Cerpen #285; “Pohon Memperpanjang Nyawa”

 Langkah kecil seorang gadis berkepang dua menelusuri sebuah hutan. Tangannya sesekali terapung, menjaga agar tubuhnya tetap berdiri dengan tegak. Dia bersenandung kecil, dengan wajah berseri-seri, seolah hutan adalah bagian dari hidupnya. Melihat pepohonan besar dia berdecak kagum, melihat bunga mekar dia melompat-lompat. Baginya inilah kebahagiaan yang tak dapat ditemukan di kota yang bising.

  “Jangan terlalu jauh!!” sahut seorang pemandu acara.

   ‘Menghirup udara bebas’ ini adalah acara yang dikhususkan untuk penderita Asthma. Karena itu, wajar saja jika gadis kecil itu merasa hutan ini sebagian dari hidupnya. Karena saat rongga dada terasa dicengkram kuat, saat tarikan nafas terasa lebih sulit dari pada menangis, jauh ribuan kali lebih menyiksa daripada berdiri di sebuah hutan.

  Gadis itu hanya menyimpan peringatan sang pemandu dalam ingatannya. Dia masih berjalan maju, seolah sesuatu menarik dirinya untuk datang. Tepat di ujung jalan setapak, gadis itu melihat sebuah pohon kering yang tak lagi memiliki dahan, bahkan tak memiliki daun satu pun. Dia terdiam, bola mata bulatnya bergulir menatap ke sana-kemari. Lalu kembali menatap pohon itu, seketika raut wajahnya berubah sendu, ke dua tangan mungilnya mengepal erat. Mata yang semula berbinar itu, berubah berkaca-kaca. dengan tergesa-gesa, dia menarik botol minumnya dari samping tas, lalu menyiramkannya di samping pohon kering itu.

“Pohon tumbuh ya, kalo pohon mati, gimana Kila bisa hidup panjang?” cicit Kila seraya mengelus batang pohon itu.

“Tidak mungkin.” Suara dalam tersebut menarik perhatian Kila. Dia menoleh ke sana-kemari mencari asal suara tersebut. Tak ada siapa-siapa selain dirinya di sini, lalu dia mendongakkan kepalanya, seketika dia terjatuh ke tanah, matanya membulat kaget melihat ke dua bola mata besar serta sebuah hidung dan mulut di batang pohon itu.

“Aku sudah tak mungkin hidup lagi,” tambahnya.

Kila mengerjap-ngerjapkan matanya. “Pohonnya kok ….?”

Sebuah lengkungan lebar mengawali jawaban si Pohon. “Hanya manusia berhati tulus sepertimu yang dapat melihat wujud asliku.” Kembali, pohon itu tersenyum tulus. “Karena itu, terima kasih untuk air berharga yang kamu berikan untukku, tapi sayangnya aku sudah tak bisa hidup lagi.”

Kila tersentak kaget, buru-buru dia bangkit berdiri. Seraya menepuk-nepuk rok nya yang terkena tanah, dia berkata, “Kenapa? Ayah-Bunda Kila aja minta Kila hidup panjang, pohon juga harus hidup panjang.”

Pohon itu tersenyum sendu. “Ini bukan keinginanku, tapi ini giliranku.” Bola matanya melirik ke kiri. “Tengok ke sana, semuanya habis. Bahkan dahanku saja sudah tak ada. Mungkin tak lama lagi manusia-manusia itu akan kembali memotong tubuhku.”

  Kila menoleh ke arah yang di tuju. Dia tertegun. Daun-daun berceceran di mana-mana, ranting-ranting pohon menutupi jalan. Tak ada pohon yang masih berdiri utuh, kecuali bagian akarnya.

“Jahat!!” pekik Kila. Wajahnya memerah, perlahan air matanya keluar melewati pipi. “Kalo semua habis … hiks … gimana? Ka-kata Bunda, dari pohon keluar udara yang bagus buat Kila. Kalo habis ….” Perlahan bahu Kila bergetar, dia menangis tersedu-sedu. “Jahat … pohon ha-harus kasih tahu Kila, siapa yang tebang pohon-pohon itu?!”

“Tampaknya kamu lebih pandai daripada manusia dewasa.” Pohon itu terdiam, dia mentap sendu gadis berusia sepuluh tahun di hadapannya. Baru kali ini, dia menemukan sosok berhati lembut, yang dengan baiknya merelakan seluruh air minumnya, bahkan menangis tersedu karena melihat keadannya.

“Mereka manusia-manusia serakah yang mengambil milik orang lain tanpa izin. Mereka akan datang saat tak ada satupun orang lain di sini. Memanfaatkanku demi keuntungannya, setelahnya mereka pergi dan membiarkan tempat tinggalku semakin hancur.”

Kila menghapus air mata di wajahnya dengan kasar. “Kila mau lapor sama Bapak pemandu, biar mereka gak tebang-tebang pohon lagi.”

Pohon itu tertawa kecil. “Tak perlu, lebih baik kamu duduk di hadapanku.”

“Tapi—“

“Dia sudah tahu, hanya saja manusia jahat itu lebih pandai dari dia. Lebih baik kamu duduk, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.”

Kila mengangguk, lantas dia menjatuhkan tubuhnya, duduk dengan ke dua lutut tertekuk. Menatap si Pohon dengan seksama.

Pohon itu menarik nafas sesaat, lalu matanya menatap ke sekitar seraya berujar, “Aku tahu, tak semua manusia jahat, banyak juga dari mereka yang menanam pohon-pohon baru di tempat lain. Banyak juga dari mereka yang melindungi hutan. Hanya saja, tak semua pula manusia baik, selain di tempat ini, banyak  juga dari mereka yang dengan sengaja menebang pohon untuk melakukan kegiatan pertanian, pertambangan dan banyak lainnya. Lalu ada pula yang dengan sengaja membakar hutan untuk melakukan penanaman bahan pangan. Ada lagi, yang dengan sengaja menggunakan lahan hutan itu untuk membangun rumah dan tempat lainnya. Aku penasaran, apakah mereka sudah memperhitungan dampak dari itu semua? Bagiku penanaman kembali dalam keadaan seperti ini hanya memperpanjang sedikit waktuku, karena nyatanya itu tak mengembalikan rumahku.”

“Akan aku beritahu gambaran bumi ini di masa depan, kamu mau melihatnya?” tanya pohon itu.

Sontak bola mata Kila membulat, dia mengangguk cepat. “Iya, Kila mau lihat,” jawabnya antusias.

“Benar? Dengan kondisi tubuhmu, ini mungkin akan menakutkan. Kamu siap?”

Ada sedikit rasa ragu di hati Kila, tapi dia tetap mengangguk. “Iya, Kila siap.”

“Kalau begitu, sekarang tutup matamu dan letakkan ke dua telapak tanganmu di atas tanah!!”

Kila mengangguk, lalu dia melakukan apa yang diperintahkan si pohon.

“Sekarang, bernafaslah dengan tenang.  Dan … bukalah matamu.”

  Kila membuka matanya, lalu dia tersentak kaget melihat apa yang ada di hadapannya. Jutaan orang berdiri saling berdempetan dengan sebuah alat bantu pernafasan di wajah mereka serta selang panjang yang terarah pada sebuah kaca besar yang di dalamnya terdapat sebuah pohon.

  Kila memegang dadanya saat merasakan rongga dadanya sesak. Bunyi mengi terdengar, persis seperti saat dia kambuh dari asthmanya. Kila menggertakan giginya, seraya menarik nafas kuat. Naas, udara yang di hirupnya terasa pengap dan dia pun merasakan hawa panas yang menusuk kulitnya.

“Aku di belakangmu, bernafaslah pelan-pelan!”

  Mendengar ucapan itu, Kila mulai menarik nafasnya perlahan. Dia merasakan tubuhnya kembali seperti awal, udara segar terhirup oleh hidungnya. Lalu dia menoleh ke belakang, pohon yang ditemuinya tadi kini memiliki daun yang amat lebat dan dia pula yang melindungi Kila dari sengatan matahari.

“Mereka lagi apa?” tanya Kila dengan menunjuk kumpulan orang itu.

“Ini masa depan, Nak. Pohon itu satu-satunya yang tersisa. Dan apa yang kamu rasakan tadi?”

Kila bergidik ngeri. “Sesek, pengap terus panas juga. Untung pohon bantu Kila.”

Si Pohon tersenyum simpul. “Setelah melihat ini apa yang kamu pahami?”

Kila terdiam, seraya mengerutkan ujung bibirnya. “Mereka harus punya pohon sendiri, biar bisa dapetin udara yang seger sama teduh kaya Kila. Iya gak, Pohon?” simpulnya cerdas.

“Benar. Kalau masa depannya begini, berarti apa yang mereka lakukan di masa kita salah. Sekarang, lihat ke sebelah kiri!!”

Mata Kila membulat saat dia melihat gedung-gedung tinggi berjejer rapi di sana. Dari sini, Kila memahami jika dia persis di atas sebuah bukit tandus. Melihat mobil-mobil melayang, robot-robot yang banyak berlalu lalang, suah dipastikan jika tekhnologi berjalan kian canggih.

“Mobilnya terbang!! Keren!!” seru Kila takjub.

“Memang keren, tapi lihat di sana tidak ada pohon satupun.”

Kila mengerutkan dahinya. “Eh iya, kok gak ada pohon?”

“Di sini, banyak dari manusia yang cerdas akan tekhnologi dan melupakan hati nurani. Tidak memiliki empati sehingga hutan-hutan habis untuk menjadi lahan yang mereka huni, hingga tempat jual beli. Mereka saling berusaha mengembangkan tekhnologi dan melupakan keadaan bumi. Di masa kita, sangat sedikit manusia yang peduli pada alam dan inilah yang terjadi di masa depan, tak ada manusia yang tersisa yang masih memikirkan alam.”

Kila terdiam. Lagi-lagi matanya berkaca-kaca. “Kalo gak ada pohon, gimana orang kaya Kila hidup?” tanyanya dengan suara pelan.

“Dua kali lebih menyesakkan dari orang normal. Jadi menurutmu sepenting apa pohon?”

Kila menatap lurus, pada pohon terakhir di ujung sana. “Penting banget, kalo nggak kenapa orang-orang itu rebutan?”

“Benar. Karna itu, kamu mau menolongku?”

Kila menoleh pada si Pohon. “Tolong apa?”

“Jangan hilangkan kepedulianmu terhadap Pohon.”

“Iya,” jawabnya cepat.

“Lalu, setelah kamu dewasa nanti, ajak orang-orang untuk memiliki kepedulian seperti dirimu. Dan, bantulah aku memperbaiki serta merawat rumahku. Kuharap banyaknya kepedulian dari setiap orang akan merubah kedaan masa depan.”

“Nanti aja kalo udah dewasa?” tanya Kila lugu.

Si Pohon tertawa kecil. “Iya, Untuk sekarang, dimulai dulu dari rumahmu. Ajak orang tuamu untuk menanam pohon di depan rumah, seiring tumbuhnya pohon itu kamu akan selalu ingat akan permintaanku.”

“Iya, Kila juga akan ajak teman-teman Kila buat tanam pohon.”

Pohon itu mengangguk. “Iya, terima kasih. Kalau begitu sekarang tutup matamu, kita kembali ke tempat tadi.”

  Kila menuruti arahan si Pohon. Tepat saat membuka mata, dia berada di hutan tadi. Tak lama setelahnya, pemandu tadi berjalan menghampirinya.

“Kamu kenapa bisa sampai sini?”

  Kila kebingungan, dia menatap si Pohon.

“Jangan beritahu,” ucap si Pohon yang hanya bisa didengar oleh Kila.

Kila mengangguk paham, lantas dia berbalik menatap si Pemandu. “Kila lagi lihat pohon ini,” jawabnya.

 Setelah itu, Kila dibawa pergi oleh pemandu itu. Seraya berjalan, dia menoleh ke belakang menatap si Pohon yang tengah tersenyum ke arahnya. Kila melambaikan tangan, dia berujar dengan gerakan bibirnya, “Kila mau pulang, dadah!!”

  Senang tak bisa dilukiskan, saat pohon itu di hadapkan dengan Kila. Keadaan alam sekarang, mau tak mau membuatnya bergerak untuk melakukan hal demikian. Dia tak menyepelekan partisipasi orang-orang yang peduli padanya. Reboisasi memang baik baginya, tapi lahan untuk rumahnya dibandingkan dengan lahan yang dijadikan perumahan atau tempat lainnya jauh lebih sedikit. Sedang manusia semakin bertambah dan yang memiliki kesadaran hanya beberapa.

  Karena itu dia harap, Kila dewasa nanti akan menciptakan bumi yang lebih baik. Mampu melakukan sosialisasi akan kepedulian terhadap hutan, mampu melakukan penanaman pohon, serta mampu mengajak orang-orang dengan penyakit asthma lebih dekat dengan alam, sehingga akan bertambah sosok seperti Kila.

  Si Pohon sudah menemukan sosok Kila di sini, tapi bumi yang luas membutuhkan banyak sosok seperti Kila. Jadi, dia harap hembusan angin yang menggerakan pohon-pohon lain mampu menarik simpati manusia. Mampu membuat manusia mendekat dan mengerti jika saat itu si Pohon tengah berkata, “Hei rumahku nyaris habis!.”

  Jika hutan paru-paru dunia, maka saat hutan habis manusia di dunia akan mati. Jadi, perpanjang nyawamu.

Selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *