Cerpen #261; “World at 2121”

     Tring tring , terdengar suara bunyi piring dan sendok sendok bergesekan. Jam menunjukkan pukul 06.30 keluarga kami di jam segini memang sedang sarapan.  Hari ini ibu memasak sop ayam, kami sekeluarga dengan lahap memakan sop ayam dan nasi buatan ibu. Ibu hanya memasak ini saja , sebenarnya keluarga kami terhitung mampu,  bahkan bisa dibilang orang kaya. Alasan kami makan dengan menu yang sangat sederhana bukan karena kami tidak memiliki uang, tapi di tahun ini dunia sedang mengalami krisis udara dan air bersih.

     Zaman sekarang melakukan aktivitas di luar sangatlah sulit, bahkan untuk menanam sebuah sayuran kami sudah menggunakan metode hidroponik didalam ruangan. Disetiap atap gedung penuh dengan hidroponik untuk menanam sayur. Begitu juga dengan air. Untuk mendapatkan air bersih kami menggunakan teknologi untuk menyaring air terlebih dahulu,  karena orang orang yang tinggal diperkotaan seperti kami tidak memiliki air bersih yang cukup. Bahkan di zaman ini pemerintah membuat peraturan bahwa orang orang dengan umur 20 tahun ke bawah tidak boleh keluar gedung kecuali jika ada keperluan mendesak dan sudah melewati pemeriksaan yang cukup ketat. Kita semua tinggal di apartemen, tidak ada yang memiliki rumah pribadi. Kita tidak lagi memiliki lahan untuk membangun rumah pribadi, bahkan beberapa rumah susun digusur agar lahannya bisa dibangun pohon, itu salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi pencemaran udara, tentu juga untuk memperbaiki kehidupan manusia dimasa mendatang.

     Berbeda dengan orang orang kelas menengah kebawah yang tinggal di apartemen, keluarga kami tinggal di penthouse. Penthouse ditinggali oleh keluarga keluarga paling berpengaruh di dunia,  termasuk keluarga kami. Orang orang yang tinggal disini adalah keluarga pejabat, keluarga konglomerat yang membantu menaikkan ekonomi negara,  dan keluarga profesor. Alasan kami bisa tinggal disini karena ayah kami adalah profesor terkenal, teramat malah. Ayah adalah profesor yang mencetuskan ide terkait perkembangan iklim dunia, mengenai solusi untuk mengurangi pencemaran udara, air, dan tanah. Ayah kami adalah pencetus mesin filter air raksasa, ayah juga pemimpin di sektor peternakan. Dikarenakan adanya pencemaran udara air dan tanah, Perkumpulan orang orang pintar sedunia bersepakat untuk beternak didalam ruangan. Untuk tumbuh kembang hewan dibantu dengan menggunakan lampu pijar. Sedangkan untuk hewan yang bertelur, telur yang masih muda ditaruh di inkubator agar bisa menetas.

     Pemerintahan saat ini tunduk pada profesor dan orang orang pintar. Pejabat pejabat Bodoh yang tidak mau mengikuti aturan profesor akan diasingkan dan tidak diberi fasilitas hidup yang aman dan sehat.  Begitu juga dengan para pengusaha. Para pengusaha dituntut untuk mengurangi limbah industri, juga asap pabrik harus di simpan dengan teknik bio energy. Sebelum membangun pabrik suatu perusahaan juga diharus kan untuk menanam pohon. Itu semua adalah kebijakan yang dibuat ayahku beserta antek anteknya. Hari ini seperti biasa setelah sarapan ayah berangkat kerja. Tidak jauh, Kantor kerja para profesor ada di lantai lima gedung penthouse. Seperti ayah,  aktivitas ku setelah sarapan adalah berangkat sekolah , sekolah anak anak yang tinggal di penthouse ada di lantai tiga. “kak arya,  Tungguin ara” teriakan ara memecah lamunan.  Ara adalah adik Arya, dua kakak beradik ini kerap kali menjadi primadona di sekolah karena mereka sangat pintar. Hal itu tentu saja merupakan faktor keturunan dari profesor Angga. Disekolah berkali kali kakak beradik itu memenangkan lomba yang diadakan pemerintah, mulai dari lomba sains, lomba cooding dan lain sebagainya. Arya pintar dalam bidang pengcoodingan. Arya berkali kali membuat mesin untuk membantu mengurangi krisis iklim. Sedangakan Ara sangat pintar dalam bidang biologi mulai dari perkembangan hewan,  hingga pertumbuhan tanaman.

     Disemua sekolah para guru berupaya keras mendidik murid agar mereka bisa menjadi harapan di masa depan. Hari ini sekolah mengadakan olimpiade untuk umum. Mulai dari bidang matematika, ipa,  ips dan masih banyak lagi.  Pemenangnya akan dikumpulkan agar bisa dididik untuk merancang masa depan mendatang. Arya dan Ara serta beberapa peserta lomba lain dengan segera mengerjakan soal olimpiade. Tidak mudah,  teramat sulit malah. Besok pengumumannya akan diumumkan dan akan dipertemukan di gedung utama negara. Gedung utama negara berisi teknologi teknologi mutakhir yang tidak bisa dibayangkan manusia manusia sebelumnya. Tujuan para pemenang pergi ke gedung itu untuk mencari tahu tentang bagaimana cara mengembalikan kondisi bumi seperti 100 tahunan yang lalu.

     Hari ini pemenang olimpiade akan di umumkan. Suasana di langit langit sekolah menegangkan. Semua peserta pasti berharap akan menang. Pengumuman dilakukan lewat zoom meeting. Mc melakukan pembukaan “hai para pelajar dari seluruh Indonesia, apa semua sudah siap untuk mendengarkan pengumuman dari pemenang olimpiade?” mc membawa suasana kearah yang lebih menegangkan.  “oke,  langsung saja pemenang olimpiade bidang matematika juara 1 diraih oleh Yusuf,  juara 2 diraih oleh Isa, juara 3 diraih oleh Ismail.” Semua peserta matematika yang tidak menang menghela nafas dalam tanda kecewa. Beberapa bahan ada yang menangis. “pemenang lomba ipa juara 1 diraih oleh Arya, juara 2 diraih oleh Ara,  juara 3 diraih oleh Najma” mc melanjutkan pengumumannya,  para peserta yang tidak memenangkan olimpiade ipa menghela nafas kecewa. “pemenang lomba ips juara 1 diraih oleh Yani, juara 2 diraih oleh Aisyah,  Juara 3 diraih oleh Dina.” Untuk sekali lagi peserta olimpiade ips yang tidak menang menghela nafas kecewa.  Zoom meeting selesai. Mulai besok para pemenang akan tinggal di gedung utama untuk melakukan pelatihan bersama.

     “Tring tring tring” terdengar suara sendok dan piring bergesekan. Malam ini keluarga profesor Angga sedang berkumpul bersama sembari menyantap hidangan makan malam. “ayah dengar kalian berdua menang lomba ya?” tanya profesor Angga pada anaknya.  “iya ayah” jawab Arya dan Ara bersamaan. Bu Aurel , yaitu ibu dari Arya dan Ara tertunduk, terlihat jelas bahwa ibu Aurel sangat sedih.  Bagaimana tidak?  Malam itu ibu Aurel dikejutkan dengan pemberitahuan bahwa anak anak nya memenangkan olimpiade, bukannya tidak senang memiliki anak anak yang pintar dan berprestasi, tetapi fakta bahwa anak anaknya mulai besok harus tinggal di gedung utama cukup untuk membuat hatinya berkabut. “berarti mulai besok kalian tinggal di gedung utama ya?” tanya ibu. “iya bu” jawab Ara. “Kalau begitu setelah makan kita siapkan bersama barang barang yang akan kalian bawa ya” dengan berat hati Aurel mengizinkan anak anaknya untuk pergi. Profesor Angga yang mengerti situasi menggenggam tangan istrinya di bawah meja makan, mencoba mengatakan pada istrinya bahwa semua akan baik baik saja. Tidak akan ada orang tua yang sanggup untuk membiarkan anaknya pergi, tetapi orang tua mereka juga sangat peduli dengan masa depan anak anaknya. “semoga dunia segera membaik dengan upaya mereka mebiarkan anak anaknya pergi” begitu pikir profesor Angga dan istrinya.

     Makan malam selesai, dilanjutkan dengan mempersiapkan barang barang yang akan dibawa Arya dan Ara. Ara antusias tidak sabar akan pergi ke gedung utama besok, sedangkan ibu membantu menyiapkan peralatan dengan muka tertunduk lesu. Profesor Angga dan Arya di ruang tengah sedang menonton berita tentang perkembangan iklim dunia. Tentu saja, dengan segala upaya yang dilakukan bersama pasti krisis iklim lambat laun akan mulai membaik. “nanti disana kamu belajar yag rajin ya, jangan lupa jagain Ara, adikmu itukan perempuan” ucap profesor Angga  memberikan anaknya wejangan. “pasti dong yah” jawab Arya mantap. Malam itu keluarga mereka menghabiskan waktu bersama dengan lomba merakit Lego. Ara dan ibu yang menang,  tentu saja mereka menang, ayah dan kak arya sudah jelas mengalah hari itu,  hitung hitung membuat ibu bahagia.

     “dadah ibu, dadah ayah” ucap Arya dan Ara bersamaan di dalam kereta terbang. Sedangkan orang tua mereka melambaikan tangan dari luar. Ibu dan ayah langsung pulang, mungkin ada urusan yang harus segera diselesaikan. Sesampainya di gedung utama negara, mereka dipisahkan untuk menuju kamar masing masing. Kamar putra dan kamar putri. Kamar putra berisi Yusuf, Isa, Ismail dan Arya. Sedangkan kamar putri berisi Ara, Nama, Yani, Aisyah, dan Dina. Hari itu para pemenang berkumpul di aula,  mereka semua berdiskusi untuk mencari tau bagaimana cara mengembalikan bumi seperti ratusan tahun sebelumnya. “bagaimana jika kita membuat alat mesin waktu?” ucap Aisyah.  Serentak semua pemenang menoleh pada Aisyah dengan raut muka bertanya apa itu mesin waktu. “ya, kita akan membuat mesin waktu untuk kembali ke dunia pada abad 20, Tujuan kita kesana untuk mencegah terjadinya krisis iklim.” Brilian, sangat brilian ide Aisyah, ide yang tidak pernah terpikirkan bahkan oleh profesor terkemuka sekalipun.

     “bagaimana perkembangan kalian belajar disana?” tanya ayah dari layar cahaya. (saat itu banyak orang yang berkomunikasi menggunakan smart watch,  yaitu jam tangan yang bisa timbul layar cahaya). “menakjubkan yah, kami punya teman teman baru disini, kita bisa saling berbagi ilmu dan melengkapi satu sama lain. Ayah apa menurut ayah menciptakan mesin waktu adalah hal yang memungkinkan?” diskusi Arya dan profesor Angga pun dimulai. “sangat memungkinkan namun cukup beresiko. jika portal tertutup saat kalian belum menyelesaikan misi, kalian akan bisa terjebak di masa lalu. Ayah pernah mencoba mesin waktu dengan skala kecil, saat itu ayah melakukan percobaan menggunakan tikus, namun tikus percobaan ayah tidak dapat kembali ke masa sekarang karena durasi tertutupnya mesin waktu terlalu cepat. Mungkin jika kamu dan teman teman mu membuat portal mesin waktu dengan skala yang sangat besar akan berhasil, namun tentu saja amat sangat beresiko. Usahakan saat kalian melakukan percobaan ajak guru pendamping kalian ya!” jawab profesor Angga. “Bagaimana kabar adikmu disana?” “Ara sangat senang yah,  dia akrab dengan teman temannya” “udah dulu ya yah,  pelatih menyuruh kami untuk memulai pembelajaran lagi” percakapan di video call dengan pembahasan yang cukup berat itu pun selesai,  Arya bergegas membawa buku buku dan peralatan yang dibutuhkan untuk belajar.

     “baik, sesuai usul kalian, di pembelajaran kali ini kita akan membuat portal mesin waktu bersama. Untuk sementara kita membuat dengan skala yang kecil dahulu, Jika berhasil kita lanjutkan dengan membuat projek mesin waktu yang besar. Apa semua siap?” tanya pelatih. “siap pak” jawab para pemenang serentak. Praktik membuat percobaan mesin waktu dengan skala kecil dimulai, mereka semua bahu membahu saling membantu. Setelah usaha yang cukup lama dan memakan waktu yang cukup lama akhirnya projek mereka selesai. 9 anak remaja tanggung itu mengusap keringat di dahi.  Tibalah waktunya percobaan, pelatih melakukan percobaan dengan memasukkan mobil remot mini ke dalam portal mesin waktu,  pelatih Menekan tombol on dan mengatur durasi yang diinginkannya. Alangkah terkejut pelatih saat mengetahui mobil remot mini yang dijadikan percobaan bisa kembali. Mengetahui fakta bahwa yang membuat mesin ini adalah anak anak muda membuat pelatih tercengang. Hari itu latihan yang cukup memuaskan sekaligus memuaskan untuk semua pihak. “minggu depan kita akan lanjut membuat portal mesin waktu dengan skala besar. Kita akan kedatangan anak anak pemenang dari berbagai negara juga untuk membantu program yang besar ini,  sementara itu kalian bisa beristirahat agar stamina untuk minggu depan bisa tersimpan” ucap pelatih.  Anak anak setuju, kembali ke kamar masing masing dan langsung merebahkan diri di atas kasur empuk dan lembut selembut sutra. Hari ini hari yang melelahkan, batin mereka.

     Seminggu telah berlalu, hari ini gedung utama kedatangan 20 anak dari berbagai ngeara. Kita memutuskan untuk berdiskusi mengenai pembuatan portal mesin waktu raksasa. “Apa misi kita saat kembali ke masa lalu?” tanya peserta dari Amerika. “kita cegah Lapindo Brantas untuk melakukan pengeboran di porong,  sidoarjo. Karna itu sangat berpengaruh terhadap pemanasan global dunia saat ini. Lalu kita ajarkan masyarakat untuk mengurangi limbah plastik, kita juga ajarkan pabrik industri untuk mengurangi limbah pabrik. Jangan lupa kita juga pergi datang ke beberapa pemerintahan untuk menyarankan agar lahan tidak seluruhnya diberikan pribadi kepada masyarakat,  namun dikelola pemerintah agar penataan negara menjadi lebih tertata.” “setelah mesin waktu jadi silahkan kalian pergi ke negara masing masing, kita akan berangkat menggunakan mobil terbang.” 2 jam setelah diskusi itu dimulai akhirnya mereka ber 30 dengan bantuan pelatih mulai merancang pembuatan portal mesin waktu. Tiap membutuhkan waktu lama untuk merancang,  selanjutnya tinggal serahkan pembuatan mesin pada robot pembantu. Robot itu bertenaga listrik, sedangkan listrik saat ini telah menggunakan tenaga surya. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan lagi jika robot mati kehabisan bahan bakar. Sementara robot membuat wujud nyata mesin, para anggota menyiapkan mobil terbangyang akan digunakan untuk menjelajahi masa lalu, tentu saja mobil itu dapat berubah wujud agar terlihat seperti mobil mobil pada abad 20. Setelah kerja sama yang cukup lama dan melelahkan akhirnya mesin waktu dan mobil yang digunakan untuk menjelajahi mesin waktu sudah siap. Saatnya mereka berangkat. Pelatih tidak ikut karna harus ada yang menjaga portal, agar saat durasi terbukanya habis namun anak anak belum kembali akan ada yang menyelamatkan mereka. Semua peserta sudah bersiap di mobil masing masing, satu persatu mobil mulai memasuki portal mesin waktu. Mereka diberi waktu 2 hari untuk kembali. 2 hari di masa sekarang seperti 20 tahun dimana lalu,  sengaja dibuat seperti itu agar waktu yang dibutuhkan mereka untuk pergi tidak terlalu lama.

     Sudah 1 hari 12 jam mereka pergi namun tak juga pelatih mendapat kabar,  rasa ketakutan dan kegelisahan menyelimuti hati pelatih. Tentu saja pelatih takut. Anak anak yang dikirimnya ke masa lalu rata rata masih anak dibawah umur. Teringat dulu saat dirinya seumuran mereka dirinya masih sibuk memainkan game online membuatnya malu. Namun sisi lain hatinya menenangkan , mencoba mengatakan pada diri sendiri bahawa anak anak terbaik yang dia kirim akan kembali, anak anak penyelamat masa depan itu pasti akan kembali. Sembari menunggu kedatangan anak anak, pelatih memutuskan untuk mencari tahu bagaimana cara membuka portal untuk yang kedua kali. Agar saat anak anak tidak kunjung datang setelah 2 hari mereka akan bisa diselamatkan. 5 jam berlalu,  portal cadangan yang sendiri dibuat oleh pelatih sudah jadi,  setidaknya hatinya menjadi sedikit lebih tenang jika sudah ada mesin waktu cadangan.  Begitu batinnya.  Pelatih melihat keluar jendela, alangkah terkejutnya saat melihat beberapa gedung yang tak berguna tiba tiba menghilang,  kabut kabut asap yang biasanya menutupi awan menghilang seketika,  rumput rumput yang tidak pernah ia lihat mulai tumbuh.  Hei, bukankah dia tidak pernah melihat rumput?  Bahkan pelatih mengira bahwa adanya rumput asli hanyalah dongeng.  Banyak sekai pohon pohon mulai tumbuh saat itu,  suasana seketika menjadi sangat sejuk,  tidak berpolusi seperti biasanya. Orang orang diluar mulai berkumpul, menatap takjub kejadian yang tidak pernah di lihat manusia selama beratus ratus tahun. Berhasil, misi yang dilakukan anak anak dimasa lalu pastilah berhasil,  namun mengapa mereka tak kunjung datang?  Tanya pelatih dalam hati.

     3 hari sudah berlalu, namun anak anak yang dikirimnya ke masa lalu tak juga kunjung datang. Pelatih memutuskan untuk pergi ke ruangan profesor di penthouse, dengan tujuan mencari bantuan untuk membawa anak anak kembali ke masa kini.  Profesor angga yang mendengar berita itu segera membawa profesor profesor lain untuk bergabung kembali masa lalu dengan tujuan membawa anak anak kembali,  hari itu juga mereka pergi ke masa lalu. Dengan menggunakan cara yang sama seperti yang dilakukan anak anak. Kini para profesor dan pelatih berada di tahun 2021 menatap takjub dunia pada tahun ini, melihat orang orang banyak yang menggunakan masker,  profesor teringat di tahun ini ada pandemi virus corona yang melanda bumi. Profesor angga melihat GPS di smart each nya mencari lokasi anak anaknya, Smart watch milik anaknya aktif, mungkin bisa jika di telephone.  “ hai, ayah. Ini Arya lho” profesor angga melihat anaknya yang sudah membujang,  pastilah berlama lama disini membuat anaknya tumbuh dan berkembang.  Terlihat kumis melintang di wajah anaknya. “kalian dimana?” “Kami lagi di gunung ayah” ucap si bungsu Ara. Terlihat jelas Putri kecilnya sudah menjadi dewasa. “di masa kita tidak ada gunung, jadi kita pergi mendaki dulu, banyak pemandangan alam yang menakjubkan disini yah!” “kalian kapan pulang?  Pulang bareng kita yuk” ucap profesor angga membujuk anak anaknya.  “ayah jemput kita,” “baik, ayah meluncur”. Setelah menelephone anak anak akhirnya mereka meluncur pulang. Melihat anak anak terlihat lebih tua dari para profesor dan pelatih membuat mereka tertawa sepanjang perjalanan kembali ke masa depan. Mereka sudah sampai di masa depan,  dan kembali ke rumah masing masing.  Ibu dirumah terharu dengan kehadiran anaknya menatap anak anaknya penuh dengan rasa rindu. “kalian jadi terlihat sangat tua” ucap ibu membuka pembicaraan di ruang keluarga. Keluarga kecil itu tertawa bersama sama. “tenang saja, nanti akan ayah buatkan formula untuk membuat kalian muda lagi seperti umur kalian.” Ucap profesor Angga. Hari itu seluruh keluarga Di muka bumi tidak lagi dilanda kecemasan mengenai masa depan anak cucu mereka.  Hari itu semua orang dapat tidur dengan tenang tanpa perlu memikirkan nasib bumi di masa mendatang. Semoga warga bumi,  dapat menjaga bumi dengan lebih baik lagi. Agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *