Cerpen #271; “Bumi Di Suatu Hari Nanti”

Angin berhembus dari barat dan matahari menyinari sudut meja Amira, kala tiga siswi yang baru tiba di kelas duduk mengelilinginya. Remi, gadis berambut sebahu yang selalu mengenakan jaket ke sekolah, mengeluarkan ponsel barunya, model terbaru dari merek elektronik terkenal. Harganya mencapai lima belas juta rupiah.

“Cie, dapet hape canggih,” ujar Bella.

“Biasa aja, kali. Mau nyoba kameranya gak?” Ajakan itu disambut dengan tangan terbuka oleh mereka.

“Jangan lupa, pakai filter!”

Empat gadis itu mulai berpose di depan kamera. Hasil potretannya berkualitas tinggi dan detail. Remi menunjukkan foto itu dengan bangga. Ia segera mengirimkan foto tersebut ke grup mereka. Amira mengernyit dan bertopang dagu saat memandangi foto itu.

“Apa spesialnya?” batin Amira. Ia mendengus, dalam hati sedikit memcemooh reaksi berlebihan teman-temannya.

Foto itu bukan yang terakhir. Selama belasan menit kemudian, ponsel Remi telah mengabadikan berbagai pose mereka dengan efek berbeda. Namun, ekspresi Amira di seluruh foto itu tak berubah. Matanya menatap ke arah lain, tangan menopang dagu, dengan ekspresi yang menunjukkan ketidaktertarikan.

“Mir, hadap sini. Ayo, foto bareng!” ajak Laila, temannya yang mengenakan kacamata setebal riasan wajahnya.

“Apaan, sih. Males,” jawabnya ketus.

“Biarin aja, La. Lagi gak mood dia,” tegur Remi.

Remi tidak salah, tetapi juga tidak benar. Amira memang sedang tidak mood untuk melakukan apa pun sekarang. Dan penyebabnya adalah karena ia kesal pada Remi dan teman-temannya. Mereka tidak memikirkan perasaannya, ya? Amira ‘kan belum mengganti ponsel lamanya, yang ia beli empat tahun lalu, karena ayahnya dipecat setelah melakukan praktik terlarang. Ia iri pada Remi. Gadis itu memandangi gawainya, yang layarnya telah retak dan permukaannya yang kasar.

Amira melirik ke arah teman-temannya ketika Laila memulai topik baru. “Eh, kalau hape keluaran terbaru sebagus ini. Seratus tahun ke depan, hapenya bakal sebagus apa, ya? Apa bisa sampai motret luar angkasa?”

“Bisa lihat bulan dan bintang pake hape, dong!” timpal Bella seraya menepuk meja karena antusias.

Sebelah alis Amira terangkat. Topik pembicaraan ini menarik perhatiannya.

“Jangankan hape, kalau seratus tahun lagi, pasti kendaraan, televisi, dan semuanya jadi lebih canggih.”

“Iya, Rem. Aku pengen nyoba pakai mobil kayak punyamu, deh. Kalau seratus tahun lagi, harga mobil punyamu gopek kali, ya?”

“Seratus tahun lagi, pasti mobilku udah gak diproduksi lagi, Lai.” Remi terkekeh saat menjawab pertanyaan polos Laila. “Lagian Lai, di masa depan mending beli model terbaru, lah. Daripada beli model lama kayak mobilku,” lanjut gadis itu.

“Beliin, Rem.”

“Ngawur,” celetuk Remi dengan mata terbuka lebar. Responnya mengundang tawa mereka, kecuali satu orang. Amira tersenyum miring. Gadis itu mengingat makalah dari ruang kerja ayahnya yang tak sengaja ia baca saat membersihkan rumah.

“Aku mungkin bisa melihat bumi seratus tahun lagi.”

Sontak, ketiga temannya menoleh ke arah Amira dan menatapnya aneh. Remi terkekeh, kemudian berkata, “Halu! Seratus tahun lagi kita udah dikubur dalam tanah.”

“Iya, Mir. Masa kamu mau bangkit dari kubur, jadi zombie, dong?” tambah Laila, menyetujui ucapan Remi, lalu bertingkah seperti zombie dalam film horror. Tindakannya lagi-lagi mengundang tawa mereka.

Amira menggigit bibirnya kesal. “Ya udah, kalau gak percaya.”

“Terserah. Biar aku bawa buktinya ke mereka,” pikir Amira tenggelam dalam pikirannya.

Tidak memberikan perhatian lebih pada Amira, teman-temannya memulai topik pembicaraan baru selagi menggulir media sosial di layar ponsel mereka. Remi menunjukkan gambar pantai yang pasirnya berwarna emas karena efek cahaya matahari, air laut yang jernih dan langit yang cerah. Keindahan pemandangan itu sangat memesona hingga mereka mulai membicarakan soal rencana berlibur ke sana.

***

Amira naik ke lantai dua. Melihat keadaan rumah yang sepi, gadis itu melangkah ke arah kamar ayahnya. Tangan halusnya membuka pintu perlahan, kemudian gadis itu mengintip dari balik pintu dengan sebelah matanya. Ruangan yang hampir setiap waktu selalu ditutup rapat-rapat di lantai dua, isinya hanya meja yang diatasnya tertumpuk puluhan kertas dan lemari penuh barang-barang penting milik ayahnya.

Biasanya, tidak ada yang boleh mendekati ruangan ini. Ibu membersihkan ruangan ini hanya saat ayah memberikan izin. Selain itu, melangkahkan kaki bahkan hanya sejarak satu meter dari pintu ruangan ini adalah tabu.

Kemarin, Amira diberikan tugas menyapu permukaan lantai dua. Tampaknya, sang Ayah lupa menutup pintu ruangan itu. Amira menoleh ke sekitar agak panik. Sosok ayah atau ibunya tak ia temukan. Saat tangannya menyentuh kenop pintu, mata Amira jatuh pada sebuah makalah yang tergeletak di sudut pintu bagian bawah. Ia berjongkok dan memungutnya. Tubuhnya membeku saat ia membaca judul makalah tersebut. 

“Mesin waktu,” baca Amira. Di bawah dua kata itu, terdapat sketsa berbentuk kubus dengan detail-detail seperti tombol-tombol dan komputer. 

Pendengarannya menangkap suara langkah kaki seseorang di tangga. Jantungnya berdegup kencang karena panik. Dalam hitungan detik, ia menaruh makalah itu kembali ke lantai dan menutup pintu sepelan mungkin agar siapa pun yang datang tak mendengarnya. 

Jantungnya masih tak tenang. Dengan punggung menegap, wajah pucat dan napas tertahan, gadis itu menatap ayahnya yang naik ke lantai dua. 

“Sore, Ayah,” ujarnya kaku. 

“Satu meter, Amira.” Tiga kata peringatan dari ayahnya, sontak Amira menurut bagai anjing yang patuh. Ia menelan ludahnya saat ayah melewati dirinya dan masuk ke dalam ruangan. Akhirnya, ia dapat bernapas normal. 

Hubungannya dengan kedua orangtuanya memang tidak hangat. Namun, mereka juga tidak pernah menyakiti Amira hingga saat ini. Setidaknya, tidak secara fisik. 

Amira ingat ayahnya akan pulang pukul delapan malam. Jadwal kegiatan sehari-hari ayahnya monoton, jarang berubah kecuali situasi khusus. Rencananya, ia akan masuk dan menemukan barang yang ia cari, lalu keluar ruangan sebelum pukul delapan.

Punggung Amira membelakangi pintu saat ia menutupnya. Penerangan ruangan itu agak minim, tetapi Amira masih dapat melihat dengan jelas. Ia mencari saklar di ruangan itu. Tatkala ia menemukannya, jari telunjuknya menekan saklar dan lampu seketika menerangi ruangan. Memberikan akses bebas untuk mata Amira menyelidiki kondisi sekitar.

“Kertasnya banyak banget.” Tepat setelah kalimatnya selesai, Amira menginjak kertas yang bertebaran dan terpeleset. Tubuhnya jatuh ke belakang. Dinding tiba-tiba berputar ketika punggungnya menabrak dinding tersebut dan dibaliknya tersembunyi sebuah lubang yang cukup untuk dua orang dewasa. Amira refleks melindungi kepalanya saat ia meluncur ke bawah dalam posisi terbalik.

Bibirnya mengaduh setelah tubuhnya telah mencapai dasar. Ia mencoba berdiri dan melihat ke sekitar ruangan. Lampu-lampu kecil yang redup menempel pada dinding. Barang-barang yang biasanya hanya Amira temui di laboratorium sekolah, tersusun acak di atas meja yang mengelilingi sebagian ruangan. Di sudut sana, sebuah kotak besar menarik perhatiannya. Sama seperti sketsa yang ia lihat di kertas, kemarin.

Kakinya sudah melangkah ke arahnya tanpa ia sadari. Amira tersentak saat kubus yang beberapa sentimeter lebih tinggi dari puncak kepalanya, tepat berada di depan matanya. Telapak tangan Amira berinteraksi dengan permukaan kubus. Kubus tersebut mengeluarkan desing, kemudian pintunya terbuka otomatis. Bagian dalamnya merupakan sebuah ruangan sempit seluas satu kali satu meter. Tanpa ragu, gadis itu mengijakkan telapak kaki tak beralasnya ke bagian dalam kubus. Pintu kubus itu menutup secara otomatis setelah seluruh tubuh Amira berada di dalam.

Di depan matanya, sebuah layar tertanam pada dinding kubus, ukurannya kira-kira dua puluh kali tiga puluh sentimeter. Jari-jarinya menyentuh layar dan tampak keyboard yang isinya hanya angka dan di pojok terdapat tombol seperti hari, bulan dan tahun.

“Kalau begitu, seratus tahun dari sekarang,” ujarnya sembari meng-input angka seratus, lalu menekan tombol tahun.

Kemudian, layar berganti menunjukkan dua pilihan, maju atau mundur. Karena tujuannya masa depan, maju adalah pilihan yang benar, kan? Tubuhnya terguncang kala kubus ini melompati dimensi waktu. Tiba-tiba, Amira mendapat dorongan untuk mengeluarkan isi perutnya. Guncangan itu berhenti setelah lima menit. Namun, Amira tak dapat bernapas lega. Ia memuntahkan isi perutnya saat pintu kubus telah terbuka.

“Wah, mengerikan,” ujarnya dengan suara lemah. Kakinya terjulur keluar dari kubus, menghindari tempat ia memuntahkan makanannya tadi.

Ruang gerak Amira terbatas. Kubus mesin waktu itu dikelilingi dinding-dinding bangunan dan batuan besar. Amira mendorong batuan di depannya untuk mencari jalan keluar. Udaranya panas sekali. Amira entah kenapa mengalami kesulitan untuk bernapas. Keringatnya mengalir deras. Ia dapat merasakan tubuhnya bereaksi tidak normal. Batu besar itu akhirnya tergerak. Memberikan celah yang cukup untuk tubuh mungil Amira untuk lewat.

Cahaya matahari amat menyilaukan. Sebelah tangannya, ia gunakan untuk menutupi cahaya matahari agar tidak menyinari matanya secara langsung. Mata gadis itu bergerak memutari sekitar. Ia mengernyit melihat pemandangan yang hampa di depannya. Hanya ada pasir tanpa bangunan ataupun penduduk sepanjang mata memandang.

“Apa kotanya bukan di sini?” tanya Amira pada dirinya sendiri.

Kondisi tubuhnya tidak terasa baik. Namun, gadis itu bersikeras berjalan mencari penduduk atau perumahan. Tak menunggu lama, dirinya tumbang di bawah teriknya matahari.

***

“Waa!” pekiknya tiba-tiba begitu matanya terbuka.

“Aku pingsan?” gumamnya pada dirinya sendiri.

“Oh, hai? Udah sadar?” Suara asing itu membuat Amira menatap sekeliling mencari pemiliknya.

Ia dikelilingi tiga orang dengan pakaian ketat yang menutup seluruh tubuh, kecuali kepala. Wanita yang menanyakan keadaannya tadi duduk dengan kaki menyilang di sebelah kirinya. Rambutnya dikuncir kuda, kulitnya gelap dan yang paling menarik adalah matanya, berwarna cokelat terang. Sekilas seperti warna emas.

“Dia sudah sadar. Kalian bisa kembali ke tempat masing-masing. Tolong panggilkan profesor, ya,” ujarnya pada dua rekannya yang lain. Kemudian, matanya kembali menatap Amira yang masih berbaring.

“Mau makan atau minum sesuatu?”

“Emm … minum aja boleh,” jawab Amira pelan.

Wanita yang tak Amira kenal itu berdiri mengambil segelas air. Sementara, Amira bangkit dari posisinya menjadi duduk dengan kaki menyilang. Permukaan lantai yang ia duduki dingin. Berbanding terbalik dengan suhu di luar.

“Kok bisa lantainya dingin?” gumamnya.

“Oh, bangunan ini dibangun menggunakan batuan khusus yang massa termalnya sangat tinggi.” Amira tersentak mendengar jawaban tiba-tiba dari wanita yang berjalan di belakangnya. Gadis itu ber-oh-ria.

“Jumlah air terbatas. Maaf, ya, cuma bisa menyediakan segelas saja.”

“Enggak, kok, enggak apa.”

“Pelit amat. Haus banget padahal.” Isi hati dan apa yang dikatakannya tidak selaras. Ia meminum air yang diberikannya secara cuma-cuma dalam sekali teguk.

“Kupikir orang gila yang keluar tanpa mengenakan pakaian pelindung itu cuma mengada-ngada saja. Ternyata beneran. Beruntung banget dia ditemukan sebelum mati kekeringan di luar,” celetuk seseorang.

Seolah ada yang membakar sumbu kesabaran Amira, ia memekik kesal dan berdiri menghadap orang yang baru saja bicara.

“Gila! Ngatain siapa, ya?”

“Jelas kau, kan?” Orang di depannya ini belagu banget, ia berdiri dengan tangan menyilang di depan dada dan dagu naik padahal lebih pendek daripada Amira.

“Belum ke—” Ucapannya terpotong waktu Amira merasakan tepukan pelan di pundaknya.

“Jangan memicu keributan bisa?” Gadis bermata biru gelap menatapnya intens. Amira melongo, ia kehabisan kata-kata.

“Kok kayaknya remaja di masa depan kurang ajar banget sama yang lebih tua?” gerutu gadis itu dalam hati.

“Untung klon Kak Hiba IV menolongmu. Kalau enggak, pasti udah ….” Gadis menyebalkan itu menggesek tangannya di leher. Yang jelas Amira ketahui artinya adalah mati.

Tangannya terkepal menahan diri untuk tidak menarik rambut gadis di depannya hingga rontok dan botak. Kalau saja, ia tidak ditolong oleh mereka, pasti ia sudah menghabisi gadis di depannya dengan ganas.

“Eh, tapi tunggu, maksudnya klon Hiba IV itu gimana?” Pendengarannya tidak salah, kan? Masa … di jaman ini mereka sudah mengembangkan klon?

“Klon ya klon. Astaga, bukan cuma gila, kau juga bodoh?” ujarnya dengan wajah syok dibuat-buat.

“Nyebelin banget ini setan,” batin Amira berbicara.

“Karena aku baik dan pintar, biar kujelaskan, ya. Klon itu tiruan yang dibuat dari DNA manusia. Hiba itu nama pemilik DNA yang ditiru. Dan IV artinya dia adalah klon Hiba yang keempat. Kecuali klon, semua manusia harus pakai pakaian pelindung kalau mau keluar. Kalau kau mau bunuh diri dengan membakar kulit di luar, enggak pakai pakaian pelindung juga gapapa, kok,” jelasnya sarkas.

“Hm, makasih perhatiannya,” jawab Amira dengan senyuman palsu.

“Hei, namamu?” tanya gadis lain yang ada di sini. Ia membawa sebuah benda pipih yang tampak tak asing di mata Amira.

“Ponsel?!” pekik Amira antusias. Ia melewati gadis menyebalkan di depannya, berlari hingga ia berdiri di depan gadis bermata biru gelap yang membawa ponsel di tangannya.

“Kau ….” Ia menatapnya rumit, kemudian menggelengkan kepala dan berujar, “Ah, enggak jadi. Ini bukan ponsel, tetapi holophone.”

“Boleh pinjem, gak?” tanyanya antusias. Barang itu kalau ia bawa ke jamannya, teman-temannya pasti kagum, kan? Mereka pasti iri.

“Maaf, tapi ini barang privasi.”

“Ah, pelit,” keluh Amira.

Gadis di depan Amira menghela napas. “Pertanyaanku tadi belum dijawab. Namamu?”

“Amira Romuna.” Setelah Amira memperkenalkan diri, gadis itu membuka holophone dan sebuah hologram muncul di depan matanya. Layar hologram itu mengetik otomatis setelah Amira selesai bicara. “Wow.”

“Usia?”

Pertanyaan keduanya membuat keterpanaan Amira terhenti. “Enam belas tahun.”

“Kenapa bisa di luar tanpa mengenakan pakaian khusus?”

Hening. Amira terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin dia jujur, kan? “Hai, aku berasal dari seratus tahun lalu. Datang ke sini agar mendapat barang untuk dipamerkan ke teman-temanku. Saat aku sampai, mesin waktunya sudah di luar.” Konyol. Pasti ia dibawa ke rumah sakit jiwa setelah mengatakan itu.

“Udah kubilang, dia pasti bunuh diri,” cetus gadis menyebalkan tadi. Suka sekali menganggu Amira kayaknya.

“Namamu siapa, sih, bocah?”

“Bocah? Kita seumuran, tahu. Aku Pera.”

“Seumuran? Badanmu kecil banget kayak anak SD,” ejek Amira.

“Diam. Pertanyaanku masih belum kau jawab,” tegasnya.

“Rahasia.” Satu kata itu membungkam mereka. Gadis di depannya mendongak. Mata mereka bertatapan selama semenit.

“Terserah kalau kau mau rahasia-rahasiaan. Namamu tidak terdaftar. Aku akan mencari pakaian pelindung yang tidak terpakai untukmu.”

Kemudian, Pera dan gadis bermata biru gelap itu meninggalkan ruangan. Di saat bersamaan, klon Hiba IV datang ke arahnya bersama pria tua tak berambut.

“Ikuti kami. Kau akan melakukan pemeriksaan,” ujar pria tua itu.

Pemeriksaan selesai dalam satu jam. Menurut pria tua yang dipanggil profesor itu, Amira murni manusia bukan klon. Tentu saja, itu tak perlu dipertanyakan.

Karena terpapar sinar UV terlalu lama, ia harus meminum beberapa suplemen. Sepertinya, ke luar tanpa pakaian pelindung yang disebut-sebut itu adalah masalah serius di jaman ini.

Pera dan gadis yang kemarin bersamanya masuk ke ruangan membawa kain yang Amira rasa, adalah pakaian pelindung yang mereka bicarakan.

“Ini untukmu,” ujar gadis itu.

“Aku dan Diana susah-susah mencarinya untukmu, lho.”

“Oh, namanya Diana.”

“Iya-iya, makasih,” jawab Amira seadanya.

Waktu berjalan dengan cepat. Ke mana pun ia pergi selama dua hari ini, Pera dan Diana selalu mengikuti. Mereka bagai penguntit. Katanya, karena Amira orang baru yang namanya tidak terdaftar, meninggalkannya sendirian sama seperti membiarkan musuh masuk ke wilayah mereka.

“Persediaan makanan kita menipis. Kita harus pergi ke luar nanti,” pesan Diana seraya mengenakan pakaian.

Sekadar informasi, Amira tidur di kamar yang sama dengan dua gadis ini. Kasurnya tipis dan mereka tidak menggunakan pendingin ruangan. Bahkan, ruangan ini tidak punya ventilasi kecuali pintu tak berwujud itu. Amira juga tak melupakan misinya untuk mendapatkan barang canggih yang ia inginkan. Namun, Diana tidak pernah membiarkannya menyentuh holophone-nya barang sejari saja. Sangat posesif menurutnya. Barang-barang lain kurang menarik di matanya.  Selain itu, sebelum tidur, kadang Diana menatapnya aneh. Maklum, Amira hidup di era digital.

Namun, anehnya, tanpa keberadaan ponsel atau gadget di sekitarnya, Amira justru merasa nyaman. Semua orang di sini hidup setara. Mereka memiliki holophone, tetapi tak banyak memakainya di kehidupan sehari-hari. Menyombongkannya pun tidak. Setiap orang mendapatkan porsi makanan dan lauk yang sama. Kamar yang sama. Tidak ada diskriminasi atau pun perlakuan spesial.

Amira tidak perlu merasa ia harus membuktikan bahwa dia setara atau lebih dari siapa pun.

***

“Kenapa enggak pakai kendaraan dan harus jalan kaki?” tanya Amira dengan peluh menetes dari dagunya setelah berjalan kaki selama lima menit di luar. Mereka memutuskan untuk mencari persediaan makanan hari ini. Pihak berwenang sudah memerintahkan beberapa klon untuk mencari makanan beberapa hari lalu. Namun, menanti kepulangan mereka sepertinya agak berat.

“Sepeda jumlahnya terbatas di kediaman kita,” jawab Diana.

“Motor, mobil, truk?” Jika kendaraan pun tak ada, Amira jadi berpikir kalau jaman ini sangat miskin dibandingkan jaman di mana ia hidup.

“Kendaraan-kendaraan itu sudah ditinggalkan jauh sebelum kami lahir.”

“Hah?” Amira mendelik tak percaya. “Kenapa?”

“Boros energi. Lagipula, membuat mobil yang dapat menahan suhu sepanas ini sulit. Lebih baik bahan-bahannya digunakan untuk membangun barang yang lebih berguna,” jelas Diana.

“Selamat tinggal impian Laila. Jaman ini enggak punya mobil yang kamu harapkan,” batin Amira prihatin. Prihatin pada dirinya sendiri terutama.

“Naik mobil enak banget, padahal,” ceplos Amira. Ia masih ingat rasanya saat Remi membiarkannya menaiki mobil miliknya untuk pergi ke taman hiburan. Dingin, kursinya nyaman, cepat dan kelihatan keren.

Diana menatap gadis di sebelahnya dengan ekspresi datar dan sebelah alisnya sedikit naik. Pera terlalu larut dalam dunianya sendiri untuk mendengar dan memahami perkataan Amira.

Lebih dari setengah jam dihabiskan untuk mencapai daerah bekas pantai yang ditinggalkan setelah air laut surut. Ada beberapa pohon kelapa yang masih berdiri di tengah panas yang membakar kulit ini. Pera bertepuk tangan takjub pada keteguhan pohon kelapa itu. Amira menyapukan pandangan ke sekitar. Ada tumpukan sampah di mana-mana. Tidak indah.

“Laut di sini sudah kering sejak dua puluhan tahun lalu,” jelas Diana tanpa diminta. Sepertinya dia sudah hapal kebiasaan Amira yang menanyakan segala hal mulai dari yang kecil hingga besar. Amira menyengir, lalu mengucapkan terima kasih. Ia jadi ingat perkataan klon Hiba IV. Dia tidak bohong ternyata, jumlah air di jaman ini memang terbatas. Amira menyesal mengatainya pelit, padahal klon Hiba IV mengatakan yang sejujurnya.

Ada perasaan tidak nyaman melihat sampah-sampah itu bertebaran. Ia tak menyangka, di balik dalam dan indahnya lautan itu, ada banyak sampah di dasarnya yang menunggu untuk dibersihkan. Akibat kelalaian manusia memang mengerikan. Ini salah satu buktinya.

“Oh, ya, klon-klon yang bertugas mencari makanan juga akan pulang besok, kan?” tanya Pera sembari mengeluarkan sebuah alat yang dapat menembakkan panah yang terikat oleh tali. Panahnya tertancap pada permukaan kelapa, lalu Pera menariknya dengan kuat hingga kelapa itu jatuh.

Diana mengangguk membenarkan. Ia menangkap kelapa menggunakan jaring di tangannya.

“Wah, mereka jenius,” puji Amira tanpa sadar. “Hei, aku mau bantu!” pekiknya semangat.

Perjalanan pulang mereka jauh lebih menyenangkan dibandingkan saat berangkat. Amira memeluk kelapa hasil tangkapannya di depan dada dengan erat. Seolah memeluk boneka kesayangannya di rumah. Ada kebanggaan tersendiri bagi Amira.

Langkah Diana tiba-tiba terhenti. Amira menoleh ke arah gadis dengan pupil segelap langit malam itu. Ia memandang sesuatu dengan tatapan awas dan bibir bawah digigit. Mata Amira mengikuti arah pandangannya. Awan tampak menggulung jauh di sana, sekitar seratus meter. Baru ia sadari, langit sedikit menggelap dibanding sebelumnya. Udaranya juga tak sepanas tadi.

“Apa akan hujan?” tanya Amira.

Pera berseru, “Ini bukan hujan lagi, namanya. Tapi, badai! Gawat. Kita harus cepat pulang, Diana!” Diana mengangguk.

Ketiganya mempercepat langkah kaki menuju gedung besar berdinding baja sekitar lima puluh meter di depan mereka. Napas Amira terengah-engah setelah sepuluh menit berlari. Diana merogoh sakunya mencari kartu akses. Dengan tangan masih di dalam saku, ia berdiri terpaku.

“Ada apa, Diana?” tanya Pera panik.

“Kartunya tidak ada.”

“Diana, jangan bercanda!”

“Aku serius.”

“Oh, ya, kita bisa mencari tempat berlindung lain. Masih ada rumah penduduk yang utuh, kan?” cetus Pera.

Diana menunjuk ke arah badai yang semakin dekat. Daerah yang dilewati badai itu hancur dalam hitungan menit. Pera dibuat hilang akal melihat fenomena itu. Anginnya sangat kuat hingga atap-atap rumah berterbangan.

Holophone punyamu, bisa untuk menghubungi orang di dalam tidak?” tanya Amira.

Diana mengangguk. “Namun, sinyalnya biasanya jelek terutama saat ada badai.”

“Bukan berarti enggak mungkin, kan?” Amira jadi panik sendiri. Dia tak berniat mati di jaman ini.

Diana mengambil holophone dari saku celananya dan menyerahkannya pada Pera.

“Lah, Pera boleh megang, aku enggak?” Diskriminasi ini membuat Amira mendapatkan ketenangannya kembali.

“Kenapa kau beri ke aku?” tanya Pera.

“Aku ingin melakukan sesuatu untuk berjaga-jaga.”

“Ha?”

Tanpa basa-basi, ia menarik Amira menjauh. Amira berteriak, menolak dibawa ke tempat mana pun oleh Diana.

“Ada badai! Kita harus tetap di dalam ruang—”

“Kau harus kembali ke asalmu, sekarang.”

“Maksudnya?”

Diana melemparkan sebuah foto kepada Amira. Tangannya menepuk foto itu di antara telapak tangannya sebelum terjatuh. Ia membuka telapak tangannya dan mengamati foto itu. Gambar dalam foto itu membuat Amira segera mendongak dan menatap Diana meminta penjelasannya.

“Itu foto yang kutemukan saat mencari data dirimu. Foto itu adalah klon pertama yang berhasil di dunia. Diambil dari DNA Amira Romuna, gadis kelahiran tahun 2005. Aku tidak mengatakannya pada orang lain agar tak memicu keributan. Orang dari masa lalu sepertimu, tidak seharusnya di sini.” Seperti ucapannya, foto itu adalah foto seseorang dengan wajah yang sama persis dengannya. Mau tak mau, Amira memercayai perkataan Diana. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Amira selama setengah menit. Diana secara paksa menarik Amira pergi dari tempat mereka berdiri. Pikiran Amira masih mencerna informasi baru yang ia dapat.

“Tunggu, walau begitu, aku bisa kembali besok atau kapan hari setelah badainya selesai, kan?” tanya Amira setelah menahan tangan Diana yang terus menariknya.

“Kau lihat sendiri ‘kan, badai itu mampu menghancurkan rumah, siapa yang menjamin mesin waktumu dapat bertahan?”

Alasannya sangat rasional dan logis, Amira tidak memiliki kepandaian untuk mematahkan argumennya itu. Tangannya yang bebas mengacak-acak rambutnya frustrasi. “Aku bisa pergi ke mesin waktu itu sendiri. Kau kembali ke gedung dengan Pera.”

“Kau pingsan saat dibawa ke gedung tempat kami tinggal. Lalu, bagaimana caranya kau ingin mrnemukan mesin waktu itu sendiri?”

Pertanyaan itu membuat Amira geram. Kok bisa ada manusia yang argumennya tidak bisa dipatahkan seperti Diana.

“Lagipula, tak masalah jika aku mati. Karena aku klon,” ungkap Diana tiba-tiba.

Lah. Bukan manusia ternyata. Selain punya argumen yang sulit dipatahkan, ternyata Diana juga pandai memberi kejutan. Beruntung, Amira tidak punya penyakit jantung.

“Kok bisa?” tanya Amira patah-patah.

“Aku menyembunyikannya, termasuk dari Pera. Wajar kau tak tahu. Intinya, karena aku klon, tak masalah jika aku mati. Kami, para klon, sejak awal diciptakan untuk membantu manusia.”

“Oke, terserah soal omong kosong mengenai klon ini. Kau hidup, itu yang penting. Jangan meremehkan nyawamu seperti ini.”

“Sebaiknya, kita tidak meneruskan pembicaraan ini lagi. Badainya semakin dekat.” Tangan Diana menggenggam pergelangannya erat. Kaki Diana melangkah dengan cepat, diikuti Amira dari belakang. Pemberontakan Amira sia-sia. Diana jauh lebih kuat dibanding dirinya.

“Ba-bagaimana dengan Pera? Kau meninggalkannya sendirian di sana. Jika pintunya tidak terbuka—”

“Tenang. Pasti terbuka,” ucap Diana memutus kalimat Amira. Ia sangat yakin, semuanya terlihat jelas dari matanya yang menatap lurus ke depan tanpa ragu.

Di sisi lain, Pera terpaku di tempatnya sembari mengotak-atik holophone milik Diana. Layar hologram tiba-tiba menunjukkan tulisan, “Darurat.” Pera menyentuh tulisan itu dengan kernyitan di dahi, lalu layar memunculkan gambar gembok yang kemudian saat Pera tekan, muncul tulisan, “Terbuka.” Di waktu yang sama, pintu gedung terbuka perlahan.

“Diana …,” lirih gadis itu dengan sebelah tangan menutup mulut hingga hidungnya dalam keterkejutan. “Kenapa dia ….” Ia terlalu terkejut untuk melanjutkan kalimatnya. Matanya mencari-cari keberadaan dua gadis yang meninggalkannya sendirian di sini. Namun, tak ada jejak mereka yang tampak. Profesor dan klon Hiba IV berdiri tak jauh di sana. Memintanya untuk segera masuk agar badai tidak masuk ke dalam. Terpaksa, Pera melangkah ke dalam sendirian.

“Kami menemukanmu di sini, saat kau pingsan.” Diana menunjuk tanah tempat mereka berdiri.

Amira menatap sekitar dan menunjuk arah yang ia yakini adalah jalan menuju mesin waktu milik ayahnya. Ingatan Amira cukup baik. Arahnya tidak salah. Kurang dari lima menit, mereka menemukan tumpukan batuan dan dinding rumah yang roboh. Sama seperti tempat mesin waktu Amira berada. Tubuhnya membungkuk dan memasuki celah-celah yang ada untuk mencapai tujuannya. Kini, posisi mereka terbalik. Diana mengikuti di belakang, sementara Amira memimpin.

“Nah, mesin waktunya sudah ketemu. Kau cepat kembali ke gedung itu,” suruh Amira mengusir gadis klon di belakangnya.

“Aku akan melihatmu pergi.”

“Wah, keras kepala sekali,” gerutu Amira kesal. Tanpa basa-basi, ia memasuki mesin waktu yang tampak berkarat dan agak penyok itu. Sebelum pintu tertutup, Amira memberikan pesan terakhirnya. “Kau harus tetap hidup.”

“Jika … aku tak bertahan. Kau bisa mengubah masa depan. Di sana, laut belum surut, kan? Udara tidak sepanas sekarang. Manusia masih banyak jumlahnya. Makanan tersedia di mana saja. Tolong, jaga dunia itu. Mungkin, dengan itu, aku yang hari ini akan tetap hidup.” Kepala Amira mengangguk. Kemudian, wajahnya telah sepenuhnya hilang tertutup pintu mesin.

Ia harus memasukkan waktu yang diinginkan. Tiga hari yang ia habiskan di sini, lalu seratus tahun. Pilihan mundur yang Amira tekan. Guncangan yang sama saat ia pertama kali menggunakan mesin waktu ini kembali dirasakannya. Namun, Amira kini menghadapinya dengan tangan terkepal dan mata terpejam rapat. Dadanya terasa sesak.

Kalau, saat itu, ia tidak bersama Diana. Diana pasti memilih untuk bersama Pera dan selamat, kan? Penyesalan yang tidak ada gunanya. Amira merutuki dirinya sendiri. Seperti pesan Diana, ia—sebagai satu-satunya manusia yang melihat secara langsung kondisi bumi di masa depan—harus menjaga bumi di jamannya.

Pintu mesin terbuka, tanda bahwa ia telah sampai ke masanya. Kaki Amira lemas dan kehilangan keseimbangan. Lututnya jatuh di atas lantai yang dingin. Telapak tangannya meraba lantai itu dan teringat suhu lantai gedung di sana.

Ia tak menemukan apa yang ingin ia cari di tempat itu. Tidak ada gedung-gedung tinggi untuk ditinggali. Tidak ada teknologi canggih yang menghiasi kota sejauh mata memandang. Tidak ada kendaraan super cepat untuk dikendarai, atau pun mall besar yang dilayani robot. Hanya bumi yang gersang dan panas yang membakar kulit, karena pemanasan global. Reruntuhan bangunan karena badai hebat. Laut yang kering dengan dasarnya dipenuhi sampah. Semuanya tak tampak indah dari sisi mana pun.

Sadar ia telah melamun terlalu lama, Amira bangkit dan secepat yang ia bisa meninggalkan ruangan rahasia itu. Gadis SMA itu menutup pintu ruangan ayahnya cukup kuat, menyebabkan lemari kecil di samping pintu bergetar dan selembar kertas terjatuh. Di bawah lampu yang menyala, tampak tulisan, “Clone Project,” dicetak dalam huruf besar.

***

Hari ini cerah seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Amira masih pergi ke sekolah menggunakan bus. Ponselnya juga belum berganti yang baru. Ia masih mengenakan sepatu yang dihadiahi ibunya dua tahun yang lalu. Kelasnya juga masih sama dengan murid-murid yang sama. Namun, Amira merasa ada sesuatu yang berubah pada dirinya. Entahlah.

Remi, Laila dan Bella duduk mengelilingi mejanya lagi. Mereka datang lebih awal darinya. Itu agak mengejutkan. Mejanya menjadi tempat strategis untuk mengobrol karena letaknya berada di belakang kelas.

“Pagi,” sapa Amira seraya menggantungkan tasnya di atas kursi.

“Pagi, Mir,” jawab Laila. Sementara, Remi dan Bella hanya mengangguk.

“Eh, inget ‘kan kemarin kita bahas soal bumi di masa depan gitu. Astaga, aku baru lihat di media sosial kalau ada film futuristik bakal ditayangin di bioskop!” ujar Remi menunjukkan poster film yang dibicarakannya pada layar ponsel.

“Pengen nonton! Tapi, tiketnya mahal, ya?” Laila merengut.

“Makanya, nabung. Biar kita bisa nonton bareng.”

Mereka membicarakan film itu dengan semangat. Amira hanya mendengarkan di kursinya. Ia menopang dagu dengan sebelah tangan dan tangan lainnya ditekuk di atas meja. Pembicaraan ini mengingatkannya pada Diana. Tanpa sadar, mulutnya berkata, “Akan menyenangkan kalau bumi masih seindah sekarang di masa depan.”

“Hm, ngomong apa kamu, Mir?” Pertanyaan Remi membuat Laila dan Bella yang menghadapnya merubah posisi tubuh mereka agar dapat menatap Amira.

“Ah, itu, kalau bisa aku ingin menjaga bumi supaya seratus tahun ke depan, bumi ini tetap indah. Mungkin, untuk cicit-cicitku?” Amira menjawab pertanyaan itu dengan kegugupan yang tidak perlu. Matanya mengerjap-ngerjap.

Bella mengernyit. “Kok tumben kau bijak gitu?” Laila menimpali, “Jangan-jangan, Amira kemarin dirasuki alien dari planet lain!”

Remi menyentil dahi Laila. “Jangan halu,” tegurnya.

Mereka terkikik bersamaan saat Laila cemberut dengan bibir mengerucut.

Amira jadi ingat sesuatu.  “Oh ya, soal pantai yang kemarin, minggu nanti kita ke sana, yuk. Sekalian, bersihin sampah-sampah kalau bisa,” usulnya.

“Tiba-tiba banget. Enggak kayak kamu biasanya juga. Masa tebakan Laila tadi benar?” Bella menatapnya tak percaya.

Emang pandangan mereka untuknya itu seperti apa? Amira sampai memutarkan bola matanya jengah. “Gak mau?”

“Mau lah, tapi bersihin sampah buat apa?”

“Ya jelas biar pantainya bersih, lah. Masih nanya.”

Laila menertawai Bella yang tampaknya melongo karena jawaban Amira yang lugas.

Sesuai janji mereka hari itu, pada hari minggu mereka telah berkumpul di tempat yang dijanjikan, kecuali satu orang yang tidak hadir. Mereka berteduh di bawah pohon-pohon kelapa. Remi tak keluar dari mobilnya yang diparkirkan di sana.

Bella bosan menunggu. Ia mengirim puluhan pesan pada Amira. Namun, tiada jawaban. Dahinya sudah basah oleh keringat dan riasan wajahnya hampir luntur. Gadis dengan rambut ikal dan topi pantai itu menginjak-injak tanah kesal.

“Yang ngajak siapa, yang gak dateng dia juga. Udah kamu telpon, La?”

Laila mengangguk. “Dari sebelum berangkat, aku sudah coba telepon Amira. Tapi, gak satu pun diangkat.”

“Ya sudah, kita bersenang-senang saja tanpa dia. Besok, kita tanya kenapa dia enggak dateng. Kupukul sekalian, ngeselin banget,” cetus Bella.

Namun, rencana Bella sepertinya tak akan terlaksana. Karena, keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, kursi yang selalu jadi tempat strategis untuk mengobrol itu, selalu kosong. Pemiliknya tak pernah datang ke sekolah. Orangtuanya pun sulit dihubungi. Menurut kabar burung, mereka telah pindah. Ketiga teman yang ditinggalkan tanpa salam perpisahan itu kecewa. Amira menjadi sosok asing bagi mereka dalam hitungan hari. Perlahan, mereka mulai tidak peduli.

Padahal, seseorang harus menyelamatkan Amira. Gadis yang sedang menjadi obyek eksperimen ayahnya sendiri sebagai hukuman karena melanggar peraturan nomor satu di keluarga itu.

“Jangan pernah dekati ruang kerja ayah, apalagi memasukinya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *