Cerpen #282; “Sebagaimana Jenggala yang dirindukan”

Masih aku ingat tentang kampung halaman dengan banyaknya kenangan. Berjongkok di samping kali kecil yang masih deras kala itu. Tanganku sibuk memangkas rumput-rumput yang mulai meninggi dengan celurit kecil buatan Kakekku. Kakek masih kuat menaklukkan tingginya pohon kelapa demi sebuah degan segar.

“Yang itu, Kek!” Aku berteriak dengan jari telunjuk menegak ke arah kelapa yang ku incar.

Tibalah kelapa yang ku incar. Terlihat hijau namun airnya tak terlalu segar ternyata. Begitulah alam semesta yang kadang indah jika diceritakan, namun nyatanya bisa terlihat buruk dari dugaan.

***

“Aku udah kenyang, Mah.” Secentong nasi hampir saja tertuang lagi ke piring yang sudah membuatku kenyang pagi ini.

“Loh? Biasanya juga dua piring,” kata Ibuku.

“Masalah lemak, sih. Makanku lebih banyak daripada olahraga. Aku harus berubah, Mah.” Kini aku sadar, kesehatanku sudah lama tak terawat dengan sempurna.

Namaku adalah Galih, putera tunggal dari orang tua yang selalu mewujudkan apa saja yang ku mau. Umurku 15 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Ibuku seorang Ibu rumah tangga dan Ayahku adalah ahli Botani yang membuat rumahku terlihat paling hijau di antara rumah-rumah lainnya.

Aku pernah bertanya tentang mengapa Ayah merawat dengan baik semua tanaman di rumah dan Ayahku menjawab, “Oksigen mahal loh di rumah sakit. Ini cuman upaya kecil Ayah aja buat kota yang udah sumpek ini.” Alasanku bertanya itu karena Ibuku tak terlalu suka merawat tanaman. Ibarat dunia terbalik ditangan Ayah yang telaten merawat tanaman.

Jawaban Ayahku seiringan dengan apa yang aku pelajari di sekolah. Pemanasan global yang katanya akan berdampak buruk bagi manusia dan seisi Bumi. Kelak aku ingin seperti Ayahku yang bersahabat dengan alam lewat menghijaukannya. Ayahku ingin sekali membuat museum yang dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman hijau dan bermekaran bunganya. Dibayangkannya saja sudah membuatku menarik napas seakan berada di hadapan hutan.

Hari ini adalah hari sabtu dan sekolahku libur tentunya. Masih duduk di depan meja makan melihat kedua orang tuaku yang masih melanjutkan makanannya. Aku kepikiran sesuatu.

“Ayah. Kapan sih kita ke kampung lagi? Udah tiga tahun nih kita gak nengok Kakek,” tanyaku sedikit mengagetkan Ayah yang nafsu makannya sedang tinggi-tingginya.

“Iya-iya, nanti libur semester kamu, kita liburan sekalian nengok Kakek, ya.” Ayahku menjawab. Mulutnya masih mengunyah.

Tiga tahun yang tak terasa bagiku. Tanpa kabar apapun yang aku terima sempat membuatku lupa bagaimana keadaan kampungku sekarang. Kakekku diurus oleh adik Ayahku yang sudah berkeluarga dan memilih menetap di kampung.

Malam harinya. Ayahku jarang sekali keluar ruang kerjanya jika sudah makan malam. Akan keluar jika pekerjaannya dirasa sudah beres dan kembali ke kamarnya. Ibuku pasti saja sudah terlelap tidur ketika Ayahku masuk. Aku memang sering meneliti perilaku banyak orang hingga hal-hal kecilnya.

Entah sengaja atau tidak, malam ini Ayahku lupa mengunci ruang kerja seusai pekerjaannya beres. Sedikit terbuka dan rasa penasaranku memuncak sekarang karena sorotan cahaya bagaikan pintu menuju dunia fantasi yang merayuku untuk masuk.

“Masuk gak, yah?” tanyaku pada diriku. Aku tak pernah diizinkan untuk masuk. Hanya pernah melirik ketika proses pembuatan ruangannya saja namun tidak dengan isinya sekarang.

Ngiiikkk

Suara pintu yang menyebalkan membuat jantungku terpompa kencang. “Ssstt!” desusku sembari mengelus-elus pintu agar bisa berdamai denganku. Mengendap-endap seperti maling dan, “Akhirnya….” Aku menghela napas dengan badan yang masih menyender pintu menyebalkan ini.

Aku sudah berhadapan langsung dengan ruangan paling misterius di rumahku. Selama 6 tahun akhirnya rasa penasaranku terbayarkan juga.

“Gaada yang aneh. Apa sih alesan Ayah larang aku ke sini,” gumamku.

Perlahan melihat segala arah ruangan ini. Hanya terlihat lampu dengan cahaya sedikit kuningnya yang sepertinya lupa Ayahku matikan. Terdapat rak-rak tinggi yang sulit sekali ku raih. Namun ada satu hal yang membuat dahiku mengkerut melihatnya. Terdapat kertas yang tertancap di tembok dan bertuliskan, ‘OBSERVASI JENGGALA’.

Sepertinya itu adalah pekerjaan Ayah yang paling serius. Seketika aku mengingat juga tentang penamaan museum tanaman yang Ayahku impikan.

“Ayah akan menamakan museum itu, Museum Jenggala. Keren, kan?” Kata-kata Ayah yang paling aku ingat.

Mataku kembali menerawang seisi ruangan. Harusnya ada yang lebih penting dari sebuah kertas itu. Ayahku sungguh pintar menata seisi ruangan ini. Mungkin dia sadar jika aku tak terlalu tinggi untuk menggapai barang-barang punyanya yang ada di rak-rak tinggi itu.

Mungkin aku bisa naik ke atas meja kerja ini. Namun aku masih takut. Pintu itu tak terkunci karena kuncinya entah ada dimana. Helaan napas pertama memberanikanku untuk menaikkan kaki kananku. Dilanjut kaki kiri dengan hati-hati.

Sekarang aku sudah sedikit lebih tinggi dari Ayah. Baru saja aku mau membuka rak bagian kananku, tiba-tiba….

“Mau gimana lagi, dek. Galih belom dapet liburnya dari sekolah. Bapak pasti marah kalo Galih ke sana tapi ngorbanin sekolahnya. Tapi masalah itu kok bisa, sih? Perasaan di kampung gak pernah ada masalah kekurangan air. Sabar ya, dek. Titip Bapak. Nanti aku pasti ke sana.” Itu suara Ayahku.

Creekk Krekk

Pikiranku kacau karena suara yang jelas-jelas seperti pintu yang baru saja dikunci.

“Ayah!!!” Gedubrakk

Sialnya, aku melangkah ketika kakiku masih ada di atas meja kerja Ayah. Jatuh tersungkur di hadapan pintu yang segera Ayahku buka lagi.

“Adek ngapain di sini? Ngelanggar apa kata Ayah, nih.” Ayahku berbicara santai tanpa menggunakan notasi marahnya.

Aku segera bangkit dan menunjuk ke arah kertas yang terpajang tadi. Sebenarnya hanya sebuah pengalihan saja dari amarahnya.

“Ayah. Jenggala itu siapa, sih? Soalnya Ayah selalu aja kaitin jenggala sama sesuatu yang Ayah kerjain,” tanyaku, berpikir bahwa Jenggala adalah orang spesial bagi Ayah.

“Jenggala itu pahlawan bagi Ayah, bagi kita semua. Dulu Ayah suka banget main sama Jenggala. Tapi kadang Jenggala itu sering diremehin sama banyak orang sampe-sampe dimusnahin gituh aja- (Aku segera memotong perkataan Ayah.)

“Bentar-bentar. Ada hubungan apa Ayah sama yang namanya Jenggala? Bilangin Mamah, hayo…” tanyaku yang semakin dalam. Pikiranku kemana-mana tentang nama itu.

“Hhehe, kok bawa-bawa Mamah, sih. Kalo nanti kita ke kampung, Ayah kenalin deh kamu sama Jenggala. Udah sana tidur. Ayah ngantuk, males buat marahin kamu,” ucap Ayah, senyumnya merekah ketika bicara soal Jenggala.

***

Liburan semester pun aku terima dengan sebuah janji Ayah yang terus saja aku sematkan dalam pikiran. Keluar kamar untuk segera bertemu Ayahku dan berbicara tentang janjinya itu. Ku dapati Ayah yang masih sibuk di depan laptop, duduk di hadapan cermin rias Ibuku. Sekilas yang aku lihat dari layarnya adalah beberapa orang yang serupa dengan Ayah. Memakai jas rapi dan saling berbincang-bincang. Tangan Ayahku terus memberikan isyarat kepadaku untuk menjauh dari dirinya.

“Baik, Pak. Besok saya akan memulai observasinya. Dan nanti saya akan membuat rujukan laporan yang serupa sebelum pemberangkatan. Biar Bapak-Ibu sekalian tahu dengan konsep yang akan saya rancang.” Seperti itulah kira-kira Ayahku berbicara. Sepertinya, liburanku akan tetap di rumah dengan orang tua yang sama-sama sibuk.

Aku berjalan lambat dengan tunduknya keluar dari kamar Ayah. Keluar rumah untuk sedikit menengok hijaunya pekarangan sempit berisikan tanaman yang Ayah rawat.

Baru saja sekitar 2 hari tanaman-tanaman ini lepas dari kendali Ayah, banyak tanaman yang berada langsung di hadapan jalan sudah berdebu sampai menutupi hijaunya daun. Hal yang paling disayangkan lagi yaitu beberapa daun stroberi tampak tak utuh dengan bekas bakaran puntung rokok.

“Duhh, ulah siapa, sih!?” Aku berceloteh, sembari mengusap-usap daun yang berdebu dan terpaksa memotong bagian daun stroberi yang terbakar puntung rokok tadi.

Terdengar dari telinga kiriku, motor dengan knalpot bisingnya. Belum tahu itu siapa, tiba-tiba klaksonnya pun dibunyikan. Aku tak merasa menghalangi jalannya. Dari jaraknya pun masih terbilang jauh untuk seseorang itu yang hendak mengencangkan laju motornya. Seseorang itu berhenti tepat membelakangiku. Aku masih menyibukkan diri dengan tanaman.

“Galih!” Orang itu memanggil namaku.

“Ouhh kamu, Zal. Ada apa?” ku balikkan badan. Dia Rizal, teman sekolahku.

“Ayo, kita motor-motoran.”

“Kenapa gak sepedaan aja? Lebih sehat, Gak bikin polusi udara makin buruk juga. Liat tuh knalpot mu kebul banget, berisik lagi. Kepikiran apa kamu sampe begini?”

“Kamu sih, gak gaul. Sekarang zamannya motor-motoran!”

“Heh! Bayangin seratus orang punya pikiran yang sama kayak kamu, pasti-

Ngeeeengg!

Dia langsung melaju kencang ketika aku masih berbicara. Sikap tak acuhnya memang sudah menjadi tabiat dia di sekolah. Tak lama kemudian, Ayahku keluar membawa beberapa barang dalam kantung plastik besar. Diikuti oleh Ibuku juga membawakan koper yang biasa Ayah pakai saat bekerja ke tempat jauh. Pandanganku teralihkan.

“Ayah besok kerja, ya?” tanyaku. Jujur hatiku kesal.

“Iya, dek. Mau ikut?” Ayahku membalikkan pertanyaan sembari merapikan posisi barang miliknya.

Aku hanya menggeleng dan mengembalikan pandangan ke arah tanaman lagi. Harapan yang tinggi seketika jatuh.

“Kalau Ayah kerjanya ke kampung, kamu mau ikut?” Ayahku bertanya lagi.

Mataku mendelik mendengar pertanyaannya. Reflek kepalaku membalik dan mengangguk kencang layaknya anak kecil yang murung lalu diumpan permen manis di belakangnya. Aku langsung cepat-cepat masuk ke rumah untuk merapikan diri dan menyiapkan beberapa keperluan.

Mobil yang jarang keluargaku pakai akhirnya keluar kandang juga. Ayahku lebih sering memakai sepedanya saat pergi ke kantor karena jarak yang tak terlalu jauh dan hiruk pikuk kemacetan kota membuat Ayah tak mau untuk ikut-ikutan dalam penyerangan alam lewat polusi udara.

“Kita semua juga ngehasilin polusi, kok. Cuman kembali lagi ke diri kita yang menganggap polusi itu sebagai hal yang lumrah apa nggak. Makanya Ayah butuh kamu yang lebih milenial untuk ngasih tau mereka kalau polusi dan krisis iklim itu bukan sekedar potongan kuku yang dibuang gitu aja dan mereka bilang itu gabakal ngerugiin,” jelas Ayahku sehabis aku bercerita sedikit tentang kelakuan Rizal tadi.

Kami pun memulai perjalanan menuju kampung halaman yang selama 3 tahun belakangan tak pernah ku bayangkan lagi keadaannya.

***

“Dek, ayo bangun. Udah nyampe, nih.” Suara itu sepertinya Ibuku. Aku memaksa mata untuk terbuka dan kepalaku sedikit pening karena perjalanan yang ku isi dengan tidur.

Anehnya Ayahku tak banyak bicara sedari tadi. Ayah keluar duluan dan berdiri tepat di samping mobil. Pandanganku belum seratus persen melihat jelas kanan-kiri. Yang ku rasakan hanyalah hawa panas seisi mobil.

Ingin rasanya cepat-cepat keluar mengambil napas segar perbukitan kampung halaman ditambah pemandangan sejuk hutan-hutan pohon karet yang menjulang tinggi meneduhkan jalan. Ku giring badanku keluar mobil. Melihat sekeliling yang tampak asing di benakku.

“Ayah. Ini dimana?” tanyaku. Kaget sejadi-jadinya.

Aku melihat ayah yang sedang menghalangi pandangannya dengan selembar foto penuh kehijauan.

“Ayah gagal buat kenalin kamu sama Jenggala,” kata Ayah. Pandangannya terus membandingkan antara foto dan pandangan aslinya.

“Kenapa, Yah?’

“Lihat. Jenggala yang dari tadi Ayah ceritain di mobil udah dibabat habis sama manusia.”

“Jadi Jenggala itu apa? Hutan?” Ku pikir dugaanku benar tentang hal yang Ayahku ingin kenalkan.

Ayah mengangguk dan menyenderkan badannya ke mobil. Wajah penuh kekecewaan langsung tercipta begitu saja. Ibu cepat-cepat mengelus pundaknya. “Sabar, Yah. Mending sekarang kita langsung ke rumah Bapak. Di sini panas banget,” ucap Ibu.

  Benar kata Ibuku. Kampungku sekarang sudah tak sesejuk Kampungku dulu. Jenggala yang Ayah maksud tertuju pada sebuah lahan besar berisikan pohon-pohon karet yang berjajar rapi. Hanya dalam waktu 3 tahun aku tak ke sini, pohon-pohon karet itu sudah ditebang bersih.

Jalan setapak yang mengharuskan kami untuk jalan lagi tak bisa dilalui oleh mobil. Bebatuan yang tak beraturan dengan ukuran yang tak begitu wajar tertancap di jalan ini hanya bisa membuat mobil rusak nantinya. Aku masih ingat jika jalan ini dulunya dikawal panjang oleh barisan pohon bambu. Namun sekarang sudah tak ada lagi. Berganti menjadi pondasi-pondasi rumah yang belum selesai.

“Baru aja tiga tahun kita gak kesini tapi udah separah ini. Apalagi sepuluh tahun atau lebih,” komentar Ayah melihat sekelilingnya.

Tak lama kemudian, adik Ayahku menyusul didampingi anak perempuan seusiaku bernama Ghina. Ikut meringankan beban bawaan yang lumayan banyak kami bawa dari rumah seperti layaknya orang yang ingin pindahan.

“Kenapa kamu gak bilang soal hutan karet yang semuanya ditebang itu?” tanya Ayahku ke arah adiknya. Tatapannya menusuk.

“Maaf Mas. Bapak bilang biar Mas aja yang liat sendiri keadaan kampung kalau sewaktu-waktu kesini. Biar nanti aku ceritain di rumah.” Adik Ayah gemetar menjawabnya.

Dari kejauhan, sudah terlihat jelas rumah Kakek yang penuh dengan kenangan. Namun tiba-tiba ada teriakan banyak orang dari samping kanan kami. Bergerombol dengan tangan yang dikepal ke arah langit di depan rumah lumayan besar.

“Udah biasa warga disini demo terus ke rumah itu,” ujar adik Ayahku.

Katanya, pemilik rumah itu adalah seorang yang kerap dipanggil juragan bernama Diwan yang mengurus lahan berhektar-hektar luasnya. Dibenci warga karena tindakannya yang sudah sangat merugikan. Yaitu menebang ratusan pohon karet yang sudah terpelihara oleh warga di sini. Pasalnya, banyak warga kehilangan pendapatannya karena tak ada lagi sisa pohon karet yang bisa menghasilkan getah untuk dijadikan upah sehari-hari.

Dengan belasan anak buahnya dan berani menodongkan senapan angin, Juragan Diwan sudah cukup membuat mental warga sedikit demi sedikit takut. Langkah kami terus melambat dengan pandangan ke arah kerumunan itu. Adik Ayahku sudah terlihat biasa melihat keadaan seperti itu. “Cuman orang yang berakal doang yang kapok buat demo di depan Om Diwan,” sahut Ghina dengan gaya bicara seperti orang dewasa.

“Gak boleh gitu ngomongnya,” pungkas Ayahnya Ghina

“Mau dia apain sih lahannya sampe ditebang semua?” tanya Ayahku

“Juragan Diwan mau ganti pohon, Mas. Dari pohon karet jadi pohon sawit. Tapi udah satu setengah tahun warga nunggu itu. Awalnya warga seneng karena dijanjikan upah yang lebih besar dari upah getah pohon karet. Tapi sejak tiga bulan ini, warga sering demo ke rumahnya nuntut janji si Juragan.”

“Tapi kan lahan karet-karet ini milik warga. Ouhh, mentang-mentang Diwan jadi ketua pengelola, ya?”

“Lahannya emang milik warga, Mas. Cuman ketika awalnya warga bilang setuju soal pergantian pohon yang diusulin Juragan Diwan, pemerintah pun ikut setuju. Tapi ketika sekarang warga protes, pemerintah malah diem ajah.”

Rumah yang sudah dekat dari pandangan serasa jauh karena perbincangan orang-orang dewasa ini. Seiringan dengan langkah warga yang masih tak kunjung berhasil mendapatkan haknya, kami dan warga akhirnya berpapasan.

“Orang kota, nih!” teriak salah satu warga.

“Kalian ngapain kesini? Air di kota udah habis makanya kalian kesini!?” sambung warga yang lain.

“Kami juga sama!”

“Sudahlah, kalian pulang lagi sana. Percuma disini. Makin sumpek aja!”

Sepertinya warga masih terperangkap dengan amarahnya. Pelampiasan yang menggantung lewat aksinya kepada Juragan Diwan dilimpahkan kepada kami.

“Kalau kalian berani mengusir kami, kenapa kalian gak berani buat ngusir Diwan yang jelas-jelas bikin kalian rugi? Saya masih punya bapak di sini. Izinkan saya untuk menengok dulu,” tuntas ucapan Ayahku membuat warga bungkam.

Sudah banyak perubahan yang terjadi di Kampungku ini. Selain hal menakutkan tentang alam yang sebelumnya sejuk lalu dihantam oleh keserakahan manusia, tapi juga perubahan sifat manusia yang sebelumnya dihiasi sopan santun lalu berubah dengan drastisnya.

“Galih, ikut aku, yuk. Pusing banget dengerin orang dewasa ribut.” Ghina menepuk pundakku, berbisik, dan jarinya menunjuk suatu arah.

Kami berdua berjalan paling belakang dari yang lain. Itu membuat kami mudah memisahkan diri. Ku tahu nantinya mereka akan mencari. Tapi aku cukup mengingat banyak tempat disini. Menerobos rawa-rawa kering yang membuat kakiku sedikit gatal. Celana pendekku sengaja ku pakai karena memang tak leluasa di dalam mobil.

Langkah Ghina berhenti sembari mengarahkan telunjuknya ke arah barisan pagar kayu membentuk lingkaran. Ternyata ada satu pohon karet yang terjaga di tengahnya maupun masih setinggi pahaku.

“Ini kamu yang tanem, Ghin?” tanyaku sembari mengelus-elus daun pohon karet ini. “Daunnya masih basah, loh. Perasaan udah lama gak hujan, kan?” tambahku.

“Bukan aku yang nanem. Baru tadi pagi aku nemu. Terakhir kali aku kesini sebelum tadi pagi ya sekitar dua minggu yang lalu dan belum ada pohon karetnya.” Ghina menjelaskan. Mataku meneliti sekitar.

Tak heran juga jika ada orang lain yang ingin terus peduli dengan kawasan yang sudah gersang ini. Pasti banyak yang rindu dengan rindangnya pohon karet di sini. Kami berdua masih sama-sama terpaku di depan pohon mungil ini. Daun yang masih segar dengan sedikit tampak lingkaran polybag yang ikut terkubur tanah. Aku tak bisa menduga siapa yang menanam. Hanya Ghina yang tahu siapa saja orang di sini.

“Eh, Galih. Tuh liat!” bisik kasar Ghina menepuk kencang pundakku dan menunjuk orang yang masih samar dari pandangan.

Kami berdua langsung cepat-cepat menyingkah dari tempat itu. Tak ada pohon yang bisa kami gunakan untuk bersembunyi. Hanya ada dataran yang sedikit menurun dan kami berdua tengkurap bagaikan tentara yang ketakutan melihat musuh di depan mata.

Tak disangka, ternyata orang itu adalah Juragan Diwan yang membawa kantung plastik hitam penuh tanda tanya. Mendekati pohon mungil itu dengan tatapan yang memicing ke sekitar pandangannya. Berjongkok dan tangannya yang langsung menggenggam batang pohon itu. Mataku melebar melihat aksinya seperti hendak mencabut paksa pohon karet dari tanahnya.

“Ya Tuhan. Saya benar-benar menyesal! Tolong turunkan hujan lagi. Saya hanya ingin buktikan jika saya bisa memulihkan semuanya, Ya Tuhan!” Juragan Diwan berkata seperti itu. Tak pernah aku besitkan ekspresi rasa bersalahnya dengan apa yang dia takut-takuti kepada warga.

Genggamannya membuatku salah paham tadinya. Perlahan, Juragan Diwan menaburkan pupuk dengan wajah yang akhirnya tak bisa menampung air mata. Dia menangis sejadi-jadinya namun tangannya sibuk menaburkan pupuk layaknya seseorang yang menaburkan bunga di atas kuburan orang yang paling dicintainya.

“Ciee baper,” ledek Ghina kepadaku. Mataku berkaca-kaca.

“Samperin yuk, Ghin. Kayaknya dia gak seburuk apa yang warga bilang, deh.” Pengalihan isu dariku.

Kami berdua berdiri. Tindakan kami disadari Juragan Diwan yang membuat raut wajahnya berubah dan cepat-cepat menyeka air matanya.

“Waras, Om?” tanya Ghina dengan gaya meledek.

Juragan Diwan berdiri dengan memunculkan wajar garangnya. “Duduk!” tegasnya. Kami jelas ketakutan dengannya. Ghina yang tabiatnya bercanda pun kini kehilangan keberanian lagi.

“Kalian sebagai generasi muda. Jangan sampai lahan sebesar ini kalian jadikan gedung-gedung nantinya. Saya sadar saya salah. Mungkin ini karma yang harus saya terima. Kalian tahu kenapa? Saya ditipu oleh orang-orang kota! Menyesal saya tebang semua pohon ini. Yang katanya akan dijadikan resort. Saya sudah bayar apa yang mereka mau! Tapi kenapa mereka bawa kabur!” Juragan Diwan terus mengoceh kencang sembari mengguncangkan pundakku. Garangnya sudah tak ampuh membentengi wajah yang kupikir begitulah aslinya.

“Kenapa Om gak laporin mereka aja?” tanyaku.

“Mustahil! Sama saja saya melaporkan polisi ke kantor polisi. Saya akan ikut ditangkap! Tolong saya. Saya sudah tidak punya apa-apa untuk mengembalikkan semua ini.” Suara Juragan Diwan semakin bergelombang tak karuan.

“Mau gak mau Om harus tanggung jawab. Mau gimana juga, tempat ini adalah sumber penghasilan buat warga dan tempat ini juga adalah tempat yang paling Ayahku rindukan. Pasti banyak orang yang menyayangkan hal ini. Tempat yang jadi kebanggaan banyak orang akhirnya musnah semua. Ibaratnya, Om ngorbanin surga demi sebuah surga replika yang belum juga pasti bakal tercipta. Padahal alami lebih indah, kan?” Segala beban pikiranku tertuntaskan dengan ucapanku.

***

Pertemuan singkat antara aku dan Juragan Diwan sungguh berkesan. Aku tahu dia orang baik yang pada hakikatnya punya banyak kemauan. Aku dan Ghina kembali ke rumah Kakek. Tampaknya perseteruan antara warga dan ayahku sudah padam.

Aku dan Ghina langsung berdiri di hadapan orang-orang rumah. Sebelum mereka kaget karena tadinya kami memisahkan diri, tapi kami pungkas ekspresi mereka dengan menceritakan soal Juragan Diwan hingga terengah-engah kami ceritakan.

Bersyukur bisa melihat Kakek yang masih bisa tertawa walau giginya sudah tak ada. Menjadi salah satu sesepuh yang tak mampu lagi mengacungkan aspirasinya. “Kakek bakal roboh kayak pohon kelapa yang dulu sering Kakek panjat.” Amanat Kakek langsung membuatku melihat jendela. Baru sadar jika pohon kelapa yang dulu sering ku manfaatkan degannya, sekarang sudah tak ada.

“Dan Kakekmu butuh kalian sebagai generasi muda yang harus menggantikan pohon kelapa itu. Maksudnya bukan tanem pohon kelapa, tapi jiwa peduli alamnya yang harus kalian tanem,” sahut Ayahku sesudah menyeruput kopinya.

Semenjak kampungku gersang, aku berpikir bahwa ketika dulu aku ke sini adalah waktu dimana aku melampiaskan diri karena kota hanya memberikanku jalan di atas aspal tapi kampung memberikanku jalan di atas rumput liar.

Hanya seminggu aku dan keluargaku di Kampung. Ayahku gagal untuk melakukan pekerjaannya disini. Bukan berarti Ayahku hanya diam saja. Berkat gebrakan Ayah yang tak sempat ku lihat seperti apa, warga sudah mulai bahu-membahu memulai gotong royong yang sebelumnya hanya dihiasi demo wara-wiri tak jelas.

“Baiklah bapak-ibu. Ini sudah waktunya saya pulang. Saya akan bantu untuk mengirimkan bibit pohon karet kesini. Untuk Diwan, saya percayakan padamu. Anak saya sudah banyak cerita soal kamu. Jangan lagi kamu berulah. Muka garangmu itu cocoknya buat taklukin orang-orang kota yang serakah. Orang kota emang sadis kalo nipu. Untuk warga, kalau sampai Diwan ini berulah lagi, kalian lapor aja ke adik saya. Biar adik saya yang menyampaikannya ke saya. Saya pamit ya, semuanya.”

Langit perlahan menampakkan mendungnya. Hal yang paling banyak orang perlukan di sini adalah hujan. Maupun hujan di kota akan menjadi malapetaka juga. Semua tergantung pada manusia yang dasarnya apakah akan siap menerima berkah dan musibah dalam satu waktu yang sama?

***

Kembali ke kota dan kembali ke rumah. Pintu terbuka dengan sedikit sejuk angin-angin sore. Suara kendaraan yang masih sibuk di jalan raya sana masih cukup terdengar sampai ke sini. Cerita pulang kampung kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Keserakahan manusia memang tak main-main jika sudah terjadi.

Sebelum aku masuk ke dalam, aku menemukan beberapa lembar kertas di kursi halaman. Ku ambil dan merapikannya. “Observasi Jenggala? Ini kan kertas yang ada di kamar Ayah,” kataku heran.

Ternyata kertas yang ku lihat di kamar Ayah saat itu tak hanya selembar. Tetapi berlembar-lembar penuh lukisan kasar yang ku yakini adalah buatan Ayah. Itulah gambaran museum tanaman yang Ayahku maksud. Selang beberapa waktu sesudah aku puas melihat semua lembaran laporan Ayah, aku lari ke dalam rumah dengan ekspresi cengar-cengir.

Ayahku sepertinya sedang mencari sesuatu. Mengeluarkan segala yang ada di dalam kopernya.

“Ini ya, Yah?” Aku menyodorkan laporan yang mungkin Ayahku maksud.

“Nah! Akhirnya ketemu juga,” seru Ayah senangnya tak karuan. “Ketemu dimana, Dek?” tanyanya.

“Tuh di depan. Di kursi.”

Besoknya aku ikut Ayah untuk sebuah acara persentasinya. Laporannya itu akan menjadi tolak ukur bersama beberapa rekannya untuk membentuk tim dalam pembangunan Museum Jenggala. Lembar demi lembar Ayahku perlihatkan sembari menjelaskan maksud, tujuan, dan manfaat untuk kedepannya akan seperti apa.

“Coba mundur satu halaman, Pak,” titah salah satu rekan Ayah.

Semua orang yang duduk rapi disitu langsung membicarakan hal yang ada di halaman ke empat. “Saya sangat tertarik dengan konsep Kampung Jenggala yang kelihatannya tak terlalu banyak memakan anggaran. Kita hanya cukup mencari lingkungan yang sekiranya pas untuk penempatannya.”

Ayahku bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Di lembar ke empat, Ayah merasa kaget dengan gambaran yang asing baginya. Aku cengar-cengir disitu dan Ayah sepertinya sudah mengetahui siapa dalang dibalik terciptanya gambar yang tak terlalu bagus itu.

“Ini adalah gambaran anak saya, Pak. Itu dia orangnya.” Ayah menunjuk ke arahku. Sontak semua orang bertepuk tangan dengan pandangan sumringahnya ke arahku. Aku malu, namun aku juga bangga bisa ikut andil dalam pekerjaan Ayah untuk alam ini.

“Mari kita wujudkan Kampung Jenggala dan jadikan ini tren baru di masa mendatang!” sorak salah seorang membuat yang lainnya semakin bersemangat.

Entah kepikiran apa. Namun ketika aku menemukan laporan itu, ada hal yang terbesit di benakku. Aku lari sambil mendekap laporan itu di dada dan masuk ke kamar untuk menambah isi pikiranku di lembar halaman ke empat yang kosong. Aku gambarkan segala hal yang kupikir bisa menjadi sesuatu yang akan ku wujudkan di kemudian hari.

“Semangat, Yah. Kelak aku ingin menjadi sepertimu. Menjadi bagian dari hal yang jarang terpikirkan oleh banyak orang. Menjadi pemerhati lingkungan dengan aksi-aksi nyatanya. Aku hanya tak ingin generasiku nanti malah senang jika alam hijau kalah dalam pertempuran. Sungguh, aku tak ingin seperti itu!”

Selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *