Cerpen #251; “Cermin dari Masa Lalu”

Hari itu matahari terasa lebih terang dibanding hari-hari lain. Sesuatu yang silau menembus mataku seakan menyuruh kelopak mata ini untuk segera terbuka. Entah apa yang terjadi pada apartemen setinggi 1700 meter ini, sehingga membuatku terserang moodbreaker. Dengan alis menyatu aku memaksakan bangkit seraya mengeluarkan sumpah serapah yang entah ditujukan kepada siapa. Sambil mengucek sebelah mata, tib-tiba aku teringat pada sebuah kalimat yang terlontar dari mulut orang itu. Wajah datar dan mata sipitnya seketika membuatku benar-benar tersadar. “Saya tidak punya banyak waktu untuk besok. Yang butuh penelitian ini kamu, bukan saya,” katanya setelah berhari-hari memohon setengah mati padanya. Kemudian pria itu pergi tanpa sepatah katapun.

“Dasar manusia manekin, sok jenius!” omelku ketika punggungnya sudah mulai menjauh.

Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju kamar mandi uap yang berada di lantai bawah. Jangan salah paham dengan apartemenku yang terkesan mewah jika dilihat dari sudut pandang seratus tahun yang lalu. Ini adalah apartemen paling murah yang ada di kota serba mahal dengan teknologi super canggih zaman ini. Ruangan berukuran 5×7 ini sebenarnya hanya satu lantai, namun diberikan kesan dua lantai.

Dalam waktu lima belas menit langkah kakiku terdengar berserakan. Kian kemari mencari sesuatu yang sekiranya aku perlukan. Setelah mengaitkan tali sepatu dan menekan tombol hitam di sudut belakang sepatu-yang berfungsi untuk mencegah selip, mengukur kalori yang terbakar, dan sekaligus pendeteksi virus-aku bergegas menyandang ransel berukuran kecil. Sensor yang terpasang di tanganku semenjak lahir sangat membantu dalam hal-hal kecil, seperti mengunci pintu ini salah satunya.

Aku bergegas menuju sudut lorong untuk menemukan benda kubus yang terbuat dari kaca bening itu. Sesekali mataku melirik jarum jam di handphone tipis sebesar kotak korek api. Beberapa orang tetangga apartemenku juga ke luar di saat bersamaan dengan menuju lokasi yang sama. Tak ada budaya saling menyapa sesama orang di abad ini. Jangankan untuk menyapa, tersenyum saja jarang sekali ditemukan. Seperti ada yang salah dengan otot rangka di wajah orang bumi ketika itu.

Tidak ada kata antri, semuanya langsung masuk menuju kapsul kaca yang berjejer di sepanjang lorong. Satu kapsul hanya cukup untuk satu orang. Aku mengambil kapsul bagian tengah yang biasa kugunakan, lalu memasang sabuk pengaman dan mengetuk sisi lain kaca bening itu. Sepersekian menit aku sudah mendarat dengan aman di lantai satu. Hanya ini yang membuatku terasa hidup di alam yang entah sudah berapa periode terasa sunyi. Robot-robot dengan berbagai bentuk sudah siap dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang bertugas untuk selalu tersenyum dan menyapa orang ada yang yang bertugas menjaga lobby.

“Selamat pagi, Siti. Selamat beraktivitas, jangan lupa bahagia hari ini!” sambut sebuah robot seperti biasanya. Satu lagi yang kukecewakan, robot ini selalu memanggil nama awalku. Selama tinggal di sini belum ada yang benar memanggilku dengan panggilan yang aku sukai, yaitu Nay. Sebenarnya nama asliku Siti Arnayna. Entah apa alasan orang tuaku memberikan nama itu, yang jelas aku tidak menyukai panggilan Siti. Meskipun nama itu bukanlah nama baru atau asing karena sudah digunakan sejak zaman nenek moyangku dulu.

“Pagi, Naratun. Jangan lupa makan juga,” jawabku asal pada robot itu. Tanpa menunggu responnya, aku segera menuju terminal transit yang terletak di depan gedung. Menurut estimasi waktu di layar hologram, gondola yang kutumpangi akan datang tiga menit lagi. Tidak ada kendaraan bermotor di tempat ini. Semuanya memanfaatkan energi angin dan listrik. Gondola menjadi sarana transportasi utama yang efisien. Setelah gondola milikku datang pikiranku berkelanan memikirkan apapun.

Hal itu juga yang membuatku semakin tertarik dengan penelitian mengenai budaya dan kemajuan masyarakat di setiap poriode. Memahami bagaimana sebuah masa dapat diganti dengan masa yang lebih baru. Zaman ini semua orang begitu hidup dengan mandiri, namun sama sekali tak memiliki budaya leluhur bangsa yang pernah kubaca. Semua orang hanya fokus berpacu untuk menemukan teknologi. Mereka berlomba seakan keabadian menjadi garis finish segalanya.

Setelah masuk ke dalam gondola, aku tinggal duduk manis sampai benda bulat ini membawaku ke tempat tujuan. Dalam hati aku terus membatin agar bisa sampai ke Taman Gloria sebelum jarum jam tiba pada angka delapan lewat tiga puluh. Pria itu memiliki jiwa yang sangat disiplin. tidak ada kata telat dalam kamus hidupnya. Sebentar, jangan mengira kalau pria itu adalah orang penting dalam hidupku, sehingga aku tahu seluk beluk kehidupannya. Tidak sama sekali. Mungkin untuk saat ini aku membutuhkannya untuk mendapatkan hasil penelitian wawancara langsung. Hal ini sangat jarang ditemukan karena tenologi abad ini benar-benar sudah mengubah segalanya.

Lima belas menit kemudian, kendaraan tanpa bensin ini mendarat sesuai prediksi. Tanpa mengulur waktu, aku bergegas turun dan mengarahkan tanganku pada pintu sebelum turun yang fungsinya sebagai metode pembayaran.

Benar, bayangan pria itu tampak berjalan dari arah utara menuju ke tempatku sekarang.

“Halo, selamat pagi, Pak Zackly,” salamku dengan membungkukkan setengah badan.

“Berikan semua materi dan pertanyaan yang kamu punya kepada saya.”

Aku segera memberikan layar setipis kertas padanya. Disana semua hal yang kubutuhkan sudah lengkap tersedia. Tak perlu waktu yang lama, ia memberikan benda itu kembali padaku. Mataku membulat sempurna atas kemampuannya itu. Semua pertanyaan teah dijawabnya, tapi masih mengganjal di pikiranku. Aku ingin sekali mendengar jawaban dari mulutnya, bukan sekadar coretan di atas layar.

“Kenapa zaman ini dijuluki zaman elit nan cuek?” Tiba-tiba saja pertanyaan itu ke luar dari mulutku.

“Karena di zaman ini semuanya sudah sangat ada, tapi jati dirinya yang sudah hilang. Semua terlalu egois demi sebuah penghargaan semata,”

“Dari penjelasan saya, kamu dapat mejabarkannya lebih panjang lagi,” sambungnya kemudian berlalu dari hadapanku. Sementara aku masih diam memikirkan tiap kata yang dikeluarkan pria itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *