Cerpen #276;”Perahu”

Angin basah bertiup mengiringi nyiur yang menari dan mendesah. Bau amis ikan segar menggelitik hidung. Ombak berbuih menyapu hamparan pasir kasar yang luas. Di sana berderet perahu warna-warni yang sedang berlabuh. Sedang diatasnya, kawanan burung camar berputar sambil sesekali menukik mencelupkan paruhnya ke air laut. Begitulah kiranya suasana tempat Danto tinggal. Hamparan rumput atau sawah nan hijau kekuningan mungkin tidak akan didapatkan, yang ada hanyalah laut, hamparan pasir, serta tanah berbatu koral.

Danto sedang tidak semangat bekerja. Ia merasa sangat malas untuk melakukan apapun. Sejak pagi ia hanya bersantai, memandang burung-burung camar menari di langit, merebahkan badan di atas perahu miliknya sambil berdendang lagu asal ucap keluar dari mulutnya.

Begini nasib jadi bujangan…

Hidup senang walaupun ku sendirian…

Begini nasib jadi bujangan…

Apapun saja tak ada yang melarang…

Setelah keluar dari panti, ia hidup bebas sendiri tanpa tanggungan apapun kecuali hidupnya. Ia selalu melakukan sesuatu sesuai dengan suasana hatinya, begitu pula dengan bekerja. Kalau sedang senang, ia akan bekerja bahkan sampai lupa waktu. Namun, bila sedang tidak enak hatinya ia akan bermalas-malasan seharian.

Danto hidup sendiri di sebuah gubuk yang hanya mampu menampung sebuah kasur untuk tidur dan sebuah kotak ukuran lima puluh meter persegi ber-isi empat pasang pakaian dan beberapa barang-barang lainnya. kulit hitam terbakar sinar matahari, berambut ikal, membalut tubuh kecil namun bertenaga akibat terbiasa mendorong perahu seorang diri.

Setiap hari Danto berlayar mencari ikan. Hasil tangkapannya ia jual untuk biaya hidupnya sendiri. Lantaran tidak memiliki tanggungan apapun, Danto bekerja dengan bebas sesuka hatinya. Kalau hatinya sedang senang, ia akan bekerja dengan rajin. Namun, jika hatinya sedang tidak senang, ia akan bermalas-malasan di atas perahunya sepanjang hari.

Bahagia? Jangan ditanya. Danto pun tidak begitu mengerti tentang arti hidup bahagia. Baginya kebebasan adalah kebahagiaan. Ia besar di sebuah panti asuhan bersama puluhan anak lainnya yang tidak tahu siapa orang yang telah melahirkan mereka. Dahulu, bagi Danto kecil, bahagia adalah bermain bersama teman-teman. Namun setelah menginjak usia remaja, ia merasa terkekang oleh aturan-aturan. Harus sekolah, tidak boleh keluar malam, harus bekerja sepulang sekolah untuk membantu keuangan panti asuhan, dan lainnya. Ia merasa hidupnya tidak bebas seperti dahulu, tidak bahagia seperti dahulu. Hingga suatu hari, ia putuskan untuk melarikan diri dari panti asuhan, berjalan tanpa tujuan dan akhirnya terdampar di sebuah kampung nelayan dan hidup sendiri sampai sekarang.

Beberapa hari ini memang cuaca sedang tidak begitu baik. Kumpulan awan mendung menggantung di langit siap untuk menjatuhkan butiran air hujan. Air laut sedang tinggi dan berombak besar. Deru ombak menggoyangkan perahu beserta Danto di atasnya, berayun-ayun membuatnya semakin terlena, lambat laun terlelap hingga tanpa disadari bahwa tali tambat perahu telah terlepas. Dalam lelap Danto beserta perahu pun pelan-pelan terbawa ombak ke tengah laut. Semakin lama semakin jauh sampai tak terlihat mata dari tepi pantai. Saat itu suasana kampung nelayan sedang sepi. Para ibu melakukan pekerjaan rumah, para bapak berlayar mencari ikan, sedang anak-anak sekolah, sehingga tak satupun yang melihat Danto beserta perahunya hilang terbawa ombak ke tengah lautan.

***

Sinar matahari terasa panas membakar kulit Danto. Goyangan perahu terhenti akibat menyentuh pasir tepi pantai. Danto terbangun, kulitnya terasa panas tersengat matahari. Ia membuka mata sembari berusaha mengangkat badan. Entah mengapa badannya terasa sangat lemas, seperti orang yang telah bekerja seharian penuh. Kepalanya terasa berputar dan berat, seperti telah terbentur sebuah benda tumpul. Sambil terus berusaha menguasai diri, Danto memandang sekitar.

Danto terus mengusap matanya dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya adalah nyata. Ia masih tercengang melihat sekelilingnya.

“Apa aku sedang bermimpi?” tanyannya dalam hati. Danto belum percaya apa yang dilihat oleh kedua matanya. Ia masih saja terus mengusap-usap kedua matanya sambil sesekali menepuk pipi dengan kedua tangan. Pemandangan di depan matanya belum pernah dilihatnya. Berderet gedung-gedung bertingkat. Berjejer perahu-perahu yang bagus di kanan dan kiri kapalnya. Semua terlihat bersih dan rapi, namun air laut berwarna keruh kecoklatan.

“Di mana aku? Bagaimana aku bisa sampai di sini?”. Kalimat penuh tanya terngiang di kepala Danto. Meski badannya terasa lemas dan kepalanya seakan berputar-putar, ia dengan gontai berusaha menggerakan kaki meninggalkan pantai. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya, ia perlahan meninggalkan pantai menyusuri setiap ruas jalan beton yang panas. Kakinya pun berubah menjadi merah karena tidak memakai alas kaki. Namun hal tersebut tak dihiraukan oleh Danto. Ia tertegun dengan apa yang dipandangnya.

Di sekeliling orang-orang terlihat sama, memakai pakaian sama yang terlihat aneh baginya. Mata mereka tertutup sesuatu yang mirip kacamata selam, namun berkaca gelap sehingga mata mereka tidak terlihat. Masing-masing kaki mereka terbalut sepatu beroda. Itu membuat mereka mampu bergerak dari satu tempat ketempat lain tanpa menggerakan kaki. Luar biasa.

Danto terus berjalan menyusuri setiap ruas jalan sambil matanya terbelalak menatap sekeliling. Gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi sehingga tidak terlihat ujung bagian atasnya. Semua yang ada di tempat ini sangat berbeda dengan kampung nelayan tempat Danto tinggal. Sudut-sudut tempat terlihat bersih dan rapi tertata, jalan dan trotoar tertutup oleh beton tanpa menyisakan sejengkal pun tanah terlihat. Pohon, bunga, dan bahkan rumput tak satupun yang tumbuh di tempat ini. Hewan seperti kucing, anjing dan tikus yang biasanya berkeliaran di kolong-kolong rumah pun tak ada. Bahkan, serangga tak satupun terlihat. Satu-satunya makhluk hidup yang terlihat hanyalah manusia-manusia memakai pakaian dan alat-alat yang aneh.

“Permisi mas, tempat apa ini?” Danto mencoba bertanya kepada salah satu orang, namun tanpa menjawab orang tersebut langsung pergi. Tidak putus asa, ia berusaha menanyakan kepada orang lain, namun hasilnya sama. Ia mencoba lagi, dan hasilnya tetap sama. Akhirnya tidak ada satupun manusia yang mampu ditanya. Danto menyadari bahwa tidak ada satupun manusia yang berbicara di tempat ini. Ia tidak mendengar sedikitpun suara yang keluar dari seseorang. Satu-satunya yang terdengar hanyalah suara deru mesin sepatu roda yang membalut kaki maereka.

Danto duduk di tepi pantai samping tempat ia menambatkan kapalnya. Angin berhembus kencang menerpa kulit wajahnya, rambutnya yang lebat bergelombang menari tertiup angin. Langit yang tadinya cerah, kini terlihat mendung. Awan-awan hitam perlahan menyatu menutup langit. Ombak laut beriak, bergulung berkejaran. Danto memandang kejauhan kearah laut, tersirat keputusasaan di wajahnya. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, tubuhnya lemas dan hatinya menyerah pasrah. Pikirannya melayang jauh, membayangkan bagaimana ia bisa terjebak di dunia antah berantah yang aneh dan membingungkan.

“Badai akan datang, ombak membuka pintu kembali. Hanya itulah kesempatan satu-satunya.”

Telinga Danto menangkap suara orang berbicara. Kalimat itu berkali-kali terdengar lantang di antara desiran ombak laut yang hitam. Ia melihat sekeliling. Dilihatnya seorang lelaki tua dengan pakaian kumal sedang duduk tidak seberapa jauh dari tempanya berdiam. Lelaki tua itu memandang ke arah Danto. Pandangannya lurus mengenai mata Danto, mengisyaratkan bahwa kalimatnya bukan sekadar omong kosong.

“Badai akan datang, ombak membuka pintu kembali. Hanya itulah kesempatan satu-satunya.” Ia mengulang kalimatnya.

“Apa maksudmu Pak tua?”

“Badai akan datang, ombak membuka pintu kembali. Hanya itulah kesempatan satu-satunya.” Ia mengulang lagi kalimatnya, sambil menunjuk ke arah laut.

Seketika langit tertutup awan mendung seluruhnya. Angin laut bertiup kencang menghantam wajah Danto. Ombak laut bergulung-gulung mulai meninggi. Hujan mulai turun dengan deras, diiringi kilat yang menyambar tak beraturan.

“Cepat! Tidak ada jalan lain.” Teriak lelaki tua itu. Danto memandangnya ragu. Akal sehatnya tidak mampu menerima perkataan lelaki tua itu. Namun, semua yang dialami di sini memang tidak masuk akal. Tidak ada yang mampu menjelaskan semua yang ada di sini. Danto melompat ke perahunya. Ia mendayung, menjalankan perahu ke tengah laut membelah ombak air hitam yang bergulung-gulung. Ombak tinggi menghantam perahu Danto. Perahu terguling, ia terombang-ambing tergulung ombak. Semua menjadi hitam, gelap dan hilang.

Udara dingin yang basah menerpa kulit. Hujan dan angin tadi malam menyisakan genangan-genangan air di halaman dan jalan. Pagi itu kampung nelayan gempar. Warga berbondong-bondong berlari menuju pantai. Orang-orang berkerumun. Di antara kerumunan terlihat beberapa orang membopong tubuh Danto yang tidak berdaya. Seberkas senyum terlihat di bibir tubuh tak berdaya. #

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *