua kutub bumi mencair. Dan bommm, Jakarta tenggelam. Cebong, Kampret, Tikus kantor dan semua tetek bengek pemerintah dan penusaha ikut pindah. “panas lahir batin Indonesia ku” gerutu Hanna. Mengingat Hanna adalah pegiat di LSM sudah menjadi tugasnya untuk kritis terhadap hal seperti ini. Sudah 70 tahun sejak ibukota selesai dipindah total pada 2030, hasil yang didapat dari menukar hutan untuk pemerataan ekonomi ternyata tidak sebanding. Pemanasan suhu yang terjadi di Kalimantan membuat penduduk asli bermigrasi ke pulau-pulau yang masih hijau di bagian timur Nusantara. Pernah satu saat masyarakat adat yang harus pindah dari tanah kelahiranya bertanya “katanya manusia diutus tuhan menjadi khalifah dimuka bumi ini, apa di dunia ini hanya ada manusia, sehingga tumbuhan tidak dianggap eksistensi nya?”. Dengan polosnya ia bertanya seperti itu. Akhirnya banyak terjadi demo dikota kota besar dengan sepanduk bertulis kan “save tree”. Masyarakat kompak untuk melindungi hak pohon agar tetap hidup. Sedikit ikhtiarnya adalah membuat bazar tamanan bersama keluarga setiap sebulan sekali. Itung-itung sebagai ganti bazar buku. Mencetak buku telah dilarang pemerintah sejak 2050. Sebagai upaya menurangi komsumsi kertas yang dimana hal ini berasal dari pohon. Dan semua teks literature dan ilmiah dikonversi ke format digital. kepedulian masyarakat akan krisis lingkungan nya semakin besar.  bahkan beberapa teman Hanna cukup Radikal dalam menaggapi krisis ini. Sampai-sampai semua Perabotan dirumah Temannya itu berbahan besi dan alumuniun. Tidak ada yang berbahan kayu. Pernah juga satu hari temanya ini mencela tetangga nya karena mencabut rumput liar dihalaman. Mengingat rumah teman Hanna ini sudah seperti rumah hantu, tanaman dibiarkan tumbuh liar dihalaman. Seorang teman itu mengingatkan Hanna akan sejarah peradaban manusia. Manusia sangat antroposentris khas abad modern, sebelunya mereka sangat lemah dan tunduk ketika berhadapan dengan alam. Berabad-abad manusia ber Dialektika dengan alam. Dengan tesis yang selalu sama, alam bisa merubah manusia menjadi sintesis-sintesis yang berbeda-beda. Sejak Jean-Francois Lyotard mendeklarasikan masuknya manusia pada era postmoderen, sejakitu pula semua konsep manusia tentang dunia harus di dekontruksi. Dua perang dunia menjadi bukti bisu akan hal tersebut. Aldo leopold seorang peneliti dari Amerika menyuarakan konsep land ethic yang menyangkut tetang kesetaraan makhluk hidup dan menolak sifat superior manusia terhadap alam. Seorang remaja Swedia bernama Greta Thunberg melakukan aksi bolos sekolah setiap jum’at untuk berdemo di depan gedung parleman Swedia mengutuk perilaku eksploitatif para Penguasa terhadap alam. Posisi Indonesia dimata internasional terpinggirkan, karena masyarakat Indonesia buta huruf terhadap Environmental Ethic sebagai Grammer yang menyatukan dunia.

     Ditengah renungannya pesan suara dari Glen masuk “Kita demo langsung saja mereka ditempat”. Hanna tidak mau gegabah dalam aksinya. Akhirnya pihak LSM membuat petisi untuk meraih dukungan massa yang lebih banyak dan memantik masyarakat supaya menolak proyek tersebut. Dalam misinya terbebut hasil melebihi dari yang dibayangkan Hanna. Petisi ini tidak hanya menyita perhatian masyarakat Indonesia tapi juga netizen internasional. Dan hal ini berhasil kurang dari satu bulan sejak petisi disebarkan. Hanna menyambut gembira hal ini. Nama LSM naik, mau tidak mau nama Hanna naik di media massa. Dalam orasinya di media ia menulis: “alam tak pernah minta apa pun pada manusia. Alam juga tak pernah mengeluh atas prilaku manusia. Manusia merasakan efek baik dari alam selama berabad-abad lamanya. Alam hanya diam. Manusia mulai mempelajari pola hidup alam. Alam hanya diam. Manusia mulai sewenang-wenang dan eksploitatif pada alam. Alam tetap diam. Efek baik alam pada manusia mulai berkurang. Alam tetap bodoh amat. Manusia sadar dan mulai membangun kembali alam. Alam tetap saja diam. Semua perilaku manusia kembali kepada dirinya sendiri. Alam hanya hidup dan berkembang biak, tidak lebih. Alam tidak pernah menuntut apapun dari manusia. Dan manusia lah yang mengatur relasi keduanya. Kalau pun manusia tidak adil pada alam maka alam bodoh amat, sedang manusia mendapat efek”.

     Pada satu malam yang hujan badai. Jendela rumah Hanna terbuka. Gorden berkibar tak karuan tertiup angin, disertai alunan melodi Guntur dan kilat menambah suasana ngeri. Suasana rumah sunyi ditinggal sanak family. Suara riuh pohon diterpa angin menjadi saksi bisu. Hanna terbangun mendapati dirinya berada di sebuah hutan yang penuh pepohonan. Dan ditempat Hanna menginjak kan kaki ialah tanah bercampur puing bangunan. Ia pikir ini mimpi indah tentang berhentinya eksploitasi manusia atas alam. Tapi diantara reruntuhan itu ia mendapati dirinya terbujur kaku, sempurna, sendiri.

     Masyarakat dikejutkan dengan berita di media massa bahwa “telah terjadi tanah longsor yang menelan banyak korban jiwa, salah satunya seorang aktivis lingkungan: Hanna Erica Saniago”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *