Cerpen #269; “SUMBER KEHIDUPAN”

Katanya air menyelimuti 2/3 bagian bumi, tetapi kenapa di sini aliran air sudah lama berhenti? Tanyaku dalam hati.

 ‘Abdul, jangan lupa pulang sekolah ambil air di waduk ya. Air di bak sudah habis.’ kata ibu kepadaku

‘Bu, capek tau tiap hari ambil air. Jauh banget lagi.’

‘Udah jangan banyak ngeluh kamu. Kalau mau bertahan hidup ya harus berusaha.’

Aku lelah dengan rutinitasku ini. Jerigen dan troli kayu adalah alat yang harus ku bawa setiap pergi ke sekolah.  Tiap pulang setidaknya aku harus membawa satu jerigen air untuk persediaan di rumah. Padahal dulu ketika aku  masih duduk di bangku sekolah dasar, air masih mengalir di sungai dan sumur masih menggenang. Setiap sore hari aku dan teman-temanku selalu mandi di aliran sungai yang ada di pinggiran kampung kami.  Namun, kini sungai itu kering kerontang tak pernah ada air yang mengaliri. Sumur warga juga mulai mengering sejak beberapa tahun terakhir. Jangankan untuk mandi, untuk minum saja terkadang kami harus menyaring air kotor dari waduk yang ada di atas bukit. Bantuan air yang datang hanya sebulan sekali, bahkan terkadang tiga bulan sekali baru kami bisa menikmati air bersih. Hujan? Jangan tanyakan hujan. Ia datang sudah tidak tentu waktunya, berubah-ubah dan tak tentu kapan datangnya.

‘Aneh’ aku bergumam sendiri

‘Apanya yang aneh Dul?’ temanku Farid malah membalas gumamanku

Farid. Temanku sejak lahir. Umur kami hanya selisih dua hari. Rumah kami hanya berjarak sepuluh meter dikelilingi kebun jati. Apa yang dia makan aku tau, kapan aku tidur dia pun tau. Singkatnya adalah kami sahabat berbagi suka dan duka bersama sejak masih bayi hingga kini. Sedekat itulah kami berkawan.

‘Rid, kenapa ya sungai bisa tiba-tiba airnya habis? Sumur juga tinggal tanah doang tu. Aneh banget kenapa bisa secepat ini habisnya?’

‘Pertanyaan yang kamu sendiri sudah tau jawabannya. Tapi katanya krisis iklim sudah semakin parah. Terus ada gas rumah kaca kan? Idih.. apaan coba gas rumah kaca, emang rumah kita terbuat dari kaca? Hahaha… ha… ha…’

‘Rid, masih bisa bercanda kamu ya? Badanku mulai gatel nih mandi pakai air waduk. Parah kali, airnya udah mulai hitam dan kotor. Bingung banget harus gimana. Bener ya kata orang-orang kalau air itu sumber kehidupan’

‘Ngomong-ngomong Dul, sebenarnya besok ini, aku dan keluargaku mau pindah rumah. Masih sama di pegunungan dan perbukitan, tapi tanahnya beda dengan di sini. Di sana lebih subur dan ada sungai besar yang masih bisa dimanfaatkan. Aku berharap di sana kehidupan keluargaku semakin baik. Semoga bapakku juga bisa mendapat pekerjaan lagi di sana’

Tiba-tiba kakiku rasanya semakin berat padahal biasanya air satu jerigen terasa biasa saja. Aku hentikan langkahku sesaat. Pandanganku kosong. Farid berhenti tepat lima meter di depanku dan menengok.

‘Abdul, manusia selalu mencari tempat untuk bertahan hidup kan. Semoga di sana aku bisa mewujudkan mimpi kita. Meski kita tidak bisa berjuang bersama nantinya’ Suara Farid melemah. Ia berjalan menuju rumah meninggalkanku yang masih tak percaya dan berharap Farid tak jadi pindah.

Jalanan sepi penuh dengan bebatuan. Kering, gersang, dikelilingi rumput dan pohon jati menjulang. Mimpi kami untuk bersama mengembalikan aliran air ke kampung halaman seketika sirna. Farid pergi meninggalkanku seorang. Di antara semua teman, hanya dia yang bisa memahami mimpiku. Hanya Farid yang mau berjuang bersama mewujudkan mimpi yang tidak masuk akal bagi anak umur lima belas tahun. Anak smp kampung yang hanya tau teori dari dalam kelas.

‘Sial.. kekeringan, air mulai hilang, panas, stok makanan juga mulai berkurang. Kini Farid juga hengkang. Apa yang bisa kulakukan?’ gumamku dalam hati hingga menetes air mata membasahi pipi.

XXX

Waktu cepat berlalu. Sudah dua tahun aku meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu. Sudah lima tahun juga aku dan Farid berpisah dan tak pernah ada kabar lagi darinya. Teknologi berupa sosial media yang canggih ternyata belum mampu mempertemukan aku dengannya. Disela-sela diskusi dengan teman-teman kampus, aku diam-diam membuka smartphone dan mencari nama Farid di internet. Hingga kini tak pernah ku temukan satupun sosial media miliknya.

‘Gimana progres proyek kita?’ Tanya Mas Romi membuyarkan kegiatanku

‘Progresnya lumayan pesat, besok kita bisa ke sana bareng Pak Ahmad untuk pemetaan lanjutan. Sebenarnya alat-alat sudah bisa naik sih, tapi pak Ahmad ingin kita pemantapan akhir sebelum pasang alatnya’ sahut Mas Aziz

Mas Romi dan Mas Aziz adalah kakak tingkatku yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi dan sangat peduli dengan lingkungan serta alam ini. Mereka berdua yang mengajakku bergabung dengan tim Pak Ahmad karena tau aku berasal dari kampung kecil tempat proyek mereka akan dilakukan dan tau aku juga sedang berkonsentrasi membuat alat-alat pompa air yang lebih aman dan modern. Kebetulan sekali mimpiku untuk membawa air kembali ke kampung halaman menemukan titik terang.

‘Farid, sebentar lagi air masuk kampung lagi. Mimpi kita bakal terwujud. Warga bisa minum dan mandi tanpa  susah payah lagi Rid. Ayolah di mana kamu sekarang’ aku masih saja berbicara dalam hati.

‘Dul, gimana? Jangan melamun terus hei. Ntar kesambet lagi’ Kali ini Mas Aziz benar-benar membuyarkan lamunanku.

‘Hah iya mas. Gimana?’

‘Besok kita bakal ke kampungmu pemetaan lanjutan. Mungkin bisa kali nginep di rumahmu aja nanti pas pemasangan alat. Lokasi gak jauh juga kan’

‘Boleh banget mas’

XXX

Langit cerah berawan. Aku dan Mas Aziz naik mobil pick up  menbawa mesin, pipa,  tambang, alat keselamatan, hingga beras dan konsumsi untuk kami singgah di kampung halamanku sembari mengerjakan proyek kami. Mobil bergoyang-goyang berjalan di atas jalan cor yang tidak rata. Kanan kiri masih sama seperti dulu. Hutan pohon jati.

Lima belas menit kemudian mas Aziz menghentikan mobil. Kedatangan kami disambut oleh para warga yang di wajahnya terpancar penuh harap.

Aku, pak Ahmad, mas Romi, mas Aziz dan 15 orang tim lainnya segera berjalan ke atas menuju sebuah goa bawah tanah. Satu tahun lalu, Pak Ahmad yang sedang menjadi Dosen Pembimbing Lapangan bagi mahasiswa praktikum di  kampungku mencoba mencari-cari sumber air. Alhasil goa bawah tanah itu ditemukan.

Dibantu beberapa warga yang ahli dalam bangunan, kami berbondong-bondong menggotong alat-alat yang dibutuhkan. Mobil hanya bisa menjangkau sampai kampung bawah.

Goa itu aku sebut sebagai goa harapan. Goa yang bisa mengembalikan harapan warga yang sudah lelah berharap kepada hujan yang datangnya sudah tidak bisa diprediksi.

Dua minggu tepat proyek pompa hidrolik dari dalam goa menuju ke kampung kami selesai. Ku pandangi lubang jalan masuk goa. Air mataku menetes, bibirku pun ikut tersenyum lega.

‘Farid, di kampung sudah ada air lo sekarang. Kamu harus ke sini nanti ya’

‘Hei Dul ayo balik. Sudah ditunggu tim dan warga di bawah tu’ lagi dan lagi mas Aziz hobi banget membuyarkan lamunanku. Segera ku usap air mataku. Kami berdua segera turun. Merayakan kesuksesan mengalirkan air bersama warga.

XXX

Aku bisa sedikit bernafas lega sekarang. Keluargaku, sanak saudaraku, tetanggaku kini tidak perlu bersusah payah mencari air. Air kini sudah mengalir melalui peralon-peralon yang kami buat dari dasar goa menuju perkampungan. Yang perlu mereka lakukan sekarang merawatnya dengan sepenuh hati.

Selesai sudah proyek kami kali ini. Malam ini setalah evaluasi tim, sayup-sayup aku mendengar suara pembawa berita televisi sedang melaporkan beberapa kejadian akibat cuaca ekstrem.

“Saat ini beberapa wilayah di Indonesia sedang mengalami cuaca ekstrem. Sebagian wilayah mengalami kekeringan, sementara sebagian lainnya mengalami banjir bandang dan tanah longsor. 

Kabar baik datang dari Gunung Kidul. Kekeringan di salah satu perkampungan di wilayah Gunung Kidul yang terjadi sejak lima tahun lalu kini mulai mendapat suplai air bersih dari sumber air goa bawah tanah yang ditemukan belum lama ini. 

Berita kedua. Telah terjadi banjir bandang dan tanah longsor di Banjarnegara. Hal ini terjadi akibat dari curah hujan yang tinggi hingga sungai dan bukit di kawasan tersebut tidak mampu menopang air. Pembalakan liar yang terjadi di daerah tersebut juga menambah parah kondisi yang terjadi. Akibatnya puluhan rumah terbawa arus dan terkena longsoran tanah dari bukit. Dilaporkan terdapat tiga puluh korban dan lima orang relawan dinyatakan hilang hingga saat ini.”

Kenapa di saat kampungku kekeringan, di tempat lain malah banjir bandang? Air sumber kehidupan? Cih.. Kenapa air jadi mematikan? Kenapa manusia begitu jahat merusak alam’ Teriakku kesal dalam hati.

XXX

Aku berpegangan erat dengan sabuk pengaman mobil yang kami tumpangi. Jalanan becek tergenang air, licin, dan berbatu-batu kecil. Sembari ku tengok kanan kiri hanya pepohonan dan tebing dengan tanah berwarna merah di antara kami.

‘Cuma bisa satu mobil yang lewat. Gimana caranya biar bantuan cepat sampai ke sana kalau begini. Kalau tiba-tiba hujan deras pun kayaknya di sini bakal longsor juga’ kataku dalam hati.

Dari kejauhan sudah mulai terlihat suatu perkampungan. Banyak orang berkumpul di tengah jalan. Semakin mendekat dan sampailah kami di lokasi bencana. Aku, Mas Romi, Mas Aziz dan kawan lainnya segera menggotong kardus-kardus berisi sembako dan juga mengeluarkan alat-alat evakuasi seadanya yang kami bawa. Alat berat sangat sulit untuk bisa mencapai lokasi ini.

Ya. Aku, mas Romi, dan mas Aziz segara memutuskan bergabung menjadi relawan ke lokasi banjir bandang di Banjarnegara setelah mendengar berita. Proyek air membuat kami bertekad bersama mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat dan juga melestarikan lingkungan.

Tiba-tiba aku melihat seorang ibu menagis sejadi-jadinya di depan sebuah papan pengumuman. ‘Tampak tidak asing ibu itu’ pikirku. Aku lalu meminta ijin Mas Romi selaku ketua tim relawan kami untuk mengecek data nama korban. Perlahan ku dekati papan tersebut. Satu per satu nama ku baca dan sampailah pada nomor tiga puluh tiga. MUSTHOFA FARID – 20 Tahun (Relawan/Warga RT 1).

‘Tidak mungkin. Farid tidak mungkin rumahnya di sini. Tapi kok relawan?’ tanyaku dalam hati

‘Abdul, kamu benar Abdul kan, Nak?’ ku dengar suara lirih ibu yang ada disampingku

Suaranya tidak asig. Aku masih mengingat betul suara itu. Tidak berani. Aku tidak berani menoleh. Pandanganku tetap lurus ke arah papan pengumuman. Takut apa yang ada dalam pikiranku adalah sebuah kenyataan. Tapi apapun yang terjadi aku harus menghadapinya, kan?

Aku menoleh perlahan. Deg. Jantungku serasa berhenti. Aku masih berharap ini bukanlah kenyataan.

‘Ini Budhe, Nak. Masih ingat kan?’

‘Bu…dhe… Siti. Ke…napa di sini?’ ucapku terbata-bata sembari menepis segala bayangan yang terlintas di kepalaku

‘Kami pindah di kampung ini Dul. Rumah kami di sana’ ujar Budhe Siti sembari menunjuk rumah yang sudah rata dan tenggelam oleh air lumpur.

‘Fa….rid?’

Budhe tidak menjawab, hanya air mata yang keluar. Badan ringkihnya mulai lemas hingga terduduk.

‘Farid terbawa arus, Nak. Dia belum ketemu. Sejak tadi malam. Dia.. dia sebenarnya gak di rumah. Tapi kenapa dia malah pulang?’ semakin keras tangisan Budhe Siti

Lima tahun lalu Farid dan keluarganya pindah ke kampung ini. Hingga dia lulus sekolah dan meninggalkan rumahnya untuk menuntut ilmu di sebuah kampus ternama di Bandung dan belajar tentang rekayasa kehutanan.

‘Waktu dengar berita dia buru-buru pulang. Ternyata dia tidak sendiri, dia datang bersama teman-temannya sebagai relawan. Saat membantu evakuasi tiba-tiba terjadi banjir susulan dan dia… dia…’

Segera aku memotong kalimat Budhe Siti.

‘Budhe. Aku akan cari Farid. Doakan saja semoga dia segera ketemu ya’

XXX

Aku berlari sekuat tenaga menuju sebuah mobil ambulans. Segera aku memaksa petugas kesehatan agar aku boleh ikut masuk.

‘Farid…’ ku genggam tangan sahabatku. Penuh lumpur seluruh tubuhnya.

‘Dia masih bernafas. Masih ada harapan’ Batinku.

‘Bertahanlah Rid’

Bau obat tercium menusuk hidungku. Ruangan ini ramai sekali. Dokter, perawat mondar-mandir sibuk menangani pasien. Farid tak berdaya di dalam sana. Sudah berjam-jam aku menunggu di depan ruangan ini tapi belum ada kabar darinya. Rompi relawan dan baju yang ku pakai sudah tidak berbentuk lagi. Lumpur di sana sini. Tak lama mas Aziz datang dan membawakanku baju ganti. Katanya proses evakuasi sudah dihentikan karena semua korban telah ditemukan. Termasuk yang meninggal dan yang hilang tapi masih diberi keselamatan. Farid salah satunya.

Ku pandangi langit sore ini sambil menikmati semangkok bakso panas. Senja kali ini masih diselimuti awan mendung dan gerimis hujan yang sudah seminggu ini tidak berhenti. Segera ku bayar dan masuk ke rumah sakit lagi untuk mencari tau keadaan Farid. Kata Budhe Siti, Farid sudah sadar dan sudah dipindahkan ke bangsal rawat.

Bau obat semakin jelas menusuk hidungku. Ku buka perlahan pintu kamar inap kawanku.

Tersenyum. Dia tersenyum menyambut kedatanganku. Tak terasa menetes air mataku. Perlahan ku datangi dia yang sedang berbaring dikasur.

‘Keren kali kau Bapak Abdul’ ujar Farid

Segera ku peluk erat kawan lamaku ini.

‘Pompa air hidrolik. Kampung sudah ada air. Pemuda harapan bangsa kau ni. Hahaha… Beritanya sudah tersebar dikalangan relawan dan pegiat lingkungan. Hehe sebelum kamu tanya boleh lah ya dijawab dulu’

Tidak berubah. Candaan receh yang tidak pas waktunya. Farid kini masih sama seperti Farid lima tahun lalu.

‘Gila kamu Rid.. udah bisa ngomong begini, padahal baru saja selamat dari banjir bandang. Sakti kau ya? Punya ilmu apa?’

‘Ilmu kebal alam hahahha.. ngomong-ngomong aku juga selama ini mencari tau lebih dalam tentang krisis iklim dan segala permasalahannya. Aku yakin kamu juga sedang mempelajari itu’

Bisa-bisanya dia bahas beginian setalah selamat dari bencana. Tapi bisa-bisanya aku menyahut juga dengan perkataannya. Hadeh..

‘Pemanasan global dan perubahan iklim semakin parah. Pembangunan yang tidak mempedulikan lingkungan, pembalakan liar, pabrik-pabrik yang membuang limbah sembarangan. Gak habis pikir aku’

‘Ternyata lebih rumit dari yang kita bayangkan dulu ya Dul. Kita mengira kampung kita aja yang kena musibah kekeringan. Nyatanya setelah aku pindah sama saja malah kena banjir bandang.’

‘hmmm… air itu sumber kehidupan dan alam menyeimbangkan kehidupan. Tapi balik lagi bagaimana kita menjaga dan merawatnya. Manusia terkadang begitu kejam hanya mementingkan kehidupan pribadi dan keuntungan. Kita-kita inilah yang benar-benar harus berusaha menjaga, merawat, dan mengembalikan alam yang sudah diberikan Sang Pencipta untuk kita’

Meskipun obrolan ini sangat menarik, aku ingin segara mengakhiri. Farid masih butuh istirahat. Nanti sajalah kami membahas kehidupan. Ku ulurkan tangan kepada Farid yang masih berbaring di kasur rumah sakit ini.

‘Mari berjuang bersama’

Farid menyambutnya.

Sembari tersenyum ia berkata ‘Mari berjuang bersama, kawanku’

Menjaga air. Merawat alam.

Selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *