Cerpen #244; “Antagonisme”

Aku menjauh dari bibir dermaga, berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah terperanjat, lalu dari tengah jalan, seraya membungkukkan badan, aku berteriak sekeras-kerasnya, “Nara!”

Kedua mataku terasa panas dan berkabut. Tubuhku gemetar seluruh menahan gejolak tak menentu, buncahan ngeri, keringat dingin yang membuat aliran kepedihan semakin menguasaiku. Di tengah kecamuk perasaan cemas, aku melompat ke laut sambil membawa sebilah balok kayu ulin yang tadi teronggok di tepi dermaga. Sampai di bawah dermaga, kuhantamkan balok itu ke dua ekor buaya muara yang mengapit tubuh Nara.

“Naraaaa!”

Dua ekor makhluk bersisik keras itu memilih menyerah dan pergi. Kupeluk tubuh Nara yang sudah tak berdaya. Tanganku merasakan ada luka gigitan di punggung Nara. Aku memeluknya seakan ingin menyadarkannya. Deru speed boat milik warga pantai Teluk Lombok mendekat. Mereka membantu mengangkat tubuh Nara. Speed boat itu meraung-raung mengoyak permukaan air laut yang dilaluinya dan membawa kami ke tepi pantai. Tapi raungan sesungguhnya ada di atas pasir pantai.

Raungan itu milik Kak Martha. Dia kakak perempuanku, ibu dari Nara anak lelaki usia sepuluh yang kupeluk tubuh dinginnya sejak tadi. Aku ditakdirkan menyaksikan kekacauan ini. Kupeluk tubuh Kak Martha yang kini pingsan. Bila aku seorang ibu sepertinya, bagaimana aku bisa menanggung hantaman psikologis semacam ini?

“Arai, tinggallah bersama kakak. Kakak mungkin akan punya kesempatan untuk hidup lebih lama bila tidak kesepian.” Kak Martha memintaku tinggal di rumahnya tepat seminggu setelah kepergian Nara. Aku meninggalkan wisma sewa, memilih memenuhi permintaannya. Dia perempuan yang terpilih untuk melewati duka demi duka. Dua tahun lalu suaminya meninggal dunia karena pneumonia dan kini ia kehilangan Nara anak semata wayangnya.

Aku tak pernah menyangka, piknik ke Pantai Teluk Lombok membawa petaka. Nara, keponakanku itu hanya ingin berenang di alam terbuka karena bosan dengan kolam renang di kota. Permintaannya untuk berenang di sungai tidak pernah aku dan Kak Martha wujudkan karena alasan buaya.

Nara sendiri beberapa kali menyaksikan ketika kami ingin menyeberangi sungai dengan perahu. Reptil yang dipenuhi lempeng sisik berbintik hitam itu datang dari hulu, berenang mengikuti arus sungai yang berwarna cokelat tanah. Tiap melihatnya, bibirku mengucap kenangan masa kecil, “Om pandai berenang dan menyelam karena sungai ini. Dulu sungai ini penuh dengan anak-anak riang yang bertelanjang dada. Kami berlari kencang dari tepi sana lalu menceburkan diri ke sungai dengan sambutan teriakan dan tawa. Para mama ramai mencuci baju di rakit-rakit berjamban itu.”

Lalu kulanjutkan dengan perasaan getir yang tak sengaja kualirkan kepada Nara, “Sekitar satu dekade sudah tak ada yang berani mengulang kegembiraan sebagaimana dulu. Manusia sudah terlalu jauh masuk ke habitat mereka dan habitat hewan yang menjadi pakan mereka. Kita menggerus dan menggusur habitat mereka tanpa ampun. Kini manusia adalah pakan terdekat buaya-buaya muara itu.”

Ya, keserakahan manusia memporak-porandakan semua. Sungai Sangatta berbatasan langsung dengan bagian utara Taman Nasional Kutai yang merupakan habitat buaya muara. Sebuah taman nasional yang babak belur dihajar beragam konsesi dan konflik kepentingan.

“Kita patut berbangga, Taman Nasional Kutai memiliki vegetasi hutan pantai mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan rawa dataran rendah, dan hutan Dipterocarpaceae campuran! Taman nasional ini juga mewakili hutan ulin terluas di Indonesia! Mari kita jaga dan lestarikan. Pariwisatanya kita majukan. Sejahtera rakyatnya, lestari hutannya!” Kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh utusan pemerintah pusat maupun daerah terdengar seperti jargon belaka. Aku tahu sebenarnya hubungan antara pusat dan daerah selalu panas dingin bila sudah bicara soal kawasan Taman Nasional Kutai. Pemerintah pusat dianggap sudah terlalu lama mengambil keuntungan dengan kendali penuh terhadap taman nasional. Sehingga pemerintah daerah terus menegosiasikan kepentingannya terhadap ruang dan sumber daya taman nasional kepada pemerintah pusat. Di sisi lain pemerintah pusat menganggap pemerintah daerah mengabaikan peraturan dan melawan hukum.

Meski api konflik di antara pemerintah pusat dan daerah terkait teritorialisasi penguasaan hutan terus membara, tapi senyatanya tidak ada dari mereka yang merespon antagonisme warga menolak pertambangan dan pengembangan industrialisasi pangan penyebab hilangnya ratusan ribu hektare hutan alam. Apalagi menyelidiki dengan serius konflik yang terjadi antara manusia dengan buaya muara beberapa tahun belakangan ini. Semua menganggap sepi. Padahal ia telah berubah menjadi ancaman dan tragedi.

Buaya-buaya itu kini tak lagi hanya berkeliaran di sungai-sungai, terlihat sedang berjemur di tengah jalan, atau tersangkut di kolong rumah dan selokan warga ketika banjir surut. Mereka sudah menampakkan diri di obyek wisata pantai yang paling ramai dikunjungi warga. Dan mengambil Nara.

***

Suara derik jangkrik beberapa malam ini terdengar keras dan sering. Bersahut-sahutan sangat bising. Menggetarkan langit-langit desa Sangatta Selatan. Aku melongok keluar jendela yang masih terbuka. Kunikmati suara alam yang tak pernah siapapun dapatkan di sesak dan bisingnya kota. Derik jangkrik yang memekakkan telinga bukanlah tanpa sebab. Ia adalah pertanda terjadinya kenaikan suhu meskipun seharusnya bulan ini masuk masa musim hujan. Suhu yang tinggi memicu reaksi kimia terjadi lebih cepat dalam tubuh jangkrik. Akibatnya, sayap jangkrik bergesekan dengan lebih cepat. ‘Krik.Krik.Krik.’ Riuh. Bunyi-bunyian dari organisme berdarah dingin itu seakan mencabik gelapnya malam di desa yang berhutan khas Kalimantan ini.

Naungan pohon-pohon besar ditambah listrik yang padam menambah malam kian pekat. Aku memilih memetik sampe’ di teras rumah panggung milik Kak Martha. Petikan sampe’ dari jemariku mengeluarkan irama sendu dan magis. Iramanya menyentuh tulang dan merasuk jauh ke dalam perasaan. Aku hanyut dalam kesedihan. Ya, pemuda dua puluh tujuh tahun sepertiku juga bisa dikoyak duka. Irama dawaiku semakin menusuk-nusuk. Entah berapa lama sampai Kak Martha datang menghampiriku dengan air mata di pipinya. “Sudah hampir larut malam, Arai. Istirahatlah. Bukankah besok pagi kamu akan berdiskusi dengan kawan-kawan WALHI Kalimantan Timur?” Aku mengangguk.

Pukul dua belas malam. Kusandarkan sampe’ ke dinding kamar yang terbuat dari kayu ulin. Listrik baru saja menyala setelah berjam-jam padam. Beginilah nasib kami tinggal di Bumi Etam. Lumbung jutaan metrik ton batu bara berkualitas tinggi diekspor, namun listrik padam adalah hal biasa. Kumatikan saklar lampu. Kurebahkan tubuhku dengan wajah tengadah. Ada senyum Nara terlukis di langit-langit rumah. Kujamah dia dengan doa. Kupeluk dia dalam janji aku tak akan berhenti berjuang meskipun dianggap sepi.

***

“Kami turut berduka, Arai… Kami sangat sedih mengetahuinya. Wartawan berlomba-lomba memberitakannya. “Sebuah suara datang diiringi tepukan pelan di pundakku. Itu Bang Lumbis, dia senior di WALHI. Kami bertemu dalam kegiatan WALHI pagi ini di ruang rapat sebuah hotel. “Korban berjatuhan tidak hanya di Sangatta. Tetapi juga di beberapa kecamatan lainnya di Kutai Timur. Nara adalah korban pertama yang diserang di obyek wisata pantai Teluk Lombok.” Dia melanjutkan dengan suara pelan dan wajah setengah ditundukkan. Bang Lumbis pejuang yang tulus. Darinya aku belajar banyak tentang politik ekologi dan advokasi lingkungan hidup.

Aku banyak diam hari ini. Sesekali jari-jariku memijat dahiku yang mengerut. Sesaat kemudian tanganku sudah mengelupasi kulit bibirku yang mengering. Mataku memandang ke arah Bang Lumbis yang sedang mengemukakan persoalan politik lingkungan dan kekuasaan di depan forum. Bang Lumbis sepertinya mengetahui gelagatku yang kurang bersemangat lalu ia secara tiba-tiba melontarkan pertanyaan untuk memancingku berdiskusi.

“Saudara Arai, bagaimana pandangan kritis Anda tentang krisis ekologi?” Bang Lumbis sukses membuat semua mata hadirin mengarah kepadaku. Dengan cepat seorang panitia datang dari arah belakang dan memberikan sebuah mikrofon nirkabel kepadaku.

“Krisis ekologi memperburuk krisis iklim. Tekanan pembangunan, alih fungsi lahan untuk perkebunan, pertambangan dan permukiman terus mengikis daya dukung lingkungan hidup, sehingga daya tampung lingkungan tidak lagi mumpuni. Fakta-fakta menunjukkan krisis ekologi di Indonesia disebabkan banyak hal seperti perebutan nilai ekonomi dan motif politik, kebijakan ekonomi yang eksploitatif dan sektoral, korupsi, penguasaan narasi ruang dan sumber daya alam oleh negara. Ada pula ketidakseimbangan relasi kuasa dalam akses terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup.” Aku menyambut Bang Lumbis dengan hangat. Kulihat Bang Lumbis tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nampaknya pada kesempatan berikutnya kita perlu mendengarkan presentasi saudara Arai tentang hasil riset tesisnya. Ia sudah menyelesaikan studi magisternya di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada. Setahu saya risetnya tentang kooptasi pemetaan partisipatif yang memberi implikasi legal dan politik terhadap perubahan peta kawasan hutan. Benar begitu, Arai?” Bang Lumbis kembali menebar senyum kepadaku. Kali ini sambil ditingkahi tepuk tangan dari seluruh peserta forum. Aku mengangguk dan mengatupkan kedua telapak tanganku di depan dada. Bang Lumbis sejak dulu mendukungku. Dua tahun aku di Yogyakarta menghabiskan masa studi yang cukup berat di UGM, ia selalu meluangkan waktu untuk menerima teleponku dan membalas emailku. Ia menjadi kawan diskusi tempatku menggali gagasan, pemikiran, bahkan menukil banyak informasi. Keberaniannya pasang badan menyerukan persoalan-persoalan akar rumput membuatku menaruh rasa hormat kepadanya.

***

“Sebuah harian lokal memberitakan ini. Kau sudah mengetahuinya?” Bang Lumbis menunjukkan halaman koran tepat setelah forum diskusi selesai. Sebuah tajuk berita terpampang di sana, tepat di halaman edvertorial pemerintah kabupaten: ‘Sangatta Identik dengan Kota Buaya: Di Balik Ancaman Tersimpan Potensi Pariwisata Unggulan’.

Aku meringis. “Pejabat itu… Dalang dari segala lelucon murahan ini. Kapan dia akan berhenti melemparkan ide tolol. Di tengah kengerian dan teror yang dirasakan warganya, dia malah tampil bagai badut yang berusaha menghibur sekumpulan anak kecil yang menangis.” gumamku pelan menahan amarah. Aku tidak menyukai isi kepala pejabat yang terselubung segala bentuk mitos kesejahteraan. Deretan janji-janji kesejahteraan mulai dari pertambangan sampai perkebunan skala luas malah menghabisi kesejahteraan dan kebahagiaan warganya sendiri. Berbagai kerusakan telah terjadi. Kerusakan alam maupun kerusakan relasi sosio-kultural yang telah terjalin lama dalam kehidupan warga. Belum lagi bau anyir menguar dari proses manipulatif juga koruptif oleh para birokrat dan teknokrat yang terlibat dalam kebijakan dengan janji kesejahteraan itu. Perasaanku tidak menentu. Berita itu akhirnya muncul setelah sebelumnya hanya berupa bisik-bisik di tengah jam makan siang para pejabat daerah!

“Kau pasti kembali terluka mendengar ini. Beritanya bersusulan setelah kepergian Nara. Sungguh tak punya hati mereka.” Bang Lumbis memandang ngeri ke arah lembaran koran itu sambil meremasnya. Pemuda kurus tinggi itu bergeming sejenak di tempatnya. Sambil membetulkan posisi tas ranselnya dia menggapai pundakku.

“Kami pamit, Arai. Kami harus ke Samarinda. Di sana agenda lainnya telah menanti. Terutama persoalan ribuan lubang bekas tambang batu bara di Kaltim. Tiga ratus lebih dari angka itu berada di Samarinda dengan kondisi tanpa direklamasi dan dipulihkan. Korban meninggal dunia juga terus berjatuhan… Hampir empat puluh jiwa sejak 2011. Oh, ya… Kita akan bertemu segera, Arai. Mungkin sebulan lagi kami datang kembali ke kabupaten ini. Kau harus menemani kami melihat bentangan karst Sangkulirang – Mangkalihat yang dilapisi ratusan izin perkebunan dan puluhan konsesi lainnya.” lanjutnya. Bang Lumbis melambaikan tangan dan aku membalasnya dengan pikiran masih dipenuhi judul halaman advertorial koran tadi. Lembaran koran itu sudah berada di ujung sepatu. Kuinjak koran itu, kujejak kuat dengan ujung sepatuku. Atmosfer nestapa kembali menghampiriku.

“Nara…”

Aku menunduk gemetar. Ya Tuhan, tolong kami. Tanah leluhur ini terus menjadi medan pertarungan antara peneliti dan pemburu rente, antara petualang dan pembalak hutan, antara masyarakat adat dan pemburu satwa, juga antara wacana konservasi dan eksploitasi. Dan yang paling menjijikkan adalah ketika alam sudah hancur, dimunculkan ide pariwisata. Gagasan pengecut yang ingin menutupi borok-borok kerusakan menjadi pundi-pundi rupiah. Mewacanakan tragedi yang telah jelas-jelas menelan korban jiwa menjadi potensi wisata unggulan? Benar-benar tipu muslihat! Betapa lihainya mereka menyulap kengerian menjadi sesuatu yang nampak menghibur sekaligus menyejahterakan.

Kuserok puing kehancuran yang pernah kusaksikan dari segala penjuru. Aku teringat pelukanku pada tubuh Nara yang terkoyak ketika itu. Tubuh-tubuh warga yang remuk membiru dari perut-perut buaya yang dibelah. Tak cukup sampai di situ. Ingatanku juga menghadirkan pelukanku pada tubuh-tubuh induk orangutan dan anaknya yang sekarat dicabik peluru, parang panjang, dan dihajar amukan api pembakaran lahan dan hutan.

Sebelum ide pariwisata buaya muara, bukankah pola seperti itu sudah pernah terjadi pada orangutan? Pertambangan batu bara dan perkebunan sawit luar biasa masif, populasi manusia meningkat, permukiman meluas, akhirnya kita merangsek masuk ke habitat asli orangutan. Orangutan dibantai karena dianggap hama. Populasi orangutan pun menjadi langka, lalu kita menggelontorkan ongkos untuk membuat penangkaran bertajuk destinasi wisata. Berharap ongkos sosial yang dikeluarkan dapat kembali dan mengeruk untung. Apakah kemudian titik wisata orangutan itu kini benar-benar menjadi destinasi wisata unggulan seperti yang dicita-citakan?

Tidak! Tidak nampak akhir yang bahagia apalagi sejahtera melalui gagasan pariwisata yang berangkat dari realitas kehancuran. Gagasan tersebut akhirnya hanya menjadi etalase untuk menutupi borok rusaknya ekosistem dan menyamarkan eskalasi konflik satwa dan manusia yang berada di baliknya.

***

Beberapa hari kemudian, suara deru motor perahu menghiasi perjalananku bersama seorang wartawan harian lokal dan seorang pegawai Badan Lingkungan Hidup di sepanjang sungai Sangatta yang merupakan sumber air baku produksi air minum. Kami berempat bersama seorang motoris perahu berencana menyusuri sungai sampai ke hulu. Kami mendengar kabar dari direktur perusahaan air minum daerah kalau sungai tercemar limbah aktivitas pertambangan sebuah perusahaan batu bara. Akibatnya, perusahaan air minum mengurangi produksi hinga enam puluh persen. Lalu mereka dicaci maki pelanggan dikarenakan hal tersebut. Direktur itu geram dan ingin menunjukkan siapa sebenarnya yang patut dicaci maki dari kekacauan besar tersebut.

Benar saja, setelah ditelusuri, mata dan lensa kamera kami menangkap penyebab utama pencemaran tersebut terletak pada dibuangnya limbah yang belum diolah ke sungai. Air buangan limbah itu terlihat begitu kotor dan membuat warna air sungai menjadi cokelat tua. Beberapa jam kami merekam perjalanan dan temuan-temuan yang memilukan itu. Tak lupa kami membawa sampel air untuk diperiksa di laboratorium demi pembuktian lebih lanjut.

“Cukup untuk hari ini, kawan. Jangan-jangan tiap PDAM mengurangi produksi airnya, penyebabnya adalah limbah. Bisa jadi baru kali ini direktur PDAM benar-benar geram dan menghubungi kita. Mungkin dia sudah muak mendapat tekanan dari sana-sini. Sedangkan biang keroknya selalu selamat berlindung di balik nama besar korporasinya yang mendunia. Perlu aku konfirmasi ke direktur itu. Hahaha.” Awang entah menertawakan siapa. Tapi dia wartawan yang terkenal bersih dan memiliki integritas. Ia selalu bisa diandalkan untuk meliput duka-duka rakyat jelata dan tidak mau berkompromi memperkaya orang kaya atau memperkuat orang kuat. Amplop-amplop tebal dari korporasi dan orang-orang kuat sudah banyak yang dikembalikannya. Preman-preman dari penguasa sudah pernah mendatangi rumahnya untuk menekannya. Tapi Awang ditakdirkan Tuhan untuk berlama-lama bersama rakyat jelata. Kecerdasan dia dalam berkomunikasi, ketajamannya mengolah liputan berimbang, serta kemampuan dalam merawat relasi tanpa menjilat berbalik membuahkan rasa segan di hati orang-orang kuat yang sebenarnya kesal dengan pemberitaannya. Entah bagaimana bisa begitu. Awang memang seberuntung itu.

Kami kembali menyusuri sungai untuk pulang. Perahu kami berlabuh menyusuri aliran sungai dengan tenang. Meski kami menikmati perjalanan ini, tapi tak satu pun dari kami yang berani menjulurkan tangan menyibak air. Kami menghindari gerakan apapun yang bisa memancing serangan buaya yang bisa saja datang tanpa diduga.

Sampailah kami mendekati wilayah permukiman warga. Sungai yang kiri dan kanannya rapat tertancap tonggak-tonggak kayu ulin rumah-rumah warga. Di sini lah pusat aktivitas warga yang menghubungkan Sangatta bagian Selatan dan Utara. Mereka menyeberang menggunakan perahu rakit yang digerakkan tenaga mesin. Ada juga sebuah jembatan cukup besar dan kokoh yang bisa dilalui kendaraan.

Tapi tunggu, aku memberi kode motoris perahu kami untuk melambat dan menepi. Tak jauh di depan kami ada sekumpulan warga terlihat melarung sesaji ke sungai. Aku menduga mereka melakukan ritual penghormatan terhadap buaya-buaya penghuni sungai ini. Ya, memang ada kepercayaan turun temurun dari suku Dayak Kenyah bahwa bahwa setiap anak yang lahir memiliki kembaran seekor buaya. Mereka melarungkan sesaji itu untuk dipersembahkan kepada siluman buaya kembaran mereka.

“Sebagai bupati saya sangat menghargai kepercayaan bapak, ibu dan saudara sekalian. Nilai-nilai yang syarat akan kearifan lokal ini perlu dijaga dan dilestarikan. Jangan sampai hilang ditelan zaman. Di sisi lain kepercayaan ini bisa kita angkat ke dalam sebuah film pendek. Saya akan kumpulkan sineas-sineas muda terbaik yang kita miliki. Kepercayaan terhadap buaya-buaya sebagai saudara kembar sekaligus penjaga wilayah kita ini perlu dikemas secara modern agar bisa menjadi nilai tambah bagi promosi pariwisata daerah. Kota Sangatta yang dikenal sebagai kota buaya akan semakin terkenal. Saya sedang mempersiapkan sungai Sangatta menjadi salah satu destinasi wisata unggulan. Tentu ini akan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat.” Kata-kata bupati itu menyakiti telinga dan perasaanku. Semakin remuk lagi ketika mendengar pidato itu disambut tepuk tangan dan dukungan dari warga yang hadir.

Tidak! Aku tidak sedang menggugat kepercayaan suku Dayak Kenyah yang juga adalah leluhurku. Tapi kepercayaan kami tidak pas bila diletakkan pada kondisi alam yang rusak akibat manuver kebijakan di era pertambangan dan perkebunan sawit seperti hari ini. Apalagi bila kepercayaan kami dimanfaatkan oleh penguasa daerah untuk menutupi kondisi kerusakan ekosistem yang ada.

Tidakkah penguasa itu mau menyadari bahwa buaya-buaya yang berkeliaran di sungai, di pantai hingga ke kolong rumah warga, memangsa warga Sangatta adalah akibat habitat buaya yang rusak parah? Semua ini hanya kamuflase belaka! Kalian suka sekali menyebarkan mitos kesejahteraan kepada masyarakat jelata!

“Arai! Kau mau ke mana? Hei!” Awang berteriak memanggilku sambil bergegas mengejarku yang sudah melompati perahu ke rakit berjamban tempat kami menepi tadi. Aku berjalan cepat sambil terengah-engah mendekati kerumunan warga yang masih bertepuk tangan. Tanganku berhasil ditarik oleh Awang.

“Kebodohan ini tak biasa dibiarkan, Awang! Bupati itu harus dihentikan! Kau tahu bagaimana caranya? Ayo, kita hentikan dia! Ide wisata kota buaya itu ide gila! Mereka tak mau memperbaiki lingkungan dan menghentikan akar masalah kenapa buaya-buaya itu merajalela memangsa satu per satu warga Sangatta termasuk Nara! Mata hati mereka buta!” Aku berteriak keras di hadapan Awang. Wajahku memerah menahan amarah. Kulihat Awang mengangguk tanda bahwa ia mengerti dan mendukungku.

“Arai. Aku bersamamu. Tapi ingat, jangan ledakkan emosimu. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kemari. Ikuti aku!” Awang tak lagi mengajakku bercakap-cakap. Langkah kakinya cepat menyusuri jalan mendekat ke kerumunan yang hampir bubar. Acara itu selesai. Bupati dan rombongannya terlihat berjalan menuju mobil dinas mereka. Langkah kaki Awang semakin cepat. Ia mengajakku mencegat bupati itu sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.

“Pak, saya wartawan dari harian Sinar Kaltim. Izin wawancara sebentar saja, Pak. Lima menit. Lima menit…” Awang memohon kepada bapak bupati. Bupati itu mengangguk setuju setelah melihat Awang. Ia menunggu Awang melontarkan pertanyaan.

“Bagaimana pendapat bapak terhadap korban-korban serangan buaya yang adalah warga bapak sendiri? Mengapa beberapa tahun terakhir buaya-buaya di Sangatta terus bermunculan dan menyerang warga? Para pegiat LSM menyebutkan hal tersebut karena kerusakan habitat mereka akibat alih fungsi lahan yang masif untuk keperluan perkebunan, pertambangan, dan permukiman. Bagaimana sikap bapak?” Awang langsung memberondong dengan beberapa pertanyaan. Aku menunggu jawaban apa yang akan muncul dengan tekanan penasaran yang luar biasa.

“Oh, begitu. Sikap apa? Oh. Nasibnya kasihan. Ikut prihatin. Pastilah ikut prihatin. Korban jiwa itu di mana-mana terjadi. Ya, namanya nasibnya dia, meninggalnya dengan cara begitu. Kan gitu. Ya, pasti diupayakan mencari apa penyebabnya. Kalau ada yang harus bertanggung jawab, kita cari siapa yang harus bertanggung jawab. Itu kan pertanggungjawabannya dunia akhirat. Makanya nanti kita carikan spot tempat berkumpulnya buaya, biar tidak menyebar ke mana-mana dan tidak membahayakan lagi. Kita kasih makan di sana. Dijadikan tempat wisata unggulan untuk meningkatkan PAD kabupaten. Gitu. Cukup. Saya masih ada agenda di tempat lain.” Penguasa kabupaten itu cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Pengawalnya dengan sigap memblokade kami berdua agar tidak nekat mendekat. Wajah Awang terlihat belum puas dengan jawaban sang bupati, dia masih ingin melanjutkan pertanyaan lagi tapi ia urungkan.

Sesaat aku terpana. Ternganga. Naluri kemanusiaanku menuntunku untuk meluncurkan kalimat bernada protes. Dadaku membusung seperti akan meledak. Aku tak terima kepergian Nara dan korban-korban lainnya hanya dijawab dengan jawaban klise, karena nasib! Tapi Awang menahanku. Ia mendorongku jauh ke belakang kerumunan.

“Akan ada waktunya, Arai! Bukan dengan lontaran kemarahan. Kita bisa bekerjasama untuk membuat narasi tandingan, bukan? Kau bersama teman-teman WALHI dan aku sebagai jurnalis. Kita bisa bekerjasama mengawal isu ini dengan cerdas.” Awang berusaha meredamku. Kalau saja dia bukan Awang yang kukenal, tetapi wartawan bodrex, aku akan mengabaikannya begitu saja.

***

Diiringi tatap harap Awang, akhirnya kuputuskan untuk pergi dari tempat itu. Awang benar. Aku harus berpikir panjang. Jalan perjuangan tak bisa diisi oleh manusia-manusia dengan sumbu pendek yang mudah tersulut provokasi. Kueratkan ransel hitamku yang berisi buku-buku kecil penuh tulisan serta laptop berisi data-data penting. Aku bertekad menghiasi jalan perjuanganku dengan aktif menulis selain berjuang di organisasi advokasi lingkungan hidup. Dengan begitu akan lebih efektif melawan narasi penguasa dengan segala mitos tentang kesejahteraan. Mungkin aku akan membutuhkan lebih banyak lagi buku kecil untuk mencatat semua kegelisahan, gagasan dan harapanku.

Aku bagian dari generasi milenial yang hidup menanggung kegelisahan akan wajah masa depan akibat kerusakan daerah tempat aku dilahirkan. Meski demikian, aku berharap kegelisahan tidak berujung kepada frustrasi dan depresi hingga mengakibatkan apatisme dan kekerasan. Itu tidak boleh terjadi.

“Nara…”

Aku tersenyum menyebut namanya. Aku akan merangkul sebanyak-banyaknya anak muda satu generasi dengan Nara untuk kritis terhadap lingkungan, menciptakan proyek-proyek kreatif. Tulisan. Poster. Video pendek. Cerpen dan novel iklim. Kolaborasi milenial dengan generasi Z dapat menciptakan peluang untuk menyongsong masa depan yang bermakna, meski tiap waktunya dibayang-bayangi oleh krisis iklim yang semakin parah. Sampai kapan? Entah sampai kapan. Yang aku tahu, aku harus terus berjuang untuk mengepakkan sayap, berkarya dan menghidupkan mimpiku sendiri.

***

Prambanan, 6 November 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *