Cerpen #268; “TAK BOHONG, BUMI INI SAKIT”

Mentari pagi mulai tersenyum mengusir gulita. Cahaya dari ufuk timur mencoba menerobos sela-sela gorden kamar, berusaha membangunkan seorang pria yang baru saja bertambah usia. Tepat pukul 00.01 semalam ia berusia 22 tahun.

Byan, terbaring di atas tempat tidur. Tersenyum mengingat dirinya beberapa jam lagi usianya bertambah.  Masih banyak asa yang ingin terus diraih.

Di tengah aktivitas otaknya, matanya mulai terasa berat. Tak lama dirinya mulai terlelap. Tapi nasib malam ini sedikit berbeda. Baru sebentar ia merasakan indahnya dunia mimpi, tapi harus terbangun karena ada yang mengetuk pintu rumahnya.

“Ganggu banget sih.” Umpatnya dalam hati. 

Ia berusaha untuk bangun dan membuka pintu rumahnya, meski kelopak matanya belum sepenuhnya terbuka.

Di hadapannya terdapat seorang wanita tersenyum, Jessi, sambil memegang kue yang di atasnya terdapat lilin bilangan 22. Ia sedikit terkejut dan membuat kelopak matanya terbuka sempurna.

“Selamat ulang tahun.”

“Waw, thank you! Aku tiup ya lilinnya.”

Byan menarik nafas sedikit dalam sambil memejamkan mata dan memanjatkan doa. Ketika angin dari mulut akan menghembus keluar, Byan menahan kembali tiupannya, karena telinganya tertusuk teriakan Jessi.

“Stop! Jangan ditiup dulu! Aku pindahin dulu lilinnya.”

“Oke.”

Ia sadar bahwa meniup lilin di atas kue adalah kurang tepat, karena akan menyebabkan banyak bakteri jahat yang keluar dari mulut menempel di kue.

“Nah, sekarang boleh ditiup lilinnya.”

Embusan angin memadamkan api yang membakar sumbu lilin berbentuk bilangan 22 tersebut. Harapan dan doa juga tak lupa dipanjatkan.

***

Mentari di sebelah timur baru setengahnya naik. Terlihat Byan sedang mengemas beberapa pakaian dan barang yang ia anggap penting. Pagi ini ia bermaksud mengunjungi ibunya di kampung, tanah kelahirannya.

Empat tahun lalu, ia mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Negeri Jakarta yang mengharuskannya meninggalkan kampung halamannya. Ia belum sekali pun pulang kampung, karena ia bertekad dari awal akan pulang kalau sudah sarjana.

***

Bus yang ditumpangi Byan sudah melaju sampai ke perbatasan Cirebon-Kuningan. Ini tandanya satu jam lagi ia akan kembali melihat kampung halamannya, Desa Cihaur, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan.

Sepanjang perjalanan ia memilih untuk tidur. Ini solusi baginya untuk menghindari mabuk perjalanan. Karena itu ia tak tahu perjalanannya sudah sejauh mana. Hingga ketika sudah sampai, ia dibangunkan oleh orang di sebelahnya.

“Kang, udah sampe.”

Byan bangkit dari duduknya, lalu ia keluar melalui pintu depan bus. Dilihatnya keramaian Terminal Ciawigebang. Sebenarnya terminal ini hanya persinggahan. Bus akan kembali berangkat setelah penumpang dari perantauan turun dan penumpang baru naik.

Dari seberang jalan terdengar ada orang yang memanggilnya. Ia memicingkan matanya, terlihat seseorang melambaikan tangan ke arahnya. Ternyata Wulan, adiknya.

Byan segera menghampiri Wulan. Tapi belum sampai ke seberang jalan, nasib buruk menimpanya.

“Kak Byan, awas!” teriak Wulan.

Takdirnya sudah di depan mata. Byan tertabrak mobil pick up yang melaju kencang ke arahnya. Brak, tubuhnya terpental beberapa meter dari titik ia tertabrak. Dirinya tergeletak di aspal. Darah mengalir dari dahi dan hidungnya. Sungguh mengerikan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan mengasihaninya.

***

Sang raja siang menamparkan cahaya panasnya. Hawa panas menyelimuti tubuh Byan hingga membuatnya terbangun. Namun ketika membuka mata, ia terkejut melihat sebuah parang menghunus di depan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya tersengal-sengal.

“Ada apa ini?”

“Jangan kau pura-pura! Kami tahu kau anggota Rambo.” Gertak seorang lelaki yang memegang parang dengan nada tinggi. Mereka terdiri dari tiga orang. Satu orang sedikit berumur, rambutnya sedikit memutih. Mungkin bisa di sebut Pak Tua. Dan dua orang lainnya anak muda sekitar usia 17 tahunan, kemungkinan anaknya.

“Tolong jangan bunuh saya. Saya tak tahu apa-apa.” Byan memohon.

“Kami tahu kau hanya pura-pura pingsan. Sebenarnya kau itu mata-mata Rambo untuk merampok kami.” Tuduh salah seorang dari mereka.

“Mohon dengarkan saya! Saya tak mengerti dengan yang kalian tuduhkan.” Byan mencoba menjelaskan sambil mengangkat kedua tangannya.

Kemudian mereka menyuruh Byan untuk berdiri dan membuka bajunya. Di bawah panas teriknya matahari, sepertinya siapa pun enggan untuk bertelanjang dada. Tapi Byan menurut saja agar nyawanya tetap terjaga. Lalu mereka memeriksa tubuh Byan. Entah apa yang mereka maksud. Namun setelah itu, tajamnya parang tak nampak di hadapannya lagi. Lega rasanya nyawa masih terpelihara.

“Kita pergi!” Ujar seorang dari mereka ke yang lainnya.

Lalu mereka meninggalkan Byan dalam penuh kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi? Itulah pertanyaan yang menyelimuti otaknya saat ini.

“Tunggu!” teriak Byan sambil berlari menghampiri orang-orang tadi. “Boleh saya ikut dengan kalian? Saya tersesat.” Jelas Byan.

“Apa kami harus percaya kepadamu, orang asing?”

“Kalian boleh ikat tangan saya.”

***

Byan berjalan beriringan dengan ketiga orang tadi. Ia belum tahu tujuan mereka ke mana. Namun yang mengherankan, sepanjang perjalanan ia tak melihat adanya pepohonan ataupun rerumputan yang hijau, semua kering tak bernyawa.

“Maaf, sebenarnya kita mau ke mana?” Byan memulai pembicaraan.

“Ikut saja!” Titah salah satu dari mereka.

Rasanya kaki Byan tak kuat lagi menopang tubuhnya untuk berjalan. Karena entah sudah berapa kilometer ia lalui. Namun tempat yang dituju tak kunjung tiba.

Di tengah perjalanan tiba-tiba ia merasakan kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang, lalu ia pingsan.

Tak berapa lama Byan kembali sadar saat bibirnya menyentuh air. Puji syukur begitu besar ia panjatkan karena kerongkongannya teraliri air. Namun ketika sudah benar-benar membuka mata, ia terkejut dan memuntahkan kembali air yang tersisa di mulutnya.

“Air apa ini?” Dilihatnya air di dalam gelas berwarna kecokelatan seperti kopi susu tapi tawar dan sedikit seret di kerongkongan.

“Jangan kau buang-buang air! Masih untung bisa minum juga. Kalau tidak kau bisa mati.”

Apakah sesulit itu air bersih di sini hingga mereka terpaksa harus meminum air kotor? Malangnya nasib mereka. Dan ini membuat Byan semakin bingung. Sebenarnya ini di mana?

“Maaf, sebenarnya kita mau ke mana?” Tanya Byan penuh harap. Semoga kini mereka bisa terang-terangan memberitahunya.

“Berburu air.” jawab salah seorang dari mereka. “Sekarang sudah dapat. Kita bisa kembali.”

” Ke mana?”

“Ke perkemahan. Ada sebagian keluarga kami menunggu di sana.”

Kemudian Byan kembali menempuh perjalanan bersama mereka. Kini tenaganya sudah terisi walau belum sepenuhnya. Tapi setidaknya nyawanya masih dikandung badan. Ia tak mati dehidrasi.

Cukup jauh mereka menempuh perjalanan. Akhirnya Byan melihat di depannya ada sebuah tenda berdiri. Kemungkinan ini tempat perkemahan yang mereka maksud.

Inaq, kami pulang.”

Tak ada yang menyahut. Yang ada hanya suara isak tangis perempuan dari dalam tenda.

Inaq, kau kenapa?”

“Selemah, pergi.” Jawab wanita yang dipanggilnya Inaq sambil diselingi isakan.

Di balik wanita tersebut ada seorang anak perempuan terbaring pucat tak bernyawa.

“Selemah, maafkan Amaq telat membawakanmu air.”

Memang betul seharusnya Byan lebih bersyukur masih bisa minum. Sedangkan orang lain kehilangan nyawa karena dehidrasi.

***

Di bawah terik matahari, mereka kini baru selesai memakamkan anak perempuan yang tadi meninggal. Isak tangis pun masih terdengar di telinga Byan. Dalam situasi ini, rasanya ia harus menelan kembali pertanyaan-pertanyan yang ingin dilontarkan.

“Kau dari Jawa mana?” Tanya Pak Tua kepada Byan memecah keheningan.

Tak ada jawaban dari Byan sehingga ia kembali berbicara. “Kau pasti salah seorang yang selamat dari tenggelamnya pulau Jawa. Masih beruntung kau.”

Pulau Jawa tenggelam? Aneh. Karena beberapa hari yang lalu Byan masih merayakan ulang tahun di Jakarta dengan riang gembira. Tapi kini ia mendengar berita Pulau Jawa tenggelam.

“Maaf, saya tak ingat. Semenjak bangun dari pingsan, saya tak mengingat apa yang terjadi dengan diri saya. Saya pun tak tahu ini di mana.” Jawab Byan.

“Merepotkan.” cibir Pak Tua. Kemudian ia melanjutkan. “Inilah Indonesia sekarang, hancur. Pulau Jawa  sudah tenggelam. Salah satu paru-paru dunia pun kini sakit. Hutan Kalimantan digerogoti ketamakan manusia-manusia goblok yang ingin menikmati hidup di tengah ibu kota. Mungkin nanti giliran kita, menunggu ajal dalam krisis air.”

“Maaf, sekarang tahun berapa?” Tanya Byan.

“Sepertinya kau memang hilang ingatan. 2121.”

Entah sudah berapa kali ia terkejut. Tapi ini yang paling membuat dirinya terkejut. Ternyata ia berada di masa depan, 100 tahun dari kehidupan normalnya.

“Saya akan bersyukur jikalau hilang ingatan. Karena takkan ingat betapa mengenaskannya beberapa dari kami yang mati kelaparan.” Ujar Pak Tua.

Ternyata betapa mengenaskannya negeri ini di masa depan. Orang-orang kembali seperti zaman purbakala yang harus terus menerus nomaden agar dapat bertahan hidup.

“Saya turut berduka.” Byan mencoba berempati.

***

Sang raja siang sepertinya sedikit mengasihani mereka. Panas teriknya sedikit menurun. Mungkin memang karena sudah petang.

Di dalam tenda, Byan kembali memikirkan nasibnya. Apakah ia bisa kembali ke kehidupan normalnya? Berkumpul dengan keluarganya di kampung atau kembali menempuh pendidikan S-2 bersama kekasihnya, Jessi. Semoga saja nasib baik memihak dirinya untuk pulang.

Di tengah aktivitas otaknya, dari luar terdengar kegaduhan yang memecahkan lamunan Byan. Ketika dilihatnya, Pak Tua sedang bertarung dengan segerombolan orang yang berpakaian serba hitam.

“Cepat lari, Nak. Bawa Inaq pergi!” Titah Pak Tua di sela-sela pertarungannya.

Kemudian kedua anak lelaki dan istrinya lari penuh ketakutan. Namun rasanya Byan tak tega melihat Pak Tua bertarung sendirian. Akhirnya ia ikut membantunya.

“Hati-hati, Nak! Mereka tak segan membunuh mangsanya.” Pak Tua memberi peringatan.

Dari belakang, seorang dari mereka mendaratkan mata sumpit di pundak Pak Tua. Selang beberapa detik mendarat pula di lengan kanan Byan. Mereka berdua tersungkur ke tanah dan tak sadarkan diri.

Beberapa menit kemudian mereka kembali sadar. Sepertinya kali ini nasib mereka cukup baik. Sumpit tadi tak mengandung racun yang mematikan.

“Sebenarnya mereka siapa? Mau apa?” Tanya Byan.

Rambo. Mereka merampok untuk mencuri air. Lalu mereka jual ke para konglomerat dengan harga yang tinggi.” Pak Tua menjelaskan.

Sepertinya begitu berharga air di zaman ini. Sampai-sampai harus menyakiti bahkan membunuh orang untuk mendapatkan air. Sungguh miris.

Tiba-tiba kepala Byan kembali pusing. Matanya berkunang-kunang, lalu kembali pingsan.

***

Byan melihat dirinya sendiri terbaring tak berdaya di ruang ICU. Ternyata selama ini sukmanya terpisah dari tubuhnya, koma. Banyak sekali peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Ia tak tega melihat tubuhnya seperti itu. Apakah ia harus kembali ke tubuhnya atau pergi saja? Tapi sepertinya ia masih diberikan kesempatan hidup dari Tuhan. Walau akan penuh derita, ia harus menerimanya. Dan juga perjalanannya ke masa depan membuatnya sadar betapa pentingnya menjaga bumi ini.

Sukma Byan telah kembali menyatu dengan tubuhnya. Ia merasakan sakit luar biasa. Kepala, tangan, dan kakinya dibalut kain kasa. Tubuhnya terasa remuk. Perlahan ia membuka mata. Dilihatnya seorang wanita yang selama ini ia rindukan berada di sampingnya, sang ibu.

“Ibu…” ucap Byan terbata-bata.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga, Nak.” Ujar sang ibu sambil memeluk Byan yang terbaring tak berdaya. “Ibu khawatir banget sama kamu. Kamu udah seminggu koma. Tapi tadi dokter manggil ibu kalau kamu udah mulai sadar. Ibu seneng banget.”

***

Sudah sebulan Byan masih di kursi roda. Wulan, sang adik selalu setia menemani hari-harinya. Wulan tak beda jauh usianya dari Byan, hanya beda lima tahun di bawahnya.

Kini mereka berdua berada di sebuah taman yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Di sini Byan bisa menghirup udara sejuk dan melihat sebuah danau buatan yang dinamakan Situ Cihaur. Danau ini tak begitu luas. Tapi ini menjadi salah satu obyek wisata kebanggaan Desa Cihaur.

“Lan, di masa depan mungkin kita gak bisa lihat keindahan ini lagi.” Ucap Byan memulai pembicaraan.

“Kenapa?” Tanya Wulan penuh heran.

“Bumi ini sakit. Tahu karena apa?”

Belum sempat Wulan menjawab, Byan malah menjawab pertanyaannya sendiri. “Karena kita, manusia yang hilang kesadaran untuk menjaga tempat tinggalnya. Tak berapa lama lagi Jakarta akan tenggelam kalau penduduknya masih bodoh. Mungkin Pulau Jawa pun akan sama nasibnya. Makanya jangan buang sampah sembarangan!”

“Dari mana kakak tahu kalau Pulau Jawa bakal tenggelam?” Tanya Wulan.

“Prediksi.” Jawab Byan singkat.

“Paling cuma nakut-nakutin.”

“Anak kecil emang suka ngeyel.” Sindir Byan.

“Aku bukan anak kecil, ya.” Wulan menyangkal tak terima. “Oke deh aku percaya, kakak yang sok ganteng.”

Kemudian mereka tertawa lepas. Keinginan Byan untuk kumpul bersama keluarga di kampung terkabul. Ternyata nasib baik masih memihak dirinya.

Setelah sembuh nanti, Byan akan mencoba mengajak masyarakat untuk selalu menjaga lingkungan. Terutama sebelum masa kemarau tiba segalanya harus dipersiapkan. Untuk menjaga stok pangan, para petani bisa menggunakan benih yang unggul agar hasilnya maksimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *