Cerpen #278; “KAMPUNG KU”

Gadis itu duduk termangu sambil menopang dagu di sebuah perbukittan yang indah nan hijau itu di sebuah perkampungan seorang diri, semilir angin yang meniup pelan rambut hitam panjangnya yang ia gerai membuat rambutnya sedikit berkibar.

Nama gadis itu Amira Arundati, seorang gadis yang lahir di sebuah perkampungan, beberapa bulan yang lalu kampungnya di timpa sebuah bencana alam yang begitu hebat yakni kebakarran hutan dan juga longsor. Bulu matanya yang lentik basah oleh air mata miliknya yang sedari tadi tak sanggup ia tahan untuk keluar, bibirnya bergetar hebat suara isakkan kecil namun begitu menyayat hati terdengar lirih. Ia menangis sambil menatap perkampungannya, dalam hati ia membatin.

“ mengapa orang kota begitu kejam kepada kita? Semua yang ada di sini di rusak oleh mereka semua, hutan ini, kampung ini, dan semuanya yang ada disini mereka rusak untuk membangun sarana yang mereka inginkan, padahal….padahal di kota, mereka sudah memiliki itu semua, kenapa masih juga harus mengambil tanah dan lahan milik kampung ini, apa yang masih mereka inginkan…. Apakah mereka belum puas juga? Apakah mereka tidak tahu, bahwa beberapa bulan yang lalu kampung ini terkena benca alam di sebabkan ulah mereka sendiri…. Ya allah.. apa yang harus aku lakukan agar kampungku ini kembali seperti dahulu lagi? “  gumam gadis itu, ia membatin sambil sesekali mengusap lembut air matanya.

hatinya sakit, sangat sakit, tak terbayang betapa sakitnya saat ingattannya teringat akan  kejadian atau peristiwa yang beberapa bulan yang lalu terjadi di tempat tinggalnya.

kebakkaran yang hebat membuat rumah-rumah yang ada di kampungnya banyak yang terbakar habis hanya menyisakkan puing-puing rumah yang roboh karena lahappan api dan terpaksa para warga yang selamat dari bencana tersebut harus membangun kembali rumah mereka, belum beres itu semua di selesaikan, baru saja kampung itu terkena bencana kebakkaran hutan, beberapa minggu kemudian longsor menimpa kampung mereka, membuat banyak sekali korban jiwa yang kehilangan nyawanya.

“Ayuk arun, kenapa ayuk ada disini? ayuk sedang apa?” tiba- tiba sebuah suara mengagetkan arun yang saat ini tengah tenggelam dalam ingattannya.

Ayuk adalah panggilan untuk kakak perempuan, yang biasanya di pakai oleh orang-orang pedesaan atau perkampungan

Arun mendongak dan menatap seorang anak laki-laki yang merupakan adik nya yang bernama Dimas adisaputra, yang biasa ia panggil Dimas, adiknya yang baru berumur 10 tahun itu duduk di samping kakaknya. Mata hitamnya yang lugu menatap arun dengan tatapan kebingungan saat melihat pipi arun basah.

“ Ayuk kenapa? Ayuk habis nangis ya?” tanya dimas sambil memiringkan kepalanya kearah arun, arun menggeleng sambil tersenyum

“Ayuk Cuma sedang rindu dengan paman eko yang ada di Jakarta, dimas sedang apa? Kok kemari?” arun balik bertanya sambil merangkul bahu adiknya.

“Awalnya dimas lagi main bola di sana “ jawab dimas sambil menunjuk sebuah tempat di sebelah utara yang memperlihatkan dimana orang-orang suruhan dari kota tengah membangun sebuah Gedung besar yang nanti akan di jadikan sebagai tempat perusahaan milik seorang pejabat di sebuah kota.

“Terus, dimas di marahin, katanya nggak boleh disitu, ya sudah dimas pergi saja, eh waktu dimas lewat sini, dimas liat ayuk arun sedang duduk sendirian, ya sudah deh, dimas kesini aja, nemenin ayuk arun sedang duduk “ jelas dimas

Mendengar jawaban dan penjelassan dari adiknya, arun tersenyum

“Benar apa kata mereka, dimas nggak boleh kesitu karena bahaya, di situ banyak batu besar, dankalau seandainya dimas kejatuhan batu besar itu dimas bisa meninggal “ ucap arun menasihati adiknya, dimas mengangguk-angguk dia lalu kembali menatap orang-orang proyek tersebut.

“Mereka sedang apa sih, ayuk?” tanya dimas

“Mereka sedang membangun sebuah Gedung yang sangat besar dik” jawab arun

“Untuk apa? Bukankah mereka sudah punya itu semua di kota? “ dimas bertanya lagi

“Ayuk pun tidak tahu dik, yang ayuk tahu mereka telah mengambil tanah dan hutan milik kita” ketika mendengar jawaban arun, dimas langsung menoleh dengan cepat

“ Hah???? Yang benar?????” seru dimas terkejut, arun mengangguk

“Berarti, penyebab hutan kita kebakaran dan longsor itu ulah mereka semua selama ini?” tanya dimas,

Arun mengangguk.

“Kok mereka seperti itu sih? Bukankah itu tanah milik kita? “ ujar dimas, arun menggeleng

“ Ayuk tidak tahu dik apa yang masih mereka inginkan dari tempat kita” ucap arun

“Dimas mau pulang saja ah, ayuk “ pamit dimas lalu bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan arun seorang diri, arun menatap kepergian dimas dengan tatapan sendu dia tahu saat ini ketika adiknya itu mendengar fakta atau berita tersebut ia yakin adiknya pasti marah lebih tepatnya kepada orang-orang tersebut.

Walaupun dimas masih berumur 10 tahun tapi dia termasuk dalam kategori anak dengan kecerdassan diatas rata-rata, oleh karena itu dia marah saat mendengar berita tersebut dari arun.

Arun kembali menatap ke arah perbukkitan, bagi dia menatap bukit perkampungannya yang hijau itu mampu menyembuhkan hatinya yang pilu menjadi lebih damai, ingatan-ingatan akan kejadian beberapa bulan yang lalu kembali terlintas di benaknya, namun ia mencoba sebisa mungkin untuk tidak menangis lagi, dia mencoba untuk tegar.

Ia lalu mencoba untuk membayangkan gambaran kampungnya 5 tahun atau 10 tahun yang akan datang, ia berusaha untuk menghibur hatinya dengan berkata

“ lihatlah, kelak, di tahun-tahun yang akan datang kampung ini, akan merebut kembali apa yang telah orang kota ambil, dan akan menjadi sebuah perkampungan yang indah, hijau, dan memiliki hutan-hutan yang jauh lebih rindang dari hutan sebelumnya yang telah kalian ambil “

……………

Di sebuah dapur rumah yang sederhana, tampak seorang ibu paruh baya yang sudah berumur kurang lebih 40 tahunan, tampak sibuk menanak nasi di atas tungku, Namanya mak ningsih, ibu dari arun yang selalu di panggil oleh anak-anaknya “Mak”.

Tangan kanannya mengaduk-aduk pelan tapi penuh dengan tenaga nasi yang sudah matang, kemudian nasi yang sudah matang tersebut di taruh di sebuah tempat nasi yang terbuat dari plastic berwarna putih, lalu mengambil sayur yang sudah matang ke dalam mangkuk putih berukurran lebar.

Nasi dan sayuran yang masih mengebul itu beliau taruh di atas meja makan kayu.

Ia berdiri sambil mengelap peluhnya di dahi menggunakan tangan kanan dan tangan kiri ia letakkan di pinggang, ke dua matanya menatap kea rah luar dapur, bersiap untuk memanggil anak-anaknya.

“Arun,Senjani,Dimas sudah waktunya makan siang !!!” teriak emak

Seorang perempuan dengan rambut Panjang yang dikuncir kuda keluar dari kamarnya, nama anak itu adalah senjani rahmaningsih, anak pertama, yang merupakkan kakak dari arun dan dimas.

Dengan langkah gontai ia menghampiri meja makan dan langsung duduk di atas kursi, tampaknya ia baru saja bangun tidur

Emak menatap senjani dengan alis berkerut.

“Senjani, mana adik-adikmu? Arun dan dimas?” tanya emak

“Tidak tahu mak, mungkin arun sedang di luar dan dimas sedang bermain “ jawab senjani sambil sedikit menguap

“ dari dulu mak selalu mengingatkan kalian  bahwa mak tidak akan memperbolehkan kalian makan sebelum kalian semua berkumpul, cepat panggil mereka “ perintah emak

Senajni yang memang pada dasarnya adalah seorang anak yang penurut langsung beranjak dari meja makan dan keluar rumah untuk mencari adik-adiknya, saat ia tengah berjalan di jalan setapak depan rumah, ia melihat dimas sedang berjalan pulang ke arah rumah, senjani langsung menghampiri dimas.

“mas, dimas, kamu mau kemana?” panggil senjani, dimas menoleh menghentikan langkahnya dan menatap kakaknya

“ pulang, ayuk,” jawab dimas

“ Arun mana?” tanya senjani

“DI bukit “ jawab dimas singkat

Senjani melihat ada yang berbeda dari sikap dimas saat ini dimas tampak sedang marah , sebenarnya senjani ingin bertanya, namun ia urung melakukannya.

“Oh, ya sudah, kamu pulang ke rumah sekarang, mak sudah menyiapkan makan siang untuk kita kamu tunggu di rumah ya, ayuk mau jemput arun dulu “ perintah senjani

Dimas mengangguk tanpa berkata-kata dan langsung berjalan pergi, senjani kembali mellanjutkan perjalanannya kea rah bukit.

Suara mesin dan pukulan paku dari para pekerja proyek di lahan kampung yang dulunya adalah sebuah kebun milik salah seorang warga kampung terdengar keras mengiringi langkah senjani yang saat ini tengah berjalan menghampiri arun yang tengah duduk di rumput.

Sesampainya senjani di belakang arun tangan kanananya langsung menepuk pundak arun, arun terlonjak kaget saat mendapat tepukkan tersebut yang mendarat secara tiba-tiba di pundaknya.

“Run, arun, pulang yuk, mak sudah menunggu kita di rumah” ajak senjani

Arun mendongak menatap senjani kemudian berdiri, senjani yang melihat wajah arun yang masih memasang wajah terkejut itu lantas tertawa

“ Kenapa ayuk?” tanya arun keheranan, senjani lalu meredakan tawanya

“ wajahmu lucu sekali dik kalau sedang terkejut seperti itu, hahahhaha… sudah yuk pulang, mak tidak akan memperbolehkan kita makan sebelum kita semua berkumpul “ jelas senjani sambil menggandeng tangan kanan arun.

“Arun minta maaf ayuk sudah membuat ayuk dan mak menunggu di rumah “ pinta arun

Senjani tersenyum lembut, kecantikkan pada wajah senjani langsung terlihat seketika saat bibirnya tersenyum lembut kea rah arun.

“ tidak apa-apa, ayo cepat kita pulang ayuk sudah lapar nih, hehehe” ucap senjani

Arun tersenyum dan berjalan beriringan mengikuti senjani berjalan menuju rumah mereka

……..

Saat arun tengah mecuci piring di belakang rumah, tiba-tba dimas berlari meghampiri dirinya, dimas terlihat terengah-engah.

“Ada apa?” Tanya arun

tiba-tiba tangan kanan dimas menunjuk ke sebelah utara

“Lihat di sebelah sana ayuk” ucap dimas

arun mengernyit, kepalanya lalu menoleh ke sebelah utara arah yang di tunjuk oleh dimas, namun ia tidak melihat apa-apa di sana, kepalanya kembali menoleh ke arah dimas.

“Tidak ada apa-apa kok” ucap arun

dimas langsung menepuk jidat.

“Maksud dimas itu, ayuk harus pergi ke sana”

“Ada apa memangnya dimas?” arun semakin di buat penasaran oleh dimas,

dimas lalu menarik tangan kanan arun untuk berdiri.

“Pokoknya ayuk harus lihat sendiri, ayo cepat!” perintah dimas dengan memaksa sambil menarik-narik tangan arun, arun lalu menghela nafas

“Ya sudah ayo” ajak arun, dimas langsug berjalan sedikit berlari di depan arun dan arun mengikutinya di belakang.

dimas mengajaknya ke sebuah sungai kecil di dekat lahan yang saat ini tengah di jadikan sebagai tempat proyek pembangunan.

“Lihatlah ayuk” tunjuk dimas

arun menatap ke arah sungai dan terkejut bukan main.

“Ya allah!!!” arun langsung berseru terkejut, ke dua tangannya membekap mulutnya karena saking terkejutnya dengan apa yang di lihat oleh ke dua matanya saat ini,

dimas hanya bias menggeleng-gelengkan kepala

“Mereka sungguh keterlaluan ayuk, lihatlah mereka dengan seenaknya membuang sampah karung bekas semen mereka di sungai kita” kata dimas dengan nada geram.

Arun terdiam tidak menanggapi perkataan dimas, ke dua matanya terpaku menatap kea rah sungai yang kini penuh dengan sampah-sampah karung semen, ke dua matanya berkaca-kaca

terlintas kembali bayangan-bayangan masa kecilnya dahulu ketika masih berumur 8 tahun dia dan kakaknya, senjani, bermain air dan berenang sembari membantu emak mencuci baju di sungai karena saking jernihnya air sungai tersebut ,  kemudian setelah itu mereka bersama-sama membersihkan kembali sungai agar tetap bersih dan jernih airnya. namun 1 hal yang menurutnya paling menyakitkan hatinya adalah ingatannya 2 tahun yang lalu akan jerih payah seluruh warga kampong untuk membersihkan sungai ini untuk menjadikan sungai ini sebagai sumber mata air penghiduppan mereka, dan melarang seluruh warga dari yang kecil sampai yang tua untuk melakukan aktivitas apapun di sungai tersebut kecuali untuk mengambil air.

Airnya yang jernih di gunakan untuk di minum, mandi,dll, namun sekarang apa yang dilihatnya mampu membuat arun terisak hebat.

Arun terjatuh di samping sungai sambil membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya, bahunya berguncang hebat efek dari isakkannya yang begitu hebat

Dimas yang melihat arun menangis tersedu-sedu langsung memeluk tubuh arun, ke dua mata dimas menatap nanar kea rah sungai yang kini airnya telah berubah waranya menjadi keruh dan kotor, di penuhi dengan sampah karung semen yang tidak terhitung jumlahnya.

Sungguh arun tak sanggup melihat pemandangan ini, ia tak sanggup melihat air sungai yang selama ini di jadikan sebagai sumber penghiduppan mereka berubah seketika seakan-akan sungai ini adalah sungai yang tidak terpakai.

Ia membayangka nasib dan reaksi seluruh penduduk kampong nanti setelah mengetahui apa yang terjadi pada sungai mereka, arun juga membayangkan dari mana lagi mereka akan mencari air sungai yang nanti akan di jadikan sebagai sumber mata air mereka, karena kampungnya ini sangatlah sulit mencari air bersih,  di sebabkan mereka tinggal di perbukittan yang kejernihan airnya sangat kurang bukan tinggal di pegununga, dan satu-satunya air sugai yang kejernihan air nya luar biasa jernih ketika sudah di bersihkan hanyalah sungai ini.

“Bagaimana ini dik” rintih  arun di tengah-tengah isakkannya

Dimas mengelus lembut punggung arun.

“Sabar ayuk” ucap dimas berusaha untuk menenangkan hati arun

“Sungai ini kotor dik, darimana lagi kita akan mencari air bersih untuk kehiduppan kita?” ucap arun, dimas terdiam, dia lalu menyentuh lembuh pundak arun

“Ayuk arun, sepertinya kita pulang saja ke rumah sekarang, ayuk harus menenangkan diri ayuk di rumah” kata dimas

Arun diam, tidak merespon ucappan adiknya.

“Ayuk? ayuk dengar kan apa yang tadi dimas katakan?” taya dimas, arun mengagguk pelan

“Ya sudah, sekarag kita pulang yuk” ajak dimas

Arun diam, di lalu berdiri dengan perlahan,  membuka ke dua telapak tangannya yang menutupi wajahnya.

Dimas menatap wajah arun yang sembab, hati dimas teriris seketika saatmelihat wajah sendu kakaknya, dimas lalu menggandeng tangan arun.

“Ayo pulang” ajak dimas, arun menatap sungai sejenak dengan tatapan sendu, kemudian berbalik dan berjalan pergi dari sungai bersama dimas.

******

Selang beberapa hari kemudian, seorang warga melapor perihal sampah karung yang ada di sungai tersebut kepada kepala kampung. Kepala kampung yang bernama pak rahmad langsung pergi ke daerah sungai tersebut,

Alangkah terkejutnya pak rahmad saat melihat banyak sekali sampah karung semen yang terapung di sungai. “astaghfirullah ya rabb” gumam pak rahmad ber istighfar dalam hati sembari mengelus-elus dadanya, pak rahmad lalu memanggil salah satu warga kampung dan menyuruh agar seluruh warga kampung untuk membersihkan sungai Bersama-sama.

Pak rahmad dan kedua anak laki-lakinya dadang dan danang pergi menemui salah satu mandor proyek tersebut.

Seorang  mandor proyek terlihat tengah memantau situasi pembangunan Gedung di temani oleh salah satu pekerja proyek yang tengah melapor sesuatu.

Pak rahmad Bersama dadang dan danang langsung menghampiri mandor tersebut.

“assalamu’alaikum pak “ pak  rahmad langsung mengucap salam ketika tiba di belakang tubuh mandor tersebut, si mandor yang mendengar salam pak rahmad langsung berbalik badan ke arah pak rahmad

“wa’alaikumsalam pak” jawab si mandor tersebut

Pak rahmad dan si mandor tersebut langsung berjabat tangan di ikuti ke dua putra pak rahmad

“ada apa pak?” tanya si mandor

Pak rahmad menghela nafas pelan sebelum berucap

“sebelumnya saya boleh tau siapa nama pak mandor?” tanya pak rahmad, mandor tersebut mengangguk

“perkenalkan pak nama saya ray “ jawab si mandor tersebut yang ternyata bernama ray memperkenalkan diri

“ saya rahmad, pak ray” giliran pak rahmad yang memperkenalkan diri.

“ehm.. ( ray berdeham ) jadi ada maksud apa kedatangan pak rahmad kemari?” tanya ray

“ jadi begini pak ray, di kampung kita ini sangatlah sulit mencari sumber mata air yang bersih, nah kita mempunyai satu buah sungai yang air nya sangat jernih sekali dan sudah menjadi sumber mata air kita selama ini, sungai itu letaknya di sebelah lahan proyek ini, nah hari ini ada warga yang melapor kepada saya bahwasannya proyek ini membuang sampah bekas semen nya ke sungai itu, dan membuat air sungai itu berubah menjadi sangat keruh sekali warnanya dan air nya tidak bisa kita pakai lagi, mengapa ini bisa terjadi pak ray? Sebagai mandor di proyek ini seharusnya pak ray bisa bersikap tegas kepada para pekerja untuk tidak membuang sampah karung semen nya di sungai, karena sungai itu sangatlah penting bagi kita pak ray”

Pak rahmad menjelaskan semuanya Panjang lebar dengan nada tegas.

Ray terdiam sejenak kemudian menghela nafas

“boleh saya lihat bagaimana keadaan sungainya sekarang juga?” tanya ray

“boleh, boleh sekali, mari pak ray, akan saya tunjukkan, betapa kotornya sungai itu saat ini” ajak pak rahmad.

Pak rahmad lalu mengajak ray ke tempat dimana sungai itu terletak

Sesampainya di sungai tersebut, pak rahmad langsung menunjukkan sungai tersebut kepada ray.

“ini sungai nya pak, silahkan pak ray lihat” ucap pak rahmad

Ray menatap sungai itu dengan tatapan cukup terkejut, sampah karung semen bekas pembangunan mengambang di mana-mana, dia menjadi malu sendiri, apalagi saat melihat pemandangan di sekitar sungai ini yang bisa di bilang sangat indah sekali dengan rumput-rumput hijau yang di potong rapih dan beberapa pepohonan yang menambah asri pemandangan sungai tersebut. Dengan raut wajah bersalah dia  menatap pak rahmad.

“ saya benar-benar meminta maaf atas semua ini pak, sungguh saya tidak pernah tahu bahwa pekerja proyek akan membuang sampah karung nya di sungai ini, saya benar-benar minta maaf pak rahmad” kata ray sambil menangkupkan ke dua tangannya di hadapan pak rahmad.

Pak rahmad menghela nafas, ke dua matanya menatap ke arah ray.

“ lalu, apa yang akan pak ray lakukan?” tanya pak rahmad

“ saya akan meminta seluruh pekerja proyek untuk membersihkan sungai ini dengan sebersih-bersihnya pak, sungai ini masih bisa di bersihkan bukan? Kalau masih bisa saya yang akan bertanggung jawab atas semua ini” jawab ray dengan penuh keyakinan

“ sungai ini masih bisa di bersihkan, namun air nya sangat sulit untuk di jernihkan kembali, apa pak ray sanggup untuk menjernihkan air nya kembali?” pak rahmad kembali bertanya.

Ray diam, kemudian dia teringat akan sesuatu, dulu di daerah rumahnya pernah ada penjernihan air sungai yang kotor menjadi jernih, dan itu menggunakan bubuk biji kelor dan arang untuk menyerap bau menyengat dari bubuk biji kelor tersebut.

Ray tersenyum dan mengangguk.

“in syaa allah, bisa pak rahmad, saya akan melakukkannya sebisa mungkin Bersama para pekerja proyek lainnya,” jawab ray

“baiklah pak ray, mungkin itu saja yang saya sampaikan, saya minta maaf sudah menganggu waktu kerja pak ray sebagai mandor di proyek ini “ ucap pak rahmad

Ray tersenyum.

“ wah, tidak masalah pak rahmad, justru saya yang meminta maaf karena proyek ini  sudah mencemari sungai kampung ini, lagi pula ini bentuk tanggung jawab saya, oh iya, saya baru ingat, saya juga meminta maaf atas kebakkaran dan penggundulan hutan  beberapa bulan yang lalu, saya ingin menebus kesalahan itu dengan melakukan reboisasi di tempat hutan yang di gundulkan tersebut” ucap ray

Mendengar itu pak rahmad dan ke dua putranya dadang dan danang tersenyum sumringah

“ saya kira pak ray lupa akan hal itu, baiklah, ini ide yang bagus, silahkan pak ray melakukan reboisasi di hutan tersebut, saya mengucapkan terimakasih banyak atas tanggung jawab pak ray atas semua ini” kata pak rahmad sambil menjabat tangan ray dengan senyum yang terlintas di wajah nya.

Ray membalas jabatan tangan pak rahmad

“sama-sama pak, baiklah kalau begitu saya akan menyiapkan semuanya hari ini juga, saya akan memerintah sebagian para pekerja proyek untuk berhenti melakukan pembangunan, sebagian beralih untuk melakukan reboisasi dan sebagian lagi beralih untuk melakukan pembersihan serta penjernihan sungai” ucap ray

“ baik pak ray, saya juga akan memerintahkan para warga kampung untuk ikut serta membantu dalam kegiatan melakukan pembersihan sungai dan reboisasi, kalau begitu saya pamit pak ray, assalamu’alaikum “ pamit pak rahmad

“wa’alaikumsalam pak” ray membalas salam pak rahmad

Pak rahmad dan kedua putranya langsung berjalan pergi ke arah rumah warga sedangkan ray berjalan pergi ke arah tempat proyek.

Setibanya pak rahmad dan ke dua putranya di rumah warga, pak rahmad langsung  memberi pengumuman di tengah-tengah perumahan para warga menggunakan toa

“ assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, untuk seluruh warga kampung besok pagi di harap keluar rumah, sebagian pergi ke sungai untuk melakukan pembersihan dan penjernihan sungai Bersama para pekerja proyek dan sebagian ada yang pergi ke hutan gundul untuk melakukan reboisasi Bersama para pekerja proyek, di harapkan besok pagi seluruh warga kampung untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut, terima kasih, wassalamu’alaikum warahamtullahi wabarakatuh” pak rahmad mengakhiri pengumuman tersebut dan berjalan pergi menuju rumahnya.

Arun yang saat ini tengah duduk di halaman rumah ketika mendengar pengumuman tersebut langsung berseru gembira. Dalam hati dia mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya, kepalanya mendongak ke atas menatap langit, ke dua ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman.

Ke dua matanya berkaca-kaca,

“ ya allah, terimakasih karena engkau telah mengabulkan doaku dan menolong kampung ku ya allah..” ucapnya dalam hati

Sungguh, tak bisa di gambarkan betapa bahagianya hati arun saat ini, dia mengira bahwa para orang kota tersebut tak mau bertanggung jawab atas semua kekacauan yang mereka lakukan kepada kampungnya ini, tapi ternyata mereka mau bertanggung jawab atas semuanya, dan akan melakukan semua perbaikkan di kampung ini besok pagi.

Arun lalu masuk ke dalam rumah sambil bersenandung riang.

******

Ke esokkan paginya, seluruh warga kampung berbondong-bondong sesuai arahan pak rahmad dan  ke dua putranya dadang dan danang pergi ke sungai dan ke hutan.

Arun dan dimas pergi ke sungai sedangkan emak dan senjani pergi ke hutan untuk melakukan reboisasi.

Para pekerja proyek telah menyiapkan semua yang di butuhkan mulai dari bibit-bibit yang akan di tanam yang jumlahnya sangat banyak,dan beberapa bubuk biji kelor dan arang untuk di sebar ke air sungai.

Semua warga langsung melakukan aktiitas mereka, para pekerja proyek memberikan masing-masing warga bibit tanaman untuk di tanam di daerah hutan yang gundul, para warga dan pekerja proyek langsung melakukan reboisasi.

dan warga yang di tugaskan di daerah sungai di perintahkan untuk mengambil seluruh karung-karung semen yang ada di sungai dan membersihkan daerah pinggiran sungai sebelum sungai tersebut di taburi bubuk biji kelor di bantu oleh para pekerja proyek, dan ray ikut serta dalam pembersihan sungai tersebut.

2 jam kemudian setelah semua karung semen yang ada di sungai di ambil dan tidak ada yang tersisa satupun ray di bantu pak rahmad membagikan beberapa bubuk biji kelor ke beberapa warga untuk di sebarkan ke air sungai, namun sebelum bubuk biji kelor tersebut di sebar ke seluruh air sungai, ray menjelaskan metode-metode yang harus di lakukan terlebih dahulu kepada para warga, baru setelah itu dia memerintahkan para warga untuk menyebarkan bubuk biji kelor tersebut ke sungai.

Arun dan dimas mendapatkan bubuk biji kelor tersebut, mereka lalu melakukan beberapa cara bersama para warga sebelum menyebarkan bubuk biji kelor tersebut di bantu dengan suara ray yang memberi arahan.

Setelah selesai melakukan metode-metode tersebut para warga langsung menyebarkan bubuk biji kelor ke air sungai.kemudian menyebar bubuk arang ke air sungai agar bau dari bubuk biji kelor tersebut hilang.

******

Beberapa minggu kemudian, para warga pergi ke sungai untuk melihat perubahan yang terjadi di sungai.

Semua warga berseru gembira terutama arun saat melihat air sungai menjadi jernih bahkan sangat jernih seperti dulu lagi.

Begitu pun dengan hutan yang awalnya gundul karena kebakarran hutan menjadi hijau kembali dengan tanaman-tanaman,tumbuh-tumbuhan dan beberapa jenis pohon baru yang masih kecil di hutan tersebut.

Arun meneteskan air mata saking gembiranya dengan apa yang dia lihat karena

Kampungnya kembali seperti dulu lagi.

Tes..

Tes…

Tes…

Gerimis turun secara perlahan siang itu, seakan-akan langit ikut merasa bahagia dengan kebahagiaan yang saat ini tengah arun rasakan.

“arun, ayo pulang, sebentar lagi hujan deras akan turun!” teriak emak

Arun menoleh ke belakang, menatap emak,senjani,dan dimas yang saat ini tengah menunggunya di jalan setapak.

Dia tersenyum dan berlari ke arah mereka.

Arun berharap kejadian ini tidak akan terulang kembali di masa depan nanti, karena kalau sampai terjadi sangat bahaya dampaknya bagi lingkungan kampung ini,

Bukan hanya kampung ini, tapi untuk seluruh perkampungan,desa,maupun kota .

Arun berpikir seperti apa kondisi bumi ini nanti 100 tahun yang akan datang?

Seperti apa rupanya? Dan seperti apa bentuk bumi nanti?

Yang dia tahu, perbedaan bumi yang dulu dengan yang sekarang sangatlah jauh berbeda.

Tamat….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *