Cerpen #270; “PERMINTAAN GALAKSI”

Baskara pagi masuk menembus kaca jendela, mengusik tidur panjang seorang puan cantik berusia enam belas tahun. Semalam, ia bergadang sampai tengah malam karena terlalu asik menonton drama Korea favoritnya.

“DANITA ZHAFIRA AYU, BANGUN GA?!”

“AKU IKUT TELAT INI KALAU KAMU TELAT.”

“DANITAAAA….”

“PASTI BEGADANG LAGI.”

“LAMPU IDUP SEMALEMAN, LAPTOP GA KAMU MATIIN.”

“DANITA BANGUN GA?!” Puan berparas cantik dengan rambut panjangnya yang digerai itu berdiri di depan kamar sang adik dengan kedua tangan bersedekap.

“Iya mba iyaa, Ira bangun. Gausah teriak-teriak kenapa sih??”

“AYO BANGUN, KITA UDAH TELAT INI, UDAH JAM 7.”

“Baru jam 7 mba ya ampun, 5 menit lagi deh.”

“NGGA ADA YA 5 MENIT, BANGUN SEKARANG ATAU UANG JAJAN KAMU DI POTONG MAMA.”

“IYA IYA IRA BANGUN NIH.” Gadis yang akrab dipanggil Ira itu langsung terduduk di kasurnya dan merapikan surai hitam pendeknya yang berantakan.

“Mandi, aku sama mama nunggu di bawah, kita sarapan. Cepet gak pake lama,” titah Kakaknya yang bernama Zarifah Delia Ayu, atau lebih akrab dipanggil Mba Lia.

Setelah mengatakan itu, Mba Lia pergi keluar dari kamar Ira, sementara Ira masih terdiam di atas kasurnya, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih berkeliaran kemana-mana.

“DANIT-“

“IYA MBA LIAAAAA,” Ira langsung melompat dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi, dia terlalu malas mendengar omelan dari kakak perempuannya itu di pagi hari.

Setelah beberapa menit bersiap-siap, Ira pergi ke meja makan, bisa ia lihat semua keluarganya sudah berkumpul di meja makan sambil memakan sarapannya.

“Makan Ra, nasi goreng ibu enak tuh,” kata ayah
“Iya yah”
“Mba Lia kuliah pagi?” tanya ibu.
“Iya bu, Lia ada kuliah pagi. Tapi abis itu udah sih, bisa langsung pulang, kenapa?”
“Kalau Ira? Pulang sekolah ada kegiatan?”
“Ngga ada bu, langsung pulang, kenapa?”

“Ibu mau ada arisan, jadi kalian di rumah berdua aja bisa ‘kan? Ngga lama sih, paling sebelum jam 5 ibu udah di rumah”

“Oooh, kirain kenapa. Bisa bu, ibu tenang aja,” ujar mba Lia.

“Iya bu, tenang aja, anak gadis ibu inikan udah pada gede-gede,” kata Ira.

“Dih masih bocah sok gede”

“Diem deh mba ah, rese banget sih”

“Udah-udah, ayo abisin makannya terus kita berangkat. Nanti kalian telat,” titah ayah. Mereka semua makan dengan tenang tanpa ada keributan lagi, hanya ada dentingan garpu dan sendok yang beradu dengan piring. Setelah sarapan selesai, ayah, mba Lia dan Ira langsung pergi, sedangkan ibu tetap di rumah.

Ibu memiliki kebiasaan untuk berjalan-jalan sekeliling rumah setiap habis sarapan, sekalian mencari apakah masih ada piring, gelas atau pakaian kotor yang perlu dicuci di kamar anak-anaknya.  Terutama kamar Ira, ibu tidak pernah bisa biasa saja setiap kali memasuki kamar Ira. Pasti ada saja hal yang bisa membuat ibu geleng-geleng kepala.

Benar saja, saat ibu masuk ke kamar Ira, rasanya ibu ingin langsung memberikan pidato panjang kepada Ira. Bagaimana tidak? AC dibiarkan menyala tapi pintu dan jendela dibuka, laptop tidak dimatikan dan masih digeletakkan di atas kasur, lampu juga tidak dimatikan, belum lagi lampu meja belajar yang juga Ira biarkan menyala. Banyak juga sampah-sampah makanan berserakan di lantai, ibu sudah sangat paham akan seberantakan apa kamar putri bungsungnya ini di hari senin pagi.

“Senin ibu jadi ga damai karena ngebatinin kamu terus, Ra”

Bel pertanda pelajaran berakhir sudah berbunyi, semua murid bersorak sorai dan berhamburan pergi keluar kelas, begitupun Ira. Rasanya senang sekali membayangkan hari ini ia hanya akan berdua dengan mba Lia di rumah. Mba Lia juga paling akan sibuk dengan segala macam tugas kuliahnya yang menumpuk itu.

Ira bersenandung kecil di sepanjang perjalanan menuju rumahnya.

“Seneng banget hari ini dek, kenapa??” tanya Pak Daru, supir ojek yang biasa mengantar dan menjemput Ira ke sekolah. Sebenarnya jarak antara sekolah dan rumah Ira tidak terlalu jauh, tapi Ira malas saja berjalan kaki, naik motor lebih cepat pikirnya.

“Hari ini ibu arisan, jadi aku di rumah cuman berdua ama mba Lia,” kata Ira sumringah.

“Loh, ibu ngga ada kok kamu seneng?”

“Iya, jadi aku ga perlu dengerin omelan ibu gara-gara aku ga sempet beresin kamar tadi pagi”

Pak Daru tertawa kemudian menggelengkan kepalanya, “Makanya kalau bangun pagi beresin atuh dek kamarnya”

“Iya kalau sempet pak, tadi pagi aja saya bangunnya mepet”

“Makanya jangan begadang atuh”

“Iya, besok ngga”

“Ngga begadangnya kamu tuh jam berapa??”

“Dua belas?”

Pak Daru menghela nafasnya lelah, Ira memang sulit untuk dinasehati.

“Ya terserah kamulah dek, bapak bingung juga ngomongnya gimana,” kata Pak Daru.

Ira tertawa melihat wajah pasrah Pak Daru, “Ya udah pak, bayarnya nanti sama ibu ya, Ira masuk dulu, makasih Pak Daru,” ujar Ira kemudian berbalik dan memasuki rumahnya.

“MBA LIAAAA”

“MBAAA”

“IRA PULAAANG”

“Tidur apa ya? Apa belom balik?” Ira mengecek ke bawah pot bunga tempat biasa ibu menaruh kunci, ternyata kuncinya masih berada di tempat yang sama, itu artinya mba Lia belum pulang. Setelah menemukan kuncinya, Ira langsung membuka pintu rumah dan segera masuk ke kamarnya.

“SENDIRIAAAN, WAH ASIK BANGET. MBA LIA YANG LAMA AJA BALIKNYA, IRA GAPAPA KOK, BENERAN!”

“Nonton drakor, nyalain AC, pake selimut, sambil ngemil. ADUH SURGA DUNIA AKU DATANG!”

“Sekarang mandi, terus lanjut drakoran,” tutur Ira semangat seraya berjalan dengan cepat ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Ira keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rambutnya. Namun, baru saja beberapa langkah ia keluar dari kamar mandi, matanya menangkap sosok asing yang sedang duduk membelakanginya di meja belajar. Sontak Ira menjerit kencang, ditambah lagi orang itu adalah seorang laki-laki.

“WAAAAAA MAMA ADA MALING”

“MALING APA WOY? MANA MALING?” Lelaki tinggi itu langsung berdiri kemudian menengok ke kanan dan kiri.

Ira terdiam saat orang itu berbalik dan menatap Ira balik, mereka berdua bertatapan untuk beberapa detik sampai Ira kembali berteriak.

“NGAPAIN KAMU DI KAMAR SAYA?”

“KAMU YANG NGAPAIN? INI KAMAR SAYA”

“H-HAH??”

“Ohhh paham nih saya, pasti mbanya mau maling kan, modus baru nih emang, pura-pura yang punya rumah”
“Mana ada? Ini rumah saya”
“Ngaco, rumah saya ini,” kata laki-laki itu.
“Ngga mungkinlah, jelas-jelas ini kamar saya, liat tuh ada fot- Eh, loh?”
“Mana? Kan boong, itu foto saya,” kata laki-laki itu sambil menunjuk pigura kecil yang ada di meja belajar.

Ira menoleh ke kanan lalu kiri mengitari seluruh isi kamar itu, hingga akhirnya ia menyadari kalau kamarnya memang berbeda, dinding kamar yang seharusnya bercat abu-abu, kini bercat putih bersih. Meja belajarnya juga seharusnya dari kayu bukan besi, foto-foto yang ia gantung di dinding juga tidak ada, semuanya bersih, hanya ada satu foto keluarga yang ia bahkan tidak kenal siapa itu.

“Baru sadar?” pertanyaan dari laki-laki itu menghentikan kegiatan pengamatan Ira, ia memutar bola matanya malas kemudian merapikan sedikit meja belajarnya.

“Orang darimana lagi yang dibawa sama tu kapsul?” gumam laki-laki itu namun Ira masih bisa mendengarnya.

“Apa?”

“Mbanya pasti tadi masuk ke sesuatu yang bentuknya balok ya?”

“Tempat shower?”

“Nah iya, makanya bisa sampe sini”

“M-maksud kamu?” tanya Ira kebingungan.
“Nama saya Galaksi, biasanya dipanggil Gala. Kayaknya kita seumuran, jadi panggil nama aja. Nama mba siapa?” kata laki-laki itu memperkenalkan diri.
“S-saya Zafira, panggil Ira”

Laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Gala itu mengangguk, “Jadi gini Ra, papa saya itu seorang penemu dan beliau beberapa hari lalu baru nemuin kapsul waktu, terus dititip di kamar saya. Cuman karena emang alatnya baru jadi, makanya masih sering ada glitch. Dari kemaren udah ada 3 orang random yang tiba-tiba masuk kamar saya gara-gara glitch kapsul itu”

“Kapsul waktu? Udah ada gituan zaman sekarang? Keren amat”

“Iya begitulah, tapi tenang aja 2 jam lagi masuk lagi aja kesana, nanti bisa balik kok ke tempat sebelumnya”

“Bentar, kalau mesin waktu berarti sekarang tahun berapa?”
“2125, ga terlalu jauh sih emang jaraknya, lumayan lah”
“HAH? 2125?”
“Iya, kenapa?”
“SAYA DARI 2021 GALA,” ucapan Ira sukses membuat Gala membelalakkan matanya.

“2021? 100 TAHUN LALU?”

“IYA”
“K-kemaren papa bilang ini cuman bisa paling jauh 2 tahun, kenapa bisa sampe 100 tahun?”
“T-terus gimana? Ngga apa-apa kan?”
Gala menggigit bibir bawahnya ragu,“Aduh Ra, kemaren papa saya sempet bilang perkiraannya kalau seseorang dateng lebih dari 50 tahun jaraknya sama sekarang, kemungkinan baru bisa baliknya sekitar satu hari”
“SATU HARI? SERIUS?”

“I-iya”

“JADI SAYA HARUS SEHARIAN DI SINI? SAMPE BESOK?”

“Yaaa gitu”

“Serius??” tanyanya

“Iya serius”

Ira memegangi kepalanya yang pusing, semuanya terlalu aneh untuk Ira, apa ini? Dia terbawa oleh kapsul waktu? Lalu baru bisa kembali besok? Apa-apaan? Lantas rencana menonton dramanya bagaimana?

Gala menghembus nafasnya kasar, “Ya udah, kamu istirahat aja di sini, biar saya aja yang di luar. Udah makan belom? Biar sekalian saya mau beli makan di luar,” kata Gala.

“Kamu mau keluar?”

“Iya”

Ira terlihat berpikir sebentar, “Saya ikut aja deh, mau liat 2125 dunia kayak apa,” kata Ira.

“Ya udah, saya ambil baju ganti kamu dulu, di luar panas kalau pake itu kamu keringetan,” kata Gala, Ira memang memakai kaos yang cukup tebal karena niatnya tadi ia kan menonton drama dengan pendingin menyala, maka dari itu ia memilih kaos yang agak tebal.

Beberapa menit kemudian, Gala kembali dengan selembar kaos yang agak lebih tipis dan juga sebotol besar krim yang Ira tidak tahu itu apa.

“Ini baju mama saya, muat sih kayaknya. Oh sama ini jangan lupa dipake supaya ngga kebakar,” kata Gala sambil memberikan baju dan sebotol krim tadi.

“Ini apaan?” tanya Ira sambil menunjuk botol krimnya.

“Sunblock”

“Banyak banget? Ada yang jual botol segede ini?” tanya Ira, setahunya sunscreen dijual di botol-botol kecil.

Gala tersenyum singkat, “Pasti menurutmu aneh ya?”

“Di 2021 jarang banget ada sunscreen segede ini,” kata Ira.

“Sekarang sunscreen udah jadi kebutuhan pokok Ra, kalau orang ngga pake itu walaupun cuman keluar rumah sebentar aja, kulitnya bisa kebakar. Makanya sunscreen sekarang ukurannya besar-besar, saya pernah denger sih 100 tahun lalu emang sunscreen dijual kecil-kecil dan kebanyakan cuman buat muka”

“Iya bener, yang pake juga ngga banyak kalau di 2021, paling cuman orang-orang yang ngerti aja,” kata Ira.

Gala mengangguk, “Enak ya pasti hidup di 2021, matahari ngga seberbahaya itu”

“Maksud kamu?”

“Sekarang ozon udah tipis Ra, jadi tameng bumi untuk nyaring sinar UV dari matahari semakin sedikit. Makanya, sekarang semua sinar matahari, mau yang baik atau buruk untuk manusia semuanya masuk bebas ke bumi. Ditambah lagi karena dulu limbah gas ngga diurus dengan baik, makanya langit bumi ditutup sama karbondioksida, dia bikin sinar-sinar yang udah masuk ke dalam bumi ngga bisa keluar lagi. Makanya tadi saya bilang di luar panas banget, karena suhu bumi udah naik, jauh banget dari tahun asal kamu,” kata Gala.

“Separah itu?”

Gala mengangguk, “Liat ’kan kaca itu? Mungkin kamu bingung kenapa kacanya ngga bening. Itu karena kaca itu juga dikasih pelindung supaya sinar matahari dari luar masih bisa kesaring sedikit sama kaca. Kacanya juga pakai kaca khusus yang memang di-design untuk mengurangi sinar UV masuk ke rumah,” jelas Gala.

“Di 2021 itu barang mewah loh La, saya pernah liat kaca kayak gitu di gedung-gedung perkantoran elit”

“Iya, dulu kaca kayak gitu emang dipakai untuk menghindari efek rumah kaca kalau mau bikin bangunan yang dindingnya dari kaca. Tapi sekarang, semua rumah harus punya,” kata Gala.

“Ya udah, ayo keluar saya laper,” kata Gala.

Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga rumah Gala.

“Bentar dulu,” kata Gala menghentikan langkah Ira, kemudian ia berjalan ke dapur rumahnya. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan dua buah kotak makan dan sebuah tas jinjing.

“Buat apa?”

“Beli makan,” jawab Gala sekenanya.
“Kenapa?”
Gala terkekeh, “2021 masih ada plastik ya?” tanya Gala.
“Masih”

“Sekarang ngga ada, plastik jadi barang terlarang di zaman sekarang. Siapapun yang pakai plastik bisa kena pidana” jelas Gala. Pernyataan itu sontak membuat Ira terkejut.

“HAH? SERIUS?”

Gala mengangguk, “Iya, sejak 10 tahun lalu aturan itu ditetapin, karena limbah plastik udah terlalu banyak dan ngga bisa diuraikan, ditambah lagi proses produksinya juga ngehasilin terlalu banyak limbah. Makanya semua pabrik plastik sekarang udah ditutup paksa sama pemerintah,” kata Gala.

“Kalau beli makan juga bawa tempat sendiri?”

“Iya, sekarang pedagang ngga dibolehin untuk nyediain wadah, semuanya harus bawa sendiri.  Buat ngurangin sampah juga tujuannya”

Ira mengangguk kemudian mengambil kotak makan yang Gala berikan.

“Ayo jalan,” kata Gala.

“Kita jalan?” Tanya Ira.

“Iya”

“Jalan kaki?” Tanya Ira lagi.

Lelaki tinggi itu mengangguk dengan yakin, “Iya, kenapa?”

“Ngga pake motor?”

Lagi-lagi Gala terkekeh mendengar pertanyaan Ira, “Motor dan mobil pribadi juga udah dilarang sama pemerintah, tahun kemaren baru aja semuanya ditarik, ngga ada yang boleh pakai kendaraan pribadi. Sekarang cuman ada kendaraan umum,” kata Gala.

“Kenapa?”

“Ngurangin polusi, dengan cuaca sepanas sekarang, kalau misalkan kendaraan pribadi tetep dibolehin, yang ada suhu bumi makin panas, nanti manusia punah”

Ira kembali mengangguk, “Iya juga ya”

“Makanya kamu kalau balik nanti, jangan sering-sering pake kendaraan pribadi. Nyusahin cucu sendiri,” cetus Gala kemudian langsung berjalan duluan meninggalkan Ira.

“IH GALA TUNGGUIN,” kata Ira kemudian berlari mengejar Gala.

Mereka berdua berjalan berdampingan, Ira sibuk melihat-lihat sekitar hingga matanya menangkap sesuatu yang membuatnya terkejut dan langsung merapatkan diri pada Gala.

“Kenapa?”

“Itu singa?” tanya Ira.

Gala terkejut kemudian langsung menarik Ira berjalan lebih cepat menjauhi tempat itu.

“Kenapa singa bisa sampe sini?” tanya Ira.

“Kamu tau ‘kan, dengan cuaca sepanas ini kebakaran hutan gampang banget terjadi?”

Ira mengangguk, “Nah, hutan udah banyak yang kebakar, makanya habitat mereka hilang, kebun binatang juga udah penuh untuk nampung semuanya. Makanya pemerintah biarin hewan-hewan itu berkeliaran kayak begini,” jelas Gala.

“Ngga dibunuh aja?”

“Ngga bisa, nanti punah. Udah terlalu banyak hewan punah karena perubahan iklim ini”

“Kenapa bisa punah? Hubungannya apa?”

“Kamu tuh kalau lagi sekolah ga pernah nyimak atau gimana sih Ra?” Tanya Gala tajam.

Ira tertawa malu, ia baru sadar, ia tidak tahu apa-apa tentang lingkungannya. Selama ini ia tidak memperhatikan gurunya menjelaskan, menurutnya itu tidak penting untuk hidupnya di masa yang akan datang.

“Gini loh, ‘kan saya bilang tadi bumi makin panas, perubahan iklim juga ekstrim. Makanya banyak habitat-habitat hewan yang rusak, belom lagi tumbuhan juga banyak yang mati dan punah, karena itu hewan-hewan yang kehilangan habitat dan makanan otomatis lebih cepet mati, karena banyak yang mati jadi banyak hewan yang udah punah juga,” jelas Gala.

Ira terdiam mendengar penjelasan Gala, separah itu dampak perubahan iklim dan suhu bumi? Selama ini ia pikir orang-orang di sekitarnya terlalu melebih-lebihkan.

Gala dan Ira akhirnya sudah sampai di tempat yang mereka tuju, Gala segera memesan makanannya sedangkan Ira bergerak mencari tempat duduk.

Beberapa menit kemudian Gala kembali dengan dua kotak makan yang sudah diisi makanan.

“Nih makan,” titah Gala seraya memberikan salah satu kotak makan itu pada Ira. Mereka berdua mulai memakan makanan yang sudah Gala beli.

“Kok rasanya aneh?” tanya Ira.
“Aneh apanya?”
“Dagingnya kayak bukan daging, sayurnya juga”

Gala lagi-lagi terkekeh, “Kamu pernah ngerasain daging sama sayur asli ya pasti?”
“Hah?”
“Iya daging asli, dari hewan beneran, pernah kan?” tanya Gala.
“Iyalah, emang ini bukan?”

Gala menggeleng, “Bukan, ini daging sama sayur imitasi”

Jawaban Gala sontak membuat Ira tersedak makanan yang sedang dikunyahnya.

“Uhuk…uhuk..”

“Eh eh eh, minum nih,” kata Gala seraya memberikan segelas air mineral pada Ira. Ira langsung menerimanya dan menenggaknya hingga habis setengah gelas.

“Pelan-pelan dong makannya”

“Tadi kata kamu ini apa?” Tanya Ira lagi.
“Sayur sama daging imitasi”
“HAH?”
“Iya, ini bukan daging sama sayur asli”

“Kayak yang saya bilang tadi, hewan sama tumbuhan banyak yang udah punah, kalaupun ada udah mau punah. Jadi kita ga bisa makan mereka”
“Jadi ini dari apa?”
“Tergantung, kalau ini dari tepung, ada juga yang dari kedelai sama jamur”
“Sayurnya?”

“Tergantung juga, kalau ini dari tepung yang dikasih vitamin sama perasa sesuai sayur yang mau dibikin. Ini kan wortel, jadi dikasih vitamin yang terkandung di wortel asli terus diwarnain oranye,” kata Gala.

“Jadi kamu ngga pernah makan sayur sebenernya?”

Gala kembali menggeleng, “Dari saya lahir udah begini”

Ira menatap Gala iba, sayang sekali ia tidak bisa merasakan kenikmatan daging sapi yang biasa Ira makan sehari-hari.

“Kalau udah makan, ayo kita jalan lagi,” ujar Gala setelah makanannya selesai.

“Iya ayo”

“Minumnya di abisin dulu,” titah Gala.

“Tinggal dikit Gala, tinggal aja kali, lagian saya udah kembung”
“HEH TINGGAL-TINGGAL, ENAK AJA”
“Air bersih tuh sekarang susah Iraaa, kalau ada kita harus pake sebaik mungkin. Itu masih bisa untuk minum,” kata Gala.
“Kenapa susah?”
“Kan pencemaran lingkungan udah dimana-mana, daerah resapan air juga udah sedikit. Makanya mata air banyak yang kering, sekarang kalau mau minum harus nyaring sendiri, terus rebus dulu, baru bisa minum,” kata Gala.
“Ribet banget?”

“Makanya kalau udah ada yang jadi, kalau bisa diminum sampe beneran abis, sayang kalau disisain”

Ira mengangguk kemudian meneguk habis air yang ada di gelas itu. Mereka berdua kembali berjalan menuju sebuah toko yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana.

“Mau beli apa?”

“Oksigen,” jawab Gala singkat.

“HAH?” Lagi dan lagi Ira terkejut dengan jawaban Gala, entah sudah berapa banyak fakta mengejutkan yang terlontar dari bibir tipis pemuda Galaksi itu.

“Oksigen”

“OKSIGEN?”

“Iya, kenapa?”

“Ngapain beli oksigen, kan ini ada?” tanya Ira.
“Kalau di luar emang masih ada, tapi kalau di rumah ngga ada”
“Jadi napasnya pake apa?”

“Sekarang ada yang jual oksigen galonan Ira, jadi kita beli itu buat di rumah,” kata Gala.

Ira masih terdiam melihat Gala membeli galon oksigen. Pakai sunblock di seluruh tubuh, kaca khusus, singa di perumahan, tidak ada plastik, tidak ada kendaraan pribadi, daging dan sayur imitasi, dan sekarang galon oksigen? Bumi berubah sejauh ini karena perilaku orang-orang di masa lalu?

“Ra, kok bengong?”

“H-hah?”

“Udah nih, ayo balik,” kata Gala.

Bukannya ikut berjalan, Ira malah terdiam. Sepersekian detik kemudian Gala dapat mendengar isakan kecil yang keluar dari bibir gadis berambut sebau itu.

“EH KOK NANGIS? SAYA ADA SALAH?” tanya Gala panik.

“HWAAAAA GALA MAAFIN SAYA”

“Eh, kenapa?”
“S-saya yang udah bikin kamu ngerasain ini semua. Saya udah bikin kamu ngga bisa ngerasain enaknya daging, saya bikin kamu ngga bisa ngerasain jalan-jalan dengan tenang tanpa mikirin hewan buas, s-saya-HWAAAAA”
“Eh eh aduh jangan nangis, saya ngga tau harus ngapain nih”

“GALA MAAFIN SAYA”

“Ssssttt… ngga ngga udah jangan nangis,” taruna bermata tajam itu bergerak mengusap surai gadis di hadapannya berharap bisa memberikan sedikit ketenangan.

“S-saya ngerasa bersalah sama kamu, saya bener-bener minta maaf”

“Gapapa Iraaaa, makanya nanti kalau kamu balik ke 2021 peduli sama lingkungan kamu ya”

“Kamu udah liat keadaan kita sekarang gimana, semoga ini bisa jadi pembelajaran buat kamu supaya kamu bisa lebih peduli sama lingkungan kamu,” kata Gala.

“I-Iya”

“Janji sama saya?”

“Iya, janji”

Gala tersenyum, “Makasih ya Ira, tolong bantu kita untuk bebas dari semua ini”

“Semua tergantung sama kamu”

Ira menghapus air matanya kemudian mengangguk, “Iya”

“Kalau gitu sebaiknya kamu pulang,” kata Gala.

“Emang udah bisa?”

Gala hanya tersenyum, “Saya percaya kamu Ira”

“Percaya ap-“

“IRA BANGUN GAK? KEBOOOO”

Ira membuka matanya kemudian langsung terduduk di atas sofa.

“IRAAAAA MBA KERING INI DI LUAR”

TOK TOK TOK

“DANITA ZAFIRA AYU ASTAGA”

“BANGUN GAK KAMU?!”

“KETIDURAN BENERAN NIH MBA RASA”

“IRAAA, TEGA BANGET NGUNCIIN MBA DI LUAR”

TOK TOK TOK

“Tadi mimpi doang?” gumam Ira dengan kening berkerut.

“Kok kayak nyata?”
“Gala? Galaksi? Rasanya dia kayak beneran”
Ira tersenyum tipis, “Lucu banget deh ngasih taunya lewat mimpi”
“Gala, asli ataupun ngga kamu, saya janji saya ga bakal ngecewain kamu. Saya bakal peduli sama lingkungan saya sekarang, saya bakal mikirin semua hal yang saya lakuin supaya ngga nyusahin kamu dan temen-temen kamu nanti”

“IRAAA BUKAIN, MBA PEGEL DI LUAR”

“Aduh mak lampir pulang ga kebangun lagi, abis deh”

“IYA IYA MBAA BENTAR”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *