Cerpen #248; “Siapa Menanggung Duka Kami”

SAYUP-SAYUP terdengar suara orang bercengkerama. Lirih. Suaranya termakan angin, pergi, kemudian kembali lagi. Begitu seterusnya.

Namun Amala, gadis remaja berusia tujuh belas tahun, dan sang adik, Ratih yang berusia lebih muda dua tahun, masih bisa mendengar setiap ucapan dari orang yang berada di balik dinding. Mereka mengintip lewat tirai warna merah jambu. Kadangkala dia menepuk lengan pelan lantaran nyamuk menggigit dengan tak tahu malu. Ini sudah lebih dari pukul sepuluh malam. Kalau Ibu atau Bapak melihat keduanya masih melek, pastilah marah dan segera meminta mereka tidur tanpa ba-bi-bu.

Hampir setiap malam, kakak-adik itu selalu mengintip dari balik tirai. Menyaksikan Bapak dan beberapa orang bercengkerama. Membahas hal penting, agaknya. Sebab Amala dapat melihat tumpukan dokumen di atas meja ruang tamu, di sisi cangkir kopi dan asbak untuk tamu yang merokok. Ratih, yang punya masalah dengan pernapasan, sesekali terbatuk kalau asap rokok menyelinap masuk ke kamar yang memang berdekatan dengan ruang tamu. Kalau Bapak atau tamunya mendengar, mereka akan mengakhiri percakapan sejenak karena Bapak akan segera masuk ke kamar untuk memastikan keadaan putri bungsunya.

Bapak adalah ketua rukun warga (RW). Bukan sekali-dua kali dia didatangi orang dengan pelbagai urusan. Amala dan Ratih sudah akrab dengan suara kencang pada malam hari, asap rokok, dan ampas kopi yang masih dapat mereka jumpai keesokan hari di cangkir saat bertugas membersihkan rumah.

Mengintip dan menguping pembicaraan dari dalam kamar bukan hal yang biasa mereka lakukan. Dulu, saat mereka masih sama-sama kecil dan belum masuk sekolah dasar, Ibu pernah menegur lantaran kedua putrinya menguping.

Katanya, “Tak sopan. Kalau bukan urusan kalian, jangan dengar. Jangan pula penasaran dan berusaha menggali informasi.”

Begitu. Namun untuk kali ini saja Amala dan Ratih melupakan teguran sang ibu. Mereka merasa harus mendengar urusan yang sedang Bapak dan tamunya bicarakan.

Topik obrolan itu sudah dibawa si tamu sejak lama. Entah kapan hari pastinya. Mungkin seminggu lalu atau bahkan lebih lama dari itu. Tamu Bapak membawa banyak oleh-oleh. Pertama sekaleng biskuit, kedua sekeranjang buah, disusul perlengkapan salat dan lain-lain.

Semua tidak Bapak nikmati. Beliau menyisihkan barang-barang itu setelah tamu pulang dan meletakkannya di atas meja dapur. Kemudian Ibu akan menegur, meminta Bapak bersama kedua putrinya menghabiskan buah-buahan. Takut busuk!

Tamu itu seperti hujan. Sekali datang, deras. Pasukannya banyak. Kemudian pulang ke asal, dan esok kembali lagi. Begitulah penggambaran Ratih, yang belakangan kerap menghabiskan waktu untuk membaca sajak-sajak cinta. Yang jadi pertanyaan: mengapa ia tak jemu mendatangi Bapak? Saban hari, entah siang atau malam, mengajukan topik yang itu-itu jua.

***

Sungai di kampung adalah tempat hampir seluruh anak bermain. Mereka mandi bersama, bermain air, dan tertawa. Para ibu membawa air sungai menuju ke daerah kekuasaan mereka alias dapur, untuk mengolah apa saja. Para bapak biasanya membantu mengangkat air dalam jerigen. Sungai adalah sumber penghidupan mereka. Dari sanalah orang-orang bernapas dan merasai hidup sebenar-benarnya.

Dan seperti geluduk pada siang bolong, datang dua-tiga orang berpakaian rapi, mencari rumah Bapak. Senyum mereka ramah. Setelah diberi tahu di manakah rumah Bapak alias ketua RW, mereka segera melangkahkan kaki, meninggalkan orang-orang yang saling berbisik dan mempertanyakan siapa dan dengan maksud apa orang-orang itu mencari Pak RW.

Ketukan halus terdengar. Amala yang tengah bersantai sembari memainkan ponsel di ruang tamu, segera bangkit untuk membukakan pintu. Dia berpikir itu Ibu.

Si sulung khawatir sebab sang ibu belum jua pulang. Langit mendung, siap menumpahkan air. Rasa-rasanya hujan akan begitu deras. Betapa terkejut ketika yang muncul di depan pintu lelaki asing bertopi dan berkacamata. Penampilannya mirip agen rahasia dalam film-film!

“Cari siapa ya?” tanya Amala ramah.

“Pak Rama ada, Dik?”

Si gadis mengangguk. “Ada,” jawabnya. Dia mempersilakan para tamu itu duduk di kursi teras sembari menunggu Bapak keluar untuk menyambut.

Setelah menyapa para tamu dan mempersilakan mereka masuk, Bapak meminta tolong pada Amala untuk membawakan suguhan. Si sulung menurut. Kopi dan beberapa kudapan ia bawa ke meja ruang tamu. Setelah itu, Amala masuk ke kamar dan mengintip.

“Kami dari pihak pabrik, Pak. Kami datang kemari untuk mendiskusikan perihal pembangunan pabrik dan pengolahan limbahnya,” kata si tamu membuka obrolan.

Bapak takzim menyimak.

“Sungai di kampung ini berpotensi membantu gerak perekonomian makin cepat. Mungkin Bapak penasaran. Bagaimana bisa? Jadi begini…. Kami berpendapat bisa membuang sedikit limbah pabrik ke sungai. Jadi kami tidak kehilangan banyak modal untuk menggerakkan perekonomian.”

Bapak membenarkan letak kacamata. “Lo? Lalu bagaimana nasib warga yang menggantungkan hidup di sungai? Namanya limbah pabrik…. Sebentar, pabrik apa sih, Mas?”

“Tekstil, Pak.”

“Nah, tekstil! Sepemahaman saya sih, jenis limbah apa pun bisa merusak ekosistem. Apalagi di sungai kami ini ada banyak ikan yang biasa warga pancing untuk makan bersama keluarga, atau mereka jual keluar kampung. Kalau limbah dibuang ke sana, ikan mati. Solusinya apa?”

“Kalau soal itu, pihak pabrik akan membuka lowongan kerja, Pak. Jadi nanti warga di sini bisa bekerja di pabrik kami. Kalau Bapak dan yang lain menghendaki gaji tambahan, akan kami berikan,” jawab tamu yang bertubuh lebih gempal seraya mengetukkan batang rokok ke dalam asbak.

“Daripada memakai uang pabrik untuk memberi gaji tambahan, ya mending untuk membiayai sistem pengelolaan limbah, Mas.”

“Biaya pengelolaan limbah mahal, Pak. Tidak sebanding dengan pemberian gaji tambahan.”

“Memang sudah dihitung dengan teliti?”

Tampak tamu Bapak tersinggung atas pertanyaan itu. Amala terkikik. Lucu rasanya menyaksikan orang dewasa berdebat.

Lalu berakhirlah obrolan nyerempet ke arah debat, siang itu. Para tamu pamit undur diri. Katanya masih ada urusan dengan petinggi pabrik. Bapak menyalami mereka.

Sebelum benar-benar pergi, salah seorang di antara mereka bilang akan kembali lagi. Entah kapan. Pun ia menitipkan salam pada Amala. “Kopinya enak sekali. Cocok dengan selera saya. Putri Anda hebat, Pak.”

***

Bapak tampak gusar. Sudah berulang kali orang-orang pabrik datang, mendesak Bapak memberi izin soal pembuangan limbah. Bapak menolak dengan berbagai alasan. Warga ada yang mendukung, ada pula yang tergiur tawaran pabrik: kerja, dapat uang banyak. Dalam benak mereka, terbayang kehidupan yang enak seperti tokoh-tokoh sinetron. Kerja keraslah, maka engkau akan kaya! Begitulah.

Amala dan Ratih mengamati pergerakan Bapak beberapa hari ini. Beliau tak nyenyak tidur, karena membayangkan esok pabrik tekstil yang siap dibangun itu akan membuang kotoran ke sungai. Lantaran dua gadis itu paham persoalan, mereka menyatukan kepala: berusaha mencari jalan agar dapat membatalkan rencana pihak pabrik. Karena kalau limbah benar-benar dibuang ke sungai, mereka bukan hanya tak bisa minum dan hidup dari air sungai itu. Mereka dan teman-teman juga tak akan lagi punya markas untuk bertukar tawa dan cerita.

“Kamu sudah kabari yang lain, Dik?” tanya Amala.

Si bungsu membalas dengan anggukan. Lalu keduanya mencari Ibu, meminta izin bertemu kawan-kawan. Setelah memperoleh izin, segera mereka berangkat meninggalkan rumah.

Di sana, di dekat gubuk yang dikitari banyak tanaman obat, sudah berkumpul lima muda-mudi. Laki-laki dan perempuan. Ketika melihat Amala dan Ratih berjalan mendekat, mereka melambaikan tangan dengan semangat dan mengajak kakak-adik itu segera bergabung.

“Kalian cepat sekali datang,” kata Ratih.

Ajeng terkekeh, kemudian berbisik, “Ya, kalau mau melawan pabrik dan para kapitalis tuh harus datang awal. Kalau kita terlambat, nanti perlawanan juga terlambat.”

“Kemarin aku sudah sampaikan tujuan kita berkumpul di sini. Ada pertanyaan dulu ndak?” Amala membuka diskusi. “Kalau ada, sampaikan. Barangkali salah seorang di antara kalian masih bingung kenapa kita berkumpul pada siang yang panas ini.”

Hening, tak ada yang mengajukan pertanyaan. Amala tersenyum, kemudian melanjutkan. “Kalian semua pasti sudah tahu, hampir sebulan ini orang pabrik tak henti datang dan meminta izin untuk membuang limbah. Bapakku, selaku ketua RW, tidak setuju. Beliau merasa kehadiran pabrik dan limbahnya hanya akan mendatangkan malapetaka bagi kita semua. Pihak pabrik terus menawarkan solusi. Beberapa yang sering aku dan Ratih dengar: warga akan mendapat pekerjaan beserta gaji tambahan, juga cuti lebih banyak ketimbang di pabrik atau perusahaan lain. Namun semua tak ada artinya. Untuk apa kita berbangga diri karena mendapat pekerjaan dan uang untuk bertahan hidup, tetapi kehilangan sungai yang sejak dulu menghidupi kita? Aku betul-betul keberatan. Sejak kecil, aku sering bermain di sungai. Kan kalian juga tahu? Wong tempat main kalian pun di sana. Kalau sungai nanti penuh limbah, ke mana kita harus cari tempat bermain? Sementara sudah banyak tanah dibeli orang untuk membangun rumah. Kita tak lagi punya tempat bernaung selain gubuk ini dan sungai.”

Amala menjeda ucapannya, kemudian mengedarkan pandangan ke setiap temannya. “Aku tidak tahu apakah suara kita akan didengar para pemegang kuasa atau malah diredam seperti suara para aktivis dan orang-orang yang menolak penindasan. Terlebih kita dianggap terlalu kecil untuk ikut campur. Solusi yang aku punya hanyalah melancarkan protes lewat apa saja. Di media sosial atau turun tangan dan menghadap para penguasa, dan lain sebagainya. Bagaimana menurut kalian?”

Tenggorokan Amala kering sebab bicara banyak. Botol minum di sisi kiri ia raih, kemudian meneguk sembari menunggu kawan lain memberi komentar.

“Menurutku, Amala,” Sambara angkat bicara. “Kita coba dulu menyebarkan kampanye ini ke remaja dan anak-anak di sekitar sini. Nanti kita minta bantuan pada karang taruna. Untuk kampanye di jejaring sosial, biar jadi urusanku. Mas Hanif kan lumayan aktif di kampus, dan lingkar pertemanannya pun luas. Aku juga akan minta bantuannya. Nanti kalian bantu-bantu sebarkan ke grup dan teman-teman lain.”

Usulan Sambara dan teman-teman lain membuat Amala tersenyum lebar. Ia merasa tak lama lagi kemenangan ada pada warga dan sungai yang mereka jaga sejak lama. Menjelang magrib, ketika matahari akan kembali ke peraduan, mereka pulang. Pertemuan kali ini cukup. Kalau ada apa-apa, sampaikan saja lewat grup Whatsapp. Begitu pesan Amala.

***

Perlawanan sudah berlangsung hampir dua minggu. Banyak orang menandatangani petisi yang disebarkan Amala, Ratih, dan pemuda-pemudi lain yang menamakan diri Barisan Penjaga Sungai. Mereka, para penjaga, melakukan ini dan itu untuk memastikan sungai mereka aman.

Akhirnya seluruh keringat dan air mata mereka terbayar lunas. Pihak pabrik mengumumkan akan mengubah sistem pengelolaan limbah menjadi lebih ekologis. Kemenangan mereka itu tersorot media, baik cetak maupun bukan, dan membuat orang-orang tergerak untuk melakukan perubahan kecil bagi lingkungan masing-masing.

Banyak awak media massa bertanya, mengapa mereka melakukan itu? Untuk siapa?

“Kami melakukannya untuk keberlangsungan ekosistem alam, generasi yang akan datang, dan untuk tawa serta cerita yang sudah sejak lama terkubur di dasar sungai. Bila sungai kami dibuangi limbah dan rusak, apakah orang-orang berdasi yang mengaku berpendidikan tinggi itu mampu mencarikan sesuatu yang lain untuk membuat kami tetap merasa hidup dan bahagia? Apakah mereka siap menanggung duka kami, yang kehilangan harapan lantaran sungai dan kenangan melebur bersama limbah yang kotor itu?” jawab Amala.

“Akan ada masanya dunia kiamat, lantas semua hancur tak bersisa. Namun kiamat yang saya maksud itu adalah kiamat dari Tuhan, bukan kiamat ciptaan sistem kapitalisme semacam ini, yang hampir terjadi pada sungai kesayangan warga. Kalau kita sebagai manusia dapat menghentikan laju kerusakan lewat hal kecil, mengapa tidak?”

Amala berucap tegas di hadapan kamera media yang menyorot. Kawan-kawannya berdiri di belakang, menatap bangga.

Di bawah rimbun pepohonan, jauh dari sorot mata orang-orang, Bapak menyeka air mata yang tumpah. Ada rasa bangga begitu besar ketika melihat kedua putrinya menginisiasi gerakan untuk menjaga bumi. Beliau bangga, Amala, Ratih, dan kawan-kawan tak takut masuk ke medan perang melawan kapitalis dan pasukannya.

One thought on “Cerpen #248; “Siapa Menanggung Duka Kami”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *