Cerpen #273; “SI HITAM DAN SAMPAH”

Senja beranjak pergi, ketika malam mulai menenggelamkan sinarnya menuju kegelapan. Pancaran sinar rembulan dan bintang memberi pesona keindahan langit malam itu. Lamunanku menerawang jauh, duduk di atas kursi bambu yang sudah usang. Tiba-tiba pandanganku tertuju  pada pojok halaman rumah yang redup oleh sinar lampu. Apalagi kalau bukan tempat sampah yang terisi sesak oleh tumpukan sampah. Ya, sampah ! Sekolahku dan sampah. Dua kata yang terlintas saat itu. Tiba-tiba aku teringat pada tumpukan sampah di belakang sekolahku.  Pikiranku ini semakin berkecamuk dan menggelayut di pelupuk mataku. Apa yang harus kulakukan? Mengapa harus ada sampah di sekolahku? Siapa yang harus bertanggung jawab? Dan bagaimana solusinya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu terngiang-ngiang di pikiranku. Belum selesai semua pertanyaan-pertanyaan itu kujawab, suara lembut ibuku membuyarkan semuanya.

“Fi, belum tidur, nak?” ucap ibu sambil menepuk lirih pundakku. Seakan-akan ingin tahu apa yang sedang aku pikirkan. Hanya senyum manisku yang menyapa kehadirannya.

“Belum Bu, Selfi belum mengantuk,” jawab Selfi. Ibu hanya bisa tersenyum seraya membelai rambut anak kesayangannya itu.

“Jangan tidur larut malam, ya,” ujar ibu, seraya meninggalkanku dalam kesendirian malam.

Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul 24.00 WIB. Dengan langkah gontai, aku bergegas memasuki kamar tidurku, dan langsung menjatuhkan diri di peraduan penuh kehangatan. Kupandangi langit-langit kamarku. Teringat sampah di sekolahku.

“Aku harus bisa!” gumamku dalam hati.

Kriiiiing…Suara jam beker membangunkanku. Aku segera bangkit dari tempat tidur. Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Pagi itu, kukayuh sepeda penuh semangat. Tak peduli dengan bisingnya kendaraan bermotor dan debu jalanan.Tiba di gerbang sekolah, terdengar sayup-sayup suara penghuni sekolah. Dengan langkah pasti kulangkahkan kaki menuju kelasku. Terlihat Geng Panci sedang asyik bersenda gurau di depan kelas 8B.

“Hai semua!” sapaku penuh semangat.

“Hai Fi,” jawab mereka bersamaan. Hanya suara Deka yang tidak terdengar olehku. Kudekati dia untuk mencari tahu apa yang sedang dipikirkannya.

“Apa yang kamu pikirkan Dek?” tanyaku menyelidik.

Sontak tanganku ditarik, diajak ke sesuatu tempat, belakang sekolahku.

“Fi, coba perhatikan itu,” ucap Deka sambil menunjuk ke arah tumpukan sampah.

“Itu yang membuat aku tidak bisa tidur semalam. Memikirkan masalah itu,” jelasnya.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Deka.

“Sebenarnya aku punya solusi untuk masalah ini. Tapi kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh bantuan teman-teman Geng Panci,” ujar Selfi menjelaskan.

“Kapan kita mulai?” tanya Deka penuh semangat.

“Hari ini, selesai pelajaran terakhir,” jawab Selfi.

Black Soldier Fly atau lalat tentara hitam, materi pelajaran IPA hari ini. Mataku fokus ke layar proyektor dan Bu Ani yang sedang menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.

“Black Soldier Fly atau dengan nama ilmiah Hermetia Illucnes adalah serangga yang termasuk ke dalam kelompok keluarga lalat dengan Ordo Diptera. Serangga ini tersebar luas hampir di seluruh belahan dunia, namun kita saja yang mungkin tidak sadar akan keberadaan serangga ini,” ucap Bu Ani menjelaskan.

“Pemanfaatan serangga ini terletak pada fase larva, yang berbentuk belatung lalat,” kata Bu Ani menjelaskan, sambil menunjukkan gambar belatung pada layar proyektor.

“Belatung ini dapat mengurai limbah organik secara cepat, umumnya limbah yang kaya akan nitrogen, contohnya limbah makanan. Mereka memakan limbah tersebut dan mengurainya menjadi semacam kompos,” sambungnya lagi.

“Sampah organik ternyata dapat dimanfaatkan menjadi kompos dengan media belatung lalat tentara hitam,” gumamku pelan.

“Black Soldier Fly tidak dianggap sebagai pembawa penyakit layaknya lalat buah atau lalat rumah umumnya, karena Black Soldier Fly tidak tertarik ke tempat manusia atau tidak hinggap pada makanan manusia,” jelas Bu Ani.

Kriiing…Bel istirahat  berbunyi, tanda pelajaran IPA berakhir. Misi pertama dimulai. Mengumpulkan Geng Panci.

“Ada apa Fi?” tanya Deka ingin tahu.

“Aku sudah menemukan caranya,” ucapku  tandas.

“ Cara apa, Fi?” tanya Intan bingung.

“ O, iya. Aku belum menjelaskan ke kalian  tentang misi kita,” kata Selfi.

“Misi apa?” tanya Dino penasaran.

“ Menanggulangi sampah di belakang sekolah,” jawab Selfi.

“Bagaimana caranya?” tanya Neneng.

“Kita manfaatkan Black Soldier Fly untuk mengurai sampah organik menjadi kompos?” jawabku.

“Dengan mencari kotoran agar lalat ini datang?” tanya Deka.

“Tidak, kotoran saja tidak akan membuat lalat ini datang. Yang membuatnya datang adalah aroma kuat dari buah-buahan busuk yang telah mengalami proses fermentasi, seperti yang telah dijelaskan Bu Ani. Lalat ini tidak mau hinggap di kotoran, untuk meletakkan telur-telurnya. Oleh karena itu, kita perlu menyediakan tempat bersih agar mereka mau meletakkan telur-telurnya. Salah satunya berupa potongan karton berongga atau daun pisang kering,” ujarku dengan penuh semangat.

“Oh, iya. Selain sebagai pengurai sampah organik, larva ini juga dapat diberikan kepada hewan ternak, seperti ayam dan ikan,” ucapku menirukan penjelasan Bu Ani.

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Kami segera menuju ke belakang sekolah untuk memulai misi kami. Memisahkan sampah organik dengan sampah non organik. Kami ingin memanfaatkan belatung lalat tentara hitam ini untuk menguraikan sampah organik menjadi kompos dalam waktu singkat.

“Fi, bagaimana jika kita membuat kolam ikan saja,” usul Deka.

“Bu Ani tadi menjelaskan, belatung-belatung ini nantinya dapat diberikan kepada hewan ternak seperti ayam dan ikan. Kita dapat memelihara ikan di kolam, sambil membudidayakan tanaman dengan metode aquaponik di atasnya. Jadilah sekolah kita ini menjadi sekolah yang inovatif bebas sampah,” jawab Selfi bangga.

“Ide bagus itu,” kata Intan.

“Tapi, untuk membuat itu semua dibutuhkan biaya yang besar,” kata Selfi

“Benar juga ya,” jawab Dino.

“Kita bisa memanfaatkan sampah non organiknya. Kita olah menjadi bahan kerajinan tangan berbahan limbah sekolah yang berdayaguna,” ucap Deka.

“Setuju. Kita harus berusaha mandiri. Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah,” jawabku penuh semangat.

Waktu terus berjalan. Seiring kehidupan di sekolahku yang semakin gemilang. Kini tiada lagi sampah kutemukan. Hanya ada kreatifitas dan inovasi dari para penghuninya. Aquaponik dan pembudidayaan belatung lalat tentara hitam itulah buktinya. Kebanggaan terpancar dari wajah penghuni sekolah yang kreatif dan inovatif. Selamat tinggal sampah, dan selamat datang Adhiwiyata di sekolah kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *