Cerpen #249; “HADAPI KRISIS ALAM, UNTUK GENERASI MASA DEPAN”

“Kamu gila, Bagas? Bumi udah makin panas! Sekarang kamu malah mau mengembangkan proyek yang menyumbang besar pemicu krisis iklim itu?” Reza berteriak lantang padaku sambil mengacungkan jari. Dia adalah sahabatku, yang sangat menentangku kali ini untuk memperbesar rencana bisnisku. “Gas, udah cukup kamu bakar berhektar-hektar pohon. Udah cukup kamu menggali sumber daya bawah tanah yang udah mau musnah itu. Gas, apakah yang terjadi bertahun-tahun belakangan nggak mempan buat bikin kamu buka mata? Kenapa kamu ngelakuin ini? Kenapa?!”

Ya. Reza benar. Krisis alam ini sudah kian parah tahun belakangan di Indonesia. Dalam kurun 2011-2020 lalu, bumi telah mencapai rekor terpanas. Suhu meningkat tajam. Begitupun dengan negara-negara lain. Pengurangan emisi dengan melakukan mitigasi sekiranya tak seratus persen mempan menyirnakan efek gas rumah kaca yang sudah menyelimuti atmosfer bumi.

“Reza, bukankah hidup ini pilihan?” tanyaku balik ke Reza, yang sontak disambut dengan raut mukanya yang menyalak-nyalak.

“Pilihan apa maksudmu? Pilihan untuk ngebuat orang lain mati karena kerusakan ini?! Gas, sadar! Kamu udah dapat banyak demonstrasi, kecaman dari pemerintah langsung bahkan. Kamu tahu nggak, aku sebagai tenaga kesehatan capek lihat orang dengan kondisi mengenaskan cuma karena bencana alam, hampir kehilangan nyawanya! Kamu tahu seberapa besar krisis iklim ini? Banyak wilayah sudah mati total. Orang-orang mengungsi, negara jadi bangkrut karena kerusakan. Apa yang kamu pikirkan?”

Aku mendesah, sejujurnya juga merasa lelah atas iklim berkepanjangan ini. Namun, aku tetap pada niatku. Aku tetap  ingin mengembangkan proyekku.

“Hidup itu pilihan, Reza.” Aku mendekat ke arah lelaki yang sudah habis-habisan memakiku pagi ini. “Harus memilih. Tujuannya sama-sama untuk generasi di masa depan. Pembangunan pesat untuk menunjang kemajuan generasi muda, atau membiarkan kemunduran dan mengizinkan banyak orang hidup. Lagipula, orang-orang rendah yang lebih sering terkena dampak juga akan selalu hidup menyedihkan pada akhirnya. Aku bijaksana, asal kamu tahu. Aku memerlukan generasi muda berkualitas yang bisa bertahan hidup, untuk melihat masa depan jauh lebih unggul. Aku tidak sekadar membunuh, aku juga menyelamatkan. Berpikirlah dulu sebelum bicara padaku.”

***

Esoknya, aku melancarkan semua terobosanku untuk pembangunan infrastruktur besar. Proyekku bermacam, dan tentunya memang bertentangan dengan kesehatan iklim ini. Industri, pertambangan. Rasa-rasanya itu memang sudah cukup membuatku dibenci masyarakat.

Hari ini, aku memutuskan untuk berkeliling kota menggunakan mobil. Merasakan panasnya matahari sudah hampir membakar seisi tubuhku, dan AC kendaraanku tak cukup untuk menahanku berkeringat. Kota tempatku tinggal, juga sudah minim pepohonan. Sekilas aku mengecek ponselku, melihat berita yang hanya diisi oleh permasalahan bumi yang hendak mendekati kiamat.

“Haris, anakku, sepertinya semuanya tak akan lama lagi. Sebagai generasi muda, tolong wakilkan cita-cita Ayah, ya.” Aku bicara pada Haris di bangku belakang. Remaja usia sembilan belas tahunan itu tampak sedih mendengar ucapanku, namun tetap mengiyakanku.

Begitulah hari-hari setelahnya. Aku mulai terus membangun infrastruktur dan melaksanakan rencana rahasia. Ada banyak hal yang ingin segera aku selesaikan. Semuanya pun berjalan sesuai dugaanku. Hingga akhirnya, bulan berlalu, berita itu tiba terdengar ke sepenjuru kota. Berita keberhasilanku.

Hari ini, perusahaan yang ramai dibicarakan sebab menyumbang krisis iklim mundur total. Kabarnya, tidak akan lagi beroperasi. Diduga, salah satu orang di dalamnya telah merencanakan ini. Dia membuat kemajuan besar, yang justru menyelamatkan kita atas akhir dari kehidupan.”

Waktu demi waktu berlalu, tayangan TV rumahku itu menampilkan pengolahan minyak dari alam untuk dimanfaatkan kendaraan yang minim emisi. Begitu pula inovasi untuk perencanaan alat rumah tangga. Bumi sedang dalam jalan penyelamatan. Banyak pohon sedang dikerahkan dan pinggiran kota dikeruk untuk memberikan napas usai tanaman ditanam. Peraturan pemerintah yang mengatur ketat pengadaptasian krisis iklim muncul dan dibuat mengekang.

Bertepatan berita itu, di saat yang sama, badanku tiba-tiba drop. Aku dilarikan ke rumah sakit. Diana, istriku, menemaniku dengan penuh rasa cemas.

Pemeriksaanku berlanjut. Hari-hari berjalan, badanku tak kunjung membaik. Haris, anakku, hari ini datang menjenguk sambil membawa selembar kertas laporan yang berisikan petisi dan banyak perubahan hasil ideku yang telah dia modifikasi.

“Ayah, aku tahu semuanya tidak lama lagi. Tapi kukira yang Ayah maksud ialah hasil dari rencana Ayah selama ini, bukan usia Ayah.” Haris terduduk di sebelah ranjang rumah sakit. Badanku yang kian kurus membuat mukanya hambar dan tak berkutik.

Aku hanya tersenyum, merentangkan pelukanku, yang disambut Haris dengan pelukan balik, namun setelahnya anak lelakiku itu hanya menangis terisak, mungkin menyadari tubuhku yang terasa ringkih dalam rengkuhannya. Ditambah pernyataan dokter yang memberitahukan pada keluargaku bahwa pendarahan parah di otakku membuktikan penyakit strok-ku akan membuatku meninggal tidak lama lagi.

“Kamu tahu, Haris?” panggilku ke Haris, merenggangkan pelukan dan melihat wajah muda lugunya dibanjiri kesedihan. Matanya sendu, menatapku kasihan.

“Tahu apa, Ayah?”

“Ayah ingin kamu menyuarakan cita-cita Ayah. Mungkin kamu menangkapnya cita-cita untuk menyelamatkan krisis iklim dan menyuruhmu menjadi generasi muda bijak. Tapi asal kamu tahu juga, Haris. Cita-cita Ayah terbesar Ayah di balik itu juga ialah melihatmu bahagia. Ayah bercita-cita melihat senyum dan hidup layakmu di masa depan. Ayah ingin memberikan kesempatan besar untukmu secara pantas hidup sebagai manusia.”

Bertepatan aku mengucapkan kata-kata itu, pintu ruangan rumah sakit terbuka. Seseorang masuk ke ruanganku. Dari langkah, postur, bentuk mukanya, aku segera tahu itu siapa.

“Reza?”

Reza, sahabat yang di awal sangat menentang rencanaku datang mendekatiku dengan wajah putus asa. Dia tidak menangis dan matanya tidak berkaca-kaca. Tapi, dari tangannya yang terkepal dan bibirnya yang menahan diri untuk tak terisak, membuktikan dia sangat terpukul melihat keadaanku.

“Kamu menipuku, Bagas?” Nada suara Reza tak lagi tinggi seperti terakhir kali dia bicara padaku, karena kali ini nadanya rendah cenderung lirih.

“Aku tidak menipumu,” seruku kuselingi tawa sambil berbaring di atas tempat tidur, menatapnya hangat. “Semua yang kuucapkan sebelumnya hanya paradoks, Reza. Tapi aku tak sungguhan hendak menghancurkan bumi kita ini. Saat itu aku cukup tersentak mendengar kemarahanmu, tapi aku sangat menghargai itu. Karena usiaku tak akan lama lagi, aku berencana melakukan apa yang bisa aku lakukan secepatnya. Tahun 2011-2020 lalu, aku bergerak maju mengincar posisi penting untuk merencanakan banyak hal sebab tahu krisis iklim akan membawa kita seperti ini. Dulu aku juga generasi muda, Reza. Dulu sebelum aku tinggal di kota ini dan berkenalan denganmu tanpa sengaja, aku mulanya tinggal miskin di desa yang terjadi bencana. Hidupku pernah sekarat. Perihal semesta yang menyaring orang untuk bertahan hidup, itu ialah candaan kecilku yang sekaligus menertawakan hidupku sendiri. Karena kamu tahu, Reza? Karena masa mudaku yang penuh darah dan luka hingga aku tak merasa bisa selamat, aku jadi ingin memberikan masa depan layak pada generasi di masa depan. Sebab aku tak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan.”

Reza menarik napas pelan. “Tapi kamu gila, Bagas. Kamu gila.”

Aku mengangguk.

“Ya. Aku gila karena menghancurkan perusahaanku sendiri, karena asal kamu tahu, aku masih punya atasan. Kerusakan yang selama ini terjadi ialah perbuatannya, bukan perbuatanku. Sebab dia menyuruh aku untuk memunculkan mukaku di publik dan mengakui semuanya salahku, aku memberikan dia pelajaran dengan bermain pintar padanya. Aku mengumpulkan banyak bukti atas perbuatannya, membantu dia untuk terjeblos ke dalam penjara karena selain merugikan alam, dia juga bertanggung jawab atas pencemaran nama baikku.

“Sejujurnya itu hanya masalah sampingan. Aku melakukannya karena murka sebab dia tanpa sadar mengingatkanku akan trauma masa mudaku di mana aku tak punya tempat tinggal. Menderita sakit kulit berkepanjangan karena banjir dan tanah longsor besar. Pekerjaanku hilang. Keluargaku mati semua. Dan kulihat di depan mataku atasanku membunuh generasi masa depan, untuk tak memiliki kehidupan. Aku tahu, Reza. Krisis iklim ini, semua perbuatan ceroboh manusia hanya akan merugikan manusia itu sendiri karena alam mulai marah. Generasi di masa depan ialah aset yang harus hidup, bukan masalah bisa bertahan atau tidak, dan itu ada di tangan kita pihak yang tinggi yang bisa bertindak.”

Krisis iklim benar-benar menebas semua yang ada di bumi. Perlakuan yang buruk terhadap bumi bisa menjadi bumerang terhadap generasi masa depan. Sebab jiwa bersih mereka akan mati rasa dipenuhi kekhawatiran, berjuang di ujung kematian, hanya karena dosa kita—segelintir manusia tidak bertanggung jawab.

Generasi masa depan berhak untuk punya dunia yang layak. Krisis iklim bukanlah ajang untuk menjadikan generasi masa depan sebagai korban. Mereka, generasi mendatang justru ialah orang-orang yang jika bisa tak perlu merasakan pedihnya penderitaan akibat rusaknya bumi. Karena bila generasi sekarang mau untuk memperbaikinya, justru generasi mendatang bisa memiliki tugas lain untuk lebih merawatnya. Belajar dari apa yang telah mengancam. Bukan menunggu hancur dulu baru panik menyelamatkan setelah semuanya porak-poranda.

“Mungkin perkataanku agak kontradiktif dari sebelumnya, sebab saat itu aku sedang bersandiwara. Aku perlu untuk pura-pura mendukung atasanku, demi memuluskan serangan balikku padanya,” imbuhku lagi. “Kamu ingat pernyataanku tentang membuat pilihan? Aku bilang bahwa kita memang harus memutuskan salah satu pilihan. Pembangunan pesat untuk menunjang kemajuan generasi muda, atau membiarkan kemunduran dan mengizinkan banyak orang hidup. Karena sempitnya pilihan itu, Reza. Aku memutuskan membuat pilihan baru, dengan memilih keduanya. Kita justru bisa memajukan generasi muda, dengan menyelamatkan alam ini terlebih dahulu seperti sekarang.”

Reza menyimakku lamat. Sedari tadi dia tak memotong pembicaraanku sama sekali. Tatapannya kini beralih ke Haris dan Diana, istriku yang sedang memandangku prihatin.

“Aku menunggu, Bagas. Aku menunggu hari ini tiba untuk kamu menceritakan segalanya,” aku Reza. Dia menundukkan kepalanya, lantas menegakkannya lagi menatap tepat di mataku. “Tapi asal kamu tahu, sesungguhnya aku pun tahu semua rencanamu itu. Aku sudah tahu juga bahwa kamu bersandiwara. Sebab Bagas yang kukenal, bukan orang egois yang mempertaruhkan alam dengan harta semata. Satu hal yang kamu tak sadar, Bagas, saat itu aku sengaja marah di kantormu untuk mendukungmu. Namun saat itu aku benar-benar totalitas marah sebab aku kesal tak bisa ikut membantumu apapun. Aku ingin membantumu atas apapun niatmu, tapi kamu terlihat mampu melakukannya sendiri. Aku sedih, Bagas. Aku sedih tak bisa berkontribusi apa-apa.”

Kali ini, jauh dari dugaanku, justru Rezalah yang membuat aku kaget setengah mati. Aku benar-benar tak memikirkan cara pikirnya itu sebelumnya.

“Hari ini, Bagas. Aku datang marah padamu juga bukan karena mentah-mentah kamu menipuku. Tapi sejujurnya ada alasan lain yang membuatku sebal. Ialah karena kamu tak cerita akan kondisimu selama ini. Kenapa, Bagas? Kenapa tak bilang padaku bahwa selama ini kamu sakit? Kenapa tak cerita padaku untuk setidaknya membantu meringankan bebanmu? Aku tak tahu apa yang saat lalu kamu sedang hadapi, aku merasa menjadi sahabat menyedihkan yang mengagungkan egoku sendiri. Krisis iklim, generasi masa depan. Sejujurnya aku takjub dengan pengatasan masalahmu. Tapi tidak dengan melihat keadaanmu ini. Aku tak bisa, Bagas. Bilang padaku besok kamu pasti sembuh, tetap hidup untuk melihat hasil generasi masa depan cemerlang berkat tanganmu.”

Akhirnya, aku melihat Reza sungguhan mengucurkan air mata, dari duka yang dia bendung untuk tak tampak terluka di hadapanku. Dia mengambil duduk, mencengkeram sprei kasurku sambil melihat ketidakberdayaanku dengan nanar.

“Tapi satu pula yang perlu kamu tahu, Bagas. Aku bangga padamu. Jika pun kamu pergi, akan kupastikan semua usahamu tak akan sia-sia. Mimpi buruk masa mudamu, akan kubantu untuk tak lagi terulang karena sekarang kota sedang pembangunan kerindangan besar-besaran. Inovasi canggih telah dimanfaatkan untuk meminimalisir kehancuran bumi. Proyek perusahaanmu yang dihentikan—”

Belum selesai Reza bicara, aku menyelanya.

“Keberhentian proyek itu akan menjadi simbol mula langkahku. Di mana sebelumnya direncanakan pengerukan lebih luas hutan tersisa, dan peningkatan  cabang industri. Uang yang sejauh ini didapatkan, di mana semuanya sudah berakhir dan pimpinan turun padaku, dananya akan kugunakan untuk membantu orang-orang yang kehilangan rumah. Membantu biaya pengobatan, pengungsian, serta tak lupa mendanai kehidupan layak generasi di masa depan.”

Sebab krisis iklim ini, sudah cukup untuk membuat kita belajar membuat keputusan baik demi generasi di masa depan. Untuk membuat akhir yang bagus, tidak selalu semudah itu. Tetapi jika kita paham teguran semesta, beserta pengalaman, fakta serta penelitian akan seberapa jauh kekacauan, sudah seharusnya kita membuat langkah dan berpikir cerdas.

Begitulah hasil dari keberhasilanku atas krisis iklim demi generasi masa depan, sebelum kemudian aku menutup mataku, untuk selamanya.

-TAMAT-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *