Cerpen #250; ” Deforestasi Pandemi Sesungguhnya”

  Kalimantan, 2075

     Awan cumulonimbus sudah berjejer rapi, gradasi hitam menghiasi cakrawala kota. Sang Bayu sudah menerbangkan dirinya ke penjuru kota, sekarang tinggal menunggu penantian akhir.

     Kondisi bumi sudah tidak stabil, kenaikan suhu bumi menyebabkan banyaknya wilayah mengalami kekeringan. Akan tetapi, dari kenaikan suhu bumi tersebut, intesitas air hujan juga semakin tinggi. Banyak tempat di berbagai wilayah sudah mulai tergenang.

     “Penantian sudah datang, mari kita panen hasilnya.” Ucap Seorang wanita tua di depan televisinya.

     “Panen apa Oma?” Sargah seorang remaja laki-laki.

     “Hai Ren, kamu lihat berita-berita tentang bencana alam di televisi tersebut. Itu semua adalah panen yang kita semua peroleh.” Tukas sang Oma.

     “Banjir bandang, kenaikan suhu bumi, bahkan semakin tipisnya oksigen di bumi?” Terang Ren dengan nada kebingungan.

     “Maksudnya panen? Bukankah itu sebuah suatu musibah. Bagaimana bisa Oma menyebutnya hasil panen?” Tanya Ren lagi pada Omanya.

     “Sini nak, mau Oma ceritakan suatu hal yang lucu?” Nganggukkan antusias Ren sebagai respon dari ajakan Omanya.

     “Tahapan bencana itu seperti kita menabung uang di celengannya. Berapapun uang yang kita tabung, itu yang akan kita dapatkan.”

     “Sama halnya dengan 54 tahun yang lalu, jika saja manusia menabung banyak tumbuhan di bumi. Semua bencana itu akan berkurang, bahkan keadaan suhu bumi dan ketersedian gas oksigen tidak akan pernah seburuk sekarang.” Sambung Oma Ren padanya.

      Titik poros penyelesaian hanya pada sebuah tumbuhan. Akan tetapi, mengapa begitu sulit membiarkan sebuah tumbuhan hidup?

      Bahkan jika tumbuhan adalah makhluk yang memiliki perasan, seumur hidupnya hanya memikirkan kapan ia akan mati, dan bagaimana ia akan mati. Antara sebuah benda tajam membunuhnya dengan brutal, atau kobaran bara api melahap seluruh tubuhnya tanpa tersisa.

     “Ada apa dengan 54 tahun yang lalu,” timpal Ren yang sudah menampilkan wajah penasarannya.

     “Dulu sekali, Sebuah organisasi dunia, yaitu PPB menyelenggarkan COP26. Sebuah konferensi tertinggi pengambil keputusan untuk perubahan iklim.”

     “Tidak, itu hanya politik kolonialisme. Acara itu hanya pergelaran karpet merah para oligarki 1%. Komitmen sampah mereka terlalu berlebihan,  nyatanya semakin berjalannya detik jarum jam, semakin gencarnya reaksi kimia energi kotor.”

     “Krisis iklam pada saat itu sudah berapa di kode merah, akan tetapi progam 1,5 celcius tidak pernah terwujud. Kesehatan makhluk bumi terancam, bahkan pandemi virus corona saat itu tidak lebih membahayakan dari pada krisi iklim. Padahal, kita bisa menjaga bumi tanpa kompromi.” Ren sangat fokus pada penjelasan sang Oma.

     Banyak kata-kata yang tidak di pahami Ren, Semuanya terlalu asing untuk seukuran remaja seperti Ren. Walaupun begitu, Ren menangkap satu poin, “Oligarki 1%? Apa perbuatan mereka sangat mempengaruhi iklim dunia?”

     “Mereka adalah oknum-oknum egois, mementingkan keadaan ekonomi di atas keadaan iklim dan kesehatan manusia bumi. Eksploliasi secara semena-mena, melakukan tindakan korupsi demi keuntungan sepihak. Deforestasi besar-besaran demi pembangunan skala yang berpotesi merusak lingkungan. Penanaman sawit secara skala besar, proyek bakar fosil dan industri. Mereka mencengkram dengan kuat tanpa terlihat.”

     “Tapi Oma, jika di lihat lagi. Bukankah semua itu berguna bagi keberlangsungan ekonomi seluruh manusia di bumi?” Tanya Ren.

     “Ini bukan perihal terpenuhnya suatu hal dalam hidup, layaknya ekosistem sederhana di sawah. Keseimbangan kenaikan emisi gas rumah kaca harus seimbangan dengan penurunan emisi gas rumah kaca. Akan tetapi, deforestasi terus terjadi, paru-paru dunia terus digerogoti penyakit kronis.”

     “Padahal pembangunan tidak harus selalu mengorbankan tumbuhan. Walaupun semua manusia egois, biarkan tumbuhan hidup demi diri sendiri, kita semua, anak cucu dan generasi yang akan datang.”

     “Satu lagi, 54 tahun yang lalu, jika Oma tidak sadar akan semua hal tersebut. Oma tidak yakin, apakah bisa melihatmu atau tidak.”

     Nyatanya, Oma Ren adalah salah satu orasi yang menyuarakan krisis iklim dalam bentuk tulisan di media-media masa. Bahkan unjuk rasa dalam bentuk demontrasi ia lakukan demi bumi yang lebih baik.

     Tapi tidak ada yang berjalan sempurna dengan yang baik-baik saja, banyak musuh di belakang sana. Mereka menggulirkan para pengemuka linkungan sehat, jangan harap hidupmu tenang jika berteman dengan tumbuhan.

      “Jika 25 tahun yang akan datang, semua hal ini tetap berjalan begini saja. Apa yang akan terjadi Oma?” Tanya akhir Ren.

      “Giatlah dalam bekerja, rauplah banyak kesempatan untuk mendapatkan banyak uang. Karena tidak ada lagi oksigen gratis di bumi ini.” Ada jeda dari ucapan itu, sang Oma menghela napasnya dengan kasar.

      “Tapi, jika kamu sanggup, orasikan pada dunia, bahwa tumbuhan berhak hidup. Gencarkan semua usahamu untuk udara yang sehat demi generasi masa depan.” Ucap akhir sang Oma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *