Cerpen #284; “KALIAN BISA UBAH BUMIKU”

“Tapi kenapa harus Saya, Prof?’’ Sekali lagi aku bertanya. Memastikan.

“Kau ini selalu saja banyak bertanya. Berangkat saja apa susahnya.’’ Jawabnya yang tak menjawab pertanyaanku. Sudahlah. Percuma. Dia selalu saja begitu. Lebih baik, aku mulai bergerak. Mengemasi Barang-barang yang perlu kubawa, lantas mulai menuju ke ‘mesin waktu’. Diluar dugaanku, tinggal hitungan detik saja aku berangkat, Professor malah menghampiriku dengan  Sedikit tergopoh. Mengusap kepala pelontosnya, lantas berkata, “Nessie, Aku tau kau cocok sekali dengan urusan seperti ini. Kau bertanya kenapa Kau yang Kuutus? Aku tau sekali tabiatmu. Kau dan Dia itu sama-sama keras kepala.” Professor tersenyum tipis. “aku pernah mengunjunginya sekali. Tapi, Aku datang di waktu yang salah, tak membuahkan hasil. Kini biar kau sajalah. Aku percaya padamu. Berangkatlah!” Aku sempat terdiam sesaat, lantas sadar. Baiklah, aku mulai mengatur tombol-tombol mesin dengan tangan lihaiku, siap menuju ribuan tahun lalu.

Hal pertama yang aku sampaikan adalah, tidak. Bahkan aku tidak bisa berkata-kata. Aku tertegun, meneguk ludah. Hei! Lihatlah! Aku bisa melihat betapa hijaunya pepohonan disana. Tak ada polusi. Aku bisa merasakan sejuknya embun pagi. Menghirup oksigen segar tanpa adanya bantuan teknologi apapun. Aku hampir saja lupa kalau aku harus melakukan sesuatu.

Baiklah, aku mulai membuka tab ku. Membaca ulang biodata seseorang yang akan kutemui hari ini. Namanya Mahmud, 32 tahun. Seseorang yang kuharap  bisa membantuku banyak. Bekerja sama denganku memperbaiki masa depan. Maksudku, masaku.

Setelah menghabiskan beberapa waktu, akhirnya aku berada di depan kediamannya sekarang. Seharusnya. Tapi ucapan Wanita separuh baya mengecewakanku, “Tuan Mahmud baru saja dua hari yang lalu pergi ke Pulau Kamanta. Sungguh maaf harus mengatakan ini.”

“Kalau boleh tau, ada urusan apa mahmud kesana?”

“Kudengar, kalau tidak salah, pertambangannya yang di sana terkena sedikit masalah. Mungkin, sedikit serius, jadi Tuan Mahmud turun tangan.”

“Ah, seperti itu.” Aku menagguk perlahan. “Terimakasih atas infonya.”

Tentu saja yang terjadi setelahnya aku bergegas mencari penerbangan terdekat menuju Pulau Kamanta. Setelah mencari tau, tenyata dia benar- benar berada di lokasi pertambangan. Jadilah sekarang aku menumpang kendaraan yang hendak kesana karena lintasannya yang tak bisa sembarang dilewati. Aku turun dari kendaraaan, melihat sekitar. Belasan mobil eskavator bekerja. Mengangkut dan mengeruk, membuat suara bising. Kerukan raksasa yang ditandai garis kuning  terlihat mencolok.para pekerja Berhalu-halang di depanku. Sampai aku melihat sesorang yang tampak tak asing. Seseprang yang sama persis seperti yang tertera di tabku. Aku menghampirinya. Dia terlihat bingung. “Mahmud?” tanyaku.

“iya?”

“Boleh minta waktu sebentar? Ini menyangkut hal penting. Tidak akan menyia-nyiakan waktu.” Aku mengajaknya duduk di dipan. “Baiklah tuan Mahmud, Memang sulit untuk melakukan iini. Tapi aku mohon dengan sangat untuk kau menghentikan pengoprasian perusahaan. Kalau bisa menutupnya. Perusahaanmu membawa dampak buruk. Menyulitkan dunia. Masa depan akan terbantu sekali jika kau sudi melakukannya. Percayalah. Aku tau yang terbaik.”

“Apa maksudmu? Tiba-tiba saja kau datang lantas menyuruhku menyudahi perusahaan yang susah sekali kubangun. Tau apa kau? Tau apa kau tentang perus-”

“Mahmud Abrahah. 32 tahun. Lulusan double degree pertambangan dan perminyakan Massachusetts University. Pendiri PT. NV mobile, TBK. Bahkan membangun perusahaan di usia yang relative muda.” Aku melirik ke arahnya. Dia memutar bola matanya seakan memberi tau ‘semua orang juga mudah saja mengetahui informasi seperti itu’ aku menghela napas pelan. Kutatap lagi tabku.

“Aku tau bulan depan kau akan mengganti logo perusahaanmu. AAu tau kau akan mendirikan anak cabang perusahaan di negeri tetangga. Bahkan kau sendiri tidak tau bukan? Kalau sepuluh tahun lagi kau sudah membuka perusahaanmu di 62 negara, menjalankan biisnis aviliasi di 47 negara, SPBU NV Mobile mencapai 7000 rata-rata di setiap negaranya. Menduduki peringkat empat. Setelahnya, kelak, bahkan kau tidak tau, perusahaanmu mengalahkan perusahaan manapun. Nomor satu dunia. Serakah membangun pertambangan di setiap sudut desa dan kota. Merenggut semua ketersediaan. Hanya menyisakan hal negatifnya,” tegasku. Aku mempertajam tatapanku padanya.

“Kau mengada-ada. Lagi pula, tidak ada sedikitpun pemikiran seperti itu di kepalaku. Aku tidak sekejam itu!” belanya.

“Kau memang tidak. Anak-anakmu. Cucu-cucumu. Percayalah.” Dia terdiam. Kukira dia mulai mempercayaiku.

“Atas dasar apa aku harus mempercayaimu? Memang banyak orang diluar sana yang iri padauk. Bilang saja Kau iri. Memang kau siapa tau masa depanku? Ckck.” Hadeh, ada saja pemikirannya.

“Kau pasti sulit percaya kalau aku bilang aku dari masa depan?” Aku mengangkat sebuah alis.

“Hah, omong kosong. Kau semakin menggila. Mana ad-“

“Aku sungguh dari masa depan, Mahmud! Kau tau teori relativitas waktu Einstein? Bahwa memungkinkan suatu objek untuk melintasi waktu jika objek tersebut bergerak secepat kecepatan cahaya? Aku tau kau pintar, Mahmud! Kau pasti tau betul lah apa itu. Ilmuan-ilmuan di masaku berhasil menerapkan persamaannya. Menemukan cara agar objek dapat bergerak tiga ratus juta meter per sekon. Membuat black hole buatan Menciptakan sebuah Lorong waktu. Menjadikannya sebagai mesin waktu, Time turner.” Mata Mahmud malah semakin memicing curiga. Dia memang keras kepala. Tapi aku lebih keras kepala. Aku tersenyum menyeringai.

Ya. Aku membawanya paksa melintasi Lorong waktu. Sekarang dia benar-benar sudah di ‘masaku’, masih tak tersadarkan diiri. Berbaring di hadapanku. Sampai salah seorang assisten Professor Miguel membuka pintu ruangan

“Dr. Mahmud, Proffessor Migu-“

“Iya, aku tau dia pasti marah saat tau aku membawa bedebah ini.” Aku sudah siapkan mental menghadapi omelannya,” tebakku.

“Bukan itu, Dok. Komplotan itu berulah lagi. Mereka membawa professor sebagai tawanan. Maaf sekali kami tidak berhasil menyelamatkannya. Professor tewas saat diancam-“ Aku berlari secepat yang ku bisa.

Tinggal aku seoranag yang masih berada di pemakaman. Menatap lamat pigura professor. Lalu sesorang menepuk pundakku pelan. Aku menoleh. Ah, ternyata Mahmud. Sudah siuman rupanya. “Aku tau orang ini. Aku ingat, Aku pernh bertemu dengannya. Awalnya dia menggerutu pada dirinya sendiri. Bilang mesin waktunya harus diperbaiki. Lantas, berkata ‘Kau orang yang keras kepala sekali. Tadi aku melihatmu bertangkar. Lucu sekali. Boleh jadi aku akan mengirim Nessie kesini. Biar keras kepala bertemu keras kepala juga’. Lantas, dia pergi begitu saja. Saat itu, usiaku masih belasan. Hanya menganggap angin lalu.

Dua-tiga menit kemudian aku mengajak Mahmud keluar pemakaman.Hendak menjelaskan banyak hal. “Ini lab tertutup negara, Mahmud. Disini kami mengembangkan apa saja agar kami dapat bertahan hidup.” Kuajak dia keluar bangunan. Memperlihatkan apa yang ingin sekali kutunjukkan.

“kau lihat sendiri, bumi sudah krisis. Kau hitung sendiri ada berapa tanaman yang masih bertahan. Hampir 73% spesies punah dari ekosistem. Bahkan. Lihatlah! Paling miris melihat tanah retak. Sumber daya menipis. Populasi manusia terus merangkak. Pemanasan global tak bisa dihindari. 18 triliun es kutub mencair per 20 tahunnya. Entah krisis apa juga Namanya, manusia mulai membunuh, menyabotase, memanipulasi agar mereka mendapat jatah sumber daya. Karena untuk  saat ini, kami hanya bisa memberikan sumber daya ke beberapa golongan saja. Golongan-golongan petinggi.” Kulihat Mahmud yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sepertinya.

“setelah ini aku akan mengutus seseorang untuk mengantarmu pulang. Aku tidak bisa mengantarmu. Pemakaman professor masih harus kuurus. Aku tau kau bisa membawa perubahan. Setidaknya, minimalisir! Kini, giliran aku yang percaya padamu” aku berkata padanya. “Ah iya, maaf untuk seenaknya membawamu kesini. Aku perlu kau melihat langsung, ratusan tahun setelah masamu.

***

Kejadian itu sudah lama berlalu. Kini aku sedang bersantai sambil meminum kopi. Menatap danau yang dipenuhi teratai, bersama Mahmud. Ya, aku sedang mengunjunginya. Lagi, setelah 10 tahun yang lalu aku pernah mengunjunginya.

“Aku tidak mengira kau akan mengunjungiku lagi, Nessie.” Katanya saat pertama kali dia melihatku. Aku tertawa.

“Hahaha…. Aku ingin mendengar ceritamu. Kau bisa membawa banyak perubahan. Aku ingin tau bagaimana kau melakukannya. Aku yakin kau tidak hanya membatasi pengoprasian perusahaanmu,” jujurku.

“Ah iya sih. Aku sadar, aku juga harus menyadarkan khalayak. Aku rutin mengadakan kegiatan ramah lingkungan. Membuat komunitas cinta lingkungan, dan masih banyak lagi. Sekarang aku juga mengalihkan perusahaan menjadi perusahaan PLTS. Kugunakan konsep fotovoltaik Edward si fisikawan prancis itu, membuat alat pembangkit ramah lingkungan. Tidak ada yang menjual alat sebaik diriku.” Dia berhenti sebentar, menyesap lagi kopinya.

“aku juga sedang memulai bisnis di India di bidang industri biomassa, bio-sebentar. Kau kan dari masa depan harusnya kau tau itu.” Dia memicingkan matanya. “Bilang saja kau rindu. Sok bilang ingin bertanya.” Ku hanya menanggapi dengan senyuman tipis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *