Cerpen #267; “Adaptasi Kebiasaan Baru”

Setelah izin satu hari, Rizal kembali masuk bertugas di Puskesmas Tinokalamo. Ombak laut memaksanya terkapar pasca kunjungan pemeriksaan kesehatan di desa Waikey. Dari semua staff puskesmas, mereka setuju bahwa seharusnya kunjungan ke desa melalui jalur laut selama bulan Agustus – Desember adalah hal yang sangat menyenangkan. Biasanya di bulan itulah laut terasa sangat tenang dan ketika pulang dari kunjungan bisa singgah sejenak untuk sekedar makan siang di pulau kecil nan indah bernama Pas Nui yang tak berpenghuni.

Tapi kondisi berubah sejak 10 Tahun belakangan, Rais seorang motoris bodi –perahu motor- dari desa Tinokalamo yang juga bertempat tinggal sama dengan Rizal harus selalu kebingungan ketika menentukan jadwal melaut atau tidak karena kondisi lautan yang akhir-akhir ini sulit untuk ditebak. Rais bukan hanya nelayan, ia juga seorang ojek bodi panggilan. Tapi sekarang Rais lebih sering berperan menjadi ojek bodi. Ketimbang nelayan yang harus ke tengah lautan.

Hari itu waktu menunjukan pukul 12.30 WIT. Rizal yang baru saja selesai menunaikan sembahyang dzuhur di Masjid kembali bergegas menuju puskesmas. Tak sengaja ketika jalan kaki ia bertemu dengan Rais. “Kau tau melaut? Mau makan apa kau tak melaut?” begitu sapaan akrab Rizal pada Rais. “Aku baru pulang dari kebun membantu isteriku. Biarlah sejenak beberapa hari ini aku menjadi kambing dulu, bukankah sayur itu sehat, pak dokter? Hahaha” Begitu balas Rais.

“Hati-hati kau ditenggelamkan oleh seorang mantan Menteri Hahahaha” Begitu Rizal bercana kepada Rais. “Mau makan ikan pun tetap tenggelam kalau laut tiap hari badai, pak dokter” Rais berusaha menjelaskan kondisi laut akhir-akhir ini. “Biasanya bulan Agustus – Desember itu musim timur dan laut depan pulau biasanya teduh. Entah kenapa beberapa tahun ini di bulan Agustus – Desember masih saja berombak. Tak apalah ikan kami ganti dengan kasbi. Sama-sama kenyang”.

Rizal yang kebetulan malam ini akan merayakan ulang tahun ibunya mengajak Rais untuk hadir “Kalau begitu nanti abis maghrib datanglah ke rumahku. Ibuku di Jakarta hari ini merayakan ulang tahunnya. Aku juga ingin buat pesta untuknya disini hahaa”

Rais tak mau menyiakan kesempatan itu “Okeey kalau begitu, akan ku ajak isteriku bisa, dokter?” Rizal mengiyakan lalu menjawab “Yaaa bukankah itu tujuan kalian menikah: saling menemani”

Sambil berjalan sendirian menuju puskesmas, Rizal tertarik dengan ucapan Rais tentang musim timur yang seharusnya membuat laut menjadi lebih tenang. Apa yang dikhawatirkan oleh Rais tentang musim timur yang sedang sulit diprediksi terjadi pada Rizal ketika ia dan timnya pergi kunjungan ke Desa Waikey dua hari yang lalu.

Satu hari sebelum berangkat Rizal menemui Yoko untuk memastikan kesediannya mengantarkan mereka menggunakan bodi. “Bagaimana dengan kondisi laut sekarang ini?” begitu tanya Rizal. “Kalau bulan-bulan begini aman, pak dokter. Sedang musim timur ini”. begitu Yoko berusaha meyakinkan.

Rizal tak marah dengan prediksi Yoko yang tak akurat. Ia hanya bingung “Kenapa pengetahuan teknik perhitungan cuaca yang diwariskan para tetua kampung Tinokalamo tentang cuaca laut berdasarkan gerak bulan tidak lagi berlaku?” begitu tanyanya dalam alam pikirnya. Padahal teknik membaca cauca laut berdasarkan pergerakan bulan sudah digunakan pelaut dari negeri rempah-rempah menuju Batavia.  “Apakah teknik membaca cuaca tersebut akan senasib dengan teori trickle down effect?” itulah pertanyaan terakhir dalam kepalanya.

Rizal tiba di Puskesmas. Hari ini tak terlalu banyak pasien yang datang untuk berobat. Hanya 7 orang saja. Maklum masyarakat disana lebih senang berobat pada dukun kampung yang entah dengan metode apa dan bagaimana mereka menyembuhkan pasiennya. Namun, ketika sakit dirasa tak membaik dan menjadi semakin parah barulah mereka pergi ke puskesmas. Kondisi ini yang membuat kesehatan sulit tertolong karena tak sempat mencegah kondisi menjadi lebih parah.

Moment yang paling disukai oleh Rizal ketika ada waktu luang adalah berdiskusi dengan rekan sejawatnya yang juga bertugas di Puskesmas Tinokalamo. Widowati. Seorang putri daerah. Ibunya asli dari Jawa, ayahnya nelayan asli dari negeri rempah. Mereka berdua bertemu saat Ibunya yang masih muda senang bepergian mencari kerja.

Ia baru 2 tahun kembali dari perantauan setelah menyelesaikan perkuliahannya. Setelah lulus, ia langsung bertugas sebagai perawat honorer di Puskesmas Tinokalamo. Widowati lain daripada yang lain. Cantik adalah hakikat semua perempuan, namun pengetahuan dan kebijaksanaan adalah milik mereka yang terus mencari kebenaran. Begitulah Widowati.

Kapan terkahir ayah pergi melaut mencari ikan? Rizal mengawali pembicaraan. “Dulu, ayah selalu bilang “nanti” jika ditanya kapan berhenti melaut. Tapi semenjak kejadian 10 tahun lalu nampaknya jawaban itu tak lagi keluar. Kenyataan pahit harus ayah terima ketika Arsan adik iparnya harus hilang ditengah laut dan adik kandungnya resmi menjadi janda juga anak yang dikandungnya menjadi yatim” Widowati melanjutkan “Ayah bilang memang pada waktu itu cuaca di laut lebih sulit untuk diprediksi dari sebelum-sebelumnya. Ayah selalu cuti sekitar 3 hari di moment “bulan baru” karena pada saat itu ombak akan lebih besar tak perduli itu musim barat atau musim timur. Ketika bulan baru sudah lewat, ayah tak ragu turun ke laut apalagi kalau musim timur yangmana laut cenderung lebih tenang”.

“Kenapa ayah tiba-tiba dibuat ragu dengan ombak?” Rizal penasaran. “Ayah bukan ragu apalagi takut dengan ombak. Lebih dari itu, kejadian tersebut membuat ayah trauma dan tak mau lagi kehilangan orang yang ia kasihi. Arsan adalah orang yang ayah percayakan untuk menjaga adiknya pasca kakek dan nenekku tiada. Kakek dan Nenekku meninggal ketika ayah dan adiknya masih muda”. Widowati sangat menghayati apa yang ia ucapkan.

Rizal lanjut bertanya “Kalaulah semua yang ada di bumi ini diciptakan dengan seimbang, kenapa bisa kondisi laut berubah keluar dari siklusnya?”

Widowati menyambar “Itu dia, pasti ada hal yang membuatnya tak lagi seimbang. Apakah dokter berani memberikan antibiotik dengan dosis lebih kepada pasien? Pasti tidak. Karena justru akan menghancurkan bakteri yang sebenarnya dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Itulah kurang lebih yang terjadi di dunia ini sekarang” Widowati melanjutkan “Manusia dengan gagah berani secara berlebihan mengambil apa yang tersedia dari alam. Pohon yang tersedia untuk menghasilkan oksigen dan menjaga suhu bumi malah dibabat habis untuk membongkar isi perut bumi, Industri terus berpacu 24 jam dalam 1 hari bukan hanya memproduksi barang kebutuhan pasar tapi juga memproduksi limbah dan carbon. Pada saat ini bukan hanya dengan alam kita berdampingan hidup, tapi bertambah satu anggota yakni limbah yang dikeluarkan dan menjadi berdampingan dengan manusia saat ini. Namun, sayang kehadirannya justru mengancam generasi yang akan datang”. Widowati berbicara dengan sangat menggebu-gebu.

“Apalagi kira-kira yang akan terjadi?” tanya Rizal “Entahlah. Yang pasti aku tak mau menunggu sampai semuanya semakin parah” Jawab Widowati. Rizal sadar hari itu ia harus mengunjungi pasiennya yang anak-anak. Ia adalah 7 anak yang bernasib sial. Harus lahir di masa saat pulau Baicara sedang krisis pangan akibat hasil laut yang tak lagi bisa diandalkan. Nelayan lebih sering pulang dengan tangan hampa akibat dihadang oleh ombak. Kondisi diperparah karena kedua orang tua mereka kesulitan membeli bahan pangan di pasar yang harganya lebih tinggi dari biasanya karena harus menanggung ongkos distribusi.

Rumah mereka terletak di dua desa yang berbeda. 3 anak di desa Waikalano 4 lainnya di Kalamahupa. Semuanya searah jika berangkat dari Tinokalamo dan Kalamahupa adalah desa yang paling jauh. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di Waikalano dan 20 menit menuju Kalamahupa dari Waikalano.

 “Sudah kau siapkan semua perlengkapan dan kebutuhan untuk anak gizi buruk minggu ini?” Tanya Rizal. “Sudah semua, tinggal jalan. Kita pakai ambulance puskesmas”. Jawab Widowati. “Mari kalau begitu, agar tak terlalu malam” ajak Rizal.

Mereka berdua bergegas berangkat. Rizal mengemudi di jalan aspal batu krikil yang sudah mengelupas. Tentu saja mobil tak bisa dipacu dengan laju. Tapi justru karena itulah mereka punya kesempatan untuk lanjut berdiskusi.

“Dokter kan baru tiga bulan disini, tau tidak kalau dokter afdan yang 8 tahun lalu bertugas disini dan tinggal disebelah rumahku tidak disibukan dengan program penanganan gizi buruk?” Widowati mengawali pembicaraan. “Apakah tidak ada programnya” Tanya Rizal. “Yaaaa betul. Dulu tak ada program penanganan gizi buruk, karena memang di kecamatan ini tidak ada yang menderita gizi buruk”. Begitu Widowati menyambar pertanyaan Rizal.

“Dokter kira aku bisa sampai kuliah di tanah Batavia hanya karena uang? Bukan itu saja tapi konsumsi pangan juga mempengaruhi pertumbuhan fisik dan otak manusia untuk berpikir. Ke arah timur kami dihadapkan pada laut, disana ada banyak ikan yang bisa dimakan. Ke arah barat kami dihidanpkan hamparan hutan yang menyediakan tanah subur dan bahan pangannya” Wodowati menjelaskan.

“Lalu apa yang terjadi pada tujuh anak itu” Rizal menyambarnya dengan pertanyaan “Ini adalah sebuah proses yang panjang. Aku tidak tau masyarakat pulau ini melakukan kesalahan apa. Tapi semua yang dulu ada disini sekarang mulai hilang, entah kemana itu semua pergi”. Widowati menjawab, lalu melanjutkan “Ini semua seperti menjatuhkan domino yang disusun berdiri secara berjajar. Diawali dari kondisi geografis pulau kecil yang letaknya jauh dari pulau-pulau besar mempersulit distribusi barang, lalu disambut dengan susahnya kondisi laut yang berubah secara mendadak.”

“Bagaimana hubungannya itu semua dengan realitas ini?” Rizal nampak kebingungan. Widowati tak ragu untuk menjelaskan “Biar ku uraikan! Pulau ini letaknya jauh dari Ibukota provinsi, harus ditempuh dengan perjalanan laut selama 24 jam dengan satu kali transit. Hal tersebut berdampak pada harga-harga barang pakai dan konsumsi yang dibutuhkan masyarakat seperti pakaian, beras, susu dan lain-lain. Tapi semua itu tak jadi masalah karena hasil bumi disini masih cukup melimpah. Hasil bumi bisa kita jual dan kita olah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Seperti ikan, minyak kelapa, rempah, buah-buahan, dan sayur-sayuran”.

Rizal menjawab “Itu terdengar bagus”. Widowati lanjut menjelaskan “Ya tapi itu belum selesai. Beberapa tahun terakhir musim hujan menjadi lebih panjang. Turus hujan setiap hari dan sepanjang hari juga terus menyirami tanaman. Tanaman justru menjadi gagal panen karena terlalu basah. Bahkan busuk sejak di pohon. Pernah pada saat itu kami mencoba sebuah cara baru. Cara alternatif yang disarankan pejabat lokal. Kami disuruh mengumpulkan bahan apapun yang mudah dibakar lalu disimpan di atas ladang lalu dibakar” Rizal merasa penasaran dan bertanya “mengapa demikian?” Widowati melanjutkan “Agar tanah menjadi kering dan panas karena bibit pohon yang sudah disemai oleh petani desa adalah pohon yang baru bisa ditanam ketika musim kemarau. Dan pada saat itu seharusnya sudah masuk musim kemarau tapi entah kenapa hujan lebat masih turun. Namun cara itu masih tidak bisa membantu. Esok harinya hujan turun terus menerus, bibit yang sudah ditanam akhirnya harus mati”.

Sejak itulah hasil panen menurun. Karena hasil panen yang menurun kapal pengangkut hasil pertanian milik para juragan di kota enggan mendatangi pulau ini lagi. Mereka beranggapan jika singgah di pulau ini hanya akan memberatkan ongkos bahan bakar kapal karena hasil panen sedikit. Jika memaksakan datang kesini mengambil hasil panen, para pengangkut tersebut harus menaikkan harga jual lagi di pasaran agar bisa balik modal. Dan jelas para konsumen di pasar tak suka dengan kenaikan harga”.

“Pasar terdengar jahat” Rizal menyambut. Widowati masih semangat bercerita “Masih belum selesai. Masyarakat dengan hasil panennya yang sedikt menjadi kehilangan akses menuju pasar. Mereka tak mampu menjual hasil panennya. Yang terjadi adalah penumpukan hasil panen yang sedikit itu tadi di rumah mereka masing-masing hingga akhirnya membusuk. Kampung ini tak tahu apa itu teknologi pengawetan buah-buahan atau sayuran. Akhirnya mereka kesulitan mendapatkan uang sebagai alat jual-beli. Kesulitan semakin bertambah ketika laut sedang tidak bersahabat. Para nelayan lebih sering pulang dengan tangan hampa. Dari laut kita tidak mendapatkan makanan. Lengkap sudah, darat dan laut tak memberikan kita apapun. Sejak saat itu masyarakat mulai kesulitan memperoleh pangan dari alam, juga tak lagi mampu membeli pangan di pasar karena uang tak lagi mereka dapatkan dari penjualan hasil panen yang tak diminati. Mereka mati perlahan karena dibunuh, oleh mereka yang menyebabkan perubahan tak terduga ini”.

“Simpan dulu ceritamu itu, siapkan barang keperluan pemeriksaan. Kita sudah sampai di Waikalano. Jangan lupa masker dan sarung tanganmu!” Rizal mengingatkan walau sebenarnya ia masih penasaran dengan lanjutan pengamatan Widowati atas apa yang terjadi di pulau Baicara.

Pemeriksaan tidak berjalan dengan lama. Hanya mengukur berat badan, tinggi badan yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatannya dan melakukan pemberian makanan tambahan untuk persediaan selama satu minggu. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Kalamahupa. Hujan rintik menemani perjalanan mereka berdua. Bersyukur ini bukan jalan tanah seperti saat menuju desa Minaluli.

Butuh waktu 30 menit untuk bisa menjangkau desa Kalamahupa. Di perjalanan, mereka berdua lebih disibukan dengan memperhatikan jalan sekitar mengingat sebelah kiri dan kanan jalan adalah pepohonan. Pernah ada seorang pedagang dari desa Kalamahupa yang gagal menuju ke pelabuhan yang terletak di desa Tinakoa karena terhalang pohon yang tumbang.

Pemeriksaan di Kalamahupa juga tidak terlalu lama. Prosesnya sama seperti di Waikalano. Begitu selesai mereka langsung bergegas kembali menuju Tinokalamo. Sebelum pulang, Rizal dan Widowati menyempatkan untuk semabhyang ashari di Masjid desa Kalamahupa.

“Ini sudah yang ketujuh kalinya yaa dok melakukan pemberian makanan tambahan untuk mereka yang Gizi Buruk?” tanya Widowati. “Yaaaap betul” Jawab Rizal. “Kasihan mereka sudah lama gizi buruk begitu tapi baru 7 minggu dapat perawatan sejak program pertama kali disetujui untuk didanai. Penderitaan mereka bertambah karena sistem. Boleh dok kalau aku menyebut ini dengan “penderitaan struktural”? Penderitaan yang disebabkan oleh sistem birokrasi yang tidak peka terhadap kesulitan dan penderitaan masyarakat. Untuk memulai penanganan gizi buruk saja harus menunggu awal tahun karena harus merubah struktur anggaran”.

“Tapi kondisi mereka itu belum terlalu buruk. Masih bisa ditangani” Rizal membalas. “Haaay dok? Siapa orang mau menderita? Bukan kah negara ada untuk berjanji mensejahterakan masyarakat? Puncak dari birokrasi adalah kesejahteraan, karena birokrasi adalah  cara menjalankan negara, bagaimana negara dijalankan. Apakah sudah efektif atau belum. Apakah negara dijalankan menuju cita-cita bersama atau tidak. Para birokrat harus bisa menjawab itu semua!” Widowati nampak geram dengan pertanyaan singkat Rizal.

“Maaf, pertanyaanku nampaknya kasar” Rizal nampak menyesal dengan pertanyaannya. Perjalanan menjadi sepi, mereka fokus dengan apa yang ada di dalam pikiran mereka sendiri. Waktu menunjukan pukul 17.00 WIT tibalah mereka di Puskesmas Tinokalamo. Rizal menyimpan mobil ambulance dan menaruh peralatan pemeriksaan dibantu oleh Widowati.

Ketika semua sudah dibereskan dan mereka akan berpisah, Rizal tak lupa mengundang Widowati untuk hadir dalam pesta perayaan ulang tahun ibunya yang ia buat sendiri. “Datanglah ke rumahku selesai maghrib. Aku membuat acara ulang tahun untuk Ibuku di Batavia sana. Aku juga sudah mengundang Rais, Ratna, Yatmi, dan Sami”. Widowati nampak tak ragu dengan ajakannya “Ohh baiklah. Aku akan datang”.

Rizal bergegas pulang karena ia masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan acara sederhana peringatan ulang tahun Ibunya. Mandi, membereskan rumah dinasnya, dan yang paling penting adalah mempersiapkan hidangan untuk acara tersebut. Jarak rumah dinas dan Puskesmas tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu 7 menit dengan jalan kaki untuk bisa sampai.

Sesampainya di depan rumah dinas ternyata sudah ada Ibu Samsiar. Rizal tersenyum bertemu dengan Ibu Samsiar. Kedatangan Ibu Samsiar di rumah dinas Rizal pertanda bahwa acara siap siap digelar karena kepada Ibu Samsiar-lah Rizal memesan makanan dari Ikan dengan masakan khas orang Tinokalamo.

Rizal tersenyum sambil berjalan ke arah Ibu samsiar lalu berkata “Ibu nanti sudah maghrib juga jangan lupa datang. Kita makan bersama!”. Dengan penuh keragu-raguan dan rasa takut, Ibu samsiar membalas “Ini pak dokter sebenarnya bapak tidak dapat ikan dua hari ini. Sejak pak dokter memesan ikan, bapak langsung turun ke laut tapi tak juga ikan didapat. Ombak terlalu besar, bapak tidak bisa mencari ikan sampai ke selat jika hanya menggunakan koli-koli. Musim begini ikan lebih susah dicari, dok. Maaf”.

Rizal menatap Ibu Samsiar dengan mata kosong. Ia kaget. Kaget karena tak mendapat ikan untuk moment yang cukup penting ini. Sekaligus ia juga bingung kenapa bisa ini juga menimpa pada dirinya. Dalam hati ia bicara “Sekarang aku sudah satu nasib dengan Rais, dan tujuh anak gizi buruk itu”. Kepada Ibu Samsiar ia berkata “Baiklah bu kalau begitu. Tidak apa-apa. Tadi juga ngobrol dengan Rais ia juga tak mendapat ikan”.

Ibu Samsiar yang tidak mau Rizal kecewa memberikannya sedikit hasil masakannya “Maaf, dok maaf sekali. Kalau begitu ini dok kami ada masak sayur kangkung. Lumayan kalau hanya untuk makan pak dokter malam ini semoga cukup. Makanlah ini dok sebagai ucapan maaf dari kami”. Rizal menerimanya “Iyaaa bu terimakasih banyak” lalu Rizal memberikan uang kepada Ibu Samsiar “Simpanlah ini juga untuk ibu. Semoga cukup”. Namun, Ibu Samsiar tak mau menerimanya. Ia pun menjawab “Tidak perlu dok. Itu sayur kami dapatkan dari kebun jadi tak perlu dibeli biar saja untuk pak dokter”. Lalu Ibu Samsiar berpamitan pulang.

Dengan kondisi yang demikian mau tak mau rizal langsung menghubungi beberapa rekannya yang sudah ia undang. Bersyukur tak terlalu banyak yang ia undang sehingga tak terlalu banyak juga orang yang harus kecewa. Karena jaringan telpon masih sulit maka butuh upaya terus menerus untuk bisa menghubungi mereka via telpon.

Ratna menyatakan tak keberatan dengan pembatalan acara tersebut. Begitu pula dengan Yatmi. Lain cerita dengan Sami. Ketika ngobrol dengan Sami, Rizal merasa bersalah karena ternyata Sami sudah menolak acara undangan rekannya di desa Waikalano demi datang ke undangan acara Rizal. Bersyukur, Sami bisa memahami masalah yang menghampiri Rizal.

Beberapa kali Rizal menghubungi Widowati ternyata tak langsung diangkat. Setelah percobaan keenam barulah telpon tersebut terjawab “Yaaaap bagaimana, dok” tanya Widowati dalam telpon. “Begini, aku harus mengucapkan maaf, nampaknya acara peringatan ulang tahun Ibuku harus dibatalkan. Tadi Ibu Samsiar datang dan memberi kabar ternyata suaminya tak dapat ikan selama 2 hari berturut-turut ini”. Widowati menjawab “Begitu nampaknya. Tenang dok ini bukan salahmu. Tak perlulah repot minta maaf. Juga bukan salah siapapun orang di pulau ini”.

Rizal pun menjawab “Yaaa memang akupun sedang tidak mencari siapa yang salah disini”. Widowati menyambar lalu menjawab “Tidak, dok. Kita harus cari siapa yang bersalah atas semua ini dan siapa yang harus bertanggungjawab atas ini semua. Dokter kira ini semua terjadi begitu saja karena alam yang inginkan? Alam tak sejahat itu! Hutan dan Laut adalah temaku bermain semasa kecil tak mungkin mereka melakukan kejahatan ini. Kita harus mencari siapa yang bersalah. Siapa yang sudah mencuri ini semua. Menghilangkan ikan yang ada di perairan ini, menghilangkan ketenangan laut sekitar pulau, menghilangkan kesehatan anak-anak pulau Baicara! Kita harus cari! Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyadarkannya bahwa apa yang ia lakukan menyebabkan semuanya tidak baik-baik saja”.

Bahkan di dalam telponpun Widowati terus menyambar seolah ia tak terima dengan kondisi ini. Ia tetap melanjutkan percakapannya “kita tak melakukan kejahatan apapun di pulau ini tapi kenapa kita yang harus menanggung semua ini? Anak-anak disini tak lagi bermain di laut, anak-anak disini tak lagi mudah makan ikan, anak-anak disini tak lagi mudah makan sayuran lalu mereka harus menderita gizi buruk. Pulauku tempatku lahir terancam, generasi penerusku yang berada di pulau ini terancam. Apakah kami akan dibiarkan mati begini? Batavia sekarang sudah rapuh, beredar wacana Ibukota akan dipindahkan ke tanah Borneo. Butuh berapa ribu hektar hutan nanti yang akan ditumpas? Kira-kira akan seperti apalagi gejala alam yang akan kami rasakan disini?”

Rizal merasa bersalah dengan apa yang didengar dari Widowati. Ia berkata “Hei sabar, pasti ada jalan untuk ini semua. Kita bisa datangi pemerintah lokal dan meminta perhatian mereka. Tenang pasti ada jalan”.

Widowati menjawab “Dokter ini sekarang lebih terdengar seperti seorang motivator ketimbang, dokter. Dok, sebagai seorang tenaga kesehatan aku bukan hanya berusaha untuk menyembuhkan. Tapi juga berusaha untuk mencegah agar mereka tidak sakit. Itulah juga yang seharusnya kita upayakan. Lebih baik dokter sekarang bergegas bersiap ibadah sembahyang maghrib. Setelah selesai sembahyang nanti jangan lupa renungkanlah apakah semua agama yang menjadi salah satu sumber nilai kehidupan umat manusia bisa menjadi solusi atas kerusakan alam ini? Jangan sampai indahnya surga menutup mata kita akan realitas kehidupan di dunia yang juga harus kita rawat karena dunia juga ciptaan Tuhan”.

Rizal terkaget mendengarnya “Kau nampak seperti pemberontak. Tapi yang kau ucapkan layak direungkan. Kau istirahatlah, agar tenang”. Rizal lalu menutup telponnya. Rizal tak langsung menelpon Rais. ia berdiri sejenak memikirkan apa yang Widowati ucapkan. Orang sini tak membongkar perut bumi, juga tidak menggunduli hutan yang menyebabkan suhu bumi menjadi panas. Tapi mereka harus menderita atas gejala alam yang disebabkan atas itu semua. Generasi masa depan di pulau Baicara terancam krisis pangan, dan kelaparan.

Tak bisa dipungkiri sambil memikirkan apa yang diucapkan oleh Widowati, Rizal merasakan sedih yang mendalam. Ia juga sadar banyak perusahaan yang berpusat di Batavia sana yang melakukan eksplorasi sumber daya alam besar-besaran yang menyebabkan alam menjadi tak lagi seimbang.

Sambil merasakan sedih, Rizal menelpon Rais dan memberitahukan bahwa acara dibatalkan “Rais, tak ada maksudku membohongimu atas ajakanku tadi siang. Tapi maaf dariku. Nampaknya aku harus membatalkan acara peringatan ulang tahun ibuku. Tak perlulah kau datang ke rumahku selepas maghrib. Sama seperti yang kau alami. Pak Marwan, suami Ibu Samsiar kepadanya aku memesan ikan tapi ia tak mendapatkan ikan selama dua hari berturut-turut sejak aku memesan ikan”. Rais nampaknya tak merasa keberatan “Baiklah kalau begitu tidak apa-apa”. Rizal pun langsung mematikan telpon.

Beberapa saat setelah sembahyang Maghrib ada yang mengetuk rumah dinas Rizal. Ia pun bergegas membukakan pintu. “Ohh ternyata kau Rais. Mari masuk, duduklah biar ku ambilkan minum”. Rais menolak “Aduh tak perlulah repot-repot aku baru saja makan malam tadi di rumah. Lagi pula aku tak lama disini, aku hanya membawakan ini sedikit ikan-ikan kecil yang aku dapatkan tadi sore saat memancing di depan pulau. Lamayan kalau untuk sekali makan masih bisa ini. Dokter pasti belum makan, kan?”

Rizal merasa tidak enak kepad Rais “Heii Rais. Kenapa kau lakukan ini? Tak perlulah repot-repot!” Rais menjawab “heii tenang saja. Situasi sedang sulit begini kita harus saling bantu agar beban terasa tidak semakin berat. Hanya dengan saling membantu masalah menjadi ringan. Itu yang membuat kami bisa bertahan sampai saat ini ditengah kondisi yang sulit ini. Semoga semua ini akan segera berlalu, dok. Kalau begitu aku pamit. Selamat istirahat yaa, dok. Jangan lupa dihabiskan ikannya!” Rizal merasa sangat bersyukur “Rais terimakasih kasih banyak!”

Sembari berjalan ke arah pintu bersama Rizal, Rais berkata “nampaknya kita harus beradaptasi kebiasaan baru dengan kondisi seperti ini. Aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Tapi mau tak mau kami harus merasakan dan melaluinya. Kita harus beradaptasi!”

Rizal merenung dengan ajakan Rais untuk beradaptasi. Namun, nampaknya ia tak setuju dengan usulan itu “Jangan Rais, jangan beradaptasi. Kita harus bersuara, melawan agar kondisi tak semakin parah. Kita tak boleh kalah! Tak boleh lagi ada korban!”

—————————— SELESAI ——————————

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *