Cerpen #253; “HORIZON NABASTALA”

Jantung Ardan berjumpalitan sementara dia memacu sepeda ontelnya sambil menghafal materi-materi olimpiade astronomi nan ruwet yang diikutinya hari ini. Udara pagi bercampur kabut tipis menyapu wajahnya yang telah dialiri bulir-bulir keringat sebesar biji jagung. Jalanan kota sudah ramai, sehingga mau tak mau Ardan harus mengurangi perhatiannya ke buku paket setebal pintu di keranjang sepedanya. Asap kendaraan bermotor serta debu perkotaan hampir membuatnya sesak, namun dia tak punya pilihan lain selain melanjutkan perjalanannya. Dalam hati dia memohon kesabaran yang tiada batas. Hidupnya memang penuh dengan lika-liku dan pahit getir dunia fana ini.

Lokasi tujuannya, Universitas Arus Bumi tinggal 3 km dari tengah kota. Ketika Ardan mengayuh pedalnya lebih mantap, sebuah kereta kuda alias dokar hampir saja menjungkirbalikkannya dari sepeda. Selama beberapa detik, Ardan lupa caranya bernapas. Jantungnya yang sudah berdegup kencang serasa ingin keluar dari tulang rusuknya. Sambil menyumpahi si kusir berikut kudanya, Ardan menarik pegas rem dan ontel kebanggaannya melambat di turunan lurus menuju sebuah jembatan entah apa namanya.Ardan tak tahu, dan tak mau tahu tentunya. Ada ratusan hal lain yang lebih pantas dia pikirkan.

Ontel butut itu terus meluncur menembus kerumunan jalan yang mengular seperti meander. Ardan tak membuang kesempatan akan waktu itu. Dipandanginya pembahasan soal olimpiade astronomi nasional tahun lalu. Otaknya berusaha mati-matian agar materi itu tidak menguap begitu saja. Dia mendesak memorinya habis-habisan untuk menyimpan gambaran luas ilmu tersebut. Begitu seterusnya hingga Ardan tiba di gerbang Universitas Arus Bumi.

“Anter koran, Bang?” tanya seorang satpam penjaga gerbang.

Ardan cemberut sekali. “Pertanyaan macam apa itu?” Dia mengeluarkan almamater SMA-nya berikut bukti kepesertaan olimpiade nasional.

Begitu melihatnya, satpam itu agak merasa bersalah. “Ups! Maaf, soalnya kau tampak sederhana sekali untuk ukuran peserta olimpiade bergengsi ini.”

Ardan merasa pernyataan itu lebih condong ke sebuah ejekan, namun sebagai anak pemilah sampah kota, dia piawai menyikapi cemoohan dari gubernur sekalipun. Dia mengulurkan tangan untuk menjalin sebuah hubungan yang baik. Menyalakan api permusuhan sama sekali tak ada gunanya. “Aku memang lain dari yang lain. Senang berjumpa dengan Bapak.”

Satpam yang berdiri memunggungi gerbang itu menjabat tangan Ardan kuat-kuat. “Kau sepertinya gigih sekali. Bapak yakin kaulah juaranya.”

Ardan semestinya girang. Dukungan macam itu tepat sekali seperti yang dia harapkan, walau itu berasal dari seorang yang bukan siapa-siapanya. Namun demikian, tenggorokannya justru serasa tersumbat karena gelombang pesimis. Andai saja beliau tahu kalau Ardan jarang sekali belajar atau mengikuti pelatihan rutin pra olimpiade, bapak satpam takkan berkata begitu padanya. Hingga detik ini pun, Ardan masih meragukan kemampuan dan kapasitas otaknya. Dia bahkan meragukan kevalidan komputer yang menetapkan seorang Majella Ardan Alteza sebagai juara pertama olimpiade astronomi tingkat provinsi bulan lalu.

“Hei,” kata satpam lembut. Dia menepuk bahu Ardan. “Kau pasti bisa.”

Ardan agak terperanjat. Satu lagi keuntungan sebagai anak yang selalu diremehkan dan direndahkan, Ardan juga mahir mengendalikan emosi dan ekspresinya. Namun dia tetap saja  bertanya-tanya dalam hati. Ini satpam atau psikolog? Bisa-bisanya dia tahu isi hatiku.

Ardan menelan komentar tololnya. Dia memaksa bibirnya untuk menyunggingkan senyum. “Terimakasih Bapak. Sepertinya aku harus bergegas.”

Diantara 895 peserta olimpiade, sepertinya tak satupun dari mereka yang berangkat menggunakan sepeda ontel. Parkiran dipenuhi oleh mobil-mobil mewah yang dengan berbagai plat. Bahkan ada juga bus sekolah sebesar bus pariwisata. Saat menuntun sepeda bututnya, Ardan merasakan secercah rasa cemburu, sedih hingga getir dalam hati kecilnya. Belum masuk ke universitas saja dia sudah dikatai pengatar koran, lalu apa kata dunia ketika dia masuk ke gedung mirip pencakar langit ini? Gelandangan yang tersesat? Atau anak kumal yang meminta bantuan sosial?

Ardan memantapkan langkahnya. Berpikir seperti itu tadi bakalan membuatnya gila. Terpaku di satu keadaan tak akan membantunya menyelesaikan persoalan. Dikenakannya almamater SMA serapi mungkin. Dielusnya lambing SMA di bagian dada dengan penuh nostalgia. Maafkan aku jika tak bisa membawakan emas untuk sekolah. Maafkan aku jika hanya membuat sekolah malu. Tapi percayalah, aku telah mengerahkan segalanya… 

Perasaan Ardan bercampur aduk. Dia membayangkan wajah-wajah semua orang yang menaruh harapan padanya. Dia tak kuasa membuat mereka kecewa. Dia teringat janjinya kepada SMA, juga kepada abah umahnya di surga. Ardan membayangkan sebesar apa rasa bangga semua orang padanya jika seorang pemilah limbah berhasil mengukir prestasi di kancah nasional. Sepertinya itu cukup menyenangkan… Khayalan itu membantunya menjernihkan pikiran. Ardan terus berjalan menyusuri lorong, melewati gerombolan anak hits, menyempil ke dalam lift dan masuk ke ruang lombanya.

Puji syukur kepada Allah SWT yang tak membiarkan Ardan terlambat masuk ke ruang lomba. Tepat ketika pantatnya menyentuh bangku yang lebih empuk daripada setumpuk kardus di kamarnya, lima orang berpakaian formal masuk ke ruangan. Sebenarnya ruangan itu sendiri tidak terlalu luas. Peserta lombanya hanya 87 orang, jauh lebih sedikit dibandingkan mata pelajaran lainnya seperti sosiologi dengan total peserta 153 siswa. Agaknya cabang lomba astronomi tidak terlalu banyak peminatnya. Ya, selain fakta bahwa tidak semua sekolah menetapkannya sebagai pelajaran wajib, astronomi juga tak kalah rumitnya dengan fisika atau kimia. Anak astronomi kemungkinan besar bisa menggarap pelajaran fisika, namun anak fisika dijamin bakal pusing tujuh keliling jika disuruh menghitung radius linier komet.

Walaupun saingan-saingannya tak terlalu banyak, Ardan hal itu tak membuat rasa rendah diri Ardan mereda. Yang ada, telapak tangannya mulai berkeringat dingin dan agak gemetar. Ketika dia melayangkan pandangan ke sepenjuru ruangan, Ardan sungguh berharap andai saja dia ditelan bumi. Semua pejuang medali di sekelilingnya terlihat begitu percaya diri, sampai-sampai Ardan tak bisa memandangi mereka lebih dari sepuluh detik. Bisa-bisa kekuatannya hanyut begitu saja. Tatapan mereka yang sekeras besi seolah siap menerima tantangan apapun seputar bumi dan antariksa, termasuk menteleportasikan ruangan itu ke matahari. Sedangkan Ardan? Yang dia miliki hanyalah sekepal otak pas-pasan yang semoga pengetahuannya mencukupi untuk sekedar tak terlihat bodoh-bodoh amat. Ardan tak berani berharap lebih.

Segera saja setelah absensi dan acara formalitas pembuka lainnya, 3 orang pengawas membagikan amplop coklat berisi soal dan lembar jawaban manual. Entah karena alasan apa, tahun ini olimpiade sama sekali tidak menerapkan computer basic test. Hanya ada ujian praktek untuk penyisihan, dan soal seperti ini untuk babak final. Waktu pengerjaan sebanyak 420 menit atau tujuh jam. Ardan menerima amplop soal dengan segenap perasaan dan berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran buruk akan hasil final ini.

Ardan memajukan bangku, menegakkan bahu, menarik napas sedalam-dalamnya dan menggosok wajah dengan kedua tangannya. Disobeklah pembuka amplop itu. Total soal ada 100 butir yang tersusun acak di 25 halaman F4. Semuanya berwujud pilihan ganda. Ardan membolak-balik lembaran itu dan membaca soalnya secara sekilas, namun komprehensif. Kabar baiknya, tak satupun dari 100 soal itu yang membuatnya terkejut atau terkena serangan jantung koroner mendadak. Entah bagaimana, Ardan merasa tidak asing pada semua jenis soal tersebut. Hukum Keppler, sumbu rotasi, energi orbit, diameter sudut titan, hingga fisika kuantum, tak satupun menyulitkannya. Dia memprediksikan bahwa enam jam adalah waktu maksimal yang dibutuhkannya untuk memperjuangkan nilai dirinya. Ralat, bukan hanya nilai dirinya, namun juga tentang kehormatan keluarganya, sekolahnya hingga nama provinsi yang membebaninya.

Tanpa basa-basi, Ardan langsung melahap soal-soal di hadapannya. Prinsipnya satu; Menang itu bonus. Yang terpenting hanyalah mengerahkan seluruh daya upaya yang maksimal. Tiga jam pertama, tak ada masalah yang berarti, hingga tibalah Ardan di kabar buruknya.

Kabar buruknya, mata Ardan mulai mengeluhkan rasa kantuk. Semalam dia hanya tidur selama tiga jam, setelah berkutat keras dengan mesin penghancur kertas milik seorang yang memberinya tempat tinggal sederhana. Ya, setelah kedua orangtuanya meninggal dalam insiden dua tahun lalu, Ardan akhirnya hidup bersama seorang pemilah sampah yang tinggal sendirian di sudut kota. Kabar buruk selanjutnya, pulpen Ardan satu-satunya juga mulai macet-macet. Dia memperhitungkan untuk meminjam pulpen anak di sebelahnya. Kemungkinan, rekan seperjuangan akan jauh lebih baik dibandingkan lima orang pengawas berwajah penggerutu yang tak kenal ampun. Ketika Ardan tiba di soal nomor enam puluh tujuh, matanya sudah serasa dilem, atau paling tidak ada dua iblis yang menggantungi kelopak matanya. Suasana ruangan yang hening dan syahdu, AC yang mulai menyegarkan tubuh Ardan, serta waktu pengerjaan yang masih tersisa empat jam membuatnya nekat ambil resiko untuk tidur di tengah pengerjaan.

Satu hal yang disyukuri oleh Ardan. Tak ada satupun peraturan yang melarang peserta olimpiade untuk tidur saat lomba berlangsung. Belum sampai tiga menit, anak gigih itu sudah mulai mendengkur halus. Kepala berisi otak seencer kopi itu tergeletak di meja.

Begitu memejamkan mata, Ardan merasa semua pemandangan di depan matanya tampak mengabur, digantikan oleh pemandangan yang sangat asing, namun tak akan salah untuk dikenali.

Kutub Selatan.

Ardan menunduk. Dia memekik begitu menyadari bahwa tubuhnya telah menjadi kabut. Segala sesuatu di sekelilingnya tampak padat dan nyata, tapi dirinya adalah sesosok roh.

Di luar kehendaknya, Ardan menyeberangi air kutub yang mencair secepat kilat, telapaknya mengubah permukaan air menjadi uap tipis. Begitu dia berhenti, Ardan menelaah sekelilingnnya dan berbagai macam pertanyaan menjalari benaknya bagai ribuan rayap. Sebuah gletser terletak hampir satu kilometer dari tempatnya berdiri (melayang, atau apalah). Pegunungan biru yang puncaknya berselimut salju terbentang di kanan kiri, sedangkan di atasnya mengapunglah awan yang menyerupai harum manis. Pada lembah yang terletak di antara dua gunung tertinggi, dinding es bergerigi menjulang dari laut, memenuhi seluruh ngarai. Gletser tersebut berwarna biru dan putih serta bebercak hitam sehingga tampilannya mirip gundukan salju kotor yang teronggok di trotoar sesudah mesin keruk salju melintas, hanya saja ukurannya dua juta kali lebih besar.

Meskipun ini hanya mimpi, Ardan mulai merasakan turunnya suhu udara. Es sebanyak itu mengirimkan gelombang dingin, menjadikannya kulkas terbesar di dunia. Namun, hal yang paling menyeramkan adalah bunyi menggemuruh yang merambat di air.

“Ba…bagaimana mungkin…?” Ardan bahkan tidak dapat mengutarakan pemikirannya dengan kata-kata.

“Tentu saja itu mungkin.” Ardan bersyukur dia berbentuk roh dan melayang-layang, sebab dia mungkin sudah terjun dari ketinggian saking kagetnya. Di sebelah kanannya, mengapunglah sesosok wanita tua yang jika Ardan boleh menebak, usianya pasti lebih dari dua abad. Penampilannya mirip nenek-nenek gelandangan yang terdampar di jalanan sejak kutub masih membeku. Rambut gimbalnya yang mirip kain pel berwarna cokelat beruban diikat ke belakang. Wajahnya dipenuhi kutil dan tahi lalat. Ketika dia tersenyum, tampaklah tiga buah gigi saja.

Retakan melebar pada es di bawah kaki Ardan.

“Ini adalah tempat tinggalmu versi setengah abad lagi, Nak,” kata wanita itu, seolah berbagi rahasia. “Ayo. Aku akan mengajakmu untuk tur keliling dunia. Kau bisa memanggilku Peri Kolong Jembatan.”

Listrik seakan menjalari tulang belakang Ardan. Sebelum otaknya berhasil memproses informasi barusan, Peri Kolong Jembatan sudah menggamit tangannya. Satu detik kemudian, kutub telah menghilang di belakangnya.

“Kau anak yang gigih, Ardan.” Peri Kolong memandangi wajah Ardan dan sepertinya sedang memeriksa mukanya secara menyeluruh.

Meskipun Ardan harus berlatih untuk berbicara saat terbang, dia berhasil mengeluarkan kata-katanya. “Waduh, terimakasih banyak. Tapi, Anda adalah orang kedua yang mengatakan hal itu sehari ini.”

Mata wanita tua itu berbinar-binar. “Tapi itu sungguh benar. Nah, kalau begitu, kau pasti paham mengapa aku mengajakmu keliling dunia.”

Ardan memandang Peri Kolong Jembatan. “Aku sedang lomba di babak final. Tidak bisakah Anda menculikku lain waktu?”

Peri Kolong Jembatan menjentikkan jarinya, dan tampaklah sebuah cermin telekonferensi mengilap yang menunjukkan gambar kabur Ardan, sedang tidur di pojok ruang lomba.

“Apa itu aku?” tanya Ardan. “Benarkah aku sekarang sedang bermimpi melihat diriku sendiri yang sedang bermimpi?”

Awan-awan tersibak di sekeliling mereka. Muka bumi yang berwarna hijau keabu-abuan menghampar di bawah mereka. Peri Kolong Jembatan menarik Ardan dan menukik dengan kecepatan yang cukup untuk membuatnya kena stroke mendadak. “Waktu kita tidak banyak Ardan, kecuali kau berkenan jika bangun saat waktunya pengumpulan lembar jawaban.”

Ardan mengangguk. Otaknya mulai pindah gigi. Perlahan, dia mulai paham akan kehendak kejadian luar biasa ini ataupun maksud tersirat dari si wanita tua. “Kau ingin aku menyelamatkan dunia ini, ya?”

“Tepat sekali. Dan kau adalah orang yang paling tepat. Namun pertama-tama, akan kutunjukkan beberapa visi yang kau butuhkan.”

Mereka terjun bebas ke bumi menuju sebuah lembah yang mengerikan. Ardan merasakan guncangan tanah. Di puncak bukit, sebuah pohon eukaliptus tiba-tiba terbakar. Kerusakan merambati lembah; rumput berubah menjadi api serta hutan yang musnah jadi tanah gersang. Sungai dan danau di sebelah timur mongering. Ketika getaran tersebut berhenti, lembah itu menyerupai negeri tak bertuan sesudah ledakan atom. Satu-satunya yang tersisa hanyalah tempat Ardan dan Peri Kolong Jembatan mengapung.

“Pemanasan global,” klarifikasi peri tua. Dia mengayunkan tangan kirinya, dan mereka kembali terbang entah ke mana.

Sekejap kemudian, mereka telah berada di sebuah sungai. Tentu saja Ardan tak tahu nama sungai itu, namun dia bisa mendeskripsikannya dengan mudah. Sungai itu sendiri lebar, alirannya lambat, dan berair sewarna karamel. Puing-puing terhanyut di air gelap, memenuhi sungai dengan segala macam limbah yang cukup untuk membuat sebuah pulau.

Segelintir pohon cemara tinggi terjulur di bantaran. Jembatan terdekat terlihat masih baru, terbuat dari tiang-tiang besi. Tidak ada burung yang berkicau. Nyamuk mengerubungi mereka di atas rawa senak di tanah rendah. Dengung tonggeret dan hawa gerah nan pengap mengingatkan Ardan akan lokasi pengungsian korban erupsi gunung berapi.

“Limbah tanpa daur ulang,” Kata Peri Kolong Jembatan pelan. Ardan dapat menangkap maksudnya tanpa kesulitan.

Tur mereka terus berlanjut hingga tibalah Ardan di sebuah pelabuhan. Kurang dari seratus meter di depan mereka, berbarislah puluhan kapal pesiar yang berlabuh. Ardan yang belum pernah melihat kapal, apalagi menaikinya benar-benar terpana. Pelabuhan itu berkilau diterpa sinar matahari. Namun satu hal yang tak luput dari penglihatannya, yakni lusinan kerusakan alam yang ditimbulkan oleh kegiatan disana. Andai tempat ini masih asri, pasti indahnya bukan main.

Peri Kolong Jembatan sepertinya mampu membaca pikiran Ardan, soalnya dia berujar, “pembalakan liar dan penambangan tak terkontrol. Nah, sekarang adalah waktu yang tepat bagimu untuk melihat-lihat tempat indah di bumi ini.”

Mereka melesat ke awan. Sekejap Ardan melihat kapal pesiar ituu tampak sangat kecil dari atas. Jika saja dia punya kekuatan, ingin rasanya dia menginjak-injak kapal tak ramah lingkungan itu.

Dunia seolah memanjang. Sinar matahari melengkung di sekeliling mereka. Lubang telinga Ardan meletup. Dia mendengar gemuruh yang belakangan disadarinya merupakan bunyi gelombang kejut di udara. Saat berhenti, Ardan berdiri tegak…atau lebih tepatnya, mengapungkan diri sampai tegak. Rasanya seperti habis bermain video game tiga hari tiga malam tanpa merem. Mereka berada di bawah air, dalam gua seukuran garasi mobil. Lumut berpendar menyelimuti langit-langit, membanjiri tempat tersebut dengan binar hijau kebiruan. Peri Kolong Jembatan mengajaknya berjalan membelah deretan ganggang setinggi gedung apartemen. Tumbuhan kuning kehijauan terayun-ayun lemas, seperti balon helium. Jauh di atas, Ardan melihat selarik warna putih yang mungkin merupakan cahaya matahari.

Akhirnya, hutan ganggang terkuak. Ardan terkesiap. Dia berdiri di puncak bukit bawah laut nan tinggi. Di bawah mereka terbentanglah sebuah kota. Dimana-mana, berenanglah putra-putri duyung. Taman dipenuhi koral dan anemon laut, sementara atap bergenting indung mutiara. Mereka duduk di sebuah bubungan bertelekan zamrud.

Wanita tua itu berdeham. “Kau tampak sangat percaya diri, tak seperti anak yatim piatu yang pekerjaannya kasar-kasar. Jika waktumu banyak, sebenarnya aku bisa mengajakmu ke bawah laut area pelabuhan tadi. Di sana, kau bisa membawakan oleh-oleh limbah untuk pengasuhmu sebanyak yang kau mau. Atau mungkin aku juga bisa menunjukimu pemandangan dunia satu abad lalu di atas sana. Peri hanya menampakkan visi di masa mendatang, supaya kau paham bahwa dunia ini sedang tidak baik-baik saja. Sekarang, saatnya kembali ke duniamu. Tugasmu hanyalah menata kehidupan dan merekonstruksi dunia sebagaimana hukum alam yang telah berlaku selama berabad-abad. Apa yang kau butuhkan?”

Ardan tampak berpikir-pikir. “Mmm, untuk saat ini aku hanya butuh pulpen, mungkin juga bantuan petunjuk.”

Peri Kolong Jembatan tersenyum, tulus sekali kesannya. Dia lagi-lagi menjentikkan jemarinya, kemudian Ardan berpusing di antara batas ruang dan waktu sambil mengeluarkan sumpah serapah.

Dalam perjalanannya menembus batas waktu, Ardan justru melihat matahari terbenam. Suhu udara juga kembali dingin. Bintang melimpah ruah di angkasa. Karena saking banyaknya, ingin rasanya Ardan berhenti dan memandangi bintang-bintang itu. Kemudian muncullah aula borealis. Ardan jadi teringat kompor gas milik almarhumah ibunya yang seringkali menampakkan cahaya kebiruan yang menggelombang maju mundur. Samar-samar, dia mendengar suara Peri Kolong Jembatan yang bergema di belakangnya. “Iseh penak jamanku, tho?”

Kemudian, kembalilah nyawa Ardan ke dalam raganya. Sebuah pulpen berbentuk anemone berada di genggamannya. Pikiran Ardan berpacu. Nyatakah yang barusan itu? Benarkah aku harus menyelamatkan dunia? Kenapa aku tidak sempat minta tanda tangan si nenek tua?

Berbagai pemikiran dan pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Ardan. Namun begitu dia melihat jam, tersadarlah Ardan kalau dia benar-benar berada dalam masalah. Waktu pengerjaan tinggal satu jam, sementara masih ada sepertiga soal yang belum digarapnya.

Hari ini, waktu benar-benar berpihak pada Ardan. Setelah riwayatnya hampir tamat karena terlambat masuk, kini Ardan berhasil menyelesaikan 100 butir soal pada detik-detik terakhirnya. Begitu bahunya merosot, dalam hatinya dia bertekad untuk benar-benar menyelamatkan dunia ini dari tangan-tangan oknum tak bertanggung jawab.

Lima tahun kemudian…

Ardan versi lima tahun lebih tua baru saja menyelesaikan proyek terakhirnya. Barusan, dia memasang pegas pamungkas pada pembangkit listrik tenaga limbahnya. Besok, dia akan memamerkan penemuan hebatnya ke khalayak ramai. Semakin pembangkit listrik, ada juga alat pengendali pemanasan global yang ditancapkan ke puncak gunung, kulkas dan AC dengan freon ramah lingkungan, serta sebuah mobil mirip lamborghini yang menyerap asap limbah di jalanan minim penghijauan.

Mengenai hasil olimpiade astronomi lima tahun lalu? Tentu saja ucapan satpam yang menyambut Ardan terwujud menjadi kenyataan. Nama Majella Ardan Alteza keluar sebagai penerima medali emas atas jawabannya yang hanya salah satu.

Petang ini, Ardan sedang berlutut di samping makam abah umahnya. Dia membawa medali emasnya dan mengalungkan kalung it uke nisan keduanya sambil berderai air mata. “Abah, Umah, seharusnya kalian melihatku hari itu. Juga hari-hari ketika aku bersusah payah menyelamatkan dunia ini.” Ardan merasa konyol, bicara pada seonggok batu nisan, tapi dia sangat merindukan sosok orangtuanya.

“Sampai jumpa di surga, abah, umah…”

78 thoughts on “Cerpen #253; “HORIZON NABASTALA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *