Cepen #275; “The Rebels”

Fajar telah merekah. Aku terbangun oleh dering jam weker di atas meja yang berdering tanpa ampun. Setelah merapikan tempat tidur, segera aku keluar dari kamar dan menemukan teman-temanku sedang menikmati kopi di luar markas. Markas kami puluhan kilo letaknya dari hutan-hutan produksi; belum terjamah oleh manusia, kecuali kami tentunya. Oh iya, kami ini buronan pemerintah.

 Sekarang tahun 2121. Kondisi bumi semakin mengenaskan. Kutub Utara dan Selatan sudah tak bisa lagi disebut sebagai kutub karena sekarang telah berubah menjadi lautan tanpa gunung-gunung es. Padang rumput Serengeti sekarang menjelma gedung-gedung pencakar langit. Gunung Everest menjadi gunung yang gundul tanpa salju. Bahkan, Kota Venice yang indah nan memukau sudah tenggelam tanpa jejak dan menyatu dengan Lautan Mediterania. Semua ini disebabkan oleh krisis iklim yang berkepanjangan.

 Dampak krisis iklim yang berkepanjangan juga tak terkecuali melanda negeriku tercinta yang konon katanya gemah ripah loh jinawi. Sebagian besar Pulau Jawa sudah tenggelam kecuali beberapa daerah dataran tinggi. Ibukota negeri ini juga telah berpindah ke Kabupaten Penajam Paser Utara di Kalimantan yang kini sudah menjadi metropolitan baru, dengan mengorbankan kawasan paru-paru dunia tentunya. Markas kami terletak jauh di Utara dari metropolitan baru tersebut.

 Sesampainya aku di luar markas, aku disambut oleh suara ketua yang ramah dan bersahabat.

 “Pagi sobat! Cepat minum kopimu sebelum menjadi dingin.” sapa sang ketua.

 Aku langsung menempati tempat yang masih kosong pada salah satu Pohon Jati yang kami jadikan sebagai bangku. Di meja depanku yang terbuat dari mahoni berkualitas jempolan, sudah tersedia secangkir Americano panas.

 Hampir saja aku lupa memperkenalkan diri. Kami adalah salah satu dari segelintir kelompok yang memperjuangkan kelestarian alam. Tapi kami bukanlah kelompok relawan biasa. Lebih cocok rasanya bila kelompok kami ini disebut dengan pejuang revolusioner.

 Ku seruput Americano ku. Rasanya seperti biasa, pahit. Ternyata teman-teman seperjuangan ku ini sedang membahas rencana penyerangan terhadap kelompok suruhan pemerintah yang akan mengeksploitasi salah satu dari lima hutan lindung yang tersisa di Penajam Paser Utara. Kelompok kami beranggotakan delapan orang dan kami saling memanggil dengan nama julukan.

 Biar ku sebutkan satu-persatu anggotanya. Pertama ada sang ketua yang sikap dan perilakunya macam Raja Arthur yang berhasil mencabut Pedang Excalibur dan mungkin hal inilah yang membuatnya dipanggil dengan nama Arthur. Selanjutnya ada Kintaro. Dia ini yang bertubuh paling besar diantara kami, dengan tinggi dua meter lebih sedikit. Lalu selanjutnya ada si kembar Huginn dan Muninn yang memiliki ciri fisik yang tak bisa dibedakan, kecuali bahwa Huginn lebih tinggi satu setengah senti dari Muninn. Anggota selanjutnya adalah Hou Yi sang penembak jitu yang belum menemukan Chang’e nya.

 Kami memiliki dua anggota wanita. Mereka bukanlah wanita-wanita sembarangan. Bisa kujamin kalau mereka akan mengalahkan mu dengan telak dalam berbagai hal. Yang satu bernama Freya. Julukannya ini diambil dari dewi tercantik dalam Mitologi Nordik. Dan dia memang sangat cantik. Dan yang satu lagi biasa dipanggil Hippolita, Ratu dari prajurit-prajurit wanita Amazon. Itulah keseluruhan anggota kelompok kami, ditambah aku sendiri.

 Ketua kami kembali menjelaskan permasalahan yang akan disampaikannya setelah sebelumnya sempat terpotong oleh kehadiranku tadi.

 “Menurut informasi, Perusahaan X akan membuka lahan di kawasan hutan barat daya Ibukota kita. Padahal kawasan tersebut merupakan salah satu dari lima hutan lindung yang tersisa disekitar sini.” Ucap ketua dengan suara yang bersahaja lalu melanjutkan,

 “Seharusnya, menghentikan perusakan lahan ini adalah hal mudah bagi kita. Tapi, menurut informasi juga, pemerintah berada dibalik ini semua. Artinya, pemerintah menyokong dan mendukung proyek perusakan ini.”

 Muninn yang duduk di depanku tiba-tiba berdiri dan berkata dengan berapi-api, “Aku sudah muak dengan semua ini. Ayo segera kita habisi mereka, maksudku pemerintah yang mendukung perusakan alam.”

 Huginn yang lebih tua mendukung saudaranya dengan kritikannya yang tajam, “Pemerintah di seluruh dunia sama saja. Mereka berjanji untuk menjaga kelestarian alam kita, bahkan mereka juga mengkampanyekan penggunaan barang-barang yang ‘katanya’ ramah lingkungan. Tapi, janji hanya sekedar janji kawan. Mereka tak pernah menepatinya. Ingin rasanya kuhajar mereka semua itu: para penghancur diri sendiri.”

 “Tenanglah dulu kalian berdua.” Hou Yi yang pendiam mencoba menenangkan mereka.

 “Kita memang akan menghajar habis mereka bukan, Arthur?” Hippolita bertanya.

 Sang ketua menanggapi dengan berkata, “Benar. Malam ini pukul sepuluh, kita hajar mereka secepat yang kita bisa. Serangan kilat ‘Blitzkrieg’.”

 “Apa-apaan perumpamaan ‘Blitzkrieg’ mu itu Arthur.” Freya memotong dengan dibarengi senyuman yang menawan.

  “Blitkzrieg? Tak pernah dengar.” ucap Kintaro dengan nada polos yang disambut dengan gelak tawa dari anggota lain.

 Sang ketua  berargumen bahwa serangan “Blitzkrieg” merupakan perumpamaan yang tepat bagi rencananya kali ini, setidaknya menurut dirinya sendiri.

 Aku mendengarkan semua kerenyahan ini dengan suasana hati yang gembira sembari menghabiskan kopi pahit favoritku secara perlahan.

Malam hari tiba. Pukul sembilan tepat kami berangkat dari markas menaiki Jeep Wrangler kami yang terlihat gagah saat menembus hutan dalam kegelapan malam.

 Huginn menyetir dengan lincah menuruni jalan perbukitan yang curam. Disebelahnya Muninn duduk dengan sedikit gelisah. Aku duduk dipojok kanan bagian tengah mobil dan Hou Yi mengisi bagian pojok kiri nya, sedangkan Arthur duduk ditengah-tengah kami. Bagian belakang mobil diduduki oleh kedua primadona kami.

 Tak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan. Setelah sekitar 45 menit kami berkendara dalam selubung pepohonan malam, tiba-tiba Arthur menyuruh Huginn untuk berhenti, “Kita turun disini, Huginn.”

 Huginn yang kebingungan pun menjawab, “Lalu dimana target kita, kapten? Dimana-mana hanya ada pohon-pohon raksasa.”

 “Jadi begini rencananya. Kita semua kecuali Huginn dan Muninn akan turun disini dan bergerak menuju target dengan berjalan kaki. Sedangkan Huginn dan Muninn akan mencari jalan memutar agar seolah-olah mereka berdua datang dari hutan produksi.” Arthur menjelaskan.

 Sebelumnya biar ku beri tahu sesuatu. Ada tiga macam hutan saat ini. Yang pertama adalah hutan produksi yang memang digunakan untuk kebutuhan produksi masyarakat dan berbatasan langsung dengan metropolitan masyarakat. Lalu yang kedua adalah hutan lindung yang seharusnya tak boleh dimasuki sembarang orang dan harus dijaga kelestariannya. Tapi pada tahun 2121 ini, hutan lindung di Indonesia hanya tersisa sekitar dua juta hektar saja karena kawasan lainnya telah berubah menjadi daerah padat penduduk yang tak sehat. Ini semua disebabkan oleh kerakusan manusia yang hanya bisa mengkonsumsi tanpa bisa memproduksi. Gerakan-gerakan semacam “menanam sejuta pohon” pun tak berdampak besar karena tak sebanding dengan masifnya eksploitasi yang dilakukan. Melihat hal seperti ini yang makin parah di setiap tahunnya, pemerintah tak hanya tinggal diam. Mereka turut serta untuk membantu, membantu memperparah kerusakan maksudku.

 Ditengah-tengah kerusakan yang terjadi, mereka malah mendukung pihak-pihak swasta untuk melakukan perusakan lahan dengan dalih “Bila manusia tak merusak alam, maka manusia harus tinggal dimana?”. Mereka boleh berkata seperti itu bila mereka mengimbangi perusakan yang mereka lakukan dengan memunculkan sebuah solusi. Kebobrokan macam inilah yang menyatukan kami berdelapan dalam suatu kelompok revolusi.

 Lalu yang terakhir adalah hutan-hutan lebat yang belum terjamah oleh peradaban. Di hutan lebat seperti itulah markas kami berdiri.

 Arthur melanjutkan penjelasannya tapi kali ini terfokus pada si kembar bersaudara. “Sesampainya kalian di area target, kalian bilang saja kalau kalian ini dua orang pemburu yang tersesat hingga ke kawasan hutan lindung. Bila mereka bertanya bagaimana bisa kalian tersesat, jawab saja kalau kalian tak menemukan satupun hewan buruan di kawasan hutan produksi. Kami akan mengawasi kalian dari atas tebing dekat area target dan begitu para penjaga yang bertanya pada kalian mulai lengah, bunyikan lah klakson dan Hou Yi akan langsung menembak salah satu penjaga, lalu kita habisi mereka dengan satu serangan kilat. Ada pertanyaan, kalian berdua?” Arthur bertanya pada Huginn dan Muninn.

 “Serahkan saja tugas itu pada kami, Arthur.” balas Muninn lalu berkata pada Huginn dengan bergurau, “Mari kita menjadi dua orang pemburu kembar, Huginn”

 “Kedengarannya menyenangkan juga. Aku sudah tak sabar saudaraku.” Huginn menimpali.

 Begitulah. Lalu kami semua kecuali Huginn dan Muninn turun dari mobil dengan menenteng senjata kami masing-masing. Arthur sang ketua menggunakan senjata favoritnya: Karabin M4. Kintaro menenteng senapan M60 di atas pundaknya seakan senjata itu adalah pistol. Hou Yi sang penembak jitu menggunakan AWM sebagai senjata andalannya untuk menghabisi musuh secara diam-diam. Hippolita sang ratu memilih AK-74 sebagai andalannya untuk menyerbu. Freya menggunakan FN SCAR yang bentuknya indah namun mematikan, seperti senyuman Freya. Oh iya, Huginn dan Muninn adalah pengguna senjata jenis “Pistol Mitraliur” yang ringan dan cepat: Huginn menggunakan Vektor, sedangkan Muninn menggunakan Uzi. Aku sendiri menggunakan M14 yang digunakan untuk mendukung dari belakang.

 Setelah Huginn dan Muninn berlalu, kami berjalan menembus pohon-pohon raksasa nan lebat. Selama perjalanan, Arthur menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana kami harus berbuat. Seperti rencana Arthur, kami akan menunggu aba-aba dari Huginn dan Muninn dari balik pohon-pohon yang berada di sekitaran pondok tempat para pekerja dan penjaga beristirahat. Setelah kami berjalan sekitar sepuluh menit, kami mendengar raungan gergaji mesin yang memecah keheningan malam.

Kamp para pengrusak alam itu berada dibawah lereng tempat kami mengintai dengan senyap. Di sana terdapat sekitar tujuh tenda yang telah berdiri. Di luarannya berkeliaran sekitar lima belas, atau mungkin dua puluh penjaga yang awas dan terlatih. Sedangkan di hutan yang mengelilingi para penjaga, pekerja-pekerja sudah mulai menebangi pohon dengan gergaji mesin mereka. Terdapat jalan dari tanah di samping tenda-tenda mereka. Dari jalan itulah, Huginn dan Muninn akan muncul dan memerankan peranan menjadi pemburu yang tersesat.

 Kami menunggu. Tapi Huginn dan Muninn tak kunjung datang. Setelah selama lima belas menit menunggu, Kintaro mulai tidak sabar dan berkata, “Apakah si kembar itu tersesat atau mungkin mereka sudah tertangkap?”

 “Jangan berbicara seperti itu, Kintaro.” Freya memotong lalu bertanya kepada Arthur, “Bagaimana ini kapten? Apakah ada rencana B?”

 Kapten Arthur terlihat bingung lalu akhirnya memutuskan untuk menjadikan dirinya sebagai umpan. Arthur akan turun menuju sarang musuh lalu berkata pada para penjaga bahwa dia tersesat saat sedang hiking dengan kawan-kawannya.

 Aku, Kintaro, Hou Yi, Freya, dan Hippolita mengamati sang kapten berjalan menuju sarang macan. Saat Arthur menuruni jalan menuju musuh, sekitar delapan orang penjaga langsung mengarahkan senjata mereka kearah Arthur. Kami tak bisa mendengarkan apa yang diucapkan Arthur pada para penjaga, sebelum tiba-tiba terdengar suara peluru yang teredam lalu Hou Yi yang berdiri di samping kiri ku tumbang tak bergerak.

 Kami tetap tenang. Aku langsung mengambil posisi tiarap dan mendengar Freya berkata dengan sedikit panik,

 “Kita ketahuan. Kita harus bagaimana sekarang?”

 “Dengarkan aku semuanya. Kita harus tetap tenang dan berpikir jernih.” Aku mencoba menenangkan suasana lalu bertanya pada Hippolita, “Bagaimana kondisi kapten dibawah sana, Hippolita?”

 “Kapten tidak terlihat dimana-mana.” Jawab Hippolita yang mulai sedikit panik.

 Tiba-tiba Kintaro berkata dengan cukup keras, “Kapten pasti sudah mati, begitu juga Huginn dan Muninn. Kalau mereka mati karena berjuang demi keadilan, maka kita juga harus ikut.” lalu ia keluar dari persembunyiannya dan turun menerjang musuh sembari menembakkan M60 nya secara membabi buta. Saat aku mendongakkan kepala untuk melihat keadaannya, dia sudah terbujur kaku didekat para penjaga yang mengerubunginya dengan sekitar enam atau tujuh penjaga yang berhasil dia habisi. Kintaro gugur layaknya seorang patriot.

 Sekarang sisa kami bertiga. Aku berkata pada Freya dan Hippolita,

 “Sekarang dengarkan. Aku akan menerjang maju kebawah sana, kalian berdua kabur lah kembali kedalam hutan dan bila aku tak selamat, kalian berdua harus berjanji padaku untuk tetap hidup dan meneruskan perjuangan kita berdelapan.”

 Setelah berujar seperti itu, aku langsung menerjang kebawah tanpa sempat mendengar jawaban dari kedua kawan seperjuangan ku yang tersisa

 Sebelum aku mengucapkan kata-kata perpisahan ku tadi, aku menukar M14 ku yang semi-otomatis dengan AK-74 milik Hippolita yang otomatis.

 Kini aku menerjang maju kebawah dengan terus menekan pelatuk AK-74 yang kubawa dan mengarahkannya tanpa pikir panjang ke arah musuh-musuh yang juga menembakiku. Kurasakan perih dan nyeri di sekujur tubuhku yang mulai berhenti menerjang ke depan. Aku jatuh tersungkur. Dalam kondisi tersungkur, aku mendongakkan kepala melihat wajah-wajah musuhku yang tegang. Anehnya, aku juga melihat wajah Kapten Arthur diantara musuh-musuhku. Kapten menyeringai kepadaku.

Kurasakan dorongan di bahuku secara berulang-ulang. Ternyata itu ibuku.

 “Bangun tong, udah jam berapa ini?!” bentak ibuku dengan murka.

 “Eh iya-iya bu, ini Entong bangun.” jawabku dengan ogah-ogahan.

 Setelah ibu keluar dari kamarku, aku langsung mengingat mimpi yang kualami barusan. Semua seolah-olah terasa nyata. Rasa sakit terkena tembakan pun juga masih bisa kurasakan nyerinya.

 Kini dengan nyawa yang sudah pulih sepenuhnya, aku merenungkan bila kondisi bumi di masa depan menjadi seperti yang ada dalam mimpiku, maka bumi yang indah ini, setidaknya pada saat ini pasti tak akan bisa dinikmati oleh anak-cucu ku dan besar kemungkinannya bahwa anak-cucu ku juga akan bergabung dengan kelompok revolusioner seperti aku dalam mimpi. Aku membayangkan semua ini dengan hati yang terasa perih, tapi juga sedikit geli karena mimpiku yang sungguh dramatis.

 Sekarang aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih memperhatikan kerusakan lingkungan. Lalu aku berniat untuk bergabung dengan kelompok relawan yang selalu mengingatkan masyarakat tentang betapa bahayanya dampak krisis iklim bagi bukan hanya umat manusia, tapi bagi seluruh makhluk hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *