Cerpen #259; “Rumah Air”

Tiga puluh tahun lebih, Kemala meneliti ekosistem hutan di pedalaman, menegaskan batas zaman yang curam di depan matanya kini.

Berdiri di depan rumahnya yang tak lagi berpenghuni. Kini Kemala gamang. Namun, pikirannya dipenuhi Dimas.

Dulu, Dimas adalah teman dekatnya. Mereka sama-sama bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang teknologi di Bukit Tengkorak. Bekerja di perusahaan Plantek, sesungguhnya untuk sebuah pembuktian sekaligus pertaruhan.

Kemala melempar tatapan ke beberapa arah. Awan kelabu menyaring sinar matahari pukul delapan, tapi urung bagi Kemala untuk kembali ke dalam rumah. Dia harus menuntaskan segala kegelisahannya, sebelum kembali ke hutan lagi. Hutan yang baginya seperti orang tua. Sepanjang malam tadi, hujan lebat mengguyur kota ini juga.

Kemala harus menempuh sekitar dua ratus meter berjalan kaki, untuk tiba di jalan raya, untuk memesan kendaraan. Bangunan-bangunan membuatnya terasa mengecil, macam lintah yang terkena garam.

Jalanan tampak sepi. Kemala memutuskan mencari sebuah toko, membeli bekal perjalanannya nanti. Namun, ada keanehan yang dirasakan begitu tiba di depan toko itu. Tak banyak pembeli, tapi tak ada kasir. Tampak juga sebuah benda seperti robot berjalan ke sana kemari.

Kemala memilih duduk sejenak di mini kafe toko itu, tapi dikagetkan kemunculan sebuah robot.

“Mau pesan apa?”

Kemala mencari-cari sumber suara di sekelilingnya, tapi tak ada orang. Kini dia menatap sekujur toboh robot itu. Lalu terdengar pertanyaan serupa, membuat Kemala tekesiap.

“Air saja dulu.”

Tanpa berpindah, robot itu lalu mengeluarkan air kemasan dari dalam tubuhnya, disusul struk. Harga air seukuran satu gelas itu mencapai satu juta rupiah. Kemala melotot, tapi tubuhnya seperti terikat di kursi. Tak ada pilihan, dia merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan kartu ATM yang digesek ke tubuh robot itu.

Beberapa saat kemudian, robot itu menjauhinya, masuk ke dalam toko.

Tadinya, Kemala hendak mencari seseorang untuk menanyakan banyak hal soal kota yang terasa seperti menelan manusia. Namun, melihat kondisi, dia membungkus kembali rencana itu.

Bergegas menandaskan air dan beranjak ke tepi jalan, tapi langkahnya terhenti dengan berbagai tanya, saat melihat seorang perempuan yang diperkirakan seusianya turun dari mobil.

Kemala mengintip ke dalam mobil, dia tak menemukan siapa pun.

“Bu, mobil-mobil itu kok tanpa sopir?” Kemala akhirnya bertanya. Dia tak perduli lagi dengan apa pun yang dipikirkan orang.

Perempuan itu berhenti sejenak. Napas Kemala tertahan. Dia merasa jangan-jangan orang di hadapannya pun adalah robot yang menyerupai manusia.

Perempuan itu menatap Kemala dari kepala hingga ujung kaki, macam tengah memeriksa sesuatu. “Kamu dari planet mana?” tawanya pecah.

“Planet?” Kemala bergumam, berusaha mencerna korelasi pertanyaannya dengan reaksi dan jawaban perempuan di hadapannya itu.

Seperti bisa melihat kebingungan, perempuan yang memprkenalkan dirinya sebagai Celio, berusaha mengurai pertanyaannya.

“Kamu orang baru di sini? Semua mobil di dunia ini memang tak pakai tenaga manusia lagi.” Celio menjelaskan sambil berusaha mencari petunjuk dari raut Kemala.

Kemala menceritakan secara singkat perjalanan hidupnya selama tiga puluh tahun belakangan ini. Ditambah lagi, adik-adiknya harus ke luar kota karena sudah menikah. Di rumahnya, dia hanya sendiri. Orang tuanya sudah meninggal dunia sebelum dia masuk hutan dulu. Saa terbangun, dia hanya mendapati surat yang menyebutkan dia pingsan beberapa hari, saat masih di hutan dan dibawa warga desa.

Hal terakhir yang diingat Kemala sebelum pingsan adalah, dia memakan ubi jalar, padahal selama ini dia terbiasa memakannya.

 “Ini tahun dua ribu lima puluh. Sudah tahu, kan?”

Ada rasa iba yang tetiba muncul di wajah Celio, “Nggak usah heran. Dunia ini makin canggih. Tenaga manusia dikurangi.” Celio menarik kursi dan langsung duduk.

“Aku mau ke fly over. Boleh tunjukan caranya?” Kemala cergas saat melihat awan kelabu mulai menyembunyikan langit.

“Panggil lewat ponselmu, cari aplikasi kendaraan, nanti otomatis datang.”

Tak berapa lama, sebuah robot datang, lalu Celio menekan beberapa tombol dan robot itu kembali masuk.

Tanpa menunggu lagi, Kemala langsung melakukan instruksi. Dia harus mencapai Bukit Tengkorak, sebelum hujan lebat kembali jatuh.

Sebuah mobil datang.

 “Lebih gampang menemukan janji dari pada jalan bebas banjir di musim hujan.” Celio berkata sentengah berteriak. “Jangan lupa, perhatikan monitor agar kamu nggak terjebak banjir.”

“Selamat datang, terima kasih telah memilih transporatasi nir-sopir.” Kemala terkesiap, tapi cepat-cepat harus menguasai diri. Barangkali inilah yang dinamakan zaman teknologi tingkat tinggi.

“Silakan pilih tujuan Anda.” mesin itu bertanya lagi.

“Stasiun kereta Bukit Tengkorak.” Kemala berkata.

Mesin itu kembali menanyakan hal serupa. Sadar kekeliruannya, Kemala lekas menekan tombol penunjuk.

Melesatlah mobil dengan monitor peta jalanan dan kondisi terkini. Gedung-gedung besar juga dibersihkan oleh peralatan tanpa manusia. Matanya berusaha mencari pepohonan atau taman kota, tapi tak sulit, seolah teman yang hilang. Dilihatnya, siluet gedung-gedung tinggi, di bawahnya mulai dikelilingi air berwarna cokelat.

Seperti termakan kata-kata hujan membawa kenangan, Kemala mengingat saat berhadapan dengan Dimas dalam rapat terakhir di kantornya dulu.

Kala itu, Dimas menjadi ketua tim dalam proyek pengembangan kantor teknologi pengendali air di Bukit Tengkorak. Satu-satunya hutan hujan yang tersisa akan diganti dengan bangunan macam istana, yang akan dijadikan pusat perkantoran negara.

“Gila, Dims. Itu sama saja menam bom waktu.” Kemala berkata dalam nada tinggi.

“Terus mau bangun di mana? Di atas laut? Keberatan harus disertai solusi dong.”

“Solusinya, tanam pohon sambil membangun.”

“Ada-ada saja.” Dimas menyeringai “Memangnya kita aktivis pencinta lingkungan? Lagian waktu nggak memungkinkan.” Dimas menatap ke luar jendela kaca. Di sana, gedung-gedung tampak bersusun, macam kue yang diletakkan di atas nampan.

Kemala masih ingin membantah, tapi dia kalah oleh suara-suara setuju dari pendukung Dimas. Ada rasa sakit yang menyergap, saat menyaksikan perubahan Dimas. Entah waktu yang mengubahnya, kondisi, atau demi sebuah kepentingan pribadi. Padahal, semasa kuliah, Dimas menjadi orang yang paling banyak terlibat dalam kegiatan penanaman pohon, yang mengajak Kemala untuk melakukan hal demikian.

“Hari gini mau idealis? Nggak bisa, Kems. Memangnya kamu mau tinggal di pohon? Kantor-kantor dibuat di pohon?”

“Lalu kamu mau minum uang kalau nggak ada penyerapan air lagi?”

“Lha, kan ada penampungan raksasa yang akan dibangun.”

 “Anda mengarah ke jalan macet dan banjir.” mesin itu tiba-tiba membuyarkan lamunan Kemala.

“Cari jalan bebas banjir, bisa?” Kemala bertanya panik. Tangannya mencari-cari tombol permintaan bantuan darurat, lalu mendapati petunjuk berbicara dengan operator. Kemala mengulang permintaannya.

“Permintaan sulit. Solusi tidak ditemukan.”

“Duh, jadi gimana?” Kemala mengalihkan pandangan ke luar jendela, tampak ada beberapa kendaraan yang memutar balik, sementara kendaraannya belum juga mengambil rute serupa.

Mobil masih fokus berjalan ke arah banjir. Di luar menyarukan pandangan.Baru saat muncul gambar mobil berbalik di monitor, jari Kemala terburu-buru. Namun, ban mobil menggilas batu seukuran kepalan tangan, hingga kepala Kemala membentur kaca mobil dan jarinya menyentuh penunjuk jalan lurus.

“Ya Tuhan, tidak. Berhenti, berhenti,” nada Kemala panik, “Ini gimana? Cepat, balik arah.”

Kini dia tidak lagi mengurusi kepalanya yang sakit terbentur, dan sibuk menenekan berulang kali petunjuk berbalik arah. Air merembes dari bawah pintu mobil. Ternyata, mobil secangggih itu tidak dirancang untuk menjadi kendaraan bawah air. Seluruh mesinnya terendam air, bersamaKemala.

“Anda akan memasuki banjir cukup dalam.” sayup-sayup suara terakhir yang didengar Kemala dari mesin mobil itu.

***

Dimas sedang sibuk dengan tabung-tabung dan juga berbagai peralatan laboratorium. Dia harus segera menuntaskan semuanya, sebab tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, pikirannya masih terfokus pada seorang perempuan yang terbaring di ranjang ruang depan laboratoriumnya.

Tak lama, seorang petugas laboratorium memanggil Dimas. Gadis yang pingsan beberapa jam lalu sudah sadar.

Saat Dimas tiba, tatapan mereka bertaut. Seketika, gelombang ingatan menyerang keduanya.

“Selamat datang di laboratorium pengendali air.” Dimas berkata tepat saat masuk ke ruangan dengan udara berpendingin.

“Dims?”

Mendengar sebutan itu, Dimas dapat mendeteksi siapa gadis yang ada di depannya kini. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggil dengan sebutan Dims.

“Kems. Kamu dari mana saja?” Dimas langsung memeluk Kemala. Rindu yang selama ini dipendamnya, tanpa diduga bisa terobati hari ini.

Kemala merasa tak ada yang perlu dicerita. Bagaimanapun, Dimas adalah orang yang dianggap berhianat.

“Sudah tiga puluh tahun aku berada di dalam gedung ini, demi untuk membuat Rumah Air.” Dimas kembali bicar lalu menyilahkan Ebita duduk di kursi dekat jendela.

“Jadi kamu masih terobsesi dengan cita-citamu itu?” Kemala menyelidik.

“Iya. Kemajuan teknologi ini nggak bisa ditolak.”

“Kamu bisa membangun rumah air? Lalu kenapa aku jadi korban banjir? Mana teknologi yang kamu bangga-banggakan? Bisa tanpa pepohonan?”

“Kems. Bisakah pertanyaanmu satu per satu?” Dimas berusaha mengulur waktu, “Aku minta maaf.” Dimas berkata berat.

Dimas tahu, segala macam jenis penapungan air raksasa yang telah dibangun dengan teknologi pengatur air, mulai goyah. Untuk beberapa tahun kemarin, dia berhasil dan meraih gelar guru besar, tapi hari ini, banjir terjadi di mana-mana. Semua di luar prediksinya, tapi dia masih berusaha membela diri.

“In ikan memang curah hujan yang terlalu tinggi.”

“Masih bisa kamu bela diri, Dims?” Kemala hendak turun dari ranjang. “Buat apa gelar tinggi-tinggi, pada alam saja kamu nggak adil?” Kemala kembali menyerang Dimas.

Dimas bergeming beberapa saat. Dia sedang menakar kalimat Kemala untuk sebuah percakapan yang seimbang, tapi sulit.

Dari jendela kaca gedung, butir air makin ramai menempel di sana.

“Ini adalah proyek terakhirku dan aku akan segera meninggalkan laboratorium ini, setelah semuanya kelar.” Dimas akhirnya berkata, berusaha mendapat maaf dari Kemala.

Selama ini, dia memang menyimpan perasaan cintanya pada Kemala yang tetiba menghilang.

Kadang ada hal yang harus dikorbankan. Namun, apa perubahan zaman ini, harus mengorbankan alam?” Kemala membatin, dia tak lagi ingin mengeluarkan kata-kata itu pada Dimas. Semuanya sudah terlambat baginya.

Hujan belum juga berhenti. Kemala melirik ke luar lagi dan matanya menangkap sebuah alat yang tampaknya sebagai penampungan air, dengan beberapa indikator lampu, berkedip di antara rinai hujan. Dia lalu meraih remote teve.

Banyak orang sudah mengungsi.

“Mana alat yang kamu buat untuk jadi hutan buatan?” Kemala bertanya sengit.

“Profesor.” suara entah dari mana menyapa dan Ebita beberapa kali berusaha mencari sumber suara.

“Di luar air makin naik.”

“Nyalakan alat yang baru diluncurkan kemarin.” Dimas menginstruksikan.

“Sudah, Profesor. Pintu otomatis di bendungan juga sudah terbuka. Kolam-kolam raksasa sudah menaikkan temboknya, tapi belum bisa juga.”

“Lalu bagaimana lagi?”

“Saya hanya robot pemantau, Andalah yang harus mengambil keputusan.”

Baru akan melancarkan kalimat, air sudah mulai masuk ke tempat mereka berpijak. Beberapa orang langsung menuju lift.

Dimas mengingat kejadian sebelumnya. Baru kali ini tempatnya diserang banjir.

Kemala bergegas ke jendela kaca, seluruh kota sudah tampak seperti kolam susu coklat raksasa, masih ada beberapa atau gedung yang tampak.

Dimas masih saja terus mengutak-atik beberapa monitor di hadapannya. Tanpa ada lagi kata-kata. Air berwarna cokelat terus meraangsek masuk, seperti mencari orang-orang yang berjanji akan mengendalikannya.

Bersamaan dengan kalimat itu, air sudah mencapai betis dan lift tak dapat lagi digunakan. Keduanya harus naik ke lantai atas, tanpa bisa lagi menyelamatkan segala peralatan yang tidak pernah disiapkan sebagai antiair.

Panik, Dimas bergegas berenang sambil terus merapalkan doa-doa dan harapan yang diharapkan dapat membantu menyelamatkan perempuan yang masih tetap tinggal di hatinya itu sambil berjanji akan membuka sebuah laboratorium ekosistem tumbuhan dan menjalankan segala yang disebutkan Kemala. Tangannya masih terus menggapai sembarang arah, tapi hanya air yang didapatnya, air kecoklatan tidak bisa memberi petunjuk letak benda-benda, apalagi Kemala.

~ TAMAT ~

One thought on “Cerpen #259; “Rumah Air”

  1. Thanks for the new things you have uncovered in your post. One thing I would like to discuss is that FSBO associations are built over time. By presenting yourself to the owners the first saturday and sunday their FSBO is usually announced, prior to masses begin calling on Wednesday, you develop a good interconnection. By sending them instruments, educational products, free records, and forms, you become the ally. By subtracting a personal affinity for them as well as their circumstance, you create a solid network that, on most occasions, pays off if the owners decide to go with a realtor they know and trust – preferably you actually.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *