Cerpen #272; “BADAI BINTANG”

Ikan koi, kau tahu kan, satu-satunya yang dilakukan oleh binatang itu untuk menikmati hidup hanyalah berenang-renang menunggu majikannya memberi makan di pagi hari. Mereka bakal bergerombol ketika mendengar toples wadah pakannya digoyang bagai bunyi ritimis Marakas. Tetapi pagi itu lain, tak ada irama yang bakal menandakan mereka berkumpul. Tak ada moncong yang berkedut menyedot jatah makan paginya yang sebesar biji merica. Tak ada oksigen dari ricik air yang menenangkan hidupnya. Pagi itu sumuk, menyambut kematian seluruh ikan koi piaraan kami yang mengambang satu demi satu.

Mulanya sepuluh ekor mati di sore hari setelah paginya kuberi makan. Sejak awal kami menempati rumah ini, memberi makan koi sudah menjadi urusanku. Meski istriku selalu bangun lebih awal, dia biasanya menenggelamkan diri di depan laptop setelah menyeduh teh lemon hangat favoritnya dan mempersiapkan sarapan pagi sederhana: seringnya roti bakar atau bubur ayam atau jika ada sisa nasi kemarin dia biasa membikin nasi goreng untuk kami.

Setelah itu dia harus mempersiapkan konten marketing untuk sebuah perusahaan furnitur. Jika sedang bosan menulis konten di rumah biasanya dia memilih pergi ke kafe. Sebetulnya dia lebih sering bosan dan hanya di akhir pekan, biasanya kami di rumah menghabiskan waktu dengan menonton film. Barulah pada sore hari, kami berolahraga, lari-lari kecil di gelanggang kota. Menurut istriku, di dalam tubuh yang sehat, bercokol peler yang kuat.

Pagi itu hari kerja. Aku keluar kamar dengan sempak dan kaos oblong. Istriku tengah duduk di meja makan. Mandi dulu lah, ucapnya. Aku duduk di depannya dan membuka tudung saji: semangkuk bubur ayam. Dari seberang meja dia mengulurkan tangannya, mengelus kepalaku sembari bergumam, Pejantanku lapar ya ternyata setelah semalaman liar dan ganas.

Mantap betul, jawabku. Servis yang memuaskan to?

Dia tersipu dan mengangguk setelah merasakan elan vitalku pulih kembali. Sejak empat hari lalu, kami bersepakat selain harus rajin berolahraga, disuruhnya aku meminum suplemen yang dapat memperkencang otot batangku demi kebahagiaan rumah tangga kami tentu saja. Dua bulan terakhir, jam tidurku berantakan. Terkadang, aku pulang tengah malam setelah urusan desain rampung tersusun. Paginya sudah pergi lagi untuk bernegosiasi dengan klien. Pola tidur yang acak-acakan, konsumsi gula berlebih—aku senang sekali kopi susu—dan kebiasaan makan tengah malam serta ketergantungan terhadap aneka jenis gorengan, menurutnya membuat performaku loyo.

Suatu hari, dia mengajakku pergi dan berpesan, Setelah makan malam nanti, aku ingin kamu mulai meminum kapsul kebahagiaan ini, ucapnya di mobil setelah mengeluarkan botol plastik berbentuk kotak yang ia cengkeram tutupnya. Aku melirik ke tangannya lalu kembali fokus menyetir. Lampu merah di depan, kami berhenti. Adakah efek sampingnya?

Dia mengocok-kocok botol itu. Ini yang terbaik, jadi kamu tenang. Buat suami kan enggak boleh coba-coba. Kalaupun ada efeknya tidak ke samping, tapi tegak ke atas. Ehhm.. ke atas atau ke depan sih? Ya pokoknya sekeras ini lah. Dia terkekeh sembari tangan kanannya mengelus batang persneling.

Kuakui, pilihannya memang jitu dan mujarab sampai-sampai semalam tubuhnya bergetar hingga tiga kali dan punyaku masih saja tegak sekokoh batang yang ia elus di mobil. Pokoknya kami sama-sama untung, walaupun benih yang kusemai berkali-kali pada gua garbanya belum menumbuhkan apa-apa. Kami tak pernah saling menyalahkan apalagi menyesal tentang apakah aku yang kurang subur ataukah istriku. Jika hal itu dianggap tak membahagiakan oleh sebagian orang-orang yang tinggal di planet ini, ya carilah kebahagiaan lain. Kesannya hidup di planet ini penuh dengan ketidakbahagiaan, nyatanya memang begitu, buktinya orang-orang hidup untuk mengejar kebahagiaan.

Seperti kebahagiaan yang kami ciptakan selama empat tahun menikah, menganggap ikan-ikan koi itu sebagai bagian dari anggota keluarga. Mula-mula ukurannya sepanjang jari tengahku, lalu tumbuh, lulut sampai akhirnya memanjang hingga 50cm.

Dia bilang, Hari ini aku bakal kerja di luar, mungkin pulang malam, sorenya ada janji soalnya.

Sama Lora? Tanyaku sambil mendorong kursi makan dengan bokong, lalu berjingkat ke dapur membawa mangkuk bekas bubur. Iya, serunya. Lora sudah lama berkarib dengannya. Suaminya sama sepertiku, sama-sama meminum kapsul itu.

Baiklah, kataku, pulangnya aku jemput. Aku keluar kantor jam tujuh. Di kafe biasa kan? Dia mengiyakan. Seusai mandi, aku bersiap menjalani hari-hari yang sumuk dengan kemeja putih lengan panjang. Untuk celana, aku memilih warna coklat muda dan perpaduan dua warna itu seperti caramel latte.

Istriku menyalakan kipas angin dan menyuruhku untuk segera membuka pintu kamar. Kota ini benar-benar neraka, katanya. Panas sekali rasanya, padahal kau baru saja mandi dan lihat keningmu, sebentar lagi bulir-bulir keringat itu bakal menetes ke kacamatamu.

Kukira seluber-lubernya laut tak mungkin menenggelamkan daratan planet ini. Ia tetap mampu menampung lelehan gletser. Mula-mula segala sesuatunya terbujur kaku seperti batu dan akhirnya tertiup angin jadi debu, setelah terpanggang hawa panas matahari. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, lalu melangkah menuju kolam ikan.

20 ekor ikan koi berkecipak di kolam, berkumpul saling adu moncong, berebut pakan yang kulemparkan. Semua dapat jatah makan, semua bahagia. Mereka yang sudah kenyang mundur, menenggelamkan diri, bersembunyi di bawah ganggang atau masuk ke dalam gua batu. Lalu sambil berjalan ke arahku, istriku bilang kalau dirinya sudah siap berangkat. Untuk terakhir kalinya kutebar makanan mereka persis di dekat kakiku dan melihat beberapa koi meliukkan tubuhnya mendekat, sebelum akhirnya kami meninggalkan rumah, biasa saja, berjalan maju, mundur seperlunya, seperti orang-orang lain di belahan dunia manapun yang bekerja mencari uang. Hanya saja memang pagi itu terasa panas dan sumuk dan itu wajar di bulan Oktober sebab musim hujan baru turun pada bulan Januari hingga Februari akhir. Pada bulan itu pula biasanya turis-turis mulai berhamburan menikmati salju di gurun Ain Sefra hingga awal musim panas tiba, yang ditutup dengan festival selancar di atas lumpur ketika salju-salju itu mulai mencair membikin becek jalanan Al jazair.

Dalam kondisi apapun, orang-orang tetap akan memburu kebahagiaan mereka meski sampai gurun Sahara sekalipun. Tenang saja, nikmati hidup! Tak usah memikirkan alam semesta yang rumit bahkan sejak pertama ia dibuat. Sesaat setelah mobil kami melaju, freon mulai bekerja dan dingin merayapi seisi mobil.

Lampu merah di depan, kami mandek, antrian mobil memanjang dan istriku memencet tombol radio.

Apakah aku ada di Mars

Atau mereka mengundang

Orang Mars

Seorang penyiar bertanya, “Kalo lo di Mars, lo bakal pelihara hewan apa?” Penyiar yang lain menjawab: ayam. Lalu mereka berdua mencari berapa jarak yang kudu ditempuh dari Bumi ke Mars? Satu jawaban mereka kantongi. Menurut seorang profesor dari NASA, lama perjalanan ke Mars 8,5 bulan. “Mending bawa telur aja ke sana, tahu-tahu udah jadi ayam di perjalanan.”

Di tengah impitan kemacetan, menyetel radio adalah sebaik-baiknya pilihan untuk rileks. Seenggaknya banyolan penyiar dan alunan tembang lawas tadi tak membuatku melempar pukimak, saat bemper mobil kami disundul dari belakang. Masalahnya, mobil di depan kami juga tiba-tiba menginjak rem mendadak.

Mobil di belakang membunyikan klakson panjang. Istriku tidak peduli, ia meninggikan volume radionya. Penyiar membacakan sebuah berita. Siang nanti, katanya, matahari berada pada titik kulminasi dan hal itu menyebabkan hari ini orang-orang bakal berjalan tanpa dikuntit bayangan mereka.

“Perkiraan panas di bumi menurut Deputi Bidang Pengkajian Iklim dan Bintang-Bintang, bakal tembus hingga 60 derajat celcius,” imbuh penyiar yang lain. “Orang-orang dimohon untuk tidak panik, biasa saja, minum air putih yang banyak dan paling penting adalah bersabar.”

Lampu hijau. Mobil kami mulai merayap, kemacetan perlahan terurai. Mobil di depan berbelok ke pom bensin. Kami lurus, masuk jalan satu arah melindas zebra cross yang putus-putus, segala yang tampak di luar jendela bergerak mundur. Istriku sibuk bersolek, mengaca dengan layar gawainya. Radio masih menyala. Mereka lanjut membacakan berita. Katanya titik kulminasi yang terjadi pada matahari bakal dibarengi dengan fenomena Badai Bintang yang sudah diamati sejak tahun 2020 dan setiap dasawarsa, matahari kian energik dan agresif. Setelah sepuluh dasawarsa, kini potensi terjadinya semburan partikel dan radiasi yang sangat besar ada di angka 101%.

Para pakar telah mewanti-wanti kepada lembaga-lembaga negara, perusahaan, rumah sakit ataupun perseorangan akan terjadinya badai geomagnetik yang sepuluh kali lipat lebih besar dari peristiwa Carrington. Badai itu bakal menyebabkan pemadaman listrik dan partikel energik dengan tarikan medan magnet yang kuat sehingga mampu melumpuhkan kabel internet bawah laut antar negara.

“Belum jelas jam berapa ledakan pada bintang yang bernama Matahari ini bakal terjadi. Tapi kalau titik kulminasinya, ada pada kisaran jam 12 siang nanti.”

Kurasa hal itu terlalu dilebih-lebihkan. Kalau listrik padam, nyalakan saja jensetnya. Semua makhluk di alam semesta ini tentu tahu seperti apa rasanya sumuk dan paham bagaimana mereka harus bertahan.

Jalanan di depan menikung, setir kuputar ke kiri, maju sedikit dan berhenti. Kafe langganannya berada di kiri jalan. Tak harus buru-buru, katanya, kutunggu di sini ya sampai kerjaan di kantormu kelar. Aku membuka kaca, dia menutup pintunya. Wangi parfumnya masih tercium di sebelahku.

Setibanya di kantor, rapat belum mulai. Di ruang rapat aku melongok dan Pak Bos sudah menunggu di sana dengan beberapa kawan yang lain tentu saja. Pintu kudorong dan semua kepala menoleh ke arahku. Sesaat setelah meletakkan pantat dan kemudian menghidupkan laptop, kutampilkan rancang bangunan yang sudah kugambar dari G-Drive ke monitor utama. Semua mata tertuju ke sana. Desain itu kuberi nama Svargaloka sebuah ruang yang menumbuhkan jiwa-jiwa bahagia. Klien kami pagi itu adalah agen properti yang tertarik menggandeng kami bekerjasama untuk merancang rumah di atas lahan 60m2 dengan tiga kamar tidur. Ada tiga puluh rumah yang kelak bakal dibangun dan sebagai desain arsitekturnya, ruangnya kubentuk tanpa banyak sekat bukan semata-mata biar tidak sumpek belaka, tapi demi pencahayaan dan sirkulasi hawa yang optimal.

Tiba-tiba di tengah pemaparan desain yang telah separuh jalan, listrik padam. Seorang kawan bergegas keluar ruangan meminta kepada penjaga kantor untuk segera menghidupkan jenset. Hening sejenak mengambang, orang-orang mulai bercakap lirih. Tak lama kemudian lampu-lampu menyala, AC pun kembali berhembus. Kami kira soalnya hanyalah sebatas mengulang kebiasaan buruk perusahaan listrik negara saja dan setelahnya segala piranti bakal normal kembali. Tapi tak demikian adanya. Ketika kami sadar kenapa harus menghidupkan ulang laptop dan handphone kami, seisi data yang ada di dalamnya telah raib. Segalanya kembali ke pengaturan awal dan perlahan-lahan kepanikan mulai merangsek ke dalam tubuh kami. Semula yang terhubung dengan internet kini putus. Yang tersambung dengan satelit mati. Tak ada pilihan lain selain menunda rapat, mengambil jeda sembari menikmati kudapan dan menyeruput kopi tentunya.

Aku bangkit dari kursi dan mendekat ke Pak Bos, Kita harus mengerjakannya dari awal lagi, kataku, Semua data kantor di G-Drive hilang. Dia lepas kacamata dan mengusap-usap wajahnya. Lalu menyelipkan kembali ke atas hidungnya, melirik jam tangannya, kemudian memintaku kembali ke tempat. Dia berbisik ke sekretaris perusahaan dan rapat kembali dibuka. Para kolega bisnis sekalian, ucap Pak Bos, Seperti yang sudah diketahui bersama, seluruh data dan materi rapat juga notulensi pertemuan hari ini raib dan dengan sangat terpaksa, kami nyatakan rapat hari ini ditunda. Ada tanggapan dari pihak klien, silakan?

Kukira duduk perkaranya sudah jelas, pihak klien juga mengalami hal yang sama. Kami makan siang bersama dan setelahnya aku memasang ulang Punch dan AutoCAD dan VectorArchi dan lembar kerja lainnya yang kubutuhkan dari rak yang menyimpan kepingan software juga hardisk. Untungnya, dua barang itu tak bersentuhan dengan medan listrik maupun internet, artinya keduanya masih terselematkan. Ada yang masih bisa aku kerjakan hari itu hingga seisi kantor benar-benar gelap oleh jenset yang akhirnya mati.

Orang-orang pergi meninggalkan kantor. Dari dalam mobil, jalanan adalah fatamorgana. Setibanya di rumah, pertama kali yang dilakukan istriku tentu saja melihat peliharaan kami yang telah mengambang. Dia memungutnya satu demi satu, membungkusnya dalam kantong plastik dan menyimpannya ke dalam kulkas. Aku bergegas melobangi galon, membuatnya seperti pancuran wudlu, menjadi juru selamat bagi koi-koi kami yang masih hidup.

Hingga sore tiba, masih ada sisa sepuluh ekor yang bernyawa berkat pancuran yang kubuat meski kami harus rela untuk tidak mandi dan berak tentu saja. Pilihan satu-satunya agar yang sepuluh ekor masih bernyawa sampai besok adalah melibas dua galon air mineral persediaan minum kami. “Tak masalah, kita masih bisa beli yang botol,” kata istriku. Tapi itu sia-sia belaka. Semalam kami tidur di lantai bertelanjang dada dan bangun dengan aroma tubuh yang prengus. Istriku mengeluarkan kantong plastik itu dari dalam kulkas dan dengan mata berair, ia memungut yang tersisa di kolam. Aku mengambil cangkul dan kami menguburkan anggota keluarga kami di halaman depan. Matahari masih di atas, hari masih tanpa bayangan, panas dan sumuk dan kukira diimpit oleh dua hal itu, penghuni planet ini perlahan akan menjadi batu.

2 thoughts on “Cerpen #272; “BADAI BINTANG”

  1. Agak deg-degan membayangkan tiba2 semua alat elektronik mati trs datanya hilang semua alias reset ke pengaturan pabrik. Bubar kabeh urusan “ndonyo” nek data ilang kabeh, Lur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *