Cerpen #265; “Siapa yang Akan Mati Seratus Tahun Lagi?”

“Hai. Namaku Lam. Seorang pemuda manusia luar biasa, haha. Boleh tolong isi kuesioner ini? Menurutmu, siapa yang akan mati seratus tahun lagi, apakah Bumi, atau—“

Sebuah tempat pensil kubus melayang, membentur kepalaku telak. Sontak menghentikan perkataanku juga.

“Untuk yang ke-21 kalinya, Lam, seriuslah banyak-banyak—ya, aku kapok membujukmu dengan seriuslah sedikit.”

Aku menggerutu—diam-diam, tentu. Lantas membalikkan badan demi menghadap langsung raut berkerut Mawara, yang cocok seratus persen dengan bayanganku bahkan ketika baru mendengar suaranya tadi. “Wah, aku tersanjung kau mau repot-repot beradaptasi demi menyadari betapa aku tidak ditakdirkan mendapat tugas lapangan,” kataku datar.

Meski bergeming melipat kaki di atas sebelah kakinya pada lengan sofa, netra ungu lembut Mawara yang tidak ada lembut-lembutnya sama sekali itu mempertajam kilat sengitnya padaku—lalu ia mengganti pandang menjadi tuntutan pertanggungjawaban kepada sosok yang duduk dengan benar di sisa sofa belakangnya. “Ar, ayo jual jantung Lam ke pasar gelap untuk dibelikan ransum kita setahun penuh.”

“Hei, biasanya orang itu jual satu ginjal dulu—“

“Bersabarlah, Mawara.” Ar menyahut, mengabaikan selaan dariku. Si pemuda yang kukasihani karena selalu terjebak di antara perang dinginku dengan Mawara, membolak-balik kertas digitalnya yang mengawang sebagai hologram dari arlojinya. Bibirnya menyengirkan senyum—tanpa kesan menertawakan—alih-alih berusaha menahan diri untuk tidak mendebas keras-keras. “Kau tahu, percobaan dua puluh satu kali ini bukan berarti sia-sia. Ini perkembangan terbaik, dari percobaan sebelumnya yang parah—Lam bahkan mengeja aksinya seperti robot, hai—kulambaikan tangan, aku Lam—kuulurkan tangan, seorang pemuda manusia luar biasa, haha—aku tertawa, sebagai tanda aku bergurau, padahal tidak—“

“Cukup,” potong Mawara, tidak tahan dengan pengulangan sesi latihan dialog terburuk yang kubintangi. “Aku tidak peduli dengan perkembangan semungil apa pun yang kau hitungkan untuk Lam. Intinya, apa kau masih mau melanjutkan latihannya sampai genap seratus kali sebelum memutuskan Lam tukar tugas atau tidak?”

Aku tersenyum culas, mengulangi persuasiku selagi motivasi mereka terjun bebas. “Hei, dengar. Aku punya solusi indah untuk akhir yang bahagia selama-lamanya. Langsung saja tukar tugasku. Oke?”

Mawara mengembalikan kilat sengit di matanya kepadaku, tetapi ia terlambat membungkam kalimatku yang baru saja rampung. Beruntung dia tidak punya banyak tempat pensil—yang entah isinya benar-benar alat tulis atau tidak—atau gadis yang merupakan sosok terkuat di antara kami bertiga itu dipastikan sudah melubangi kepalaku beberapa detik lalu, dengan bombardir tempat pensil kubus.

“Kalau begitu—“

Kalau begitu cepat kau memutuskan untuk memanjakan Lam lagi, Ar, aku bersumpah—“

“Mawara, tidak boleh sembarangan bersumpah—“

Sumpah, itukah fokusmu saat ini, Ar?”

Sesuai ekspetasi, Mawara dan Ar memulai satu lagi sesi debat rumah tangga mereka—di mana Mawara tak pernah menaikkan nada, tetapi terus meluncurkan kata-kata setajam kilat matanya, sementara Ar terus meladeni dengan argumennya sendiri, tanpa melepas cengiran miring yang melekat terlalu khas padanya sebagai sosok yang paling punya hati di antara kami bertiga. Sayangnya, aku yang hanya remah roti ini sudah terlalu sering menontoni debat mereka. Jadi, kuikuti saja dorongan kebiasaan untuk mengobservasi detail ruangan yang sedang kutempati.

Ah. Tidak jadi. Mataku sama bosannya mengamati sudut terkecil ruangan ini seperti telingaku yang terus menjadi pendengar setia debat kedua manusia luar biasa itu—yang sayangnya sangat pantas kusebut sebagai teman. Nah, tidak percaya? Biar kudiktekan; anggaplah ruangan ini adalah ruang temu—ya, bukan tamu—minimalis sebagai ruang publik kami bertiga yang beruntung masih bisa mengklaim privasi kamar pribadi sendiri-sendiri, di sepetak rumah sewa lapuk nan terkucil ini. Ada dua sofa buluk berukuran sedang yang berhadapan sebagai pusat ruangan, sebuah konter bersudut yang menandakan fungsinya sebagai dapur dengan dua penjentik kompor, wastafel dan kran berakses jatah air bersih persewaan, juga sederet alat masak paling standar yang digantung berjejer pada dinding bata semen yang tidak repot-repot dilapisi cat. Lantai yang tadi kupijak dan kini kuduki bersilang kaki nan damai hampir sama menyedihkannya—ubin kayu yang sebenarnya berkualitas bagus, tetapi sudah terlalu tua tanpa perawatan sehingga kualitasnya menurun drastis.

Ya, sekian. Kubuka kedua mataku lagi, menolehkan kepala ke sekitar—mengoreksi apakah dikteku dalam hati barusan sudah tepat. Sekian detik memutar kepala hampir tiga ratus enam puluh derajat, aku dengan bangga mengumumkan sekali lagi kecermatan geniusku merekonstruksi detail ruangan lewat ingatan. Meski ini hanya salah satu tempat tinggal sewaan yang cepat atau lambat kami akan angkat kaki darinya.

“Lam! Ya ampun, apa kau tidak mendengarkanku sedari tadi?”

“Tidak,” jawabku lugas. Sebelum Mawara bergerak menjungkirkan sofa untuk menjawab kejujuranku, aku bergegas menambahkan, “Hei, kalian tahu aku ini sudah lebih dari paham, bukan? Apa gunanya kudengarkan lagi?”

Ar, tidak mempermasalahkanku yang menulikan diri selama ia berusaha berbicara padaku sebelumnya, hanya membagi satu lembar kertas digitalnya ke arloji di tanganku. Membuat satu layar hologram sebesar telapak tangan berdenting melayang di depan hidungku. “Sekali lagi kuakui, kaulah yang paling genius di antara kita, Lam. Tetapi, kita tidak punya waktu lagi, tolong dengarkan apa saja. Sadari detail sekecil apa pun dan berikan padaku untuk kumasukkan dalam koleksi markas dataku. Kita masih punya banyak kunci yang harus dicari. Ya, kita pasti masih hidup melampaui seratus tahun lagi. Tetapi, bagaimana dengan Bumi, Lam?”

Aku membuang pandangan, menolak kesungguhan yang berkilat di netra biru kelam Ar. Selalu, aku membencinya—tidak, bukan mata Ar ataupun Mawara yang bersatu menghunjamku. Melainkan, apa yang disampaikan ketika mata seperti itu ditunjukkan mereka. “Ya—menurutmu, siapa yang akan mati seratus tahun lagi, apakah Bumi, atau umat manusia yang hampir abadi? Pertanyaan kuesioner yang hendak kita sebarkan itu adalah fragmen terdekat dengan kunci hilang kita yang paling krusial. Berapa banyak manusia yang peduli dengan sisa usia Bumi yang terus mereka kurangi, dan belum berhasil kita ketahui?”

Kudengar hela karbondioksida Mawara terembus panjang. Sisa usia Bumi—kunci hilang paling krusial kami—bahkan tidak bisa diketahuinya juga. Meski dengan banyak rancangan dugaan sekian skala dan diagram, faktor utama yang terlalu buram dan belum bisa dipetakan membuat segala perhitungan menjadi terlalu banyak bercabang untuk dibedah semuanya. “Lam.”

Alih-alih membiarkanku menghadapi sendiri permohonan dalam sepatah panggilan Mawara, Ar justru menyerobot cepat, tetapi lembut—dan aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan itu. “Tidak, Mawara, pertanyaan kuesioner rancangan Lam tidak seburuk itu, kok. Dalam hal ini, aku setuju untuk menggunakan satir yang menohok langsung.”

“Hanya karena nama kalian berdua sama-sama cuma satu suku kata, enak sekali, ya, kau terus memihaknya, Ar.”

Aku tersedak. “Kenapa justru namaku yang kau bawa-bawa?! Apa kau pikir aku bisa protes kepada ilmuwan sialan yang menyematkan nama-satu-suku-kata ini padaku? Lagipula, untuk mantan subjek penelitian seperti kita, apa, sih, pentingnya nama? Sana ubah namamu jadi Melatia!”

“Usia Bumi pasti berkurang sepuluh tahun lagi kalau mendengar debat kalian ini.” Ar menyengir garuk-garuk kepala, tidak peka bahwa dirinya ada di tengah-tengah badai. “Hei, kawan-kawan, sungguh. Bumi hanya punya kita, lho, tiga mantan subjek penelitian yang pasti masih hidup sampai melebihi seratus tahun lagi. Krisis iklim masih lanjut menggerogoti di saat kita berdebat begini. Ayo, damai, dan jadi penyelamat Bumi bersama, ya?”

Aku—yang berancang-ancang lompat ke konter dapur—dan Mawara—yang sudah mencengkram bagian bawah sofa—seketika berhenti. Mungkin, senyum sehangat mentari sebelum menjadi terlalu membakar akibat krisis iklim di wajah Ar itu hampir tidak berubah dari candaan tidak tahu tempatnya tadi. Tetapi, aku dan Mawara tahu, senyum itu baru saja membungkus nada paling serius dari seorang Ar. Serius dan penuh kesungguhan—bukan bibit kemarahan yang amat langka dimilikinya.

Namun, itulah dia. Satu-satunya alasan mengapa kami bertiga masih saling setia tanpa kehilangan. Adalah karena Lam dan Mawara menjadi tiga bersama Ar.

Pemuda yang profil suramnya—rambut hitam pekat, berponi lebat nan tebal, mata sayu biru kelam berjejak kantung mata gelap, efek samping insomnia akut dari percobaan dulu—sama sekali tidak cocok dengan perangai hangatnya itu, membuka kedua tangannya ke hadapan Mawara dan aku. Menggantungkannya di udara, menunggu.

“Ya.” Mawara langsung menyambut tangan Ar dengan anggukan mutlak, meski nada datarnya yang alami itu tidak juga naik atau turun.

Sekarang, pandangan keduanya bersatu menghunjamku lagi. Mematung salah tingkah sejenak, kualihkan dengan mendebas keras sembari memukulkan kepalan tanganku ke atas telapak tangan kiri Ar yang terbuka. Mawara terkekeh, menertawakanku yang masih saja canggung mengikuti suasana bersahabat. Ar menyengir kian lebar, mengeratkan genggamannya pada Mawara dan membungkus kepalan tanganku dengan jemarinya. Keduanya membuatku tak bisa berkutik, menyerah menolak dorongan dari diriku sendiri untuk ikut mengembangkan senyum. Oksigen mendadak terasa manis ketika kuhirup di antaranya.

“Kuikuti saja permainan kalian. Ayo, kawan-kawan, selamatkan umat manusia abad ini yang bodohnya tak tertolong lagi.”

***

Hell and high water—suhu naik membara dan lama saat musim panas, sementara banjir parah semakin sering saat musim hujan. Itu, sudah menjadi kenyataan, seberapa pun kalian berpura-pura tidak memerhatikannya. Kekeringan massal tinggal menghitung mundur saja, sementara satu pulau kebanggaan sebuah negeri baru genap tenggelam kemarin malam. Bukan begitu?”

Seisi ruangan bungkam. Kutahan diri untuk tidak membanting mikrofon di tangan dan memilih berseru sekeras-kerasnya saja sampai suaraku habis.

Sayangnya, manusia-manusia itu tidak menghargai kesabaranku—hening masih betah menggantung, ritsleting mulut mereka semua masih rapat berkarat. Seolah aku tidak ada di atas panggung dan tidak melemparkan tanya yang kutunggu tanggapannya. Kutarik napas tajam. Boleh saja.

“Mohon maaf. Sepertinya saya salah panggung. Padahal setahu saya, tamu-tamu terhormat di depan saya ini seharusnya manusia,” kataku, hampir menempelkan mikrofon ke mulut demi menekankan suara rendahku tetap terdengar. “tetapi, kenapa tidak ada satu pun di sini yang berlaku layaknya manusia, ya? Sekadar menanggapi untuk menghargai seonggok makhluk di atas panggung ini saja tidak sudi, padahal sehari-hari yang di depan saya ini selalu meminta dihargai tinggi-tinggi. Setiap proyek-proyeknya yang demi negeri, maksud saya.”

“Lam, bisa jangan sekarang saja kau kumat sintingnya?! Konferensi ini kunci penting kita untuk—“

Kujentik mati sepotong jepitan logam yang menempel di telingaku, memutus mati pula satu-satunya akses komunikasi dengan Ar dan Mawara yang ada di belakang panggung. Maaf-maaf saja, kalian sendiri yang mendesakku bahwa kita sudah tidak punya waktu lagi.

“Hanya karena umat manusia sudah abadi sekarang, apa umat manusia sudah bisa menciptakan planet abadi sendiri untuk ditempati dan dirusak sesuka hati, andaikata Bumi mati hari ini?”

Seratus tahun sudah lewat. Generasi manusia abadi sudah dimulai—pemutakhiran dari penelitian ilegal dahulu yang melibatkan aku, Ar dan Mawara sebagai subjeknya, di mana manusia sudah berevolusi hingga usianya mampu aman mencapai hitungan seratus tahun. Keserakahan. Keangkuhan. Kebodohan. Tiga kombinasi sempurna itu meledakkan krisis iklim hingga ambang batasnya. Seratus tahun sudah lewat. Aku, Ar dan Mawara yang dua kali lipat lebih abadi ditambah bonus efek samping cacat sebagai purwarupa manusia abadi pertama, mungkin memang sudah terlambat.

Aku, sejujurnya tidak peduli, kepada umat manusia abadi generasi ini—kalau Bumi, masih cukup kukasihani. Tetapi, aku tidak bisa membiarkan keegoisanku seratus tahun silam pada Ar dan Mawara tak terbayar. Ketika aku mengkhianati kesepakatan untuk memberitahukan prediksi nyaris akurat kami mengenai kiamat Bumi akibat generasi manusia abadi, kepada ilmuwan-ilmuwan laboratorium busuk yang memungut kami menjadi subjek percobaan mereka. Aku justru menciptakan kekacauan dan menyeret keduanya melarikan diri, menuruti sisi egoisku yang terlalu dipenuhi benci.

Aku, sejujurnya hanya peduli. Aku tidak sudi kami—tidak; mereka, Ar dan Mawara—mempertaruhkan nyawa demi menyuarakan peringatan. Karena, demi bersuara, kami mesti membuka semua kartu rahasia—otakku yang terlampau logis akurasinya, data-data dalam kepala Ar yang seakan tak terbatas, serta pendengaran unik Mawara yang seolah dapat mengetahui tiap gejolak Bumi dan membuat skala prediksi ke depan darinya. Itu, sama saja dengan membuktikan bahwa proyek keabadian laboratorium itu berhasil. Bisa-bisa kami hanya dianggap sedang demonstrasi evolusi manusia abadi. Mana sudi.

“Semua negara berlomba-lomba memuja logika ekonomi lama; manfaatkan tega segala yang ada, abaikan semua yang tidak berguna. Apa itu kelestarian lingkungan? Apa itu kesejahteraan sosial? Apa itu sains yang logis? Yang kalian mau cuma kekayaan!”

Akhirnya, aku benar-benar berseru keras—masih dengan mikrofon di mulut, pula. Terima kasih, di panggungku ini, giliranku untuk jadi tidak peduli.

“Tes-tes. Bumi kini dihuni mutan-mutan dari lingkungan cemar radioaktif, porsi besarnya tentu karena para penguasa mahkota-mahkota teratas di segenap bidang. Tetapi, manusia, jangan menganggap dirimu yang hanya sebutir penduduk lebih mulia. Bicara terus terang, semua umat manusia punya kesempatan untuk menyelamatkan nyawa abadi kesayangan kalian masing-masing sejak dahulu kala. Halo, apa yang kalian lakukan seratus tahun silam? Apa sesulit itu, mencabut steker, stop kontak yang tidak terpakai, juga charger yang penuh? Mematikan lampu-lampu, membuka jendelamu? Mematikan pendingin ruangan atau kipas ketika keluar kamar? Menyalakan keran air tidak seperti menyalakan air terjun buatan? Membuang sampah tidak sembarang melemparkannya di jalan? Sedikit saja menyukai kendaraan umum, atau menggunakan sepedamu yang berkarat di gudang? Halo, semua manusia bisa melakukannya—karena saya tidak sedang meminta kalian membeli mobil listrik satu-satu, atau membeli panel surya untuk menalangi atap rumah. Hematlah kertas, tanamlah satu-dua pohon atau rawatlah tanaman pot di teras rumah. Kurangilah plastik, kresek, yang kalian semua tahu sesungguhnya adalah bom waktu.”

Aku kehabisan napas di titik terakhir. Sedari awal, ruangan luas yang disesaki berderet-deret kursi ini memang hening, seakan mulut manusia-manusia yang mendudukinya ketinggalan sebelum masuk kemari.

Namun, untuk yang kali ini, ruangan benar-benar hening.

Mendongak, kusadari sosok Ar dan Mawara tahu-tahu ada di ujung ruangan, melambai-lambaikan tangan tanpa suara sebelum menggantinya menjadi acungan jempol tinggi-tinggi. Senyum kemenangan di wajah keduanya bagaikan kode untukku menyelesaikan satu-satunya tugas lapangan yang berhasil mereka paksakan padaku, selama seratus tahun ini.

Aku tersenyum. Membuka telapak tangan, merentangkannya kepadamu.

“Tetang siapa yang akan mati seratus tahun lagi—mana suaramu, manusia seratus tahun lalu?” []

2 thoughts on “Cerpen #265; “Siapa yang Akan Mati Seratus Tahun Lagi?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *