Cerpen #245; “Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?”

Siang itu, matahari bersinar sangat terik. Risa mengeluh lemas. Setelah diserang oleh banyak tugas kepanitiaan OSIS di sekolahnya, apalagi di posisinya yang menjadi sekretaris, kini ia harus pulang dengan keadaan sangat tidak menarik untuk dilihat. Belum lagi, usulannya untuk acara sekolah ditolak mentah-mentah oleh ketua pelaksana, Rama. Ia menyarankan untuk mengundang band Tubatu untuk acara pengisi selama kegiatan classmeeting setelah Ujian Akhir Semester yang akan dilaksanakan satu minggu lagi. Sementara lama, yang dia juluki si ketua kolot ketinggalan zaman, menyarankan untuk melakukan lomba antar kelas dengan tema Go Green.

“Maksa banget, sih! Siapa juga yang mau ikut acara gituan? Gak ada seru-serunya! Dia pikir orang-orang bakal ngikutin dia karena acaranya seru? Kalau bukan karna tampangnya yang suka ga nyante dan suka bentak-bentak adik kelas yang gak nyapu koridor, pasti gak bakal ada yang mau ikut acara dia!” Risa menendang batu kecil di depannya sambil bergumam tidak jelas. Emosinya benar-benar naik, karena ia sangat menginginkan band kesayangannya untuk tampil di sekolahnya. Ditambah dengan sinar matahari yang kian menambah suhu badannya, Risa makin terlihat persis seperti termometer yang meraih angka tertinggi dan nyaris akan pecah jika dibiarkan lama-lama. Bus yang telah ditunggunya beberapa menit dari tadi belum juga datang.

“Pasti dia cuma nyari muka, biar Pak Kasim terkesan sama ide dia. Ya, jelas, lah! Pak Kasim guru killer biologi, pagi-pagi udah nyiramin tanaman di depan labor. Sayang banget sama tanamannya, udah kayak pacaran! Giliran di kelas gak ada ampun ngasih tugas sama murid. Pinter banget emang si kolot!” Bibir Risa masih mendumel kesal, dengan peluh yang terus mengucur di keningnya. Karena merasa bosan, ia pun merogoh saku celananya untuk mengambil handphonenya. Ketika merasa badmood seperti ini, mendengarkan lagu Tubatu adalah hal yang paling tepat untuk mengembalikan suasana hatinya. Namun, ada yang aneh, dia tidak merasakan apa-apa di saku roknya.

“Loh, loh? Kok gak ada, ya. Aduh, kayaknya ketinggalan di laci lagi, deh. Hadeh, balik lagi deh gue.” Risa menghela nafas panjang, lalu berbalik dari halte sekolah menuju gerbang masuk. Sudah terlalu pasrah, sepertinya hari ini memang bukan hari terbaiknya.

Suasana di sekolah sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa murid yang masih kerja kelompok di kelas, serta beberapa ekskul yang melakukan diskusi di beberapa tempat. Risa menyapa beberapa temannya yang lewat, bertanya-tanya mengapa Risa kembali lagi ke sekolah.

“Hehe, biasa nih, ada yang kelupaan di kelas.” Risa tersenyum setengah sambil menjawab pertanyaan teman-temannya, yang kebanyakan sudah maklum dan tertawa kecil melihat Risa.

Setelah sampai di kelasnya, ia segera mengecek mejanya, yang terletak di dekat jendela kelas, yang mengarah langsung ke lapangan sepak bola dan green house sekolahnya. Tidak salah perkiraannya, handphonenya memang tertinggal di laci. Risa diam-diam bersyukur tidak ada yang sempat menculik handphone kesayangannya ini. Risa menengok ke luar jendela, mengecek siapa tahu klub sepak bola sedang latihan di lapangan sekolah. Namun, dia terkejut melihat sosok yang dilihatnya. Bukan, bukan sosok menyeramkan seperti kuntilanak atau sejenisnya. Ia melihat sumber kekesalannya hari ini. Benar, ia melihat Rama, sedang sibuk di dalam green house sendirian. Entah apa yang dia lakukan, tetapi Risa tiba-tiba memiliki niat untuk menghampirinya dan meluapkan emosinya kepadanya.

“Wih, rajin banget nih, Pak Ketua. Siang-siang gini ngurusin tanaman sendiri, gak capek, tuh?” Risa yang sudah sampai di dekat green house, langsung berceletuk, nadanya pura-pura ramah. Rama, yang tampak sedang sibuk berjongkok dengan tangan menggenggam pohon kecil, hanya melihat Risa sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Tapi, Pak Kasim perasaan udah pulang sejak tadi, terus lo ngapain lagi disini? Gak ada yang ngeliat lo lagi kok, gak ada yang bakal muji juga. Udah aman kalau mau pulang,” Risa tetap mempertahankan nada ramahnya, namun Rama tahu persis Risa berusaha untuk menyindirnya.

“Kayaknya lo sedendam itu gara-gara gua batalin rencana lo ngundang Tubatu.” Rama berbicara dengan nada datar sambil terus sibuk berkutat menggali tanah dengan tangannya, lalu menanamkan pohon kecil di sebelahnya.

“Ya, iyalah! Gue udah nyaranin ini dari sejak lama, udah berandai-andai gimana serunya suasana disekolah pas mereka tampil disini. Kayak sekolah-sekolah di Jakarta, tuh. Kapan lagi, sih, kita bisa adain ini? Besok kita kelas 12 udah sibuk sama ujian, gak bakal ada kesempatan lagi jadi panitia. Gua gak mau, ya, sia-siain masa sekolah gue demi acara ngebosenin lo itu!” Risa akhirnya menjawab dengan sepenuh hati, meluapkan semua emosinya yang ia tahan sedari tadi, kemudian mendengus kesal.

“Sia-siain masa sekolah? Cuma gara-gara batal ngajak band?” Rama menggeleng-gelengkan kepalanya sambil sepatuh tertawa, merasa Risa baru saja melucu. “Sa, gue udah temenan sama lo dari SD. Kayaknya tiap tahun lo selalu nonton konser Tubatu, sepenting apa, sih? Heran.”

Risa memutar bola mata malas, lalu memilih ikut berjongkok di samping Rama. “Ya, emang acara nanem pohon lo ini ada pentingnya juga? Setidak-tidaknya ngadain konser lebih dapet serunya, daripada acara lo yang dapet capek doang.” Risa memperhatikan Rama sedang menepuk-nepuk tanah, memastikan pohon tersebut sudah tertanam.

“Haha, ya, penting dong, Ra. Lo gatau, seberapa banyak sekarang bencana alam, gara-gara banyak pohon yang ditebang? Jangan kebanyakan nonton Tubatu mulu makanya.” Rama bangkit dari posisinya lalu berjalan ke arah wastafel, mencuci tangannya dengan sabun. “Kalau di dalam pikiran lo, efeknya cuma longsor atau erosi yang biasa kita pelajari di sekolah, lo salah, Sa.” Rama mengambil handphone di sakunya, membuka layar kuncinya, lalu mengotak-atik sebentar. Setelah itu, ia menyodorkan handphonenya kepada Risa.

“Nih, tonton, deh”

Risa menaikkan satu alis matanya sebelah, menerima dengan ragu. Risa kemudian melihat sebuah video tentang dampak perubahan iklim.

“Bencana-bencana di video ini tuh, bisa aja terjadi, bahkan di kota kecil kayak kota kita ini, yang bahkan bukan kota industri atau kota metropolitan kayak Jakarta.” Risa mencoba fokus menonton video yang ditontonnya.

“Kekeringan, kelangkaan air. Mungkin terdengar enggak mungkin di telinga kita sekarang. Tapi sekarang semuanya bergerak cepat, industri apapun sedang gencar-gencarnya produksi banyak barang. Cepat atau lambat, kita pasti bakal terkena dampak perubahan iklim.”

Risa melihat kondisi tanah yang sangat kering, kegagalan panen para petani, serta lonjakan kebutuhan barang pokok yang semakin menyengsarakan rakyat miskin. Akibatnya, banyak anak-anak yang terlantar serta kekurangan gizi dan nutrisi akibat kurang makan dan minum.

“Gimana, udah mulai sadar, kan?” Risa agak sedikit termenung setelah menonton video tersebut. Rama mengambil kembali handphonenya yang berada di tangan Risa.

“Tapi, kita juga belum ngerasain apa-apa kok. Kalaupun iya terjadi, pasti masih beratus tahun kedepan. Lagian kenapa harus kita, sih? Yang salah berarti industri-industri di luar sana, bukan kita!”

Rama melemaskan bahunya, sudah mulai lelah menghadapi teman kecilnya itu. “Yaudah, gua tanya, nih. Beberapa hari ini menurut lo panas ga? Itu aja udah jadi pertanda perubahan iklim udah mulai mengancam kita. Waktu lo masih kecil, emang lo pernah ngerasain hari sepanas ini?”

“Terus, lo liat gak, kalau cuaca suka gak menentu, kadang hujan, kadang panas banget. Itu juga salah satu akibat perubahan iklim. Hal-hal kecil kayak gitu, bisa aja semakin parah kalau dibiarin begitu aja.”

Risa berpikir sebentar. Ternyata memang benar, sejak beberapa tahun terakhir, kotanya mulai terasa memiliki panas yang tidak wajar. Padahal, ketika Mama Risa bercerita ketika ia muda dulu, kota ini dapat dibilang sejuk.

“Mungkin terdengarnya langkah yang gue ambil hanya hal kecil, yaitu nanam pohon, yang mungkin gak seberapa jumlah dengan jumlah polusi di bumi ini. Tapi, setidaknya gue udah berkontribusi, gua udah ikut nyelamatin bumi yang makin lama makin rusak ini.”

Mendengar niat tulus dari Rama, Risa akhirnya terdiam. Ternyata temannya memang memiliki niat tulus untuk peduli terhadap lingkungan. Risa sedikit merasa tertampar, karena ia tidak menyadari betapa gentingnya keadaan bumi yang sedang ia tempati. Ia terlalu sibuk dengan kesenangannya, hingga tidak mengetahui hal di sekitarnya.

Mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas. Karena sudah berbicara baik-baik, mereka memutuskan untuk pulang bersama. Namun, selama perjalanan ke keluar sekolah, ternyata Risa masih sedikit menggerutu. “Eh, tapi emang gak bisa gitu, ditunda dulu, kek. Kapan-kapan, aja. Gue masih pengen ngerasain konser di sekolah.” Risa berbicara kecil, walaupun sebenarnya dia memang sudah menerima rencana Rama, tetapi tetap saja ia merasa sedikit sedih.

JDER!!

“Allahuakbar!”

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba terdengar suara petir menyambar. Risa memekik dan menutup telinganya. Hari yang semula sangat cerah dengan sinar matahari yang menusuk kulit, tiba-tiba saja sudah mendung dan ada tanda-tanda hujan lebat disertai petir akan turun.

“Gila! Tadi, kan, masih cerah-cerah aja? Kok tiba-tiba hujan, sih?!” Hujan perlahan mulai turun ketika mereka sudah sampai di gerbang sekolah.

Rama tertawa melihat Risa yang terkaget dan menggerutu kesal. “Nah, itu salah satu tanda perubahan iklim, Sa. Lihat, tuh, alam aja gak merestui lo ngundang Tubatu.”

“Iya, iya! Gak bakal ngedumel lagi, deh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *