Cerpen #256; “Berjalan di Atas Tumpukan Sampah”

Pagi-pagi, aku sudah bangun. Matahari telah timbul. Dan itu tandanya aktivitas rutin yang biasa aku lakukan harus kembali dimulai.Seperti biasa, rumah atau sepertinya tidak layak disebut rumah. Lebih tepat nya gubuk kami. Gubuk kami yang berada di antara tumpukan sampah di daerah pinggiran kota. Seperti biasa, di gubuk ini semua anggota keluarga ku tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ayah ku sudah bersiap sedari tadi untuk berangkat menarik becak. Ibu dan Adikku juga akan pergi untuk mengumpulkan sampah. Kami hanya bisa berharap semoga hari ini dapat sedikit rezeki setidaknya untuk makan beberapa hari kedepan.

Nama ku Diva Zahra, biasa dipanggil Diva. Aku adalah seorang anak berumur 10 tahun, berambut pendek, berpakaian compang-camping, dan hanya memakai alas kaki seadanya. Jika anak perempuan lain yang seumuran dengan ku sedang bahagia bermain bersama teman-temannya tapi tidak dengan ku. Memang, rasanya tidak wajar, ketika seorang anak perempuan seperti ku sudah harus bergelut dengan tumpukan sampah setiap harinya. Tapi, jika tidak bekerja membantu Ayah dan Ibu kami tidak bisa makan. Walaupun aku juga harus bekerja keras untuk mencari uang mencukupi kebutuhan keluarga tapi aku tetap bersekolah. Ya, walaupun sekolahnya juga tidak layak. Setidaknya aku sedang berusaha mencari uang dan mencari ilmu di waktu yang bersamaan. Seperti yang aku bilang, aku tinggal di desa kumuh di pinggiran kota. Jadi, sekolah ku berupa gubuk reyot yang berdiri di antara sampah yang menggunung. Barang-barang di dalam kelas untuk kegiatan belajar-mengajar telah usang. Aku hanya bersekolah sampai siang hari, sisa waktu yang ada aku manfaatkan untuk membantu Ibu dan Adik.

Setelah semua nya berangkat, aku bergegas untuk ke sekolah. Aku berjalan kaki menuju sekolah, menyusuri jalan sempit yang biasa aku lewati. Aku selalu bersemangat untuk ke sekolah, karena menurut ku jika dalam keadaan ekonomi yang seperti ini aku tetap bisa bersekolah artinya aku beruntung. Hal inilah salah satu alasan aku selalu bersyukur sampai detik ini. Sesampai nya di sekolah aku bertemu dengan sahabat dekat ku, Mirna. Ia tinggal tidak jauh dari rumah kami. Kami sekelas dan duduk bersebelahan.

Kegiatan belajar-mengajar hari ini sudah selesai. Setelah keluar dari kelas aku pamit ke Mirna untuk pulang duluan. Dia mengerti jika aku harus membantu Ibu dan Adikku. Dalam perjalanan pulang, rintik-rintik hujan turun. Aku meneduh sebentar di sebuah halte bis. Disana ada seorang kakak perempuan dan temannya yang juga meneduh. Mereka terlihat seperti anak kuliahan.

Sudah 10 menit aku menunggu disini, ternyata hujan juga belum reda. Kedua kakak tersebut juga terlihat sedang asik dengan ponselnya. Ketika suasana sedang hening aku mendengar mereka sedang membahas sesuatu yang terlihat mengkhawatirkan.

“Mereka yang lahir hari ini, dimana pemanasan global semakin nyata, harus menghadapi berbagai ancaman kesehatan karena dampak dari perubahan iklim. Keadaan bumi yang semakin panas, berkurangnya persediaan makanan, penyebaran berbagai penyakit, bencana banjir dan kebakaran dimana-mana itu hanya sebagian dari kondisi alam yang harus dialami saat ini. Ini sangat mengkhawatirkan.”

Terlihat teman nya juga ikut menanggapi, “Benar, perubahan iklim saat ini telah membahayakan kesehatan manusia lantaran meningkatnya kondisi cuaca ekstrem dan parahnya polusi udara yang ada. Jika tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, dampaknya dapat membebankan seluruh generasi dengan berbagai penyakit sepanjang hidupnya.”

Terlihat dari raut wajah nya mereka terlihat sangat khawatir dengan topik pembicaraan itu. Setelah menunggu hampir 20 menit akhirnya hujan pun reda. Aku bergegas menuju tempat Ibu dan Adikku berada. Di tengah perjalanan aku jadi teringat dengan perkataan kakak tadi. Memang benar jika krisis iklim yang terjadi saat ini sangat mengkhawatirkan. Jika dilihat dari lingkungan sekitar ku saja itu sudah tampak jelas. Sampah ada dimana-mana, polusi udara, bencana banjir dan lain-lain. Tentunya hal ini akan mengancam masa depan generasi mendatang. Termasuk diri ku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *