Cerpen #260; “ATUN”

“Kamu juga harus pergi, Tun,” suara putus asa Sarno terdengar lemah dari seberang telpon.

Atun menjauhkan telpon genggam kuno itu dari telinga, menyerahkannya pada  remaja  laki-laki bongsor yang sedari tadi duduk tertegun menunggu.

“Bulik nggak bisa di sini terus,” Yahya, sang keponakan, menatapnya cemas,”bahaya, Bulik.”

“Iki omahku, le,” tegas suara Atun. Ini rumahku. Debur ombak terdengar keras seperti hendak menggulung rumah tempat mereka bernaung. Tapi Atun bergeming.

“Aku pergi, Bulik,” Yahya berpamitan, mencium punggung tangan Atun yang otot-ototnya tampak menonjol.

Sepanjang jalan yang tak nampak lagi sebagai jalan karena tergenang air sampai setinggi pinggang, bahkan ada juga yang sampai dada, pikiran Yahya terus bergemuruh. Dia ingat perbincangannya dengan Idaf. Seseorang yang pernah sangat intens berada di kampung ini saat melakukan penelitian. “Ternyata yang Idaf ramalkan dulu akhirnya terjadi sekarang.”

**

 “Kamu tuh ngapain, Jah?”

“Nandur mangrove,” Atun mendongakkan kepalanya sebentar ke arah Yudi, tetangga lamanya dulu yang kadang masih datang mengunjungi. Sejak rob dan banjir juga penurunan tanah menenggelamkan desa mereka dan desa sebelah, ratusan orang terpaksa mengungsi. Beberapa detik kemudian Atun sudah sibuk lagi menanam benih mangrove sebagaimana kebiasaannya sehari-hari sejak beberapa tahun terakhir.

“Apa ya ngaruh?” nada suara Yudi lirih, seperti tak yakin bahwa dia bisa menghentikan laku saudara jauhnya ini. Atun tetap bekerja, tak menanggapi.

**

“Yu, aku wis ora duwe sopo-sopo meneh. Teko yo yu,” 

Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Datang ya, Yu. Sarno membujuk Atun. Nanti malam adalah pelepasannya sebagai Bupati. Sudah tak ada lagi istrinya, Rita meninggal karena covid akhir tahun lalu.

Atun memandangi Sarno dalam-dalam,”apa kalau aku datang bisa mengembalikan rumah-rumah ini seperti dulu?”

Tangannya menunjuk deretan rumah-rumah yang makin tenggelam. Sarno menunduk dalam. Dengan isyarat tubuh dia meminta salah satu ajudannya yang setia untuk memapahnya bangkit. Saat anak sulungnya meninggal tengah tahun lalu, dia masih berusaha tegar. Tapi kematian Rita menjelang masa akhir jabatan, membuatnya kena serangan stroke. Dengan mendatangi langsung Atun, dia berharap sepupu jauhnya itu bisa memaafkan. Sedikit banyak ada  perannya sebagai kepala daerah yang membiarkan para oknum dan mafia ini mengambil untung dengan menghalalkan segala cara, termasuk yang menyebabkan tenggelamnya dua desa ini. Tapi sepertinya tak ada maaf. Palung hati terdalam Sarno menjerit.

Sang ajudan membopong Sarno melewati jalan yang tak lagi jalan. Rebak di mata kepala daerah yang sebentar lagi menjadi mantan itu berubah menderas. Melintas dalam ingatannya saat-saat dia berlari-larian sepanjang jalan kampung ini puluhan tahun lalu. Mencari belut di pematang sawahnya yang hijau. Kini semuanya terendam air. Kenangan itu hanyut bersama deraian air mata.

**

“Ini semua demi kemajuan desamu juga, Sarno,” Elham tak henti-hentinya membujuk kepala daerah yang meski terlihat kalem namun sebenarnya punya prinsip. Tadinya. Sebelum akhirnya mau tak mau mesti banyak berkompromi dan berada dalam pengaruh Elham karena sang kontraktor itulah yang mengusungnya menjadi Bupati.

“Tapi sawah-sawah itu akan hilang dan kota ini tak lagi hijau,” desis Sarno. Bahunya melorot, bimbang antara mengikuti kemauan kontraktor yang lama-lama bisa membuatnya gila, dan mendengarkan lubuk hati terdalam yang meronta.

“Masih banyak sawah yang lain. Apa kamu mau kota ini tidak berkembang?”

“Apa kata orang-orang nanti kalau dalam masa kepemimpinanmu tidak ada pencapaian yang berarti.”

“Bayangkan berapa banyak orang yang bisa terserap dan punya pekerjaan karena ada pabrik besar yang beroperasi.”

“Produk pabriknya laris mendunia, siapa yang akan punya nama? Pasti kepala daerahnya juga.”

Diberondong seperti itu, juga mungkin ada pengaruh  sihir Elham, membuat emosi dan pikiran Sarno bercampur aduk. Beberapa hari kemudian tangannya bergetar saat menandatangani dokumen-dokumen. Dia juga bukannya tidak tahu kalau Elham kongkalikong dengan sekretaris daerahnya yang culas bahkan sampai menyingkirkan Idaf. Anak muda yang tetap vocal meski kesasar menjadi perangkat Negara itu memegang teguh ajaran dari beberapa guru besarnya di kampus kuning. Segera saja pergunjingan merebak di lingkungan tempat tinggalnya karena rumah Idaf hanya selisih satu gang dari rumah Sarno. Untung sejak menjabat sebagai bupati dia tinggal di lingkungan Pendopo Kabupaten sehingga tak bisa mendengar langsung berbagai pergosipan dan perghibahan di luar.

Suatu kali tak sengaja mereka bertemu dalam satu acara. Sarno basa basi bertanya kabarnya.  Idaf yang semula berada di Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) digeser ke ruangan sempit di pojok dinas kecil bagian yang tidak signifikan pula. Sempat terdengar meski lamat-lamat Idaf bergumam,”jangan sampai menyesal.”

Hanya satu tahun selang kemudian penyesalan itu perlahan-lahan menggunung dan menimbun segala euphoria kebanggaan semu yang Sarno dapat saat pertama kali dilantik. Semua orang seluruh kota seolah mengelu-elukannya karena datang  dari kelompok jelata tapi tahu-tahu bisa memegang tahta.

**

Atun melengos ketika Sarno datang lagi. Kali ini dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Tak ada lagi ajudan pribadi karena jabatan telah usai masa berlakunya. Seorang tetangga yang dibayar mengantarkannya sampai ke musholla kecil dekat dua desa yang tenggelam. Sarno mengantarkan pesan lewat Yahya kalau dia tak mungkin menyeberangi air dalam yang menyingkirkan dua ratus penduduknya ke pengungsian. Si tetangga bayaran tidak sekuat ajudan lulusan dinas ketentaraan yang menggendong Sarno tempo hari. Meski setengah jam kemudian Atun sampai ke musholla, venue yang dipilih Sarno, tapi tetap saja wajahnya tak mau menghadap sepupu jauhnya itu.

“Kamu masih tidak bisa memaafkan aku ya, Tun?” suara parau Sarno memecah keheningan malam. Musholla yang dulu ramai kini sepi ditinggalkan orang-orang yang terpaksa membuat hunian sementara di atas tanah pengairan di desa sebelah. Suatu penyelesaian yang suatu hari pasti akan menimbulkan masalah juga.

“Menurutmu?” tercekat suara Atun di tenggorokan.

Yahya dan si tetangga bayaran sengaja duduk menjauh dari mereka. Dari kejauhan terdengar deburan ombak dan kecipak binatang malam.

“Kamu mau aku mati saja?”

Sarno teringat istri dan anak sulungnya yang meninggal di tengah pandemi covid. Tinggal satu anaknya, laki-laki dewasa yang tetap kekanak-kanakan dan harus repot dengan keluarganya sendiri. Cucu-cucu dari si sulung aman bersama menantunya yang tabah.

Atun tak juga menoleh ke arah Sarno yang tampak makin putus asa. Lehernya kaku. Sebenarnya dia tidak punya dendam. Marahpun tidak. Justru iba yang membuat Atun tak punya nyali menatap mata sepupu jauhnya itu.  Semua orang meninggalkannya. Bahkan mereka yang dulu mengelu-elukan, mendekati dan menjilat demi mendapatkan proyek dan jabatan, kini pergi. Tetangga-tetangga malah tak henti-hentinya menjelek-jelekkan. Keluarga dan kerabat, satu persatu menjauhi. Atun tak habis pikir kenapa Sarno meminta maaf padanya. Apa karena dia satu-satunya warga yang tak mau pergi dari desa tenggelam ini?  Apa Sarno pikir kemalangannya sehingga istri dan anaknya mati itu karena karma pada Atun?

“Kamu mau aku pergi dari desa ini, Sarno?” akhirnya suara Atun terdengar lirih. Serak.

“Jadi kamu memaafkan aku?” mata Sarno seolah kembali sorotnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *