Cerpen #243; “ANAK BUMI, 2121”

Malam ini cerah. Bulan sedang purnama. Langit tampak lebih terang. Inilah momen yang dinanti-nanti Anak Bumi supaya dapat menggunakan teleskop untuk memata-matai yang kesekian kalinya bintang, bulan, meteor, planet, dan galaksi pada waktu malam. Teleskop tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari orangtuanya. Sudah lama sekali ia menginginkan teleskop dan sudah ratusan kali juga ia mengutarakan impiannya tersebut kepada orangtuanya. Entahlah apakah itu strategi yang disengaja atau tidak memberikan petunjuk jelas nan mencerahkan mengenai ide kado ulang tahun yang diharapkan. Ia menuju balkon rumah tempat dimana teleskop bersama kaki penyangganya berada. Ia sudah tahu bagaimana mengoperasikannya berkat pengarahan dari sang ayah.

Setengah jam kemudian…

“Bapak! Ibu! Aku melihatnya!” Anak Bumi berseru girang tanpa melepaskan matanya yang menempel pada ujung teleskop.

“Sssttt… jangan kencang-kencang suaranya, ini sudah malam,” tegur Ibu yang mendekatinya dan ikut mengarahkan pandangan ke langit.

“Bapak mana?”

“Bapak sedang menerima telepon. Kamu melihat apa?”

“Akhirnya aku melihat planet mereka!”

“Hmmm… Bagaimana kamu tahu itu planet mereka? Memangnya kamu bisa melihat penghuninya dengan teleskop?” celetuk Ibu bergurau.

“Ya nggak mungkinlah, Bu,” balas Anak Bumi, menegakkan badan dan menolehkan kepalanya ke arah Ibu. “Ibu kan pernah bilang kalau langit malam cerah dan terang, kemungkinan kita dapat melihat planet mereka yang sangat terang karena mereka memiliki energi yang besar. Nah, aku melihat satu bintang besar yang terang sekali, beda sendiri dengan bintang-bintang lain yang ada malam ini.”

“O ya? Tapi jangan lupa terdapat miliaran benda langit dengan berbagai bentuk, ukuran, dan beragam kekuatan pantulan cahaya yang dihasilkan.”

“Tapi Ibu sendiri yang bilang…” kilah Anak Bumi teguh dengan pendapatnya.

Ibu yang tidak mau mengecewakan anaknya menyahut, “Iya, iya… mungkin malam ini kamu beruntung akhirnya bisa melihatnya.”

***

Sedari kecil Anak Bumi sudah menunjukkan ketertarikannya dengan segala sesuatu yang berada di langit yang kala itu dapat dilihat atau dirasakan secara langsung. Bintang, bulan sabit, bulan purnama, gerhana bulan, matahari, awan, hujan, kilat. Dan ketertarikannya bertambah besar setelah mengetahui sejarah eksodus populasi manusia ke planet lain sekitar 100 tahun silam.

Jauh sebelum 100 tahun yang lalu bumi merupakan satu-satunya planet yang menjadi hunian manusia, spesies yang sama dengan Anak Bumi. Tuhan menganugerahi makhluknya tersebut dengan air dan daratan yang penuh dengan sumber-sumber yang memberikan kehidupan, keindahan, kecantikan, dan keeksotikan yang beraneka ragam di segala sisi permukaan dan kedalaman bumi. Sang Pencipta memang menggariskan gempa, tsunami, gunung meletus, dan penyakit sebagai bagian dari takdir manusia selama berada di muka bumi dan tugas manusia adalah menerima, menghadapi, dan mencari solusi terbaik dengan mempelajari pengetahuan seluas-luasnya, namun Tuhan tidak pernah menugaskan manusia untuk merusak planet tempat bernaung. Kenyataannya ada beberapa dari mereka yang memerankan diri bak Tuhan, playing God dan disaat yang sama berjubah devil, makhluk serakah tanpa belas kasihan. Dieksploitasinya seluruh sudut bumi secara besar-besaran, masif, dan destruktif, mulai dari permukaan hingga dasarnya demi keuntungan pribadi dan nafsu menguasai dan mengendalikan dunia. Sisi daratan yang tercipta hijau, rimbun, dan subur lenyap berubah menjadi ledakan jutaan bangunan beton, galian-galian, kerukan-kerukan dan tiang-tiang pancang. Air sebagai esensi utama kehidupan dicemari dengan limbah dan racun-racun kimia dan sampah-sampah tak berkesudahan. Udara sebagai elemen esensial lain dicemari dengan limbah dan racun asap. Tanaman pangan dan hewan ternak yang seharusnya menutrisi malah menjadi sumber penyakit berkat pemberian bahan-bahan kimia dan penerapan teknologi tak humanis yang hanya menguntungkan mereka tapi mematikan bagi sesamanya. Hutan sebagai paru-paru dunia musnah. Hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan bermanfaat di dalamnya punah. Air penghidupan mengering. Tak ada lagi oksigen bersih di udara. Tak ada lagi lapisan penyelubung yang melindungi bumi dari sinar matahari di atmosfer. Puing-puing tak terurai menyesaki. Bencana yang di awal penciptaan bumi hanya terjadi oleh proses dan siklus alam, saat itu tangan tuan dan puan penguasa jagat raya pun turut berperan menciptakan. Perubahan iklim yang ekstrim, banjir, longsor, kebocoran limbah radioaktif dan penyakit-penyakit baru yang kesemuanya merenggut banyak nyawa.

Ketika bumi yang sakit tak lagi memuaskan dan menguntungkan, segelintir tuan penguasa dunia lantas membidik planet lain sebagai bumi kedua. Didirikannya mega proyek luar angkasa dengan menghabiskan triliunan rupiah demi mengembangkan teknologi luar angkasa super canggih untuk melakukan penjelajahan, penjajakan, uji coba, dan segala persiapan hunian baru spesies manusia.

Tapi tidak semua populasi bersedia menerima. Sebagian memilih tetap tinggal dan setia merawat dan menyembuhkan bumi yang sekarat. Salah satunya adalah kakek-nenek moyang Anak Bumi. Mereka menghijaukan kembali tanah dan hutan gersang dengan kesabaran dan ketelatenan, menormalkan sumber mata air, membersihkan air, darat, dan udara dari polusi, menjalankan sistem pertanian yang menopang kesehatan penduduk dan lingkungan, mengontrol ketat pembangunan dan penambangan, merombak sistem ekonomi, dan gerakan-gerakan revolusioner lain yang humanis, ekologis, dan berkelanjutan.

Sedangkan populasi manusia yang bermigrasi ke jagat baru, mereka meneruskan hidup dengan cara yang sama. Tidak ada revolusi perubahan, hanya planetnya saja yang tak lagi sama. Dengan kekuatan dan kecanggihan teknologi yang dipunyai, mereka menyulap planet baru serupa dengan kehidupan semasa di bumi. Mereka membawa semaksimal mungkin sumber daya alam dan mineral bumi sebagai bekal bertahan hidup sebelum mengeksploitasi sumber alam di sana. Dalam satu percakapan keluarga Anak Bumi, Ibu pernah berseloroh, “Dulu di bumi pendahulu mereka sangat boros energi hingga tak terasa stok energi habis. Tiba di sana sumber energi berlimpah-ruah dan mereka kembali mengeksploitasi secara tak terkendali. Jika di malam hari langit sedang cerah, mungkin kita bahkan bisa melihat pendaran cahaya hasil jutaan watt listrik yang mereka gunakan sehari-harinya.”

***

“Bu, apakah planet mereka saat ini sakit seperti bumi dahulu?” tanya Anak Bumi pada suatu malam di balkon rumah sembari sibuk memainkan teleskop mencari-cari keberadaan benda langit yang selalu ia sebut sebagai ‘planet mereka’ kendati cuaca tidak cerah sekali dan langit bernuansa gelap.

“Mmm… setahu Ibu tidak ada berita yang mengabarkan demikian. Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Tadi di sekolah Pak Guru bilang dalam waktu dekat terdapat sekelompok penduduk dari sana yang akan tinggal di bumi.”

Ibu menyahut, “Nggak berarti planet mereka telah rusak kan?”

“Dulu kakek-nenek moyang mereka pindah dari sini karena bumi rusak, sekarang mereka mau pindah kemari, bisa jadi karena sekarang planet mereka rusak,” ujar Anak Bumi menyimpulkan.

Ibu mengedikkan bahu dan membalas, “Banyak alasan lain juga. Kita tunggu saja berita terbaru.”

Selama beberapa saat pasangan ibu dan anak tersebut kompak menerawang semesta malam, terdiam dalam keheningan, sibuk dengan kecamuk pikiran masing-masing.

“Bu, aku takut…” cetus Anak Bumi memecah kebisuan.

Ibu menolehkan kepala dan menatap anaknya. “Takut apa? Kan kamu di rumah sendiri, di kompleks yang kamu kenal sejak lahir, ada Ibu yang menemanimu, apa yang ditakutkan?”

“Aku takut mereka akan merusak dan mengacaukan bumi seperti jaman dahulu. Aku nggak mau mengungsi dari sini, Bu.”

Ibu menghela nafas. “Kalau itu jujur Ibu juga punya rasa khawatir, Nak…”

“Apakah kita hanya diam saja, Bu? Apa kita nggak bisa berbuat sesuatu?”

“Kita tidak akan diam saja. Ibu, Bapak, kamu, semua generasi harus bergerak demi kelestarian rumah kita, bumi kita, sehingga kelak 100 tahun mendatang dari sekarang keturunanmu tetap dapat tinggal di sini dengan alam dan iklim yang sehat.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *